Anda di halaman 1dari 4

. Bagaimana cara mengatasi DBD?

Kuratif

Promotif dan preventif


Pengendalian spesies nyamuk ini dilakukan dengan berbagai cara:
a.
Perlindungan perseorangan untuk mencegah terjadinya gigitan Aedes aegypti yaitu dengan
memasang kawat kasa di lubang-lubang angin di atas jendela atau pintu, tidur dengan
kelambu, penyemprotan dinding rumah dengan insektisida dan penggunaanrepellent pada
saat berkebun
b. Pembuangan atau penguburan benda-benda di pekarangan atau di kebun yang dapat
menampung air hujan seperti kaleng, botol, ban mobil, dan tempat-tempat lain yang menjadi
tempat perindukanAe.aegypti (man made breeding places)
c.
Mengganti air atau membersihkan tempat-tempat air secara teratur tiap minggu sekali, pot
bunga, tempayan dan bak mandi
d. Pemberian abate ke dalam tempat penampungan air/penyimpanan air bersih (abatisasi)
e.
Melakukan fogging dengan malathion setidak-tidaknya 2 kali dengan jarak waktu 10 hari
di daerah yang terkena wabah di daerah endemi DHF
f.
Pendidikan kesehatan masyarakat melalui ceramah agar rakyat dapat memelihara
kebersihan lingkungan dan turut secara perseorangan memusnahkan tempat-tempat
perlindunganAe.aaegypti di sekitar rumah.
Sehingga dari itu cara yang untuk menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti adalah
melalui cara yang telah dikenal oleh masyarakat yakni melalui 3 M, yakni :
1.
Menutup TPA
2.

Menguras TPA seminggu sekali dan terus menerus

3.

Mengubur barang-barang bekas yang menjadi TPA

Akhir-akhir ini pencegahan dan pemberantasan DBD tidak hanya dapat ditempuh melalui
3M, cara terefektif adalah melalui PSJN (Pemberantasan Sarang Jentik dan Nyamuk). PSJN
merupakan cara paling mujarab untuk menekan angka kasus DBD. Selain karena tempat
jentiknya yang jelas, yakni di Tempat Penampungan Air (TPA), juga karena jentik merupakan
awal fase hidup nyamuk. Dan upaya dalam menerapkan PSJN ini ditempuh dengan beberapa
cara diantaranya adalah melalui :
1.
Pemberdayaan masyarakat dengan pembinaan ratusan Kader Wamantik (Siswa
Pemantau Jentik) dan Bumantik (Ibu Pemantau Jentik), yang bertugas memantau 10 rumah di
sekitarnya menyangkut keberadaan jentik di rumah mereka. Tidak lupa juga memberikan
penyuluhan
2.

Ikanisasi

3.

Abatesasi (temephos)

4.

Fogging, dengan syarat dan persetujuan dari Rumah Sakit sekitar

f.

Umumnya kebanyakan orang terparadigma dengan pemberantasan DBD melalui fogging atau
penyemprotan. Ketika dilakukan fogging, nyamuk dewasa akan mati bila terkena asap
fogging tersebut tetapi telur, larva atau jentik yang ada di dalam air tidak mati. Sehingga
kalau suatu ketika dilakukan fogging maka nyamuk bisa jadi akan mati semua ( dengan
syarat fogging dilakukan dengan benar) tetapi selang 1 10 hari kemudian akan muncul
nyamuk Aides aegyti yang baru dari hasil menetasnya telur-telur tadi.
Dari penjelasan di atas mestinya sudah bisa diambil kesimpulan bahwa
penanggulangan demam berdarah dengan cara fogging memang tidak effektif
apabila tidak diikuti dengan Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) atau dengan
ABATISASI. Selain tidak begitu effektif penanggulangan dengan cara ini juga
membutuhkan biaya yang mahal. Oleh karenanya fogging tidak perlu dilakukan
kalau memang tidak sangat mendesak.
Berdasarkan alasan inilah Dinas Kesehatan memberlakukan persyaratan khusus
untuk wilayah yang akan dilakukan fogging. Persyaratan tersebut antara lain;
sebelum dilakukan fogging masyarakat sekitar harus dilakukan penyuluhan dan
Penyelidikan Epidemologi (PE). Penyelidikan epidemilogi adalah kegiatan pencarian
penderita DBD atau tersangka DBD lainya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular
DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/ bangunan sekitarnya. Termasuk
tempat-tempat umum di dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter. Tindaklanjut
hasil PE tersebut bila ditemukan penderita DBD lainya ( 1 atau lebih) atau ditemukan
3 atau lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (>5%) dari rumah/ bangunan yang
diperiksa, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD, Larvasidasi,
Penyuluhan dan pengasapan (Fogging) dengan insektisida di rumah penderita DBD
dan rumah/ bangunan sekitar dengan radius 200 meter, 2 siklus dengan interval 1
minggu. Apabila tidak ditemukan jentik maka yang dilakukan hanya PSN DBD,
Larvasidasi dan penyuluhan.
Pemahaman ini harus tertanam di masyarakat, sehingga tidak salah langkah dalam
melakukan tindakan menanggulangi penyakit yang sudah banyak memakan korban
ini. Satu hal yang perlu ditekankan berulang kali adalah mencegah lebih baik dari
pada mengobati, cara mencegah yang benar adalah gaya hidup bersih dan sehat
dengan PSN teratur di rumah masing-masing.Cara inilah yang paling effektif
menanggulangi DBD bukan dengan melakukan Fogging.
Apakah alat fogging ada?
Jika alat fogging di Puskesmas tidak ada maka untuk pemberantasan nyamuk pun tidak bisa
walaupun peralatan lain yang ada di Puskesmas sudah canggih, sehingga perlu diusulkan
untuk menyediakan alat fogging apalagi daerah itu adalah daerah endemik DBD.
==
LI.6. Memahami dan menjelaskan menjaga kesehatan dan hukum berobat dalam
islam dan konsepKLB dalam islam

Penanggulangan KLB dalam syariat islam Nabi tidak memerintahkan mereka untuk
mengucilkan para pengidap penyakit lepra tersebut. Tetap bergaulseperti biasa, namun
waspada dan antisipatif. Hadis Nabi di atas adalah dalam konteks tersebut, bukan
14
dalam rangka mengukuhkan opini masyarakat kala itu bahwa suatu penyakit mutlak bisa
menular secaraalamiah.Jika kita melihat hal ini dari konteks tauhid, sesungguhnya tidak ada
penyakit menular dari ataumelalui apapun secara alamiah. Jelasjelas Nabi pernah menyatakan, Tidak ada penyakit menular (adwa).
(HR Muslim dari Abu Hurairah). Bahkan, dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Tirmizi darisahabat Jabir bin Abdullah, Nabi pernah menemani makan salah seorang sahabat
penderita lepra bernama
Muaiqib bin Abi Fathimah, tanpa memiliki kekhawatiran yang berlebihan.
Hukum berobat dalam islam1. Pendapat pertama mengatakan bahwa berobat hukumnya
wajib,
dengan alasan adanya perintahRosululloh
shallallahu alaihi wa sallam
untuk berobat dan asal hukum perintah adalah wajib, ini adalah
salah satu pendapat madzhab Malikiyah, Madzhab Syafiiyah, d
an madzhab Hanabilah.2. Pendapat kedua mengatakan
sunnah/ mustahab,
sebab perintah Nabi
shallallahu alaihi wa sallam
untuk berobat dan dibawa kepada hukum sunnah karena ada hadits yang lain Rosululloh
shallallahu alaihi wa
sallam
memerintahkan bersabar,
dan ini adalah madzhab Syafiiyah.
3. Pendapat ketiga mengatakan
mubah/ boleh secara mutlak
, karena terdapat keterangan dalil- dalil yangsebagiannya menunjukkan perintah dan
sebagian lagi boleh memilih, (ini adalah madzhab Hanafiyah dansalah satu pendapat
madzhab Malikiyah).4. Pendapat kelima mengatakan
makruh
, alasannya para sahabat bersabar dengan sakitnya, Imam Qurtubi
rahimahullah
mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu Masud,
Abu Darda
radhiyallahu anhum
, dan
sebagian para Tabiin.
5. Pendapat ke enam mengatakan
lebih baik ditinggalkan bagi yang kuat tawakkalnya
dan lebih baik
berobat bagi yang lemah tawakkalnya, perincian ini dari kalangan madzhab Syafiiyah.
Hukum menjaga kebersihan
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 57 yang bermaksud:
Makanlah dari makanan yang

baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami,
melainkan
mereka menganiaya diri mereka sendiri.
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dan apa yang terdapat di
mukabumi; d
an janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, kerana sesungguhnya syaitan
itu adalah musuh
yang nyata bagimu.
(Surah Al-Baqarah, ayat 168)
Sesungguhnya mendapat kemenanganlah orangyang membersihkan dirinya
QS Al Ala ayat : 14Dalam Islam, kebers
ihan adalah bersifat global atauluas. Artinya kebersihan itu meliputi semua aspek
dalam Islam. Barangsiapa benar-benar dapatmengamalkan kebersihan yang global secara
Islam ini maka oleh Allah mereka dijanjikan kemenangan baikdi dunia terlebih lagi di
akhirat.