Anda di halaman 1dari 15

Nila Septianti (102011101)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp. (021) 56942061
Pendahuluan
Perkembangan terkini memperlihatkan, penyakit kardiovaskular telah menjadi suatu
epidemi global yang tidak membedakan pria maupun wanita, serta tidak mengenal
batas geografis dan sosio-ekonomis.Angka kejadian gagal jantung diperkirakan
meningkat di masa yang akan datang, akibat peningkatan jumlah populasi usia lanjut
dan keberhasilan terapi Acute Myocardial Infarction (AMI).
Isi
Modalitas yang dapat digunakan dalam pencitraan jantung, diantaranya:
1. Chest X-Ray
2. Ekokardiografi
3. Nuclear medicine
4. Computed Tomography (CT)
5. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
6. Cardiac arteriography
Chest X-Ray (Foto toraks)
Foto toraks adalah pencitraan tubuh melalui penyinaran tubuh pasien dengan radiasi
ionisisasi berenergi tinggi (sinar-X) Perbedaaan penyerapan sinar radiasi oleh
berbagai jaringan tubuh membentuk gambaran (bayangan) yang berbeda di film foto
toraks. Untuk jaringan yang berat struktur atomnya rendah (seperti pada paru-paru)
maka sinar radiasinya ditransmisikan secara baik ke film, oleh karena itu akan tampak
gambaran berwarna warna hitam (radio lusen). Sedangkan Untuk jaringan yang berat
struktur atomya sangat tinggi seperti pada tulang, sinar radiasi akan diserap dan
diblok maka sinar ditransmisikan tidak sempurna/tidak ditransmisikan sama sekali
sampai ke film sehingga tidak menghasilkan gambaran di film atau menghasilkan

gambaran yang transparan (radio opaq). Jantung mudah dibedakan dari paru-paru
karena jantung mengandung darah dengan densitas air lebih besar dibandingkan
udara. Karena darah melemahkan x-ray lebih kuat dibandingkan dengan udara,
jantung relatif tampak berwarna putih (namun kurang putih jika dibandingkan dengan
tulang).

Analisis foto toraks untuk penyakit jantung:


o Pembesaran jantung: bentuk dan ukuran
o Tampak keseluruhan: Cardiothoracic ratio (CTR) > 50%
o Pembesaran ruang-ruang jantung tertentu
o Gambaran pericardial yang mencolok
o Perubahan paru-paru yang dihubungkan dengan penampakan jantung
o Analisis mediastinumukuran dan lokasi aorta dan vena sistemik yang besar (vena
cava superior dan inferior)
o Perubahan pembuluh darah besarapakah ditemukan kalsifikasi, perpanjangan, atau
aneurisma
o Penampakan posisi dari pacemaker
o Anomali ekstrakardial yang diasosiasikan dengan penyakit jantung

Radiologi foto polos normal jantung :


Diameter keseluruhan kurang dari setengah diameter transversal toraks.
Jantung pada toraks berada pada tiga perempat ke kiri dan seperempat ke kanan dari
tulang belakang.
CTI (Cardio Thoraxic Index/Ratio )= 40-50%
1. Atrium Kanan

Perbesaran atrium kanan biasanya tidak terbatas (isolated) kecuali dengan adanya
atresia tricuspid congenital atau kelainan Ebstein. Atrium kanan dapat melebar dengan
adanya hipertensi pulmonal atau regurgitasi tricuspid. Batas kanan jantung melebihi
sepertiga diafragma.

2. Ventrikel Kanan
Tanda klasik pembesaran ventrikel kanan adalah jantung boot-shaped dan pemenuhan
(filling in) ruang udara retrosternal. Pemenuhan tersebut disebabkan oleh pergeseran
letak transversal apeks ventrikel kanan saat ventrikel kanan melebar. Pembesaran
ventrikel kanan sering terjadi pada penyakit katup mitral setelah terjadi hipertensi
pulmonal. Jantung membesar ke kiri dengan apeks terangkat (di atas diafragma) dan
segmen pulmonal ( arteri dan vena pulmonalis) menonjol.
3. Atrium Kiri
Pembesaran atrium kiri ditandai dengan :
a. Pelebaran left atrial appendage di mana biasanya tampak sebagai cembungan fokal
dalam keadaan normal terdapat cekungan di antara arteri pulmonalis kiri dan batas
kiri ventrikel kiri pada penampakan frontal.
b. Akibat pembesaran atrium kiri, mengangkat left main stem bronchus sehingga akan
melebarkan sudut karina.
c. Akibat pembesaran atrium kiri secara posterior, aorta torakalis tengah membengkok
sampai rendah ke arah kiri.
4. Ventrikel Kiri
Tanda khas nya adalah kontur apeks yang jelas mengarah ke bawah, yang dibedakan
pada pergeseran letak transversal seperti pada pembesaran ventrikel kanan. Apabila
ada pembesaran ventrikel kiri, pada posisi lateral tampak sebagai tonjolan posterior, di
bawah tingkatan annulus mitral. Jantung membesar ke kiri dengan apeks
menekan/tertanam di diafragma, segmen pulmonal tidak menonjol.
5. Arteri pulmonalis

Pembesaran terlihat dengan hilus kiri yang jelas pada penampakan frontal dan
prominent pulmonary outflow tract pada penampakan lateral.
6. Aorta
Pada foto dada frontal, pelebaran aorta terlihat sebagai sebuah tonjolan mediastinum
tengah kearah kanan. Terdapat juga tonjolan pada anterior mediastinum pada
penampakan lateral, dibelakang dan superior terhadap pulmonary outflow tract.
Pelebaran aortic root yang sering terlihat pada hipertensi sistemik lama yang tidak
terkontrol.

Pada PA pencitraan ventrikel kanan kurang baik, lebih baik pencitraan ventrikel kanan
pada gambaran lateral jantung. Gambaran PA sering dikombinasikan dengan
gambaran lateral sehingga menghasilkan penampakan 3 dimensi otot jantung.
Gambaran PA lebih dipilih ketimbang gambaran AP, tetapi pada pasien2 yang terdapat
di ruang ICU/ tidak dapat beranjak dari tempat tidur, gambaran AP lebih dipilih.
Gambaran PA lebih dipilih karena bayangan sentral (penampakan jantung) lebih jelas
terlihat/didefinisikan, gambaran paru-paru tidak begitu jelas sehingga tidak
mengganggu penampakan jantung dan ruang perikardial, dan radiasi pada jaringan
payudara dapat dikurangi. Pencitraan PA masih lebih baik daripada AP karena dapat
memberi gambaran ukuran jantung yang mendekati aslinya, berbeda dengan cara AP
yang menghasilkan ukuran jantung yang lebih besar

Nuclear Medicine
Bahan radioaktif disuntikan ke tubuh pasien sehingga timbul radiasi dari tubuh pasien
yang nantinya ditangkap oleh sebuah alat. Bahan radioaktif dibuat agar cenderung
berkumpul di jaringan target. Nuclear imaging ini menunjukkan kelangsungan, fungsi,
ketebalan miokardial; dilatasi atrium/ventrikel; penyakit katup jantung
Modalitas nuclear cardiology imaging:
Planar imaging

SPECT
Nuclear blood-pool imaging of the heart
PET
Planar nuclear imaging menggunakan kamera besar berkristal yang berkilau dengan
tabung photomultiplier yang menangkap radiasi nuclear yang terdapat pada organ
target yang mengalami kelainan
Aktivitas tinggi( tingkat kontraksinya tinggi)area terang
Aktivitas rendaharea gelap

SPECT Imaging
Menggunakan kamera dengan cristal berkilau yang dihubungkan dengan tabung
photo-multiplie multiple yang mendeteksi adanya radiasi dari dalam tubuh pasien.
Posisi kepala kamera di berbagai sudut tubuh pasien dengan rentang 180O , dapat
menggunakan kamera yang single maupun multiple(kamera yang multiple akusisi
kecepatannya tinggi). Hasilnya dapat diintegrasikan ke dalam software yang
menghasilkan proyeksi gambar dari berbagai macam sisi. Sumbu pendek potongan
SPECT imaging menunjukkan otot ventrikel kiri seperti kue donat sementara sumbu
panjang venrtikal dan horizontal dari sumbu potong menunjukkan gambaran huruf U.

PET Imaging
Menunjukkan aliran darah myocardial dan gambaran metaboliknya. Indikasinya
adalah gambaran perfusi myocardial, ventrikulografi, (menilai ukuran dan fungsi
jantung), dan PET scan evaluasi perfusi dan metabolism jantung.

USG
Pemeriksaan ekokardiografi dan Doppler dapat menunjukkan berbagai kelainan
anatomi dan gangguan yang menyertai serta membantu dalam memeriksa katup yang

inkompeten dan stenotik serta fungsi ventrikel. Ekokardiografi dapat mendiagnosis


aneurisma arkus aorta, aneurisma diseksi, kardiomiopati, dan efusi pericardium.
Ekokardiografi
Merupakan alat diagnostik dengan sensitifitas tinggi yang dapat mendeteksi berbagai
macam penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner, penyakit jantung katup,
kardiomiopati, penyakit jantung hipertensi, masa tumor jantung, aneurisma pembuluh
darah besar dan lain-lain. Terdiri dari beberapa jenis :
1. Trans Esophageal Echocardiography (TEE)
Suatu pemeriksaan dengan memasukkan transduser endoskopi melewati mulut sampai
ke esophagus untuk mengetahui struktur anatomi dan fungsi jantung secara lebih
jelas.Terutama pada penderita yang diduga ada kebocoran sekat kelainan katup
jantung dan bila diduga ada gumpalan darah. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat
untuk menentukan diagnostik pada pasien-pasien dengan gambaran Echocardiography
yang tidak jelas pada pemeriksaan echo transtorakal. Hampir semua penyakit katup
dengan segala penyebab dapat dideteksi dengan TEE dengan sensitifitas yang tinggi
tanpa dilalui kateterisasi jantung.
Pemeriksaan TEE digunakan juga pada ruang operasi sebagai penuntun ahli bedah
dalam melakukan perbaikan katup maupun mengganti katup jantung dengan katup
buatan agar mendapat hasil yang optimal. Hal yang sama dapat dilakukan oleh ahli
bedah anak dalam operasi. TEE juga digunakan di ruang kateterisasi pada prosedur
ASO/ADO (Ampliatzer Sptal Occluder/ Ampleatzern Ductal Occluder).
2. Dobutamin Stress Echocardiography (DSE)
Adalah suatu pemeriksaan stress echo dengan menggunakan infus obat Dobutamin
yang bertujuan mendeteksi penyakit jantung koroner secara dini pada pasien dapat
diperiksa dengan alat treadmill dan juga deteksi Viabilitas otot jantung terutama pada
pasien dengan penurunan pompa jantung.
3. Treadmill Stress Echocardiography (TSE)
Pemeriksaan Stress Echo menggunakan alat treadmill bertujuan mendeteksi jantung
koroner secara dini yaitu untuk mengetahui ada tidaknya penyempitan pembuluh

darah koroner dan mengetahui viabilitas otot jantung dengan memantau gangguan
gerakan otot jantung saat dipacu oleh latihan / treadmill, sehingga pemeriksaan ini
mempunyai dampak pada terapi revaskularisasi (bedah pintas koroner atau balon
angio plasti).
4. Tissue Doppler Imaging / TDI
Pemeriksaan ini biasanya dilakukan sebagai Konfirmasi fungsi diastolik dan
peregangan Ventrikel kiri. Pada pasien yang biasanya bertambah sesak napas akan
tetapi fungsi pompanya normal pada pemeriksaan Eko biasa, pada pemeriksaan ini
dapat terlihat ketidaknormalannya.
Pemeriksaan DSE dan TSE perlu menghentikan obat Beta Bloker, 1 hari sebelum
pemeriksaan. Pemeriksaan TEE memerlukan puasa minimal 6 jam sebelumnya untuk
mencegah muntah saat dilakukan pemeriksaan, sebab pada pemeriksaan ini
dimasukkan transduser melalui mulut dan diberikan anestesi spray local.

Computed Tomography
Menggunakan sinar X untuk memotong-motong tubuh dari berbagai proyeksi.
Gambaran yang dihasilkan merupakan hasil penyerapan jaringan terhadap sinar X
berbeda-beda dari tiap jaringan yang didasari pada berat dari struktur atom jaringan
tersebut.

Kecepatan

perputaran

tabung

dan

detector

sangat

tinggi

(>64x/detik)menghasilkan proyeksi gambar yang beragam yang dicitrakan secara


digital. Sinar-sinar yang berhasil ditransmisikan oleh berbagai macam jaringan dalam
tubuh akan ditangkap oleh photo-multiplier tubes dan diproses oleh komputer

Jenisnya:
CT: single/multislices(MSCT)
MSCT dapat menggunakan contrast/tidak, CT angiography, dan CT jenis perfusi
CT SCAN
CT Scan dari organ dalam, tulang, jaringan lunak, dan pembuluh darah
menghasilkan kejelasaan dan kenampakan yang lebih detail dari penggunaan sinar X
yang biasa dilakukan, seperti pada foto toraks
MSCT
Karena kalsium adalah petanda dari CAD (coroner artery disease), deteksi jumlah
kalsium dalam CT scan merupakan alat prognostic yang baik dianalisis dalam
calcium score
Berikut ini tingkatannya:

No evidence of CAD
1-10 minimal evidence
11-100mild evidence
101-400moderate evidence
>400 extensive evidence

Indikasi penggunaan calcium scoring of CAD adalah orang-orang yang memiliki


risiko tinggi CAD-tanpa gejala (ex. tingkat kolesterol tinggi, memiliki sejarah
keluarga CAD, diabetes, hipertensi, perokok, obesitas, dan orang-orang yang
memiliki aktivitas fisik rendah)
Keuntungannya:
CT Kardiak untuk scoring kalsium tidak invasive dan dan baik untuk mengevaluasi

apakah seseorang memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung


Tidak membutuhkan waktu yang lama, tidak menimbulkan nyeri, dan tidak
menggunakan media kontras yang disuntikan
Tidak ada sisa radiasi yang tertinggal pada tubuh pasien
CT scan yang menggunakan sinar X biasanya tidak menimbulkan efek samping
Risiko:
Ada risiko menimbulkan kanker jika radiasi diberikan dalam dosis tinggi,efektif
dosis radiasi yang dianjurkan adalah 2 mSv, ini sama saja kita dipajani sinar matahari
selama delapan bulan
Pada wanita hamil, kecuali ada indikasi medis yang mendesak
Calcium scoring biasanya diiukuti dengan uji diagnostik lain untuk mengetahui
penyakit jantung yang diderita pasien, dan ada kemungkinan uji diagnostik selain
calcium scoring menimbulkan efek negative bagi pasien
INDIKASI kalsifikasi arteri koronaria, penyakit pericardial, AVM pulmonal,
cardiac masses, aneurisma aorta, dan prognosis penanganannya.

MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI)


MRI mampu memeriksa jantung pada tiap bidang dan sangat bermanfaat pada
berbagai situasi klinik termasuk efusi pericardium, hipertropik kardiomiopati,
penyakit jantung congenital dan valvular. Magnetic Resonance Angiography (MRA)
memiliki kemampuan untuk menyediakan metode pencitraan non-invasif pada
berbagai kelainan vascular seperti aneurisma, diseksi, stenosis, oklusi, dan kelainan
congenital.
1. Penyakit Jantung Hipertensi
Hipertensi sistemik yang berlangsung lama menyebabkan kenaikkan ventrikel kiri.
Hipertensi ringan tidak menyebabkan kelainan konfigurasi jantung, namun hipertensi
berat menimbulkan perubahan-perubahan pada jantung yang tampak pada foto toraks.

Gambaran radiologisnya antara lain :


a. Keadaan awal batas kiri bawah jantung menjadi bulat karena hipertrofi konsentrik
ventrikel kiri.
b. Apeks jantung membesar ke kiri dan ke bawah
c. Aortic knob membesar dan menonjol disertai kalsifikasi
d. Aorta decendens dan decendens melebar dan berkelok, ini disebut pemanjangan
aorta.elongatio aortae

2. Gagal Jantung
a. Gagal Jantung Kiri
- Distensi vena di lobus superior, bentuknya menyerupai huruf Y, dengan cabang lurus
mendatar ke lateral.
- Batas hilus pulmo terlihat kabur
- Menunjukkan adanya edema pulmonum keadaan awal]Terdapat edema pulmonum,
meliputi edema paru intersisial dan alveolar
b. Gagal Jantung Kanan
- Vena cava superior melebar, terlihat sebagai pelebaran suprahiller kanan sampai ke
atas
- Vena azygos membesar sampai mencapai lebih dari 2 mm
- Efus pleura, baisanya terdapat di sisi kanan atau terjadi bilateral
- Interlobobar efussion atau fissural efussion. Sering terjadi pada fissure minor,
bentuknya oval atau elips. Setelah gagal jantung dapat diatasi, maka efusi tersebut
menghilang, sehingga dinamakan vanishing lung tumor sebab bentuknya mirip tumor
paru.
- Edema pulmonal intersisial : merupakan penonjolan pembuluh darah pada lobus atas
dan penyempitan pembuluh darah pada lobus bawah.

- Edema pulmonal alveolus : akibat meningkatnya tekanan vena


- Kadang-kadang disertai dengan efusi pericardial.
Radiologi pada penyakit kardiovaskuler lainnya:
Penyakit jantung hipertensi : gambaran pembesaran ventrikel kiri.
Penyakit jantung kongestif : pembesaran jantung kiri dan kanan, hilus melebar,
corakan vaskuler meningkat.
Penyakit jantung rematik (tersering mengenai katup mitral ) : Mitral Insuffisiensi
(MI) = gambaran pembesaran atrium kiri dan ventrikel kiri, Mitral Stenosis (MS) =
gambaran pembesaran atrium kiri dan ventrikel kanan.
Penyakit jantung kongenital :
ASD = gambaran pembesaran atrium kanan dan ventrikel kanan, arteri pulmonalis
melebar. VSD = gambaran pembesaran atrium kiri dan ventrikel kiri (defek kecil),
ditambah gambaran pembesaran ventrikel kanan (defek besar).PDA = gambaran
pembesaran atrium kiri, ventrikel kiri, ventrikel kanan, serta hilus lebar.

Coronary Anteriography
Menggunakan sinar X
Tujuan:
Untuk menentukan apakah terdapat obstruksi yang ekstensive pada CAD, jika
modalitas lain tidak dapat memastikan diagnosis CAD ini.
Untuk menilai kemungkinan dan kecocokan dari berbagai macam bentuk terapi
(revakularisasi perkutan dan operasi)
Untuk menunjukkan prosedur intervensi (invasive procedure)
Sebagai alat penelitian dalam penilaian hasil treatment dan progresivitas/
penurunan arterosklerosis koroner
Mebutuhkan gambaran kiri (LCA) dan kanar (RCA) arteri untuk melengkapi

struktur anatomi dan menghindari tumpang tindih antar pembuluh darahposterioranterior, left anterior oblique, dan right anterior oblique
Left ventrikulogran gambaran right anterior oblique dengan menyuntikan kontras
ke dalam rongga untuk mempelajari fungsi miokardial
Modalitas dipakai untuk mengevaluasi arteri dan vena koronaria, ruang jantung, dan
katup jantung

Pemeriksaan Laboratorium Penyakit Jantung Iskemik


Infark Miokard (MCI / Myocardial Infarction)
Pemeriksaan laboratorium membantu klinik melengkapi syarat-syarat diagnostik pada
MCI terutama dalam stadium permulaan, dapat dibagi dalam 3 golongan :
1. Pemeriksaan darah rutin
2. Pemeriksaan enzim jantung
3. Pemeriksaan laboratorium lain untuk mencari keadaan/penyakit lain yang sering
menyertai MCI.
Pada MCI terjadi mionekrosis, akibatnya pada pemeriksaan darah rutin terlihat
kelainan sebagai berikut :
Jumlah leukosit dalam darah perifer meninggi dan sering disertai pergeseran ke kiri.
Lambat laun jumlah leukosit menurun pada hari-hari berikutnya.
Laju endap darah naik, yang pada hari-hari berikutnya lebih meningkat. Namun,
kelainan ini tidak khas dan tidak selalu timbul.
Pada pemeriksaan enzim terlihat :
SGOT dan CPK
Enzim-enzim jantung yang bermanfaat dalam diagnosis dan pemantauan MCI di
antaranya :
SGOT/AST kadarnya naik sekitar 6-8 jam setelah mulainya MCI dan umumnya

mencapai kadar normal pada hari ke-5 (bila tidak ada penyulit).
LDH kadarnya naik dalam waktu 24 jam setelah terjadinya MCI, mencapai kadar
tertinggi pada hari ke-4 dan menjadi normal kembali dalam waktu 8-14 hari. Isoenzim
terpenting adalah HBDH (LDH 1).
CK/CPK kadarnya naik sekitar 6 jam setelah berjangkitnya MCI dan pada kasuskasus tanpa penyulit mencapai kadar tertinggi dalam waktu 24 jam untuk menjadi
normal kembali dalam waktu 72-96 jam. Terdapat 3 isoenzim CK : MM (otot skelet),
MB (miokardium merupakan 5-15% dari CPK total), dan BB (otak).
CK-MB isoenzim CK yang spesifik untuk sel otot jantung, karena itu kenaikan
aktivitas CK-MB lebih mencerminkan kerusakan otot jantung. Kadar CK-MB seperti
CK (total) mulai naik 6 jam setelah mulainya MCI, mencapai kadar tertinggi lebih
kurang 12 jam kemudian dan biasanya lebih cepat mencapai kadar normal daripada
CPK, yaitu 12-48 jam. Sensitivitas tes CK-MB sangat baik (hampir 100%) dengan
spesifitas agak rendah. Untuk meningkatkan ketelitian penentuan diagnosis MCI
dapat digunakan rasio antara CK-MB terhadap CK total. Apabila kadar CK-MB
dalam serum melampaui 6-10% dari CK total, dan tes-tes tersebut diperiksa selama 36
jam pertama setelah onset penyakit maka diagnosis MCI dapat dianggap hampir pasti.
Troponin dibedakan 3 tipe yaitu : C, I, dan T di mana I dan T lebih spesifik untuk
otot jantung. Troponin adalah protein spesifik berasal dari miokard (otot jantung),
kadarnya dalam darah naik bila terjadi kerusakan otot jantung. Kadar troponin dalam
darah mulai naik dalam waktu 4 jam setelah permulaan MCI, selanjutnya meningkat
terus dan dapat diukur sampai satu minggu. Tes troponin sebaiknya disertai dengan
pemeriksaan lain seperti CK-MB, CK, CRP, hs-CRP, dan AST.
Untuk

pemeriksaan

laboratorium

lain

yang

digunakan

dalam

mencari

keadaan/penyakit lain sebagai penyerta MCI di antaranya :


Gula darah postprandial atau bila perlu tes toleransi glukosa
Pemeriksaan profil lipid (kolesterol total, trigliserida, HDL kolesterol, LDL
kolesterol)
Pemeriksaan faal ginjal bila ada hipertensi

Dalam pemeriksaan profil lipid, harus diketahui terlebih dahulu istilah lipoprotein.
Lipoprotein adalah kompleks dari lipid (fosfolipid, kolesterol, trigliserida) dan protein
dalam konsentrasi yang berbeda-beda. Lipid tak dapat larut dalam air, sehingga tugas
lipoprotein adalah mengangkut lipid ini.
Terdapat 4 lipoprotein : HDL (partikel paling kecil, komposisi protein paling banyak
dan trigliserida paling sedikit), LDL (komposisi kolesterol paling banyak), VLDL,
dan kilomikron (komposisi protein dan kolesterol paling sedikit, trigliserida paling
banyak).
Ternyata, di samping dari faktor risiko seperti hipertensi, DM, hiperkolesterolemia,
dan merokok, fraksi-fraksi lipoprotein (kilomikron, VLDL, LDL, dan HDL
kolesterol)

memegang

peranan

penting

dalam

risiko

pembentukan

proses

aterosklerosis dan menyebabkan penyakit jantung koroner.


Kilomikron mentransfer lemak dari usus dan tidak berpengaruh dalam proses
aterosklerosis.

Meningginya

LDL

dan

VLDL

akan

meningkatkan

proses

aterosklerosis dan risiko penyakit jantung. Meningginya kadar HDL akan berbanding
terbalik dengan risiko penyakit jantung koroner.

Angina Pektoris Tidak Stabil


Pemeriksaan troponin T atau I dan pemeriksaan CK-MB telah diterima sebagai
penanda paling penting dalam diagnosis Sindrom Koroner Akut (SKA). Menurut
European Society of Cardiology (ESC) dianggap ada mionekrosis bila troponin T atau
I positif dalam 24 jam. Troponin tetap positif sampai 2 minggu. Risiko kematian
bertambah dengan tingkat kenaikan troponin.
Kenaikan CRP dalam SKA berhubungan dengan mortalitas jangka panjang. Marker
yang lain seperti amioid A, interleukin-6 belum secara rutin dipakai dalam diagnosis
SKA.

Angina Pektoris Stabil


Beberapa pemeriksaan lab yang diperlukan antara lain : hemoglobin, hematokrit,

trombosit, dan pemeriksaan terhadap faktor risiko koroner seperti gula darah, profil
lipid, dan penanda inflamasi akut bila diperlukan, yaitu bila nyeri dada cukup berat
dan lama, seperti enzim CK/CKMB, hs-CRP, troponin.

DAFTAR PUSTAKA
Alwi Idrus. Radiologi Jantung. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. 2009.
Jakarta : Internal Publishing ; 1539-1543
Patel Pradip R. Sistem Kardiovaskular. Lectures Note Radiologi. Edisi 2. 2007.
Jakarta : Erlangga Medical Series ; 65-73
Malueka Rusdy Ghazali, Majid Nunu Nurkholish, Fahmi M Muhammad Nailul.
Thoraks. Radiologi Diagnostik. 2008. Yogyakarta : Pustaka Cendikia Press ; 72-73
http://www.jantunghipertensi.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=214&Itemid=32&month=2&year=2008
( diunduh : 3 Mei 2010, pukul 21.00)
Slide Kuliah Radiologi oleh dr. Indrati Suroyo, SpRad (K)
Kosasih EN, Kosasih AS. Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik. Edisi ke2. Tangerang : Karisma Publishing Group; 2008. p.283-6 dan p.326-9.
Trisnohadi HB. Angina Pektoris Tak Stabil dalam Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi ke5. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Interna Publishing; 2009. p.172930.
Rahman AM. Angina Pektoris Stabil dalam Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi ke5. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Interna Publishing; 2009. p.1736.