Anda di halaman 1dari 11

PEMBAHASAN

ETIKA SYARIAH : DASAR NILAI ETIKA AKUNTANSI DAN BISNIS


Dialektika dunia bisnis sepanjang sejarah selalu terlibat dalam interaksi sosial yang tak kunjung
henti . interaksi yang sangat kompleks yang melibatkan tidak saja teori-teori ekonomi bisnis
yang rasional dari yang bersifat rasional sampai yang bercorak liberal-kapitalis, tetapi juga
individu-individu manusia yang heterogen dan dinamis yang terlibat baik secara langsung atau
tidak langsung. Interaksi ini tidak lain adalah gerak dinamis dari jaringan-jaringan sistem yang
sedang diterapkan, di mana baik interaksi maupun jaringan-jaringan sistem tersebut mengikat
manusia dalam gerak dan pola yang dimiliki oleh sistem yang bersangkutan.
Sistem beserta jaringan-jaringannya, adalah produk manusia dan masyarakatnya. Secara
ontologis, ini memberikan pengertian kepada kita bahwa sistem tersebut dibangun berdasarkan
atas nilai-nilai yang dimiliki oleh manusia yang membangunnya. Ketika, misalnya, sebuah
sistem dibangun berdasarkan pada nilai-nilai sosialisme, maka sistem tersebut, ketika
dipraktikkan akan menjaring setiap individu yang ada dalam masyarakat, yang bersangkutan
kepada realitas sosialis; demikian juga bila sistem tersebut dibangun pada nilai-nilai yang lain.
Yang menjadi masalah adalah bila sistem yang digunakan tadi menggiring manusia dari hakikat
dirinya yang fitrah kepada realitas yang justru menjauhkan dirinya dari fitrah.
Bab ini mencoba mencari sistem nilai etika yang sesuai dengan fitrah manusia, yang secara
terbuka (inklusivisme-kritis) memperkenalkan nilai-nilai akuntansi (yang sudah ada sekarang)
[Riahi-Belkaoui (1992)] dan Francis (199-), teori-teori etika (Norman, 1983, Solompn, 1984, dan
Chryssides dan Kaler, 1993) dan syariah sebagai dasar nilai etika. Secara implicit, tulisan ini
pada intinya merupakan refleksi dari persepktif Khalifatullah fil Ardh yang berupanya secara
bebas dan terbuka mencari Sunnatullah sebagai bentuk eksternal syariah dan mengakui takwa
sebagai ruh etika syariah.
a. Nilai-nilai Etika Akuntansi Syariah Menurut Ahmed Riadhi-Belkaoui (1992)
Salah satu pola prinsip yang dimiliki persepktif Khalifatullah fil Ardh dalam pola berpikir adalah
inklusivisme-kritis. Yaitu, pola pikir yang bebas dan terbuka namun tetap kritis berdiri diatas
hati nurani yang suci dan bertauhid. Konsekuensi dari pola pikir semacam ini adalah menerima
semua pemikiran dan ilmu pengetahuan tanpa memerhatikan sumbernya, seperti yang pernah
disabdakan oleh nabi Muhammad Saw:
Pungutlah olehmu hikmah (ilmu pengtahuan atau wisdom), dan tidak akan membahayakan
bagi kamu dari bejana apa pun hikmah itu ke luar
Hikmah adalah barang hilangnya orang beriman, karena itu hendaknya ia memungutnya di
man pun ditemukannya.

Dengan inklusivisme-kritis ini, pembendaharaan ilmu pengetahuan akan semakin diperkaya.


Dan ketika ilmu pengetahuan dimengerti sebagai temuan-temuan atau bentuk-bentuk konkret
dari Sunnatullah, maka diharapkan kesadaran manusia akan keberadaan Sunnatullah (atau
keberadaaan Allah) akan semakin meningkat. Sehingga dengan kesadaran ini, realitas kehidupan
yang tercipta atau yang akan diciptakan oleh setiap individu akan selalu berada dalam garis
Sunnatullah.
Sehubungan dengan hal tersebut , kajian di bab ini akan diarahkan pada konsep nilai-nilai etika
akuntansi yang dikemukkan oleh dua orang penulis, yaitu Ahmed Riahi-Belkaoui (1992) dan
Jere R. Francis (1990). Riahi-Belkaoui (1992), dalam hal ini, mengajukan lima nilai etika, yaitu
fairness, ethics, honesty, social responsibility, dan truth sebagai elemen yang penting dalam
moralitas akuntansi . unsur pertama fairness merupakan perwujudan sifat netral dari seorang
akuntan dalam menyiapkan laporan keuangan. Ini adalah suatu indikasi bahwa prinsip, prosedur
dan teknik-teknik akuntansi harus fair, tidak bias, dan tidak parsial dalam arti bahwa akuntan
sebagai penyedia informasi harus beriktikad baik dan menggunakan etika bisnis dan kebijakan
akuntansi yang baik dalam menyajikan, memproduksi, dan memeriksa (auditing) informasi
akuntansi.
Unsur yang kedua, yaitu etika (ethics), menurut pandangan Riahi-Belkaoui, erat kaitannya
dengan peran profesi akuntansi, artinya bahwa dalam melaksanakan peranannya, seorang
akuntan tidak hanya menghadapi aturan-aturan perilaku formal, tetapi juga nilai-nilai moralitas
yang diciptakan oleh lingkungannya (Riahi-Belkaoui, 1992: 25). Dengan mengakui adanya suatu
peran (role) dan kemudian secara aktif terlibat dalam peran tersebut, maka akuntan mau tidak
mau harus mengakui adanya kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Oleh Karena
itu, nilai-nilai etika (ethics) yang membedakan antara baik dengan yang buruk dan yang benar
dengan yang salah merupakan salah satu unsur yang perlu diperhatikan sebagai dasar pijakan
dalam pengambilan keputusan.
Honesty adalah unsur ketiga yang dapat menjamin terciptanya atau bertahannya kepercayaan
masyarakat umum terhadap profesi akuntansi. Hilangnya Honesty umumnya menyebabkan
timbulnya fraud. Sayangnya fraud dalam dunia akuntansi-yang umumnya dalam bentuk
corporate fraud, fraudulent financial reporting, white collar crime, atau audit failures_makin
meningkat dan meyebabkan timbulnya kerugian yang besar bagi perusahaan, individu dan
masyarakat, serta menimbulkan masalah moral dalam dunia praktik (Riahi-Belkaoui, 1992: 119).
Social Responsibility adalah unsur yang keempat yang pada dasarnya erat kaitannya dengan
persepsi seseorang tentang perusahaan. Menurut persepsi ini, perusahaan tidak lagi dipandang
sebagai sebuah entitas yang semata-mata mengejar laba (profit) untuk kepentingan pemilik
perusahaan (shareholders) sebagaimana yang dianut oleh paham klasik pada abad ke-19, atau
untuk kepentingan ayng lebih luas, yaitu stakeholders (pemegang saham, kreditor, investor,
pemasok bahan-baku, pemerintah, dan entitas lain yang mempunyai hak kepada perusahaan),
namun juga secara lebih serius memerhatikan lingkungan social. Pandangan yang terakhir ini,

menganggap bahwa perusahaan mempunyai kepentingan yang kuat terhadap lingkungan sosial
sebagai bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan dalam melakukan bisnis di samping
kepentingan pasar. Konsekuensi dari pandangan ini adalah bahwa perusahaan mempunyai minat
dan perhatian yang besar terhadap ketimpangan-ketimpangan social-ekonomi dalam masyarakat
(seperti tidak meratanya pendidikan, ekonomi, dan kesempatan kerja), kesewenangan dalam
mengeksploitasi sumber daya alam dan dalam memperlakukan limbah industry, fasilitas-fasilitas
umum yang tidak memadai, dan lain sebagainya. Pandangan ini begitu jauh telah meninggalkan
pendahulunya-yang memandang tujuan perusahaan hanyalah maksimasi kesejahteraan untuk
pemegang saham (stockholder wealth maximization) atau maksimasi kesejahteraan umum
(management welfare maximization)-menuju pada tujuan maksimasi kesejahteraan masyarakat
secvara umum (social welfare maximization). Menurut pandangan ini, demikian dikatakan oleh
Riahi-Belkaoui (1992: 153), perusahaan dapat melakukan semua proyek kegiatan (sebagai
tambahan pada tujuan untuk memperoleh laba) yang dapat meminimalkan biaya social (social
costs) dan memaksimalkan manfat sosial (social benefits). Adanya kesadaran sosial ini
memberikan suatu indikasi bahwa ada suatu persepsi (tentang perusahaan) yang berpijak pada
nilai-nilai etika (moral) dan rasa tanggung-jawab sosial yang besar terhadap masyarakat dan
lingkungan.
Unsur kelima dari moralitas dalam akuntansi adalah truth. Truth dalam hal ini dapat diartikan
sebagai netralitas (neutrality) dan objektivitas (objectivity) (Riahi-Belkaoui, 1992: 179-9). Truth
dalam arti yang pertama, menurut Riahi-Belkaoui (1992: 179), menunjukkan bahwa seorang
akuntan (untuk menghindari bias dalam pengetahuan (knowledge), deksripsi , dan komunikasi
atas fakta), harus bersikap netral. Netral disini artinya adalah bahwa akuntan melaporkan
informasi seperti apa adanya, tidak menyediakan informasi dengan cara tertentu yang cenderung
menguntungkan suatu pihak dan merugikan pihak lain. Sedangkan truth dalam arti yang kedua,
menunjukkan empat pengertian, yaitu:

Bahwa ukuran-ukuran yang digunakan dalam akuntansi bersifat impersonal atau berada
diluar pemikiran seseorang yang membuat ukuran tersebut;
Bahwa ukuran tersebut berdasarkan pada bukti-bukti yang dapat diverifikasi;
Bahwa ukuran tersebut berdasarkan pada consensus para ahli yang dapat dipercaya; dan
Terdapat kerampingan (narrowness) disperse statistic dari ukuran-ukuran yang digunakan
bila ukuran tersebut dibuat oleh orang yang berbeda (Riahi-Belkaoui, 1992: 179).

Unsur-unsur moralitas akuntansi yang dikemukkan oleh Riahi-Belkaoui (1992) di atas


merupakan bagian yang sangat penting dalam memberikan suatu persepsi bahwa sebenarnya
akuntansi tidak terlepas dari nilai-nilai etika yang menyangkut tidak saja kepribadian
(personality) dari akuntansi sebagai orang yang menciptakan dan membentuk akuntansi, tetapi
juga akuntansi sebagai suatu disiplin. Hal tersebut memang wajar dan cukup rasional karena
akuntansi sebagaimana yang didefinisikan oleh American institute of certified public
accountants (AICPA) dalam statements of the accounting principle board, No.4, par. 40, 1970
adalah : sebuah aktivitas jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif, terutama

informasi keuangan, tentang entitas bisnis yang di maksudkan dapat berguna dalam membuat
keputusan-keputusan ekonomi-dalam membuat pilihan-pilihan yang rasional di antara beberapa
alternatif tindakan.
Informasi akuntansi, dalam definisi diatas, merupakan unsur utama dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Dengan kata lain, keputusan-keputusan ekonomi yang diambil seseorang,
pada satu sisi, sangat dipengaruhi oleh informasi yang digunakan dan, pada yang lain, keputusan
tersebut berimplikasi atau berpengaruh terhadap terbentuknya suatu kondisi atau realitas tertentu.
Misalnya, dengan informasi akuntansi (disamping informasi yang lain) seorang investor
mengambil keputusan untuk menanamkan dalam sebuah perusahaan yang sedang melakukan
ekspansi bisnis. Keputusan untuk melakukan investasi ini jelas menciptakan realitas baru seperti,
semakin besarnya kekayaan (asset) dan nilai perusahaan, semakin terbukanya kesempatan kerja,
semakin besarnya tingkat produksi, semakin besarnya kesejahteraan masyarakat dan lain
sebagainya; atau terciptanya realitas negative (karena informasi yang digunakan tidak valid)
seperti, bangkrutnya perusahaan, adanya pemutusan hubungan kerja, meningkatnya angka
penggangguran. Menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dari contoh tersebut kita dapat memahami bahwa informasi (akuntansi) mempunyai pengaruh
yang sangat besar dalam pengambilan keputusan yang pada gilirannya juga berpengaruh
terhadap pembentukkan realitas. Melihat hal ini, Morgan (1998: 482) secara eksplisit telah
menegaskan bahwa hasil penafsiran akuntan (atau nonakuntan) terhadap realitas (misalnya,
laporan keuangan) akan menjadi sumber informasi untuk pembentukkan dan pembentukkan
kembali realitas (reconstruction of reality), karena laporan keuangan (di mana di dalamnya
terdapat informasi akuntansi) dipakai oleh para pengguna (users) untuk membentuk atau
merasionalkan keputusan-keputusan dimasa yang akan datang. Begitu penting pengaruh
informasi akuntansi terhadap pembentukkan realitas, sampai-sampai Francis (1990: 7)
mengklaim bahwa akuntansi adalah sebuah praktik moral. Hal ini demikian, Karena akuntan
dapat mengubah dunia dan mempengaruhi pengalaman hidup orang lain dengan cara yang
menyebabkan pengalaman hidup seseorang menjadi berbeda dengan tidak adanya (absence)
akuntansi atau adanya (presence) bentuk alternative akuntansi).
b. Nilai-nilai Etika Akuntansi Menurut Jere R. Francis (1990)
Sedikit berbeda dalam hal penekanan, nilai-nilai etika yang dikemukakan oleh Francis (1990)
lebih bersifat spesifik dan pragmatis di banding dengan apa yang telah dikemukakan oleh RiahiBelkaoui (1992). Hal ini demikian, karena Francis (1990) memang menekankan, seperti yang
dikemukakan di atas, pada sisi tertentu yang memberikan arti bahwa akuntansi pada hakikatnya
adalah praktik moral. Oleh karena itu Francis (1990: 9) lebih menekankan pada kualitas
kemanusiaan (human quality), yaitu kualitas yang kepemilikan dan aktualisasinya dapat
membantu kita untuk memperoleh sesuatu yang baik yang sebetulnya bersifat internal bagi
praktik akuntansi dan sebaliknya dengan ketiadaan kualitas tersebut akan menghambat kita untuk

memperoleh nilai kebijakan. Untuk itu, Francis (1990, 9) mengemukakan lima nilai etika yang
dapat direalisasikan melalui praktik akuntansi, yaitu :

Kejujuran (honesty)
Perhatian terhadap status ekonomi orang lain (concern of the economic status of other)
Sensitivitas terhadap nilai kerja sama dan konflik (sensitivity to the value of cooperation
and conflict),
Karakter komunikatif akuntansi (communicative character of accounting)
Dan penyebaran informasi ekonomi (dissemination of economic information).

Makna Etika dan Relevansinya dengan Dunia Bisnis


Etika (ethics) sebetulnya berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter
atau kebiasaan (custom). Menurut Solomon (1984: 3), makna dari kata ethos ini tidak lain adalah
karakter dari suatu budaya. Sedangkan etika, pada sisi yang lain, umumnya berkenaan dengan
karakater individu (termaksud apa yang kita sebut menjadi orang yang baik) dan juga
berkenaan dengan usaha memahami aturan-aturan sosial, khususnya aturan-aturan tentang hal
yang baik dan yang buruk, yang mengatur dan membatasi perilaku kita (Solomon 1984: 3).
Namun, etika juga dapat diartikan sebagai sebuah disiplin ilmu (yang mempelajari baik nilai
maupun justifikasinya) dan nilai serta aturan sesungguhnya dari perilaku dimana dengannya kita
hidup (Solomon, 1984: 2).
Etika merupakan satu bagian yang sama sekali tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita seharihari, khususnya kehidupan dunia bisnis. Tentang hal ini, paling tidak ada beberapa alasan untuk
mendukung pernyataan tersebut (lihat Chryssides and Kaler, 1993: 21-3). Pertama, masyarakat
kita pada dasarnya dibangun atas dasar aturan-aturan etika. Bisnis, misalnya, harus beroperasi
dalam tatanan sosial yang dalam beberapa metodenya sama etisnya dengan peraturan
perundanga, politik, ekonomi, dan lain sebagainya yang melingkunginya. Dengan demikian,
keputusan-keputusan bisnis dapat dibatasi oleh lingkungan etikanya, seperi peraturan perundangundangan, politik, ekonomi dan lain-lainnya. Jadi, jelas disini bahwa bisnis tidak dapat
beroperasi tanpa memerhatikan peraturan-peraturan (misalnya, undang-undang, sistem politik,
sistem ekonomi, sistem sosial, dan lain-lain) yang ditetapkan dan diterapkan oleh masyarakat
setempat.
Kedua, bisnis merupakan sebuah kekuatan yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap
kehidupan masyarakat, bahkan kekuatannya sebanding dengan kekuatan agama dan politik.
Populasi yang bekerja dalam sebuah masyarakat, hampir semuannya menggantungkan diri dalam
bisnis untuk sumber kehidupannya, dan sisanya menggantungkan diri sebagai konsumen. Bisnis
bukan merupakan kekuatan yang statis, tetapi sebaliknya ia merupakan sebuah kekuatan yang
terus berkembang baik dalam bentuk kuantitas maupun kualitas; ia tidak terbatas pada satu
daerah, tetapi sebaliknya menjelajahi seluruh belahan bumi ini. perusahaan multinasional tumbuh

semakin hari semakin besar menjelajah semua Negara dengan pasar barang, jasa, dan uang yang
semakin global dan bahkan sulit mengendalikan kekuatan dan gerak dinamis bisnis.
Yang ketiga berkenaan dengan manusia sebagai agen yang secara aktif menjalankan bisnis.
Manusia, khususnya manajer dalam hal ini adalah pribadi yang secara sadar mengenadalikan dan
menjalankan bisnis. Untuk menjalankan bisnis, seorang manajer dituntut untuk memiliki
profesionalisme yang tinggi. Tanpa bekal profesionalisme ini mustahil bisnis yang dijalankannya
akan mampu bertahan hidup lama. Bagi seorang manajer yang professional, kemampuan
intelektual dan tanggung jawab yang besar merupakan bekal utama yang sangat bernilai dalam
menjalankan bisnis. Hal ini demikian, karena semakin besar dan kompleks keadaan sebuah
bisnis, maka semakin besar pula tuntutan untuk memiliki intelektual dan ilmu pengetahuan yang
memadai; demikian juga akan tuntutan tanggung jawab.
Dari beberapa alasan tersebut diatas, kita dapat melihat bahwa kebutuhan akan aplikasi etika
dalam bisnis pada dasarnya terletak pada, dalam skala makro, hakikat masyarakat itu sendiri
yang tidak bisa terlepas dari sistem nilai etika (misalnya, sistem ekonomi, politik, sosial, dan
agama) dan, dalam skala mikro, kapasitas manusia sebagai individu yang mempunyai
kemampuan untuk membangun dan menciptakan realitas, yaitu, realitas dengan jaringan sistem
nilai yang mengikat dan memilih kehidupan individu-individu dalam masyarakat luas dan
majemuk. Ketika sebuah realitas telah tercipta, namun tanpa didasari oleh nilai-nilai etika maka
realitas yang diciptakan tersebut akan menjaring kehidupan individu-individu dalam masyarakat
kedalam jaringan-jaringan tanpa nilai etika. Akibatnya, tatanan kehidupan sosial akan menjadi
rusak dan korup; dan masyarakat yang bersangkutan pada hakikatnya sudah mati.
Beberapa Teori Etika
Dalam uraian sebelumnya secara singkat telah disinggung bahwa dalam masyarakat yang
majemuk terdapat sistem nilai etika majemuk (banyak dan berbeda antara yang satu dengan yang
lain) pula. Akibatnya, tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik antara kelompok
masyarakat tertentu dengan yang lain. Fenomena (kemajemukkan) ini memang sulit dihindarkan,
karena kemajemukkan itu sendiri, merupakan fenomena yang alamiah. Dengan kata lain,
kemajemukkan itu sebetulnya memang harus ada, namun disamping kemajemukkan tersebut
harus ada sebuah nilai yang sifatnya universal dan dapat di terima oleh semua pihak. Tentang hal
ini, De Geroge mengucapkan bahwa:
disamping perbedaan dalam kebiasaan (hidup sehari-hari) dan praktik-praktik moral dari
masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain dan dari masa ke masa, terdapat (pula)
kesepakatan dasar dalam sejumlah besar isu sentral (1993: 38).
Kesepakatan dasar (basic agreement) tersebut tidak lain adalah nilai-nilai universal yang secara
fitrah diakui dan disetujui bersama oleh berbagai pihak tanpa ada batas dimensi ruang dan waktu.
Contoh dari nilai-nilai universal ini misalnya, adalah keadilan dan kebenaran. Tidak ada

seorangpun atau satu masyarakat pun yang akan menolak kedua nilai tersebut, karena kedua nilai
tersebut secara inhere ada dalam diri setiap manusia.
Namun, pencarian nilai keadilan dan kebenaran tersebut bukan merupakan sebuah yang mudah,
karena persepsi seorang individu tentang nilai tersebut akan berbeda antara individu yang satu
dengan individu yang lain. Dengan demikian, persepsi nilai tersebut akhirnya juga akan
beragam; dalam arti bahwa memang ada kemajemukkan dalam segi bentuk, tetapi hakikat
keadilan dan kebenaran itu sendiri tetap sama.
Kemajemukkan bentuk ini dapat kita lihat misalnya dalam teori etika yang dikemukakan oleh
para ahli, seperti teori etika utilitarianisme, teori etika deontologis, dan teori etika yang
bersumber dari agama.
a. Teori etika utilitarianisme
Teori etika utilitarianisme pada awalnya berasal dari inggris sebagai respon terhadap revolusi
industry yang telah mengubah dunia barat dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industry.
Lokomotif utama dari teori ini tidak lain adalah Jeremy Bentham (1748-1832), seorang filsuf
yang lahir di London pada 5 februari 1748. Rasa pemikiran yang mengantarkan Bentham dalam
pengembangan teori ini terletak pada prinsip utilitas (utility). Utilitas, dalam hal ini memiliki
makna bahwa :
Suatu tindakan akan dinyatakan baik atau salah tergantung pada kecenderungannya untuk
memberikan kebahagiaan yang besar bagi sejumlah besar individu (Borchert dan Steward, 1986:
182-3).
Bentham memulai teorinya dengan mengambil Hedonisme psikologis (psychological hedonism)
sebagai sebuah fakta yang memandang bahwa :
Semua manusia dalam kenyataannya selalu berusaha mendapatkan kenikmatan (pleasure) dan
menghindari penderitaan (pain) (Borchert dan Steward, 1986: 183).
b. Teori Etika Deontologis
Teori ini adalah teori yang dibangun oleh Immanuel Kant (1724-1804), seorang filosof jerman
yang mengklaim (sebagaimana juga Bentham yang menggangap bahwa kebahagiaan sebagai
klaim tunggal atas tujuan hidup manusia) bahwa iktikad baik (a good will) adalah sebagai satusatunya dasar moralitas sebuah tindakan. Dengan demikian, berbeda dengan Bentham, Kant
beranggapan bahwa sebauh tindakan dianggap baik bukan karena hasil atau kosekuensi yang
dihasilkan oleh tindakan tersebut, tetapi sebaliknya tindakan tersebut ditentukan oleh iktikad
baik dari pelaku tindakan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Borchert dan Steward di bawah
ini :

Kebaikan tergantung pada iktikad baik seseorang . Oleh karena itu, tak satupun dari sesuatu
adalah baik tanpa kualifikasi kualifikasi tersebut adalah bahwa segala sesuatu itu adalah baik
jika diiringi oleh iktikad baik. (atau singkatnya): hanya ada satu hal yang baik tanpa kualifikasi,
dan itu adalah iktikad baik (a good will). Kekurangan yang lain tidak lah menjadi masalah,
yang penting adalah bahwa seseorang itu baik bila ia memiliki niat baik, yaitu seseorang yang
motivasinya baik (1986, 200).
c. Teori Etika Yang Berseumber Dari Agama
Agama, dalam teori etika ini, merupakan sumber yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk
mengetahui atau membedakan yang baik dan yang buruk dan yang benar dan yang salah.
Mengapa agama dijadikan sumber nilai ? karena hanya tuhanlah yang memiliki otoritas tertinggi
dalam menetapkan nilai-nilai yang baik dan yang benar. Tentang hal ini, Chryssides and Kaler
(1993: 84) berkomentar bahwa :
jika tuhan itu ada, lalu siapa yang lebih baik dari tuhan sendiri dalam memutuskan apa yang
benar dan apa yang salah? Jika tuhan itu maha mengetahui, maka pasti dialah pemegang otoritas
yang terpercaya atas para ahli etika
Oleh karena itu, masyarakat yang percaya akan adanya tuhan akan membangun nilai-nilai
etikanya berdasarkan pada ajaran agama masing-masing. Umat islam, misalnya, akan
membangun nilai-nilai etikanya berdasarkan pada kitab sucinya, yaitu Al-Quran, orang nasrani
akan berdasarkan pada Bibel dan orang Yahudi akan menggunakan Taurat. Menurut mereka, nilai
yang baik dan yang benar hanya dapat diketahui melalui kitab suci mereka, karena hanya
tuhanlah yang maha mengetahi dan dialah pemegang otoritas tertinggi dalam menetapkan nilainilai tersebut.
Yang membedakan teori ini dengan teori etika sekuler lainnya adalah bahwa ada keyakinan yang
kuat diantara para pemeluk agama tentang adanya Realitas supranatural disamping realitas
dunia yang sedang dialami sekarang ini. dengan dasar keyakinan ini, mereka, dalam hidup di
dunia ini, selalu berusaha melakukan tindakan yang sesuai dengan ajaran agama mereka. Dengan
cara ini mereka yakin bahwa apa yang mereka perbuat akan menghantarkan mereka kepada
realitas supranatural tadi.
Syariah : Sumber Nilai Etika
Sebagaimana telah kita ketahui diatas, Immanuel Kant dalam memberikan pengertian terhadap
kewajiban (Duty) sebagai salah satu prinsip dalam membangun teori etika, menggaitkan
kewajiban tersebut dengan ketentuan formal (formal requirement), yaitu hukum moral
(moral law), hukum moral yang dikemukakan oleh kant memiliki konotasi religius, karena
latar belakang Kant memang berasal dari lingkungan Kristen protestan. Jadi tidak mengherankan
bila hukum moral yang ia gunakan mendapat inspirasi dari etika protestan (Norman, 1983: 94).

Mengapa mengambil etiaka Protestan ? karena jelas disini, agama Protestan dipercaya sebagai
sumber yang mempunyai otoritas untuk mengetahui yang baik dan benar.
Dengan logika yang sama, seorang muslim juga mempunyai keyakinan bahwa Al-Quran dan
Hadist merupakan du sumber utama dalam menetukkan nilai baik dan benar. Dari kedua sumber
tersebut kemudian diturunkan formulasi praktis dalam bentuk hukum islam, yang akhirnya kita
kenal dengan nama syariah. Untuk menghasilkan ketentuan hukum ini, diperlukan alat yang,
yaitu ijma dan qiyas. Syariah, yang menurut ketentuannya menetapkan bahwa setiap tindakan
dapat diklasifikasikan kedalam lima kelas yaitu wajib, mandub, mubah, makruh, dan haram,
menurut Safi (1990, 177) adalah
sistem yang komprehensif melingkupi seluruh bidang hidup manusia. Ia (syariah) bukan
sekedar sebuah sistem hukum, tetapi sistem lengkap yang mencakup hukum dan moralitas.
Syariah : Upaya Pencarian Sunnatullah
Apa yang kita diskusikan diatas adalah persepsi tentang syariah sebagai ketentuan hukum yang
menganggap bahwa hukum-hukum syariah yang telah diformulasikan dan ditetapkan oleh
ulama-ulama sebelumnya berada dalam posisi yang sudah final. Tentu pandangan semacama ini
sulit diterima bagi mereka yang kontra terhadap pendapat tersebut. Paling tidak, dalam hal ini,
ada tiga alasan mendasar mengapa pandangan yang kedua menolak, antara lain :

Pertama, doktrin tentang kepastian ijma adalam mitos.


Kedua, peradaban manusia selalu berubah.
Ketiga, sunnatullah yang tersebar luas.

Syariah : Bentuk Hukum Etika Islam


Dari uraian diatas kita dapat menangkap suatu prinsip bahwa sebetulnya tidak dapat terlepas dari
konteks sosial yang terbungkus dalam dimensi waktu dan ruang dimana diakan diterapakan.
Dengan kata lain, syariah adalah produk atau hasil karya cipta manusia melalui proses yang
rasional dengan dasar nilai ilahi yang universal, yaitu Tauhid. Oleh karena itu, syariah, dalam
pengertian Bentuk aturan-aturan atau hukum positif, haruslah bersifat rasional dan praktis
(dapat diterapakan sesuai dengan konteks lingkungannya).
Untuk sampai kearah ini, kita membutuhkan transformasi pemikiran, yaitu menginterpretasikan
kembali nilai-nilai islam secara rasional dan empiris. Untuk itu, lima program reinterpretasi yang
diusulkan oleh Kuntowijoyo (1991: 283-5) adalah sangat relevan untuk diperhatikan. Programprogramnya antara lain:

Program pertama adalah perlunya dikembangkan penafsiran sosial structural lebih dari
pada penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu dalam AlQuran (Kuntowijoyo, 1991: 283).

Program yang kedua adalah mengubah cara berpikir subjektif ke cara berpikir objektif
(Kuntowijoyo, 1991: 284).
Program yang ketiga adalah mengubah islam normative menjadi teoretis (Kuntowijoyo,
1991: 284).
Program yang keempat adalah mengubah pemahaman yang a-historis menjadi historis
(Kuntowijoyo, 1991: 285).
Program yang kelima (terakhir) adalah merumuskan formulasi-formulasi wahyu yang
bersifat umum (general) menjadi formulasi-formulasi yang spesifik dan empiris
(Kuntowijoyo, 1991: 285).

Program-program yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo (1991) sangat menarik dan sangat
penting artinya dalam upaya menafsirkan Al-Quran dalam konteks yang tepat, sehingga AlQuran (yang merupakan sumber hukum pertama bagi umat islam) benar-benar dapat
membumi dalam arti dapat diaplikasikan dalam konteks kekinian dan kedisinian. Dengan kata
lain Kuntowijoyo berusahan untuk memahami teks-teks Al-Quran pada tingkat yang tinggi yaitu
mencari makna yang transcendental dan universal, dengan melepaskan diri dari penafsiran
kontekstual dan bias-bias historis untuk kemudian diterapkan dalam konteks yang tepat.
Syariah : Nilai Internal Etika Islam
Kajian sebelum subbab ini pada dasarnya memberikan sebuah ilustrasi tentang syariah dalam arti
sebagai Bentuk ketentuan-ketentuan hukum yang tidak lain adalah bentuk luar dari syariah ini.
dengan menggunakan metodologi dan pendekatan alternative, bentuk luar syariah ini
berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan akan mampu memberikan justifikasi
tentang baik dan benar dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Penutup
Kembali lagi pada nilai-nilai etika yang dikemukakan oleh Riahi-Belkaoui (1992) dan Francis
(1990), kita bisa beranggapan bahwa apa yang dikemukakan mereka merupakan sebagian
ketentuan-ketentuan huum (syariah) yang ditemukan dan dapat dipraktikkan dalam dunia
akuntansi. Ketika kita mengambil sikap inklusivisme-kritis, maka kita akan mendapatkan
perbendaharaan yang kaya akan ketentuan-ketentuan hukum akuntansi. Dari pemahaman yang
diperoleh dariketentuan hukum akuntansi tersebut sebetulnya tidak dapat berdiri sendiri,
melainkan selalu bergantung atau terikat dengan kondisi sosial di mana akuntansi tersebut berada
dan dipraktikkan. Pola sangat kompleks dan sangat rumit, sehingga disini diperlukan adanya
pandangan kritis dan tanggung jawab (yaitu, melibatkan pertimbangan etika) dalam
mengformulasikan akuntansi dalam konteks yang tepat dan dipraktikkan, maka secara otomatis
formula itu akan masuk ke dalam sistem jaringan kerja yang lain, yang kemudian akan mengikat
manusia ke dalam sistem jaringan tersebut.
Adalah suatu hal yang wajar dan logis bila kita mempunyai keinginan untuk menciptakan suatu
jaringan kerja yang menggiring manusia pada kondisi yang memberikan kesadaran diri tentang

hakikat dirinya, bukan sebaliknya menggiring manusia pada kondisi terasing dari hakikat diri
yang sejati. Untuk itu kita memerlukan adanya kajian-kajian yang kritis tentang akuntansi pada
tingkat landasan filsafat pengetahuan akuntansi (philosophy of accounting knowledge), terutama
asumsi-asumsi ontology, epistemology, dan aksiologi.
Namun, perlu diingat bahwa kajian tersebut tidak terlepas dari perspektif yang digunakan, yaitu
perspektif yang luas, transdental, dan teleologikal. Ini tidak lain adalah khalifatullah fil ardh,
yaitu perspektif yang menyebabkan seorang individu secara sadar selalu berpijak pada etika
syariah dalam setiap pola piker dan tindakannya. Dengan cara demikian, diharapkan konstruksi
ilmu pengetahuan akuntansi dapat memberikan arah tntang bagaimana dan dalam bentuk apa
akuntansi harus diformulasikan dan dipraktikkan.
Pokok pikiran
Akuntansi sebagai instrumen bisnis tidak saja membutuhkan etika akuntan yang
mempraktikkanya, tetapi juga etika dalam dirinya sendiri-baik sebagai praktik atau sebagai
disiplin ilmu. Akuntansi dalam perspektif buku ini selalu mengandung nilai (value-laden)
akuntansi memancarkan nilai yang dikandungnya melalui informasi yang disajikan. Nilai yang
dipancarkan ini mememngaruhi pengguna dalam pengambilan keputusan. Implementasi
pengambilan keputusan pada akhirnya menciptakan realitas dengan nilai yang sama dengan nilai
yang telah dipancarkan oleh akuntansi.
Secara ideal akuntansi selayaknya mengandung nilai-nilai etika yang baik dalam dirinya sendiri,
karena nilai ini pada akhirnya menciptakan realitas. Menurut perspektif khalifatullah fil ardh,
nilai yang dimaksud disini adalah nilai etika syariah.
Penggunaaan etika syariah mengindikasikan bahwa pemahaman sunnatullah yang tersebar dalam
alam semesta, dalam kehidupan sosial manusia, dan dalam diri manusia itu sendiri adalah sangat
penting. (pemahaman) sunnatullah ini digunakan untuk menjadi basis nilai dalam konstruksi
akuntansi syariah. Ketika nilai-nilai etika syariah ini menyatu dengan akuntansi syariah, maka
informasi yang disampaikan adalah informasi yang mengandung nilai-nilai syariah. Informasi ini
mengstimulasi penggunanya untuk mengambil keputussan-keputusan bisnis dan menciptakan
realitas kehidupan (bisnis) yang sesuai dengan, atau yang juga sarat dengan, nilai-nilai syariah.