Anda di halaman 1dari 19

MENGENAL BAHASA PROKEM

MAKALAH
Untuk Memenuhi UAS matakuliah Bahasa Indonesia
yang dibina oleh Bapak Vanda Hardinata, S.Pd M.Pd

Disusun oleh:
Jason Christian Abram

155020201111116

Universitas Brawijaya
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Jurusan Manajemen
2015

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Mahakuasa atas segala limpahan
Rahmat, Taufiq serta HidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Mengenal Bahasa Prokem untuk memenuhi UAS mata kuliah
Bahasa Indonesia yang dibina oleh Bapak Vanda Hardinata, S.Pd, M.Pd

Makalah ini disusun dengan maksud selain memenuhi tugas mata kuliah
Bahasa Indonesia, penyusun juga berharap agar pembaca dapat memperluas
pengetahuan tentang bahasa prokem sehingga dapat mengenal lebih dalam
mengenai bahasa ini.
Dalam penyusunan makalah ini, tentu tidak luput dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Vanda Hardinata, S.Pd, M.Pd selaku dosen mata kuliah Bahasa
Indonesia
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan baik moril dan materil
3. Teman-teman yang telah membantu dalam penyusunan
4. Pihak lain yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu
Penyusun menyadari makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapan demi
perbaikan. Besar harapan kami makalah yang berjudul Mengenal Bahasa
Prokem dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih.

Malang, 10 Juni 2016

Penyu
sun

Daftar Isi

Kata Pengantar...............................................................................................................
Daftar Isi.......................................................................................................................
Bab I Pendahuluan........................................................................................................
I.1 Latar Belakang...............................................................................................
I.2 Rumusan Masalah..........................................................................................
I.3 Tujuan.............................................................................................................
Bab II Pembahasan.......................................................................................................
II.1 Sejarah Bahasa Prokem................................................................................
II.2 Pengertian Umum Bahasa Prokem...............................................................
II.3 Perbedaan Bahasa Prokem dan Bahasa Alay................................................
II.4 Tata Bahasa Prokem......................................................................................
II.5 Partikel yang Sering di Pakai Dalam Bahasa Prokem..................................
II.6 Penggunaan Bahasa Prokem yang Baik......................................................
Bab III Penutup...........................................................................................................
III.1 Kesimpulan................................................................................................
III.2 Saran..........................................................................................................
Daftar Pustaka.............................................................................................................

Bab I
Pendahuluan
I.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan simbol khas dari suatu negara ataupun wilayah, karena
bahasa merupakan unsur penting dalam berkomunikasi. Dalam melakukan
interaksi setiap orang butuh bahasa sebagai medianya. Setiap negara mempunyai
bahasanya masing-masing yang berbeda satu sama lain, bahkan bahasa dapat
membedakan antara Negara yang satu dengan negara yang lain. Negara Indonesia
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa umum atau utama dalam
bernegara, sedangkan negara Amerika menggunakan bahasa Inggris sebagai
bahasa utamanya. Jadi, bahasa juga dapat menjadi ciri dari suatu negara. Negara
Indonesia yang terdiri dari banyak pulau atau wilayah mempunyai berbagai
macam bahasa yang berbeda tiap pulau dan daerahnya yang disebut bahasa
daerah. Bahasa daerah ini dipakai dalam keadaan nonformal, dalam arti saat
berinteraksi sesama warga satu daerah. Sedangkan dalam acara formal
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa penuturnya, karena bahasa
Indonesialah yang diakui dan disepakati rakyat Indonesia dalam Sumpah Pemuda
adalah bahasa Indonesia.
Bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim
digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam
yang disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh kata-kata
Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong dua fonemnya yang paling akhir
kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir yang tersisa.
Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa
rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian,
bahasa pergaulan anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia nonformal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu.
Makalah ini akan menjelaskan mengenai sejarah bahasa prokem,
pengertian bahasa prokem, tata bahasa prokem, perbedaan bahasa prokem dengan
bahasa alay, partikel yang sering dipakai dalam bahasa prokem, dan penggunaan
bahasa prokem yang baik. Penyusun berharap semoga makalah ini bermanfaat.

I.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.

Bagaimana sejarah terbentuknya bahasa prokem?


Apa pengertian bahasa prokem?
Apakah bahasa prokem dan bahasa alay sama?
Apa tata bahasa prokem?

5. Apa partikel yang sering di pakai dalam bahasa prokem?


6. Bagaimana cara menggunakan bahasa prokem yang baik?

I.3 Tujuan
Tujuan dan manfaat penulisan makalah ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Memahami sejarah bahasa prokem


Mengetahui pengertian bahasa prokem
Mengetahui perbedaan bahasa prokem dan bahasa alay
Mengetahui tata bahasa prokem
Mengetahui partikel apa yang sering di pakai dalam bahasa prokem
Memahami cara menggunakan bahasa prokem yang baik

Bab II
Pembahasan
II.1 Sejarah Bahasa Prokem
Sejarah bahasa prokem sendiri sebenarnya sudah ada sejak
tahun 1980-an, lalu bahasa tersebut diadopsi dan dimodifikasi
sedemikian unik sehingga hanya digunakan oleh orang-orang
tertentu atau kalangan-kalangan tertentu saja. Pada awalnya
bahasa prokem digunaakan oleh para preman yang kehidupanya
dekat dengan kekerasan, kejahatan, narkoba, dan minuman
keras. Banyak istilah-istilah baru yang mereka ciptakan dengan
tujuan agar masyarakat awam atau orang luar komunitas mereka
tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan atau yang
telah mereka bicarakan. Mereka merancang kata-kata baru,
mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan,
menentukan angka-angka, penggantian fonem, penambahan
awalan, sisipan, atau akhiran Pergaulan di kalang waria
mengenal apa yang disebut dengan budaya teman sebaya (peer
culture).
Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan
isi obrolan dalam komunitas tertentu. Oleh karena sering
digunakan di luar komunitasnya, lama-lama istilah tersebut jadi
bahasa sehari-hari. Kosakata bahasa gaul yang belakangan ini
berkembang sering tidak beraturan dan cenderung tidak
terumuskan. Bahkan tidak dapat diprediksi bahasa apakah yang
berikutnya akan menjadi bahasa gaul.
Pada mulanya pembentukan bahasa slang, prokem, cant, argot,
jargon, dan colloquial di dunia ini adalah berawal dari sebuah
komunitas atau kelompok sosial tertentu yang berada di kelas
atau golongan bawah. Lambat laun akhirnya bahasa tersebut
digunakan oleh masyarakat untuk komunikasi sehari-hari..
Bahasa prokem atau bahasa gaul sering digunakan sebagai
bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan
sosial bahkan dalam media populer separti TV, radio, dunia
perfilman nasional, dan digunakan sebagai publikasi yang
ditujukan untuk kalangan waria, remaja oleh majalah-majalah
remaja populer.

II.2 Pengertian Umum Bahasa Prokem

Bahasa prokem atau Bahasa gaul adalah ragam bahasa


Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada
tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang
disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh katakata Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong dua
fonemnya yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di
depan fonem terakhir yang tersisa. Misalnya, kata bapak
dipotong menjadi bap, kemudian disisipi -ok- menjadi bokap.
Bahasa prokem merupakan perpaduan sintaksis dan morfologi
dari bahasa Indonesia dan dialek Betawi.
Bahasa prokem yang khas Indonesia jarang dijumpai di negaranegara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa
prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan
dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/
pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia
yang menetap di Jakarta.
Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman.
Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk
berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat
mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka
merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti
kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angkaangka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan
awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah)
memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk
memberikan kode kepada lawan bicara.
Saat ini bahasa prokem telah banyak terasimilasi dan menjadi
umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam
pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media-media
populer seperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan
seringkali pula digunakan dalam bentuk pengumumanpengumuman yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh
majalah-majalah remaja populer.

II.3 Perbedaan Bahasa Prokem dan Bahasa Alay


Bahasa Alay lebih mengarah menuju ke unik yang berkebihan, karena pada
penulisannya, Bahasa Alay nampak menggabungkan huruf besar-huruf kecil,
menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara
berlebihan. Contoh: 4L4y d3t3cT. Soal intonasi bicaranya juga terkesan
berlebihan. Kalau dilihat dari sisi penampilan, mereka terlihat begitu mencolok

hingga menyilaukan mata dan mengakibatkan terganggunya penglihatan pada


sebuah objek.
Jika dilihat dari wadahnya, Bahasa Prokem itu bersumber dari lisan lain hal
dengan bahasa alay bersumber dari tulisan. Jika Bahasa Prokem tersirat maka
bahasa alay lah yang tersurat.

II.4 Tata Bahasa Prokem


Struktur dan tatabahasa dari bahasa prokem tidak terlalu jauh
berbeda dari bahasa formalnya (bahasa Indonesia), dalam
banyak kasus kosakata yang dimilikinya hanya merupakan
singkatan dari bahasa formalnya. Perbedaan utama antara
bahasa
formal
dengan
bahasa
prokem
ada
dalam
perbendaharaan kata.
Banyak orang asing yang belajar Bahasa Indonesia merasa
bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia
asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan
kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa
daerahnya masing-masing atau juga menggunakan bahasa
prokem.
Bahasa
Indonesia

Bahasa Prokem (Informal)

Aku, Saya

Gue, gua (di tulis juga gw)

Kamu

Lu, lo (di tulis juga lw)

Astaga

Anjir, Anjay, Anjoy

Benarkah?

Emangnya bener?, Beneran?

Tidak

Enggak, Gk, Ga

Tidak peduli

Emang gue pikirin! (singkatnya EGP), Bodo


amat!

Norak, Udik

Kamseupay

Bapak

Bokap

Sepatu

Spokat

Cina

Cokin

Kita

Kokit

Kawin

Wakin

Dia

Doi

Sini

Sokin

Mabok

Baok

Contoh:

II.5 Partikel yang Sering di Pakai dalam Bahasa Prokem


Sih, nih, tuh, dong, merupakan sebagian dari partikel-partikel bahasa prokem yang
membuatnya terasa lebih "hidup" dan membumi, menghubungkan satu anak muda
dengan anak muda lain dan membuat mereka merasa berbeda dengan orang-orang
tua yang berbahasa baku. Partikel-partikel ini walaupun pendek-pendek namun
memiliki arti yang jauh melebihi jumlah huruf yang menyusunnya. Kebanyakan
partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak
dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban antara
pembicara dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada
kalimat tersebut diucapkan.
1. Deh/ dah
Deh/ dah asalnya dari kata sudah yang diucapkan singkar
menjadi deh/dah atau udah. Namun dalam konteks berikut,
deh/dah ini sebagai penekanan atas pernyataan.

Bagaimana kalau ...


Coba dulu deh. (tidak menggunakan intonasi pertanyaan) Bagaimana kalau dicoba dahulu?
Besok pagi aja deh. - Bagaimana kalau besok pagi saja?

Saya mau ...


Lagi deh. - Saya mau lagi.
Yang biru itu deh. - Saya mau yang biru itu saja.
Aku pergi deh. - Saya mau pergi dahulu.

Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau


berdiri sendiri.
2. Dong
Partikel dong digunakan sebagai penegas yang halus atau kasar
pada suatu pernyataan yang akan diperbuat.

Tentu saja ...


Sudah pasti dong. - Sudah pasti / Tentu saja.
Mau yang itu dong - Tentu saja saya mau yang itu.

Kata perintah atau larangan yang sedikit kasar / seruan


larangan.
Maju dong! - Tolong maju, Pak/Bu.
Pelan-pelan dong! - Pelan-pelan saja, Kak/Dik.

Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau


berdiri sendiri.
3. Eh
Pengganti subjek, sebutan untuk orang kedua.
Eh, namamu siapa? - Bung, namamu siapa?
Eh, ke sini sebentar. - Pak/Bu, ke sini sebentar.
Ke sini sebentar, eh. - Ke sini sebentar, Bung.

Membetulkan perkataan sebelumnya yang salah.


Dua ratus, eh, tiga ratus. - Dua ratus, bukan, tiga ratus.
Biru, eh, kalau gak salah hijau. - Biru, bukan, kalau tidak
salah hijau.

Mengganti topik pembicaraan


Eh, kamu tahu tidak ... - Omong-omong, kamu tahu tidak ...
Eh, jangan-jangan ... - Hmm... jangan-jangan ...

Berdiri sendiri: menyatakan keragu-raguan


Eh...

Selain 'eh' sebagai sebutan untuk orang kedua, partikel ini


biasanya tidak dapat dipakai di akhir kalimat lengkap.
4. Kan
Kependekan dari 'bukan', dipakai untuk
pendapat/penyetujuan orang lain (pertanyaan).

meminta

Bagus kan? - Bagus bukan?


Kan kamu yang bilang? - Bukankah kamu yang bilang
demikian?
Dia kan sebenarnya baik. - Dia sebenarnya orang baik,
bukan?

Jika dirangkai dalam bentuk "kan ... sudah ..." menyatakan


suatu sebab yang pasti (pernyataan).

Kan aku sudah belajar. - Jangan khawatir, aku sudah


belajar.
Dia kan sudah sabuk hitam. - Tidakkah kamu tahu bahwa
dia sudah (memiliki tingkatan) sabuk hitam.

Berdiri sendiri: menyatakan dengan nada kemenangan


"Lihatlah, bukankah aku sudah bilang demikian"
Kan...

5. Kok
Kata tanya pengganti 'Kenapa (kamu)'
Kok kamu terlambat? - Kenapa kamu terlambat?
Kok diam saja? - Kenapa kamu diam saja?
Kok dia mukanya masam? - Kenapa dia mukanya masam?
Kok aku tidak percaya kamu? - Kenapa aku tidak dapat
mempercayaimu?

Memberi penekanan atas kebenaran pernyataan yang


dibuat.

Saya dari tadi di sini kok. - Saya mengatakan dengan jujur


bahwa dari tadi saya ada di sini.
Dia tidak mencurinya kok. - Saya yakin bahwa dia tidak
mencurinya.

Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat


diungkapkan dengan kata-kata
Kok???

6. Lo/Loh
Kata seru yang menyatakan keterkejutan. Bisa digabung
dengan kata tanya. Tergantung intonasi yang digunakan,
partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam
ekspresi.
Lho, kok kamu terlambat? - Kenapa kamu terlambat?
(dengan ekspresi heran)
Loh, apa-apaan ini! - Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan
retorik dengan ekspresi terkejut/marah)
Lho, aku kan belum tahu? - Aku sebenarnya belum tahu.
(dengan ekspresi tidak bersalah)
Loh, kenapa dia di sini? - Kenapa dia ada di sini? (dengan
ekspresi terkejut)

Kata informatif, untuk memastikan / menekankan suatu


hal.
Begitu lho caranya. - Begitulah caranya.
Nanti kamu kedinginan loh. - Nanti kamu akan kedinginan
(kalau tidak menggunakan jaket, misalnya).
Aku mau ikut lho. - Aku mau ikut, tahu tidak?.

Ingat loh kalau besok libur. - Tolong diingat-ingat kalau


besok libur.
Jangan bermain api lho, nanti terbakar. - Ingat, jangan
bermain api atau nanti akan terbakar.

Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat


diungkapkan dengan kata-kata
Lho???

7. Nih/ ni
Kependekan dari 'ini'.
Nih balon yang kamu minta. - Ini (sambil menyerahkan
barang). Balon yang kamu minta.
Nih, saya sudah selesaikan tugasmu. - Ini tugasmu sudah
saya selesaikan.
(I)ni orang benar-benar tidak bisa dinasehati - Orang ini
benar-benar tidak bisa dinasehati

Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat


mencerminkan bermacam-macam ekspresi (umumnya
tentang keadaan diri sendiri).
Cape, nih. - Saya sudah lelah. (dengan ekspresi lelah)
Saya sibuk, nih. - Saya baru sibuk, maaf. (dengan ekspresi
menolak tawaran secara halus)
Sudah siang, nih. - Sekarang sudah siang. Ayo lekas ...

Untuk memberi penekanan pada subjek orang pertama

Saya nih yang tahu jawabannya. - Hanya saya yang tahu


jawabannya.
Aku nih sebenarnya anak
sebenarnya anak konglomerat.

konglomerat.

Aku

ini

Berdiri sendiri: memberikan/menyerahkan sesuatu kepada


orang lain
Nih.

Lihat partikel "tuh/ tu".


8. Sih
Karena ...
Dia serakah sih. - Karena dia serakah. (dengan ekspresi
mencemooh)
Kamu sih datangnya terlambat. - Karena kamu datang
terlambat. (dengan ekspresi menyesal)

Digunakan tepat setelah sebuah kata tanya yang artinya


kurang lebih "Sebenarnya ..."
Tadi dia bilang apa sih? - Sebenarnya apa yang dia katakan

tadi?

Berapa sih harganya? - Sebenarnya berapa harganya?


Apa sih yang dia mau? - Sebenarnya apa yang dia mau?
(dengan ekspresi jengkel)
Maumu kapan sih? - Sebenarnya kapan yang kamu mau?

Membedakan seseorang dari sekumpulan orang.


Tetanggaku semuanya miskin, tapi orang itu sih kaya. Orang itu lebih kaya daripada yang lain.
Aku sih tidak akan terjebak, kan aku sudah belajar banyak.
- (Yang lain boleh terjebak,) Saya pasti tidak akan terjebak,
sebab saya sudah belajar banyak.

Kata yang mengakhiri satu pernyataan sebelum memulai


pernyataan yang bertentangan.

Mau sih, tapi ada syaratnya. - Saya mau tetapi ada


syaratnya.
Saya bisa sih, cuma ada beberapa yang ragu-ragu. - Saya
bisa tetapi ada beberapa yang saya masih ragu-ragu.
Itu saya sih, tapi saya tidak bermaksud melukainya. - Itu
sebenarnya saya, tetapi saya tidak bermaksud melukainya.
Kalau aku sih tenang-tenang saja. - Kalau saya sekarang ini
tenang-tenang saja.
Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau
berdiri sendiri
9. Tuh/ tu
Kependekan dari 'itu', menunjuk kepada suatu objek
Lihat tuh hasil dari perbuatanmu. - Lihat itu, itulah hasil
dari perbuatanmu.
Tuh orang yang tadi menolongku. - Itu lihatlah, itu orang
yang menolongku.
Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat
mencerminkan bermacam-macam ekspresi (umumnya
tentang keadaan orang lain).
Kelihatannya dia sudah sembuh, tuh. - Lihat, nampaknya
dia sudah sembuh.
Tuh, kamu lupa lagi kan? - Lihat, kamu lupa lagi bukan?

Ada yang mau, tuh. - Lihat, ada yang mau (barang


tersebut).

Untuk memberi penekanan pada subjek orang kedua atau


ketiga.
Dia tuh orangnya tidak tahu diuntung. - Dia sebenarnya
orang yang tidak tahu berterima kasih.
Kalau jadi orang seperti Bapak camat tuh. - Jadilah
seseorang seperti Bapak camat.
Kamu tuh terlalu baik. - Kamu orang yang terlalu baik.

Berdiri sendiri: menunjukkan sesuatu kepada orang lain


Tuh.

10.

Ya

Ya di sini tidak selalu berarti persetujuan. Beberapa penggunaan


partikel 'ya':

Kata tanya yang kurang lebih berarti "Apakah benar ...?"

Rapatnya mulai jam delapan ya? - Apakah benar rapatnya


mulai jam delapan?
Kamu tadi pulang dulu ya? - Apakah benar tadi kamu
pulang dulu?

Kalau bukan ini, ya itu

Kalau tidak mau, ya tidak masalah. - Kalau tidak mau tidak


masalah.
Kalau mau, ya silakan. - Kalau mau silakan (ambil / ikut /
beli / dll.)

Sebagai awal kalimat digunakan tepat setelah sebuah


kalimat dengan nada bertanya.
Mahal? ya jangan beli. - Kalau mahal jangan dibeli.
Apa? (dengan ekspresi tidak percaya) Ya jangan mau dong.
- Apa? Kalau begitu jangan mau.
Apa kamu bilang? Ya dilawan dong. - Apa kamu bilang?
Tahu begitu seharusnya kamu melawan.

Berdiri sendiri: lawan kata 'tidak'; kependekan dari 'iya';


menyatakan persetujuan

Ya.
11.

Yah

Selalu menyatakan kekecewaan dan selalu digunakan di awal


kalimat atau berdiri sendiri.
Yah...
Yah, kamu sih - Ini karena kamu.
Yah, Indonesia kalah lagi - Indonesia kalah lagi (dengan
ekspresi kecewa)
Yah, sudah selesai - Belum-belum sudah selesai.

II.6 Penggunaan Bahasa Prokem yang Baik


Perlu untuk dipahami bahawa Bahasa Prokem bukanlah merupakan bagian dari
bahasa resmi. Pada dasarnya bahasa ini adalah bahasa yang digunakan pada
tingkatan rendah yaitu sebagai bahasa percakapan. Meskipun secara struktur tidak
jauh berbeda dengan struktur bahasa Indonesia baku. Jadi kita hanya boleh
menggunakan Bahasa Prokem pada sebuah oborolan yang jauh dari kata resmi,
karena tetap bahasa resmi kita adalah bahasa Indonesia.
Berdasarkan penggunaannya bahasa Indonesia dibagi menjadi ragam lisan dan
tulisan. Kemudian ragam baku dan non baku. Semuanya itu digunakan bergantung
pada situasi dan tempat, juga dengan siapa bahasa Indonesia itu digunakan. Dalam
kondisi tertentu, seperti situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang baik
dan benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa yang baik seharusnya juga
sesuai dengan kaidah yang ada. Tidak mungkin kita menggunakan bahasa
Indonesia yang resmi pada sebuah situasi santai dimana kita bercanda gurau
dengan teman.

Bab III
Penutup
III.1 Kesimpulan
1. Sejarah bahasa prokem sendiri sebenarnya sudah ada sejak
tahun 1980-an, lalu bahasa tersebut diadopsi dan dimodifikasi
sedemikian unik sehingga hanya digunakan oleh orang-orang
tertentu atau kalangan-kalangan tertentu saja.
2. Bahasa prokem atau Bahasa gaul adalah ragam bahasa
Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada
tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang
disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh
kata-kata Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong
dua fonemnya yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -okdi depan fonem terakhir yang tersisa.
3. Bahasa prokem berbeda dengan bahasa alay, Jika Bahasa
Prokem tersirat maka bahasa alay lah yang tersurat.
4. Perbedaan utama antara bahasa formal dengan bahasa
prokem ada dalam perbendaharaan kata.
5. Partikel yang sering di pakai dalam bahasa prokem adalah
deh/dah, dong, eh, kan, kok, lo/loh, nih/ni, sih, tuh/tu, ya, yah.
6. Bahasa prokem adalah bahasa utama yang digunakan untuk
komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan seharihari, kecuali untuk keperluan formal. Karenanya akan menjadi
terasa 'aneh' untuk berkomunikasi secara verbal dengan
orang lain menggunakan bahasa Indonesia formal.

III.2 Saran
1. Gunakan bahasa secara intensif, baik dan benar serta tepat. Baik dari segi lisan
maupun tulisan. Jangan asal semau-nya. Karena Bahasa Indonesia merupakan
Bahasa Nasional yang artinya bahasa tersebut merupakan bahasa pengantar
sehari-hari.
2. Gunakanlah bahasa prokem pada tempatnya, sesuai dengan kaidahnya.
3. Gunakanlah bahasa Indonesia dengan penuh kebanggaan. Karena bahasa
adalah identitas bangsa dan dari bahasa tersebut akan tercermin jati diri
bangsa.
4. Penggunaan bahasa gaul atau bahasa prokem/bahasa asing tidak dapat menjadi
ancaman bagi penggunaan bahasa Indonesia bila kita dapat menggunakan
bahasa-bahasa tersebut secara profesional, karena bahasa-bahasa tersebut akan
tumbuh dan berkembang sendiri sesuai dengan lingkungan, fungsi, dan
situasinya masing-masing.

Daftar Pustaka
Harimurti, Kridalaksana.2008. Kamus Linguistik edisi 4. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Saifiana, Putri 2013. Sejarah Bahasa Gaul.
http://putrisaifiana.blogspot.co.id/2013/08/sejarah-bahasa-gaul.html (tanggal
akses 9 Juni 2016)
Uray. 2012. Antara Bahasa Gaul (Prokem) dan Bahasa Alay
http://www.kompasiana.com/perantaukatakat.multply.com/antara-bahasa-gaulprokem-dan-bahasa-alay_551793818133119e689de326 (tanggal akses 10 Juni
2016)
Yulio, Agham. 2014. Mengenal Bahasa Prokem
http://aghamisme.blogspot.co.id/2014/10/mengenal-bahasa-prokem.html (tanggal
akses 6 Juni 2016)
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_prokem (tanggal akses 5 Juni 2016)