Anda di halaman 1dari 31

MODUL I : SINGLE PATCH DESIGN

MODUL II : SIMULATION SETTINGS


I . DASAR TEORI
1 . Software CST
CST MICROWAVE STUDIO (CST MWS) adalah software yang
dapat digunakan untuk membuat desain dan menganalisis dari semua jenis
sistem antena. Tools ini sangat membantu seorang desainer antena
melakukan analisa parameter antena, perhitungan SAR, perhitungan fasa,
directivity atau mengkaji antena tunggal atau array dalam 3D, polar dan
koordinat cartesius. Fitur yang disajikan pada perangkat lunak ini
memudahkan dalam analisis elektromagnetik. [1]
1.1

Pengertian Antena
Dalam bahasa Inggris, antena disebut juga dengan aerial. Antena
adalah suatu alat listrik yang dapat mengubah sinyal listrik menjadi
gelombang elektromagnetik kemudian memancarkannya ke ruang bebas
atau sebaliknya yaitu menangkap gelombang elektromagnetik dari ruang
bebas dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Antena juga tergolong
sebagai transduser karena dapat mengubah suatu bentuk energi ke bentuk
energi lainnya.
Antena merupakan salah satu komponen atau elemen terpenting
dalam suatu rangkaian dan perangkat elektronika yang berkaitan dengan
frekuensi

radio

ataupun

gelombang

elektromagnetik.

Perangkat

elektronika tersebut diantaranya adalah perangkat komunikasi yang


sifatnya tanpa kabel atau wireless seperti radio, televisi, radar, ponsel, WiFi, GPS dan juga bluetooth. Antena diperlukan baik bagi perangkat
menerima sinyal maupun perangkat yang memancarkan sinyal.

yang

[2]

Perinsip Kerja Antena


Pada umumnya Antena terdiri dari elemen atau susunan bahan
logam yang terhubung dengan saluran Transmisi dari pemancar maupun
penerima yang berkaitan dengan gelombang elektromagnetik. Untuk
membahas lebih lanjut mengenai cara kerjanya, kita mengambil sebuah
contoh pada sebuah Stasiun Pemancar Radio yang ingin memancarkan

programnya, pertama kali stasiun pemancar tersebut harus merekam


musik atau menangkap suara si pembicara melalui Mikropon yang dapat
mengubah suara menjadi sinyal listrik. Sinyal listrik tersebut akan masuk
ke rangkaian pemancar untuk dimodulasi dan diperkuat sinyal RF-nya.[2]
Dari Rangkaian Pemancar Radio tersebut, sinyal listrik akan
mengalir ke sepanjang kabel transmisi antena hingga mencapai
Antenanya. Elektron yang terdapat dalam sinyal listrik tersebut bergerak
naik

dan

turun

(bolak-balik)

sehingga

menciptakan

radiasi

elektromagnetik dalam bentuk gelombang radio. Gelombang yang


menyertakan program radio tersebut kemudian akan dipancarkan dan
melakukan perjalanan secepat kecepatan cahaya.[2]
Pada saat ada orang mengaktifkan radionya sesuai dengan
frekuensi pemancar di jarak beberapa kilometer kemudian, gelombang
radio yang dikirimkan tersebut akan mengalir melalui Antena dan
menyebabkan elektron bergerak naik dan turun (bolak-balik) pada Antena
yang bersangkutan sehingga menimbulkan energi listrik. Energi listrik ini
kemudian diteruskan ke rangkaian penerima radio sehingga kita dapat
mendengarkan berbagai program dari Stasiun Radio.[2]

Gambar 1.1 : Pengiriman sinyal dari pemancar ke penerima

Karakteristik dan Parameter Kinerja Antena


Pola Radiasi Antena (Radiation Pattern)
Pola radiasi atau radiation pattern adalah penggambaran radiasi
yang berkaitan dengan kekuatan gelombang radio yang dipancarkan oleh
antena ataupun tingkat penerimaan sinyal yang diterima oleh antena pada
sudut yang berbeda. Pada umumnya pola radiasi ini digambarkan dalam
bentuk plot 3 dimensi. Pola radiasi antena 3 dimensi ini dibentuk oleh dua
pola radiasi yaitu pola elevasi dan pola azimuth. Bentuk pola radiasi
adalah pola omnidirectional pattern yaitu pola radiasi yang serba sama
dalam satu bidang radiasi dan pola drective yang membentuk bola berkas
yang sempit dengan radiasi yang tinggi. [3]
Bandwidth
Bandwidth didefinisikan sebagai jarak dari frekuensi-frekuensi
dimana performa (karakteristik-karakteristik) sesuai dengan standar yang
ditetapkan. Bandwidth suatu LNA juga dapat didefinisikan sebagai rentang
frekuensi di mana kinerja LNA yang berhubungan dengan beberapa
karakteristik (seperti VSWR, return loss) memenuhi spesifikasi standar.
Pada LNA, bandwidth berdasarkan return loss, yaitu rentang frekuensi
saat nilai return loss < -10 dB. Pada (10).
Scattering parameter
Scattering parameters (S-Parameter) adalah term yang popular
untuk gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi. Sebenarnya scattering
parameter dapat diterapkan pada frekuensi berapapun tetapi yang lebih
umum adalah pada frekuensi RF dan gelombang mikro. S-Parameter
menggambarkan perilaku elektris pada linear electrical network. SParameter dapat digunakan untuk menyatakan VSWR, gain, return loss,
transmission coefisien, reflection coefisien. [3]
Voltage Standing Wave Ratio (VSWR)
Sesuai dengan namanya yaitu perbandingan standing wave pada
saat tegangan maksimum dan minimum. Pada input : VSWR= (1+S11)/(1S11) Pada output : VSWR=(1+S22)/(1-S22). Jika gelombang dapat
melewati jaaringan dengan sempurna sehingga tidak ada yang dipantulkan

balik menuju sumbernya maka nilai VSWRnya adalah 1. Nilai ini adalah
nilai ideal dan tidak pernah terjadi pada prakteknya. Saat
gelombang dipantulkan balik maka nilai VSWRnya adalah tak

semua

berhingga.

[3]

Return Loss
Kondisi ketika beban tidak sesuai (mismatch) menyebabkan tidak
semua daya yang berasal dari sumber dikirim ke beban. Kerugian ini
disebut return loss. Return loss pada masukan (input return loss)
mengindikasikan terjadinya mismatch antara impedansi masukan LNA
dengan impedansi karakteristik saluran transmisi. Return loss pada
masukan dapat dihitung dari S-parameter. [3]
Gain
Gain atau sering juga disebut dengan directivity

gain

adalah

sebuah parameter antena yang mengukur kemampuan antena dalam


mengarahkan radiasi sinyalnya atau penerimaan sinyal dari arah tertentu.
Dengan kata lain, gain digunakan untuk mengukur efisiensi sebuah antena.
Gain diukur dalam bentuk satuan decibel. [3]
Polarisasi (Polarization)
Polarisasi atau polarization dapat diartikan sebagai arah rambat
dari medan listrik atau penyebaran vektor medan listrik. Polarisasi antena
yang dimaksud disini adalah orientasi medan listrik dari gelombang radio
yang berhubungan dengan permukaan bumi dan kecocokan struktur fisik
antena dengan orientasinya. Mengenali polarisasi bermanfaat untuk
mendapatkan efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. [3]
Keterarahan (Directivity)
Keterarahan atau directivity adalah perbandingan antara dentisitas
daya antena pada jarak sebuah titik tertentu relatif terhadap sebuah radiator
isotropis. Yang dimaksud dengan radiator isotropis adalah pemancaran
radiasi antena secara seragam ke semua arah. [3]

Antena Mikrostrip
Perkembangan dari teknologi antena mikrostrip terkait secara erat
dengan perkembangan teknologi struktur pemandu gelombang mikrostrip
(microstrip lines). Pemandu gelombang mikrostrip secara sederhana bisa
kita sejajarkan dengan rangkaian pada printed circuit board (PCB) yang
biasa ditemukan pada elekhonika berfrekuensi rendah, yaitu berupa lajurlajur pipih yang terletak di atas suatu substrat yang terbuat dari material
dielektrika. Lajur-lajur pipih ini dihasilkan dengan proses etching.
Keuntungan pemandu gelombang mikrostrip dibandingkan dengan
waveguide adalah bentuknya yang low-profil, yang mudah dan murah
untuk diproduksi secara massal. [4]

Gambar 1.2 : Antena mikrostrip planar dengan bentuk patch bebas


Bentuknya yang low-profile, dengan ketebalan substratnya yang
hanya mempunyai besaran milimeter memudahkan antena ini untuk
dimontasikan hampir pada seluruh tempat. Misalnya antena ini akan
sangat menguntungkan jika dipasangkan pada badan dari sebuah roket
(dengan melengkungkannya), tanpa harus mengganggu sifat aerodinamis
dari roket tersebut. Pada dasarnya antena mikrostrip terdiri dari sebuah
substrat, yang dikatakan sebagai pembawa dari antena tersebut (secara
mekanis), yang di atas substrat ini dibentuk macam-macam form dari
antena itu sendiri (patch) melalui proses etching, dan di balik substrat ini
terdapat metalisasi bawah.[4]

Disamping kelebihan antena mikrostrip di atas, antena ini juga


memiliki kekurangan, yang terutama sekali adalah, gain yang dicapainya
sangat kecil, sekitar 6 dBi, mempunyai bandwidth yang kecil, dan hanya
bisa memancarkan sinyal dengan daya yang relatif kecil, maksimal 100
Watt.Bentuk konduktor bisa bermacam-macam tetapi yang pada umumnya
digunakan berbentuk empat persegi panjang dan lingkaran karena bisa
lebih mudah dianalisis.[4]
Jenis jenis antena mikrostrip seperti pada gambar :

Gambar 1.3. Jenis jenis antena mikrostrip

II. LANGKAH PRAKTIKUM


1. Buka software CST Studio Suite 2012
2. Pilih CST Microwave Studio, seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.1 : Template awal


3. Kemudian akan muncul template untuk memilih jenis antena yang akan
dibuat, pilih Antena (Planar) lalu klik OK. Seperti pada gambar dibawah
ini :

Gambar 2.2 : Template proyek baru

4. Tambahkan material yang akan digunakan, yaitu Copper (annealed)


dengan cara klik Solve > Materials > Load from Material Library >
Copper (annealed) > Load

Gambar 2.3 : Load Material


5. Buat substrate dengan ukuran 20 x 20 menggunakan material Rogers
RT5880 (lossy), dengan cara klik ikon

, buat kotak ditengah working

plane, kemudian muncul template Brick. Atur ukuran dan material yang
sesuai pada template Brick seperti gambar dibawah ini :

Gambar 2.4 : Membuat Substratee

6. Buat patch yang berada tepat ditengah-tengah substratee yang telah kita
buat, dengan ukuran 10 x 10 dan bahan Copper (annealed). Caranya klik
ikon

, buat kotak ditengah-tengah substratee, dan atur parameter pada

template Brick seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.5 : Membuat Patch


7. Selanjutnya beri pick edge center pada salah satu sisi substratee bagian
atas, dengan cara klik ikon

> double click pada salah satu sisi

substratee yang akan diberi pick edge center. Setelah itu akan muncul
garis merah dibagian sisi yang kita pilih seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.6 : Meletakkan pick edge center

8. Letakkan WCS (Working Coordinate System) tepat ditengah sisi yang


telah kita beri Pick Edge Center. Caranya klik WCS > Align WCS with
picked point. Setelah itu akan muncul WCS tepat ditengah sisi yang telah
dipilih.

Gambar 2.7 : Menampilkan WCS


9. Selanjutnya membuat Feed Line. Klik ikon

> tekan Shift+Tab >

muncul template Enter Point. Pada template ini pilih Mode Cartesian,
U:0, V:0 > OK.

Gambar 2.8 : Atur posisi Brick

Pilih Pick Edge Center > double klik pada salah satu sisi patch yang
berhadapan dengan WCS (sesuaikan ukuran Brick) jangan klik tepat pada
tengah pick edge center. Setelah itu atur ukuran Brick.

Gambar 2.9 : Membuat Brick


10. Berikan Pick Point di sambungan antara Brick yang baru dibuat dengan
Patch yang sudah dibuat seperti pada gambar di bawah ini. Kemudian beri
WCS di titik tersebut, caranya WCS > Align WCS with selected point

Gambar 2.10 : Menampilkan WCS


11. Buatlah Brick baru memotong Patch yang sudah dibuat sehingga
membentuk gambar seperti dibawah ini. Atur ukuran Brick sesuai dengan
ketentuan dengan cara klik ikon
atur ukuran Brick.

> buat Brick baru memotong Patch >

Gambar 2.11 : Membuat Brick memotong Patch


12. Berikan Pick Point dititik seperti gambar dibawah ini. Kemudian double
klik solid2 pada kolom Navigation Tree untuk menampilkan daerah P2
yang kita pilih.

Gambar 2.12 : Menampilkan potongan Patch

13. Copy potongan Patch yang sudah dibuat dilangkah sebelumnya, dengan
cara klik ikon

> checklist pada point copy dan unite pada template

Transform Selected Object.

Gambar 2.13 : Copy potongan Patch


14. Setelah membuat potongan Patch di dua belah sisi, potongan tersebut akan
membuang bagian Patch tersebut. Caranya pilih component patch pada
Navigation tree > klik ikon > pilih component solid2 pada navigation
tree > enter.

Gambar 2.14 : Memotong Patch


15. Selanjutnya, Pick Face pada bagian bawah substratee (yang tidak terdapat
Patchnya) untuk membuat Ground Plane.

Gambar 2.15 : Memberikan Pick Face pada bagian bawah Substratee

16. Buat Ground Plane dengan klik ikon

(extrude) > atur Ground Plane

sesuai dengan gambar dibawah ini.

Gambar 2.16 : Membuat Ground


17. Komponen terakhir yang harus dibuat yaitu membuat konektor antena.
Caranya berikan Pick Face pada Feed Line > buat waveguide port > klik
ikon

> atur posisi sesuai ketentuannya.

Gambar 2.17 : Membuat Port

18. Hasil perancangan Antena

Gambar 2.18 : Model Antena Single Patch


19. Atur frequency range yang akan digunakan dalam simulasi. Klik ikon
pada toolbar > setting Fmin = 3 dan Fmax = 8 > OK.

Gambar 2.19 : Mengatur jangkauan Frekuensi


20. Atur symmetry plane atau tampilan jangkauan yang diinginkan pada
simulasi. Klik ikon

> pilih bar Symmetry Planes > atur YZ plane ke

magnetic (HT = 0) > dikolom Thermal (kolom sebelahnya) pilih


isothermal (T = const) > OK.

Gambar 2.20 : Mengatur Symmetry Plane

21. Untuk menampilkan simulasi hasil polarisasi antena, buat Field Monitor
baru dengan mengatur frekuensi yang digunakan yaitu 5.25GHz dan type
E-Field. Kemudian atur 2D Plane sesuai dengan pengaturan dibawah ini.
Pada monitor ini, dapat mengatur type yang akan divisualisasikan.

Gambar 2.21 : Membuat Monitor Field


22. Langkah selanjutnya yaitu proses running dimana akan terlihat hasil
polarisasi yang disimulasikan pada proses ini. Klik ikon
accuracy sebesar -50dB > Start.

Gambar 2.22 : Running Simulasi

> atur

23. Ada beberapa parameter yang dapat dilihat setelah proses running selesai.
Untuk parameter yang pertama disini kita lihat hasil S-Paramaters, yaitu
dengan cara klik 1D Result pada Navigation Tree > klik S-Parameters >
file parameter yang akan dibuka.

Gambar 2.23 : Hasil Simulasi S-Parameter


24. Parameter selanjutnya yaitu E-Field, dapat dilihat dengan cara yang
hampir sama dengan melihat S-Parameters yaitu klik 2D/3D Result pada
Navigation Tree > klik E-Field > klik Abs.

Gambar 2.24 : Hasil Simulasi E-Field

25. Parameter terakhir yang dicontohkan dalam modul ini yaitu melihat hasil
simulasi medan yang dipancarkan pada antena tersebut (Farfield). Buat
New Field Monitor dengan cara klik kanan pada Field Monitor di
Navigation Tree > pilih type Farfield/RCS > atur frekuensi di 5.25Ghz
> OK.

Gambar 2.24 : Membuat Field Monitor baru


Selanjutnya running program seperti langkah sebelumnya, Klik ikon

>

atur accuracy sebesar -50dB > start.

Gambar 2.25 : Running Simulasi


Tunggu beberapa saat, setelah proses selesai untuk melihat hasil simulasi
klik Farfields pada Navigation Tree > farfield (f=5.25) [1] > Abs.

Gambar 2.26 : Hasil Simulasi Farfield


26. Ada beberapa pilihan untuk menampilkan hasil tampilan Farfield. Caranya
yaitu klik kanan pada hasil simulasi > Farfield Plot Properties > pilih
bar View. Pada bar ini terdapat tiga pilihan tampilan, farfield transparent,
structure transparent dan show structure. Adapun contoh-contoh
tampilannya adalah sebagai berikut :

(a)

(b)

(c)
Gambar 2.27 : Tampilan Simulasi
(a) Simulasi menggunakan Show Structure,
(b) Simulasi menggunakan Show Structure dan Structure Transparent,
(c) Simulasi menggunakan Show Structure dan Farfield Transparent.

III. HASIL PRAKTIKUM


1. Desain Antena Single Patch

Gambar 3.1 Desain Antena Single Patch


2. Polar Directivity

Gambar 3.2 Farfield Polar Directivity


3. Polar E-Field

Gambar 3.3 Farfield Polar E-Field

4. Polar Gain

Gambar 3.4 Farfield Polar Gain


5. Polar H-Field

Gambar 3.5 Farfield Polar H-Field


6. Polar P-Field

Gambar 3.6 Farfield Polar P-Field

7. Polar Realize Gain

Gambar 3.7 Farfield Polar Realize Gain


8. S-Parameter

Gambar 3.8 Farfield Polar S-Parameter


9. 2D Directivity

Gambar 3.9 Farfield 2D Directivity

10. 2D E-Field

Gambar 3.10 Farfield 2D E-Field


11. 2D Gain

Gambar 3.11 Farfield 2D Gain


12. 2D H-Field

Gambar 3.12 Farfield 2D H-Field

13. 2D P-Field (Power Pattern)

Gambar 3.13 Farfield 2D P-Field


14. 2D Realize Gain

Gambar 3.14 Farfield 2D Realize Gain

IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN


Pada praktikum modul 2 dan modul 2 kali ini kita akan membahas
tentang desain antena single patch dan simulasi antena. Antena yang
dibuat adalah antena planar dengan bahan substrate terbuat dari Rogers
RT5880 (lossy) dan patch terbuat dari Copper (annealed).
Namun pada praktikum di modul 1 dan modul 2 ini saya akan
menganalisa tentang gambar atau hasil pada gambar nya berikut
penjelasan analisa dari gambar praktikum modul 1 dan modul . Tetapi
pada analisa kali ini saya tidak menjelaskan atau tidak menganalisa semua
gambar hanya saja saya menganalisa beberapa semple dari

setiap

percobaan yang di lakukan .


Scattering parameters (S-Parameter) adalah term yang popular untuk
gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi. Sebenarnya scattering
parameter dapat diterapkan pada frekuensi berapapun tetapi yang lebih
umum adalah pada frekuensi RF dan gelombang mikro. Pada gambar 3.2
(S-Parameter) diatas diperoleh nilai Frekuensi yaitu 4,9 Ghz.
Keterarahan atau directivity adalah perbandingan antara dentisitas daya
antena pada jarak sebuah titik tertentu relatif terhadap sebuah radiator
isotropis. Yang dimaksud dengan radiator isotropis adalah pemancaran
radiasi antena secara seragam ke semua arah.
Gain atau sering juga disebut dengan directivity gain adalah sebuah
parameter antena yang mengukur kemampuan antena dalam mengarahkan
radiasi sinyalnya atau penerimaan sinyal dari arah tertentu.
E-Field Secara teknis adalah ukuran seberapa kuat kekuatan akan berada
di unit muatan suatu titik. Oleh karena itu, satuan untuk e-field yang
adalah newton/coulomb. Unit-unit ini adalah setara dengan volt/meter. Efield adalah vektor kuantitas, di setiap titik dalam ruang ini memiliki
magnitudo dan arah.
H-field yang adalah vektor kuantitas (memiliki magnitudo dan arah)
yang diukur dalam satuan amp/meter. Ingat bahwa e-field poin yang jauh
dari sebuah muatan titik yang positif. Sebuah ikal (membungkus H-field)
sekitar kawat yang bergerak.

Gambar 4.1 S-Parameter


Terlihat bahwa hasil pada S-Parameter menunjukkan bahwa antena pada
praktikum kali ini bekerja pada rentang frekuensi 3 8 GHz yang telah di
set sebelumnya walaupun tidak tertera satuan GHz pada saat memasukkan
nilainya tapi menunjukkan penggunaan satuan GHz yang terlihat pada saat
awal membuat rancangan antena ini yang bisa ditunjukkan pada langkah
praktikum dengan nilai frekuensi resonansi yang bekerja pada frekuensi
4.9 GHz dan nilai Return Loss maksimal hanya sampai -20 dB.

Gambar 4.2 Polar Farfield Directivity


Pada hasil keluaran menunjukkan bahwa direktifitas bekerja pada
frekuensi 5.25 GHz dengan nilai main lobe magnitude = 7,6 dBi; main
lobe direction = 6,0 deg; side lobe level = -24.0 dB dan angular width (3
dB) = 76,5 deg. Directivitas sendiri merepresentasikan pengarahan antena
yang artinya semakin besar nilai direktivitas maka lebar berkasnya
(beamwidth) ditunjukkan pada garis warna biru muda yaitu sudut yang
dibatasi daya atau 3 dB atau 0.701 medan maksimum pada mainlobe
akan semakin sempit.

Gambar 4.3.Farfield 2D Directivity


Pada gambar farfield [1*5,25] ini terlihat jelas bahwa hasil yang keluar
dari gambar adalah [phi = 0,0 Theta = 120,0] : - 163 dBi dan Red elfc = 1,345636 dB , Tot elfc = - 9,97362 dB dan Dir nya = 7,62 dBi .

Gambar 3.12 Farfield 2D H-Field


Pada gambar farfield [1*5,25] ini terlihat jelas bahwa hasil yang keluar
dari gambar adalah [phi = 0,0 Theta = 180,0] : - 65,6 dBi dan Red elfc = 1,34536 dB , Tot elfc = - 9,97362 dB dan Hmax nya = 39,1 dBA/m .
Sebenarnya dari semua gambar atau hasil dari praktikum modul 1 dan
modul 2 ini hasil nilai nya yang keluar adalah tidak semua sama dan tidak
semua berbeda bisa dilihat pada gambar.

V. KESIMPULAN
A. KESIMPULAN
1. Semakin besar nilai derektivitas maka lebar berkas nya (bandwidth)
semakin sempit.
2. Polarisasi antena relatif terhadap E-Field dari antena. Jika E-Field nya
horizontal maka antenanya Horizontally Polarized, dan jika E-Field
vertical maka antenanya Vertically Polarized.
3. Semakin besar gain sebuah antena, berarti illuminated area on sphere
(beamwidth) nya makin kecil, dengan kata lain antena tersebut
radiasinya mengarah ke satu titik tertentu.
4. Polarisasi antena diukur pada dua keadaan, yaitu pada vector electric
field yang mengacu pada E-Field dan vector magnetic field yang
mengacu pada H-Field.
5. Nilai Directivity (keterarahan) sebuah antena dapat diketahui dari pola
radiasi

antena

tersebut,

semakin

sempit

main

lobe

maka

keterarahannya semakin baik dibanding main lobe yang lebih lebar.

VI. DAFTAR PUSTAKA


[1].Annonymous,

"conference.unud.ac.id,"

[Online].

Available:

http://conference.unud.ac.id/wp-content/uploads/CST-Maret-2012BTP.pdf, [2016]
[2].MRrepository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21600/3/Chapter%20II.p
df. Univesitas Sumatera Utara,[2016]
[3].Annonymous.

"teknikelektronika.com,"

[Online].

Available:

http://teknikelektronika.com/pengertian-antena-parameter
karakteristiknya/, [2016]
[4].Alaydrus Mudrik. 2011. Antena Prinsip & Aplikasi. Yogyakarta.
Graha Ilmu