Anda di halaman 1dari 7

KEBIJAKAN PENGUATAN PANGAN NASIONAL MELALUI DESA

I.

Pendahuluan
Ketahanan pangan merupakan salah satu agenda penting Pemerintah Indonesia

dalam menunjang pembangunan nasional. Berdasarkan peta ketahanan pangan 2015 (Food
Security and vulnerability atlas FISVA) sebanyak 15% Kabupaten/kota di Indonesia masuk
dalam kategori rentan terhadap rawan pangan, hal tersebut sebenarnya mengalami hasil
positif bila dibandingkan dengan 10 tahun lalu (2005) yang hanya berkisaran 22%, namun
bila di kaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk maka hal tersebut perlu menjadi perhatian
penting, sebab peningkatan permintaan kebutuhan makan bertumbuh sejalan dengan
pertumbuhan penduduk, hal ini dapat dilihat dari prmintaan Beras periode 2005-2015 berikut :
Tabel 1
Permintaan Beras periode : 2005-2015
Menurut wilayah (ribu Ton)
N
O
1
2
3
4
5
6
7

Wilayah
Sumatera
Jawa
Bali dan Nustra
Kalimantan
Sulawusi
Maluku dan Papua
Indonesia
JUMLAH

2005

2010

2015

7.601
19.019
2.005
1.838
2.416
408
33.287
52.837

8.037
20.081
2.120
1.944
2.556
432
35.170
55.825

8.499
21.202
2.242
2.055
2.704
457
37.160
58.984

Sumber : BPS Statistik Pertanian 2015

Data pada tabel diatas menggambarkan bahwa setiap periode mengalami peningkatan
permintaan, hal ini berpotensi menimbulkan rawan pangan, sehingga perlu dilakukan
peningkatan produksi pangan untuk memenuhi permintaan yang terkadang tidak dapat
Ditjen Bina Administrasi Desa

diimbangi sebagai konsekuensi dari laju pertumbuhan pendudukan setiap waktu. Hal ini
sesuai dengan data BPS yang mencatat pada tahun 2011 indonesia mengimport beras
sebanyak 2,75 juta to untuk memenuhi 5% kebutuhan dalam negeri. Jumlah tersebut
diprediksi akan mebgalami peningktan seiring dengan permintaan yang terus meningkat.
Secara global Indonesia menjadi negara yang masyarakatnya mengkonsumsi beras
dengan jumlah terbesar di dunia mencapai 139 Kg/kapita/tahun, atau dengan kata lain 95%
penduduk indonesia bergantung pada beras, hal ini menggambarkan betapa tingginya
ketergantungan masyarakat terhadap beras, dilain sisi banyak lahan sawah yang telah
dikonversi menjadi berbagai kawasan baik itu perkebunan maupun industri.

II.
Pembahasan
A. Pelaksanaan Penguatan Pangan Pemerintah pusat
Mengingat permasalah yang dijelaskan sangat urgent dan perlu penangan cepat,
maka langkah diversifikasi atau penganekaragaman pangan untuk menjadi alternatif
konsumsi masyarakat, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan Peraturan Pemerintah
Nomoe 68 tahun 2002 tentang Ketahanan pangan, dan ditindaklanjuti dengan kebijakan
Ditjen Bina Administrasi Desa

Percepatan Penganekaragaman konsumsi Pangan (P2KP) yang diatur dalam Peraturan


Presiden Nomor 22 tahun 2009 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi pangan
berbasis

SumberdayaLokal

dan

Peraturan

Menteri

Pertanian

Nomor

43/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi


Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Dimana peraturan tersebut menjadi pedoman bagi
pemerintah, pemerintah Daerah dan Pemerintah Desa untuk membangitkan kembali
konsumsi pangan lokal.
Kegiatan sebagai turunan langsung dari kebijkan diatas diimplementasikan mehlalui 3
kegiatan yaitu :
1. Optimalisasi Pemanfaatan pekarangan melalui konsep kawasan rumah pangan Lestari
(KRPL).
2. Model Pengembangan pangan Pokok Lokal (MP3L)
3. Sosialisasi dan Promosi P2KP.
Melalui ketiga kegiatan diatas program P2KP berupaya agar dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi dan meningkatkan kualitas pangan masyarakat
yang beranekaragam sebagai pemenuhan gizi dan terciptanya pola konsumsi yang baik bagi
masyarakat.
Selain itu Sebagai langka pencegahan rawan pangan dan mengimplemetasikan
kebijakan diatas di Indonesia, maka Pertanian desa merupakan basis terpenting dalam
mewujudkan ketahanan pangan nasional yang beranekaragam. Karena itu, Kementerian
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) juga
melakukan berbagai program penguatan pertanian lokal desa. Yang secara nasional desa

Ditjen Bina Administrasi Desa

menjadi dasar penguatan pangan, sebab desa adalah penyedia utama sumber pokok pangan
nasional. Maka dirancang berbagai program yang memperkuat petani desa.
Dalam rangka mendukung penguatan pangan nasional, maka kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) merancang tiga pilar
Matra Pembangunan Desa dalam memperkuat kemandirian pangan desa, antara lain :
Pertama, menguatkan Jaringan Komunitas Wiradesa di tingkat petani dengan meningkatkan
kapabilitas dan kapasitas petani sebagai subjek pengolahan sumber daya pertanian. Kedua,
mewujudkan kemandirian ekonomi desa melalui redistribusi kepemilikan aset produktif,
seperti lahan, modal, dan sebagainya secara berkeadilan. Sedangkan, yang ketiga adalah
mendorong partisipasi dan kerja sama masyarakat dalam memuliakan pangan khas lokal
sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan untuk kesejahteraan
masyarakat.
Desa memiliki prospek yang sangat besar bagi perwujudan kedaulatan pangan
nasional. Sedangkan, komoditas hasil pertanian desa merupakan bahan baku utama dalam
industri pengolahan makanan dan energi baru ramah lingkungan. Memang sangat strategis
sekali posisi pertanian desa ini. Ditjen PPMD telah menggagas roadmap Gerakan Pangan
Lokal Berbasis Desa. Langkahnya pun telah disiapkan, meliputi pemetaan terhadap jenisjenis pangan khas Indonesia, baik per kecamatan, per kabupaten, maupun per provinsi.
"Kemudian perlu dilakukan sinkronisasi regulasi melibatkan kementerian/lembaga
terkait lain. Meliputi pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, kelautan, dan yang
lainnyaGerakan Pangan Lokal Berbasis Desa tentunya mendukung perwujudan konsep
Nawacita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran. Dengan pertanian yang kuat,
Ditjen Bina Administrasi Desa

kesempatan desa untuk bangkit dan berkembang akan semakin cepat. Apalagi, gerakan ini
juga menekankan pembangunan pertanian dari sisi sosial, ekonomi, dan ekologi. "Kita
berupaya memaksimalkan keragaman hayati dan budaya desa sebagai kekuatan bangsa,"
Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa yang digagas Kemendes PDTT memang
sangat penting lantaran pertanian desa saat ini dikepung oleh sistem agroekonomi yang
merusak. Petani desa bukan hanya lemah dalam penguasaan sumber daya, tetapi juga
dihadapkan pada kenyataan pola tanaman yang merusak dengan pestisida.
B. Pelaksanaan Penguatan Pangan Daerah
Pengembangan

desa

mandiri

pangan

merupakan

upaya

pemerintah

dalam

meningkatkan sistem kemandirian pangan untuk meningkatkan ketahanan pangan di


pedesaan. Adanya potensi rawan di pedesaan pada umumnya sangat dipengaruhi karena
faktor akses pangan masyarakat. Kemiskinan yang terjadi di daerah pedesaan ada karena
pendapatan masyarakat masih belum mampu mencukupi untuk kebutuhan hidup. Hasil
produksi pertanian yang relatif kecil dengan luas lahan yang semakin sempit dengan tanpa
diolah lebih lanjut. Sehingga banyak petani yang hanya memperoleh penghasilan dari hasil
produksi tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut.
Perkembangan pola hidup masyarakat pedesaan juga banyak mengalami perubahan
yang semakin tidak mendukung produk-produk lokal. Kurangnya pemahaman keunggulan
pangan lokal di masyarakat berakibat ada kecenderungan kurangnya konsumsi pangan lokal.
Banyak hasil pangan lokal yang sekarang masih dimasyarakat yang nilai gizi tidak kalah
dengan produk-produk import. Prefensi pangan yang masih sangat rendah di masyarakat
Ditjen Bina Administrasi Desa

pedesaan juga menjadikan ketergantungan pangan yang tinggi pada produk-produk non
lokal. Sehingga akan semakin menurunkan tingkat kemandirian pangan.
Pemahaman tentang sistem ketahanan pangan di pedesaan dilakukan dengan adanya
penumbuhan desa mandiri pangan. Dalam program ini terdapat beberapa lembaga yang
mempunyai ketugasan untuk memperjuangkan peningkatan kemandirian pangan di
pedesaan. Tiga lembaga pokok dalam program desa mandiri pangan yaitu Tim Pangan Desa,
Lembaga Keuangan Desa serta kelompok-kelompok afinitas. Tim Pangan Desa (TPD)
merupakan lembaga yang bersifat manajerial yaitu meliputi kegiatan perencanaan,
pelaksanaan, dan monitoring evaluasi sistem ketahanan pangan di Desa. Lembaga
Keuangan Desa adalah lembaga yang berfungsi mengelola sistem keuangan bantuan
pemerintah agar tidak salah sasaran dan melakukan pengembangan pengelolaan bantuan
keuangan. Sedangkan kelompok afinitas merupakan kelompok sasaran penerima bantuan
stimulan program desa mandiri pangan.

Ditjen Bina Administrasi Desa

III.

Penutup
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditemukaan bahwa permasalahan pangan
merupakan masalah yang sangat penting untuk diselesaikan, hal ini dikarenakan pangan
terkait langsung dengan kebutuhan manusia. Sehingga kebijakan yang telah ditetapkan
sangat perlu disosialisasikan kepada masyarakat untuk bertumbuh menjadi nilai yang hidup
dan berkembang ditengah masyarakat sehingga Keanekaragaman pangan lokal menjadi
kebutuhan primer masyarakat yang bisa dipenuhi sendiri.
Disamping itu perlindungan bagi petani desa, untuk menyalurkan hasil panen dan
menjaga stabilitas harga untuk menjaga motivasi petani dalam menghasilkan pangan yang
berkualitas bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Ketahanan Pangan, 2005, Food Insecurity Atlas, Departemen Pertanian: jakarta
Dewan Ketahanan pangan, 2006, Kebijakan Umum Ketahanan pangan, jakarta
_______________________, 2010, Pnduan Penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan
pangan Indonesia, Jakarta
Jafar Nurhaedarm 2012, Diversifikasi konsumsi dan Ketahanan Pangan Masyarakat, Unhas :
Makassar

Ditjen Bina Administrasi Desa