Anda di halaman 1dari 12

1

Amenorea primer et causa rokitansky sindrom


Etiologi
1 Produksi faktor regresi Mulleri yang tidak sesuai pada gonad embrio wanita
2 Tidak adanya atau kurangnya reseptor estrogen yang terbatas pada saluran
Muller bawah
3 Terhentinya perkembangan saluran Muller oleh bahan teratogenik.
4 Defek sel mesenkhim
5 Mutasi gen secara sporadis
Bahan teratogrnik dan gen mutan merupakan faktor etiologi yang paling mendekati.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat, insiden dari aplasia vagina kongenital adalah 1 per 4000-5000
kelahiran

perempuan.

Sindrom

Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser

diperkirakan

sebagai keadaan sporadik dan saudara perempuan dari pasien tampaknya tidak
mengalami peningkatan risiko. Namun, dijumpai kasus familial sehingga risiko
saudara perempuan pasien untuk mengalami sindrom ini meningkat. Sindrom ini
dapat terjadi pada semua ras dan hanya mempengaruhi wanita. Sindrom MayerRokitansky-Kuster-Hauser merupakan kelainan kongenital yang muncul sejak lahir.
Namun, sindrom ini mungkin tidak terdiagnosis sampai remaja atau awal masa
dewasa.
Patogenesis
Sekitar umur kehamilan 5 minggu, duktus muleri berhenti berkembang. Kerangka
tulang yang berasal dari jaringan mesoderm embrio rentan mengalami gangguan
perkembangan pada masa ini. Uterus, serviks, dan 2/3 proksimal vagina terbentuk dari
penggabungan ujung akhir duktus mulerian. Sedangkan tuba falopi terbentuk dari
bagian ujung awal duktus muleri yang tidak menyatu. Sindrom Mayer-RokitanskyKuster-Hauser sebelumnya diperkirakan sebagai kasus anomali yang sporadik, tetapi
adanya kasus familial mendukung hipotesis bahwa sindrom ini disebabkan oleh
kelainan genetik. Walaupun gen penyebab sindrom ini belum dapat ditentukan,
sindrom ini kemungkinan diwariskan melalui gen autosomal dominan.5
Manifestasi klinis
Amenore Primer dan Nyeri Abdomen
o Gejala ini umum dijumpai pada penderita sindrom Mayer-RokitanskyKuster-Hauser .
o Pasien dapat mengalami pubertas dengan thelarche dan adrenarche
normal, namun menstruasi tidak terjadi.
o Pasien dapat mengalami nyeri abdomen bersiklus sesuai dengan siklus
peluruhan endometrium.

o Dikarenakan fungsi ovarium normal, pasien mengalami segala perubahan

yang berkaitan dengan menstruasi dan pubertas.


Infertilitas
o Pasien yang tidak mengalami amenore primer sering mencari pertolongan
klinis untuk masalah infertilitasnya.
o Walaupun fungsi ovarium normal, tuba falopi dapat tertutup dan uterus

sering mengalami kelainan.


Ketidakmampuan untuk Berhubungan Seksual
o Derajat aplasia vagina bervariasi dari tidak terbentuknya vagina sama
sekali sampai
o Semakin sempit saluran vagina, semakin besar kemungkinan pasien

mengalami dispareunia.
Malformasi ginjal
o Tidak terbentuknya ginjal atau ektopia ginjal umum dijumpai. Diagnosis
dapat mengarah pada penemuan kelainan ginjal.
o Beberapa pasien memiliki riwayat inkontinensia uri atau infeksi traktus

urniraia berulang.
Abnormalitas Vertebra
Dapat dijumpai gangguan vertebra yang bervariasi derajat keparahannya.

Skoliosis merupakan kelainan vertebra yang paling sering dijumpai.


Penatalaksanaan
Pembuatan neo vagina melali tehnik:
1 Tehnik modifikasi McIndoe dan Bannister
2 Flap fasciocutaneous pudendal
3 Penggunaan kolon sigmoig (Metode Wagner)
4 Metode Vecchietti17

KESIMPULAN
Amenore primer bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya adalah sindrom turner.
Sindrom turner adalah suatu monosomi kromosom seks, yang merupakan suatu kelainan
jumlah (aneuploidi). Dalam populasi umum, sindrom turner terjadi pada sekitar satu per
5.000 kelahiran bayi perempuan hidup. Bayi yang lahir dengan sindrom turner memiliki 45
kromosom; 22 pasang kromosom somatic dan satu kromosom seks, biasanya X (45 X/O).
Sindrom turner terjadi pada sekitar 1-2 persen kehamilan yang diketahui secara klinis, tapi 99
persen janin dengan kondisi sindrom turner meninggal sebelum dilahirkan. Hal ini
menjadikan sindrom turner sebagai anomaly kromosom yang paling umum dilaporkan pada
kasus aborsi spontan.

DAFTAR PUSTAKA
1

Nelson. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th Edition. 2007. United States of America:

Elsevier Inc. p.2386-8.


Susanto Rudy. Perawakan pendek. 2008. Semarang: Universitas Diponegoro Fakultas

Kedokteran Bagian Ilmu Kesehatan Anak. h. 46-9.


3 Suryo. Genetika manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2003.h.247-50.
4 Hull D, Johnshon DI. Dasar-dasar pediatric. Jakarta: EGC; 2008.h.18-9, 228.
5 Hassan R & Alatas H. Buku kuliah 1 ilmu kesehatan anak. Jakarta: FKUI;2007. h.222.
6 Avise JC. The genetic god. Ed.1. Jakarta : Serambi Ilmu Semesta, 2007. h. 314-6.
7 Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi robbins. Ed.7. Vol.1. Jakarta :
8

EGC. 2007.183-4.
Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Ilmu kesehatan anak nelson. Vol 3. Edisi ke-

15. Jakarta: EGC; 2000.h.1992-4.


Harmsen Rebecca, Gallucci Betty B. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses

penyakit. Edisi 6. 2006. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. Hal: 26-7
10 Yudha EK, wahyuningsih E, Yulianti D, Karyuni PE. Buku saku patofisiologi:
genetika. Edisi ke-3. Jakarta: EGC;2007.h.63-6.
11 Sybert Virginia P, McCauley Elizabeth. Turners syndrome. N Engl J Med 2004;
351:1227-38
12 Kosim, MS, et.al. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Edisi I,
cetakan pertama 2008. Hal 63-70.
13 Effendi SH, Indrasanto E. Kelainan kongenital. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi
R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI;2008.h.63-9.
14 Lee HJ, Chang C. Recent advances in androgen receptor action. Cellular and
Molecular Life Sciences. 2003. p. 161322.
15 Nitsche EM, Hiort O. The molecular basis of androgen insensitivity. Hormone
Research. 2000. p. 32733.
16 Norwitz ER, Schorge JO. At a glance obstetri dan ginekologi, edisi ke 2. Jakarta:
penerbit Erlangga. 2007. h.47.
17 Emans J, Laufer MR, Goldstein DP.

Pediatric & adolescent gynecology. Ed.5.

Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. 2005. p. 471-4.

I. PENDAHULUAN
Secara berkala, fungsi seksual wanita berada di bawah kendali
hormon. Tanda yang khas untuk suatu siklus haid adalah timbulnya
perdarahan melalui vagina setiap bulan pada seorang wanita. Perdarahan
ini

terjadi

akibat

rangsangan

hormonal

secara

siklik

terhadap

endometrium.1,2,3,4 Amenorea dapat dibagi dalam dua bentuk, yaitu:


1. Amenorea fisiologik
Amenorea yang terdapat pada masa sebelum pubertas, masa
kehamilan, masa laktasi dan sesudah menopause.
2. Amenorea patologik
Lazimnya diadakan pembagian antara amenorea primer dan
amenorea sekunder. Amenorea primer, apabila seorang wanita berumur
16 tahun ke atas belum pernah dapat haid; sedang pada amenorea
sekunder penderita pernah mendapat haid, tetapi kemudian tidak dapat
lagi.
Amenorea primer merupakan suatu keadaan dimana tidak terjadi
menstruasi pada wanita yang berusia 16 tahun ke atas dengan
karaktersitik seksual sekunder normal, atau umur 14 tahun ke atas tanpa
adanya perkembangan karakteristik seksual sekunder. 1,2,6 Penyebab
tidak terjadinya haid dapat berupa gangguan di hipotalamus, hipofisis,
ovarium (folikel), uterus (endometrium), dan vagina. Amenorea primer
umumnya mempunyai sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit untuk
diketahui, seperti kelainan-kelainan kongenital dan kelainan-kelainan
genetik.
Istilah kriptomenorea menunjuk kepada keadaan dimana tidak tampak
adanya haid karena darah tidak keluar berhubung ada yang menghalangi,
misalnya pada ginatresia himenalis, penutupan kanalis servikalis, dan lainlain.3,4
Usia gadis remaja pada waktu pertama kalinya mendapat haid
(menarche) bervariasi lebar, yaitu antara 10-16 tahun, tetapi rata-ratanya

12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi


faktor keturunan, keadaan gizi, dan kesehatan umum.

II. FISIOLOGI MENSTRUASI


Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus,
disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. Sekarang diketahui bahwa
dalam

proses

hubungan

ovulasi,

yang

hipotalamus,

pituitary-ovarium

axis).

memegang

hipofisis,

Menurut

peranan

dan

teori

penting

ovarium

neurohumoral

adalah

(hypothalamicyang

dianut

sekarang, hipotalamus mengawasi sekresi hormon gonadotropin oleh


adenohipofisis melalui sekresi neurohormon yang disalurkan ke sel-sel
adenohipofisis

lewat

sirkulasi

menghasilkan

faktor

yang

portal
telah

yang

dapat

khusus.
diisolasi

Hipotalamus
dan

disebut

Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) karena dapat merangsang


pelepasan

Lutenizing

Hormone

(LH)

dan

Follicle

Stimulating

Hormone (FSH) dari hipofisis.1,2,4


Penyelidikan pada hewan menunjukkan bahwa pada hipotalamus
terdapat dua pusat, yaitu pusat tonik dibagian belakang hipotalamus di
daerah nukleus arkuatus, dan pusat siklik di bagian depan hipotalamus
di daerah suprakiasmatik. Pusat siklik mengawasi lonjakan LH (LH-surge)
pada pertengahan siklus haid yang menyebabkan terjadinya ovulasi.
Mekanisme kerjanya juga belum jelas benar.4
Siklus

haid

normal

dapat

dipahami

dengan

baik

dengan

membaginya atas dua fase dan satu saat, yaitu fase folikuler, saat
ovulasi, dan fase luteal. Perubahan-perubahan kadar hormon sepanjang
siklus haid disebabkan oleh mekanisme umpan balik (feedback) antara
hormon steroid dan hormon gonadotropin. Estrogen menyebabkan umpan
balik

negatif

terhadap

FSH,

sedangkan

terhadap

LH,

estrogen

menyebabkan umpan balik negatif jika kadarnya rendah, dan umpan balik
positif jika kadarnya tinggi. Tempat utama umpan balik terhadap hormon
gonadotropin ini mungkin pada hipotalamus.1,2,4
Tidak lama setelah haid mulai, pada fase folikular dini, beberapa
folikel berkembang oleh pengaruh FSH yang meningkat. Meningkatnya
FSH ini disebabkan oleh regresi korpus luteum, sehingga hormon steroid

berkurang. Dengan berkembangnya folikel, produksi estrogen meningkat,


dan ini menekan produksi FSH; folikel yang akan berovulasi melindungi
dirinya sendiri terhadap atresia, sedangkan folikel-folikel lain mengalami
atresia. Pada waktu ini LH juga meningkat, namun peranannya pada
tingkat

ini

hanya

membantu

pembuatan

estrogen

dalam

folikel.

Perkembangan folikel yang cepat pada fase folikel akhir ketika FSH mulai
menurun, menunjukkan bahwa folikel yang telah masak itu bertambah
peka terhadap FSH. Perkembangan folikel berakhir setelah kadar estrogen

dalam plasma jelas meninggi. Estrogen pada mulanya meninggi secara


berangsur-angsur, kemudian dengan cepat mencapai puncaknya. Ini
memberikan umpan balik positif terhadap pusat siklik, dan dengan
lonjakan

LH

(LH-surge)

pada

pertengahan

siklus,

mengakibatkan

terjadinya ovulasi. LH yang meninggi itu menetap kira-kira 24 jam dan


menurun pada fase luteal. Mekanisme turunnya LH tersebut belum jelas.
Dalam beberapa jam setelah LH meningkat, estrogen menurun dan
mungkin inilah yang menyebabkan LH itu menurun. Menurunnya estrogen
mungkin disebabkan oleh perubahan morfologik pada folikel. Mungkin
pula menurunnya LH itu disebabkan oleh umpan balik negatif yang
pendek dari LH terhadap hipotalamus. Lonjakan LH yang cukup saja tidak
menjamin terjadinya ovulasi; folikel hendaknya pada tingkat yang
matang, agar ia dapat dirangsang untuk berovulasi. Pecahnya folikel
terjadi 16 24 jam setelah lonjakan LH. Pada manusia biasanya hanya
satu folikel yang matang. Mekanisme terjadinya ovulasi agaknya bukan
oleh karena meningkatnya tekanan dalam folikel, tetapi oleh perubahanperubahan degeneratif kolagen pada dinding folikel, sehingga ia menjadi
tipis. Mungkin juga prostaglandin F2 memegang peranan dalam peristiwa
itu.1,2,4 Pada fase luteal, setelah ovulasi, sel-sel granulose membesar,
membentuk vakuola dan bertumpuk pigmen kuning (lutein); folikel
menjadi korpus luteum. Vaskularisasi dalam lapisan granulosa juga
bertambah dan mencapai puncaknya pada 89 hari setelah ovulasi. 4
Luteinized granulose cell dalam korpus luteum itu membuat progesteron
banyak, dan luteinized theca cell membuat pula estrogen yang banyak,
sehingga kedua hormon itu meningkat tinggi pada fase luteal. Mulai 1012
hari setelah ovulasi, korpus luteum mengalami regresi berangsur-angsur
disertai dengan berkurangnya kapiler-kapiler dan diikuti oleh menurunnya
sekresi progesteron dan estrogen. Masa hidup korpus luteum pada
manusia tidak bergantung pada hormon gonadotropin, dan sekali
terbentuk ia berfungsi sendiri (autonom). Namun, akhir-akhir ini diketahui
untuk berfungsinya korpus luteum, diperlukan sedikit LH terus-menerus.
Steroidegenesis pada ovarium tidak mungkin tanpa LH. Mekanisme

degenerasi korpus luteum jika tidak terjadi kehamilan belum diketahui.


Empat belas hari sesudah ovulasi, terjadi haid. Pada siklus haid normal
umumnya terjadi variasi dalam panjangnya siklus disebabkan oleh variasi
dalam fase folikular.4
Pada kehamilan, hidupnya korpus luteum diperpanjang oleh adanya
rangsangan dari Human Chorionic Gonadothropin (HCG), yang dibuat
oleh sinsisiotrofoblas.

Rangsangan ini dimulai pada puncak perkembangan korpus luteum (8 hari


pasca ovulasi), waktu yang tepat untuk mencegah terjadinya regresi
luteal. HCG memelihara steroidogenesis pada korpus luteum hingga 910
minggu kehamilan. Kemudian, fungsi itu diambil alih oleh plasenta. 4 Dari
uraian di atas jelaslah bahwa kunci siklus haid tergantung dari
perubahan-perubahan kadar estrogen, pada permulaan siklus haid
meningkatnya FSH disebabkan oleh menurunnya estrogen pada fase
luteal sebelumnya. Berhasilnya perkembangan folikel tanpa terjadinya
atresia tergantung pada cukupnya produksi estrogen oleh folikel yang
berkembang. Ovulasi terjadi oleh cepatnya estrogen meningkat pada
pertengahan siklus yang menyebabkan lonjakan LH. Hidupnya korpus
luteum tergantung pula pada kadar minimum LH yang terus-menerus.
Jadi, hubungan antara folikel dan hipotalamus bergantung pada fungsi
estrogen, yang menyampaikan pesan-pesan berupa umpan balik positif
atau negatif. Segala keadaan yang menghambat produksi estrogen
dengan sendirinya akan mempengaruhi siklus reproduksi yang
normal.4
III. EVALUASI AMENOREA
Gejala amenorea dijumpai pada penyakit-penyakit atau gangguangangguan yang bermacam-macam. Untuk menegakkan diagnosis yang
tepat

berdasarkan

etiologi,

tidak

jarang

diperlukan

pemeriksaan-

pemeriksaan yang beraneka ragam, rumit, dan mahal. Tidak semua


fasilitas kesehatan mampu melaksanakan semua pemeriksaan, dan hal itu
tidak

selalu

perlu.

Ada

jenis-jenis

amenorea

yang

memerlukan

pemeriksaan lengkap, akan tetapi ada juga yang dapat ditetapkan


diagnosisnya dengan pemeriksaan sederhana.
Anamnesis yang baik dan lengkap sangat penting. Pertama, harus
diketahui apakah amenorea itu primer atau sekunder. Selanjutnya, perlu
diketahui apakah ada hubungan antara amenorea dan faktor-faktor yang
dapat menimbulkan gangguan emosinal, apakah penderita mengidap

penyakit

akut

atau

menahun;

apakah

ada

gejala-gejala

penyakit

metabolik dan lain-lain.4


Sesudah anamnesis, perlu dilakukan pemeriksaan umum yang
seksama; keadaan tubuh penderita tidak jarang memberi petunjukpetunjuk yang berharga. Apakah penderita pendek atau tinggi, apakah
berat badan sesuai dengan tingginya, apakah ciri-ciri kelamin

sekunder berkembang dengan baik atau tidak, apakah ada tanda


hirsutisme;

semua

ini

penting

untuk

pembuatan

diagnosis.

Pada

pemeriksaan ginekologik umumnya dapat diketahui adanya berbagai jenis


ginatresis, adanya aplasia vaginae, keadaan klitoris, aplasia uteri, adanya
tumor, ovarium dan sebagainya. Dengan anamnesis, pemeriksaan umum,
dan pemeriksaan ginekologik, banyak kasus amenorea dapat diketahui
sebabnya. Apabila pemeriksaan klinik tidak memberi gambaran yang jelas
mengenai

sebab

amenorea,

pemeriksaan lanjutan.
Dalam menangani ka

maka

dapat

dilakukan

pemeriksaan-

Beri Nilai