Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Di era modern saat ini kebutuhan akan alat transportasi sangat
berperan,baik alat transportasi umum dan pribadi. Dalam pemenuhan kebutuhan
alat tranportasi tidak lepas dari kemajuan industri automotive.Sebagai contoh
mobil ,motor,bus,truk dll
Kecanggihan alat transportasi sangat berhubungan erat dengan kepresisian
komponen mesin.
PT FEDERAL IZUMI MANUFACTURING PISTON merupakan perusahaan yang
memproduksi salah satu komponen yang sangat diperlukan di sebuah komponen
mesin yaitu piston.
Piston adalah sumbat geser yang terpasang di dalam sebuah silinder mesin
pembakaran dalam silinder hidrolik,pneumatik dan silinder pompa.
Piston pada mesin juga dikenal dengan istilah torak adalah bagian (parts) dari mesin
pembakaran dalam yang berfungsi sebagai penekan udara masuk dan penerima
tekanan hasil pembakaran pada ruang bakar. Piston terhubung ke poros engkol
(crankshaft,) melalui setang piston (connecting rod). Material piston umumnya
terbuat dari bahan yang ringan dan tahan tekanan, misal aluminium yang sudah
dicampur bahan tertentu (aluminium alloy).
Piston merupakan salah satu komponenen penting didalam sebuah silnder
pembakaran,maka kepresisian dimensi piston berpengaruh dalam proses
pembakaran. Dari hasil pembakaran didalam silinder mesin maka diperoleh hasil
pembakaran untuk menggerakan mesin. Oleh karena itu kualitas dimensi

merupakan unsur utama yang harus diperhatikan.untuk mendapatkan hasil yang


baik dibutuhkan material dengan komposisi yang seimbang antara lain besi,
alumunium,magnesium,dll serta proses produksi yang mendukung.
Saat ini PT FEDERAL IZUMI MANUFACTURING PISTON telah memproduksi
bermacam-macam jenis piston untuk motor,mobil, truk,dan diesel baik untuk
perusaan lokal di Indonesia dan perusahaan automotive luar negeri.
Makalah ini akan membahas mengenai piston yaitu dimensi piston secara
detail,fungsi piston,jenis-jenis piston,prinsip kerja piston,langkah-langkah pembuatan
piston dan proses pembuatan piston pada proses machining.
Karena proses finish dari pembuatan piston dilakukan pada proses machining dan
proses pembuatan piston terlengkap ada pada proses machining piston diesel, maka
saya akan mengambil judul makalah sebagai berikut:
PROSES PEMBUATAN PISTON DIESEL PADA PROSES MACHINING DI PT
FEDERAL IZUMI MANUFACTURING PISTON INDONESIA

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.Apa itu piston ?
2.Bagaimana dimensi piston ?
3.Apa fungsi piston ?
4.Bagaimana prinsip kerja piston ?
5.Apa saja jenis-jenis piston ?
6.Apa itu proses machining ?
7.Proses apa saja yang ada pada proses machining ?

1.3 TUJUAN
Adapun tujuan makalah proses pembuatan piston diesel pada proses machining
adalah sebagai berikut:
1.Mengetahui bentuk piston beserta bagian-bagiannya.
2. Mengetahui fungsi piston di dalam mesin.
3.Mengetahui cara kerja piston pada mesin.
4.Mengetahui jenis-jenis piston.
5.Mengetahui proses pembuatan piston yang ada pada proses machining.
1.4 MANFAAT
Adapun manfaat pembuatan makalah ini antara lain:
1.Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai piston yaitu dimensi
piston secara detail,fungsi piston,jenis-jenis piston,prinsip kerja piston,langkahlangkah pembuatan piston dan proses pembuatan piston pada proses machining.
1.5 CAKUPAN PERENCANAAN
Dalam perencanaan ini penulis akan melakukan serangkaian kegiatan
antara lain:
1.Pengambilan data mengenai proses produksi pada proses machining di area kerja
PT FEDERAL IZUMI MNG PISTON.
2.Melakukan pemisahan jenis-jenis piston secara umum.
1.6 SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi beberapa bagian
dengan sistematika penulisan makalah pada umumnya,meliputi beberapa bagian
yang dibagi menjadi beberapa bab yaitu:

BAB I PENDAHULUAN
Diuraikan secara singkat mengenai latar belakang masalah,perumusan
masalah,tujuan dan manfaat makalah,dan sistematika penulisan makalah.
BAB II PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan teori-teori dan pemikiran-pemikiran yang
berkenaan tentang piston.
BAB III ANALISA HASIL PENELITIAN
Berisikan spesifikasi hal-hal yang mendasar pada proses machining
piston.
BAB IV KESIMPULAN
Bab ini berisikan kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pengumpulan
data di lapangan dan saran yang dapat diberikan kepada masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1PENGERTIAN TENTANG PISTON
Piston adalah sumbat geser yang terpasang di dalam sebuah silinder mesin
pembakaran dalam silinder hidrolik,pneumatik dan silinder pompa.
Piston pada mesin juga dikenal dengan istilah torak adalah bagian (parts) dari mesin
pembakaran dalam yang sebagai penekan udara masuk dan penerima tekanan
hasil pembakaran pada ruang bakar. Piston terhubung ke poros engkol (crankshaft,)
melalui setang piston (connecting rod). Material piston umumnya terbuat dari bahan
yang ringan dan tahan tekanan, bahan aluminium yang sudah dicampur bahan
tertentu (aluminium alloy).

gambar 2.1 piston


2.2 DIMENSI PADA PISTON
Dimensi dan bentuk pada piston secara detail dibagi atas 3 bagian yaitu:
1.Kepala piston(piston crown)
Adalah bagian teratas dari piston yaan berfungsi sebagai penahan benturan akibat
proses pembakaran.
Kepala piston dibagi atas 2 bagian yaitu:
a.Head piston

Pada piston jenis diesel terdapat coakan untuk menampung oli yang berfungsi
sebagai pendingin.
b.All Ring Group atau ring piston
Ring piston memiliki dua tipe, ring kompresi dan ring oli. Ring kompresi berfungsi
untuk pemampatan volume dalam silinder serta menghapus oli pada dinding silinder.
Kemampuan kompresi ring piston yang sudah menurun mengakibatkan performa
mesin menurun. Ring oli berfungsi untuk menampung dan membawa oli serta
melumasi parts dalam ruang silinder. Ring oli hanya ada pada mesin empat tak
karena pelumasan mesin dua tak menggunakan oli samping.
2.Badan Piston
Berfungsi sebagai bagian gesek antara piston dan liner atau dinding
silinder.Ukuran dan kepresisian badan piston sangat berpengaruh pada proses
pembakaran.
Pada badan piston juga terdapat lubang yang disebut pin hole yang memiliki fungsi
sebagai tempat pin yang menghubungkan setang piston dan poros engkol.
3.Kaki Piston/piston skirt
Yang berfungsi sebagai penyeimbang gerakan piston pada liner silinder.

gambar 2.2 bentuk dan bagian-bagian piston


2.3 FUNGSI PISTON
Piston pada mesin juga dikenal dengan istilah torak adalah bagian (parts)
dari mesin pembakaran dalam yang berfungsi sebagai penekan udara masuk dan
penerima tekanan hasil pembakaran pada ruang bakar.
2.4 CARA KERJA PISTON

Cara kerja piston yaitu mengubah energy gerak menjadi energy mekanik pada
proses pembakaran pada ruang bakar. Piston yang terhubung ke poros engkol
(crankshaft,) melalui setang piston menggerakkan piston naik turun sehingga proses
pembakaran terjadi.

Gambar 2.3 cara kerja piston didalam silinder


2.5 JENIS-JENIS PISTON
Jenis piston dibagi menjadi 3 yaitu:
1.Piston Motorcycle
Piston motorcycle yaitu piston yang digunakan pada mesin motor.
Yang membedakan dari jenis piston lain adalah ukurannya yang paling kekecil dari
jenis piston lain.
Piston motorcycle dibagi menjadi 2 yaitu:
a.Piston motorcycle High Silicon adalah piston yang dipakai untuk motor 2 tak.

Gambar 2.4 piston untuk motor 2 tak

b.Piston Non High Silicon adalah piston yang dipakai untuk motor 4 tak.

Gambar 2.5 Piston untuk motor jupiter


2.Piston Diesel

Piston Diesel adalah jenis piston yang digunakan pada silinder mesin
mobil,truk,bus dan traktor.
Pada jenis piston jenis ini dibagian kepala piston terdapat coakan sebagai
penampung oli sebagai pendingin saat proses pembakaran terjadi yang berguna
untuk mengurangi efek kompresi karena benturan pada kepala piston.

Gambar 2.6 Piston Diesel Tipe HO7CE untuk Truk Hino


3.Piston Gasoline
Piston Gasoline adalah piston semi diesel yang bahan bakunya terdapat
campuran silicon kualitas tinggi.
Piston jenis ini digunakan untuk mobil,seperti Daihatsu Carry,Honda Jaz,Toyota
Avansa dll.

Gambar 2.7 Piston Gasoline Tipe D19 untuk Daihatsu Carry

2.6 PROSES PEMBUATAN PISTON PADA PROSES MACHINING PADA PISTON


DIESEL
Proses Machining adalah proses pembubutan piston dari bentuk casting
piston menjadi piston finish dengan menggunakan mesin CNC.
Dalam pembuatan piston pada proses machining yang menggunakan mesin CNC
memiliki urutan sebagai berikut :
1.Proses Guide Bore Roughing
Proses Guide Bore Roughing yaitu proses pembuatan lubang diameter dalam
casting ystem yang berguna sebagai dudukan pada yatoi pada proses rought

turning. Proses Guide Bore Roughing (GBR) merupakan proses awal dari
pembuatan piston.
Pada proses GBR ini dibuat dasar atau base untuk proses selanjutnya
(proseRoughTurning atau proses Rough Top Ring Groove).
Bagian piston yang mengalami proses GBR adalah bagian skirt.
Pada proses GBR terdapat dua buah proses, yaitu:
1.Pemakanan Skirt
2.Pemakanan Base
Dimensi yang paling penting pada proses ini adalah nakago dan valve. Biasanya
untuk piston yang memakai valve, dimensi valve didahulukan penyetingan dengan
dimensi nakago. Karena bila tinggi valve terlalu plus akan berakibat mentoknya
valve pada piston dengan katup masuk udara.

Gambar 2.8 Proses GBR

2.Proses Rough Turning


Proses Rough Turning (RT) merupakan proses pembubutan pada bagian diameter
(yang dijadikan tumpuan clamp untuk proses GBF) dan bagian head (yang dijadikan
base untuk proses GBF). Hal ini berlaku untuk piston Non Hisi, Gasoline dan diesel.
Pada piston Hisi, proses RT juga merupakan pembentukan finish head dan center
boss cutting (CBC).
Hasil proses RT ini dapat dilihat pada Gambar 2.9.
Pada proses RT ini biasanaya pemakanan sampai dua kali. Selain itu
biasanya juga dilakukan modifikasi tool sampai tiga buah untuk mempercepat cycle
time. Sehingga proses ini cenderung membuat tool cepat tumpul.
Dimensi yang perlu diperhatikan pada proses RT adalah kesumbuan
center drill terhadap GBF. Karena bila tidak satu sumbu mengakibatkan run out dari
piston tersebut jelek sehingga bisa menyebabkan nokori (proses yang tidak habis).

Gambar 2.9 Proses Rough Turning


3.Proses Guide Bore Finish
Proses Guide Bore Finish yaitu proses pembuatan untuk base proses
finish selanjutnya dan pembuatan lubang drill pada center boss untuk center clamp
(untuk piston motor cycle dan gasoline). Pada proses Guide Bore Finish (GBF)
proses yang terjadi pada dasarnya sama seperti pada proses GBR. Cuma ada
sedikit tambahan pada proses GBF adalah pembetukan chamfer skirt.
Proses GBF ini dapat dilihat pada Gambar 3.0.
Yang perlu diperhatikan untuk proses ini adalah besarnya diameter GBF.
Karena bila besar diameter bertambah besar dapat mengakibatkan terjadinya reject
step OD dan nokori OD.
Selain itu dapat juga mengakibatkan profil dan tateform berubah. Yang perlu
diperhatikan juga adalah feeding untuk proses ini.
Bila feeding terlalu cepat mengakibatkan permukaan hasil proses GBF menjadi
kasar dan membuat uneri (flatness) NG.

Gambar 3.0 Proses Guide Bore Finish

4.Proses Pin Hole Rough

Proses Pin Hole Rough (PHR) merupakan proses pembuatan lubang pin
yang berfungsi sebagai pemegang pada proses berikutnya (untuk motorcycle non
HISI, gasoline, dan diesel).
Selain itu juga merupakan proses finish dari snap ring (untuk piston motorcycle dan
diesel (untuk tipe diesel memakai radius bosh)
Proses PHR ini berfungsi untuk membentuk lubang yang digunakan
sebagai tempat pin dalam perakitan piston nantinya. Proses PHR ini merupakan
pembentukan proses awal. Sedangkan snap ring yang terbentuk pada proses ini
berguna untuk mengunci pin sehingga pin tidak bergerak.
Hasil Proses PHR ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Piston Gasoline Hasil Proses Pin Hole Rough.


5.Proses Drill Oil Hole
Merupakan proses pembuatan lubang oli pada piston,agar sirkulasi
pelumasan oli pada piston lancar.
6.Proses Rough Top Ring Groove

Proses ini hanya terdapat pada proses untuk piston diesel. Proses ini
merupakan proses awal untuk pembentukkan ring kompresi (torenga). Material ring
kompresi ini tidak terbuat dari alumunium alloy seperti piston. Melainkan dari besi
karbon. Mengingat material untuk pembuatan ring kompresi keras, maka proses
untuk ring kompresi ini ada 2, yaitu:
1. Rough Top Ring Groove
2.Finish Top Ring Groove
Proses Rough Top Ring Groove (RTRG) merupakan proses pembubutan awal untuk
ring kompresi. Dasar proses ini memakai dari hasi proses GBR. Proses RTRG ini
hanya membubut pada bagian piston tempat ring kompresi berada.
Proses RTRG ini dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Yang perlu diperhatikan adalah life time tool RTRG karena bila melebihi batas
mengakibatkan pemakanan akan menjadi lebih berat dan panas. Akibatnya ring besi
akan bisa lepas dari lapisan intermetalisnya.

Gambar 3.2 Proses RTRG

7.Finish Top Ring Groove dan All Ring Groove


Proses ring groove merupakan proses pembuatan alur untuk ring piston.
Pada piston gasoline dan motorcycle, proses ring satu, ring dua dan ring tiga
dilakukan pada mesin yang sama. Sedang pada piston diesel, ring satu prosesnya
terpisah.
Pada diesel proses ini dibagi menjadi Finish Top Ring Groove (FTRG) dan All Ring
Groove (ARG). Hasil Proses FTRG dan ARG pada diesel dapat dilihat pada Gambar
3.3 dan Gambar 3.4. Kedua proses tersebut dilakukan dua kali. Yaitu untuk proses
roughing kemudian diakhiri dengan proses finish.

Gambar 3.3 Hasil Proses FTRG

Gambar 3.4 Hasil Proses FTRG

Pada piston diesel, proses FTRG merupakan proses kelanjutan dari proses RTRG.

8. Proses Combustion Chamber


Proses combustion merupakan proses pembuatan ruang bakar untuk
piston diesel. Pada umumnya system semua piston diesel memiliki ruang bakar
(combustion chamber).
Proses combustion biasanya dibagi menjadi 2 tahap, yaitu: proses roughing dan
proses finish. Proses combustion ini dibagi menjadi 2 tahap karena besarnya
pemakanan yang mesti dilakukan dari benda casting.
Hasil proses combustion dapat dilihat di bawah pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5 Hasil Proses Combustion

9. Proses Valve
Proses valve merupakan proses pembuatan dudukan valve pada bagian
head piston. Proses valve ini merupakan proses yang kritis karena bila kedalaman
valve terlalu dangkal atau terlalu dalam akan menyebabkan engine akan kekurangan
tenaga bahkan mengalami kerusakan karena piston menabrak valve.
Proses valve dilakukan dalam 1 tahapan saja.
Proses valve ini biasanya terdapat hanya pada piston diesel saja. Dan tidak semua
piston diesel memakai proses valve.
Yang perlu diperhatikan dalam proses valve ini adalah menggunakan mesin
machining center. Dalam penggunaan machining center ini yang perlu diperhatikan
adalah penggunaan system koordinat 3 derajat (x, y, dan z) sedang mesin CNC
yang lain pada umumnya menggunakan 2 derajat (x, dan z).
Hasil proses valve ini dapat dilihat pada gambar 3.6.

Hasil proses valve

Gambar 3.6 Hasil Proses Valve

10.Proses Outside Diameter Finish


Proses ODF merupakan proses yang paling kritikal dari semua proses
yang ada. Pada dasarnya proses ODF merupakan proses bubut dengan diameter
akhir adalah diameter finish. Yang menyebabkan proses ODF kritikal adalah adanya
penentuan diameter untuk piston (grade). Grade ini merupakan bagian penting
karena menentukan pasangan piston tersebut dengan liner yang ada.
Grade liner dan grade piston merupakan pasangan yang pas. Bila
diameter piston terlalu kecil terhadap diameter liner akan menimbulkan piston noise.
Tapi bila diameter piston lebih besar dibandingkan dengan liner akan menimbulkan
piston seret. Jadi memang bisa dikatakan sangat penting grade piston tersebut.

Gambar 3.7 Proses ODF

11. Proses Pin Hole Finish


Pada proses PHF merupakan proses pembubutan akhir pada lubang pin.
Proses PHF ini merupakan proses lanjutan dari proses PHR. Proses PHF ini
merupakan proses yang kritikal karena diameter hasil proses PHF berpasangan
dengan pin pada saat assy. Oleh sebab itu perlu diperhatikan dimensi hasil proses
PHF.
Proses PHF merupakan proses yang cenderung stabil dan mudah dalam
penyetingan. Yang perlu diperhatikan pada saat penyetingan adalah roughness dan
profil. Selain itu juga perlu diperhatikan concentricity snapring dan lubang pin hole

finish.Jika hasil proses concentricity snapring dan lubang pin hole finish jauh dari
standar maka menyebabkan pin tidak bisa terpasang.

BAB III PENENTUAN SPESIFIKASI

1.1 Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Proses Produksi


Dari hasil pengamatan dan data dilapangan bawa dalam pembuatan piston setiap
proses piston memiliki spesifikasi dan hal-hal yang harus diperhatikan saat produksi
berlangsung yaitu:
1.Proses GBR

Yang Harus Diperhatikan

Akibat Bila Tidak Dilakukan

Cek dimensi heniku (heniku


skirt dan heniku pin hole)
setiap ganti lot dan cavity

Cek ketinggian baut jig


GBR

Baut-baut pengikat dalam


keadaan kencang

Jarak snap ring dengan pin hole akan berbeda antara


lubang kiri dan kanan

Hasil proses GBR akan miring dan heniku akan NG

Benda kerja akan berputar pada saat proses


pemakanan karena clamp tidak kuat memegang benda
kerja

Piston diclamp dengan

Tool akan menabrak benda kerja karena

ketinggian benda kerja yang tidak rata

Hasil proses GBR yang miring sehingga proses

sempurna (tidak miring

selanjutnya menjadi NG (proses RT hasil nokori

atau terganjal)

dan center boss tidak center; proses RTRG hasil


ring miring)

Posisi pemasangan Piston


harus seragam

Heniku piston akan NG

Dimensi Heniku(perbedaan tebal) piston NG

2.Proses RT

Yang Harus Diperhatikan

Tekanan clamp dan pin chuck

Akibat Bila Tidak Dilakukan

yang digunakan harus sesuai

Piston pecah karena tekanan clamp yang


terlalu tinggi

standar

Piston pecah karena tumpuan pin chuck


mengenai ujung lubang pin hole bagian
dalam sehingga momennya menjadi besar

Hasil proses akan NG (nokori atau center


boss tidak center)

Pemasangan benda kerja tidak


miring

Tool akan menabrak benda kerja

Head tidak flat, akan mempengaruhi heniku


di GBF

atau head finish

Periksa feeding dan lifetime


tool

Hasil proses timbul step pada bagian OD

Pemakanan akan berat sehingga tool bisa


pecah. Selain itu piston bisa pecah pula

Stylus master copy untuk

Radius head tidak masuk standar

Center bosh akan terlalu kecil

Timbul step pada head

radius head dan tekanan stylus


terhadap mastercopy

3.Proses GBF

Yang Harus Diperhatikan

Kesumbuan antara lubang


drill dan hasil guide bore
finish

Akibat Bila Tidak Dilakukan

Piston nokori karena lubang drill dan hasil proses


guide bore finish tidak sesumbu

Feeding GBF disesuaikan


dengan WS

Hasil proses menjadi kasar sehingga kemungkinan


concentricity ring groove dan ODF NG

Chuck clamp akan mencekam benda kerja tidak


Cek kesumbuan chuck

merata. Sehingga hasil proses kemungkinan besar

clamp mesin GBF

akan heniku atau posisi center dan GBF tidak satu


sumbu.

Diameter hasil proses guide

Ovality ODF akan besar bila diameter GBF

bore finish disesuaikan

longgar, sedang ovality akan minus bila

dengan diameter yatoi ODF

diameter GBF sempit

Tateform ODF akan miring bila diameter GBF


terlalu longgar

Profil ODF akan keriting bila diameter GBF


terlalu longgar

CP tidak stabil

Diameter lubang drill dan


bidang sentuh antara center Profil ODF akan tidak stabil dan berubah-ubah
dan lubang drill

Cek ketinggian baut untuk


head pada jig untuk proses

Heniku skirt maupun heniku pin hole akan menjadi NG

GBF (Gambar 4.4)

untuk proses selanjutnya akan miring pula

Run out dari jig clamp chuck

Diameter dan kedalaman

Hasil proses akan miring sehingga base piston

Chamfer skirt akan besar sebelah

Concentricity ODF dengan ring groove NG

Bila diameter lubang drill besar maka

kemungkinan profil ODF akan membesar

lubang drill

Bila diameter lubang drill kecil maka


kemungkinan profil ODF akan mengecil

Kebersihan base piston

Bila kotor maka untuk proses selanjutnya akan miring.

(hasil proses GBF)

Sehingga piston kemungkinan besar menjadi nokori


atau chamfer besar sebelah.

Bila nakago terlalu dalam mengakibatkan


daging pin hole terlalu tipis. Sehingga bisa
mengkibatkan pecah atau retaknya piston

Nakago (kedalaman piston)


dan tebal kepala

Kedalaman valve terlalu dalam atau terlalu


dangkal.

Piston diesel yang menggunakan ring besi


mengakibatkan tebal ring akan beda

4.Proses PHR

Yang Harus
Diperhatikan

Akibat Bila Tidak Dilakukan

Pitch snap ring yang

Pitch snap ring menjadi sempit atau blong kemungkinan

sesuai WS (periksa

karena:

empat posisi)

Stopper slide terlalu maju atau terlalu mundur

Slide recessing sudah aus

Index yatoi berubah karena aus

Baut pengikat tool holder kendor

Hasil proses akan nokori

Concentricity snap ring menjadi NG

Haba snap ring menjadi sempit atau besar sesuai

Ketinggian antara
lubang hasil PHR dan
PHF

Haba snap ring yang


sesuai standar WS

dengan haba tool yang terpasang

Haba snap ring sebagian sempit atau besar karena


slide recessing mesin PHR NG

Diameter lubang hasil

proses PHR

Diameter sempit kemungkinan karena diamater


boring bar yang sudah tumpul. Selain itu hasil
proses terlihat alur yang dalam dan berulir

Diameter oval dan diameter blong karena putaran


spindle tidak stabil

Holder NG sehingga menyebabkan concentricity


NG

Diameter snap ring

Diameter snap ring NG karena baut pengikat tool


dan baut stopper longgar

sesuai WS

Diameter snap ring oval kemungkinan karena


putaran recessing yang tidak stabil karena tidak ada
grease

Radius snap ring


Timbul step karena tool snap ring NG atau grease slide
reccesing kurang

Offset PHR sesuai WS

Concentricity snap ring NG karena offset PHR NG

Hasil proses nokori pada PHF karena Offset PHR


NG

Hasil proses snap ring

Grease untuk mesin PHR sudah habis

Proses kena makan punggung tool

yang kasar

Magari PHR

Putaran spindel saat recessing terlalu cepat

Magari NG kemungkinan karena:

Pemasangan yatoi tidak

Kere atau per jig PHR NG

Stopper index yang berubah karena aus

Tinggi ( ) minus

Offset berubah

Concenticity Snap Ring NG

boleh kotor / terganjal


skrap

5.Proses FTRG dan ARG

Yang Harus Diperhatikan

Bersihkan dudukan mesin (spindle), dan


yatoy dari kotoran scrab

Setting kesumbuan spindle dengan yatoi

Akibat Bila Tidak Dilakukan

Pemasangan jig akan miring sehingga


pada saat proses benda kerja akan miring
juga

Pemasangan benda kerja akan

miring sehingga chamfer head akan


besar sebelah

Piston akan nokori di ODF

Concentricity ODF dan ring groove

maksimum 10 m
menjadi NG sehingga chamfer
untuk ring groove akan menjadi
miring

Diameter negasi akan besar


sebelah

Bila feeding dan rpm tidak sesuai


standard, ring besi akan pecah

Setting feeding dan putaran spindel

karena gesekan tool yang terlalu

sesuai standard

berat

Life time tool akan menjadi pendek

Arasa dish NG secara visual akan

Periksa beda pemakanan tool roughing


dan tool finish yaitu 150 m (untuk ring
rata dan semi kiston) dan 0 (untuk ring
kiston)
Arasa dish NG secara visual akan
tampak bagian yang buram

tampak bagian yang buram


Cek konsentrasi coolant harus sesuai

Arasa dan uneri ring groove akan


buram dan kasar

standart

Tool cepat tumpul

6.Proses Coumbustion

Yang Harus Diperhatikan

Akibat Bila Tidak Dilakukan

Bersihkan dudukan mesin


(spindle), dan yatoy dari kotoran
scrab

Pemasangan jig akan miring sehingga pada saat


proses benda kerja akan miring juga

ring besi akan pecah karena gesekan tool

Setting feeding dan putaran

yang terlalu berat

spindel sesuai standard

Periksa beda pemakanan tool

Bila feeding dan rpm tidak sesuai standard,

Life time tool akan menjadi pendek

Arasa dan profil combution akan terlihat kasar

roughing dan tool finish yaitu


300 m

Ketinggian puncak combustion

dan kedalaman combustion

Tenaga engine menjadi turun karena volume


combustion membesar

Aliran turbulence bahan bakar menjadi tidak


teratur

7.Proses Valve
Yang Harus
Diperhatikan

Bersihkan dudukan

Akibat Bila Tidak Dilakukan

yatoy dari kotoran

Pemasangan jig akan miring sehingga pada saat


proses benda kerja akan miring juga sehingga

scrab

kedalaman valve menjadi tidak merata

Posisi valve akan menjadi NG karena basic proses


valve adalah GBF dan lubang pin hole

engine berkurang

Cek kedalaman valve


pada 3 posisi

Bila terlalu dalam dapat mengakibatkan tenaga

Bila terlalu dangkal dapat mengakibatkan valve


menabrak piston

8.Proses ODF

Yang Harus Diperhatikan

Bersihkan dudukan yatoy dari kotoran

Akibat Bila Tidak Dilakukan

scrab

Putaran mastercam atau run out


akan susah untuk disetting

Kemungkinan barang menjadi


nokori atau step

Hasil profil ODF akan NG (profil ODF


Setting kesumbuan spindel, tanggo,
master cam dan yatoy maksimum 5 m

untuk tiap ketinggian tidak terletak pada


satu sumbu)

Bila stylus terlalu lebar proses copy


Ukur tebal stylus dan sesuaikan dengan
ukuran WI

menjadi tidak sempurna sehingga step


pada bagian mastercam ikut ter-copy

Hasil profil ODF akan NG

Pada saat proses bagian tool yang

Perhatikan radius pada stylus yang harus


sesuai dengan radius mastercam bagian

memotong benda kerja adalah

pin hole (diameter minor)

bagian punggung

Sesuaikan tekanan clamp atau certer

Ovality akan membesar (+) bila

clamp dan tekanan stylus sesuai dengan

tekanan center atau stylus terlalu

standart kerja

besar

Ovality akan mengecil (-) bila


tekanan center atau stylus terlalu

kecil

Tateform pada bagian skirt akan


mengalami deformasi

Timbul step pada bagian diameter


piston

Bila terlalu longgar ovality akan


cenderung (+)

Bila terlalu seret ovality akan


cenderung (-)

Sesuaikan diameter hasil proses GBF


dengan diameter yatoy ODF

Bila terlalu longgar tateform akan


miring

Bila terlalu longgar akan timbul


step pada bagian diameter

Timbul step pada bagian diameter piston

Perhatikan deep of cut (DOC) atau


perbedaan tebal pemakanan antara
proses SOD dan ODF pada 3 ketinggian

Nokori ODF

(head, punggung dan skirt)

Iching atau run out terutama untuk piston


yang memakai clamp chuck

Ketinggian tool terhadap titik pusat


mastercam

Nokori ODF

Umur tool akan menjadi pendek

Profil ODF akan menjadi NG

1.2 Perhitungan Spesifikasi


A.Perhitungan Spesifikasi yang ada pada Proses Rough Top Ring Groove,Finish
Top Ring Groove.
Dalam proses ini terdapat proses-proses yang sudah digabung untuk meminimalkan
Down Time proses produksi antara lain proses Head Finish,Proses Semi Out
Diameter Finish dan Proses Chamfer Finish.

Perhitungan Spesifikasi yang ada pada Proses Rough Top Ring Groove,Finish
Top Ring Groove Piston

Diesel Tipe MTB 4D34 T6 :

N1 (FINISH TOP RING-FINISH HEAD)


M53 ;
M24 ;
T02OO (ROUGH TOP RING) ;
G97 MO3 S350 T0213 ;
G0

X116.00 Z9.60 M08 ;

G01 X96.0 F0.12 ;


G01 X93.7 F0.08 ;
G04 UO.2 ;
G0 X209.0 ;
Z40.0 ;

T0 ;
N2 M19 ;
(HEAD FINISH . CHAMFER RADIUS)
T0100 ;
G97 MO3
G0

S1400 T0114 ;

X162.2 Z26.14 (DIAMETER TOP LAND) ;

G01 Z14.5 FO.5 ;


G0

X162.50

Z24.4 (TINGGI HEAD FINISH) ;


G01 X161.80 F0.12 ;
G01 Z26.00 ;
G01 Z20.99 ;
G02 U-4.20 W2.1

R2.1 ;

G01 X89.10 W0.002 F0.12 ;


W0.5 ;
G0

X209.00 ;

M03 S1400

T0115;

Z-31.22 (CHAMFER-RING ATAS)


G01 X201.25 F0.5 ;
G04 U0.20 ;

G01 X201.87 Z-31.48 F0.5 ( CHAMFER-RING BAWAH) ;


G04 U0.20 ;
G0

X239.00 ;

Z40.00 ;
MO8 ;
N3 (FINISH TOP RING GROOVE)
G97 S800 M03 T1216 ;
G0

X105.00 Z24.23 (SISI RING ATAS)

G01 X93.70 W0.733 F0.05 ;


G04 U0.40 ;
G0

X105.00 ;

Z22.73 T1217 ;
G01 X93.70 W0.733 F0.05 (SISI RING BAWAH) ;
G04 U0.20 ;
G0

X180.00 ;

Z56.00 M09 ;
T0200 M19 ;
T0 ;
M52 ;
M69 ;

M30 ;

B.Komposisi Material
Dalam pembuatan sebuah piston terdapat komposisi bahan-bahan untuk
mendapatkan kualitas terbaik antara lain sebagai berikut :
-Nitrogen

: 1.5%

-Magnesium

: 3.15 %

-Fosfor

:3.85 %

Diproses pada Suhu 600-900 C/ 1 1.5

jam
-Alumunium
-Lain-lain

:90.0 %
:1.50 %
Per 100 Kg

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Pemisahan jenis piston berdasarkan kegunaannya pada kompresi
didalam mesin. Saat ini

PT FEDERAL IZUMI MANUFACTURING PISTON

merupakan perusahaan yang memproduksi salah satu komponen yang sangat


diperlukan di sebuah komponen mesin yaitu piston.
Piston adalah sumbat geser yang terpasang di dalam sebuah silinder mesin
pembakaran dalam silinder hidrolik,pneumatik dan silinder pompa.

Piston pada mesin juga dikenal dengan istilah torak adalah bagian (parts) dari mesin
pembakaran dalam yang berfungsi sebagai penekan udara masuk dan penerima
tekanan hasil pembakaran pada ruang bakar. Piston terhubung ke poros engkol
(crankshaft,) melalui setang piston (connecting rod). Material piston umumnya
terbuat dari bahan yang ringan dan tahan tekanan, misal aluminium yang sudah
dicampur bahan tertentu (aluminium alloy).
Piston merupakan salah satu komponenen penting didalam sebuah silnder
pembakaran,maka kepresisian dimensi piston berpengaruh dalam proses
pembakaran. Dari hasil pembakaran didalam silinder mesin maka diperoleh hasil
pembakaran untuk menggerakan mesin. Oleh karena itu kualitas dimensi
merupakan unsur utama yang harus diperhatikan.untuk mendapatkan hasil yang
baik dibutuhkan material dengan komposisi yang seimbang antara lain besi,
alumunium,magnesium,dll serta proses produksi yang mendukung.
4.2 SARAN
Makalah ini menjelaskan tentang jenis-jenis piston dan proses pembuatan
piston di PT FEDERAL IZUMI MNG PISTON,salah satu perusahaan dalam negeri
yang telah mampu memproduksi dalam pemenuhan customer baik local ataupun
ekspor.
Penulis berharap masyarakat mengetahui bahwa perusahaan lokal mampu
memproduksi piston dengan kualitas ekspor maka gunakan produk dalam
negeri.Marilah kita bersama-sama mempelajari ilmu pengetahuan agar teknologi
dalam negeri semakin maju.

Anda mungkin juga menyukai