Anda di halaman 1dari 15

Jasa-jasa Abdul Malik bin Marwan

Keberhasilan Abdul Malik bin Marwan mempertahankan keutuhan wilayah kekuasaan


dinasti bani Umayyah, membawa dampak positif bagi kemajuan dinasti ini. Sebab
kendala

atau

hambatan

terpenting

didalam

usaha

mempertahankan

dan

mengembangkan kekuasaannya, telah dapat diatasi dengan baik. Dengan demikian,


mudah baginya untuk mengeluarkan kebijakan politik untuk membangun negeri.
Selama masa pemerintahannya, khalifah Abdul Malik bin Marwan melakukan beberapa
upaya pembaharuan untuk memperlancar administrasi pemerintahan. Diantara jasa dan
pembaharuan yang dilakukan adalah :

1. Menjadikan Bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara


Kebijakan ini dikeluarkan karena bahasa yang dipakai untuk kegiatan administrasi
pemerintahan di daerah taklukan pada masa-masa sebelumnya, bukan bahasa arab.
Seperti diketahui bahwa pada masa nabi dan para sahabat dan masa-masa awal dinasti
bani Ummayyah seluruh dokumen yang berkaitan dengan perikehidupan dicatat dalam
bahasa Arab.

Setelah bangsa Persia, Syiria dan Mesir bergabung dalam kekuasaan pemerintahan
Islam, Khalifah Umar bin Al-Khatab mempertahankan dokumen yang berkaitan dengan
negeri tersebut tetap dicatat dalam bahasa mereka masing-masing. Akibatnya,
departemen keaungan negeri-negeri tersebut dikuasai oleh pribumi non muslim yang
memahami bahasa mereka. Ketika Abdul Malik bin Marwan berkuasa, ia menghapuskan
bahasa mereka dan menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan,
kebijakan ini pertama kali diterapkan bahasa resmi pemerintahan. Kebijakan ini pertama
kali diterapkan di Syiria dan Irak, kemudian Mesir dan Persia.

Hal sepadan juga menyebutkan bahwa, ketika bahasa Arab menjadi bahasa percakapan
orang-orang non-Arab, bahasa Arab mendapat masukan-masukan kata baru. Kata-kata
baru ini diambil dari kata-kata wilayah yang ditaklukkan. Sebagai contoh, kata kubah

dan menara. Kedua kata tersebut masuk kedalam kosakata bahasa Arab ketika orangorang Arab melihat bangunan-bangunan itu. Hal yang lebih menarik lagi bahasa Arab
sendiri ternyata memiliki kelenturan menerima kosakata kata baru. Dengan demikian
bahasa Arab menjadi sangat kaya dengan kosakata dan istilah.

2. Mengganti Mata Uang


Kebijakan lain yang dikelurkan abdul Malik bin Marwan adalah penggantian mata uang.
Ia mengeluarkan mata uang logam Arab. Sebelumnya, pada masa Nabi Muhammad
saw., dan Khalifah Abu bakar mata uang yang dipakai sebagai alat tukar atau alat bayar
adalah mata uang romawi dan persia. Mata uang ini pada masa pemerintahan
sesudahnya, khususnya pada masa Khalifah Umar bin Khattab telah banyak yang
rusak.
Inilah salah satu sebab mengapa Abdul Malik bin Marwan melakukan pembaharuan
dalam bidang mata uang. Ia mengeluarkan jenis mata uang baru yang bisa dibilang
sebagai mata uang resmi pemerintahan Islam. Mata uang ini terbuat dari emar (Dinar),
perak (Dirham) dan Perunggu (Fals atau fuls).
Yaitu, mata uang yang satu sisinya bertuliskan kalimat Laailaha Illallah dan sisi lainnya
tertulis nama khalifah. Mata uang Islam yang baru ini menghilangkan symbolis Kristen
dan Zoroaster.
Untuk kepentingan itu, Khalifah Abdul Malik bin Marwan mendirikan pabrik percetakan
uang di Damaskus.

3. Pembaharuan Ragam Tulisan Bahasa Arab


Kebijakan Abdul malik bin Marwan lainya adalah pembaharuan dalam ragam tulisan
bahasa Arab. Hal ini dilakukan karena berdasarkan penilaiannya terdapat dua
kelemahan didalam bahasa Arab. Pertama, bahasa arab hanya mengandung huruf
konsonan (huruf mati), yang dapat diucapkan dalam beberapa bunyi Vokal.
Kenyataannya ini menyulitkan bagi masyarakat muslim yang bukan berasal dari bahasa

Arab didalam memahami dan mengucapakan bahasa Arab. Kedua, adalah beberapa
huruf arab mempunyai kesamaan bentuk, seperti antara huruf ( dan ( dan lainya.
Hajjaj bin Yusuf salah seorang gubernur Abdul malik yang mahir di dalam seni menulis
arab,

memperkenalkan tanda vokal dan menerapkan tanda-tanda titik untuk

membedakan beberapa huruf yang sama bentuknya. Pembaharuan yang dilakukan


khalifah Abdul Malik dan Gubernur Hajjaj bin Yusuf ini menjadikan bahasa Arab lebih
sempurna dan sekaligus mengihlangkan kesulitan bagi pembaca luas dikalangan non
Arab.

4. Pembaharuan Dalam Bidang Keuangan


Hingga pada masa pemerintahan Abdul Malik, umat Islam hanya berkewajibkan
membayar zakat dan bebas dari kharaj dan jizyah. Hal ini mendorong orang non-muslim
memeluk agama Islam. Dengan cara ini, mereka terbebas dari pembayaran Kharaj dan
jizyah. Setelah itu, mereka meninggalkan tanah pertaniannya guna mencari nafkah di
kota-kota besar sebagai tentara.
Kenyataan ini menimbulkan masalah bagi perekonomian negara. Karena pada satu sisi
perpindahan agama mengakibatkan berkurangnya sumber pendapatan negara dari
sektor pajak. Pada sisi lain, bertambahnya militer Islam dari kelompok Mawali
memerlukan dana subsidi yang makin besar.
Untuk mengatasi permasalahan ini, khalifah Abdul Malik mengembalikan beberapa
militer Islam kepada profesinya semula, yakni sebagai petani dan menetapkan
kepadanya untuk membayar sejumlah

kewajiban mereka sebelum mereka masuk

Islam, yakni sebesar beban Kharraj dan Jizyah.


Keputusan khalifah Abdul Malik ini tentu saja ditentang keras oleh kelompok Mawali.
Karena ketidakpuasan ini, pada akhirnya mereka menyokong gerakan propoganda
Abbasiyah untuk menggulingkan kekuasaan dinasti Umayyah.

5. Pengembangan Sistem Pos

Ketika Abdul Malik berkuasa, ia berusaha mengembangkan sistem pos yang telah
dibangun pada masa Muayyah bin Abu Sufyan. Sistem pos ini menghubungkan kotakota propinsi dengan pemerintahan pusat. Para petugas pos mengendarai kuda dalam
menjalankan tugasnya, khususnya tugas menyampaikan informasi penting dari
pemerintahan pusat ke pemerintahan propinsi.
Selain itu Khalifah juga mendirikan beberapa kota baru, diantara kota terpenting adalah
Al-Wasith di antara rendah Irak. Pendidrian kota ini dimaksudkan untuk mengendalikan
kemungkinan timbulnya gerakan pengacau di wilayah Irak.

6. Membentuk Mahkamah Agung


Kebijakan lain yang menjadi jasa penting dari peninggalan pemerintahan Khalifah Abdul
Malik adalah mendirikan lembaga mahkamah Agung. Lembaga ini didirikan untuk
mengadili para pejabat tinggi negara yang melakukan penyelewengan atau tindakan
yang merugikan bangsa dan negara atau bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.

7. Mendirikan Bangunan-Bangunan Penting


Keberhasilan lain yang menjadi jasa dari peninggalan Khalifah Abdul Malik adalah
menjadikan

bangunan-bangunan

penting

yang

sangat

dibutuhkan

didalam

memperlancar roda pemerintahan dan kekuasaan militter bani Umayyah.


Pada masanya, telah dibangun pabrik-pabrik senjata dan pabrik kapal perang di Tunisia.
Membangun Kubah baru (Qubbah Al-Sakhra) di Yerussalem. Yang hingga kini masi
terpelihara dengan baik dan masih utuh.
Demikian jasa dan peningggalan Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang berkuasa
selama lebih kurang 20 tahun (66-86 H/685-705M). Jasa dan peninggalan ini kini masih
dapat disaksikan sebagai bagian dari masa kejayaan Khalifah abdul Malik bin Marwan,
di antaranya adalah : penggunaan bahasa Arab secara menyeluruh di wilayah zajirah
Arabiyah dan beberapa negara di Afrika Utara.
Tanpa jasa dan usahanya ini, mungkin bahasa Arab hanya sebagai bahasa komunikasi
diantara bangsa Arab. Tetapi untuk bangsa non Arab, mereka tidak mampu membaca

dan mempelajari bahasa Arab. Karena terdapat banyak kesamaan huruf yang ada
dalam bahasa Arab. Berkat jasa dan bantuan gubernur Hajjaj bin Yusuf Al-Saqafy,
bahasa Arab lebih mudah dipahami. Sehingga memudahkan bagi pengguna bahasa
yangg berasal dari masyarakat non Arab.

8. Kerajinan
Kerajinan pada masa Abdul Malik mulai dirintis pembuatan tiraz atau semacam bordiran
yakni cap resmi yang di cetak pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan.

9. Membangun Sarana dan Prasarana


Abdul Malik juga mendirikan bangunan seperti pabrik senjata dan kapal perang di
Tunisia. Ia juga membangun Masjid Umar atau Qubbatush Shakra di Yerusalem dan
memperluas Masjidil Haram di Makkah.

Pembebasan wilayah
Perluasan wilayah (ekspansi) politik Islam diluar semenanjung Arabia yang terhenti
dimasa khalifah Ali, kini diteruskan oleh dinasti bani umayyah, terutama dimasa khalifah
Abdul Malik bin Marwan dan al-Walid bin Abdul Malik. Ekspansi pada masa ini terbagi
kepada dua arah, ke barat yang meliputi wilayah Afrika Utara, Spanyol dan Perancis.
Dan ke timur yang meliputi wilayah Asia Tengah dan India.

Pembebasan wilayah barat telah dimulai sejak masa pemerintahan Muawiyah. Ia


mengutus Uqbah bin Nafi untuk menaklukkan daerah-daerah Afrika utara yang telah
lama dikuasai romawi. Ia berhasil mengusai tunisia, dan di tahun 670 M. Ia menjadikan
kota Qairuwan sebagai ibu kota dan pusat kebudayaan Islam.
Namun, wilayah itu kemudian kembali dikuasai bangsa barbar, baru pada masa Abdul
Malik bin Marwan berhasil dikuasai kembali berkat pasukan yang dipimpin Hasan bin
Numan. Setelah Hasan meninggal pada 708 M, jabatan gubernur digantikan oleh

panglima Musa bin Nusair. Ia meluaskan kekuasaannya dengan menaklukkan Aljazair,


Maroko, sampai ke pantai samudra Atlantik. Ekspedesinya juga berhasil merebut pulau
Majorka, Minorka, dan Ivoka

Pembebasan wilayah di zaman Umaiyah mencakup tiga front penting yaitu :


Pertama, front melawanbangsa Romawi di Asia kecil dengan sasaran utama
pengepungan ke ibu kota Konstantinopel, dan penyerangan ke pulau-pulau di Laut
Tengah. Kedua, front Afrika Utara. Selain menundukkan daerah hitam Afrika, pasukan
muslim juga menyeberangi selat Gibraltar, lalu masuk ke Spanyol. Ketiga, front timur
menghadapi wilayah yang amat luas, sehingga operasi ke jalur ini dibagi menjadi dua
arah. Yang satu menuju utara ke daerah-daerah di seberang sungai Jihun (Amu
Dariyah). Sedangkan yang lainnya ke arah selatan menyusuru Sind, wilayah india
bagian barat

Pada masa pemerintahan Muawiyah diraih kemajuan besar dalam perluasan wilayah,
meskipun pada beberapa tempat masih bersifat rintisan. Peristiwa paling mencolok
keberaniannya mengepung kota Konstantinopel melalui suatu ekspedisi yang
dipusatkan di kota pelabuhan Dardanela, setelah terlebih dahulu menduduki pulau-pulau
di Laut Tengah seperti Rodhes, Kreta, Cyprus, Sicilia dan sebuah pulau yang bernama
award, tidak jauh dari ibu kota Romawi Timur itu. Di belahan timur, Muawiyah berhasil
menaklukan Khurrasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan.

Ekspansi ke timur yang telah dirintis oleh Muawiyah, lalu disempurnakan oleh khalifah
Abdul Malik bin Marwan. Dibawah komando Gubernur Irak Hajjaj ibn Yusuf, tentara
kaum muslimin menyeberangi sungai Ammu Darya dan menundukkan Balkh, Bukhara,
Khawarizm, Fergana dan Samarkand. Pasukan islam juga melalui Makran masuk ke
Balukhistan, Sind dan Punjab sampai ke Multan, pada waktu itu Islam menancapkan
kakinya untuk pertama kalinya di bumi India.

Wafat
Dalam sejarah, Abdul Malik dikenal dengan Abdul Muluk atau ayah para raja atau
khalifah. Dijuluki demikian karena keempat anaknya sempat menjadi khalifah Bani
Umayyah menggantikannya. Mereka itu adalah Walid, Sulaiman, Yazid, dan Hisyam.
Abdul Malik bin Marwan meninggal dunia pada pertengahan bulan Syawwal tahun 86
Hijriyah dalam usia 60 tahun. Ia meninggalkan karya besar bagi sejarah Islam. Masa
pemerintahannya 21 tahun, dan 8 tahun dari masa tersebut menghadapi sengketa
dengan Khalifah Abdullah ibn Zubair.

Hikmah dari Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan


Beberapa hikmah yang dapat diambil dari kepemimpinan Abdul Malik Bin Marwan
adalah sebagai berikut :

1.Semangat juang mempertahankan suatu negara/wilayah/suku dll. Seperti pada


penyelamatan Kekhalifahan Umayyah dari kehancuran
2.Memperhatikan kelangsungan/kesejahteraan hidup orang banyak sebagai contoh;
memperbaiki fasilitas Negara yang bertujuan untuk memakmurkan rakyat
3.Memudahkan kita semua untuk membaca sebuah Kita Suci dengan menyempurnakan
mushaf al-Qur`an
4.Selalu bersemangat dalam menyebarkan dan menjaga agama Islam
5.Selalu bersikap admitrif dalam berbagai hal termasuk hal-hal penting
6.Tidak melakukan sesuatu hal dengan cara emosional dan bersikap adil sesama
manusia sehingga tidak memiliki sikat pendendam (harus sabar), serta mau menerima
kritik dari berbagai pihal yang membangun.

A. Upaya-upaya Abdul Malik bin Marwan


Sepeninggalan Khalifah Marwan bin Hakam akibat terbunuhnya pada tahun 66 H/685
Mu`awiyah, Abdul Malik naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya sebagai khalifah.
Sedangkan dalam catatan sejarah lain. Abdul Malik bin Marwan ditunjuk sebagai
Khalifah dalam usia 39 dan diangkat, khalifah yang ke lima dari Daulat Umayyah pada
65 H/685 M, sampai 86 H/705 M ( 21 tahun).
Pada masa awal pemerintahanya, Abdul Malik mengalami banyak hambatan dalam
menjalankan pemerintahan. Karena ketika itu bangsa Arab terpecah menjadi beberapa
kelompok dengan fanatisme kesukuan masing-masing. Mereka yang tidak puas atas
kebijakan Marwan bin al-Hakam, melakukan berbagai gerakan pemberontakan,
sehingga wilayah kekuasaan Islam Dinasti Umayyah berada diujung kehancuran.
Pemberontakan dimasa khalifah abdil Malik bin Marwan, antara lain :
- Pemberontakan golongan syia`ah tahun 66 H/586 M
- Pemberontakan Abdullah bin Zubair tahun 72H/692 M
- Pemberontakan kaum Khawarij
- Pemberontakan Amruh ibnu Said tahun 70 H/692 M
Khalifah Abdul Malik mewarisi pemerintahan ayahnya dalam keadaan kacau. Oleh
karena itu, usaha yang diutamakan adalah mengamankan negerinya dari ancaman
pemberontakan. Dengan demikian, beliau tidak sempat untuk mengadakan perluasan
daerah.
Diantara pemberontakan yang terjadi adalah gerakan pemberontakan di Irak yang
dilakukan oleh al-Mukhtar bin Ubayd. Ia menyatakan bahwa pemberontakan yang
dilakukanya itu bertujuan untuk menggoyangkan kekuasaan Dinasti Umayyah. Selain
itu, gerakannya bertujuan untuk menuntuk balas atas kematian husain bin Ali bin thalib
yang tewas terbunuh pada masa pemerintahan khalifah Yazid bin Mu`awiyah.
Al-Mukhtar berhasil mempeharuhi masyarakat Irak yang setia kepada Ali dan anak
cucunya. Mereka bersatu utuk melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintahan
Dinasti Umayyah dibawah pimpinan Abdul Malik. Untuk membangkitkan semangat jihad
mereka melakukan ziarah ke Karbala guna memancing amarah masyarakat tersebut.

Karbala adalah suatu tempat yang dimana menyimpan suatu sejarah syang sangat
tragis bagi husen ben ali. Beliau terbutuh ketika hendak meninggalkan madinah menuju
kuffah untuk menjadi pemimpin bagi pengikutnya di wilayah tersebut, namun
pasukannya yang berjumlah kecil dihadang karbala (irak)dan dihancurkan sebelum
pengikutnya di kuffah sempat membantunya, peristiwa tersebut disebut dengan
peristiwa karbala.
dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela, sebuah daerah di dekat kuffah,
tentara Husein kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan dikirim
ke Damaskus, sedang tubuhnya di kubur di Karbela.
Usaha al-Mukhtar ini ternyata berhasil menpengaruhi masyarakat Kufah, Irak, dan Syiria
hingga masyarakat Arab lainnya. Dibawah pimpinan Al-Sytar mereka melakukan
penyerangan ke pasukan gubernur Irak, Ubaidillah di suatu tempat bernama Zad.
Serangan ini menghasilkan kemenangan di pihak al-Mukhtar. Kemenangan ini membuat
al-Mukhtar menjadi penguasa di tempat Mesopotamia.
Sementara itu, gerakan Ibnu Zubair yang mengangkat dirinya sebagai khalifah di
Mekkah, menolak untuk bergabung dengan al-Mukhtar. Akibatnya kedua tokoh ini
berseteru dalam sebuah pertempuran di Irak. Dalam pertempuran ini, Ibnu Zubair dan
komandan pasukannya bernama Mu`ad, berhasil mengalahkan pasukan al-Mukhtar,
dengan demikian penguasa wilayah Mesopotamia dan sekitarnya kini beralih ke tangan
Ibnu Zubair.
Selain kedua pemberontak tersebut, terdapat satu lagi gerakan pemberontak yang
timbul ketika itu, yaitu gerakan kelompok Khawarij. Namun gerakan ini dapat
dihancurkan oleh al-Muhallab komandan pasukan Ibnu Zubair. Gerakan Khawarij ini
berhasil dikalakan setelah dikepung lebih kurang selama delapan bulan di Khurasan.
Pada masa awal pemerintahannya, Abdul Malik tidak terlibat langsung didalam
pertempuran musuh-musuh yang saling berebut pengaruh. Ia hanya menjadi penonton
saja dan menunggu kelemahan mereka diserang. Setelah hancurnya pasukan Khawarij
dan pasukan Zubair, Abdul Malik baru mengambil langkah untuk mengatasi kekuatan
yang dianggap sudah cukup membahayakan kekuasaannya. Kekuatan-kekuatan yang
dianggap telah membahayakan kekuasaannya adalah kekuatan Zubair dan kekuatan
yang menentang pemerintahan yang dipimpin oleh Amru bin Sa`id di Syiria.

Kekuatan

Amru

ini

dapat

dilumpuhkan

oleh

pasukan

Abdul

Malik.

Setelah

dilumpuhkannya, Abdul Malik menawarkan ampunan (amnesti) kepadanya. Tawaran itu


diterima Amar yang kemudian bergabung dengan Khalifah Abdul Malik. Namun setelah
ia bergabung, Amru dihianati dan dibunuh oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Peristiwa ini merupakan peristiwa tragis yang dialami Amar. Dengan kelicikannya, ia
berhasil mengahancurkan pasukan musuhnya tanpa banyak mengeluarkan biaya dan
tenaga.
Pasukan Islam berakhir dengan tragis karena perselisihan intern yang terdapat dalam
elite penguasa muslim sendiri, yakni antara al-Hajjaj dengan as-Sy`as. Tidak terelakan
lagi terjadi kontak senjata antara keduanya yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan
al-Hajjaj karena dibantu oleh Khalifah Abdul Malik. Disamping berjaya dimedan perang
al-hajjaj juga berhasil saluran-saluran air sungai Euphrat dan tirgis. Memajukan
perdagangan dan memperbaiki sistem ukuran timbang, takaran dan keungan, di
samping menyempurnakan tulisan mushaf al-Qur`an dengan titik pada huruf-huruf
tertentu. Khalifah Abdul Malik wafat pada tahun 86 H dan diganti oleh putranya yang
bernama al-Walid.

B. Jasa-jasa Abdul Malik bin Marwan


Keberhasilan Abdul Malik bin Marwan mempertahankan keutuhan wilayah kekuasaan
dinasti bani Umayyah, membawa dampak positif bagi kemajuan dinasti ini. Sebab
kendala

atau

hambatan

terpenting

didalam

usaha

mempertahankan

dan

mengembangkan kekuasaannya, telah dapat diatasi dengan baik. Dengan demikian,


mudah baginya untuk mengeluarkan kebijakan politik untuk membangun negeri.
Selama masa pemerintahannya, khalifah Abdul Malik bin Marwan melakukan beberapa
upaya pembaharuan untuk memperlancar administrasi pemerintahan. Diantara jasa dan
pembaharuan yang dilakukan adalah :

1. Menjadikan Bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara


Kebijakan ini dikeluarkan karena bahasa yang dipakai untuk kegiatan administrasi
pemerintahan di daerah taklukan pada masa-masa sebelumnya, bukan bahasa arab.

Seperti diketahui bahwa pada masa nabi dan para sahabat dan masa-masa awal dinasti
bani Ummayyah seluruh dokumenyang berkaitan dengan perikehidupan dicatat dalam
bahasa Arab.
Setelah bangsa Persia, Syiria dan Mesir bergabung dalam kekuasaan pemerintahan
Islam, Khalifah Umar bin Al-Khatab mempertahankan dokumen yang berkaitan dengan
negeri tersebut tetap dicatat dalam bahasa mereka masing-masing. Akibatnya,
departemen keungan negeri-negeri tersebut dikuasai oleh pribumi non muslim yang
memahami bahasa mereka. Ketika Abdul Malik bin Marwan berkuasa, ia menghapuskan
bahasa mereka dan menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan,
kebijakan ini pertama kali diterapkan bahasa resmi pemerintahan. Kebijakan ini pertama
kali diterapkan di Syiria dan Irak, kemudian Mesir dan Persia.
Hal sepadan juga menyebutkan bahwa, ketika basaha Arab menjadi bahasa percakapan
orang-orang non-Arab, bahasa Arab mendapat masukan-msukan kata baru. Kata-kata
baru ini diambil dari kata-kata wilayah yang ditakhlukkan. Sebagai contoh, kata kubah
dan menara. Kedua kata tersebut masuk kedalam kosakata bahasa Arab ketika orangorang Arab melihat bangunan-bangunan itu. Hal yang lebih menarik lagi bahasa Arab
sendiri ternyata memiliki kelenturan menerima kosakata kata baru. Dengan demikian
bahasa Arab menjadi sangat kaya dengan kosakata dan istilah.

2. Mengganti Mata Uang


Kebijakan lain yang dikelurkan abdul Malik bin Marwan adalah penggantian mata uang.
Ia mengeluarkan mata uang logam Arab. Sebelumnya, pada masa Nabi Muhammad
saw., dan Khalifah Abu bakar mata uang yang dipakai sebagai alat tukar atau alat bayar
adalah mata uang romawi dan persia. Mata uang ini pada masa pemerintahan
sesudahnya, khususnya pada masa Khalifah Umar bin Khattab telah banyak yang
rusak.
Inilah salah satu sebab mengapa Abdul Malik bin Marwan melakukan pembaharuan
dalam bidang mata uang. Ia mengeluarkan jenis mata uang baru yang bisa dibilang
sebagai mata uang resmi pemerintahan Islam. Mata uang ini terbuat dari emar (Dinar),
perak (Dirham) dan Perunggu (Fals atau fuls).

Yaitu, mata uang yang satu sisinya bertuliskan kalimat Laailaha Illallah dan sisi lainnya
tertulis nama khalifah. Mata uang Islam yang baru ini menghilangkan symbolis Kristem
dan Zoroaster.
Untuk kepentingan itu, Khalifah Abdul Malik bin Marwan mendirikan pabrik percetakan
uang di Damaskus.

3. Pembaharuan Ragam Tulisan Bahasa Arab


Kebijakan Abdul malik bin Marwan lainya adalah pembaharuan dalam ragam tulisan
bahasa Arab. Hal ini dilakukan karena berdasarkan penilaiannya terdapat dua
kelemahan didalam bahasa Arab. Pertama, bahasa arab hanya mengandung huruf
konsonan (huruf mati), yang dapat diucapkan dalam beberapa bunyi Vokal.
Kenyataannya ini menyulitkan bagi masyarakat muslim yang bukan berasal dari bahasa
Arab didalam memahami dan mengucapakan bahasa Arab. Kedua, adalah beberapa
huruf arab mempunyai kesamaan bentuk, seperti antara huruf ( dan ( dan lainya.
Hajjaj bin Yusuf salah seorang gubernur Abdul malik yang mahir di dalam seni menulis
arab,

memperkenalkan tanda vokal dan menerapkan tanda-tanda titik untuk

membedakan beberapa huruf yang sama bentuknya.


Pembaharuan yang dilakukan khalifah Abdul Malik dan Gvubernur Hajjaj bin Yusuf ini
menjadikan bahasa Arab lebih sempurna dan sekaligus mengihlangkan kesulitan bagi
pembaca luas dikalangan non Arab.

4. Pembaharuan Dalam Bidang Perbajakan


Hingga pada masa pemerintahan Abdul Malik, umat Islam hanya berkewajibkan
membayar zakat dan bebas dari pajak lainnya. Hal ini mendorong orang non-muslim
memeluk agama Islam. Dengan cara ini, mereka terbebas dari pembayaran pajak.
Setelah itu, mereka meninggalkan tanah pertanianya guna mencari nafkah di kota-kota
besar sebagai tentara.
Kenyataan ini menimbulkan masalah bagi perekonamian negara. Karena pada satu sisi
perpindahan agama mengakibatkan berkurangnya sumber pendapatan negara dari

sektor pajak. Pada sisi lain, bertambahnya militer Islam dari kelompok Mawali
memerlukan dana subsidi yang makin besar.
Untuk mengatasi permasalahan ini, khalifah Abdul Malik mengembalikan beberapa
militer Islam kepada profesinya semula, yakni sebagai petani dan menetapkan
kepadanya untuk membayar sejumlah pajak sebagaimana kewajiban mereka sebelum
mereka masuk Islam, yakni sebesar beban Kharraj dan Jizyah.
Keputusan khalifah Abdul Malik ini tentu saja ditentang keras oleh kelompok Mawali.
Karena ketidakpuasan ini, pada akhirnya mereka menyokong gerakan propoganda
Abbasiyah untuk menggulingkan kekuasaan dinasti Umayyah. Masyarakat Arab Muslim
yang yang semula terbebas dari pajak bumi (Kharraj) kini mereka berkewajibkan untuk
membayar pajak tana pertanian.

5. Pengembangan Sistem Pos


Ketika Abdul Malik berkuasa, ia berusaha mengembangkan sistem pos yang telah
dibangun pada masa Muayyah bin Abu Sufyan. Sistem pos ini menghubungkan kotakota propinsi dengan pemerintahan pusat. Para petugas pos mengendarai kuda dalam
menjalankan tugasnya, khususnya tugas menyampaikan informasi penting dari
pemerintahan pusat ke pemerintahan propinsi.
Selain itu Khalifah juga mendirikan beberapa kota baru, diantara kota terpenting adalah
Al-Wasith di antara rendah Irak. Pendidrian kota ini dimaksudkan untuk mengendalikan
kemungkinan timbulnya gerakan pengacau di wilayah Irak.

6. Membentuk Mahkamah Agung


Kebijakan lain yang menjadi jasa penting dari peninggalan pemerintahan Khalifah Abdul
Malik adalah mendirikan lembaga mahkamah Agung. Lembaga ini didirikan untuk
mengadili para pejabat tinggi negara yang melakukan penyelewengan atau tindakan
yang merugikan bangsa dan negara atau bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.

7. Mendirikan Bangunan-Bangunan Penting


Keberhasilan lain yang menjadi jasa dari peninggalan Khalifah Abdul Malik adalah
menjadikan

bangunan-bangunan

penting

yang

sangat

dibutuhkan

didalam

memperlancar roda pemerintahan dan kekuasaan militter bani Umayyah.


Pada masanya, telah dibangun pabrik-pabrik senjata dan pabrik kapal perang di tunisia.
Membangun Kubah baru (Qubbah Al-Sakhra) di Yerussalem. Yang hingga kini masi
terpelihara dengan baik dan masih utuk.
Demikian jasa dan peningggalan Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang berkuasa
selama lebih kurang 20 tahun (66-86 H/685-705M). Jasa dan peninggalan ini kini masih
dapat disaksikan sebagai bagian dari masa kejayaan Khalifah abdul Malik bin Marwan,
di antaranya adalah : penggunaan bahasa Arab secara menyeluruh di wilayah zajirah
Arabiyah dan beberapa negara di Afrika Utara.
Tanpa jasa dan usahanya ini, mungkin bahasa Arab hanya sebagai bahasa komunikasi
diantara bangsa Arab. Tetapi untuk bangsa non Arab, mereka tidak mampu membaca
dan mempelajari bahasa Arab. Karena terdapat banyak kesamaan huruf yang ada
dalam bahasa Arab. Berkat jasa dan bantuan gubernur Hajjaj bin Yusuf Al-Saqafy,
bahasa Arab lebih mudah dipahami. Sehingga memudahkan bagi pengguna bahasa
yangg berasal dari masyarakat non Arab.

8. Kerajinan
Kerajinan pada masa Abdul Malik mulai dirintis pembuatan tiraz atau semacam bordiran
yakni cap resmi yang di cetak pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan.

Berita kemangkatan Khalifah Abdul Malik Bin Marwan cepat tersiar kesegenap penjuru
wilaya Islam disebabkan laulintas pos yang terjamin dan terpelihara dengan baik
sebagai warisan Khalifah Muawiyah I (661-680 M).
Ia wafat dalam tahun 86 H/705 M di dalam usia 60 tahun dengan meninggalkan karyakarya terbesar didalam sejarah Islam. Masa pemerintahannya 21 tahun, dan 8 tahun
dari masa tersebut menghadapi sengketa dengan Khalifah Abdullah ibn Zubair.

C. Hikmah dari Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan


Beberapa hikmah yang dapat diambil dari kepemimpinan Abdul Malik Bin Marwan
adalah sebagai berikut :
1.Semangat juang mempertahankan suatu negara/wilayah/suku dll. Seperti pada
penyelamatan dinasti Umayyah dari kehancuran
2.Memperhatikan kelangsungan/kesejahteraan hidup orang banyak sebagai contoh;
memperbaiki fasilitas Negara yang bertujuan untuk memakmurkan rakyat
3.Memudahkan kita semua untuk membaca sebuah Kita Suci dengan menyempurnakan
mushaf al-Qur`an
4.Selalu bersemangat dalam menyebarkan dan menjaga agama Islam
5.Selalu bersikap admitrif dalam berbagai hal termasuk hal-hal penting
6.Tidak melakukan sesuatu hal dengan cara emosional dan bersikap adil sesama
manusia sehingga tidak memiliki sikat pendendam (harus sabar), serta mau menerima
kritik dari berbagai pihal yang membangun.