Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

MANAJEMEN TERNAK PERAH


Manajemen Pakan

Oleh

Kelas

:E

Kelompok

:2

Arie Pratama Tarigan

200110120077

Poltak Y Sirait

200110120080

Andreas Saut S

200110120096

Rosman Lubis

200110120099

Frayanta

200110120171

Muhammad Zhafran A.

200110120180

Aldi Rinaldi

200110120207

Ersha Himawan

200110120231

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014

I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sapi perah adalah jenis sapi yang dapat menghasilkan air susu melebihi
dari kebutuhan anaknya dan merupakan salah-satu dari ternak perah yang
mampu merubah pakan menjadi air susu yang sangat bermanfaat bagi anakanaknya maupun bagi manusia.
Susu yang dihasilkan oleh sapi perah memiliki kandungan nutrien yang
komplek sehingga baik untuk dikonsumsi. Pengelolaan sapi perah yang baik
akan menghasilkan susu yang dapat mencukupi kebutuhan masyarakat. Gizi
susu sangat penting untuk membantu pertumbuhan tubuh.
Pakan ternak banyak memberikan pengaruh terhadap komposisi susu,
meskipun keragaman pakan ternak yang tiba-tiba dan dalam waktu yang
singkat tidak selalu mengubah komposisi normal susu (Adnan, 1984)
Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha peternakan sapi
perah, karena pemberian pakan yang kurang cukup kandungan nutrisinya
dapat berpengaruh terhadap reproduksi maupun produksi susu sapi perah.
Kebutuhan TDN dan protein sapi perah laktasi masing-masing antara 65-78%
dan 15-18% (Subiharta,Ulin, Ernawati dan Budi, 2000)
Bahan pakan merupakan kebutuhan nutrisi bila tidak tercukupi baik
kualitas maupun kuantitas tidak akan menghasilkan secara optimal karena
bahan pakan merupakan salah satu hal pokok penting serta menentukan
berhasil tidaknya usaha ternak perah. Bahan pakan pada ternak perah
digolongkan atas 2 kategori utama yaitu bahan pakan yg berserat kasar
(makanan utama), dan konsentrat (makanan tambahan).

1.2.

Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari makalah ini adalah :

Mengetahui bahan pakan apa yang dapat diberikan pada sapi perah

Mengetahui manajemen pemberian pakan pada sapi perah

Mengetahui fase pemberian pakan pada sapi perah

II
PEMBAHASAN
2.1. Pakan Sapi perah
Pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan peternakan sapi
perah. Ternak sapi perah yang dapat berproduksi tinggi, bila tidak mendapat
pakan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya, maka tidak akan
menghasilkan produksi secara optimal. Untuk menghindari kerugian,
pemberian pakan harus diperhitungkan dengan cermat dan harus dilakukan
secara efisien (Prihadi, 2008).
Bahan pakan pada ternak sapi perah digolongkan atas 2 kategori utama
yaitu (Ensminger):
1. Bahan pakan yang berserat kasar (makanan utama)
Porsinya dalam ransum lebih banyak, berserat kasar tinggi, dan
rendah kandungan energi. Contohnya Hijauan pasture, rumput
potong (Soilage), hay, silase, jenis hijauan lainnya, dan jenis bahan
pakan yang berserat kasar tinggi lainnya. Bahan yang berserat
kasar dibedakan atas 2 yaitu bahan pakan yang mempunyai kadar
air tinggi seperti hijauan pasture, rumput potong (soilage), silase,
dan lain-lain. Bahan pakan dalam bentuk kering seperti hay, jerami
dan lain-lain.
2. Konsentrat (makanan tambahan)
Konsentrat adalah pakan tambahan bila zat-zat gizi dari makanan
utama kurang terpenuhi. Selain itu, konsentrat merupakan sumber
energi dan protein, mengandung serat kasar yang rendah, serta
mudah dicerna. Konsentrat umumnya berasal dari biji-bijian, sisa

bahan pangan, limbah industri, tambahan vitamin, tambahan


mineral, dan bahan makanan tambahan lainnya.

2.2. Bahan Pakan yang Berserat Kasar (Pakan Utama)


2.2.1. Pasture
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan pasture antara lain
(Foley, 1980):
1. Tipe pasture umumnya digolongkan atas 3 yaitu:

Rumput

Legum

Kombinasi rumput dan legum

Legum mengandung protein dan mineral yang lebih tinggi


dibanding rumput pada tingkat pertumbuhan yang sama. Bakteri
pada bintil akar legum dengan fiksasi N dari udara akan
meningkatkan protein tanaman. Ternak yang digembalakan pada
pasture legum dapat menyebabkan kembung perut (bloat).
Pasture kombinasi rumput dan legum sangat baik karena dapat
meningkatkan produktivitas dan kualitas pasture dan juga dapat
dihindari terjadinya bloat pada ternak.
2. Pengaturan sistem grazing pada pasture

Dapat

diatur

umur

rumput/legum

yang

tepat

untuk

digembalakan.

Rumput/legum tdk terlalu tua atau muda pada saat


digembalakan.

Tingkat produktivitas pasture tetap tinggi tetapi nilai gizi dan


palatabilitasnya tetap dipertahankan.

Rumput/legum yang terlalu tua memang produktivitasnya tinggi,


tetapi nilai gizi dan palatabilitasnya menurun. Sebaliknya
rumput/legum yang terlalu muda gizi dan palatabilitasnya tinggi,
tetapi produktivitasnya menurun, dan perakarannya belum kuat,
serta batang bagian bawah belum matang sehingga kemampuan
untuk tumbuh kembali menurun.
Rotational grazing merupakan sistem yang tepat karena dapat
diatur umur rumput/legum untuk digembalakan. Kontinue grazing
mengakibatkan

ternak

memilih-milih

rumput/legum

yang

disukainya, sehingga ada rumput/legum yang tidik termakan


(terlalu tua) pada saat under grazing dan sebaliknya rumput/legum
secara beransur-ansur berkurang pada saat over grazing.
3. Stocking Rate
Stocking rate yang tinggi dapat meningkatkan produktivitas ternak
per satuan luas pasture, tetapi menurunkan produksi ternak per
ekor, bagitu juga sebaliknya. Stocking rate yang tepat adalah
memaksimalkan produksi ternak per satuan luas pasture dan
produksi per ekor sapi.

2.2.2. Soilage (Rumput Potong)


Soilage merupakan rumput tambahan atau pengganti dari grazing
seperti jagung, sorgum, rumput gajah dan lain-lain. Soilage harus
diatur sistem pemotongannya agar rumput tersedia sepanjang waktu

dan mengatur umur pemotongan yang tepat sehingga tingkat


produktivitas dan kualitasnya dapat dipertahankan. Rumput potong
membutuhkan biaya dan tenaga untuk memotong dan mengangkutnya
dibandingkan dengan rumput grazing. Apabila soilage dipotong saat
terlalu tua maka dapat menurunkan produktivitas ternak sapi. Rumput
potong yang terlalu tua masih lebih baik dibandingkan dengan rumput
grazing, karena lebih selektif pada sistem grazing dibandingkan
dengan pada rumput potong, karena dapat tercampur antara bagian
rumput yang mudah dan tua pada saat dicincang atau dicopper (Moran,
2005).

2.2.3. Silase
Silase adalah hijauan pakan yang difermentasikan pada kondisi
anaerob dan bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama. Hijauan
pakan yang umum dibuat silase (Moran, 2005):
1. Jagung
Jagung merupakan sumber energi yang tinggi, kandungan
protein dan mineralnya dari legum, dan kadar proteinnya 7.
Pada pembuatan silase dapat ditambahkan urea 10 lb per ton
berat basa (30% BK) sehingga proteinnya bisa mencapai 12 %.
Namun disarankan tidak menggunakan urea karena dapat
menurunkan

palatabilitas

dan

produksi

ternak.

Jagung

ditambah legum dalam pembuatan silase dapat meningkatkan


kadar protein menjadi 14 %.

2. Sorgum
Kelebihannya dibandingkan dengan jangung dimana sorgum
dapat kembali setelah didefoliasi. Nilai gizinya lebih rendah
dari pada jagung terutama kadar energinya.
3. Gandum
Silase gandum mengandung kadar protein, energi, dan kalsium,
serta palatabilitas yg rendah dibanding silase jagung. Sebaiknya
dicampur dengan penanaman dikombinasi dengan legum
sehingga dapat meningkatkan produksi dan kualitas.
4. Legum
Pembuatan silase legum sebaiknya dicampur dengan rumput,
dimana merupakan silase yang baik karena kandungan protein
dan mineralnya tinggi menghindari terjadinya bloat pada
ternak.
5. Bahan Silase lainnya

Pucuk tebu

Ampas jeruk

6. Haylage
Haylage adalah rumput atau legum yang bahan keringnya
sekitar 50 % untuk dibuat silase.

2.2.4. Hay
Hay adalah bahan pakan yang dikeringkan sampai kadar airnya
mencapai 10 %. Cara pengeringannya yaitu dengan sinar matahari atau

pengering buatan. Sebaiknya hay disimpan dalam bentuk packing


(Moran, 2005).
Jenis bahan pakan untuk Hay:

Rumput rumputan

Padi padian

Leguminosa

Cara meningkatkan kualitas Hay:


1. Jumlah daun lebih banyak dari pada batang, karena kandunga
protein, mineral (calcium, dan phospor) dan vitamin (carotein)
lebih tinggi pada daun diban batang.
2. Tanaman dipotong sebelum matang, karena tanaman yang matang
kandungan protein, mineral, vitamin dan palatabilitasnya menurun
sedang serat kasar meningkat.
3. Jenis bahan pakan yang dibuat hay.
4. Waktu dan sistem pengeringan.

2.2.5. Jenis Hijauan Lainnya

Daun-daunan (daun nangka, mangga, kelapa, waru dan lain.

Pucuk tebu dan lain-lain (Foley, 1980).

2.2.6. Bahan pakan yg berserat kasar tinggi lainnya

Jerami

Batang pisang

Tongkol jagung

Dedak

Biji kapok dan lain-lain

Bahan pakan ini kandungan protein dan energinya sangat rendah,


sehingga tidak dapat meningkatkan produksi ternak (Foley, 1980).

2.3. Konsentrat (Pakan Tambahan)


Konsentrat adalah jenis pakan yang mengandung energi dan protein yang
tinggi dan serat kasarnya rendah. Sumber bahan konsentrat dapat berupa
(Ensmiger, 1980):
1. Biji-bijian seperti :

Biji jagung

Biji kedelei

Biji Gandum

Padi-padian dan lain-lain

2. Limbah Pangan dan Industri seperti :

Kulit padi (bekatul)

Limbah pabrik gula (molases)

Limbah pabrik jus

Limbah pengolahan biji-bijian (bungkil kelapa, bungkil kacang


tanah, bungkil kedelei dan lain-lain).

Limbah pembuatan alcohol

Limbah pabrik roti

Limbah pembuatan keju

Limbah pembuatan tahu dan lain-lain.

3. Tambahan Mineral

Poses pembuatan konsentrat dibutuhkan tambahan mirenal yang


cukup. Bahan mineral pada umumnya tidak mengandung energy dan
protein. Tambahan mineral yang dibutuhkan seperti:

NaCl (garam dapur)

Kalsium

Phospor

Dimana porsinya dalam ransum sekitar 0,5 1 %, kalsium dan


phosphor biasanya bersumber dari tepung tulang dan kerang.
4. Tambahan Vitamin
Biasanya vitamin yang ditambahkan pada pembuatan konsentrat seperi
vitamin A, B, D dan E. Perlakuan terhadap pembuatan konsentrat
umumnya seperti :

2.4.

Penggilingan

Pellet

Butiran

Pemasakan

Kandungan air sekitar 10 15 %.

Proses Ensilase
Agar berhasil membuat silase, maka harus memahami proses ensilase.
Proses ensilase yaitu proses selama pembuatan silase. Proses ini memerlukan
waktu 2 - 3 minggu (Hanafi, 2008).
Setelah suatu produk pertanian dipanen, misalnya rumput dipotong, proses
respirasi akan tetap terjadi sampai sel sel tanaman mati. Respirasi merupakan
pengubahan karbohidrat menjadi energi maka apabila berjalan lama akan

menurunkan kandungan karbohidrat pakan. Proses respirasi memerlukan


oksigen sehingga untuk menghentikan proses ini dapat dilakukan dengan
menempatkan bahan pada kondisi anaerob. Oleh karena itu, memampatkan
bahan silase dan menutup rapat silo agar proses respirasi tidak berlangsung
lama (Hanafi, 2008).
Hijauan biasanya dipotong 3 - 5 cm sebelum dibuat silase. Tujuannya agar
lebih mudah memampatkannya. Apabila pemampatan maksimal, maka
oksigen dalam silo akan rendah sehingga respirasi cepat terhenti (Hanafi,
2008).
Setelah respirasi terhenti, proses yang terjadi selanjutnya adalah
fermentasi. Proses ini menyebabkan turunnya pH (derajat keasaman) bahan
baku silase hingga tidak ada lagi organisme yang bisa tumbuh. Proses
fermentasi bisa terjadi karena adanya bakteri pembentuk asam laktat yang
mengkonsumsi karbohidrat dan menghasilkan asam laktat. Asam laktat akan
terus diproduksi hingga tercapai pH yang rendah (<5) yang tidak
memungkinkan bakteri beraktifitas lagi dan tidak ada lagi perubahan.
Keadaan inilah yang disebut keadaan terfermentasi, dimana bahan dalam
keadaan tetap atau awet. Pada kondisi anaerob silase dapat disimpan
bertahun-tahun (Hanafi, 2008).
Contoh

bakteri

asam

laktat

diantaranya

adalah Streptococcus

thermophillus, Streptococcus lactis, Lactobacillus lactis, Leuconostoc


mesenteroides. Selain bakteri pembentuk asam laktat, dalam bahan baku
silase

terdapat

juga

bakteri Clostridia. Bakteri

ini

mengkonsumsi

karbohidrat, protein dan asam laktat sebagai sumber energi dan memproduksi
asam butirat. Bakteri ini merugikan karena menguraikan asam amino

(menurunkan kandungan protein dan menghasilkan ammonia) sehingga


menyebabkan pembusukan silase. Keadaan yang mendukung pertumbuhan
bakteri Clostridia adalah tingginya kadar air, terlalu lamanya proses respirasi,
kurangnya bakteri asam laktat dan rendahnya karbohidrat. Inilah yang
menyebabkan perlunya pelayuan bila kadar air bahan lebih dari 75% dan
bahan tambahan dalam pembuatan silase hijauan (Hanafi, 2008).
Bahan tambahan untuk pembuatan silase dibedakan menjadi 2 jenis yaitu
stimulant dan inhibitor. Bahan yang masuk kategori stimulant adalah bahan
pakan sumber karbohidrat seperti molasses, onggok, dedak halus atau ampas
sagu. Molasses dan onggok bisa ditambahkan sebanyak 2,5 % dari berat
hijauan. Sedangkan dedak halus sebanyak 5% dan kalau menggunakan ampas
sagu diperlukan 7% dari berat hijauan. Urea juga bisa ditambahkan untuk
meningkatkan kandungan protein silase berbahan baku jagung. Bahan
stimulant lain yang juga bisa dipakai adalah enzim atau mikrobia yang biasa
dijual di pasaran (Hanafi, 2008).
Sedangkan bahan yang masuk kategori inhibitor diantaranya asam format,
asam klorida, antibiotik, asam sulfat dan formalin. Penambahan inhibitor
bermanfaat untuk proses ensilase tetapi masih asing bagi petani kita. Bahan
stimulant lebih mudah didapatkan, harganya juga lebih murah dan lebih
ramah lingkungan (Hanafi, 2008).
Prinsip - prinsip pembuatan silase yang utama adalah (Hanafi, 2008):

Menghentikan pernapasan dan penguapan sel sel tanaman

Mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi


kedap udara

Menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk

2.5.

Mencapai dan mempercepat keadaan hampa udara (anaerob)

Silo (Tempat Pembuatan Silase)


Silo berasal dari bahasa Yunani Siro yang berarti tempat untuk
menyimpan biji-bijian. Silo yang dimaksud disini adalah merupakan tempat
atau wadah untuk membuat silase. Bahan dari silo bervariasi, bisa dari
plastik, drum, bus beton, kayu dan atau semen permanen. Pembuatan silo
dapat dilakukan secara permanen, semi permanen atau tidak permanen, hal
ini tergantung situasi dan kondisi serta kebutuhan (McEllhiary, 1994).
Menurut letak dan bentuknya, silo dibedakan menjadi beberapa bentuk
(McEllhiary, 1994) :

Stack atau Penc Silo


Silo atau tempat silase ini berbentuk bulat atau persegi dan terbuat dari
bahan yang tidak permanen, hijauan ditimbun diatas tanah.

Tower Silo
Silo model tower terletak di atas tanah, berbentuk menara, bisa bulat atau
persegi, terbuat dari kayu atau beton dan hijauan ditimbun di dalamnya.

Pit / Trench Silo


Silo ini berbentuk silinder dan berada di dalam tanah (permukaan sejajar
dengan permukaan tanah), bahan hijuan disimpan di dalam lubang di
tanah.

Clamp Silo
Silo ini merupakan bentuk gabungan antara stack dan pit silo, sehingga
letaknya sebagian di dalam tanah dan sebagian muncul di atas tanah.
Sebagian besar silase berada di atas tanah.

2.6.

Kualitas Silase
Silase yang baik beraroma dan berasa asam, tidak berbau busuk. Silase
hijauan yang baik berwarna hijau kekuning-kuningan. Apabila dipegang
terasa lembut dan empuk tetapi tidak basah (berlendir) . Silase yang baik juga
tidak menggumpal dan tidak berjamur. Bila dilakukan analisa lebih lanjut,
kadar keasamanya (pH) 3,2 - 4,5. Apabila terlihat adanya jamur, warna
kehitaman, berair dan aroma tidak sedap berarti silase berkualitas rendah
(Hanafi, 2008).

2.7.

Proses Pembuatan Hay


Proses pembuatan hay yaitu pertama menyiapkan hijauan pakan (rumput
gajah) yang kemudian memotong- motongnya baik dengan cara manual
dengan pisau atau sabit maupun dengan menggunakan mesin pencacah
rumput dan dilakukan penimbangan untuk mengetahui kadar airnya,
kemudian jemur hijauan dibawah sinar atahari selama 1 - 2 hari agar kadar
air menjadi 20 - 25% dan perlu dilakukan penimbangan setiap 5 jam untuk
mengetahui kadar airnya. Jika pengeringan sudah merata selanjutnya hijauan
diikat dan hay disimpan digudang. Ciri-ciri hay yang baik adalah warna hijau
kekuningan, tidak banyak daun yang rusak, bentuk daun masih utuh atau jelas
dan tidak kotor atau berjamur, serta tidak mudah patah bila batang dilipat
dengan tangan (Subekti, 2009).

2.8.

Pengolahan Jerami
Untuk membantu kegiatan mikroba rumen mencerna jerami padi
dilakukan berbagai cara seperti (Komar, 1984) :

Pra perlakuan secara fisik ; dipotong-potong, digiling, direndam,


direbus, dibuat pellet dan gamma irradiasi. Perlakuan ini akan
memecahkan lapisan kulit seperti lignin dan memperluas permukaan
partikel makanan sehingga mikroorganisme dapat langsung mencerna
selulosa. Dengan demikian kecepatan fermentasi akan meningkat,
waktu retensi makanan akan menurun dan konsumsi pakan
meningkat.

Pra perlakuan secara kimia, menggunakan bahan kimia antara lain


NaOH, Ca(OH)2, amonium hidroksida atau anhidrat amonia, urea
amonia, sodium karbonat, sodium klorida, gas klor, sulfur dioksida.
Larutan basa dapat mengurangi ikatan hidrogen antar molekul
selulosa.

Pra perlakuan fisik-kimia ; melakukan gabungan kedua cara di atas


seperti pemotongan dengan NaOH, dibuat pellet dan NaOH, dan
sebagainya, 4) pra perlakuan biologi ; dilakukan dengan penambahan
enzim, menumbuhkan jamur dan bakteri, fermentasi anaerob.

2.9.

Ransum Pedet
Makanan utama pedet adalah air susu. Pedet yang sehat dibiarkan
menyusui pada induknya selama 2 3 hari. Setelah pedet disapih perlu diajari
minum sendiri. Pemberian air susu pada pedet yaitu 10 -15% dari berat
badannya per ekor per hari selama 3,5 bulan. Pada umur 2 minggu pedet bisa

diajari makan rumput segar yang masih muda sedikit demi sedikit. Sebelum
pedet mencapai umur 6 bulan pemberian rumput tidak lebih dari 5
kg/ekor/hari. Setelah anak sapi berumur 6 bulan sudah bisa diberikan hijauan
sebanyak yang bisa dihabiskan (Moran, 2005).
Pada umur 1 bulan pedet mulai diberikan makanan penguat untuk
pengganti air susu seperti:

Umur 1 bulan 0,25 kg/ekor/hari

Umur 2 bulan 0,50 kg/ekor/hari

Umur 6 bulan 1,50 kg/ekor/hari

2.5. Ransum Pengganti Air Susu


Sapi yang belum berumur 4 bulan alat pencernaannya belum sempurna,
karena pencernaan makanan oleh bakteri dan protozoa dalam rumen belum
berarti. Bahan makanan pengganti air susu harus yang mudah dicerna dan
kandungan proteinnya tinggi. Air susu mengandung protein dapat dicerna
(Prdd): 3,5 % dan martabak pati (MP): 15%, berarti imbangan protein (IP) =
3,5 : 15 (IP = + 1 : 4). Jadi ransum pengganti air susu IP-nya sekitar 1 : 4
(Moran, 2005).
Ransum pengganti air susu biasanya berupa:
1. Bungkil kelapa 67 % dan bungkil kacang tanah 33 %
2. Jagung 72 % dan bungkil kacang tanah 28 %
3. Bekatul 25 % dan bungkil kacang tanah 75 %
Ransum pengganti air susu harus ditambahkan bahan mineral berupa:

Garam (NaCl) 2 %

Tepung tulang/kerang 1 %

Tepung karang (kapur) 1 %

2.6. Ransum Anak Sapi (4 8 bulan)


Pada umur 4 8 bulan biasanya anak sapi tidak diberikan lagi air susu.
Anak sapi pada umur seperti ini kemampuannya mencerna serat kasar (SK)
belum sempurna. Jumlah hijauan yang diberikan pada anak sapi masih
terbatas yaitu kurang dari 10 kg/ekor/hari, selebihnya diberikan dari makanan
penguat (konsentrat) (Schmidt, 1988).
Pada umur 4 8 bulan ini kebutuhan akan energi relatif lebih tinggi dari
pada umur sebelum 4 bulan. Ransum yang diberikan adalah: IP = 1 : 6, yaitu
berupa:

Hijauan 10 kg/ekor/hari

Makanan penguat 2 2,5 kg/ekor/hari

Ditambah: NaCl 2%, tepung tulang 1%, dan kapur 1%.

2.7. Ransum Sapi Dara (8 bulan dewasa)


Sapi yang telah berumur 8 bulan ke atas daya cernanya sudah sempurna,
sehingga mampu mencerna bahan makanan yang SK-nya tinngi. Pada umur
ini sapi banyak membutuhkan makanan kasar, sedangkan makanan penguat
hanya pelengkap dari kekurangan zat-zat makanan pada hijauan (pakan
utama). Sapi yang diberikan makanan kasar berupa jerami (yang kandungan
nutrisinya lebih rendah), maka kebutuhan makanan penguat/konsentrat akan
lebih banyak untuk menutupi kekurangan akan nilai nutrisi tersebut (Schmidt,
1988).

Makanan penguat yang diberikan pada umur ini tidak perlu terlalu baik
seperti ransum pedet, karena mikroba rumennya dapat merubah Non Protein
Nitrogen (NPN) menjadi protein. Biasanya kebutuhan protein diberikan
bahan berupa NPN seperti Urea. Ransum yang diberikan pada periode ini
adalah IP-nya 1 : 8 yaitu dapat berupa hijauan 20 kg/ekor/hari dan makanan
penguat 2 3 kg/ekor/hari (Schmidt, 1988).

2.8. Phase Feeding


Phase Feeding adalah suatu program pemberian pakan yang dibagi ke dalam
periode-periode berdasarkan pada produksi susu, persentase lemak susu,
konsumsi pakan, dan bobot badan. Terdapat 4 fase pemberian pakan sapi
laktasi (http://rismanismail2.wordpress.com).

2.8.1. Fase 1, Laktasi Awal (Early Lactation), dan 0 70 Hari Setelah


Beranak
Selama periode ini, produksi susu meningkat dengan cepat, puncak
produksi susu dicapai pada 4 - 6 minggu setelah beranak. Pada saat ini
konsumsi pakan tidak dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan
(khususnya kebutuhan energi) untuk produksi susu, sehingga
jaringan-jaringan tubuh dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan.
Selama fase ini, penyesuaian sapi terhadap ransum laktasi merupakan
cara manajemen yang penting. Setelah beranak, konsentrat perlu
ditingkatkan 1-1,5 lb per hari untuk memenuhi kebutuhan zat-zat
makanan yang meningkat dan meminimisasi problem tidak mau
makan dan asidosis. Namun perlu diingat, proporsi konsentrat yang

berlebihan (lebih dari 60% BK ransum) dapat menyebabkan asidosis


dan kadar lemak yang rendah. Tingkat serat kasar ransum tidak
kurang dari 18% ADF, 28% NDF, dan hijauan harus menyediakan
minimal 21% NDF dari total ransum. Bentuk fisik serat kasar juga
penting, secara normal ruminasi dan pencernaan akan dipertahankan
bila

lebih

dari

50%

hijauan

panjangnya

atau

lebih

(http://rismanismail2.wordpress.com).
Kandungan protein merupakan hal yang kritis selama laktasi awal.
Upaya untuk memenuhi atau melebihi kebutuhan PK selama periode
ini membantu konsumsi pakan, dan penggunaan yang efisien dari
jaringan tubuh yang dimobilisasi untuk produksi susu. Ransum
dengan protein 19% atau lebih diharapkan dapat me-menuhi
kebutuhan selama fase ini. Tipe protein (protein yang dapat
didegradasi atau tidak didegradasi) dan jumlah protein yang diberikan
dipengaruhi oleh kandungan zat makanan ransum, metode pemberian
pakan, dan produksi susu. Sebagai patokan, yang diikuti oleh banyak
peternak (di luar negeri) memberikan 1 lb bungkil kedele atau protein
suplemen yang ekivalen per 10 lb susu, di atas 50 lb susu
(http://rismanismail2.wordpress.com).
Bila zat makanan yang dibutuhkan saat laktasi awal ini tidak
terpenuhi, produksi puncak akan rendah dan dapat menyebabkan
ketosis. Produksi puncak rendah, dapat diduga produksi selama
laktasi akan rendah. Bila konsumsi konsentrat terlalu cepat atau
terlalu tinggi dapat menyebabkan tidak mau makan, acidosis,

dan displaced abomasum. Untuk meningkatkan konsumsi zat-zat


makanan (http://rismanismail2.wordpress.com):

Beri hijauan kualitas tinggi,

Protein ransum cukup,

Tingkatkan konsumsi konsentrat pada kecepatan yang konstan


setelah beranak,

Tambahkan 1,0-1,5 lb lemak/ekor/hari dalam ransum,

Pemberian pakan yang konstan, dan

Minimalkan stress.

2.8.2. Fase 2, Konsumsi BK Puncak, 10 Minggu Kedua Setelah Beranak


Selama fase ini, sapi diberi makan untuk mempertahankan produksi
susu puncak selama mungkin. Konsumsi pakan mendekati maksimal
sehingga dapat me-nyediakan zat-zat makanan yang dibutuhkan. Sapi
dapat mempertahankan bobot badan atau sedikit meningkat.
Konsumsi konsentrat dapat banyak, tetapi jangan melebihi 2,3%
bobot badan (dasar BK). Kualitas hijauan tinggi perlu disediakan,
minimal konsumsi 1,5% dari bobot badan (berbasis BK) untuk
mempertahankan fungsi rumen dan kadar lemak susu yang normal
(http://rismanismail2.wordpress.com).
Untuk meningkatkan konsumsi pakan:

Beri hijauan dan konsentrat tiga kali atau lebih sehari,

Beri bahan pakan kualitas tinggi,

Batasi urea 0,2 lb/sapi/hari,

Minimalkan stress, dan

Gunakan TMR (total mix ration) .

Problem yang potensial pada fase 2, yaitu:

Produksi susu turun dengan cepat,

Kadar lemak rendah,

Periode silent heat (berahi tidak terdeteksi), dan

Ketosis.

2.8.3. Fase 3, Pertengahan Laktasi Akhir, 140 305 Hari Setelah


Beranak
Fase ini merupakan fase yang termudah untuk me-manage. Selama
periode ini produksi susu menurun, sapi dalam keadaan bunting, dan
konsumsi zat makanan dengan mudah dapat dipenuhi atau melebihi
kebutuhan. Level pemberian konsentrat harus mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan produksi, dan mulai mengganti berat badan yang
hilang selama laktasi awal. Sapi laktasi membutuhkan pakan yang
lebih sedikit untuk mengganti 1 pound jaringan tubuh daripada sapi
kering. Oleh karena itu, lebih efisien mempunyai sapi yang meningkat
bobot badannya dekat laktasi akhir daripada selama kering
(http://rismanismail2.wordpress.com).

2.8.4. Fase 4, Periode Kering, 45 60 Hari Sebelum Beranak


Fase kering penting. Program pemberian pakan sapi kering yang baik
dapat meminimalkan problem metabolik pada atau segera setelah
beranak dan meningkatkan produksi susu selama laktasi berikutnya.
Sapi kering harus diberi makan terpisah dari sapi laktasi. Ransum

harus

diformulasikan

untuk

memenuhi

kebutuhannya

yang

spesifik: maintenance, pertumbuhan foetus, pertambahan bobot badan


yang tidak terganti pada fase 3. Konsumsi BK ransum harian
sebaiknya mendekati 2% BB; konsumsi hijauan minimal 1% BB;
konsumsi konsentrat bergantung kebutuhan, tetapi tidak lebih 1% BB.
Setengah dari 1% BB (konsentrat) per hari biasanya cukup untuk
program pemberian pakan sapi kering. Sapi kering jangan terlalu
gemuk. Memberikan hijauan kualitas rendah, seperti grass hay, lebih
disukai untuk membatasi konsumsi. Level protein 12% cukup untuk
periode kering (http://rismanismail2.wordpress.com).
Sedikit konsentrat perlu diberikan dalam ransum sapi kering dimulai 2
minggu sebelum beranak, bertujuan:

Mengubah bakteri rumen dari populasi pencerna hijauan


seluruhnya menjadi populasi campuran pencerna hijauan dan
konsentrat;

Meminimalkan stress terhadap

perubahan

ransum

setelah

beranak (http://rismanismail2.wordpress.com).
Kebutuhan Ca dan P sapi kering harus dipenuhi, tetapi perlu dihindari
pemberian yang berlebihan; kadang-kadang ransum yang mengandung
lebih dari 0,6% Ca dan 0,4% P meningkatkan kejadian milk
fever. Trace mineral, termasuk Se, harus disediakan dalam ransum sapi
kering. Juga, jumlah vitamin A, D. dan E yang cukup dalam ransum
untuk mengurangi kejadian milk fever, mengurangi retained plasenta,
dan meningkatkan daya tahan pedet .

Problem yang potensial selama fase 4 meliputi milk fever, displaced


abomasum, retained plasenta, fatty liver syndrome, selera makan
rendah, gangguan metabolik lain, dan penyakit yang dikaitkan
dengan fat cow syndrome.
Manajemen kunci yang harus diperhatikan selama periode kering,
meliputi:

Observasi kondisi tubuh dan penyesuaian pemberian energi bila


diperlukan,

Penuhi kebutuhan zat makanan tetapi cegah pemberian yang


berlebihan,

Perubahan ransum 2 minggu sebelum beranak, dengan


menggunakan konsentrat dan jumlah kecil zat makanan lain
yang digunakan dalam ransum laktasi,

Cegah konsumsi Ca dan P yang berlebihan, dan

Batasi garam dan mineral sodium lainnya dalam ransum sapi


kering untuk mengurangi problem bengkak ambing.

Pada waktu kering, kondisi tubuh sapi 2 atau 3, sedangkan saat


beranak 3,5 - 4,0. Selama 60 hari periode kering, sapi diberi makan
untuk mendapatkan PBB: 120 - 200 lbs.

2.9. Challenge Feeding (Lead Feeding)


Challenge feeding atau lead feeding, adalah pemberian pakan sapi laktasi
sedemikian sehingga sapi ditantang untuk mencapai level produksi susu
puncaknya sedini mungkin pada waktu laktasi. Karena ada hubungan yang
erat antara produksi susu puncak dengan produksi susu total selama laktasi,

penekanan harus diberikan pada produksi maksimal antara 3 8 minggu


setelah beranak (http://rismanismail2.wordpress.com).
Persiapan untuk challenge feeding dimulai selama periode kering;

Sapi kering dalam kondisi yang baik,

Transisi dari ransum kering ke ransum laktasi, mempersiapkan bakteri


rumen (http://rismanismail2.wordpress.com).

Setelah beranak challenge feeding dimaksudkan untuk meningkatkan


pemberian konsentrat beberapa pound per hari di atas kebutuhan sebenarnya
pada saat itu. Maksudnya adalah memberikan kesempatan pada setiap sapi
untuk mencapai produksi puncaknya pada atau dekat potensi genetiknya.
Waktu beranak merupakan pengalaman yang sangat traumatik bagi sapi
yang berproduksi tinggi. Akibatnya, banyak sapi tertekan selera makannya
untuk bebe-rapa hari setelah beranak. Sapi yang berproduksi susu sangat
tinggi tidak dapat mengkonsumsi energi yang cukup untuk mengimbangi
energi yang dikeluarkan. Konsekuensinya, sapi akan melepaskan cadangan
lemak dan protein tubuhnya untuk suplementasi ransumnya. Tujuan dari
pemberian pakan sapi yang baru beranak adalah untuk menjaga
ketergantungannya terhadap energi dan protein yang disimpan, sekecil dan
sesingkat mungkin. Penolakan makanan merupakan ancaman yang besar,
sangat perlu dicegah (http://rismanismail2.wordpress.com).
Challenge feeding membantu sapi mencapai produksi susu puncaknya
lebih dini daripada yang seharusnya, sehingga keuntungan yang dapat
diambil adalah, bahwa pada saat itu, secara fisiologis sapi mampu
beradaptasi terhadap produksi susu tinggi.

2.10. Corral (Group) Feeding (Pemberian Pakan (Group) di Kandang)


Pemberian pakan secara individual pada sapi-sapi laktasi sudah mengarah
kemechanized group feeding. Hal ini dikembangkan untuk kenyamanan dan
peng-hematan tenaga kerja, dibandingkan ke feed efficiency. Saat ini,
peternakan dengan beberapa ratus sapi laktasi adalah biasa, dan beberapa
peternakan bahkan

me-miliki beberapa ribu ekor. Untuk merancang

program nutrisi sejumlah besar ternak, dapat diadaptasikan terhadap


kebutuhan spesifik sapi-sapi perah, sapi-sapi di-pisahkan ke dalam
kelompok-kelompok

berdasarkan

produksi

(dan

kebutuhan

nutrisi)

(http://rismanismail2.wordpress.com).
Bila produser memutuskan pemberian pakan secara kelompok, perlu
ditentukan jumlah kelompok yang akan diambil. Untuk menentukan jumlah
kelompok tersebut pertimbangan perlu diberikan pada hal-hal berikut:

Besar peternakan (herd size),

Tipe dan harga bahan pakan,

Tipe perkandangan, pemberian pakan, dan sistem pemerahan,

Integrasi ekonomi secara keseluruhan dari operasional, sebagai


contoh tenaga kerja, mesin-mesin peralatan, dan lain-lain.

Pada peternakan besar (lebih dari 250 sapi perah laktasi), sistem yang
biasa digunakan adalah minimal dibentuk 5 kelompok:

Sapi - sapi produksi tinggi (90 lb. susu/ekor/hari)

Sapi - sapi produksi medium (65 lb. susu/ekor/hari)

Sapi - sapi produksi rendah (45 lb susu/ekor/hari)

Sapi - sapi kering

Sapi - sapi dara beranak pertama

Lebih banyak kelompok dapat dilakukan pada peternakan yang sangat


besar bila kandang dan fasilitas tersedia. Karena pertimbangan pemberian
pakan dan sosial, disarankan maksimal 100 ekor sapi per kelompok.
Melalui sistem ini setiap ke-lompok diberi makan menurut kebutuhannya.
Kelompok dengan produksi tinggi harus diberi makan yang mengandung
zat-zat makanan kualitas tertinggi pada tingkat maksimal. Sapi produksi
medium harus diberi makan sedemikian sehingga dapat mengurangi biaya
pakan,

meningkatkan

kadar

lemak,

memperbaiki

fungsi

rumen,

mempertahankan persistensi. Sapi produksi rendah sebagaimana untuk


produksi medium hanya perlu dipertimbangkan untuk menghindari
kegemukan yang berlebihan (http://rismanismail2.wordpress.com).
Salah satu problem dalam pemberian pakan secara berkelompok
menyangkut adaptasi tingkah laku dari sapi-sapi yang baru dikelompokkan,
seperti peck order tetapi masalah ini tidak terlalu besar. Untuk mengatasi
masalah ini pindahkan beberapa ekor sapi bersama-sama ke dalam
kelompok baru sebelum diberi makan (http://rismanismail2.wordpress.com).
Bila program pemberian pakan secara kelompok diikuti, konsentrat jarang
diberikan di tempat pemerahan, biasanya diberikan di kandang. Pemberian
pakan

berkelompok

dapat

dengan

mudah

beradaptasi

pada

penggunaan complete feeds yaitu konsentrat, hijauan, dan suplemen


dicampur menjadi satu, tidak diberikan terpisah. Beberapa produser yang
menggunakan complete feeds lebih menyukai pemberian hijauan kering,
khususnya long stemmed hay secara terpisah untuk meningkatkan stimulasi
rumen

dan

fasilitas

pencampuran,

karena long

dalam mixer (http://rismanismail2.wordpress.com).

hay sulit

dicampur

Keuntungan pemberian pakan berkelompok dan complete feed adalah:

Produser dapat menggunakan formulasi khusus yang penting untuk


ternak

Mengeliminasi kebutuhan penyediaan mineral ad libitum

Konsumsi ransum yang tepat

Difasilitasi pemberian pakan secara mekanis, sehingga mengurangi


tenaga kerja yang dibutuhkan

Mengeliminasi problem yang dikaitkan dengan konsumsi yang tidak


terkontrol dari bahan pakan tertentu

Mengurangi resiko gangguan pencernaan, seperti seperti displaced


abomasum

Mengurangi pemberian pakan di tempat pemerahan

Penggunaan maksimal dari formulasi ransum biaya terendah

Menutupi bah pakan yang tidak palatabel, seperti urea

Dapat diadaptasikan terhadap sistem kandang konvensional

Memungkinkan produser menetapkan rasio serat kasar terhadap


proporsi konsentrat dalam ransum

Mengurangi resiko kekurangan micronutrient

Menyediakan operator dengan gambaran konsumsi pakan harian


kelompok,

yang

kemudian

dapat

digunakan

memperbaiki

manajemen (http://rismanismail2.wordpress.com).
Di antara kerugian dari pemberian pakan berkelompok dan complete
feed adalah (http://rismanismail2.wordpress.com):

Memerlukan peralatan pencampuran yang khusus untuk meyakinkan


mencampur secara merata

Tidak ekonomis membagi peternakan kecil ke dalam kelompokkelompok

Tidak dapat diaplikasikan terhadap peternakan yang digembalakan

Sulit untuk membuat kelompok-kelompok pada beberapa design


kandang

Dapat terjadi mismanagement seperti fat cow syndrome dan problem


kesehatan seperti kesulitan melahirkan, reproduksi yang jelek,
produksi rendah, konsumsi bahan kering rendah, dan gangguan
metabolik. Dalam berbagai kasus problem-problem tersebut tidak
timbul segera, biasanya muncul beberapa bulan kemudian.

KESIMPULAN

Bahan pakan yang dapat diberikan pada sapi perah digolongkan atas 2
kategori utama yaitu Bahan pakan yang berserat kasar (makanan utama)
dan konsentrat(makanan pelengkap).

manajemen pemberian pakan pada sapi perah dibagi ke dalam periodeperiode berdasarkan pada produksi susu, persentase lemak susu, konsumsi
pakan, dan bobot badan.

Terdapat 4 fase pemberian pakan sapi perah yaitu :


o Fase 1, Laktasi Awal (Early Lactation), dan 0 70 Hari Setelah
Beranak
o Fase 2, Konsumsi BK Puncak, 10 Minggu Kedua Setelah Beranak
o Fase 3, Pertengahan Laktasi Akhir, 140 305 Hari Setelah
Beranak
o Fase 4, Periode Kering, 45 60 Hari Sebelum Beranak

DAFTAR PUSTAKA
Ensminger, M. E. 1980. Dairy Cattle Science. Clovis, California. (Chapter 1; 2 19).
Foley, R. C., D. L. Bath, F. N. Dickinson and H. A. Tucker. 1980. Dairy Cattle:
Principles, Practices, Problems, Profits. Lea and Febiger-Philadelphia.
(Part IV; 372 389, Part VI; 510 - 550).
Hanafi, ND. 2008. Teknologi Pengawetan Pakan Ternak. Universitas Sumatera
Utara.
http://rismanismail2.wordpress.com/2011/11/14/manajemen-pemberian-pakansapi-perah. Diakses pada tanggal 4 September 2014, Pukul 15.34 WIB.
Komar, A. 1984. Tehnologi Pengolahan Jerami Sebagai Makanan Ternak.
Yayasan Dian Grahita, Jakarta.
McEllhiary,R.R. 1994. Feed Manufacturing Technology IV. Am.Feed Industry
Assoc. Inc. Arlington
Moran, J. 2005. Tropical Dairy Farming: Feeding Management for Small Holder
Dairy Farmers in the Humid Tropics. Landlinks Press. Australia.
Prihadi, S. dan Adiarto. 2008. Ilmu Ternak Perah. Fakultas Peternakan,
Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Subekti, Endah. 2009. Ketahanan Pakan Ternak Indonesia. Mediagro Vol. 5 No.
2 : 63 71.
Schmidt, G. H., L. D. Van Vleck and M. F. Hutjens. 1988. Principles of Dairy
Science. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey. (Chapter 5; 63 73).
Sudono, A. 1999. Ilmu Produksi Ternak Perah. Jurusan Ilmu Produksi Ternak,
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. (Bab V; 28 35).