Anda di halaman 1dari 23

PEREKONOMIAN INDONESIA

SISTEM EKONOMI INDONESIA (KAJIAN KONSEPTUAL)

OLEH:
KELOMPOK 1
MUHAMMAD ARIFANDI
(A111 13 003)
A. ALI AKBAR
(A111 12 280)
MUHAMMAD RIDHOL AM
(A111 13 004)
MUJAHIDAH
(A111 13 )

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASSANUDDIN
MAKASSAR
2016

SISTEM EKONOMI INDONESIA


A. Pengertian Sistem
Sistem menurut Chester A. Bernard, adalah suatu kesatuan yang terpadu secara holistik, yang di
dalamnya terdiri atas bagian-bagian dan masing-masing bagian memiliki ciri dan batas tersendiri. Suatu
sistem pada dasarnya adalah organisasi besar yang menjalin berbagai subjek (atau objek) serta perangkat
kelembagaan dalam suatu tatanan tertentu. Subjek atau objek pembentuk sebuah sistem dapat berupa orangorang atau masyarakat, untuk suatu sistem sosial atau sistem kemasyarakatan dapat berupa makhlukmakhluk hidup dan benda alam, untuk suatu sistem kehidupan atau kumpulan fakta, dan untuk sistem
informasi atau bahkan kombinasi dari subjek-subjek tersebut.
Perangkat kelembagaan dimaksud meliputi lembaga atau wadah tempat subjek (objek) itu
berhubungan, cara kerja dan mekanisme yang menjalin hubungan subjek (objek) tadi, serta kaidah atau
norma yang mengatur hubungan subjek (objek) tersebut agar serasi.
Kaidah atau norma yang dimaksud bisa berupa aturan atau peraturan, baik yang tertulis maupun yang
tidak tertulis, untuk suatu sistem yang menjalin hubungan antar manusia. Contohnya aturan-aturan dalam
suatu sistem kekerabatan. Secara toritis pengertian sistem ekonomi dapat dikatakan sebagai keseluruhan
lembaga-lembaga ekonomi yang dilaksanakan atau dipergunakan oleh suatu bangsa atau negara dalam
mencapai cita-cita yang telah ditetapkan.
Pengertian lembaga atau institusi ekonomi adalah suatu pedoman atau, atauran atau kaidah yang
digunakan seseorang atau masyarakat dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi untuk memenuhi
kebutuhannya. Kegiatan ekonomi adalah kegiatan yang berkaitan dengan usaha(bisnis), dengan pasar,
transaksi jual-beli, dan pembayaran dengan uang. Pengertian ekonomi secara lembaga yaitu produk-produk
hokum tertulis, seperti Tap MPR, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, ARD/ART
suatu organisasi dan lain-lain.
B. Sistem Ekonomi
Persoalan-persoalan ekonomi pada hakekatnya adalah masalah transformasi atau pengolahan alatalat/sumber pemenuh/pemuas kebutuhan, yang berupa faktor-faktor produksi yaitu tenaga kerja, modal, sumber
daya alam dan keterampilan (skill) menjadi barang dan jasa.
Sistem ekonomi merupakan cabang ilmu ekonomi yang membahas persoalan pengambilan keputusan
dalam tata susunan organisasi ekonomi untuk menjawab persoalan-persoalanekonomi untuk mewujudkan tujuan
nasional suatu negara. Menurut Dumairy (1966), Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta
menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suat tatanan kehidupan,
selanjutnya dikatakannya pula bahwa suatu sistem ekonomi tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan
dengan falsafah, padangan dan pola hidup masyarakat tempatnya berpijak. Sistem ekonomi sesungguhnya
merupakan salah satu unsur saja dalam suatu supra sistem kehidupan masyarakat. Sistem ekonomi merupakan
bagian dari kesatuan ideologi kehidupan masyarakat di suatu negara.
Pada negara-negara yang berideologi politik leiberalisme dengan rezim pemerintahan yang demokratis,
pada umumnya menganut ideologi ekonomi kapitalisme dengan pengelolaan ekonomi yang berlandaskan pada
mekanisme pasar. Di negara-negara ini penyelenggara kenegaraannya cendrung bersifat etatis dengan struktur
birokrasi yang sentralistis. Sistem ekonomi suatu negara dikatakan bersifat khas sehingga dibedakan dari sistem
ekonomi yang berlaku atau diterapkan di negara lain. Berdasarkan beberapa sudut tinjauan seperti :
1. Sistem pemilikan sumber daya atau faktor-faktor produksi
2. Keluwesan masyarakat untuk saling berkompentisi satu sama lain dan untuk menerima imbalan atas prestasi
kerjanya

3. Kadar peranan pemerintah dalam mengatur, mengarahkan dan merencanakan kehidupan bisnis dan
perekonomian pada umumnya.
C. Macam-Macam Sistem Ekonomi
1. Sistem Ekonomi Liberal-Kapitalis
Sistem ekonomi leiberal-kapitalis adalah suatu sistem yang memberikan kebebasan yang besar bagi
pelaku-pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan yang terbaik bagi kepentingan individual atau sumber
daya-sumber daya ekonomi atau faktor produksi. Secara garis besar, ciri-ciri ekonomi liberal kapitalis adalah
sebagai berikut :
a. Adanya pengakuan yang luas terhadap hak pribadi
b. Praktek perekonomian di atur menurut mekanisme pasar
c. Praktek perekonomian digerakan oleh motif keuntungan (profile motife)
2. Sistem Ekonomi Sosialis-Komunistik
Dalam sistem ekonomi sosialis-komunistis adalah kebalikannya, dimana sumber daya ekonomi atau
faktor produksi dikuasai sebagai milik negara. Suatu negara yang menganut sistem ekonomi sosialiskomunis, menekankan pada kebersamaan masyarakat dalam menjalankan dan memajukan perekonomian.
Dalam sistem ini yang menonjol adalah kebersamaan, dimana semua alat produksi adalah milik
bersama (negara) dan didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
3. Sistem Ekonomi Campuran (mixed ekonomi)
Di samping kedua ekstrim sistem ekonomi tersebut, terdapat sebuah sistem yang lain yang
merupakan atas campuran : antara keduanya, dengan berbagai fariasi kadar donasinya, dengan berbagai
fariasi nama dan oleh istilahnya. Sistem ekonomi campuran pada umumnya diterapkan oleh negara-negara
berkembang atau negara-negara dunia ke tiga.
Beberapa negara di antaranya cukup konsisten dalam meramu sistem ekonomi campuran, dalam arti
kadar kapitalisnya selalu lebih tinggi (contoh Filipina) atau bobot sosialismenya lebih besar (contoh India).
Namun banyak pula yang goyah dalam meramu campuran kedua sistem ini, kadang-kadang condong
kapitalistik.
Pada dasarnya sistem ekonomi campuran atau sistem ekonomi kerakyatan dengan persaingan
terkendali, agaknya merupakan sistem ekonomi yang paling cocok untuk mengelola perekonomian di
Indonesia, namun demikian akhir-akhir ini sistem ekonomi Indonesia semakin condong ke ekonomi liberal
dan kapitalis hal ini ditandai dengan derasnya modal asing yang masuk ke Indonesia dan banyaknya BUMN
dan BUMD yang telah diprivatisasi. Kecenderungan tersebut dipacu derasnya arus globalisasi dan bubarnya
sejumlah negara komunis di Eropa Timur yang bersistem ekonomi sosialisme-komunistik.
PERKEMBANGAN SISTEM EKONOMI INDONESIA
A. Perkembangan Pemikiran Sistem Ekonomi Indonesia
Seperti yang kita ketahui bahwa yang menentukan bentuk suatu sistem ekonomi kecuali dasar falsafah
negara yang dijunjung tinggi, maka yang dijadikan kriteria adalah lembaga-lembaga, khususnya lembaga
ekonomi yang menjadi perwujudan atau realisasi falsafah tersebut.
Pergulatan pemikiran tentang sistim ekonomi apa yang sebaiknya di diterapkan Indonesia telah dimulai
sejak Indonesia belum mencapai kemerdekaannya. Sampai sekarang pergulatan pemikiran tersebut masih terus
berlangsung, hal ini tercermin dari perkembangan pemikiran tentang Sistim Ekonomi Pancasila ESP. Menurut

Sri-Edi Suwasono (1985), pergulatan pemikiran tentang ESP pada hakikatnya merupakan dinamika penafsiran
tentang pasal-pasal ekonomi dalam UUD 1945.
1. Pasal Ekonomi Dalam UUD 1945
Pasal 33 UUD 1945, yang dimaksud dengan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang
banyak adalah barang dan jasa yang vital bagi kehidupan manusia, dan tersedia dalam jumlah yang terbatas.
Tinjauan terhadap vital tidaknya suatu barang tertentu terus mengalami perubahan sesuai dengan dinamika
pertumbuhan ekonomi, peningkatan taraf hidup dan peningkatan permintaan.
Dengan demikian penafsiran pasal-pasal di ataslah yang banyak mendominasi pemikiran SEP. Pemikiran
tentang ESP, sudah banyak, namun ada beberapa yang perlu dibahas secara rinci karena mereka merupakan
faunding father dan juga tokoh-tokoh ekonomi yang ikut mewarnai sistem ekonomi kita, diantaranya :
a. Pemikiran Mohammad Hatta (Bung Hatta)
Bung Hatta selain sebagai tokoh Proklamator bangsa Indonesia, juga dikenal sebagai perumus pasal 33
UUD 1945. bung Hatta menyusun pasal 33 didasari pada pengalaman pahit bangsa Indonesia yang selama
berabad-abad dijajah oleh bangsa asing yang menganut sitem ekonomi liberal-kapitalistik. Penerapan sistem ini
di Indonesia telah menimbulkan kesengsaraan dan kemelaratan, oleh karena itu menurut Bung Hatta sistem
ekonomi yang baik untuk diterapkan di Indonesia harus berasakan kekeluargaan
b.

Pemikiran Wipolo
Pemikiran Wipolo disampaikan pada perdebatan dengan Wijoyo Nitisastro tentang pasal 38 UUDS
(pasal ini identik dengan pasal 33 UUD 1945), 23 september 1955.menurut Wilopo, pasal 33 memiliki arti SEP
sangat menolak sistem liberal, karena itu SEP juga menolak sector swasta yang merupakan penggerak utama
sistem ekonomi liberal-kapitalistik
c. Pemikiran Wijoyo Nitisastro
Pemikiran Wijoyo Nitisastro ini merupakan tanggapan terhadap pemikiran Wilopo. Menurut Wijoyo
Nitisastro, pasal 33 UUD 1945 sangat ditafsirkan sebagai penolakan terhadap sector swasta.
d. Pemikiran Mubyarto
Menurut Mubyarto, SEP adalah sistem ekonomi yang bukan kapitalis dan juga sosialis. Salah satu
perbedaan SEP dengan kapitalis atau sosialis adalah pandangan tentang manusia. Dalam sistem kapitalis atau
sosialis, manusia dipandang sebagai mahluk rasional yang memiliki kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan
akan materi saja.
e. Pemikiran Emil Salim
Konsep Emil Salim tentang SEP sangat sederhana, yaitu sistem ekonomi pasar dengan perencanaan.
Menurut Emil Salim, di dalam sistem tersebutlah tercapai keseimbangan antara sistem komando dengan sistem
pasar. lazimnya suatu sistem ekonomi bergantung erat dengan paham-ideologi yang dianut suatu negara
Sumitro Djojohadikusumo dalam pidatonya di hadapan School of Advanced International Studies di
Wasington, AS Tanggal 22 Februari 1949, menegaskan bahwa yang dicita-citakan bangsa Indonesia adalah
suatu macam ekonomi campuran. Lapangan-lapangan usaha tertentu akan dinasionalisasi dan dijalankan oleh
pemerintah, sedangkan yang lain-lain akan terus terletak dalam lingkungan usaha swasta.

Persaingan terkendali
Untuk mengetahui sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara, maka perlu dianalisis kandungan faktorfaktor diatas.
Sistem ekonomi Indonesia (sistem persaingan terkendali);

Bukan kapitalis dan bukan sosialis. Indonesia mengakui kepemilikan individu terhadap sumber
ekonomi, kecuali sumber ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara sesuai
dengan UUD 45.
Pengakuan terhadap kompetisi antar individu dalam meningkatkan taraf hidup dan antar badan usaha
untuk mencari keuntungan, tapi pemerintah juga mengatur bidang pendidikan, ketenagakerjaan, persaingan,
dan membuka prioritas usaha.
Pengakuan terhadap penerimaan imbalan oleh individu atas prestasi kerja dan badan usaha dalam
mencari keuntungan. Pemerintah mengatur upah kerja minimum dan hukum perburuhan.
Pengelolaan ekonomi tidak sepenuhnya percaya kepada pasar. Pemerintah juga bermain dalam
perekonomian melalui BUMN dan BUMD serta departemen teknis untuk membantu meningkatkan
kemampuan wirausahawan (UKM) dan membantu permodalan.

Kadar Kapitalisme dan Sosialisme


Unsur kapitalisme dan sosialisme yang ada dalam sistem ekonomi Indonesia dapat dilihat dari sudut berikut ini:
(a) Pendekatan faktual struktural yakni menelaah peranan pemerintah dalam perekonomian
Pendekatan untuk mengukur kadar campur tangan pemerintah menggunakan kesamaan Agregat Keynesian.
Y = C + I + G + (X-M)
Y adalah pendatan nasional.
Berdasarkan rumus tersebut dapat dilihat peranan pemerintah melalui variable G (pengeluaran pemerintah) dan
I (investasi yang dilakukan oleh pemerintah) serta (X-M) yang dilakukan oleh pemerintah. Pengukuran kadar
pemerintah juga dapat dilihat dari peranan pemerintah secara sektoral terutama dalam pengaturan bisnis dan
penentuan harga. Pemerintah hampir mengatur bisnis dan harga untuk setiap sector usaha.
(b) Pendekatan sejarah yakni menelusuri pengorganisasian perekonomian Indonesia dari waktu ke
waktu.
Berdasarkan sejarah, Indonesia dalam pengeloaan ekonomi tidak pernah terlalu berat kepada kapitalisme atau
sosialisme. Percobaan untuk mengikuti sistem kapitalis yang dilakukan oleh berbagai kabinet menghasilkan
keterpurukan ekonomi hingg akhir tahun 1959.
Percobaan untuk mengikuti sistem sosialis yang dilakukan oleh Presiden I menghasilkan keterpurukan ekonomi
hiingg akhir tahun 1965.

PENDAPATAN NASIONAL
Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di
suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode, biasanya selama satu tahun.
Sejarah
Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha
menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665. Dalam perhitungannya, ia menggunakan
anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun,
pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi
modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat
utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP),
yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut
harga pasar pada suatu negara.
Konsep
Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional

Produk Domestik Bruto (GDP)


Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah nilai produk berupa barang dan
jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu
tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh
perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang
dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang
didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.
Pendapatan nasional merupakan salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi suatu negara

Produk Nasional Bruto (GNP)


Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa
yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi
barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk
hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.

Pendapatan Nasional Neto (NNI)


Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah
balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat
diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak
yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.

Pendapatan Perseorangan (PI)


Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang
dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan
perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah
penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari
sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para
pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah
pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap
badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam
perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun

(iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk
dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).

Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)


Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk
dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang
disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi
dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan
kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.
Penghitungan
Jasa perbankan turut memengaruhi besarnya pendapatan nasional
Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:

Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba)
yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas
faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.

Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari
bidang industri, agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung
dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).

Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang
dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan
ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara,
yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan
selisih antara nilai ekspor dikurangi impor (
)
Rumus menghitung pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut :
g = {(PDBs-PDBk)/PDBk} x 100%
g = tingkat pertumbuhan ekonomi PDBs = PDB riil tahun sekarang PDBk = PDB riil tahun kemarin
Contoh soal :
PDB Indonesia tahun 2008 = Rp. 467 triliun, sedangkan PDB pada tahun 2007 adalah = Rp. 420 triliun. Maka
berapakah tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 jika diasumsikan harga tahun dasarnya berada pada
tahun 2007 ?
jawab :
g = {(467-420)/420}x100% = 11,19%
Manfaat
Selain bertujuan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan untuk mendapatkan data-data terperinci
mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode, perhitungan pendapatan
nasional juga memiliki manfaat-manfaat lain, diantaranya untuk mengetahui dan menelaah struktur
perekonomian nasional. Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi
negara industri, pertanian, atau negara jasa. Contohnya, berdasarkan perhitungan pendapatan nasional dapat
diketahui
bahwa Indonesia termasuk
negara
pertanian
atau
agraris, Jepang merupakan
negara
industri, Singapura termasuk negara yang unggul di sektor jasa, dan sebagainya.
Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai
sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri,
perdaganan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan

perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai
landasan perumusan kebijakan pemerintah.
Faktor yang memengaruhi
Permintaan dan penawaran agregat
Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan
jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan
jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga, sedangkan penawaran
agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan
oleh perusahaan-perusahaan dengan tingkat harga tertentu.
Konsumsi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pendapatan nasional
Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan menimbulkan
perubahan-perubahan pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara
keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung mengakibatkan kenaikan tingkat
harga dan output nasional (pendapatan nasional), yang selanjutnya akan mengurangi tingkat
pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan
menurunkan output nasional (pendapatan nasional) dan menambah pengangguran.
Konsumsi dan tabungan
Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu
perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan (saving) adalah
bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara konsumsi, pendapatan, dan
tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Keynes yang dikenal
dengan psychological consumption yang membahas tingkah laku masyarakat dalam konsumsi jika
dihubungkan dengan pendapatan.
Investasi
Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat.

PERTUMBUHAN EKONOMI
DEFINISI
Pertumbuhan ekonomi adalah proses peningkatan pendapatan (PDB) tanpa mengaitkannya dengan
tingkat pertambahan penduduk. Pertumbuhan penduduk biasanya dikaitkan dengan tingkat pembangunan
ekonomi,
atau
bahkan
tidak
jarang
dianggap
hal
yang
sama.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Faktor-faktor yang mempengaruhi perekonomian Indonesia tidak terlepas dari permasalahan
kesenjangan dalam pengelolaan perekonomian, dimana para pemilik modal besar selalu mendapatkan
kesempatan yang lebih luas dibandingkan dengan para pengusaha kecil dan menengah yang kekurangan modal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara garis besar ialah :
Sumber Daya Manusia
Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber
daya manusia merupakan faktor terpenting dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan

tergantung kepada sejauh mana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi
yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan dengan membangun infrastruktur di daerah-daerah.
Sumber Daya Alam
Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam melaksanakan proses
pembangunannya. Namun, sumber daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi,
apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang
tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan
hasil hutan dan kekayaan laut.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses
pembangunan, pergantian pola kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin
canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian aktivitas pembangunan ekonomi
yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada percepatan laju pertumbuhan perekonomian.
Budaya
Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi yang dilakukan, faktor ini
dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat
pembangunan. Budaya yang dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas,
jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap
anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.
Sumber Daya Modal
Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber
daya modal berupa barang-barang modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan
ekonomi karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara umum yaitu:
1. Faktor produksi, yaitu harus mampu memanfaatkan tenaga kerja yang ada dan penggunaan bahan
baku industri dalam negeri semaksimal mungkin
2. Faktor investasi, yaitu dengan membuat kebijakan investasi yang tidak rumit dan berpihak pada
pasar
3. Faktor perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran, harus surplus sehingga mampu
meningkatkan cadangan devisa dan menstabilkan nilai rupiah
4. Faktor kebijakan moneter dan inflasi, yaitu kebijakan terhadap nilai tukar rupiah dan tingkat suku
bunga ini juga harus di antisipatif dan diterima pasar
5. Faktor keuangan negara, yaitu berupa kebijakan fiskal yang konstruktif dan mampu membiayai
pengeluaran pemerintah.
Kebanyakan negara berkembang menghadapi banyak masalah dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Hambatan-hambatan terpenting yang dialami adalah :
1. Kegiatan sektor pertanian masih tetap tradisonal dan produktivitasnya sangat rendah
2. Kebanyakan negara masih menghadapi masalah kekurangan dana modal dan barang modal
(peralatan produksi) yang modern
3. Tenaga terampil, terdidik dan keahlian keusahawanan penawarannya masih jauh dibawah jumlah
yang diperlukan
4. Perkembangan penduduk sangatlah pesat
5. Berbagai masalah institusi, sosial, kebudayaan dan politik yang sering dihadapi.

TEORI DAN KONSEPSI


Teori dibangun berdasarkan pengalaman empiris, sehingga teori dapat dijadikan sebagai dasar untuk
memprediksi dan membuat suatu kebijakan. Terdapat beberapa teori yang mengungkapkan tentang konsep
pertumbuhan ekonomi, secara umum teori tersebut sebagai berikut:
Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis
Teori ini dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
Werner Sombart (1863-1947)
Menuru z t Werner Sombart pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:
1. Masa perekonomian tertutup
Pada masa ini, semua kegiatan manusia hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Individu
atau masyarakat bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen sehingga tidak terjadi pertukaran barang atau
jasa. Masa pererokoniam ini memiliki ciri-ciri:
Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sendiri
Setiap individu sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen
Belum ada pertukaran barang dan jasa
2. Masa kerajinan dan pertukangan
Pada masa ini, kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif akibat
perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga diperlukan
pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran
barang dan jasa. Pertukaran barang dan jasa pada masa ini belum didasari oleh tujuan untuk mencari
keuntungan, namun semata-mata untuk saling memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki
beberapa ciri-ciri sebagai berikut:
Meningkatnya kebutuhan manusia
Adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian
Timbulnya pertukaran barang dan jasa
Pertukaran belum didasari profit motive
3. Masa kapitalis
Pada masa ini muncul kaum pemilik modal (kapitalis). Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis
memerlukan para pekerja (kaum buruh). Produksi yang dilakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekedar
memenuhi kebutuhanya, tetapi sudah bertujuan mencari laba.
Friedrich List (1789-1846)
Menurut Friendrich List, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi empat tahap sebagai berikut:
1. Masa berburu dan pengembaraan
2. Masa beternak dan bertani
3. Masa bertani dan kerajinan
4. Masa kerajinan, industri, perdagangan
Walt Whiteman Rostow (1916-1979)
W.W.Rostow mengungkapkan teori pertumbuhan ekonomi dalam bukunya yang bejudul The Stages of
Economic Growth menyatakan bahwa pertumbuhan perekonomian dibagi menjadi 5 (lima) sebagai berikut:

Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)


1. Merupakan masyarakat yang mempunyai struktur pekembangan dalam fungsi-fungsi produksi yang
terbatas.
2. Belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi modern
3. Terdapat suatu batas tingkat output per kapita yang dapat dicapai
o

Masyarakat pra kondisi untuk periode lepas landas (the preconditions for take off)
1. Merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi dimana masyarakat sedang berada dalam proses transisi.
2. Sudah mulai penerapan ilmu pengetahuan modern ke dalam fungsi-fungsi produksi baru, baik di bidang
pertanian maupun di bidang industri.
o

Periode Lepas Landas (The take off)


Merupakan interval waktu yang diperlukan untuk emndobrak penghalang-penghaang pada pertumbuhan
yang berkelanjutan.
Kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi diperluas
Tingkat investasi yang efektif dan tingkat produksi dapat meningkat
Investasi efektif serta tabungan yang bersifat produktif meningkat atau lebih dari jumlah pendapatan
nasional.
Industri-industri baru berkembang dengan cepat dan industri yang sudah ada mengalami ekspansi
dengan cepat.
o

1.
2.
3.
4.
5.

Gerak Menuju Kedewasaan (Maturity)


Merupakan perkembangan terus menerus daimana perekonoian tumbuh secaa teratur serta lapangan
usaha bertambah luas dengan penerapan teknologi modern.
Investasi efektif serta tabungan meningkat dari 10 % hingga 20 % dari pendapatan nasional dan
investasi ini berlangsung secara cepat.
Output dapat melampaui pertamabahn jumlah penduduk
Barang-barang yang dulunya diimpor, kini sudah dapat dihasilkan sendiri.
Tingkat perekonomian menunjukkkan kapasitas bergerak melampau kekuatan industri pad masa take off
dengan penerapan teknologi modern
o

1.
2.
3.
4.
5.

Tingkat Konsumsi Tinggi (high mass consumption)


Sektor-sektor industri emrupakan sektor yang memimpin (leading sector) bergerak ke arah produksi
barang-barang konsumsi tahan lama dan jasa-jasa.
Pendapatn riil per kapita selalu meningkat sehingga sebagian besar masyarakat mencapai tingkat
konsumsi yang melampaui kebutuhan bahan pangan dasar, sandang, dan pangan.
Kesempatan kerja penuh sehingga pendapata nasional tinggi.
Pendapatan nasional yang tinggi dapat memenuhi tingkat konsumsi tinggi
o

1.
2.
3.
4.

Teori Klasik
o Adam Smith
Teori Adam Smith beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya bertumpu pada adanya pertambahan
penduduk. Dengan adanya pertambahan penduduk maka akan terdapat pertambahan output atau hasil. Teori
Adam Smith ini tertuang dalam bukunya yang berjudul An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of
Nations.

David Ricardo
Ricardo berpendapat bahwa faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar sampai menjadi dua kali lipat
pada suatu saat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah. Kelebihan tenaga kerja akan mengakibatkan
upah menjadi turun. Upah tersebut hanya dapat digunakan untuk membiayai taraf hidup minimum sehingga
perekonomian akan mengalami kemandegan (statonary state). Teori David Ricardo ini dituangkan dalam
bukunya yang berjudul The Principles of Political and Taxation.
o

Teori Neoklasik
o Robert Solow
Robert Solow berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan rangkaian kegiatan yang bersumber pada
manusia, akumulasi modal, pemakaian teknologi modern dan hasil atau output. Adapun pertumbuhan penduduk
dapat berdampak positif dan dapat berdampak negatif. Oleh karenanya, menurut Robert Solow pertambahan
penduduk harus dimanfaatkan sebagai sumber daya yang positif.

Harrord Domar
Teori ini beranggapan bahwa modal harus dipakai secara efektif, karena pertumbuhan ekonomi sangat
dipengaruhi oleh peranan pembentukan modal tersebut. Teori ini juga membahas tentang pendapatan nasional
dan kesempatan kerja
o

Kebijakan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang dilakukan pemerintah adalah:


Kebijakan diversivikasi kegiatan ekonomi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memodernkan
kegiatan ekonomi yang ada. Sedankan langkah penting yang harus dilakukan adalah mengembangkan
kegiatan ekonomi yang baru yang dapat mempercepat informasi kegiatan ekonomi yang bersifat
tradisional kepada kegiatan ekonomi yang modern.
Mengembangkan infrastruktur, modernisasi pertumbuhan ekonomi memerlukan infrasturuktur yang
modern pula. Berbagai kegiatan ekonomi memerlukan infrastruktur yang berkembang, seperti jalan,
jembatan, lapangan terbang, pelabuhan, kawasan perindustrian, irigasi dan penyediaan air, listrik dan
jaringan telepon.
Meningkatkan tabungan dan investasi, pendapatan masyarakat yang rendah menyebabkan tabungan
masyarakat rendah. Sedangakan pembangunan memerlukan tabungan yang besar untuk membiayai
investasi yang dilakukan. Kekurangan invesatsi selalu dinyatakan sebagai salah satu sumber yang dapat
menghambat pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu syarat penting yang perlu dilakukan untuk
mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah meningkatkan tabungan masyaraka
Meningkatkan taraf pendidikan masyarakat, dari segi pandangan individu maupun dari segi secara
keseluruhan, pendidikan merupakan satu investasi yang sangat berguna dalam pembangunan ekonomi.
Individu yang memperoleh pendidikan tinggi cenderung akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi,
jadi semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula pendapatan yang diperoleh
Merumuskan dan melaksanakan perencanaan ekonomi, kebijakan pemerintah yang konvensional yaitu
kebijakan fiskal dan moneter tidak dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Untuk
mengatasinya pada tahap mula dari pembangunan ekonomi perencanaan pembanguna perlu dilakukan.
Melalui perencanaan pembangunan dapat pula ditentukan sejauh mana investasi swasta dan pemerintah
perku dilakukan untuk mencapai suatu tujuan pertumbuhan yang telah ditentukan.

DATA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2009-2011


Sebelum membahas apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, kita lihat dulu
tabel pertumbuhan ekonomi berserta GDP atau PDB.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 2011
TAHUN
Nilai (Miliar Rupiah) dan pertumbuhan
(%)
PDB
%
2009
2,178,850.4
4,6
2010
2,313,838.0
6,1
2011
2,463,242.0
6,5
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2009
Kondisi perekonomian global yang masih mengalami tekanan akibat krisis, menyebabkan
memperlambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009. Perlambatan ekonomi domestik akibat
kontraksi ekspor serta suku bunga perbankan yang masih tinggi, yang menyebabkan pada melambatnya
pertumbuhan investasi. Dengan penurunan ekspor dan investasi ini, pertumbuhan ekonomi pada tahun ini
banyak ditopang oleh kegiatan konsumsi domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah.
Peran konsumsi secara keseluruhan masih mampu menopang kegiatan ekonomi Indonesia tahun 2009 untuk
tetap tumbuh positif sebesar 4,5%. Meskipun lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar
6,1%.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 juga lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan
ekonomi negara lain yang sebagian besar mencatat kontraksi. Secara keseluruhan pengaruh kuat perlambatan
ekonomi dunia mengakibatkan ekspor barang dan jasa pada tahun 2009 mencatat kontraksi 9,7% atau
merupakan kinerja ekspor terburuk dalam dekade ini.
Investasi pada tahun 2009 tumbuh 2,8% atau melemah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun
sebelumnya. Berdasarkan jenis investasi, perlambatan pertumbuhan investasi dipengaruhi oleh penurunan PMA
yang tercatat Rp133,8 triliun pada tahun 2009, turun 27,2% dibandingkan dengan capaian tahun 2008.
Sementara itu, penanaman modal dalam negeri meningkat dari Rp20,4 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp37,8
triliun pada tahun 2009.
Di tengah kinerja ekspor yang menurun dan investasi yang melambat tersebut, konsumsi rumah tangga
masih tumbuh kuat sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga pada tahun 2009
masih tumbuh 4,85%. Sejalan dengan besarnya pangsa konsumsi rumah tangga terhadap PDB yang mencapai
58%, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih tinggi secara keseluruhan cukup berperan mendukung
pertumbuhan ekonomi tahun 2009.
Pertumbuhan kuat konsumsi rumah tangga antara lain didorong oleh kontribusi positif pelaksanaan
Pemilu 2009, serta peningkatan keyakinan konsumen dan pendapatan. Inflasi cukup rendah selama tahun 2009,
pada satu sisi, telah menjaga daya beli dan keyakinan masyarakat untuk tetap dapat melakukan konsumsi. Pada
sisi lain, kenaikan gaji dan peningkatan nilai tukar petani semakin memperbaiki daya beli masyarakat sehingga
mendukung masih kuatnya konsumsi.
Peran konsumsi rumah tangga yang cukup kuat juga dipengaruhi oleh dampak positif konsumsi
pemerintah yang cukup besar. Peningkatan terbesar konsumsi pemerintah tumbuh tinggi sebesar 19,25% antara
lain dipengaruhi oleh besarnya pengeluaran terkait Pemilu. Selain itu, pengeluaran konsumsi pemerintah juga
dipengaruhi dengan komitmen pemerintah meningkatkan stimulus fiskal. Beberapa stimulus fiskal yang
memengaruhi konsumsi pemerintah dan kemudian memberikan dampak pengganda kepada perekonomian,

termasuk konsumsi rumah tangga, antara lain adalah implementasi jaring pengaman sosial dalam bentuk
program Bantuan Langsung Tunai (BLT), pengurangan pajak penghasilan, serta kenaikan gaji dan realisasi ke13 bagi PNS/TNI. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan konsumsi pemerintah mencapai 15,7%, meningkat
dari 10,4% pada tahun 2008.
Selain itu, peran konsumsi juga cukup terlihat dalam Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada PDB
sektoral banyak dipengaruhi oleh pertumbuhan yang tetap tinggi pada sektor non-tradable seperti sektor listrik,
gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa. Sektor listrik,
gas dan air bersih serta sektor pengangkutan dan komunikasi yang masing-masing tumbuh sebesar 13,78% dan
15,53%. Berbeda dengan kinerja sektor nontradable tersebut, sektor tradable seperti sector industri pengolahan
cukup signifikan terimbas gejolak eksternal. Pertumbuhan sektor industri pengolahan, yang memiliki pangsa
sekitar 45% terhadap ekspor nasional, turun pada tahun 2009 menjadi 2,1%. peningkatan kinerja yang cukup
signifikan ditunjukkan oleh sektor pertambangan yang mencatat peningkatan pertumbuhan menjadi 4,37%
sejalan dengan dampak positifnya pertumbuhan ekspor batubara.
Satu faktor yang tetap mendukung kuatnya permintaan domestik ini adalah peran positif UMKM. Salah
satu indikator yang menunjukkan peran UMKM ialah masih kuatnya pertumbuhan kredit UMKM pada tahun
2009 yang mencapai 16,3%. Meskipun di sisi lain kredit non-UMKM hanya tumbuh sebesar 4,0%.
Peran kuat permintaan domestik juga didukung oleh beberapa penyesuaian perilaku sektor swasta
domestik. Pada satu sisi, pelaku swasta domestik merespons gejolak ekonomi global dengan meningkatkan
efisiensi. Pada sisi lain, penyesuaian juga dilakukan dengan memanfaatkan dana internal yang tidak sensitif
terhadap suku bunga sebagai respons suku bunga kredit perbankan yang masih cukup tinggi.1[5]
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010
Di tengah kondisi perekonomian global yang semakin kondusif tersebut, perekonomian Indonesia pada
tahun 2010 tumbuh mencapai 6,1%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya yang
tercatat sebesar 4,6%. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat tersebut didukung oleh peran investasi dan ekspor
yang meningkat. Peningkatan investasi pada tahun 2010 semakin menggembirakan mengingat sifatnya yang
menambah kapasitas perekonomian sebagaimana diindikasikan oleh meningkatnya peran investasi
nonbangunan, khususnya investasi mesin. Sementara itu, perbaikan kinerja ekspor juga diikuti oleh semakin
terdiversifikasinya komoditas dan pasar tujuan ekspor. Hal ini tercermin pada membaiknya kinerja sektor-sektor
yang menghasilkan komoditas yang diperdagangkan secara internasional (tradable sector), khususnya industri
pengolahan. Meskipun demikian, sektor nontradable masih menjadi sektor penopang utama pertumbuhan
ekonomi, terutama sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Perkembangan yang kondusif di perekonomian global tersebut mendukung kinerja Neraca Pembayaran
Indonesia (NPI) 2010. Pada tahun laporan, NPI mencatat surplus yang cukup besar mencapai 30,3 miliar dolar
AS, baik yang bersumber dari transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial. . Ekspor mencatat
pertumbuhan yang tinggi sehingga mampu mempertahankan surplus transaksi berjalan di tengah impor dan
pembayaran transfer pendapatan yang meningkat tajam. Sementara itu, seiring dengan kuatnya aliran masuk
modal asing, neraca transaksi modal dan finansial mencatat surplus yang sangat besar dengan komposisi yang
semakin membaik. Hal ini tercermin dari kuatnya aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung
(FDI) yang meningkat tajam, di samping investasi dalam bentuk portofolio yang juga meningkat cukup
signifikan. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir tahun 2010 tercatat sebesar 96,2
miliar dolar AS, cukup memadai untuk mendukung kebutuhan impor dan kewajiban eksternal, serta
memberikan keyakinan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Sejalan dengan perkembangan NPI tersebut, nilai tukar rupiah mencatat apresiasi dan disertai volatilitas
yang cukup rendah. Selama tahun 2010, nilai tukar rupiah secara rata-rata menguat 3,8% dibanding dengan
akhir tahun 2009 menjadi Rp 9.081 per dolar AS. Kinerja nilai tukar rupiah tersebut didukung oleh terjaganya
persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia sebagaimana diindikasikan oleh meningkatnya peringkat
utang Pemerintah dan indeks risiko yang membaik. Apresiasi nilai tukar rupiah pada tahun laporan juga cukup
moderat dibandingkan dengan negara-negara kawasan sehingga tidak mengganggu kinerja ekspor secara
signifikan. Hal ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan dalam mengelola arus masuk modal asing dalam
rangka memperkuat daya tahan perekonomian dalam menghadapi pembalikan arus modal jangka pendek.
Inflasi Indeks Harga Komsumen (IHK) pada tahun 2010 tercatat 6,96%. Komoditas bahan pokok
seperti beras dan aneka bumbu memberi kontribusi kenaikan harga yang sangat besar sehingga inflasi kelompok
volatile food mencapai 17,74%, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar
3,95%. Meski pada tahun laporan terdapat lonjakan inflasi volatile food, inflasi inti tetap terjaga pada level
yang cukup rendah, yaitu 4,28%. Hal ini didukung oleh terkendalinya faktor fundamental sebagaimana
diindikasikan oleh nilai tukar rupiah yang menguat, ekspektasi inflasi yang terjaga, serta kapasitas
perekonomian yang sejauh ini masih dapat memenuhi peningkatan permintaan. Sementara itu, kelompok
administered prices menunjukkan inflasi yang moderat, yaitu sebesar 5,40%.
Stabilitas sistem keuangan pada tahun 2010 tetap terjaga. Industri perbankan semakin solid sebagaimana
tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) dan rasio kredit bermasalah (Non
Performing Loan) yang rendah. Selain itu, intermediasi perbankan juga semakin membaik tercermin dari
pertumbuhan kredit yang mencapai 22,8%. Kinerja pasar saham dan pasar obligasi didukung oleh menurunnya
risiko investasi dan relatif menariknya imbal hasil sehingga menarik masuknya arus modal asing ke instrumen
tersebut. Di pasar saham, meningkatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditopang oleh
membaiknya kinerja laporan keuangan emiten dan struktur pasar yang semakin kondusif. Perkembangan
tersebut mendorong IHSG mencatat kenaikan tertinggi di kawasan. Di pasar obligasi, perbaikan tercermin dari
peningkatan volume perdagangan dan penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sejak awal tahun,
yang antara lain disebabkan oleh kesinambungan fiskal yang relatif terjaga. Di pasar uang, likuiditas meningkat
dan suku bunga cenderung mengarah ke batas bawah koridor. Hal ini mengindikasikan melimpahnya likuiditas
di sektor perbankan dan preferensi perbankan yang masih cenderung menempatkan kelebihan likuiditasnya
pada instrumen jangka pendek.2[6]

Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2011


Di tengah ketidakpastian pemulihan ekonomi global, perekonomian Indonesia tumbuh menguat. Produk
Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh meningkat dari 6,2% pada tahun 2010 menjadi 6,5% pada tahun
2011. Tingkat pertumbuhan tersebut merupakan pencapaian tertinggi pascakrisis tahun 1997. Stabilitas
makroekonomi yang terjaga, seperti rendahnya inasi, terjaganya volatilitas nilai tukar, serta relatif stabilnya
kondisi politik dan keamanan dalam negeri menyokong tingginya kinerja perekonomian tersebut.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi terutama berasal dari konsumsi rumah tangga
yang masih berdaya tahan dan investasi yang tumbuh cukup tinggi. Daya beli yang tetap terjaga, sejalan dengan
tingkat inasi yang cukup rendah serta pendapatan masyarakat yang meningkat menjadi faktor pendorong
kuatnya konsumsi rumah tangga. Secara umum perbaikan penghasilan masyarakat tercermin dari meningkatnya
pendapatan per kapita yang kini telah mencapai 3.543 dolar AS. Dengan kondisi tersebut, konsumsi rumah
tangga mampu tumbuh sebesar 4,7%, lebih tinggi dari rata-ratanya 4,4%. Hal tersebut sejalan dengan
meningkatnya penyerapan tenaga kerja pada sektor formal dan meningkatnya jumlah pekerja berpenghasilan
2

menengah ke atas serta membaiknya nilai tukar petani. Peningkatan pendapatan juga terjadi pada upah buruh
bangunan seiring dengan meningkatnya aktivitas investasi di sektor konstruksi. Di samping itu, peningkatan
upah minimum provinsi (UMP) juga menjadi faktor pendukung kuatnya konsumsi rumah tangga. Rata-rata
peningkatan UMP riil tahun 2011 di seluruh provinsi sekitar 5,0%, lebih ti nggi dari tahun lalu yang hanya
sebesar 1%.
Kontribusi pertumbuhan konsumsi Pemerintah pada pertumbuhan PDB tahun 2011 mengalami
peningkatan. Konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 3,2%, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya
sebesar 0,3%. Hal ini sejalan dengan meningkatnya de sit Pemerintah dalam APBN dari 0,6% dari PDB pada
2010 menjadi 1,2% dari PDB pada 2011. Peningkatan konsumsi Pemerintah berasal dari penyerapan
pengeluaran yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pengeluaran belanja Pemerintah terutama
ditujukan untuk belanja pegawai dan transfer ke daerah. Sementara itu, belanja barang baru terakselerasi pada
akhir tahun.
Sementara itu, kondisi fundamental makroekonomi Indonesia yang cukup terjaga mendukung semakin
kondusifnya iklim usaha dan meningkatkan optimisme dunia usaha sehingga mendorong aktivitas investasi.
Dengan kondisi yang lebih kondusif tersebut, investasi tumbuh meningkat menjadi 8,8%. Meningkatnya
investasi tersebut juga merupakan respons dunia usaha terhadap tingginya utilisasi kapasitas seiring dengan
kuatnya permintaan domestik maupun ekspor. Selain itu, peningkatan investasi tahun ini dipengaruhi oleh
penguatan nilai tukar rupiah yang mendorong peningkatan impor barang modal.
Selain konsumsi rumah tangga dan investasi, Ekspor Indonesia yang tetap berkinerja baik, di tengah
melemahnya ekonomi global, juga turut andil dalam membangun perekonomian Indonesia. Terjaganya kinerja
ekspor tidak terlepas dari keberhasilan upaya diversikasi negara tujuan ekspor, khususnya ke negara-negara
emerging markets di Asia. Dengan diversikasi tersebut ekspor mampu tumbuh tinggi mencapai 13,6%, jauh di
atas historisnya 7,5%.
Pada tahun 2011 pertumbuhan sektor tradables mencapai 4,5%, meningkat cukup signikan
dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 4,0%. Sementara itu, pertumbuhan sektor non-tradables
tumbuh tinggi mencapai 8,2%, relatif sama dengan pertumbuhan tahun 2010. Seiring dengan peningkatan
pertumbuhan yang lebih cepat, peran sektor tradables pada pertumbuhan ekonomi juga semakin meningkat,
meskipun masih tetap didominasi oleh sektor non-tradables.
Pertumbuhan ekonomi yang meningkat disertai peningkatan peran daerah luar Jawa. Peranan daerah luar
Jawa dalam perekonomian meningkat mencapai 42,3% dibandingkan dengan historisnya. Membaiknya
pertumbuhan di daerah, mendorong penguatan permintaan domestik yang tercermin dari konsumsi dan investasi
yang perannya terus meningkat di seluruh daerah. Perkembangan pada tahun 2011 menunjukkan hampir semua
daerah tumbuh meningkat kecuali kawasan yang mengalami gangguan teknis pertambangan, seperti dialami
oleh kawasan Kalimantan dan Bali Nusa Tenggara
DATA PERTUMBUHAN EKONOMI PER KUARTAL HINGGA 2013
Pemerintah mengakui sulit mengejar target pertumbuhan yang ditetapkan dalam APBN-P 2014 yakni
sebesar 5.5 persen. Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro bahkan memperkirakan Indonesia harus
bekerja keras mengejar pertumbuhan di level 5.3 persen. Kita mencoba realistis. Mudah-mudahan di semester
II bisa memperbaiki jadi sedikit bisa ke 5.3 persen. Outlook range kami di 5.2-5.3 persen, tutur Bambang,
pekan ini.
Dia menjelaskan Indonesia tidak bisa memaksa pertumbuhan supaya bisa di atas 5.3 persen karena sumbangan
dari belanja pemerintah dan ekspor belum akan siginifkan pada tahun ini. Kondisi tersebut membuat
pertumbuhan ekonomi kuartal I dan II/2014 hanya di level 5.22 persen dan 5.12 persen.

Year
2014
2013
2012
2011
2010
2009

Indonesia's Quarterly GDP Growth 20092014 (annual % change):


Quarter I
Quarter II
Quarter III
Quarter IV
5.22
5.12
6.03
5.89
5.62
5.78
6.29
6.36
6.16
6.11
6.45
6.52
6.49
6.50
5.99
6.29
5.81
6.81
4.60
4.37
4.31
4.58

Source: Statistics Indonesia (BPS)

Gross Domestic Product of Indonesia 2006-2013:


2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
GDP
285.9 364.6 432.1 510.2 539.4 706.6 846.8 878.0
(in billion USD)
GDP
5.5
6.3
6.1
4.6
6.1
6.5
6.2
5.8
(annual percent change)
GDP
per
Capita
1,643 1,923 2,244 2,345 2,984 3,467 3,546 3,468
(in USD)
Sources: World Bank, International Monetary Fund (IMF) and Statistics Indonesia (BPS)

Sebagai informasi, pada kuartal I/2014, belanja pemerintah hanya tumbuh negatif (0.7 persen) jauh lebih rendah
dibandingkan kuartal II/2013 yakni 2.2 persen. Sementara itu, ekspor pada kuartal II/2014 hanya tumbuh
negatif (1.0 persen) sementara pada kuartal II/2013 bisa 4.8 persen.
Namun, Bambang berharap ekspor akan sedikit membaik di semester II sehingga bisa mendorong pertumbuhan
ekonomi. Terlebih, mulai Agustus, diperkirakan sudah ada beberapa perusahaan seperti PT Freeport Indonesia
yang mengekspor mineral konsentrat. Nilai ekspor pun bisa terdongkrak. Menurut data Badan Pusat Statistik
(BPS), nilai ekspor semester I/2014 hanya menembus USD $88.83 miliar atau turun 2.46 persen dibandingkan
semester I/2013.
Mudah-mudahan di semester II akan rebound ekspornya dengan mulainya ekspor tambang jadi mudahmudahan bisa kembali ke surplus, papar Bambang.
Merujuk pada data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam empat tahun terakhir hampir selalu meleset
dari target, kecuali di tahun 2010 di mana pertumbuhan ekonomi justru jauh di atas targetnya. Dalam setahun
terakhir, Indonesia bahkan kesulitan mengejar pertumbuhan di atas 6 persen. Melemahnya investasi serta ekspor
menjadi salah satu penyebabnya. Investasi melambat karena keputusan pemerintah dan Bank Indonesia untuk
menstabilkan defisit transaksi berjalan. Upaya tersebut salah satunya adalah dengan menaikkan suku bunga
acuan menghambat pertumbuhan investasi. Sementara itu, ekspor anjlok karena pemberlakua larangan ekspor
mineral mentah per 12 Januari 2014 menyusul diberlakukannya UU No.4 Tahun 2009 Mengenai Minerba.
Padahal, ekspor mineral mentah merupakan komoditas andalan Indonesia.

TRANSFORMASI STRUKTURAL EKONOMI INDONESIA


Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk sebanyak 237,56 juta jiwa lebih menurut data
sensus penduduk tahun 2010 lalu. Dengan jumlah penduduk yang tinggi tersebut, Indonesia mampu menempati

posisi ke-4 di dunia dari peringkat negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Jumlah penduduk yang tinggi
tersebut dapat menjadi keuntungan atau bahkan kerugian bagi Indonesia kedepannya.
Salah satu keuntungan yang timbul dari jumlah penduduk yang tinggi tersebut adalah demographic
dividend atau bonus demografi. Demographic dividend adalah suatu pertumbuhan yang potensial dalam suatu
perekonomian negara yang dihasilkan oleh perubahan struktur umur penduduknya. Pertumbuhan ekonomi akan
meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) dan diiringi pula oleh
penurunan tingkat kelahiran serta kematian. Indonesia diproyeksikan akan mengalami masa transisi demografi
yang paling optimal (biasa disebut window of opportunity) pada tahun 2020 hingga 2030, dimana 100 penduduk
usia produktif hanya akan menanggung sekitar 47 penduduk usia tidak produktif. Dengan angka ketergantungan
yang rendah, maka produktifitas penduduk usia produktif dapat disumbangkan kedalam pertumbuhan ekonomi
negara, dan negara dapat mencicipi imbas dari demographic dividend ini.
Pemerintah harus serius dalam menangani ledakan penduduk usia produktif ini, seluruh penduduk usia
produktif harus diberdayakan seoptimal mungkin. Dengan adanya momentum ini, Indonesia diyakini dapat
bangkit dari keterpurukan di segala bidang baik ekonomi, sosial, budaya dan yang lainnya. Seiring dengan
ledakan penduduk usia produktif, perubahan struktur perekonomian Indonesia pun mulai tampak perlahan
dari tahun ke tahun. Grafik 1 menjelaskan persebaran tenaga kerja di tiap sektor. Sebelum tahun 2008, sektor
pertanian masih mendominasi kegiatan perekonomian nasional, terdapat lebih dari 40 juta tenaga kerja yang
bekerja pada sektor ini. Namun, pada tahun 2009 keatas sektor jasa mulai menunjukkan tren peningkatan dan
melampaui jumlah tenaga kerja sektor pertanian, sedangkan sektor pertanian mulai merangkak turun kebawah.
Itu berarti tenaga kerja sektor pertanian mulai beralih ke sektor jasa atau sektor industri.

Akan tetapi, kembali lagi pada inti dari transformasi struktural, yaitu perubahan struktur perekonomian
negara dari sektor agraris ke sektor industri dan ditandai oleh (1) menurunnya pangsa sektor primer (pertanian),
(2) menurunnya pangsa sekunder (industri), (3) pangsa sektor tersier (jasa) cenderung konstan, atau meningkat
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Fenomena yang terjadi pada pangsa tenaga kerja di Indonesia justru
menunjukkan hal yang sebaliknya dimana sektor industri justru hanya menyerap sedikit tenaga kerja dan
cenderung konstan.
Ketimpangan pun dapat dilihat dari daya sumbang tiap sektor terhadap PDB. Grafik 2 menjelaskan mengenai
daya sumbang sektor industri yang mendominasi PDB. Itu berarti sektor industri yang hanya menyerap sedikit
tenaga kerja tetapi mampu menghasilkan PDB yang lebih besar dari kedua sektor yang lainnya. Bahkan, sektor

industri mampu berkontribusi dalam PDB 3 kali lipat lebih tinggi dari sektor pertanian, sektor yang banyak
menyerap tenaga kerja.

Keadaan seperti ini merupakan keadaan yang tidak biasa, dimana transformasi struktural hanya terjadi pada
tingginya daya sumbang sektor industri terhadap PDB, bukan pada jumlah tenaga kerja yang turut serta di
dalamnya. Ketimpangan ini perlu diselesaikan agar sektor yang paling banyak menghasilkan uang, diisi oleh
tenaga kerja yang tinggi pula agar terjadi kesejahteraan dan kemakmuran bagi mayoritas mayarakat Indonesia,
bukan hanya sebagian kecil masyarakat saja.
Indonesia memerlukan pembenahan mutu SDM khususnya bagi penduduk usia produktif (15-65 tahun) agar
tenaga kerja yang berada pada sektor pertanian dan jasa dapat beralih ke sektor industri, serta terjadi
peningkatan pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan pembangunan manusia. Sebelum menentukan arah
kebijakan, pemerintah harus memperhatikan dengan cermat Indeks Pebangunan Manusia (IPM) yang ada agar
kebijakan peningkatan mutu ini dapat berjalan secara efektif dan efisien dalam mengalihkan jumlah tenaga kerja
sektor pertanian dan jasa ke sektor industri. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sendiri merupakan indeks
yang digunakan untuk mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas
hidup. IPM yang tinggi dapat mencerminkan kualitas SDM yang tinggi dari suatu negara. Sehingga jika IPM
suatu negara meningkat setiap tahunnya maka negara tersebut dapat merasakan transformasi struktural yang
lebih optimal pula, seperti meningkatnya jumlah tenaga kerja terdidik, meningkatnya harapan hidup dan
sebagainya. Dengan begitu pengalihan tenaga kerja dari sektor pertanian dan jasa menuju sektor industri dapat
terlaksana.
Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut
mencakup umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan yang layak. IPM Indonesia pada tahun 2013
hanya menempati peringkat 108 dari 187 negara yang ada di dunia dengan poin sebesar 0,684 dan dengan skala
0-1 poin. Dengan poin IPM yang tergolong sedang tersebut, Indonesia tidak patut berbangga hati, hal itu
menandakan bahwa penanganan 3 komponen IPM seperti yang ada pada Bagan 1 masih belum terlalu baik.

Adapula penjelasan komponen Indeks Pembangunan Manusia seperti yang ada pada Bagan 1 adalah sebagai
berikut:
1. Angka Harapan Hidup saat lahir
Angka Harapan Hidup (AHH) pada waktu lahir merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat
ditempuh oleh seseorang selama hidup.
2. Angka Melek Huruf
Angka Melek Huruf adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis huruf
latin dan atau huruf lainnya.
3. Rata-rata lama sekolah
Rata-rata lama sekolah menggambarkan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk usia 15 tahun keatas
dalam menjalani pendidikan formal.
4. Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan
UNDP mengukur standar hidup layak menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) riil yang disesuaikan,
sedangkan BPS dalam menghitung standar hidup layak menggunakan rata-rata pengeluaran per kapita riil yang
disesuaikan dengan formula Atkinson. Pada dasarnya, pengeluaran riil per kapita sama dengan PDB Riil per
kapita berdasarkan PPP (Purchasing Power Parity).
Walaupun masih tergolong sedang, nilai IPM Indonesia telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun
seperti yang tergambar dalam Grafik 3 (garis hijau). Peningkatan IPM Indonesia disebabkan karena adanya
peningkatan pada ketiga komponen IPM. Berikut kondisi komponen-komponen IPM di Indonesia.

Angka Harapan Hidup

Menururut survey terbaru WHO, usia harapan hidup


Indonesia meningkat bila dibandingkan dengan 10
tahun lalu. Usia harapan hidup yang dulu hanya 5060 tahun, pada tahun 2015 telah meningkat menjadi
71 tahun.

Namun demikian, peningkatan tersebut tidak menajadikan peringkat Indonesia naik secara drastis, karena
menurut data BPS pada tahun 2010-2015, Indonesia masih berada pada peringkat 7 terendah pada usia harapan
hidup. Hal ini tentu saja perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Beberapa permasalahan yang
perlu segera diatasi adalah rendahnya anggaran belanja daerah pada fasilitas kesehatan, yaitu rata-rata 1,2% dari
PDB saja, angka ini merupakan angka terendah di dunia. Di sisi lain, masih banyak penduduk yang tidak
memiliki asuransi, yaitu sekitar 49% penduduk Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa Program Jaminan
Kesehatan Nasional yang digalakkan pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan
belum menjangkau seluruh kalangan masyarakat. Kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi
masalah serius, sebagai contoh di Papua, jarak failitas kesehatan terlalu jauh, bahkan mencapai 30 km. Selain
itu, permasalahan kesehatan seperti kesehatan anak dan juga kematian ibu melahirkan Indonesia yang masih
tinggi juga harus segera mendapatkan perhatian khusus.
2. Prosentase Buta Huruf
Angka Buta Huruf Indonesia masih terbilang tinggi
bila dibandingkan dengan negara lain, hal ini dapat
dibuktikan dengan peringkat melek huruf Indonesia
yaitu pada peringkat 85 dari 175 negara di dunia.
Posisi tersebut masih jauh dibawah negara Asia
Tenggara lainnya, yaitu Malaysia, Filiphina,
Thailand, Singapura dan Brunei. Sedangkan sebaran
penduduk buta huruf di Indonesia berdasarkan
pulau dapat dilihat dalam bagan berikut.

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa Kepulauan Maluku dan Papua memiliki angka buta huruf
tertinggi dibandingkan dengan kelima pulau lainnya. Hal ini dapat dikaitkan dengan fasilitas pendidikan serta
infrastruktur daerah tersebut yang masih kurang terjangkau oleh pemerintah. Sedangkan secara keseluruhan,
tingkat buta huruf di Indonesia mayoritas berasal dari penduduk dengan usia lebih dari 45 tahun. Dengan
demikian, selain pemerintah harus meningkatkan angka melek huruf pada penduduk dengan usia dibawah 40
tahun dengan meningkatkan fasilitas pendidikan formal, pemerintah juga harus meningkatkan tingkat melek
huruf pada usia 45 tahun ke atas, yang notabene sudah tidak mungkin lagi mengenyam pendidikan formal. Oleh
karena itu, program pemerintah berupa pendidikan non-formal yaitu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
(PKBM) harus terus digencarkan. Berbagai solusi lain untuk meningkatkan tingkat melek huruf adalah dengan
menggalakkan lagi wajib belajar 9 tahun dan pemberian beasiswa bagi penduduk kurang mampu, membuat
buku-buku bacaan bersubsidi agar dapat terjangkau oleh masyarakat hingga kalangan bawah, serta mendukung
gerakan-gerakan pendidikan yang dilakukan oleh LSM, sanggar belajar, dan lain sebagainya.
3. Rata-Rata Lama Sekolah
Tingkat rata-rata lama sekolah di Indonesia sudah mengalami peningkatan meskipun masih lambat. Pada tahun
2011 rata-rata penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas bersekolah sampai kelas 2 SMP, tahun 2012
naik 1 tingkat menjadi kelas 3 SMP, dan tahun 2013 masih sama seperti tahun sebelumnya hanya meningkat
0,06.
Berbagai program sebenarnya sudah dilakukan pemerintah utuh memajukan sektor pendidikan seperti BOS
(Bantuan Operasional Sekolah), wajib belajar 9 tahun sampai pengadaan anggaran APBN sebesar 20% untuk
bidang pendidikan. Akan tetapi, langkah-langkah tersebut belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
Ada banyak tantangan dalam usaha peningkatan kualitas SDM dalam aspek pendidikan. Tantangan tersebut
antara lain adalah belum meratanya pendidikan. Pendidikan formal belum dirasakan semua kalangan terutama
penduduk miskin. Terdapat kesenjangan tingkat pendidikan antar penduduk dengan tingakat pendapatan
tertentu. Pada tahun 2011 rentang pencapaian APS (Angka Putus Sekolah) 13-15 antara 20% penduduk dengan
pendapatan terendah dengan 20% penduduk berpendapatan tertinggi sebesar 17,01 persen kemudian tahun
berikutnya mengalami penurunan hingga mencapai 12,69 persen pada tahun 2013. Tantangan berikutnya adalah
mahalnya biaya pendidikan. Ketidak mampuan masyarakat untuk membayar biaya pendidikan menyebabkan
putus sekolah kelompok umur 16-18 tahun. Menurunkan tingakat putus sekolah usia 13-15 tahun dan 16-18
tahun harus menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM dalam rangka peningkatan
industriisasi.
4. Pengeluaran Riil Perkapita yang Disesuaikan
Tingginya tingkat pendapatan perkapita suatu negara tidak menjamin keberhasilan pencapaian IPM yang baik
selama masih ada kesenjangan yang besar dalam pemerataan pendapatan perkapita tersebut. Pertumbuhan
perekonomian perlu disertai ukuran pemerataan kesejahteraan untuk dijadikan tolak ukur utama dalam
penentuan keberhasilan pembangunan manusia.
Pengeluaran riil perkapita Indonesia mengalami kenaikan dari tahun ke tahun,tetapi masih jauh dari target yang
ditentukan pemerintah. Selama periode 3 tahun (2011-2013) PPP (Pengeluaran Per Kapita Pertahun ) Indonesia
mengalami peningkatan sebanyak Rp5.310,-, tetapi angka ini masih jauh dari target jangka panjang 2018 yang
ditetapkan sebesar Rp 732.720,-.
Pertumbuhan perekonomian yang ada juga tidak selaras dengan pemerataan sehingga terjadi kegagalan
pencapaian target IPM. Kesenjangan kesejahteraan di Indonesia selama tahun 2009 sampai tahun 2012
mengalami peningkatan (berdasarkan indeks Gini) yaitu dari 0,37 menjadi 0,41. Hal ini tentunya harus menjadi
perhatian khusus pemerintah apalagi dalam menghadapi puncak bonus demografi 15 tahun mendatang.

Tingat kemiskinan merupakan permasalahan utama bisa mejadi salah satu faktor penghalang utama tercapainya
tinggkat IPM yang tinggi. Hal ini karena jika masyarakat miskin, masyarakat tidak akan mampu memenuhi
kebutuhan kesehatan dan pendidikan mereka. Tngkat kemiskinan di Indonesia selama tahun 2011 sampai 2014
mengalami tren penurunan meskipun masih lambat. Penurunan terjadi dari 29,89 juta jiwa (12,36 persen) tahun
2011 menjadi 28,55 juta jiwa (11,47 persen) pada tahun 2013.