Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
Bab 1 memuat tentang pendahuluan terkait penelitian tugas akhir, yang terdiri dari
latar belakang, perumusan masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup penelitian, serta
sistematika penulisan.
1.1

Latar Belakang
Kesehatan menjadi salah satu aspek yang serius untuk diperhatikan terkait dalam

aktivitas sehari-hari, terutama saat bekerja. Kebiasaan yang tidak baik dan dilakukan terus
menerus bisa berkontribusi dalam penurunan kesehatan tubuh sehingga aktivitas sehari-hari
dapat terganggu serta mengurangi kualitas pekerjaan seseorang. Gangguan pada sistem
muskuloskeletal atau musculoskeletal disorder (MSD) merupakan salah satu gangguan
kesehatan yang seringkali memberi dampak buruk terkait dengan pekerjaan seseorang.
Sistem muskuloskeletal manusia disusun atas otot, tulang, sendi, tendon, ligamen,
jaringan fasia dan kartilago. Jadi, gangguan kesehatan akibat MSD akan melibatkan
abnormalitas dari bagian-bagian tubuh tersebut. MSD dapat terjadi akibat tiga faktor utama,
antara lain tekanan atau gaya, pekerjaan yang berulang-ulang atau repetitif, serta postur yang
janggal. MSD di dalam kerja menimbulkan kerugian yang besar baik itu bagi individu pekerja
maupun perusahaan atau organisasi yang mempekerjakannya. Di Britania Raya, diestimasikan
9.466.000 hari kerja telah hilang akibat MSD di dalam kerja, dengan rata-rata 17,1 hari kerja
hilang di setiap kasusnya (WRMSDs Statistics, 2015). Penyakit tersebut bisa terjadi secara
tidak disengaja hingga bahkan kronis. Gangguan yang terjadi jarang mengancam nyawa
seseorang, tetapi mampu mengurangi kualitas hidup sebagian besar populasi orang dewasa.
MSD bisa menyerang siapapun, baik itu usia remaja hingga yang sudah berumur jauh. Kasus
di Britania Raya pun cukup tinggi, dengan perbedaan yang tidak terlalu jauh di setiap rentang
umur yang dilakukan pengumpulan data.

600
500
400
300
200
Tingkat Kecenderungan per 100.000

100
0

Usia

Gambar 1.1 Tingkat Kecenderungan MSD terhadap Usia di Britania Raya (WRMSDs
Statistics, 2015)

Salah satu studi kasus yang diangkat di dalam penelitian terkait dengan MSD adalah
penggunaan laptop atau komputer terhadap mahasiswa. Dengan fungsionalitas dan
penggunaan laptop yang tinggi, maka mahasiswa hampir tidak bisa melepaskan kesehariannya
dengan laptop baik itu untuk mengerjakan tugas perkuliahan ataupun untuk pekerjaan lainnya.
Namun, dengan intensitas yang sangat tinggi terhadap laptop menyebabkan mahasiswa
terjerat di dalam faktor-faktor penyebab MSD seperti postur yang tidak tepat sehingga hal
tersebut mampu memberi dampak buruk bagi kesehatan mahasiswa kedepannya. Hal itu
diperburuk dengan penggunaan laptop dalam jangka waktu lama serta pekerjaan repetitif yang
dilakukan seperti mengetik dan menatap layar. Oleh karena itu, diperlukan cara untuk
mengetahui bagaimana cara menghindari atau mencegah potensi terjadinya MSD agar
kualitas hidup serta pekerjaan yang dilakukan mahasiswa meningkat.
Terdapat upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi atau menghindari terjadinya
MSD. Salah satunya yakni menggunakan kuesioner Nordic (Standardized Nordic
Questionnaire - SNQ). Kuesioner ini menggunakan pertanyaan untuk mengidentifikasi
keluhan atau masalah yang timbul di bagian tubuh tertentu terhitung dari 12 bulan yang lalu
serta 7 hari terakhir. Berikut ini merupakan peta tubuh Nordic (Nordic Body Map NBM)
yang digunakan untuk mengidentifikasi MSD pada bagian-bagian tubuh.

Gambar 1.2 Nordic Body Map (Cornelius et al)

1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka diketahui permasalahan

yang akan diselesaikan di dalam penelitian ini. Permasalahan tersebut terkait bagian tubuh
mana yang memiliki kecenderungan terjadi MSD saat mahasiswa menggunakan laptop atau
komputer serta apa solusi yang dapat diberikan terhadap kondisi tersebut.
1.3

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui indikasi kelelahan yang terjadi dari penggunaan laptop dengan intensitas
tinggi.
2. Mengetahui dampak MSD yang terjadi dari penggunaan laptop bagi mahasiswa..
3. Memberikan rekomendasi perbaikan untuk mengurangi resiko terjadinya MSD.

1.4

Manfaat
Manfaat yang didapatkan dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mahasiswa dapat mengetahui efek dari posisi yang kurang tepat dari penggunaan
laptop.

2. Mahasiswa dapat mengurangi resiko terkena MSD dengan cara mengikuti


rekomendasi.
1.4

Ruang Lingkup Penelitian


Adapun ruang lingkup pada penelitian ini adalah:
1. Sasaran dari penelitian ini adalah mahasiswa.
2. Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah muscoloskeletal disorder
(MSD).

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Bab 2 menjelaskan tentang teori-teori pendukung yang digunakan untuk membantu
pelaksanaan penelitian.
2.1

Standardized Nordic Questionnaire (SNQ)


Standardized Nordic Questionnaire atau SNQ merupakan salah satu alat yang dapat

digunakan untuk mengidentifikasi terjadinya musculoskeletal disorder (MSD). Pada awalnya,


SNQ merupakan sebuah proyek yang didukung oleh Nordic Council of Minister (Kuorinka,
1987). SNQ disusun sebagai kuesioner yang tersusun atas pertanyaan-pertanyaan terkait
dengan prevalensi atau kecenderungan responden terhadap terjadinya keluhan di bagian tubuh
dalam jangka waktu tertentu. Tujuan utama dari penggunaan SNQ adalah sebagai instrumen
evaluasi MSD dalam konteks ergonomi serta layanan kesehatan. Evaluasi terhadap MSD
nantinya bisa menjadi alat diagnosis untuk menganalisa lingkungan kerja atau stasiun kerja
serta perancangan alat yang digunakan.
SNQ terdiri dari pertanyaan untuk mengecek apakah ada masalah di dalam 12 bulan
terakhir dan 7 hari terakhir di 9 bagian tubuh, antara lain leher, bahu, siku, punggung atas,
punggung bawah, pergelangan tangan atau tangan, pinggul atau paha, lutut, dan pergelangan
kaki atau kaki. Selain itu terdapat pula pertanyaan tentang apakah ada pengalaman responden
pernah diliburkan akibat masalah di bagian tubuh tersebut. Berikut merupakan contoh SNQ
yang dapat diberikan ke responden.

Gambar 2.x Contoh SNQ (Cornelius et al)

2.2

Muskulotal Sistem
1. Otot
Semua sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi. Terdapat lebih

dari 600 buah otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-otot tersebut dilekatkan pada
tulang-tulang kerangka tubuh oleh tendon, dan sebagian kecil ada yang melekat di bawah
permukaan kulit.
Fungsi sistem muskuler/otot:

Pergerakan. Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut


melekat dan bergerak dalam bagian organ internal tubuh.

Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka


dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk
terhadap gaya gravitasi.

Produksi panas. Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan


panas untuk mepertahankan suhu tubuh normal.
6

Ciri-ciri sistem muskuler/otot:

Kontrakstilitas. Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau tidak
melibatkan pemendekan otot.

Eksitabilitas. Serabut otot akan merespons dengan kuat jika distimulasi oleh impuls
saraf.

Ekstensibilitas. Serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang melebihi


panjang otot saat rileks.

Elastisitas. Serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi atau
meregang.

2. Tendon
Tendon adalah tali atau urat daging yang kuat yang bersifat fleksibel, yang terbuat dari
fibrous protein (kolagen). Tendon berfungsi melekatkan tulang dengan otot atau otot dengan
otot.

3. Ligamen
Ligamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakan jaringan elastis
penghubung yang terdiri atas kolagen. Ligamen membungkus tulang dengan tulang yang
diikat oleh sendi.
4. Tulang/ Rangka
Skeletal disebut juga sistem rangka, yang tersusun atas tulang-tulang. Tubuh kita
memiliki 206 tulang yang membentuk rangka. Bagian terpenting adalah tulang belakang.
Fungsi Sistem Skeletal :
1. Memproteksi organ-organ internal dari trauma mekanis.
2. Membentuk kerangka yang yang berfungsi untuk menyangga tubuh dan otot-otot
yang.
7

3. Melekat pada tulang


4. Berisi dan melindungi sum-sum tulang merah yang merupakan salah satu jaringan
pembentuk darah.
5. Merupakan tempat penyimpanan bagimineral seperti calcium daridalam darah.
5. Sendi
Persendian adalah hubungan antar dua tulang sedemikian rupa, sehingga dimaksudkan
untuk memudahkan terjadinya gerakan.
2.3

Musculoskeletal Disorders (MSDs)


Menururt NIOSH (1997) yang dimaksud dengan musculoskeletal disorders adalah

sekelompok kondisi patologis yang mempengaruhi fungsi normal dari jaringan halus sistem
musculoskeletal yang mencakup sistem syaraf, tendon, otot dan struktur penunjang seperti
discus intervertebral.
Nur Ikrimah (2009) menerangkan berdasarkan Canadian Center for Occupational Health
and Safety, Aktivitas kerja seperti pekerjaan yang bersifat repetitif, atau pekerjaan dengan
postur yang tidak normal adalah hal yang dapat menyebabkan munculnya gangguan MSDs,
yang sakitnya dapat dirasakan selama bekerja atau pada saat tidak bekerja.
Humatech (1995) menyatakan bahwa gangguan pada system musculoskeletal tidak
pernah terjadi secara langsung, tetapi merupakan kumpulan-kumpulan benturan kecil dan
besar yang terakumulasi secara terus menerus dalam waktu relatif lama, dapat dalam hitungan
beberapa hari, bulan dan tahun, tergantung pada berat ringannya trauma setiap kali dan setiap
saat, sehingga dapat menimbulkan suatu cidera yang cukup besar yang diekspresikan dengan
rasa sakit, kesemutan, pegal-pegal, nyeri tekan, pembengkakan dan gerakan yang terhambat
atau gerakan minim atau kelemahan pada anggota tubuh yang terkena trauma.
Tiap bagian tubuh yang digunakan dalam bekerja memilki risiko ergonomi dan gangguan
kesehatan, yang dapat mengakibatkan melemahkan fungsi tubuh dan penurunan kinerja
pekerja baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Bagian-bagian tubuh seperti tangan, leher,
bahu, punggung dan kaki merupakan bagian tubuh yang sering digunakan pekerja dalam
melakukan pekerjaannya. Bagian tubuh yang sering digunakan pekerja maka akan berdampak
timbulnya keluhan atau cidera pada bagianbagian tubuh tersebut. Dalam hal ini NIOSH
menyatakan bahwa faktor risiko pada pekerjaan termasuk manusia (postur tubuh, beban,
8

durasi, dan frekuensi, genggaman), faktor alat, dan lingkungan kerja merupakan faktor-faktor
yang dapat menyebabkan MSDs. Terkait postur tubuh dengan kejadian MSDs ditegaskan
pula oleh

Achwan (2006) yang menyatakan bahwa, Ada dua aspek postur tubuh yang

memberikan kontribusi atas gangguan muskuloskeletal akibat kerja, termasuk pekerjaan yang
bersifat repetitif. Pertama adalah posisi dari bagian tubuh saat melakukan pekerjaan. Aspek
yang kedua dari postur tubuh yang memberikan kontribusi atas gangguan WMSDs (Work
Related Musculoskeletal Disorser) adalah posisi dari leher akan senantiasa menstabilkan
posisi tubuh selama pekerjaan dilakukan. Kontraksi otot yang terjadi akan menekan pembuluh
darah, dan menyebabkan terganggunya peredaran darah. Otot pada leher dan betis akan
menjadi lelah meskipun leher dan bahu tidak bergerak. Inilah yang
menimbulkan sakit pada bagian leher.
Menurut Weeks et al (1991) tanda awal yang menunjukan terjadinya gangguan MSDs
yaitu bengkak (sweeling), gemetar (numbness), kesemutan (tingling), sakit (aching), dan rasa
terbakar (burning pain). Sedangkan menurut Kromer (1989) seperti yang disadur Merulalia
(2010) mengungkapkan gejala yang akan menunjukkan tingkat keparahan Musculoskeletal
Disorders dapat dilihat dari:
Tahap 1: Sakit atau pegal-pegal dan kelelahan selama jam kerja tapi gejala ini
biasanya menghilang setelah waktu kerja (dalam satu malam). Tidak berpengaruh
pada performa kerja. Efek ini dapat pulih setelah istirahat
Tahap 2: Gejala ini tetap ada setelah melewati waktu satu malam setelah bekerja.
Tidur mungkin terganggu, kadang-kadang menyebabkan berkurangnya performa
kerja
Tahap 3: Gejala ini tetap ada walaupun setelah istirahat, nyeri terjadi ketika
bergerak secara repetitif. Tidur terganggu dan sulit untuk melakukan pekerjaan,
kadang-kadang tidak sesuai kapasitas kerja.
Keluhan musculoskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang
dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot
menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan
keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament, dan tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah
yang biasanya diistilahkan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) atau cedera
pada sistem musculoskeletal (Tarwaka et al, 2004).
Secara garis besar keluhan muskuloskeletal dapat dikelompokkan menjadi dua,
9

yaitu ;
a. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot
menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang
apabila pembebanan dihentikan, dan
b. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun
pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus
berlanjut (Tarwaka et al, 2004).
NIOSH (2007), menjelaskan bahwa Musculoskeletal Disorders (MSDs) dapat
disebabkan oleh berbagai faktor risiko, baik berupa faktor tunggal maupun kombinasi dari
berbagai faktor risiko. Berikut ini adalah beberapa jenis cidera yang mungkin dialami pekerja
disebabkan pekerjaannya:

Cidera Pada Tangan


Cidera pada bagian tangan, pergelangan tangan dan siku bisa disebabkan dari

pekerjaan tangan yang intensif sehingga memungkinkan terjadinya postur janggal pada tangan
dengan durasi yang lama, pergerakan yang berulang/repetitif, dan tekanan dari peralatan/
material kerja. Sembilan belas studi menyatakan bahwa pekerjaan repetitive berpengaruh pada
cidera pada tangan dan pergelangan tangan misalnya CTS (Bernard et al, 1997). Penelitian
dari Chiang (1993) pada tiga grup pekerjaan menyimpulkan bahwa prevalensi CTS ditemukan
sebbesar 14,5% sebagai gejala awal dari pergerakan repetitive yang dilakukan pekerja.
(Bernard et al; NIOSH, 1997).
a)

Tendinitis.
merupakan peradangan pada tendon, adanya struktur ikatan yang melekat pada
masing-masing bagian ujung dari otot ke tulang. Keadaan tersebut akan semakin
berkembang ketika tendon terus menerus digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang
tidak biasa seperti tekanan yang kuat pada tangan, membengkokkan pergelangan
tangan selama bekerja, atau menggerakkan pergelangan tangan secara berulang. Jika
ketegangan otot tangan ini terus berlangsung, akan menyebabkan tendinitis. Gejala
yang dirasakan antara lain Pegal, sakit pada bagian tertentu khususnya ketika bergerak
aktif seperti pada siku dan lutut yang disertai dengan pembengkakan. Kemerahmerahan, terasa terbakar, sakit dan membengkak ketika bagian tubuh tersebut
beristirahat. Pekerjaan yang berpotensi antatra lain adalah Industri perakitan

automobile, pengemasan makanan, juru tulis, sales, manufaktur


b)
Carpal Tunnel Syndrome (CTS).
10

CTS dapat menyebabkan sulitnya seseorang menggenggam sesuatu pada tangannya.


CTS merupakan Gangguan tekanan/ pemampatan pada syaraf yang mempengaruhi
syaraf tengah, salah satu dari tiga syaraf yang menyuplai tangan dengan kemampuan
sensorik dan motorik. CTS pada pergelangan tangan merupakan terowongan yang
terbentuk oleh carpal tulang pada tiga sisi dan ligamen yang melintanginya. Gejalanya
antara lain Gatal dan mati rasa pada jari khususnya di malam hari, sakit seperti
terbakar, mati rasa yang menyakitkan, sensasi bengkak yang tidak terlihat,
melemahnya sensasi genggaman karena hilangnya fungsi syaraf sensorik. Faktor risiko
yang dapat menyebabkan CTS Manual handling, postur, getaran, repetisi, force/ gaya
yang membutuhkan peregangan, frekuensi, durasi, suhu. Pekerjaaan yang berpotensi
adalah pekerjaan Mengetik dan proses pemasukan data, kegiatan manufaktur,
c)

perakitan, penjahit dan pengepakan/ pembungkusan.


Trigger finger.
Tekanan yang berulang pada jari-jari (pada saat menggunakan alat kerja yang memiliki
pelatuk) dimana menekan tendon secara terus menerus hingga ke jari-jari dan
mengakibtakan rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian jari-jari.
Epicondylitis.
Merupakan rasa nyeri atau sakit pada bagian siku. Rasa sakit ini berhubungan dengan

d)

perputaran ekstrim pada lengan bawah dan pembengkokan pada pergelangan tangan.
Kondisi ini juga biasa disebut tennis elbow atau golfers elbbow.
Hand-Arm Vibration Syndrome (HAVS).
Gangguan pada pembuluh darah dan syaraf pada jari yang disebabkan oleh getaran

e)

alat atau bagian / permukaan benda yang bergetar dan menyebar langsung ke tangan.
Dikenal juga sebagai getaran yang menyebabkan white finger, traumatic vasospastic
diseases atau fenomena Raynauds kedua. Gejala dari HAVS adalah Mati rasa, gatalgatal, dan putih pucat pada jari, lebih lanjut dapat menyebabkan berkurangnya
sensitivitas terhadap panas dan dingin. Gejala biasanya muncul dalam keadaan dingin.
Faktor yang berisiko menyebabkan HAVS diantaranya adalah Getaran, durasi,
frekuensi, intensitas getaran, suhu dingin. Pekerjaan yang birisiko adalah Pekerjaan
konstruksi, petani atau pekerja lapangang, perusahaan automobil dan supir truk,
penjahit, pengebor, pekerjaan memalu, gerinda, penyangga, atau penggosok lantai.

Cidera Pada Bahu dan Leher

Pekerjaan dengan melibatkan bahu memiliki kemungkinan yang besar dalam penyebabkan
cidera pada bagian tubuh tersebut. Beberapa postur bahu seperti merentang lebih dari 45 atau
11

mengangkat bahu ke atas melebihi tinggi kepala. Durasi yang lama dan gerakan yang
berulang juga mempengaruhi kesakitan pada bahu. Terdapat hubungan yang positif antara
pekerjaan repetitif dan MSDs pada bahu dan leher, studi lainnya menyatakan bahwa kejadian
cidera bahu juga disebabkan karena eksposur dengan postur janggal dan beban yang diangkat
(Bernard et al, 1997).
Bursitis. Peradangan (pembengkakan) atau iritasi yang terjadi pada jaringan ikat
yang berada pada sekitar persendian. Penyakit ini akibat posisi bahu yang janggal seperti
mengangkat bahu di atas kepala dan bekerja dalam waktu yang lama.
Tension Neck Syndrome.
Gejala ini terjadi pada leher yang mengalami ketegangan pada otot-ototnya
disebabkan postur leher menengadah ke atas dalam waktu yang lama. Sindroma ini
mengakibatkan kekakuan pada otot leher, kejang otot, dan rasa sakit yang menyebar ke bagian
leher.

Cidera Pada Punggung dan Lutut


Di beberapa jenis pekerjaan, dibutuhkan pekerjaan lantai atau mengangkat beban yang

menyebabkan postur punggung tidak netral. Posisi berlutut, membungkuk, atau jongkok bisa
menyebabkan sakit pada punggung bagian bawah atau pada lutut, jika dilakukan dalam waktu
yang lama dan kontinyu mengakibatkan masalah yang serius pada otot dan sendi (NIOSH,
2007). Menurut Ablett (2001) dalam Santoso (2004), terdapat 80% orang dewasa mengalami
nyeri pada bagian tubuh belakang (back pain) karena berbagai sebab dan kejadian back pain
ini mengakibatkan 40% orang tidak masuk kerja.
Low Back Pain.
Kondisi patologis yang mempengaruhi tulang, tendon, syaraf, ligamen, intervertebral
disc dari lumbar spine (tulang belakang). Cidera pada punggung dikarenakan otot-otot tulang
belakang mengalami peregangan jika postur punggung membungkuk. Diskus (discs)
mengalami tekanan yang kuat dan menekan juga bagian dari tulang belakang termasuk syaraf.
Apabila postur membungkuk ini berlangsung terus menerus, maka diskus akan melemah yang
pada akhirnya menyebabkan putusnya diskus (disc rupture) atau biasa disebut herniation.
Gejala yang dirasakan adalah Sakit di bagian tertentu yang dapat mengurangi tingkat
pergerakan tulang belakang yang ditandai oleh kejang otot. Sakit daritingkat menengah
sampai yang parah dan menjalar sampai ke kaki. Sulit berjalan normal dan pergerakan tulang
12

belakang menjadi berkurang. Sakit ketika mengendarai mobil, batuk atau mengganti posisi.
Faktor risiko yang dapat menimbulkan LBP adalah Pekerjaan manual yang berat, postur
janggal, force/ gaya,beban objek,getaran, repetisi, dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
Pekerjaan yang berisiko antara lain Pekerja lapangan atau bukan lapangan, pelayan,
operator,tekhnisian dan manajernya, profesional, sales, pekerjaan yang berhubungan dengan
tulis-menulis dan pengetikan, supir truk, pekerjaan manual handling, penjahit dan perawat.
Penyakit musculoskeletal yang terdapat di bagian lutut berkaitan dengan tekanan
pada cairan di antara tulang dan tendon. Tekanan yang berlangsung terus menerus akan
mengakibatkan cairan tersebut (bursa) tertekan, membengkak, kaku, dan meradang atau biasa
disebut bursitis. Tekanan dari luar ini juga menyebabkan tendon pada lutut meradang yang
akhirnya menyebabkan sakit
(tendinitis).

13

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
Bab 3 memuat tentang tahapan-tahapan atau prosedur yang akan dilaksanakun saat
penelitian berlangsung.
3.1

Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data


Setelah teori-teori penunjang didapatkan, maka penelitian dilanjutkan dengan

melakukan pengumpulan data. Sebuah survei berdasarkan kuesioner SNQ dibuat melalui
media online form via Google Drive untuk menjaring data terkait keluhan MSD. Berikut ini
merupakan screenshot dari survei tersebut.

Gambar 3.1 Survei SNQ via Google Drive


14

Kuesioner disebar secara online melalui beberapa media sosial dan jaringan
komunikasi pribadi. Setelah beberapa data responden didapatkan dari survei tersebut, maka
selanjutnya tahap pengolahan data bisa dilakukan. Pengolahan data berhubungan dengan
karakteristik demografi dari responden serta persentase prevalensi atau tingkat kecenderungan
terjadi keluhan di bagian tubuh tertentu dalam jangka waktu 12 bulan terakhir serta 7 hari
terakhir. Selain itu juga diketahui jumlah responden yang pernah libur akibat terjadi masalah
tersebut.
3.2 Tahap Analisis dan interpretasi
Pada tahap ini dilakukan analisis dan intrepretasi terhadap data yang telah
dikumpulkan. Data yang akan dianalisis merupakan data hasil kuisioner yang telah
dikumpulkan sebelumnya untuk selanjutnya diinterpretasi untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap muscoloskeletal disorder.
3.3Tahap Kesimpulan dan Saran
Pada tahap ini, dilakukan penarikan kesimpulan terhadap penelitian ini, serta
pemberian saran untuk memberikan perbaikan terhadap penelitian ini kedepan.

15

BAB 4
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Bab 4 membahas tentang data-data yang didapatkan dalam penelitian serta
pengolahannya sehingga dapat dilakukan untuk analisis dan interpretasi pada tahap
selanjutnya.
4.1

Data Demografi
Survei yang disebar mencantumkan beberapa pertanyaan untuk mengetahui demografi

dari responden, antara lain jenis kelamin, usia, semester, serta frekuensi penggunaan laptop
per hari. Berikut merupakan data demografi responden yang telah dihimpun.

47%

53%

Pria
Wanita

Gambar 4.1 Jenis Kelamin Responden

21%

21%

19 tahun
20 tahun
21 tahun

32%

26%

Gambar 4.2 Usia Responden

16

22 tahun

11%
1 atau 2

33%
28%

3 atau 4
5 atau 6
7 atau 8

28%

Gambar 4.3 Semester Responden

21%

11%
1-3 jam
4-6 jam

21%

7-9 jam
47%

> 9 jam

Gambar 4.4 Frekuensi Penggunaan Laptop Per Hari

4.2

Data SNQ
Data yang telah dikumpulkan melalui survei SNQ antara lain prevalensi terjadinya

masalah pada 12 bulan terakhir, 7 hari terakhir, serta kejadian pernah libur atau tidak
melaksanakan kuliah akibat masalah tersebut. Berikut ini merupakan hasil pengumpulan data
dari survei SNQ.

17

12

10

Jumlah keluhan

Gambar 4.5 Prevalensi Keluhan MSD 12 Bulan Terakhir

Jumlah keluhan

Gambar 4.6 Prevalensi Libur Akibat Keluhan MSD

18

4
Jumlah keluhan
3

Gambar 4.7 Prevalensi Keluhan MSD 7 Hari Terakhir

19