Anda di halaman 1dari 38

KELOMPOK 6

HERLINA
NURUL IZZA
NURUL FATMAWATI
NIA INDRIANI TENRI P.
IMRAN

Latar Belakang
Uni Eropa sebagai Kiblat MEA 2015
Kesediaan Indonesia bersama negara anggota ASEAN lainnya membentuk
AEC pada tahun 2015 sebagai bentuk integrasi ekonomi kawasan yang secara
umum akan menyerupai sistem yang telah diterapkan oleh Europan Union (EU).
Pembentukan Masyarakat Ekonomi Eropa dilator belakangi oleh usaha
bangsa-bangsa Eropa untuk membangun kembali perekonomian mereka yang
hancur akibat Perang Dunia II. Pada tahun 1950 Menteri Luar Negeri Prancis,
Robert Schuman berkeinginan menyatukan produksi baja dan batu bara Prancis
dan Jerman dalam wadah kerja sama yang terbuka untuk negara-negara Eropa
lainnya, sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya perang.
Pada tanggal 18 April 1951 terbentuklah komunitas baja dan batu bara
dengan di tandai penandatanganan perjanjian European Coal and Steel
Community (ECSC) atau Masyarakat Batu Bara dan Baja Eropa yang terdiri dari
enam negara yaitu Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, Luxemburg dan Italia.
Perjanjian ini berlaku sejak 25 Juli 1952.
Pada tanggal 25 Maret 1957 ditandatangani Traktat Roma dan Traktat
pembentukan

European Atomic

Energy

Community

(EURATOM)

atau

Masyarakat Energi Atom Eropa yang merupakan dasar hukum bagi pembentukan
Masyarakat Ekonomi Eropa. Pembentukan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE)
secara resmi disahkan dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1958 dengan
tujuan membangun pasar bersama yang dicapai melalui penghapusan berbagai
tarif bea masuk dalam perdagangan di antara keenam negara tersebut (Prancis,
Jerman, Belgia, Luksemburg, Belanda, dan Italia).
Lembaga Masyarakat Ekonomi Eropa atau MEE ini akhirnya berganti nama
menjadi Uni Eropa setelah ditandatanganinya perjanjian Maastrich oleh 12 negara
anggota MEE pada tanggal 7 Febuari 1992. Perubahan nama MEE menjadi Uni
Eropa ini juga mengubah pola organisasi yang lebih terbuka pada negara non
anggota. Perjanjian tersebut membawa Masyarakat Ekonomi Eropa menjadi Uni
Eropa melalui The Treaty on European Union yang mulai dilaksanakan pada 1
Januari 1993. Perubahan nama Masyarakat Eropa menjadi Uni Eropa merupakan
implikasi dari terjadinya peningkatan jangkauan kerjasama, dari kerjasama

ekonomi ke bidang-bidang politik luar negeri. Dalam perjanjian Maastricht, Uni


Eropa terdiri atas tiga pilar, yaitu;

Pilar ekonomi; Pasar Tunggal Eropa menuju Uni Ekonomi dan Moneter
(Economic and Monetary Union/EMU).

Pilar politik; berdasarkan pada kebijakan luar negeri dan keamanan bersama
(Common Foreign and Security Policy/CFSP).

Pilar sosio-hukum; menyangkut peradilan dan masalah dalam negeri


(Justice and Home Affairs/JHA)(Meitha, 2000).
Hal ini membuat organsasi Uni Eropa menjadi lebih terbuka untuk

menerima angota baru dengan dua syarat, pertama, negara baru yang akan
bergabung pada Uni Eropa berada di kawasan benua Eropa. Syarat kedua ialah
negara yang akan bergabung pada organisasi Uni Eropa harus menegakkan Hak
Asasi Manusia, bersedia menjalankan anggaran dan undang-undang yang ada di
Uni Eropa, serta menegakan prinsip-prinsip demokrasi dan hukum. Sejak
organisasi Masyarakat Ekonomi Eropa ini bertransformasi menjadi Uni Eropa,
banyak negara di kawasan Eropa yang bergabung dengan organisasi multinasional
ini. Saat ini, organisasi Uni Eropa ini memiliki 27 anggota. Negara baru yang
bergabung dalam Uni Eropa antara lain ialah Swedia , Estonia, Finlandia, Latvia,
Plandia, Lituania, Malta, Austria, Slovenia, Republik Ceko, Slowakia, Hongaria,
Siprus, Bulgaria dan Rumania. Pada tahun 1972, Ingris, irlandia dan Denmark
bergabung, setelah sejumlah kerja sama yang telah dilaksanaakan. Sebelum
Inggris, Irlandia dan Denmark, pada tahun 1970-an, Yunani Telah bergabung dan
memasukkan Portugal dan Spanyol menjadi anggota Masyarakat Ekonomi Eropa
(Rymond dan Louis, 1913:205).
Uni Eropa kemudian maju pesat menjadi sebuah organisasi yang benarbenar menaungi anggotanya. Masyarakat Ekonomi Eropa telah dapat atau bisa
dikatakan sebagai tonggak awal pembangunan ekonomi atau tulang punggung
perekonomian di Benua Eropa, karena MEE ini mampu membentuk persaudaraan
antar negara-negara di Eropa sehingga perang-perang yang terjadi di Negaranegara Eropa kian mereda, serta menjadikan ekonomi di Eropa semakin membaik.
Selain menjadi tulang punggung perekonomian di Eropa, MEE juga menjadi
contoh dan terbentuknya beberapa organisasi ekonomi di belahan dunia yang lain.

Selain itu, MEE juga merupakan salah satu pelopor terciptanya mata uang tunggal
di satu benua, yaitu Euro. Yang membuat perekonomian Eropa menjadi benua
dengan perekonomian terkuat di dunia.
Terbentuknya ASEAN
ASEAN adalah kepanjangan dari Association of South East Asia Nations.
ASEAN didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok yang diprakarsai oleh 5
menteri luar negeri dari wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia,
Thailand, Filipina dan Singapura. Negara-negara lain yang kemudian bergabung
ke dalam ASEAN adalah Brunei Darussalam bergabung pada tanggal 8 Januari
1984, Vietnam pada tanggal 28 Juli 1995, Laos dan Myanmar pada tanggal 23 Juli
1997, dan Kamboja pada tanggal 30 April 1999.
Dalam Deklarasi Bangkok tahun 1967 disebutkan bahwa tujuan
pembentukan ASEAN adalah:
1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial budaya di kawasan
Asia Tenggara;
2. Memajukan perdamaian dan stabilitas regional Asia Tenggara;
3. Memajuan kerja sama dan saling membantu kepentingan bersama dalam
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi;
4. Memajukan kerja sama di bidang pertanian, industri, perdagangan,
pengankutan dan komunikasi;
5. Memajukan penelitian bersama mengenai masalah-masalah di Asia Tenggara;
6. Memelihara kerja sama yang lebih erat dengan organisasi internasional dan
regional.
Diawali pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-2 tanggal 15
Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia, telah disepakatinya Visi ASEAN
2020, para Kepala Negara Anggota ASEAN menegaskan bahwa ASEAN akan: (1)
menciptakan kawasan ekonomi yang stabil, makmur, dan memiliki daya saing
tinggi yang ditandai dengan arus lalu lintas barang, jasa-jasa, dan investasi yang
bebas, arus lalu lintas modal yang lebih bebas, pembangunan ekonomi yang
merata serta mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi, (2)
mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang jasa, dan (3) meningkatkan
pergerakan tenaga profesional dan jasa lainnya secara bebas di kawasan.

Selanjutnya pada KTT ASEAN ke-9 di Bali pada tahun 2003 dihasilkan Bali
Concord II, yang menyepakati pembentukan

ASEAN Community untuk

mempererat integrasi ASEAN. Terdapat tiga komunitas dalam ASEAN


Community yang disesuaikan dengan tiga pilar didalam ASEAN Vision 2020,
yaitu pada bidang keamanan politik (ASEAN Political-Security Community),
ekonomi (ASEAN Economic Community), dan sosial budaya (ASEAN
SocioCulture Community). ASEAN Economic Community (AEC ) adalah tujuan
akhir integrasi ekonomi seperti yang dicanangkan dalam ASEAN Vision 2020,
adalah : "To create a stable,prosperous and highly competitive ASEAN economic
goods, services, investment, skill labor economic development and reduced
poverty and socio-economic disparities in year 2020.
Alasan Percepatan MEA
Pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Januari 2007, komitmen
untuk mewujudkan Komunitas ASEAN dipercepat dari tahun 2020 menjadi tahun
2015 dengan ditandatanganinya Cebu Declaration on the Acceleration of the
Establishment of an ASEAN Community by 2015. Tujuan dari pembentukan
Komunitas ASEAN adalah untuk lebih mempererat integrasi ASEAN dalam
menghadapi perkembangan konstelasi politikinternasional. ASEAN menyadari
sepenuhnya bahwa ASEAN perlu menyesuaikan cara pandangnya agar dapat lebih
terbuka dalam menghadapi permasalahan-permasalahan internal dan eksternal.
ASEAN Economic Community (AEC) merupakan upaya penyatuan dan
penguatan

kerjasama

ekonomi

yang

menjadi

gerbang

kesuksesan

dan

meningkatnya kemakmuran negara-negara ASEAN. AEC akan menjadi tujuan


dari integrasi ekonomi regional pada tahun 2015 dengan membuka kesempatan
bagi negara-negara yang siap dalam menghadapi penerapan sistem liberalisasi
dalam sistem perkenomiannya baik dalam bidang perdagangan, jasa, investasi dan
pergerakan sumber daya manusia yang lebih bebas.
Pada KTT ASEAN ke-13, November 2007 di Singapura, para pemimpin
ASEAN menyepakati untuk menandatangani Piagam ASEAN, yang menandai
komitmen para Kepala Negara ASEAN untuk membangun sebuah komunitas
bersama yang didasarkan pada kerja sama regional dan integrasi. Sejalan dengan
ini, blueprint ASEAN Political and Security

Community diadopsi sebagai

roadmappembentukan APSC 2015. ASEAN Economic Community (AEC)


Blueprint bertujuan untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, sejahtera dan
sangat kompetitif, memungkinkan bebasnya lalu lintas barang, jasa, investasi dan
aliran modal. Selain itu, juga akan diupayakan kesetaraan pembangunan ekonomi
dan pengurangan kemiskinan serta kesenjangan sosial ekonomi pada tahun 2015.
Pada KTT ke-14 ASEAN tanggal 1 Maret 2009 di Hua Hin, Thailand, para
Pemimpin ASEAN menandatangani Roadmap for an ASEAN Community (20092015) atau peta-jalan Menuju ASEAN Community (20092015), sebuah gagasan
baru untuk mengimplementasikan secara tepat waktu AEC Blueprint (Cetak-Biru
Komunitas Ekonomi ASEAN). AEC Blueprint ditandatangani oleh semua kepala
pemerintahan ASEAN yang berisi langkah-langkah konkrit yang harus
dilaksanakan oleh semua negara anggota ASEAN dalam mewujudkan AEC
beserta jadwal pelaksanaannya. AEC Blueprint merupakan rancang utama
(masterplan) untuk membentuk Komunitas ASEAN tahun 2015 dengan
mengidentifikasi langkah-langkah integrasi ekonomi yang akan ditempuh melalui
implementasi berbagai komitmen yang rinci dengan sasaran dan jangka waktu
yang jelas.
AEC Blueprint
AEC Blueprint berfungsi sebagai rencana induk yang mengarahkan
pembentukan AEC 2015. Blueprint tersebut mengidentifikasikan karakteristik
dan elemen AEC dengan target dan batas waktu yang jelas untuk pelaksanaan
berbagai tindakan serta fleksibilitas yang disepakati untuk mengakomodasi
kepentingan seluruh negara anggota ASEAN. Dengan mempertimbangkan
pentingnya perdagangan eksternal bagi ASEAN dan kebutuhan masyarakat
ASEAN secara keseluruhan untuk tetap berpandangan terbuka. AEC Blueprint
dirancang untuk transformasi negara anggota ASEAN kepada a singel market
and production base, a highly competitive economic region, a region of equitable
economic development, and a region fully integrated into global Economic.
AEC Blueprint merupakan pedoman bagi negara-negara ASEAN dalam
mewujudkan integrasi ekonomi kawasan. AEC Blueprint memuat empat pilar
utama, yaitu:

1. ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung
dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan
aliran modal yang lebih bebas;
2. ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi, dengan elemen
peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual,
pengembangan infrastruktur, perpajakan, dan e-commerse;
3. ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan
elemen pengembangan usaha kecil dan menengah, dan prakarsa integrasi
ASEAN; dan
4. ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian
global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di
luar kawasan, dan meningkatkan peran serta produksi global.
AEC dalam mewujudkan integrasi ekonomi kawasan yakni membantu dan
mengawasi seluruh negara anggota ASEAN untuk melakukan liberalisasi
perdagangan barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil secara bebas, dan arus
modal yang lebih bebas, sebagaimana digariskan dalam AEC Blueprint.
Blueprint menggambarkan sebuah kesiapan dan langkah yang harus dicapai
dan jadwal pembentukan AEC. Dalam AEC Blueprint disebutkan telah
memberikan

kesempatan

negara-negara

yang

belum

siap

menghadapi

perdagangan bebas ini. Setiap enambulan antara anggota ASEAN akan melakukan
pertemuan guna mengidentifikasi masalah yang dihadapi dan akan membantu
negara-negara yang belum siapseperti Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja.
Dalam blueprint ini setidaknya terdapat 12 (dua belas) sektor yang menjadi
prioritas integrasi dalam AEC yaitu: produk industri, jasa penerbangan, otomotif,
E-ASEAN, elektronika, perikanan, peralatan kesehatan, produk berbahan baku
karet, tekstil dan garmen, pariwisata, produk berbahan baku kayu, dan jasa
logistik.
Terdapat tujuh poin penting yang dituangkan dalam AEC Blueprint untuk
menjelaskan mekanisme AEC 2015 dalam pembentukan pasar tunggal dan basis
produksi beserta jadwal strategis yang akan dicapainya,yaitu:
a. Penghapusan Hambatan Tarif (Elimination of Tariffs)

1) Menghapuskan bea masuk bagi semua barang impor, kecuali barang yang
tergolong dalam sensitive list (SL) and highly sensitive list (HSL) pada
tahun 2010 untuk ASEAN 6 (Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina,
Brunei) dan tahun 2015 bagi CLMV (Cambodia, Laos, Myanmar,
Vietnam) dengan kelonggaran sampai tahun 2018 untuk beberapa sensitive
products.
2) Menghapuskan bea masuk untuk barang dalam kelompok sektor prioritas
pada tahun 2007 bagi ASEAN 6 dan 2012 bagi CLMV.
3) Memasukkan barang yang masih ada dalam sensitive list (SL) ke dalam
skema CEPT dengan mengurangi tarif menjadi 0-5 persen pada 1 Januari
2010 untuk ASEAN 6, 1 Januari 2013 untuk Vietnam, 1 Januari 2015
untuk Laos dan Myanmar, serta 1 januari 2017 untuk Kamboja.
4) Memasukkan barang dalam kelompok general exeption list (GEL) sesuai
dengan CEPT agreement.
b. Penghapusan Hambatan Non Tarif (Elimination of Non Tariff Barriers)
ASEAN telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam proses pengurangan
tarif, maka selanjutnya kerjasama dalam skema AEC akan lebih difokuskan pada
penghapusan hambatan non-tarif.
Langkah-langkah strategis yang akan diimplementasikan untuk program ini
adalah:
1) Meningkatkan transparansi dengan mematuhi protocol on notification
procedure dan membuat mekanisme pengawasan yang lebih efektif.
2) Mematuhi komitmen standstill (tidak lebih mundur dari komitmen saat ini)
dan roll-back (lebih maju dari komitmen saat ini) dalam hambatan nontarif.
3) Menghapus semua hambatan non-tarif pada tahun 2010 untuk ASEAN 5
(Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Brunei), tahun 2012 untuk
Filipina, tahun 2015 untuk CLMV dengan kelonggaran sampai 2018.
4) Meningkatkan transparansi dalam pengukuran-pengukuran non-tarif.
5) Bekerja sama menuju situasi di mana regulasi regional ASEAN sesuai
dengan yang berlaku di dunia internasional.
c. Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin/RoO)

Dalam sistem produksi yang sudah terintegrasi, penetapan RoO cukup


kompleks. Secara prinsip, setiap barang berasal dari suatu negara, namun
terkadang dalam proses produksinya melibatkan beberapa negara melalui
pengiriman input atau tempat produksi yang tersebar. Penentuan asal suatu
barang ditetapkan berdasarkan sumbangan nilai tambahannya terhadap negara
pengekspor. Jika barang yang di ekspor memberikan nilai tambah sekurangkurangnya 40 persen terhadapnegara pengekspor, maka barang tersebut bisa
dikatakan sebagai barang asal negara pengekspor tersebut.
Pengaturan RoO sangat penting dalam menopang aliran bebas barang
ASEAN, khususnya dalam penentuan apakah suatu barang bisa memperoleh
keringanan tarif atau tidak. Langkah-langkah yang akan diimplementasikan
dalam ASEAN Economic Community (AEC) untuk masalah RoO meliputi:
1) Mengubah dan memperluas secaraberkelanjutan CEPT RoO untuk
merespon perubahan dalam proses produksi regional, termasuk melakukan
penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.
2) Menyederhanakan Operational Certification Procedure (OCP) untuk CEPT
RoO dan pengembangannya, termasuk pengenalan proses fasilitasinya
seperti the electronic processing of certificates of origin dan harmonisasi
prosedur-prosedur nasional.
3) Mengevaluasi RoO yang telah diimplementasikan oleh anggota ASEAN
secara individual maupun secara bersama-sama.
d. Fasilitas Perdagangan (Trade Facilitation)
Fasilitas perdagangan diarahkan untuk terciptanya proses perdagangan dan
kepabeanan yang sederhana, terharmonisasi dan terstandarisasi baik di tingkat
regional maupun internasional.Beberapa langkah yang akan diterapkan dalam
upaya fasilitasi perdagangan diantaranya:
1) Membangun sebuah program fasilitasi perdagangan yang komprehensif
untuk

menyederhanakan,

mengharmonisasikan

dan

menstandarkan

prosedur perdagangan dan kepabeanan serta informasi lainnya yang


berkaitan dengan arus perdagangan barang;
2) Mendirikan pusat tempat fasilitasi perdagangan dan sebuah mekanisme
kerja sama fasilitasi perdagangan;

3) Mempromosikan transparansi semua aktivitas dan intervensi oleh para


stakeholders dalam transaksi perdagangan internasional.
e. Penyatuan Kepabeanan (Custom Integration)
Dalam dokumen ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint, untuk
mencapai tujuan penyatuan kepabeanan, terdapat beberapa langkah yang akan
ditempuh:
1) Modernisasi teknik-teknik kepabeanan. Prosedur kepabeanan akan dibuat
sederhana dan sesuai dengan standar internasional melalui implementasi
ASEAN Cargo Clearance and ASEAN Custom Declaration Document
tahun 2007;
2) Mendirikan sistem transit kepabeanan ASEAN untuk memfasilitasi
pergerakan barang;
3) Membentuk sistem kepabeanan ASEAN yang berkaitan dengan masalah
kepabeanan khusus seperti Temporary Admission, Outward Processing and
Inward Processing yang ditujukan untuk memfasilitasi integrasi produksi
dan supply chain;
4) Mengadopsi standar

internasional untuk penyeragaman dalam

pengelompokan sistem tarif, sinkronisasi sistem penilaian kepabeanan dan


penentuan asal barang serta pertukaran informasi;
5) Mengimplementasikan ASEAN e-Custom;
6) Mempromosikan kerja sama untuk efisiensi dan efektivitas kepabeanan
yang lebih baik.
f. ASEAN Singel Window (ASW)
Proses pembentukan ASW didahului oleh keharusan bagi setiap anggota
ASEAN untuk membentuk National Singel Window (NSW), yaitu suatu sistem
tunggal dalam pengumpulan, pemrosesan, dan pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan data dan informasi custome clearance of cargo. Dengan sistem
ini, maka dalam kegiatan perdagangan intra ASEAN diharapkan akan bisa
mengurangi waktu dari biaya-biaya transaksi (transaction time and cost),
sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing. Aksi nyata yang
akanditempuh ASEAN dalam mewujudkan ASW ini meliputi:
1) ASEAN akan mengoperasionalkan NSW paling lambat 2012;

2) Standarisasi elemen-elemen data sesuai World Customs Organization


(WCO) data model, WCO data set dan United Nation Trade Data Elements
Directory (UNTDED).
g. Harmonisasi standard dan pengaturan teknis penghambat perdagangan
Harmonisasi standar diarahkan untuk mencapai biaya produksi yang efisien
dan efektif di kawasan ASEAN. Langkah-langkah yang akan ditempuh untuk
mencapai hal ini adalah:
1) Harmonisasi standar, regulasi teknisdan penyesuaian prosedur penilaian
sesuai standar international;
2) Mengimplementasikan Mutual Recognition Arrangements (MRAs) untuk
penilaian sektor tertentu sebagai diidentifikasikan dalam framework kerja
sama ASEAN dalam Mutual Recognition Arrangements;
3) Memperluas infrastruktur teknis dan kompetensi dalam pengujian
laboratorium, kalibrasi, inspeksi, sertifikasi, dan akreditasi berdasarkan
standar regional dan internasional;
4) Memperkuat sistem pengawasan;
5) Mengembangkan capacity building program. Indonesia akan memiliki
peran yang sangat besar di ASEAN karena menjadi salah satu negara
dengan populasi terbesar di dunia. Kondisi ini membuat kawasan ASEAN
mendapat efek samping yang positif, apabila AEC sudah berjalan secara
terpadu. Pasar tunggal ASEAN yang secara penuh sudah terintegrasi,
membuat kebijakan-kebijakan berprinsip keterbukaan pasar mampu
menjawab tantangan global. ASEAN akan menjadi highly competitive
economic integrated region, sehingga arus investasi dan ASEAN
productionbase akan berkembang pesat.
Kesiapan Indonesia menghadapi MEA
Sebagai salah satu negara terbesar di ASEAN, Indonesia harus dapat
membuktikan pengaruhnya dalam keterlibatan di AEC dan membawa kekuatan di
dalam mewujudkan cita-cita ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi
yang kuat di dunia.
Institute of Management Development (IMD) yang merupakan lembaga
pendidikan bisnis terkemuka di Swiss melaporkan hasil penelitiannya berjudul

IMD World Talent Report 2015. Penelitian ini berbasis survei yang menghasilkan
peringkat tenaga berbakat dan terampil di dunia tahun pada tahun 2015. Dalam
laporan tersebut dinyatakan bahwa peringkat Indonesia turun 16 peringkat dari
peringkat ke-25 pada tahun 2014 menjadi peringkat ke-41 pada tahun 2015. Posisi
Indonesia berada jauh di bawah posisi negara tetangga seperti Singapura,
Malaysia, bahkan Thailand. Posisi Indonesia juga hanya sedikit lebih baik dari
Filipina. Peringkat ini dihitung dengan bobot tertentu dengan mempertimbangkan
tiga faktor yaitu faktor pengembangan dan investasi, faktor daya tarik suatu
negara, dan faktor kesiapan sumber daya manusia.
Dua faktor pertama Indonesia mempunyai peringkat yang relatif sama
dengan tahun sebelumnya. Akan tetapi untuk faktor ketiga yaitu kesiapan sumber
daya manusia merupakan hal yang paling dominan menyumbang angka
penurunan peringkat tenaga terampil Indonesia di tahun 2015. Pada tahun 2014,
Indonesia masih menduduki peringkat ke-19 untuk faktor ini. Di tahun 2015,
peringkat kesiapan tenaga kerja Indonesia terjerembab ke peringkat 42. Faktor
kesiapan tenaga kerja Indonesia dirasa masih kurang bersaing dari negara lain di
tahun 2015. Untuk faktor ini, Indonesia hanya unggul dalam pertumbuhan
angkatan kerja saja dimana Indonesia menduduki peringkat kelima. Indikator
lainnya seperti pengalaman internasional, kompetensi senior manajer, sistem
pendidikan, pendidikan manajerial, dan pada keterampilan bahasa berada pada
peringkat di atas 30. Bahkan untuk keterampilan keuangan, Indonesia berada pada
peringkat ke-44.
Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah melakukan upaya peningkatan
kesiapan sumber daya manusia Indonesia. Salah satunya adalah adanya
dibentuknya

Lembaga

dilatarbelakangi

adanya

Pengelola

Dana

Pendidikan

amanah

UUD

1945

(LPDP).

mengamanahkan

Hal

ini

bahwa

sekurangkurangnya 20% Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN)


digunakan untuk fungsi pendidikan. LPDP berusaha untuk mencetak pemimpin
masa depan handal yang tersebar di berbagai bidang. LPDP juga fokus pada
pengembangan kualitas sumber daya manusia di berbagai bidang yang menunjang
percepatan pembangunan Indonesia. Beberapa di antara prioritas yang menjadi

fokus LPDP antara lain adalah di bidang teknik, sains, pertanian, hukum,
ekonomi, keuangan, kedokteran, agama, serta sosial dan kebudayaan.
Sedangkan hasil survei lain dari World Bank dengan judul Ease of Doing
Business 2016 yang dirilis beberapa bulan lalu sedikit kontradiktif. Dalam laporan
tersebut dinyatakan bahwa kemudahan berusaha di Indonesia meningkat sebelas
peringkat dari sebelumnya peringkat ke-120 menjadi peringkat ke-109 dari 189
negara yang disurvei oleh World Bank. Kemudahan bisnis di Indonesia akan
mendorong para pengusaha dari dalam maupun luar negeri untuk memulai bisnis
ataupun malakukan ekspansi bisnis di Indonesia. Di sisi lain, apabila dikaitkan
dengan IMD World Talent Report 2015, penulis berpandangan bahwa hal ini
merupakan sinyal bahwa tenaga berbakat dan terampil Indonesia kurang bisa
bersaing dengan baik dengan warga negara ASEAN lainnya khususnya Singapura,
Thailand dan Malaysia. Jangan sampai kemudahan bisnis yang telah
diperjuangkan oleh pemerintah Indonesia justru lebih dimanfaatkan negara lain
dalam berbisnis di Indonesia dengan tetap membawa tenaga kerja terampil dari
negaranya sementara warga negara Indonesia tidak bisa bersaing dengan warga
negara asing lainnya.
Indonesia sudah melakukan upaya persiapan untuk menghadapi AEC 2015,
seperti penyusunan Implementing Indonesias Economic Master Plan atau MP3EI
(Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia),
program keuangan inklusif, perbaikan regulasi terkait investasi asing, dan
kampanye penggunaan produk nasional, serta hilirisasi industri nasional. Selain
itu, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan dan mengimplementasikan Inpres
Nomor 11 tahun 2011 tentang Pelaksanaan Komitmen Cetak Biru Masyarakat
Ekonomi ASEAN dan perancangan Inpres tentang peningkatan daya saing
Indonesia.
Sementara itu di tataran ASEAN,persiapan Indonesia sebagaimana terlihat
pada capaian AECscorecard telah mencapai 84,4% (Chairmans StatementKTT
ke-23 ASEAN), di atas rata-rata ASEAN yang sebesar 79,7%.
Namun demikian, capaian Indonesia tersebut masih di bawah sebagian
negara anggota ASEAN mengingat magnitude Indonesia yang begitu besar dan
lebih kompleks. Bagi Indonesia, AEC merupakan alat atau means untuk mencapai

kepentingan ekonomi dan politik nasional, khususnya untuk mengantisipasi


dinamika dan pertumbuhan yang cepat di Asia Timur dan India. Pembentukan
AEC penting bagi Indonesia, mengingat besarnya postur Indonesia di ASEAN,
baik dari segi populasi maupun PDB. Oleh karena itu, berbicara integrasi ekonomi
ASEAN, pertumbuhan dan kesejahteraan serta daya saing dan daya tarik ASEAN
sesungguhnya tidak terlepas dari Indonesia.
Sejauh ini, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia
berdasarkan rencana strategis pemerintah untuk menghadapi AEC, antara lain :
a. Penguatan Daya Saing Ekonomi
Pada 27 Mei 2011, Pemerintah meluncurkan Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI merupakan
perwujudan transformasi ekonomi nasional dengan orientasi yang berbasis pada
pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. Sejak
MP3EI diluncurkan sampai akhir Desember 2011 telah dilaksanakan
Groundbreaking sebanyak 94 proyek investasi sektor riil dan pembangunan
infrastruktur (dalam Bappenas RI Buku II, 2012:27)
b. Program ACI (Aku Cinta Indonesia)
ACI (Aku Cinta Indonesia) merupakan salah satu gerakan Nation Branding
bagian dari pengembangan ekonomi kreatif yang termasuk dalam Inpres No.6
Tahun 2009 yang berisikan Program Ekonomi Kreatif bagi 27 Kementrian
Negara dan Pemda. Gerakan ini sendiri masih berjalan sampai sekarang dalam
bentuk kampanye nasional yang terus berjalan dalam berbagai produk dalam
negeri seperti busana, aksesoris, entertainment, pariwisata dan lain sebagainya.
c. Penguatan Sektor UMKM
Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan UMKM di Indonesia, pihak Kadin
mengadakan mengadakan beberapa program, antara lainnya adalah Pameran
Koperasi dan UKM Festival pada 5 Juni 2013 lalu yang diikuti oleh 463
KUKM. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan produk-produk UKM yang
ada di Indonesia dan juga sebagai stimulan bagi masyarakat untuk lebih kreatif
lagi dalam mengembangkan usaha kecil serta menengah.
Selain itu, persiapan Indonesia dari sektor Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah (KUKM) untuk menghadapi MEA 2015 adalah pembentukan Komite

Nasional Persiapan MEA 2015, yang berfungsi merumuskan langkah antisipasi


serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan KUKM mengenai
pemberlakuan MEA pada akhir 2015.
Adapun langkah-langkah antisipasi yang telah disusun Kementerian Koperasi
dan UKM untuk membantu pelaku KUKM menyongsong era pasar bebas
ASEAN itu, antara lain peningkatan wawasan pelaku KUKM terhadap MEA,
peningkatan efisiensi produksi dan manajemen usaha, peningkatan daya serap
pasar produk KUKM lokal, penciptaan iklim usaha yang kondusif. Namun, salah
satu faktor hambatan utama bagi sektor Koperasi dan UKM untuk bersaing
dalam era pasar bebas adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) pelaku
KUKM yang secara umum masih rendah. Oleh karena itu, pihak Kementrian
Koperasi dan UKM melakukan pembinaan dan pemberdayaan KUKM yang
diarahkan pada peningkatan kualitas dan standar produk, agar mampu
meningkatkan kinerja KUKM untuk menghasilkan produk-produk yang berdaya
saing tinggi.
Pihak Kementerian Perindustrian juga tengah melaksanakan pembinaan dan
pemberdayaan terhadap sektor industri kecil menengah (IKM) yang merupakan
bagian dari sektor UMKM. Penguatan IKM berperan penting dalam upaya
pengentasan kemiskinan melalui perluasan kesempatan kerja dan menghasilkan
barang atau jasa untuk dieskpor. Selain itu, koordinasi dan konsolidasi antar
lembaga dan kementerian pun terus ditingkatkan sehingga faktor penghambat
dapat dieliminir.
d. Perbaikan Infrastruktur
Dalam rangka mendukung peningkatan daya saing sektor riil, selama tahun
2010 telah berhasil dicapai peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur
seperti prasarana jalan, perkeretaapian, transportasi darat, transportasi laut,
transportasi udara, komunikasi dan informatika, serta ketenagalistrikan :
1) Perbaikan Akses Jalan dan Transportasi
2) Perbaikan dan Pengembangan Jalur TIK
3) Perbaikan dan Pengembangan Bidang Energi Listrik.
e. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM )

Salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah melalui jalur
pendidikan. Selain itu, dalam rangka memberikan layanan pendidikan yang
bermutu, pemerintah telah membangun sarana dan prasarana pendidikan secara
memadai, termasuk rehabilitasi ruang kelas rusak berat. Data Kemdikbud tahun
2011 menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar 173.344 ruang kelas jenjang
SD dan SMP dalam kondisi rusak berat.
f. Reformasi Kelembagaan dan Pemerintahan
Dalam rangka mendorong Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi, telah ditetapkan strategi nasional pencegahan dan pemberantasan
korupsi jangka panjang 2012-2025 dan menengah 2012-2014 sebagai acuan bagi
seluruh pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi setiap tahunnya. Upaya
penindakan terhadap Tindak Pidana Korupsi (TPK) ditingkatkan melalui
koordinasi dan supervisi yang dilakukan oleh KPK kepada Kejaksaan dan
Kepolisian.
Persiapan tersebut tentu saja masih memerlukan peningkatan, baik dari segi
pelaksanaan sesuai komitmen maupun dari segi inklusivitas partisipasi seluruh
elemen masyarakat Indonesiadalam meningkatkan kesiapan diri menghadapi AEC
2015. Perlu dipahami bahwa AEC 2015 merupakan sebuah proses, bukan event.
Setelah 2015, yang merupakan target politik para Pemimpin ASEAN, proses
integrasi ekonomi ASEAN tidak akan berhenti namun justru akan semakin
intensif. Proses tersebut pada intinya akan membuat ASEAN menjadi semakin
atraktif, berdaya saing tinggi dan efektif sehingga dapat senantiasa relevan dalam
persaingan ekonomi global, the ever changing global economy.
Krisis Ekonomi Global
Krisis ekonomi global adalah peristiwa di mana seluruh sektor ekonomi
pasar dunia mengalami keruntuhan/depresi dan mempengaruhi sektor lainnya di
seluruh dunia. Krisis ekonomi global terjadi karena permasalahan ekonomi pasar
di seluruh dunia yang tidak dapat di elakkan karena kebangkrutan maupun adanya
situasi ekonomi yang tidak stabil. Sektor yang terkena imbasan krisis ekonomi
global adalah seluruh sektor kehidupan. Namun yang paling tampak gejalanya
adalah sektor bidang ekonomi dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Sejak globalisasi, krisis keuangan menjadi lebih sering terjadi daripada


sebelumnya. Salah satu alasan utamanya adalah kemajuan dalam teknologi,
informasi, yang sampai batas tertentu memperbesar gelombang krisis dan
mempercepat penyebarannya ke daerah atau negara lain. Alasan lain adalah
perkembangan pesat dari sektor keuangan. Salah satu contohnya adalah
munculnya International Financial Integration (IFI). Dalam hal ini, Edison et al.
(2002) menjelaskan bahwa IFI mengacu pada sejauh mana suatu perekonomian
tidak membatasi transaksi lintas batas. Oleh karena itu, sistem keuangan yang
terintegrasi timbulnya gangguan keuangan domestik di satu negara dapat
mengakibatkan efek domino dengan cara mengacaukan ekonomi terintegrasi
lainnya yang mengarah kepada kekacauan keuangan global.
Reserve Bank of Australia (2012) mendefinisikan sebuah sistem keuangan
yang stabil sebagai sistem di mana kegiatan transfer dana dari pemberi pinjaman
kepada peminjam diakomodasi dengan baik oleh perantara keuangan, pasar dan
struktur pasar. Oleh karena itu, ketidakstabilan keuangan adalah suatu kondisi di
mana jatuhnya sistem keuangan karena mengganggu kegiatan-kegiatan ini dan
memicu krisis kuangan.
Davis (2001) menguraikan beberapa kerangka teori yang menjelaskan
ketidakstabilan keuangan, yang meliputi :
1. Teori debt and financial fragility
Teori debt and financial fragility berpendapat bahwa perekonomian
mengikuti siklus yang terdiri dari periode pertumbuhan positif dan negarif
(Fisher, 1993). Dengan kemajuan ekonomi, utang dan kegiatan pengambilan
resiko meningkat. Ini menciptakan gelembung aset yang akan mengarah pada
pertumbuhan negatif.
2. Teori Disaster myopia
Teori ini menunjukkan bahwa ketidakstabilan keuangan dapat disebabkan
oleh perilaku kompetitif lembaga keuangan yang mengarah pada suatu
kondisi dimana kredibilitas peminjam diabaikan dan resiko dikurangi
(Herring, 1999).
3. Teori Bank Runs

Menjelaskan kondisi dimana para investor yang panik menjual aset mereka
atau menarik dana mereka karena takut bahwa kondisi ekonomi akan
memburuk (Diamond and Dybvig, 1983, Davis, 1994).
Sebagai konsekuensinya, hal ini akan mengakibatkan kemerosotan yang tibatiba pada harga aset dan krisis likuiditas. Deregulasi dengan pengawasan
peraturan yang tidak memadai menyebabkan gelembung aset yang mengakibatkan
pertumbuhan ekonom negatif dalam perekonomian. Sementara itu, ekspansi yang
cepat bisa juga dapat menyebabkan krisis kredit karena kredit yang disalurkan
sembarangan ke debitur yang pailit dalam rangka meningkatkan profitabilitas.
Terakhir tapi tidak kalah penting, ketika inestor menyadari bahwa situasi sudah
buruk, mereka menarik dana mereka, yang menyebabkan arus keluar modal yang
besar. Dan ketidakstabilan keuangan juga bisa disebabkan oleh peran arus modal
internasional melalui transmisi internasional, seperti pola perdagangan, tekanan
nilai tukar dan investasi asing, yang menyebabkan efek menular.
Kronologis dan Latar Belakang Krisis
Kronologis Krisis
Pengumuman BNP Paribas, Perancis, pada 9 Agustus 2007 yang
menyatakan ketidaksanggupannya untuk mencairkan sekuritas yang terkait
dengan subprime mortgage dari AS, menandai dimulainya krisis yang dengan
segera meluas menjadi krisis likuiditas terburuk di berbagai belahan dunia.
Subprime mortgage merupakan istilah untuk kredit perumahan (mortgage) yang
diberikan kepada debitur dengan sejarah kredit yang buruk atau belum memiliki
sejarah kredit sama sekali, sehingga digolongkan sebagai kredityang berisiko
tinggi. Penyaluran subprime mortgage di AS mengalami peningkatan pesatmulai
di bawah USD200 miliar pada tahun 2002hingga menjadisekitar USD500 miliar
pada 2005. Meskipun subprime mortgage inilah yang menjadi awal terciptanya
krisis, namun sebenarnyajumlahnya relatif kecil dibandingkan keseluruhan
kerugian yang pada akhirnya dialami oleh perekonomian secara keseluruhan.
Kerugian besar yang terjadi sebenarnya bersumber dari praktik pengemasan
subprime mortgage tersebut ke dalam berbagai bentuk sekuritas lain, yang
kemudian diperdagangkan di pasar finansial global. Pada tahap pertama,
sekuritisasi dilaksanakan terhadap sejumlah subprime mortgage sehingga menjadi

sekuritas yang disebut mortgage-backed securities (MBS). Dalam sistem


keuangan modern, praktiksekuritisasi MBS ini merupakan suatu hal yang telah
lazim, dan bahkan pada tahun 2006 jumlah kredit perumahan di AS (mortgage)
yang disekuritisasi menjadi MBS telah mencapai hampir 60% dari seluruh
outstanding kredit perumahan. Proses sekuritisasi ini melibatkan pihak ketiga baik
institusi pemerintah (antara lain lembaga Fannie Mae dan Freddie Mac) maupun
swasta.

Dalam

prosessekuritisasi

ini,

pihak

ketiga

seringkali

melakukanpengemasan dengan melakukan penggabungan sejumlah mortgage,


yang

selanjutnya

dijual

kepada

investor

yang

berminat.

Untuk

menanggulangirisiko gagal bayar (default), maka pihak ketiga ini sekaligus


bertindak sebagai penjamin.
Dari kajian yang telah dilakukan oleh berbagai pihak, setidaknya terdapat 2
(dua) hal yang dapat menjelaskan mengenai latar belakang terjadinya krisis
keuangan global, yaitu:
1) Kebijakan Moneter yang Terlalu Longgar
Longgarnya kebijakan moneter AS sepanjangperiode 2002-2004 diyakini
merupakan faktor utama melonjaknya kredit perumahan di AS (Grafik 3.8).
Kontribusi kebijakan moneter dalam lonjakan kredit di perumahan di AS secara

empiristelah dibuktikan antara lain oleh Taylor (2009). Hasil pengujian Taylor
menunjukkan besarnya periode boom-bust dalam permintaan rumah di AS tidak
akan terlalu besar apabila bank sentral tidak menerapkan kebijakan moneter yang
terlalu longgar (Grafik 3.9). Selain suku bunga rendah, meningkatnya permintaan
kredit perumahan juga didorong oleh kebijakan pemerintah yang mendorong
progam kepemilikan rumah melalui lembaga-lembaga pemerintah seperti Fannie
Mae dan Freddie Mac.Permintaanrumah yang melonjak tajammenyebabkan harga
rumah turut mengalami

peningkatan. Kondisi ini semakin mendorong

bankbankuntuk mengucurkan kredit perumahan secaraagresif sehingga pada saat


yang bersamaan terjadi penurunan standar kehati-hatian dalam penyaluran kredit
perumahan. Dell Ariccia, Igan, dan Laeven (2008) secara empiris telah
membuktikan adanya hubungan antara meningkatnya volume pinjaman dan
penurunan dalam standar pemberian kredit,yang diuji dengan menggunakan
sampel 50 jutaaplikasi kredit perumahan di berbagai negara bagian di AS.
Kombinasi penurunan suku bunga, harga rumah yang terus meningkat dengan
cepat, melonggarnya standar perbankan dalam pemberian kredit, serta dorongan
dari pemerintah untuk meningkatkan kepemilikan rumah pribadi pada akhirnya
merupakan faktor-faktor yang memicu peningkatan kredit untuk kredit perumahan
yang berisiko tinggi (subprime loans) secara tajam.

2) Ketidakseimbangan Global (Global Imbalances)


Rendahnya suku bunga di AS pada periode2002-2004 diyakini tidak
sepenuhnya disebabkan oleh longgarnya kebijakan moneter pada saat itu. Ada
faktor lain di luar kebijakan moneter AS yang dianggap berperan besar dalam
mendorongturunnya suku bunga di AS maupun negara-negaraEropa lainnya, yaitu
terkait dengan fenomena yang dikenal sebagai global saving glut. Bernanke
(2005) pertama kali mengemukakan fenomena ini, dan menyebutnya sebagai
faktor yang mendorong terciptanya defisit neraca berjalan di AS dalam periode
yang cukup panjang (Grafik 3.10).Rendahnya tingkat tabungan masyarakat dan
defisit anggaran belanja pemerintah selama ini dianggap merupakan faktor yang
mendorong peningkatan defisit neraca berjalan di AS. Namunkedua faktor ini
dianggap belum cukup untuk menjelaskan perkembangan defisit neraca berjalandi
AS, khususnya pada periode 1996-2000 yang merupakan periode di mana
anggaran belanja pemerintah AS justru mengalami surplus.

Dampak Krisis Finansial Global terhadap Perekonomian Global


Mengacu pada kronologis krisis seperti dikemukakan di atas, maka
dampak krisis finansial global secara sistematis dapat dilihat pada Diagram3.3.
Gelombang default (gagal bayar) di AS dan Eropa yang terjadi pada sekuritas

yang terkait dengan subprime mortgage AS, memunculkan krisis kepercayaan


yang parah di pasar keuanganglobal. Di tengah kerugian yang harus
ditanggunglembaga-lembaga keuangan akibat penempatan ke subprime mortgage
AS, perilaku menghindar (risk aversion) yang muncul akibat krisis kepercayaan
diantara pelaku pasar finansial akhirnya menciptakan kondisi sangat ketat di pasar
keuangan. Krisis yang terjadi di sektor finansial ini kemudian dengan cepat
menjadi bola salju yang bergulir ke seluruh perekonomian. Jatuhnya harga
perumahan di AS, meningkatnya foreclosures (pengambil alihan) kepemilikan
rumah akibat ketidakmampuan debitur dalam melakukan pembayaran, dan juga
kerugian dari akitivitas di pasar finansial, membuat konsumen di AS dan Eropa
segera kehilangan daya beli. Kondisi ini kemudian dengan cepat memukul
aktivitas bisnis. Selain anjloknya pembelian konsumen, krisis yang terjadi di pasar
finansial

menyebabkan

banyak

pelaku

bisnis

yang

kehilangan

akses

pembiayaan,baik melalui perbankan maupun pasar modal dan pembiayaan


lainnya. Lesunya kegiatan bisnis berujung pada gelombang besar-besaran
pemutusan hubungan kerja, yang selanjutnya semakin menekan daya beli
masyarakat. Sejalan dengan pelemahan permintaan di negara-negara maju, harga
komoditas dunia baik migas maupun nonmigas, terus mengalami penurunan.
Dampak Krisis Finansial Global terhadap Perekonomian Indonesia
Berdasarkan

uraian

di

atas,

transmisi

dampakkrisis

global

ke

perekonomian Indonesia pada dasarnya melewati dua jalur, yaitu jalur finansial
(financial

channel)

dan

jalur

perdagangan

(trade

channel)

atau

jalur

makroekonomi (lihat Diagram 3.4). Kajian mengenai transmisi kedua jalur


tersebut ke Indonesia disajikan dalam uraian berikut ini.
1. Dampak Melalui Financial Channel
Dampak krisis melalui jalur finansialdimungkinkan secara langsung maupun
tidaklangsung. Dampak secara langsung akan munculapabila bank atau lembaga
keuangan memilikieksposur langsung terhadap aset-aset yangbermasalah (toxic
assets), atau meskipun tidak memiliki aset bermasalah namun memiliki
kaitandengan lembaga keuangan yang memiliki eksposuryang besar terhadap aset
bermasalah. Selain itu,transmisi dampak krisis melalui jalur finansial langsung

juga

muncul

melalui

aktivitas

deleveraging,

yangmengalami kesulitan likuiditas

di

mana

investor

asing

terpaksa menarikdana yang tadinya

ditanamkan di Indonesia. Selainmelalui keterkaitan terhadap aset bermasalah


dandeleveraging, dampak langsung jalur finansial jugamuncul melaluiaksi flight
to quality, yaitupenyesuaian portofolio dari aset yang dipandang berisiko ke aset
yang lebih aman. Kondisi ini dipicuoleh munculnya perilaku risk aversion
yangberlebihan dari investor menyusul goncangan yang terjadi di pasar keuangan.
Sementara itu dampaktidak langsung dari jalur finansial akan munculmelalui
terganggunya ketersediaan pembiayaan ekonomi.
a. Jalur Finansial: Dampak Langsung
Intensitas krisis ke pasar finansial global yangmengalami eskalasi pada akhir
triwulan III-2008 menyusul kolapsnya Lehman Brothers pada Oktober 2008, telah
menimbulkan

tekanan

padastabilitas

keuangan

domestik.

Salah

satu

indikatorpeningkatan tekanan tersebut adalah IndeksStabilitas Keuangan atau


Financial

Stability

Index(FSI)17,

yang

sempat

melampaui

batas

indikatifmaksimum 2, dengan posisi tertinggi pada bulanNovember 2008 sebesar


2,43.18

Tingginya

angkaFSI

dalam

dua

bulan

terakhir

tersebut

terutamadisebabkan oleh anjloknya IHSG dan harga SUN.


Gelombang kerugian di pasar finansial globalmenyebabkan banyak investor
asing yangmengalami kesulitan likuiditas sehingga terpaksamenarik dananya
(deleveraging) dari Indonesia. Selain disebabkan oleh kesulitan likuiditas yang
memicu deleveraging, anjloknya pasar saham juga diduga kuat didorong oleh
perilaku risk aversion dari investor yang kemudian memicu terjadinyaflight to
quality dari aset yang dipandang berisikoke aset yang lebih aman.
b. Jalur Finansial Dampak Tidak Langsung
Transmisi global melalui jalur finansial dapatberjalan secara tidak langsung,
yaitu melalui munculnya hambatan terhadap ketersediaan pembiayaan
ekonomi, baik yang bersumber dari perbankan, lembaga keuangan lain
maupun pihakpihak lainnya. Secara tradisional, sumber pembiayaan ekonomi
biasanya berasal dari perbankan, sejalan dengan perannya sebagai lembaga
intermediasi.
2. Dampak Melalui Trade Channel

Intensitas dampak krisis melalui jalurperdagangan telah mengakibatkan


menurunnyakinerja pembayaran Indonesia (NPI). PerkembanganNPI yang cukup
positif di paruh pertama 2008berubah secara signifikan di semester II-08,terutama
di triwulan akhir. Tekanan pada kondisiNPI diantaranya didorong oleh
memburuknyakinerja neraca berjalan yang dipicu oleh menurunnya kinerja
ekspor,

menyusul

melemahnyapermintaan

global

dan

anjloknya

harga-

hargakomoditas dunia. Rentannya ekspor Indonesiaterhadap shock di kondisi


eksternal inisesungguhnya tidak terlepas dari karakteristikkomoditas ekspor
Indonesia.
a. Struktur Ekspor
Beberapa hal yang terkait dengan strukturekspor yang berpotensi
memperbesar dampakkrisis melalui jalur perdagangan adalahketergantungan
terhadap komoditas primer,komoditas ekspor yang kurang terdiversifikasi,
dantingginya kandungan impor pada komoditasekspor. Kontribusi sektor primer
dalam strukturekspor Indonesia tercatat cukup besar. Secara rataratadari 20052008 pangsa komoditas primerdalam total ekspor mencapai hampir 50%
(Tabel3.4)25 . Komoditas minyak dan gas merupakankomoditas primer dengan
kontribusi terbesar,disusul oleh kelompok komoditas pertambangandan pertanian.

b. Negara Tujuan Ekspor


Negara tujuan utama ekspor Indonesiacenderung terkonsentrasi pada
sejumlah negara,di mana lebih dari separuh pangsa ekspor tertujuke empat sampai
lima negara saja. Selama tahun2000-2007, mitra dagang utama Indonesiameliputi
Jepang, AS, Singapura, Korea, dan China.Meskipun demikian, terdapat
kecenderunganpergeseran dominasi, di mana mitra dagang teratas yaitu Jepang
dan AS memilliki pangsa yangmulai menurun dalam 4 tahun terakhir.
Sementaraitu pangsa China cenderung meningkat, bahkanpada tahun 2007 China
telah menjadi pasar tujuan ekspor ketiga, melampaui Singapura danKorea.
Berdasarkan

penghitungan

yang

dilakukanoleh

Kurniati

et.al

(2008),

sensitivitaspertumbuhan mitra dagang utama Indonesia yangterbesar adalah


dengan Singapura (1,19), danselanjutnya adalah AS (0,84), Jepang (0,81),
danChina (0,3).

Sektor-sektor yang paling terkena imbas krisis global adalah sektor yang
mengandalkan permintaan eksternal (tradable), seperti industri manufaktur,
pertanian, dan pertambangan. Ketiga sektor ini menyumbang lebih dari 50 persen
PDB dan menyerap lebih dari 60 persen tenaga kerja nasional. Terpukulnya
kinerja sektor-sektor ini pada akhirnya akan berujung pada gelombang pemutusan
hubungan tenaga kerja. Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi (Depnakertrans) sampai dengan akhir Desember 2008, jumlah
pekerja yang dirumahkan telah mencapai sekitar10.306 orang. Angka ini
diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan belum adanya tanda-tanda
perbaikan perekonomian dunia. Berdasarkan hasil analisis dengan memanfaatkan
Tabel Input Output Indonesia tahun 2005, diketahui bahwa penurunan ekspor
Indonesia sebesar 1% akan berimbas pada penurunan penyerapan tenaga kerja di
sektor industri sebesar 0,42%. Selain berimbas ke sektor industri, penurunan
ekspor tersebut juga berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor lain,

terutama sektor pertanian. Secara keseluruhan, penurunan ekspor di sektor


industri akan berdampak terhadap penurunan total tenaga kerja sebesar 0,17%
(tabel 3.8).
Gelombang pemutusan hubungan kerja selanjutnya akan berdampak pada
turunnya kontribusi tenaga kerja dalam pendapatan nasional. Kondisi ini pada
gilirannya akan berimplikasi pada penurunan konsumsi masyarakat secara

agregat, mengingat dinamika konsumsi selama ini bergerak searah dengan


perkembangan labor share dalam pendapatan nasional.
Currency War
Currency War atau perang mata uang adalah suatu kondisi dimana masingmasing Negara sengaja untuk melemahkan mata uangnya terhadap mata uang
Negara lain dengan tujuan mempermudah ekspor dan memperbaiki neraca
perdagangan.
Dalam rangka untuk menjaga perekonomian mereka berdetak, beberapa
negara melepaskan senjata tercepat dan termudah, yakni depresiasi mata uang.
Negara lainnya kemudian mulai segera merasakan efek buruk dari kebijakan
tersebut dan merespon dengan devaluasi mata uang mereka sendiri.
Perang mata uang memang tidak melibatkan barisan tentara dan ledakan
mesiu. Meskipun demikian, efeknya dapat jauh lebih dahysat dari perang militer,
baik dari jumlah korban maupun kerugian materil. Melonjaknya harga pangan
tahun 2010 silam yang kemudian menyebabkan kelaparan di berbagai belahan
dunia bahkan memantik revolusi berdarah di kawasan Timur Tengah, merupakan
salah satu efek yang ditimbulkan dari perang mata uang global.
Motif dari currency wars dapat dijelaskan dengan sederhana. Dalam situasi
dimana konsumsi (C) dan investasi (I) melemah, belanja pemerintah (G)
terkekang oleh defisit, sementara pajak yang tinggi dan utang yang sudah
menggunung beresiko untuk digenjot, maka satu-satunya jalan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi adalah dengan mendorong net ekspor (X-M). Oleh karena
itu, salah satu cara yang dianggap mudah dan cepat serta legal adalah
mendevaluasi nilai mata uang sehingga harga ekspor menjadi lebih murah di pasar
global.
Salah satu senjata utama mata uang adalah apa yang disebut 'quantitative
easing' atau QE. Menurut definisi, QE non-konvensional yang dipakai bank
sentral untuk mencegah penurunan suplai uang ketika kebijakan moneter standar
mulai tidak efektif. Dengan kata lain, tujuan dari QE adalah untuk menghidupkan
kembali pertumbuhan ekonomi. Perhatikan kata 'konvensional': bank sentral
menggunakan QE saat dibutuhkan untuk bertindak, tetapi telah kehabisan
langkah-langkah standar. Secara khusus, itu berarti bahwa suku bunga kredit
acuan sudah pada titik terendah.

Dolar AS adalah mata uang yang paling diperdagangkan di dunia. Itu


sebabnya ketika Amerika telah meluncurkan dirinya ke QE, itu memiliki dampak
ke seluruh dunia.
Fenomena yang baru-baru ini terjadi di tahun 2015-2016:
Pasar uang global dipenuhi dengan gejolak oleh penguatan mata uang $ AS,
Kebijakan the Fed menaikkan suku bunga acuan Bank Sentral sebesar 25 basis
poin membuat $ AS menguat terhadap mata uang lainnya. Tetapi pemerintah
China tidak tinggal diam, people Bank of China kemudian mendevaluasi mata
uangnya (Yuan). China sengaja melemahkan mata uangnya agar ekspornya bisa
meningkat. Hal ini lah yang dapat menimbulkan perang mata uang antar Negara di
dunia.
Pasar merespon negatif pelemahan devaluasi yuan, sebagai tanda
memburuknya perekonomian negara ekonomi terbesar kedua dunia itu.
Kekhawatiran pun memenuhi pasar ekuitas global akan kemungkinan terjadinya
kembali krisis ekonomi global.
Kepanikan pun memenuhi pasar ekuitas, yang memicu penjualan saham dan
pelemahan mata uang secara global, dimulai dari kawasan Asia, diikuti Eropa, dan
AS. Kawasan Asia terkena pukulan paling keras. Mata uang negara-negara
berkembang di Asia hingga Afrika, terdepresiasi sangat dalam terhadap dolar AS,
karena investor menarik dananya keluar.
Pada 12 Agustus 2015 itu, secara year to date (ytd) rupiah melemah 10,16
persen ke level Rp13.799 per dolar AS, terendah sejak krisis ekonomi 1998. Mata
uang won (Korea) melemah 8,35 persen, bath (Thailand) 6,62 persen, dan yen
(Jepang) 3,96 persen. Mata uang Malaysia, juga terkena dampak paling parah,
karena melemah sampai 13,16 persen, dan turut terpengaruh skandal korupsi
Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak.
Pertumbuhan ekonomi China yang pesat memang telah menyebabkan
surplus perdagangan China terhadap beberapa Negara mitra dagangnya
meningkat.
Pada tahun 2010, ekonomi China tumbuh 10,3 %. Namun, sebaliknya,
banyak mitra dagang China yang mengalami pelebaran deficit neraca
perdagangan, termasuk AS. Neraca perdagangan AS dengan China mengalami
deficit lebih dari $220 miliar.

Selain itu, akibat nilai tukar yuan yang begitu rendah, barang-barang yang
diproduksi China menjadi lebih kompetitif daripada barang-barang yang
diproduksi AS. Akibatnya banyak lapangan kerja di berbagai sektor industri di AS
menghilang dan tentu saja pengangguran makin meningkat.
Dengan kondisi ekonomi dan tekanan inflasi yang masih lemah, bank
sentral di seluruh dunia

cenderung menerapkan

kebijakan moneter

yang

longgar dan akomodatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Bank sentral dengan


suku bunga kebijakan di kisaran 0% tetap mempertahankan suku bunga kebijakan
di level tersebut. ECB mempertahankan suku bunga kebijakan termasuk suku
bunga deposit yang negatif dan melanjutkan kebijakan quantitative easing.
ECB

bahkan diperkirakan

akan

meningkatkan

stimulus moneter akibat

meningkatnya risiko deflasi di Kawasan Euro.


Amerika Serikat
Pelemahan ekonomi negara emerging yang terjadi seiring tekanan apresiasi
USD dan rendahnya harga minyak menyebabkan sektor eksternal AS terpuruk.
Hal ini ditunjukkan oleh performa net ekspor yang terkontraksi semakin
dalam di TW3-15 sebagai dampak dari pertumbuhan impor yang jauh lebih
tinggi dari pertumbuhan ekspor. Pada TW3-15, pertumbuhan ekspor naik tipis
menjadi 1,5% dari 1,47% pada triwulan sebelumnya seiring masih lemahnya
permintaan eksternal, terutama dari kawasan Asia. Di sisi lain, apresiasi USD
menyebabkan impor melonjak menjadi 5,49% dari 4,82% di TW2-15.
Ketidakpastian timing kenaikan FFR dan gejolak yang mewarnai pasar
keuangan global di TW3-15 menyebabkan masyarakat pesimis

terhadap

kinerja ekonomi AS. Hal ini tercermin dari indikator kepercayaan konsumen
di TW3-15 yang rata-rata turun ke level 90,73 dari 94,23 pada triwulan
sebelumnya. Daya beli yang terbatas menyebabkan masyarakat cenderung sensitif
terhadap sinyal the Fed perihal timing kenaikan FFR

dan

menggambarkan

pemulihan yang belum cukup solid. Di satu sisi, harga minyak dan komoditas
yang rendah mengakibatkan tekanan tersendiri terhadap sektor manufaktur dan
pertambangan sehingga menghambat pemulihan sektor tenaga kerja. Namun
di sisi lain, masyarakat juga memperoleh ruang lebih untuk melakukan
konsumsi seiring penghematan yang diperoleh karena penurunan harga bahan
bakar minyak. Secara umum diperkirakan masih akan dibayangi oleh tekanan

apresiasi USD dan rendahnya harga minyak. Kendati demikian, rendahnya harga
minyak dan apresiasi USD tersebut belum mampu mendorong konsumsi secara
signifikan.

Hal

ini

dipengaruhi

oleh pemulihan sektor tenaga kerja yang

melambat dan daya beli yang belum sepenuhnya membaik (partisipasi kerja
rendah dan tingkat pendapatan cenderung stagnan), sehingga pada akhirnya
menyebabkan masyarakat cenderung selektif dalam melakukan konsumsi.
Dari sisi eksternal, pelemahan ekonomi negara emerging di tengah belum
solidnya pemulihan ekonomi negara maju berisiko menyebabkan spill back ke
ekonomi AS dan dikhawatirkan menghambat pemulihan ekonomi ke depan.
Pelemahan ekonomi Tiongkok dan kebijakan devaluasi Yuan yang menyebabkan
gejolak di pasar keuangan global juga perlu disikapi dengan hati-hati dan
menjadi pertimbangan dalam menentukan waktu kenaikan suku bunga di 2015.
The Fed sebaiknya tidak hanya memperhatikan faktor domestik dalam
menentukan waktu yang tepat untuk menaikkan suku bunga, melainkan juga harus
memperhatikan perkembangan ekonomi global untuk mencegah terjadinya
gejolak di pasar keuangan yang berisiko menyebabkan tekanan terhadap kinerja
ekonomi negara mitra dagang AS, terutama negara-negara di kawasan emerging.
Tiongkok
Ekonomi Tiongkok masih berada pada fase perlambatan. Pertumbuhan
TW3-15 tercatat turun ke angka 6,9%, lebih rendah dari periode sebelumnya dan
target pemerintah sebesar 7%. Perlambatan yang dialami Tiongkok sejauh ini
masih dalam koridor reformasi struktural. Gejala awal perubahan struktur
menuju

kesinambungan

jangka panjang

sudah

dapat

meningkatnya pangsa sektor jasa dan kenaikan konsumsi.


produksi

industri kian

tertekan

sejalan

dengan

dirasakan

dengan

Sementara

itu,

pelemahan perdagangan.

Kelebihan pasokan membuat harga penjualan turun sehingga performa laba


anjlok.
Gejolak di sektor keuangan pun semakin memperkeruh keadaan. Langkah
devaluasi RMB

pada

11 Agustus

2015

menambah ketidakpastian

arah

kebijakan Pemerintah Tiongkok. Cadangan devisa pun menurun tajam untuk


menahan pelemahan nilai tukar lebih lanjut akibat arus modal keluar. Di
triwulan laporan, pemerintah semakin agresif dalam menopang perekonomian.

Cakupan pelonggaran moneter semakin diperluas baik melalui penurunan suku


bunga acuan maupun melalui pemangkasan giro wajib minimum.
Dalam waktu dekat, Tiongkok diprediksi masih akan tertekan sehingga
target pertumbuhan 7% yoy akan sangat menantang. IMF memprediksi,
ekonomi Tiongkok pada 2015 akan tumbuh 6,8%, dan kembali menurun ke
6,3% pada 2016. Sementara pemerintah menetapkan target pertumbuhan
jangka menengah-panjang ratarata sebesar 6,5%.
Perbaikan kinerja nilai tukar juga ditunjang dengan upaya stabilisasi
(intervensi) dengan penggelontoran cadangan devisa. Posisi cadangan devisa
turun menjadi USD3,55 triliun pada September 2015 dari USD3,69 triliun di
Juni 2015. Sejalan dengan puncak tekanan nilai tukar yang terjadi pada Agustus
2015, cadangan devisa pun turun signifikan pada Agustus 2015 sebesar USD94
miliar. Selain memicu tekanan di pasar valas, langkah perubahan fixing tersebut
juga menyebabkan peningkatan volatilitas di pasar keuangan secara umum.
PBC bergerak semakin agresif dengan meningkatkan cakupan kebijakan
moneter secara lebih luas (across the board). Sejak November 2014, suku
bunga acuan telah diturunkan sebanyak enam kali. Pada Oktober 2015, suku
bunga acuan pinjaman (lending rate) berada pada angka 4,35%, sementara
suku bunga tabungan (deposit rate) di level 1,5%. PBC juga telah empat kali
melonggarkan RRR, sehingga pada Oktober 2015 nilai RRR menjadi 17,5%.
Langkah

pelonggaran moneter

tersebut

juga

disertai

dengan reformasi

struktural. PBC telah mencabut kebijakan batas atas (ceiling) pada suku bunga
tabungan sebagai upaya liberalisasi sektor keuangan. Seperti yang dijelaskan
sebelumnya, perbaikan mekanisme CNY fixing termasuk upaya mendorong
penetapan nilai tukar yang lebih market base. Internasionalisasi RMB semakin
digalakkan dengan membangun pusat-pusat keuangan RMB pada kota-kota
besar dunia. Baru-baru ini, PBC menerbitkan utang RMB senilai CNY5 miliar
(USD778 juta). Pemerintah

juga

membangun

sistem

China International

Payment System(CIPS) sebagai upaya mempermudah transaksi CNY antara


mainland(onshore) dengan offshore.
Ekonomi Tiongkok diperkirakan masih akan tertekan dalam jangka pendek.
Meskipun ekonomi berhasil tumbuh (6,9%) di atas ekspektasi (6,8%), hasil

tersebut

masih

di bawah target pemerintah 7%. Agar mencapai target

pertumbuhan minimal 7% untuk 2015, paling tidak Tiongkok harus mencapai


pertumbuhan 7,1% yoy pada TW4-15.
Sementara, consensus

forecast (Oktober 2015) justru memperkirakan

pertumbuhan di TW4-15 hanya akan mencapai 6,7%. Dengan demikian,


perekonomian pada 2015 diperkirakan tumbuh di bawah 7%.
ASEAN 5
ASEAN cenderung membaik sepanjang TW3-15. Pertumbuhan PDB
Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam meningkat, namun Malaysia tumbuh
melambat. Meskipun aktivitas ekonomi meningkat, tekanan inflasi di negara
ASEAN cenderung menurun. Peningkatan pertumbuhan PDB yang cukup
signifikan terjadi di Vietnam yang tumbuh 6,8% dari 6,5% di TW2-15.
Pertumbuhan PDB Thailand dan Indonesia hanya meningkat tipis masing-masing
menjadi 2,9% dan 4,7%.
Sementara itu, Malaysia tumbuh melambat menjadi 4,7% (dari 4,9% di
TW2-15), sehingga sepanjang 2015 ini Malaysia terus mengalami tren
perlambatan pertumbuhan. Tekanan inflasi di negara-negara ASEAN bervariasi,
namun secara umum menunjukkan tren pelemahan inflasi. Inflasi di Indonesia,
Malaysia, Filipina dan Vietnam menunjukkan tren

yang

menurun.

Inflasi

Indonesia dan Malaysia bergerak menurun dan masih berada di sekitar target
inflasi masing-masing negara. Namun, penurunan inflasi di Filipina dan Vietnam
telah

turun

jauh

di

bawah target inflasi. Sementara itu, Thailand masih

mengalami deflasi, namun dengan pergerakan ke arah membaik.


Kondisi tersebut dikonfirmasi oleh kinerja perdagangan ASEAN yang
menghadapi tantangan dari lemahnya permintaan global, terutama akibat
perlambatan Tiongkok. Ekspor Filipina, Thailand, dan Singapura di TW3-15
masih lemah, sementara Malaysia dan Vietnam berhasil mendorong kinerja ekspor
di tengah tren depresiasi nilai tukarnya. Tingkat harga bergerak moderat di level
yang rendah terbantu lemahnya harga komoditas. Inflasi hanya terakselerasi
di Malaysia terimbas kenaikan pajak dan melonjaknya harga impor. Dengan
kinerja ekonomi yang sedikit membaik dan tekanan inflasi yang moderat, bank

sentral negara-negara ASEAN pada umumnya mempertahankan suku bunga


kebijakan masing-masing negara.
Akibat perkembangan domestik yang

berbeda,

prediksi

terhadap

proyeksi pertumbuhan ASEAN pun beragam. IMF memprediksi pertumbuhan


Thailand, Filipina, dan Vietnam akan membaik di 2015 dan 2016, sedangkan
Malaysia tumbuh melemah. Faktor risiko muncul dari perlambatan ekonomi dan
ketidakpastian kebijakan Tiongkok, serta rencana normalisasi suku bunga AS.
Harga komoditas dikhawatirkan masih menekan negara pengekspor komoditas.
Dari dalam negeri, keamanan dan konflik laut China Selatan menjadi faktor yang
perlu diwaspadai. Memasuki paruh kedua 2015, ekonomi negara ASEAN-5
menunjukkan perkembangan yang bervariasi. Peningkatan pertumbuhan ekonomi
terjadi di Filipina, Thailand dan Vietnam, sementara Singapura dan Malaysia
kembali mengalami pelemahan. Secara umum, pertumbuhan PDB di Kawasan
ASEAN masih ditopang oleh konsumsi swasta. Kendati demikian, konsumsi
swasta meningkat terbatas dan permintaan eksternal belum cukup stabil, sehingga
menyebabkan investasi mengalami perlambatan. Rendahnya harga komoditas
global juga diperkirakan masih akan menahan kinerja ekspor, terutama bagi
negara eksportir komoditas.
Negara ASEAN-5 masih mempertahankan kebijakan moneter akomodatif.
Pada September 2015, Bank Sentral Malaysia mempertahankan suku bunga
kebijakan di level 3,25%, Filipina (4%), Vietnam (6,5%) dan Thailand (1,5%).
Meskipun benih pemulihan ekonomi terlihat di Thailand, Filipina dan Vietnam,
otoritas masih berhati-hati terhadap tekanan lanjutan, terutama tekanan akibat
perlambatan Tiongkok.
Pelemahan beberapa indikator ekonomi dan ketidakpastian global telah
memicu berlanjutnya pelemahan nilai tukar di ASEAN. Mata uang ringgit, peso,
baht dan dong terdepresiasi terhadap USD yang terus menguat sejalan dengan
optimisme perbaikan ekonomi dan ekspektasi kenaikan suku bunga kebijakan AS
di akhir 2015. Kebijakan devaluasi RMB di 11 Agustus 2015 menambah risk
premium Negara-negara berkembang. Ketergantungan ekonomi Malaysia
terhadap hasil ekspor minyak dan akselerasi inflasi memicu terjadinya sentimen

negatif di pasar keuangan sehingga ringgit terdepresiasi paling signifikan


dibandingkan negara ASEAN-5 lainnya.
Perekonomian ASEAN-5 masih menghadapi sejumlah risiko yang
dikhawatirkan dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi. Tantangan eksternal di
akhir 2015 menjadi semakin berat menambah beban risiko yang harus diatasi
selain risiko dalam negeri. Faktor eksternal yang terutama perlu dicermati adalah
pelemahan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan di Tiongkok. Volatilitas di
pasar keuangan global juga masih terpengaruh rencana kenaikan suku bunga
the Fed pada akhir 2015. Harga komoditas yang rendah menjadi sumber
tekanan bagi negara pengekspor komoditas, seperti Malaysia.
Selain itu, negara-negara ASEAN tetap perlu mewaspadai eskalasi dari
persoalan dalam negeri masing-masing seperti instabilitas keamanan (ancaman
terorisme) serta isu sengketa laut China Selatan. Dengan berbagai tantangan
yang dihadapi, negara-negara di kawasan ASEAN perlu terus mengupayakan
kerja sama untuk meningkatkan ketahanan di kawasan dan mencapai target
pertumbuhan.
Implikasinya Terhadap Indonesia
Walaupun beberapa pihak menganggap perang mata uang ini tidak akan
banyak memengaruhi perekonomian Indonesia, ada beberapa hal yang ternyata
bisa berdampak cukup signifikan pada perekonomian Indonesia jika dibiarkan
terus berlanjut.
Akibat perlambatan ekonomi dunia, kinerja ekspor perdagangan hampir
seluruh negara mengalami pelemahan. Sementara nilai tukar mata uang beberapa
negara hanya sedikit terpengaruh fenomena super dolar Amerika Serikat (AS)
sehingga memicu kebijakan mendepresiasi mata uang agar barang ekspor lebih
murah dan memiliki daya saing. China lebih dulu mengambil langkah
mendevaluasi Yuan untuk merangsang kinerja ekspor. Kebijakan tersebut akhirnya
disusul Vietnam yang sengaja mendepresiasi Dong.
Perang mata uang akan semakin menekan kurs rupiah. Rupiah semakin
tertekan, karena kita tidak bisa seperti China yang bisa menetapkan kurs mata
uang mengingat kita menganut sistem devisa bebas.

Sementara pelemahan nilai tukar rupiah yang terlalu dalam tidak akan
menguntungkan Indonesia. Penyebabnya, ketergantungan impor Indonesia adalah
bahan baku, bukan komoditas seperti China, Jepang dan Korea.
Kalau China diuntungkan dengan impor komoditas karena harganya sedang
hancur. Sedangkan Indonesia ketergantungan impor bahan baku, yang harganya
justru naik sehingga berdampak ke biaya produksi. Akhirnya produk dalam negeri
tidak bisa kompetitif di luar negeri.
BI sudah melancarkan strategi untuk menekan tingginya transaksi valas di
pasar uang domestik. Jumat 21 Agustus 2015, BI mengeluarkan kebijakan
pengetatan, atau pembatasan pembelian valas untuk mengerem laju pelemahan
rupiah.
Bank Indonesia mengubah batas nilai maksimum pembelian valas melalui
transaksi spot yang dilakukan tanpa keperluan tertentu (underlying), dari
sebelumnya sebesar US$100 ribu per bulan per nasabah/pihak asing menjadi
US$25 ribu atau ekuivalennya per bulan per nasabah.
Dengan demikian, pembelian valas di atas US$25 ribu diwajibkan memiliki
underlying transaksi berupa seluruh kegiatan perdagangan dan investasi. Selain
itu, BI mengatur pula bahwa apabila nominal underlying transaksi tidak dalam
kelipatan US$5.000, maka akan dilakukan pembulatan ke atas dalam kelipatan itu.
Sementara itu, untuk pembelian valas di atas US$100 ribu wajib
menggunakan underlying, atau jaminan dan menyertakan nomor pokok wajib
pajak (NPWP). Hal ini dilakukan, agar tidak memberi ruang di pasar untuk
berspekulan, yang dapat menyebabkan tingginya volatilitas rupiah, dan nasabah
tidak terlalu bebas membeli dolar.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menenangkan masyarakat
Indonesia dengan mengatakan bahwa anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar
AS, bukan karena perekonomian nasional mengalami krisis seperti pada 1998. Dia
menegaskan, kondisi fundamental saat ini masih lebih kuat dibanding 1998, dan
ekonomi Indonesia lebih stabil. Bambang menyalahkan faktor eksternal, yaitu
gejolak pasar uang, sebagai biang kerok pelemahan rupiah.
Pada tanggal 17 Februari 2015, BI menurunkan suku bunga acuannya.
Pelaku pasar keuangan menyambut baik penurunan BI Rate dari 7,75% menjadi
7,5% maka diperkirakan pertumbuhan dana pihak ketiga akan mengalami
kenaikan menjadi 14-16%, dan laju peningkatan ekspansi kredit perbankan

menjadi 15-17%. Penurunan BI Rate kali ini merupakan upaya BI untuk


mendorong pertumbuhan kredit perbankan guna mengakselerasi perekonomian
nasional. Dengan penurunan tingkat suku bunga acuan seperti saat ini, BI
memproyeksikan kalangan perbankan akan menurunkan tingkat suku bunga kredit
dalam 3-6 bulan mendatang.
Bank sentral di sejumlah Negara juga sudah memangkas suku bunga
acuannya. Langkah menurunkan BI Rate ini dilakukan guna mendorong
perekonomian nasional dan sebagai dampak dari melemahnya inflasi. Penurunan
BI Rate ini juga berdampak positif pada IHSG dan diharapkan akan menurunkan
suku bunga KPR agar lebih menarik bagi pasar dan konsumen. Perubahan BI Rate
memengaruhi inflasi melalui berbagai jalur, diantaranya jalur suku bunga, kredit,
nilai tukar, harga asset dan ekspektasi.

DAFTAR PUSTAKA
Nurmawati, B. (2014) Indonesia Menuju Asean Economic Community (AEC)
2015.
Martin, Ali & Sugiarto Pramono. (2011) Faktor-faktor Pendorong Integrasi
Regional: Studi Perbandingan Uni Eropa dan ASEAN.
Satya, Venti Eka. (2015). Dampak Penurunan BI Rate Terhadap Perekonomian
Nasional.
Achya Ngasuko, Tri. (2015). Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia
Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.
BI. Outlook Ekonomi Indonesia 2009-2014, Edisi Januari 2009. 2014

M. Noor Nugroho, dkk (BI). (2015). Perkembangan Ekonomi Keuangan dan


Kerja Sama Internasional.
Davis, E.P. (2001). A typologynof financial instability, Oesterreichsche National
Bank financial Stability Report.
Fisher, I. (1993). The debt deflation theory of great depressions, Econometrica,
Vol. 1, pp. 337-357.
Herring, J. (1999).Credit risk and financial instability, Oxford Review of
Economic Policy,Vol.15, No. 3, pp. 63-67.
Research Bank of Australia. (2012). About financial stability. Retrieved from
http://www.rba.gov.au/fin-stability/about.html on 7 December
2012.
Diamond, D., Dybvig, P. (1983). Bank runs, deposit insurance and liquidity,
Journal of Political Economy, vol. 91, pp. 401-419.
Davis, E.P. (1994). Market liquidity risk,Kluwer Academic Publishers.
Taylor, John B., The Financial Crisis and The Policy Responses: An Empirical
Analysis of What Went Wrong, NBER Working Paper 2009.
DellAriccia, Igan, and Laeven, Credit Booms and Lending Standards : Evidence
from the Subprime Mortgage Market, IMF Working Paper 2008
Outlook Ekonomi Indonesia 2009 - 2014, Edisi Januari 2009