Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penelitian


Trauma mata yang menyebabkan ruptur kornea dalam kecelakaan kerja dan

kegiatan aktifitas sehari-hari semakin meningkat, seiring dengan semakin banyaknya aktifitas
dan kegiatan manusia saat ini. Trauma mata pada kornea yang menyebabkan ruptur kornea
dapat terjadi pada semua usia. Ruptur kornea merupakan suatu keadaan emergensi serta
membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat untuk dapat mengurangi resiko kebutaan.
Menurut WHO, angka kebutaan di Indonesia adalah 1,5% dari jumlah penduduk
atau sekitar 3 juta orang. Di Indonesia, prevalensi kebutaan akibat kelainan pada kornea
adalah 0,10% dan menempati urutan kelima penyebab kebutan di Indonesia (survey
Kesehatan lndera Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993 1996). Sedangkan data Depkes
RI tahun 2008, insidens kelainan pada kornea di Indonesia tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000
penduduk. Kebutaan akibat kelainan pada kornea yang utama adalah terjadinya trauma pada
kornea dan menyebabkan ruptur kornea serta berlanjut menjadi maserasi atau komplikasi
lainnya.
Salah satu komplikasi serius pada ruptur kornea adalah terjadinya kerusakan dari
lapisan-lapisan kornea karena proses maserasi kornea atau lebih dikenal dengan corneal
melting. Mekanisme maserasi kornea belum dapat dijelaskan secara pasti namun hal ini
sering dihubungkan dengan peningkatan dari matrix metalloproteinases (MMPs), yaitu suatu
endopeptida yang disintesa dalam bentuk proenzim inaktif dan diaktifkan oleh pecahnya
enzim proteolitik. Pada kornea MMPs diproduksi oleh keratosit, sel epitel, monosit dan
makrofag dan terbagi dalam beberapa grup seperti kolagenase, gelatinase, stromalisin. MMPs

berperan dalam menghancurkan kolagen pada proses maserasi kornea dan juga berperan
sama pentingnya sebagai perbaikan pada proses penyembuhan luka kornea.
Destruksi yang berlebihan oleh enzim kolagenase dan protease dari kolagen dan
proteoglikan akan merangsang terbentuknya faktor-faktor proteolitik yang secara gradual
membuat stroma menjadi lunak dan menipis. Maserasi kornea dapat disebabkan oleh infeksi
virus, bakteri, trauma juga dapat disebabkan oleh infeksi steril, yang pada penyembuhannya
terjadi perlambatan.
EDTA (ethylene diamine tetra acetic), Senyawa ini pertama kali temukan pada
tahun 1935 oleh Ferdinand Munz dari preparad senyawa etilendiamin dan asam kloroasetat.[2]
Saat ini, EDTA terutama disintesis dari etilendiamin (1,2-diaminoethane), formaldehida, dan
natrium sianida. Ini menghasilkan garam sodium yang dapat dikonversi pada langkah
berikutnya ke dalam bentuk asam.
EDTA adalah asam karboksilat polyamino dan tidak berwarna, larut dalam air.
Ethylene diamine tetra acetic merupakan basa konjugat yang banyak digunakan untuk
menghilangkan sisik. Digunakan karena perannya sebagai sebuah hexadentate ("six-toothed")
ligan dan chelating agen , yaitu kemampuannya untuk "menyita" logam ion seperti Ca2+ dan
Fe3+. Setelah terikat oleh EDTA, ion logam larutan dan reaktivitasnya berkurang. EDTA
diproduksi dalam beberapa bentuk garam, terutama kalsium dinatrium EDTA dan dinatrium
EDTA.
EDTA banyak digunakan khusus di laboratorium biomedis, seperti di oftalmologi
sebagai anti collagenase untuk mencegah memburuknya ulkus kornea. Dalam kultur jaringan
EDTA digunakan sebagai agen Chelating yang mengikat kalsium dan mencegah bergabung
dari cadherins antara sel-sel, mencegah penggumpalan sel-sel tumbuh di suspensi cair, atau
memisahkan sel-sel melekat untuk passaging. Dalam histopatologi, EDTA juga dikenal untuk
2

menghambat berbagai metallopeptidases, metode penghambatan terjadi melalui chelation dari


ion logam yang diperlukan untuk aktivitas katalitik.
Secara teoritis telah dilaporkan bahwa penggunaan colllagenase inhibitors seperti
EDTA (ethylene diamine tetra acetic), acetylcysteine atau heparin dapat menghambat
progeresifitas ulkus kornea dengan cara menghambat aktifitas kolagen. Enzyme inhibitors
yang lain seperti rnetalioproteinase sedang dalam penyelidikan. Penggunaan rasional enzyme
inhibitors untuk mencegah destruksi jaringan kornea masih belum memberikan bukti yang
nyata sehingga memerlukan penelitian yang lebih lanjut.
1.2.
-

Batasan Masalah
Apakah tanpa pemberian EDTA topikal pada ruptur kornea yang maserasi

mempengaruhi penyembuhan.
Apakah pemberian EDTA topikal pada ruptur kornea yang maserasi mempengaruhi

penyembuhan.
Hipotesa
H0 : Tidak terdapat perbedaan efek pemberian EDTA topikal dan tanpa pemberian

EDTA topical pada ruptur kornea maserasi terhadap proses penyembuhan kornea.
H1 : Terdapat perbedaan efek pemberian EDTA topikal dan tanpa pemberian EDTA

1.3.

topical pada ruptur kornea maserasi terhadap proses penyembuhan kornea.


1.4.

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum :
Untuk membandingkan pengaruh pemberian EDTA topikal dan tanpa pemberian EDTA
topikal pada ruptur kornea yang maserasi terhadap proses penyembuhan kornea.
Tujuan Khusus :
1. Menilai efek pemberian EDTA topikal pada ruptur kornea yang maserasi terhadap
penyembuhan kornea.

2. Menilai efek tanpa pemberian EDTA topikal pada ruptur kornea yang maserasi
terhadap penyembuhan kornea.
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Klinik
Sebagai dasar pertimbangan pemberian EDTA topikal yang lebih tepat untuk
mempercepat penyembuhan dan mengurangi komplikasi pada ruptur kornea yang
maserasi.
1.5.2 Manfaat Akademik
Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman terhadap pemberian
EDTA topikal yang lebih tepat untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi
komplikasi pada ruptur kornea yang maserasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi kornea


4

Kornea merupakan lapisan paling luar dari bola mata, terdiri dari jaringan
avaskular dan transparan. Rata rata kornea dewasa mempunyai tebal 0,54 mm di sentral, 0,7
mm di perifer, diameter horizontal 11-12 mm dan diameter vertikal 9-10 mm. Permukaan
anterior dilindungi oleh tear film dan permukaan posterior oleh akuos humor.
Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh pembuluh darah di limbus, cairan mata
dan air mata. Kornea bagian superfisial mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfer. Saraf
sensorik kornea berasal dari cabang pertama saraf kranial kelima (saraf trigeminus). Di dalam
epitel kornea terdapat banyak sekali serabut saraf, bila serabut saraf ini rusak akan
menimbulkan rasa sakit.
Kornea secara histologi terbagi atas 5 lapisan yaitu:
1.

Epitel
Epitel adalah permukaan anterior kornea dan ditutupi oleh nonkeratin, terdiri dari

epitel squamous bertingkat yang berasal dari lapisan kolumnar basal yang dilekatkan
kelamina basal oleh hemidesmosom. Sel basal lebarnya 12 mikrometer dan kepadatannya
6000 sel/mm.
Ketebalan epitel kornea lebih kurang 50 mikrometer dan merupakan 10% dari
seluruh ketebalan kornea. Epitel kornea terdiri dari lima sampai enam lapis, yaitu:

2-3 lapis sel superficial.


2-3 lapis sel wing polygonal.
1 lapis sel basal kolumnar.

Gambar 1a. Lapisan kornea.

Gambar 1b. Migrasi sel epitel.

Epitel kornea seperti epitel squamous bertingkat lainnya mempunyai kemampuan


beregenerasi. Waktu yang dibutuhkan sel basal untuk bermigrasi keanterior menjadi sel
permukaan kira-kira 5-7 hari. Meskipun sel epitel bagian dalam (basal) melekat erat satu
sama lain oleh desmosom, mereka bergerak secara kontiniu dari basal kearah tear film dan
berperan untuk memelihara epitel kornea.
Sel superfisial bentuk pipih dan poligonal dengan diameter 30-40 mikrometer,
Pada permukaannya ditutupi mikrofili yang berfungsi untuk pengambilan oksigen dan nutrisi
dari tear film. Permukaan epitel superfisial terdapat suatu membran yang disebut glikokaliks
yang berinteraksi dengan lapisan musin air mata dan membantu mempertahankan struktur
tear film.
Epitel kornea mengalami desquamasi kirakira 7-14 hari. Limbal stem sel akan
selalu secara konstan mengganti sel epitel yang telah desquamasi tadi sambil membelah diri
dan bermigrasi ke sentral kornea. Sel sel ini bergerak dengan kecepatan 20 - 30m perhari
pada tikus percobaan, untuk sampai ke sentral kornea dibutuhkan waktu kira kira 7 minggu.
Adanya desquamasi sel dan ikatan khusus antar sel merupakan mekanisme proteksi untuk
kornea. Interaksi sel di lapisan superfisial melalui desmosom dan tight junction. Ikatan ini
mencegah material atau mikroorganisme berpenetrasi ke lapisan epitel.

Lapisan superfisial akan dilanjutkan dibawahnya dengan lapisan wing, kurang


lebih terdiri dari 2-3 lapis. Sel wing merupakan bentuk perantara sel superfisial dengan sel
basal. Jumlah desmosom dan gap junction lebih banyak di jumpai pada lapisan ini.
Lapisan sel basal terdiri atas 1 lapis dan terletak di atas membran basement. Sel
basal memiliki ciri aktivitas mitosis yang tinggi. Hal ini dimungkinkan oleh karena di sel
basal dijumpai banyak mitikondria, centriol, apparatus golgi, mikrotubulus dan lain-lain. Sel
basal melekat ke membran basement melalui hemidesmosom yang di hubungkan oleh fibril
dari kolagen tipe VII. Kolagen tipe VII dihasilkan oleh sel basal, yang merupakan sebuah
fibril yang beragregasi dari samping ke samping untuk membentuk sebuah struktur straplike.
Ikatan fibril menembus ke membran basement dan selanjutnya ke stroma, dimana akan
membentuk ikatan plaque kolagen dengan kolagen tipe I. Ikatan fibril ini penting untuk
mempertahankan perlekatan sel basal ke membran basement dan stroma.
2.

Lapisan Bowman
Lapisan ini terletak dibawah lamina basal dan bagian anterior dari stroma.

Merupakan zona aseluler yang terdiri dari serat kolagen tipe I dan IV serta proteoglikan yang
tersebar secara acak. Ketebalan lapisan ini 8-14 mikrometer dan diameter 20-30 mikrometer.
Serat kolagen pada lapisan ini disintesis dan disekresi oleh keratosit stroma. Lapisan
membran Bowman jika rusak tidak beregenerasi tetapi diganti oleh jaringan sikatrik.

3.

Stroma
Stroma terletak di tengah lapisan jaringan penunjang dengan ketebalan 500 m,

merupakan bagian terbesar dengan ketebalannya 90% dari ketebalan kornea. Kornea
mempunyai karakteristik yang kuat, bentuk yang stabil dan transparansi. Hal ini disebabkan

anatomi dan sifat biokimia dari stroma. Bentuk yang seragam, regenerasi yang terus menerus
dan degradasi serat kolagen penting untuk transparansi kornea.
Stroma kornea terdiri dari matrix ekstraseluler, keratosit, (fibroblast kornea) dan
serat saraf. Matrix ekstraseluler terdiri dari: kolagen dan glikosaminoglikan. Kolagen lebih
dari 70% dari berat kornea. Kolagen tipe I adalah kolagen utama yang ada di stroma dan di
produksi oleh keratosit. Selain itu terdapat juga kolagen tipe III, IV dan V dalam jumlah yang
lebih sedikit. Serat kolagen pada stroma sangat teratur dengan diameter (22,5-35 nm). Jarak
antara serat kolagen teratur yaitu 55-60 nm.
Keratosit mensintesa rangkaian proalfa dari kolagen, 3 molekul yang berperan
yaitu hidroxylated, glycosilated dan struktur tripel helix membentuk prokolagen. Molekul
prokolagen disekresi keruang ekstra seluler kemudian membentuk kolagen yang matur.
Pasangan molekul kolagen masuk ke fibril, diameternya 10-300 dan selanjutnya fibril ini
berpasangan dengan serat kolagen dan membentuk fibril kolagen. Fibril kolagen berbentuk
oblik pada 1/3 anterior dari stromal dan paralel pada 2/3 posterior.
Kolagen dibentuk dari 300 lamela. Tiap lamela merupakan rangkaian paralel pada
permukaan kornea dari limbus ke limbus. Penggantian molekul kolagen di kornea terjadi
secara perlahan dalam waktu 2-3 tahun.
Pada stroma yang edema dimana kornea kehilangan transparansinya, jarak antara
fibril kolagen bertambah karena proteoglikan menyerap air. Terdapat juga kemungkinan
terjadinya kehilangan glikosaminoglikan, agregasi serat kolagen selama edema kornea yang
nantinya akan menyebabkan berkurangnya transparansi kornea.
Berbagai glikosaminoglikan (GAG) ditemukan antara serat kolagen di stroma.
Semua GAG terikat ke inti protein untuk membentuk proteoglikan. Proteoglikan yang di

temukan di stroma adalah keratin sulfat, dermatan sulfat dan chondritin sulfat. GAG di
stroma 65% adalah keratin sulfat dan 30% chondritin/dermatan sulfat. Proteoglikan yang
ditemukan di stroma lebih banyak bila di bandingkan dengan jaringan tubuh lainnya. GAG
mempunyai kemampuan untuk mereabsopsi dan menahan cairan (proses hemoestatik). Jika
fungsi pompa endotel rusak maka stroma akan menebal menyebabkan gangguan jarak serat
kolagen. Ketidakteraturan jarak antar serat kolagen menyebabkan pembiasan cahaya
menyebar dan kornea berkabut. GAG juga berperan mengatur fibrillogenesis kolagen.
4.

Membran Descemet
Membran descemet merupakan lapisan yang terletak antara endotel dan posterior

dari stroma. Merupakan lamina basal dari endotel kornea. Ketebalannya akan bertambah
sesuai umur, saat baru lahir tebalnya 3 - 4 m dan saat dewasa menjadi 10 - 12 m. Membran
descemet banyak mengandung kolagen tipe IV. Bagian anteriornya bergabung dengan
kolagen stroma. Membran ini sangat elastis dan bertahan terhadap enzim proteolitik,
seringkali masih intak walaupun epitel dan stroma rusak.
5.

Endotel
Endotel kornea terdiri dari lapisan tunggal yang terletak posterior membrana

descemet yang terdiri dari sel hexagonal dengan diameter 20 m, jumlah selnya lebih kurang
500.000 sel/mm2 dan ketebalannya kira-kira 3000 sel/mm 2. Jumlah sel berkurang sesuai
dengan proses penuaan, terjadi perubahan pada penyebaran dan penipisan sel, hal ini
disebabakan karena mitosis dari sel endotel tidak ada.
Fungsi endotel adalah sawar permeabilitas antara akuos humor dengan stroma
kornea serta sebagai pompa untuk menjaga kornea tetap dalam keadaan rehidrasi. Sel endotel
muda mempunyai nukleus yang besar dan mitokondria yang banyak. Transpor aktif ion pada
sel ini penting untuk transfer air dari stroma kornea dan penting untuk transparansi stroma.
9

2.2 MEKANISME PENYEMBUHAN LUKA KORNEA


Laserasi atau rupture kornea dapat dikelompokkan menjadi :
1. Partial thickness laserasi kornea yang tidak tembus sampai ke COA
2. Full thichness yang menutup sendiri, COA dalam, tanpa kobocoran aktif dari aquous

dan tanpa melibatkan jaringan uvea dan lensa


3. Full thickness dengan kebocoran aquos yang aktif tanpa disertai keterlibatan jaringan

uvea dan lensa


4. Full thickness yang disertai keterlibatan jaringan uvea dan lensa

Berdasarkan lapisan / lokasi anatomi kornea, proses penyembuhan luka kornea dapat dibagi
atas 3 bagian yaitu:
1.

Epithelial wound healing


Mekanisme dasar reepithelisasi kornea sama dengan yang terlihat dalam

membran mukosa lainnya, yang juga mengalami migrasi dan proliferasi epitel. Sel epitel
kornea tidak mengalami penggantian yang cepat jika tidak terjadi luka. Seperti lapisan
lapisan epitel lainnya, epitel kornea dapat sembuh sendiri dalam waktu 5 7 hari.
Epitel kornea tersusun dalam 5-7 lapisan sel dengan ketebalan 50 m, terdiri
dari satu lapisan sel kolumnar basal yang mengalami mitosis aktif, 1-3 lapisan sel tengah
yang disebut sel wing dan 24 lapisan luar sel squmous. Sel epitel basal melekat pada
membran basement yang melewati serangkaian struktur penghubung yang kolektif disebut
komplek adhesi. Didalam sitoplasma sel basal, filament keratin yang masuk kedalam plaque
disebut hemidesmosomes yang menutupi hampir 30% membran sel basal.
Pada saat terjadi luka yang mengenai daerah epitel kornea, proses penyembuhan
luka melewati 3 komponen yaitu migrasi, mitosis dan differentiation. Bila dalam 1 jam
10

setelah terjadi luka, membran plasma dari epitel sel basal memulai proses pada pinggir luka
dengan meratakan, mengerutkan dan memperluas pseudopodia ke atas matrik extraseluller.
Komponen aktin dari sistem mikrofilamen menonjol keluar dalam pseudopodia. Pada aktin
ini mengandung sistem mikrofilamen yang berhubungan dengan vinculin menuju integritas
reseptor transmembran yang mana selektif mengikat protein extraseluller seperti fibronectin,
laminin, dan kolagen.
Fibronectin mempunyai tempat pengikatan untuk komponen matrik extraseluller
seperti fibrin, kolagen, dan proteoglikans. Polymorphonuclear neutrophils yang berasal dari
tear film dan mulai bergerak memindahkan sisa sisa sel yang hancur. Proses ini terjadi 6
jam setelah luka, dimana lapisan paling atas dari sel basal mulai bermigrasi ke atas
permukaan luka dengan kecepatan 0,75 m/min.
Selama lag phase, terjadi penyusunan sel kembali, hemidesmosomes mulai
menghilang dari sel basal dan sintesa protein meningkat terutama protein spesifik seperti
vinculin. Lapisan paling atas dari sel basal mulai bergerak kedepan menuju daerah luka.
Sel epitel baru dibentuk oleh mitosis untuk menganti sel yang rusak tersebut dengan
melakukan migrasi kedepan untuk membentuk dinding epitel. Mula-mula mitosis pada
daerah 3-5 mm dibelakang pinggir luka dari migrasi sel.
Jika luka mulai menutup, epitel sel basal membentuk kembali komplek adhesi,
Epitel menjadi menebal dan sel epitel superficial pada akhir prosesnya, mengubah sintesis
protein keratin yang membantu membangun kembali bagian yang terpisah dari epitel.
Selama penyembuhan luka epitel, sel epitel mengalami migrasi berlebihan
beberapa milimeter terbuka dari membran basement atau stroma. Hal ini menunjukkan proses
migrasi dengan melibatkan pembentukan stimulasi dan penghancuran dari pengikatan antara

11

protein membran plasma sel epitel dan komponen matrik ekstraseluler seperti laminin,
fibronectin, glycosaminoglycans dan kolagen. Hal ini merupakan konsep yang penting dalam
migrasi sel epitel yang memecahkan pengikatan antara sel epitel dan komponen matrik.
Pada migrasi sel epitel juga membutuhkan aktivitas protease serine. Sel epitel
kornea mensintesa proteases serine, aktivitas urokinase-plasminogen yang mengaktifkan
plasminogen menjadi plasmin. Urokinase-plasminogen aktivitasnya dapat terlihat pada
pinggir luka yang mengalami migrasi sel epitel.
Epitel sel kornea memiliki beberapa reseptor dari growth factor yaitu epidermal
growth factor (EGF), transforming growth factor alpha (TGF-), fibroblast growth factor
(FGFs), dan transforming growth factor beta (TGF-). EGF dan TGF- disintesis oleh
kelenjar lakrimal. Secara fisiologis, EGF terdapat pada airmata yang mempengaruhi
proliferasi sel epitel.
2. Stroma wound healing
Stroma kornea merupakan lapisan jaringan tengah dengan ketebalan 500 m
dan membentuk ketebalan kornea 90%. Stroma terbagi menjadi 8 - 10 m ketebalan lapisan
Bowman dan 8-12 m ketebalan lapisan descemet, diantaranya terdapat stroma lamela.
Penyembuhan luka stroma kornea sangat lambat dibanding jaringan penghubung lainnya
mungkin karena daerah tersebut avaskular. Oleh karena itu penyembuhan luka terjadi melalui
fibrosis dari proliferasi fibrovaskular. Setelah luka menembus stroma, keratosit (fibroblast
stroma kornea) dengan segera luka yang berdekatan dengan pinggir luka mengalami
apoptosis; kemudian defek ini segera diisi oleh fibrin clot. Neutropil, dibawa oleh tear dan
vascular limbal, dimana sel pertama yang ada pada daerah luka terlihat dalam 2 6 jam. Hal
ini melibatkan debridemen proteolitik dari debris seluler dan ekstraseluler. Selain itu juga
melepaskan metalloproteinase yang dapat menurunkan matrik stroma, jika proses ini sangat
12

berlebihan, menunjukkan kornea menjadi lunak, jika terkontrol ditandai adanya respon
terhadap penyembuhan luka.
Kemudian fibroblast dari stroma menjadi aktif, pada akhirnya migrasi melewati
luka dan terbentuk kolagen dan fibronectin. Secara langsung fibroblast dan kolagen tidak
selalu paralel pada pembentukkan stroma lamella.
Jika terjadi luka, matrix kornea akan menyerap cairan dan menjadi edematous di
daerah yang berdekatan dengan luka. Regenerasi stroma tergantung dari koordinasi interaksi
antara sel epitelial dan keratosit dimana polypeptide growth factor berperanan penting. Pada
luka stroma, keratosit mengalami proliferasi dan menstimulasi migrasi dengan melepaskan
beberapa sitokin. Aktifitas keratosit tidak terlihat sampai luka kornea penuh di tutupi epitel
baru. Dimana keratosit yang tinggal akan mengalami transformasi dari hasil perluasan jumlah
fibroblast oleh mitosis dalam waktu 48-72 jam, dimana mencapai waktu puncaknya dalam 36 hari, dengan mulai terbentuknya sintesis jaringan penghubung.
Mitosis keratosit menurun dengan meningkatnya keratosit re-populasi pada
migrasi lapisan basal dari stroma kornea, kemudian keratosit baru akan terbentuk dengan
pemisahan mitosis dari sel perifer ke arah defek epithelial. Fibroblast akan menghasilkan
kolagen, glycoprotein dan proteoglikans yang akan membentuk matrik stroma extrasellular
yang baru. Pada manusia stroma kornea terdiri dari kolagen tipe I,II,V, dan VI, yang semua
ini mengalami co polymerase di dalam beberapa fibril disepanjang stroma kornea. Kolagen
tipe VI membentuk kolagen stromal kornea kira-kira 30 % dan sangat berpengaruh dalam
menyambung sel dalam menghubungkan fibril kolagen stroma.
Pada awalnya, matrik extraseluler yang mengandung tingkat yang lebih tinggi di
banding dengan kolagen filament tipe IV, laminin, dan proteoglikans, yang termasuk keratin
sulfat, dermatan sulfat dan heparin sulfat yang dilepaskan. Perubahan bentuk stroma yang di
13

kontrol sebagian kecil oleh variasi dari matrik metalloprotein seperti kolagen, stromelysin
dan gelatinase. Pembuangan serat kolagen yang rusak di kontrol oleh polymorphonuclear
leukocytes dan enzym proteolitik.yang juga terdapat dalam penyembuhan luka epitel.
Jika epitel tidak menutupi luka dalam beberapa hari, penyembuhan luka stroma
menjadi terbatas dan luka yang tersisa menjadi lemah. Hal ini dipercaya, bahwa growth
factor dari stimulasi epitel dan mendukung respon penyembuhan luka oleh keratosit. Dalam
bulan terakhir penyembuhan, awalnya kolagen fibril dalam stroma akan mengisi kembali
tempat semula dengan kolagen yang kuat. Setelah 2 tahun bentuk kolagen lamellar akan
hampir kembali ke bentuk normal, namun lamelanya terlihat lebih pendek dan sempit.
Kekuatan sikatrik kornea tidak akan pernah kembali sekuat jaringan sebelum luka.

Gambar . Pembersihan luka kornea1


3.

Endothelial wound healing


Kerusakan jaringan endotel kornea dapat berbeda beda berdasarkan bentuk

luka yang terjadi. Kesatuan endotel sangat penting untuk mempertahankan transparansi
stroma. Stroma kornea dapat mengabsorbsi sejumlah cairan, untuk menjaga keadaan normal
ini dilakukan oleh aktifitas transpor endotel dan fungsi bariernya. Hal ini dapat diperkirakan
lebih dari 80 % sel endotel dapat hilang sebelum terjadi dekompensasi. Sel endotel pada
14

manusia mempunyai jumlah yang minimal atau tidak mempunyai kapasitas untuk replikasi
oleh mitosis. Karena itu penyembuhan luka endotel yang luas tergantung dari perluasan dan
pergerakan menggelilingi sel untuk menutupi daerah luka.
Segera setelah terjadi perforasi luka, maka barier endotel akan terganggu,
kemudian bagian pinggir luka dari membran descemet akan menarik ke dalam dan melingkari
ke arah depan dari stroma. Sel endotel yang berdekatan akan menghilang dan kemudian fibrin
clot akan terbentuk didalam luka. Endotel mendapat respon terhadap proses pengendapan
lapisan descemet baru yang melewati daerah luka. Pada beberapa keadaan lapisan jaringan
bagian posterior akan membentuk membran descemet baru yang mengandung fibroblast-like
cell, fibrilkolagen, membran basement, dan junctionl complexes. Hal ini dikenal sebagai
Retro Cornea Fibrous Membranes (RCFM).
Dalam 1 jam, sel endotel yang bersebelahan secara luas mengalami proses
cytoplasmik dan migrasi

ke dalam luka. Pada orang dewasa, hampir seluruh usaha

penyembuhan luka terjadi penyusunan kembali selsel, perluasan,dan migrasi untuk


membentuk kembali lapisan yang lengkap. Sel endotel yang tersisa akan terlihat terbentang
tipis dibawah membran descemet yang akan menutupi luasnya bagian posterior dari luka.

Reaksi Homograf

Luka bakar

Herpes Stromal

Infeksi bakteri

Keratitis auto imun

Defisiensi Nutrisi (vit A)

Komplek
Ag:Ab

Denaturasi Jaringan
Aktifasi komplemen
15

Kemotaksis
Leukosit

Aktivasi
Releas enzim Lisosomal
(Kolagenase dan Hidrolisis lain)
Epitelium &
Keratosit

Hidrolase

Kollagen & Destruksi Proteoglikan


(Stomal melting)

2.3. KORNEA MELTING


Melting (penghancuran) merupakan hasil dari destruksi yang berlebihan oleh
enzim kolagenase dan protease dari kolagen dan proteoglikan yang dihasilkan oleh sel
polimorfonuklear. Terdapat pada defek epitel kornea yang mengalami kerusakan sampai
stroma kornea. Melting kornea yang progresif dapat menyebabkan terjadinya perforasi dan
penurunan visus.
Patofisiologi
16

Defek epitel kornea adalah proses awal terjadinya melting kornea. Dimana
terjadinya kegagalan reepitelisasi pada kornea yang epitelnya rusak dan terinfeksi. Mediator
imun dan enzim kolagenase menyerang stroma dan sel inflamasi, selanjutnya secara progresif
menyebabkan melting kornea. Karena itu epitel kornea yang utuh sangat diperlukan untuk
memelihara kesehatan dari kornea.
Jadi maserasi kornea merupakan perlunakan kornea yang meluas dan secara
gradual mengurangi komponen stroma. Maserasi disebabkan oleh infeksi virus, bakteri,
trauma juga dapat disebabkan oleh infeksi steril, yang pada penyembuhannya terjadi
perlambatan. Sehingga terjadi inflamasi yang berlebihan dan merangsang terbentuknya
faktor-faktor proteolitik yang secara gradual membuat stroma menjadi lunak dan menipis.
Kerusakan keratosit terjadi karena beberapa penyebab eksternal yang sudah ada
sebelumnya. Keratosit bagian superfisial sangat rentan untuk perubahan osmotik ketika
terjadi kerusakan lapisan epitel. Keratosit berubah sifat biokimianya oleh faktor stimulus
yang berasal dari matrik ekstraselular (kolagen dan proteoglikan). Aktivitas keratosit dapat
diketahui dengan peningkatan ukuran sel.
Proteoglikan yang baru juga berbeda karakteristik dan proporsinya. Bentuk baru
proteoglikan mengikat air lebih erat, sehingga hidrasi jaringan parut berlangsung lebih lama.
Berbeda dengan proteoglikan yang normal, proteoglikan yang baru dibentuk mempunyai
ruangan yang tidak teratur untuk serat kolagen yang baru, sehingga menyebabkan jaringan
tidak tembus cahaya (kekeruhan).
Secara umum ada tiga mekanisme terjadinya maserasi kornea atau stromal
melting. Pertama, adanya defek pada epitel kornea yang mendahului terjadinya melting
kornea seperti pada abrasi stroma. Penyembuhan pada defek ini nantinya sembuh sempurna

17

dan menutup, namun bila terjadi perlambatan dari reepitelisasi atau rekuren dari defek epitel
inilah yang akan menyebabkan terjadinya corneal melting.
Kemudian akan terjadi nekrosis stroma, dan terjadi keadaan deprivasi karena
kurangnya nutrisi ke sel stroma yang dapat disebabkan oleh defek pada epitel. Sel kornea
akan kekurangan energi dan terjadi pembentukan hambatan dari akuos humor, terjadi
kebocoran pada barier endotel.
Pada keadaan hemostatik yang turun, keseimbangan antara kebocoran akuos
humor yang mengandung nutrisi menuju lapisan endotel ke dalam stroma, dan air
dipompakan oleh sel endotel kearah yang berlawanan. Bila barier impermiabel terjadi di
stroma, keratosit anterior akan mengalami kekurangan nutrisi dan stroma akan menjadi
nekrosis.
Mekanisme kedua adalah proses inflamasi terjadi aktivasi faktor-faktor inflamasi
sehingga proses penyembuhan pun terjadi. Namun karena respon terhadap benda asing atau
defek pada epitel berlebihan atau kronik, terjadi infiltrasi yang meningkat dari PMN terutama
neutrofil, sehingga akan mengaktivasi kolagenase, prostaglandin dan leukotrien yang
akhirnya menyebabkan destruksi yang berlebihan pada kolagen dan terjadi gelatinisasi dan
perlunakan pada stroma.
Mekanisme ketiga adalah mekanisme enzimatik yaitu disolusi dari corneal
melting, secara aktif diperantarai oleh oleh sel yang menghasilkan enzim yang reaktivitasnya
melawan kolagen pada stroma kornea, yaitu enzim matrix metalloprotein, enzim ini berperan
sama penting dalam perbaikan dan degradadasi pada kornea.
MMPs merupakan suatu endopeptida yang disekresi dalam bentuk proenzim dan
di aktivasi oleh proteolitik yang dihasilkan oleh berbagai keadaan seperti infeksi oleh virus,

18

bakteri, trauma serta faktor imunitas. MMPs dibagi menjadi empat kategori yaitu :
kolagenase, gelatinase, stromelysins, dan tipe membran MMPS.
Penyembuhan luka stroma sangat lambat dibanding jaringan penghubung lainnya
karena daerah tersebut avaskuler. Pada proses perbaikan destruksi kornea diperlukan keratosit
dan pembuluh darah. Penyembuhan luka terjadi melalui fibrosis dari proliferasi fibrovaskular.
Setelah luka menembus stroma, sel keratosit segera mendekat pada area defek
dan defek pada stroma terisi klot fibrin. Dalam 2 jam sel meningkatkan RNA dan memulai
sintesis. Neutrofil merupakan sel yang pertama ada pada daerah luka kurang lebih 2-6 jam,
lalu terjadi proses debridemen dan dikeluarkan kolagenase dan MMPs. Bila proses tersebut
berlebihan akan menurunkan matrik stroma dan kornea akan menjadi lunak, namun jika hal
ini teregulasi dengan baik akan ditandai dengan respon membaik terhadap penyembuhan
luka.
2.4. EDTA (Asam Ethylenediaminetetraacetic)
EDTA adalah asam karboksilat polyamino dan tidak berwarna, larut dalam air.
Ethylene diamine tetraacetate merupakan basa konjugat yang banyak digunakan untuk
menghilangkan sisik. Digunakan karena perannya sebagai sebuah hexadentate ("six-toothed")
ligan dan chelating agen , yaitu kemampuannya untuk "menyita" logam ion seperti Ca2 + dan
Fe3 +. Setelah terikat oleh EDTA, ion logam larut dalam larutan tetapi reaktivitasnya
berkurang. EDTA diproduksi dalam beberapa bentuk garam, terutama kalsium dinatrium
EDTA dan dinatrium EDTA.
2.4.1. Sintesis EDTA
Senyawa ini pertama kali temukan pada tahun 1935 oleh Ferdinand Munz, Dari
preparad senyawa etilendiamin dan asam kloroasetat. Saat ini, EDTA terutama disintesis dari
19

etilendiamin (1,2-diaminoethane), formaldehida, dan natrium sianida. Ini menghasilkan


garam sodium, yang dapat dikonversi pada langkah berikutnya ke dalam bentuk asam.
2.4.2. Nomenklatur
Untuk menggambarkan EDTA dan berbagai bentuk terprotonasi, berdasarkan
kimia dibedakan antara EDTA4 -, yang konjugat basa yaitu ligan , dan H 4EDTA, precursor
untuk ligan itu. Pada pH yang sangat rendah (very acidic conditions) terprotonasi sepenuhnya
H6EDTA2 + dari bentuk predominan, sedangkan pada pH yang sangat tinggi atau kondisi yang
sangat dasar, sepenuhnya terdeprotonasi Y4 dari bentuk prevalen. Istilah EDTA digunakan
berarti H4-xx-EDTA, sedangkan di kompleks EDTA nya4- singkatan dari-terdeprotonasi ligan tetra.
2.4.3. Struktur Koordinasi Kimia

Metal-EDTA chelate
Dalam koordinasi kimia, EDTA4- adalah anggota dari asam karboksilat polyamino
keluarga ligan. EDTA4

biasanya mengikat kation logam melalui dua amina dan empat

carboxylates. Banyak yang dihasilkan senyawa koordinasi mengadopsi geometri oktahedral.


Meskipun konsekuensi kecil untuk aplikasi tersebut, ini kompleks oktahedral yang kiral.
Anion [Co (EDTA)]

telah dipecahkan menjadi enantiomer. Banyak kompleks EDTA

4 -

mengadopsi struktur yang lebih kompleks karena (i) pembentukan ikatan tambahan untuk air,
yaitu tujuh-koordinat kompleks, atau ( ii) perpindahan dari satu lengan karboksilat oleh air.
20

Awal bekerja pada pengembangan EDTA dilakukan oleh Gerold Schwarzenbach pada 1940an. EDTA terutama bentuk-bentuk kompleks yang kuat dengan Mn (II), Cu (II), Fe (III), Pb
(II) dan Co (III).
Beberapa fitur kompleks EDTA adalah relevan dengan aplikasi. Pertama, karena
tinggi denticity, ligan ini memiliki afinitas tinggi untuk kation logam:
[Fe(H 2 O) 6 ] 3+ + H 4 EDTA [Fe (H 2 O) 6] 3 + + H 4 EDTA

[Fe(EDTA)] - + 6 H 2 O

+ 4 H + ( K eq = 10 25.1 ) [Fe (EDTA)] - + 6 H 2 O + 4 H + ( K eq = 10 25,1)


Keseimbangan menunjukkan bahwa ion logam bersaing dengan proton untuk
mengikat EDTA. Karena ion logam secara luas diselimuti oleh EDTA, mereka sifat katalitik
sering ditekan. Akhirnya, karena kompleks EDTA4 - adalah anionik, mereka cenderung sangat
larut dalam air. Untuk alasan ini, EDTA mampu melarutkan endapan oksida logam dan
karbonat.
2.4.5. Penggunaan dalam Kedokteran
EDTA digunakan untuk mengikat ion logam dalam terapi khelasi , misalnya,
untuk merkuri dan keracunan timah. Ini digunakan dalam cara yang sama untuk
menghilangkan kelebihan zat besi dari tubuh. Terapi ini digunakan untuk mengobati
komplikasi transfusi darah berulang. EDTA kuat bertindak sebagai antioksidan untuk
mencegah radikal bebas melukai dinding pembuluh darah.
EDTA berfungsi sebagai pengawet (biasanya untuk meningkatkan tindakan lain
dan pengawet seperti klorida benzalkonium atau thiomersal ) dalam persiapan okular dan
obat tetes mata.
2.4.6. Aplikasi Laboratorium

21

Di laboratorium, EDTA secara luas digunakan untuk pembilasan ion logam:


Dalam biokimia dan biologi molekular, deplesi ion umumnya digunakan untuk
menonaktifkan logam-tergantung enzim, baik sebagai assay untuk reaktivitas mereka atau
untuk menekan kerusakan pada DNA atau protein. Dalam kimia analitis, EDTA digunakan
dalam titrasi kompleksometri dan analisa kesadahan air atau sebagai agen masking untuk
menyerap ion logam yang akan mengganggu analisis. EDTA banyak digunakan khusus di
laboratorium biomedis, seperti di oftalmologi sebagai anti collagenase untuk mencegah
memburuknya ulkus kornea. Dalam kultur jaringan EDTA digunakan sebagai agen Chelating
yang mengikat kalsium dan mencegah bergabung dari cadherins antara sel-sel, mencegah
penggumpalan sel-sel tumbuh di suspensi cair, atau memisahkan sel-sel melekat untuk
passaging. Dalam histopatologi, EDTA dapat digunakan sebagai agen decalcifying sehingga
memungkinkan untuk memotong bagian menggunakan mikrotom contoh jaringan adalah
demineralised. EDTA juga dikenal untuk menghambat berbagai metallopeptidases, metode
penghambatan terjadi melalui chelation dari ion logam yang diperlukan untuk aktivitas
katalitik.

BAB III
MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1. Tipe penelitian


Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan memakai hewan coba berupa
kelinci.
22

3.2. Tempat dan waktu Penelitian


A. Tempat :
1. Laboratorium hewan jurusan Farmasi FMIFA Universitas Andalas Padang.
2. Bangsal Ilmu Penyakit Mata RS.M.Djamil Padang.
B. Waktu :
Penelitian dilakukan pada bulan JUNI-JULI 2011.
3.3. Subjek dan Replikasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada hewan coba berupa kelinci jantan ras yang sama, usia 3-4
bulan, berat badan antara 800-1000 gram, dikandangkan dan diberi makanan, sebanyak 20
ekor (20 mata). Dengan perlakuan 10 mata (10 ekor) diberikan EDTA tetes dan 10 mata (10
ekor) tidak diberi EDTA.
Replikasi yang digunakan adalah dengan menggunakan rumus : N (16 : P) + 1
Keterangan : P : Jumlah perlakuan
N : Replikasi
Perhitungan : N ( 16 : 2) +1
N9
Dengan demikian besar sampel minimal adalah 18 ekor. Pada penelitian ini besar
sampel yang digunakan adalah 20 ekor.
3.4. Kriteria Penerimaan dan Penolakan
Kriteria penerimaan
Sampel dipilih dengan menyeragamkan umur, sex, berat badan dan hybrid/varian.
Dalam penelitian ini digunakan kelinci jenis kelamin jantan dan sehat, umur 3-4 bulan
dengan berat badan lebih kurang 800-1000 gram. Dipilih kelinci yang matanya bersih dan
tidak ada kelainan kornea dengan pemeriksaan slit lamp. Selama proses aklimasi tidak
mengalami pengurangan berat badan lebih dari 10%.
23

Kriteria penolakan
1. Hewan coba yang pada pemeriksaan slit lamp ada kelainan kornea.
2. Hewan coba dengan rupture kornea derajat 3 dan 4.
3. Hewan coba yang mati selama percobaan.
3.5. Definisi Operasional
Melting: (penghancuran)
Destruksi yang berlebihan oleh enzim kolagenase dan protease dari kolagen dan proteoglikan
di stroma kornea yang merangsang terbentuknya faktor-faktor proteolitik secara gradual
membuat stroma menjadi lunak dan menipis.
Trauma ruptur kornea:
1. Trauma ruptur kornea derajat 1 : Partial thickness laserasi kornea yang tidak tembus
sampai ke COA
2. Trauma ruptur kornea derajat 2 : Full thichness yang menutup sendiri, COA dalam,
tanpa kobocoran aktif dari aquous dan tanpa melibatkan jaringan uvea dan lensa.
3. Kedalaman defek kornea pada kornea: Kedalaman luka kornea yang dinilai sampai
epitel (derajat 1), 1/3 stroma (derajat 2), 2/3 stroma (derajat 3), 3/3 stroma / seluruh
ketebakan stroma (derajat 4).
Proses reepitelisasi :
Terbentuknya reepitelisasi kornea yang sempurna ditandai dengan tes fluoresen yang
negative. Reepitelisasi dinilai dengan cara mengurangi luas defek awal dengan luas defek
tiap-tiap follow up.
Kelinci
Hewan coba dengan ras sama, jenis kelamin jantan, umur 3-4 bulan dan berat badan lebih
kurang 800-1000 gram.

24

EDTA Eye drops ( Ethylene diamine tetraacetic ):


Sebagai anti kollagenase.
Floxa Eye drops :
Antibiotik golongan aminoglikosida dengan zat aktif ofloxacin produksi PT Cendo. Dosis
pemberian adalah dosis konversi yaitu 4x1 tetes mata/hari.
Flourescen Eye drops:

3.6. PROSEDUR KERJA


3.6.1. Perlengkapan penelitian

Catatan penelitian.
Alat tulis menulis.
Hewan coba berupa kelinci sesuai kriteria.
Kandang untuk hewan coba.
Timbangan.
Flourescen Eye drops (produksi PT Cendo).
Pisau keratom (yang diberi tanda batas 1mm).
Spekulum palpebra bayi.
Ofloxacin 3 mg tetes mata (Floxa Cendo).
Fluorescein 2% tetes mata (Cendo).
Pantocain 2% tetes mata (Cendo).
EDTA (Disodium ethilendiamine tetra acetate) 7,5 mg tetes mata (Cendo).
Larutan NaCl 0,9%.
Spuit 10 cc.
Slit Lamp dengan kamera CCTV (untuk Foto & Follow up).
Komputer.
25

3.6.2. Proses pengumpulan data


1. Seluruh sampel dilakukan pemeriksaan mata untuk melihat apakah ada kelainan
2.
3.
4.
5.

kornea dengan pemeriksaan slit lamp.


Dilakukan penimbangan seluruh kelinci.
Seluruh kelinci diaklimasi selama 7 hari.
Kelinci yang melewati proses aklimasi ditimbang berat badannya.
Sebelum dilakukan perupturan kornea mata kelinci dengan pisau keratom diberi
anestesi local pantocain tetes mata dan tubuh kelinci dibalut dengan kain supaya

tenang.
6. Dilakukan perupturan kornea mata kelinci dengan pisau keratom dengan derajat
rupture 2 dan parasentral.
7. Seluruh kelinci matanya dibiarkan selama 2 hari tanpa diinterpensi sampai terjadi
maserasi pada ruptur korneanya.
8. Seluruh sampel dilakukan pemeriksaan mata dengan slit lemp dan florescen tetes
mata untuk melihat, memfoto, dan mencatat luas maserasi kornea.
9. Seluruh kelinci mata ditetes antibiotik floxa tetes mata 4 kali perhari setelah
dibiarkan selama 2 hari.
10. Setengah kelinci diberi tanda kalung dan ditetes EDTA tetes mata 4 kali perhari
setelah terjadi maserasi pada korneanya.
11. Pemeriksaan dilakukan sebanyak tiga kali pada masing masing mata. Nilai yang
dipakai adalah yang tertinggi.
3.6.3. Proses menjaga mutu
1.
2.
3.
4.
5.

Sebelum diperiksa, mata dibersihkan terlebih dahulu jika ada sekret.


Seluruh sampel menjalani proses aklimasi terlebih dahulu selama satu minggu.
Perlakuan pemeliharaan pada semua sampel sama.
Pemeriksaan dilakukan dengan alat-alat yang sama selama percobaan.
Pemeriksaan yang dilakukan di dicatat dan difoto.

3.6.4. Cara melakukan trauma ruptur kornea

26

Semua kelinci diberikan anestesi topikal berupa pantocain 2% kemudian mata


diperiksa terlebih dahulu dengan menggunakan slit lamp dan dipastikan tidak ada kelainan
pada mata. Kemudian dilakukan 2 buah trauma tajam sejajar jarak 3-4 mm dengan keratom
yang telah diberi batas pada kornea sentral mata kiri kelinci 2 mm dari limbus arah jam 3 ke
jam 9 dengan kedalaman yang sama sesuai batas.
Cara kerja
Penelitian dilakukan pada 20 ekor kelinci ( 20 mata kiri). Pada setiap ekor kelinci
kedua matanya dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok
pembanding. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 mata kiri. Pada kelompok intervensi
10 mata diberikan EDTA tetes mata 4 kali sehari sedangkan pada kelompok pembanding
tidak diberikan EDTA tetes mata. Antibiotik (ofloxacin 3mg) tetes mata diberikan 4 kali
sehari pada semua mata. Pembagian kelompok dan pemilihan mata mana yang akan
diberikan EDTA atau tidak diberikan EDTA dilakukan dengan cara simple random sampling
yang masing masing telah diberi nomor kalung 1 10.
Kelinci yang termasuk keriteria eksklusi tidak diikut sertakan dan di keluarkan
dari penelitian.
Semua kelinci yang telah ruptur korneanya dibiarkan selama 2 hari dan dinilai
luas dan perkiraan kedalaman maserasi yang terjadi dengan cara di foto menggunakan slit
lamp CC TV dan computer.
Penilaian dan pencatatan dilakukan setelah dilakukan trauma ruptur kornea,
setelah terjadi maserasi (2 hari trauma) dan setelah diberikan EDTA atau tidak diberikan
EDTA dengan keduanya diberikan antibiotik (Oflokcxacin 3mg). Kemudian pada hari ke 2, 4,
6, 10 setelah diberikan terapi oleh peneliti, tanpa mengetahui nomor kode kalung kelinci
double mask controls.
Setiap Fallow up dinilai :
Luas defek maserasi dan epiltelisasi pada kornea, dinilai dengan cara membagi
hasil defek epitel kornea yang telah diwarnai dengan fluoresen 2% melalui foto topografi
27

kornea kelinci dengan pemeriksaan slit lamp dan dengan pembesaran 6 kali yang telah di foto
dan dicetak dengan ukuran 3R atas kotak-kotak berukuran 2x2 mm, setiap defek yang
memenuhi > kotak dihitung 1 kotak sedangkan < kotak diabaikan.
Kedalaman defek maserasi pada kornea.
Data diambil dari foto slit lamp cccTV computer, kemudian dicetak dengan ukuran 3R lalu
dianalisa secara statistic dengan T-test berpasangan dengan derajat kemaknaan (p) 0,05.

Alur Penelitian
Kelinci

Slit
lamp

Kornea mata tidak ada


kelainan

Kornea mata ada


kelainan

28

Ruptur kornea
derajat 2
Ruptur kornea derajat
3-4

ekslusi

Observasi setelah
2 hari

ekslusi

Slit lamp : Maserasi


kornea

- Diberikan AB topikal pada ruptur kornea yang maserasi:


- EDTA topikal
- tanpa EDTA topikal
EDTA topikal + Floxa Topikal

Floxa topikal

Hari ke 2

Hari ke 2

Hari ke 4

Hari ke 4

Hari ke 6
Hari ke 8

Proses
repitelisasi
Kedalaman
depek

Hari ke 6
Hari ke 8

Hari ke 10

Hari ke 10

Hari ke 11

Hari ke 11

Hari ke 12

Hari ke 12

3.6.5. Pengolahan dan analisis data


Data dimasukkan ke dalam komputer dengan menggunakan program SPSS. Pengolahan data
mencakup tabulasi dan distribusi frekuensi serta dianalisis secara statistik dengan uji t
berpasangan.

29

3.6.6. Pengumpulan dan penyajian data


Semua data penelitian dicatat dalam formulir yang telah ditentukan dan hasil
penelitian akan dituangkan dalam bentuk tertulis dan disajikan dalam bentuk tertulis serta
disajikan dalam suatu sidang ilmiah di hadapan pengguji.
4.6.7. Etika penelitian
Karena memakai hewan coba, maka untuk penelitian ini kelinci diperlakukan
secara layak, kandang yang bersih, cahaya yang cukup serta makanan yang cukup. Semua
kelinci mendapat perlakuan yang sama.

Proposal Tesis

EFEKTIVITAS EDTA TOPIKAL TERHADAP


MASERASI KORNEA KARENA TRAUMA TAJAM
30

Hampri Seda
dr.Getry Sukmawati,SpM (K)
dr.Hendriati,SpM

PPDS Ilmu Kesehatan Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/
RS.Dr.M.Djamil Padang
2011
DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Opthalmology. The Eye. In Fundamental and Principles of


Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course. Section 2: 2008-2009; p. 45-51

31

2. American Academy of Opthalmology. Structure and Function of External Eye and


Cornea. In External Disease and Cornea. Basic and Clinical Science Course. Section 8:
2008-2009; p. 5-18.
3. American Academy of Opthalmology. Wound Healing of Conjunctiva, Cornea, and
Sclera. In External Disease and Cornea. Basic and Clinical Science Course. Section 8:
2008-2009; p. 383-386.
4. Teruo Nishida. Cornea. In: Fundamental, Diagnosis, and Management. 2 nd edition. Vol 1.
Krachmer JH, Mannis MJ. Elseveir Mosby. Philadelphia. 2005; p.3-23.
5. Vaughan D, Asbury T. Anatomy and Embriology of The Eye. In: General
Ophthalmology.ed 16.2000.p. 7-9.
6. Kenyon KR. Morphology and Pathologic Responses of The Cornea to Disease. In: The
Cornea. Smolin G and Thoft RA. Little Brown Company. Boston. 2005; p. 43-69.
7. Albert D. Principles of Pathology. In Principles and Practice of Ophthalmology.Vol 4.
Lippincott- Raven Philadelpihia.1997; p. 2101-2112.
8. American Academy of Opthalmology. Wound Repair. In: Ophtalmic Pathology and
Intraocular Tumors. Basic and Clinical Science Course. Section 4: 2008-2009; p. 21-26.
9. BenEzra D. Regeneration and Repair. In: Ocular Surface Inflamation Guidelines for
Diagnosis and Treatment. Gaillard Highway, Clayton.2003.p.67-74.
10. Cameron JD. Corneal Reaction to Injury. In: In Fundamental, Diagnosis, and
Management. 2nd edition. Vol 1. Krachmer JH, Mannis MJ. Elseveir Mosby. Philadelphia.
2005; p.115-127.
11. Goldstein M, Schultz. Modulation of Corneal Wound Healing. In: Fundamental,
Diagnosis, and Management. 2nd edition. Vol 1. Krachmer JH, Mannis MJ. Elseveir
Mosby. Philadelphia. 2005; p133-147.
12. Steele C. Corneal wound Healing: a review. In: Optometry Today. Head of Optometry,
Sunderland Eye Infirmary. Sept, 24. 1999.p. 28-32.
13. Eraslan M, Toker E. Mechanisms of Corneal Wound Healing and its Modulation
Following Refractive Surgery. In: Marmara Medical Journal 2009;22(2);169-178.
14. Steele C. The Role of Therapeutic Contact Lenses in Corneal Wound Healing. In:
Optometry Today. Head of Optometry, Sunderland Eye Infirmary. Oct 8. 1999.p.36-40.
15. Javier J.A.D, Azar DT, Et all. Wound Healing in Customized Corneal Ablation: Effect of
Predictability, Fidelity and Stability of Refractive Outcomes. In: Wavefront Customized
Visual Correction: The Quest for Super Vision II. 2008. p.1-17.

32

16. Francis HA. Wound of The Cornea. In: Giffords Textbook of Ophtalmology. Ed 6.
1960. WB. Saunder Company. p. 477-483.
17. Xin-yi W, Mei YY, Et all. Brief Report The Role of Connective Tissue Growth Factor,
Transformaing Growth Factor 1 and Smad Signaling Pathway In Cornea Wound
Healing. In: Chinese Medical Journal 2006; 119(1):57-62.
18. Youn Oh J, Kim MK, Et all. The Anti-Inflamatory and Anti-Angiogenic Role of
Mesenchymal Stem Cells in Corneal Wound Healing Following Chemical Injury. In Stem
Cells Translational and Clinical Research. 2008;26:1047-1055.
19. Isnard N, Dagonet FB, Et all. Studies on Corneal Wound Healing. In: Ophthalmologica.
2005; 219: 324- 333.
20. Tsutsumi O, Tsutsumi A, Et all. Epidermal Growth Factor-like, Corneal Wound Healing
Substance in Mouse Tears. In: The Journal of Clinical Investigation, Inc. Vol 81, April
1988,1067-1071.
21. Kenyon KR. Morphology and pathologic Response in Corneal and Konjungtival Disease,
in: The Cornea. Smolin G and Thoft RA, Little Brown Company, Boston. p; 103-136.
22. Ethylene diamine tetraacetic acid, http//en.wikipedia.org, last up date 11.10.2010.
23. Brown SI. Collagenase and Corneal Ulcers. In Symposium on corneal infection and
immunity. The Association for Research in Vision and Ophthalmology and National
Society for the Prevention of Blindness. Department of Ophthalmology, New york, okt 3
1970.
24. Grass GM. Effects of Calcium Chelating Agents on Corneal Permeability in Investigative
Ophthalmology and Visual Science, Januari 1985.
25. Brejchova K. Role of Matrik Metallo Proteinases in Recurrent Corneal Melting, in
Experimental Eye Reseach Jurnal, homepage: www.elsevier.com.11Nov 2010,p: 583-590
26. Kilic A, Ertan Ak. Corneal Cross Linking for Different Corneal Diseases in Cataract and
Refractive Surgery, April 2009.
27. Nancy J. Promotion of Proliferation of Adult Corneal endothelial Cells. Last up dete,
04.15.2003
28. Kansky JJ. Cornea. In Clinical Ophtholmology A Systenatic Approach, 5 th Edition. New
York; Butterworth;2003,p:96-104
29. Holle CW. Purification of Corneal Collagenases, in Investigative Ophthalmology New
York Hospital Cornell University Medical Center, New York, may111972, p: 728-734.
30. Francois J. Collagenase and Collagenase Inhibitors The Seventh Frederick H.Verhoeff
Lecture Trans Am Ophthalmol Soc. 1977, p: 75:285-315.
33

31. Sivac JM. MMPs in the Eye: Emerging roles for Matrix Metalloproteinases in Ocular
Physiology. Progress in Retinal and Eye Reseach 21(2002), www.elsevier.com, p:1-14
32. Verma Aron. Corneal melt post Operative, http://emedicine.Ophthalmology. Last update
Jun10.2008
33. Hook CW. Characterization and Inhibition of Corneal Collagenase, in Investigative
Ophthalmology New York Hospital Cornell University Medical Center, New York, July
1971.
34. Faroogni SZ. Adjunctive Preoperative Ethylene diamine tetraacetic acid Drops for
Surgical

Chelation

for

Calcific

Band

Keratopathy.in

Asian

J.Ophthalmology,

Departement of Ophthalmology, Izmir.Turky,2006, p:8:143-6


35. Fini ME: Proteolytic Mechanisms in Corneal Ulceration and Repair, in Arch Deramatol
Res (1998) 290(suppl) S12-S23, Work Presented at the 7 th Annual meeting of the Eropean
Tissue Repair Society. Special symposium Proteolysis and tissue Repair, 23-26 August
1997 Colagne, Germany
36. Brejchova K. Matrik Metalloproteinases in Recurrent Corneal Melting Associated With
Primary Sjorgens Syndrome
37. Gipson Ilene K. The Anatomy and Cell Biology of Human Cornea, limbus, conjunctiva
and adnexa, in The Cornea scientific Foundations and Clinical Practice, Edited by
Stephen CF. Fourt editon. Lippincott, William & Wilkins, Philadelphia, 2004, p: 1-53
38. Grener JV,Kenyon KR. Corneal Aging. In Basic Sciences Principles and Practice of
Ophthalmology. Philadelpia, WB Saunders Company,1994,p: 689-695
39. Klyce SD. Corneal Physiology. In Cornea, 4 rd edition. Philadelphia, Lippincoat; 2005.p;
1-17.
40. Elderhauser HF. Cornea and Sklera. In Duanes Foundations of Clinical Ophthalmology,
vol 2. Philadelphia, Lippincoat Company;1994,p: 1-42
41. Khurana AK. Disease of Kornea. In Comprehensive Ophthalmology. New Delhi; New
Age International; 2007,p:89-92.

34