Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH PENGENALAN PABRIK

HEAT EXCHANGER
( ALAT PENUKAR PANAS )

Disusun Oleh :
Muhammad Rafli : 061440410778
Weny Septiani

: 061440410786

Kelas

: 4EGA

Instruktur : Ir. Irawan Rusnadi , M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA PRODI TEKNIK ENERGI


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG 2016

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya penyusun dapat
menyelesaikan penyusunan makalah berjudul Heat Exchanger ini. Salawat dan salam
juga penulis persembahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga,
sahabat serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu penulis masih mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna penyempurnaan makalah di masa datang.
Dalam penyelesaian makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan
pengarahan dari berbagai pihak terutama dari dosen pembimbing. Maka pada
kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Ir.
Irawan Rusnadi , M.T selaku dosen pembimbing mata kuliah Pengenalan Pabrik.
Atas semua bantuan dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis,
semoga akan mendapatkan imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Akhir kata
penyusun mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna baik
bagi penyusun maupun bagi pembaca, Amin.

Palembang,

Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3 Tujuan...................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
2.1 Alat Penukar Panas............................................................................... 3
2.1.1 Pengertian Alat Penukar Panas......................................................................3
2.1.2 Landasan Teori Dasar Prinsip Perpindahan Panas...............................................4
2.2 Jenis-jenis dan Klasifikasi dari Heat Exchanger...................................................7
2.2.1 Klasifikasi Alat Penukar Panas......................................................................7
2.2.2 Jenis jenis Heat Exchanger......................................................................10
2.2.3 Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas...........................................................23
2.3

Komponen dari Heat Exchanger Berdasarkan Fungsinya.................................24

2.4

Prinsip Kerja Heat Exchanger..................................................................25

2.5

Cara Perawatan Umum pada Heat Exchanger...............................................26

BAB III PENUTUP........................................................................................ 28


3.1

Kesimpulan......................................................................................... 28

3.2

Kritik dan Saran................................................................................... 29

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan
untuk memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa
dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya,
medium pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air
biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa
mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien.
Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat
dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct
contact). Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak,
pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit
listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil
di mana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar.
Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas
Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu :

Parallel flow/co current flow (aliran searah)


Cross flow (aliran silang)
Cross counter flow (aliran silang berlawanan)
Counter current flow (aliran berlawanan arah)

Jenis-jenis penukar panas


Jenis-jenis penukar panas antara lain :

Double Pipe Heat Exchanger


Plate and Frame Heat Exchanger
Shell and Tube Heat Exchanger

Adiabatic Wheel Heat Exchanger


Pillow Plate Heat Exchanger
Dynamic Scraped Surface Heat Exchanger
Phase-change Heat Exchanger

Alat penukar panas sangat dibutuhkan pada proses produksi dalam suatu
industri, maka dari itu untuk mengetahui kerja dari alat penukar panas perlu
diadakan analisis. Dengan analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwa alat
tersebut mampu menghasilkan panas dengan standar kerja sesuai kebutuhan yang
diinginkan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Heat Exchanger ?
2. Apa saja jenis-jenis dan klasifikasi dari Heat Exchanger ?
3. Apa saja komponen dari Heat Exchanger berdasarkan fungsinya?
4. Bagaimana prinsip kerja Heat Exchanger ?
5. Bagaimana perawatan umum untuk Heat Exchanger ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian Heat Exchanger.
2. Mengetahui jenis-jenis dan klasifikasi dari Heat Exchanger.
3. Mengetahui komponen dari Heat Exchanger berdasarkan fungsinya.
4. Mengetahui dan memahami prinsip kerja dari Heat Exchanger.
5. Mengetahui cara perawatan umum pada Heat Exchanger.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Alat Penukar Panas

2.1.1 Pengertian Alat Penukar Panas


Alat Penukar Panas atau dalam industri kimia populer dengan istilah yaitu Heat
Exchanger (HE) adalah suatu alat yang memungkinkan perpindahan panas dan bisa berfungsi
sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas yang dipakai
adalah uap lewat panas (superheated steam) dan air biasa sebagai air pendingin (cooling
water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat
berlangsung secara efisien.
Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding
yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung begitu saja. Penukar panas
sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia maupun petrokimia,
industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat
penukar panas adalah radiator mobil di mana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke
udara. Penukar panas merupakan alat yang dapat memindahkan panas dari satu sistem ke
sistem yang lain tanpa terjadi perpindahan massa dari dari sistem satu ke sistem lainnya.
Adapun tujuan perpindahan panas antara lain:
a .Memanaskan :
- Menaikkan suhu
- Merubah fase (Menguapkan, melarutkan, melelehkan)
- Mempertahan suhu proses (memberi panas proses yang membutuhkan
endoterm)
b.Mendinginkan :
- Menurunkan suhu

- Merubah fase (Mengembunkan, membekukan,dsb,)


- Mempertahankan suhu proses (mengambil panas proses yang menghasilkan
panas eksoterm)
Alat penukar panas merupakan suatu alat yang menghasilkan perpindahan panas dari
suatu fluida yang temperaturnya lebih tinggi ke fluida yang temperaturnya lebih rendah.
Proses perpindahan panas tersebut dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.

2.1.2 Landasan Teori Dasar Prinsip Perpindahan Panas


Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat ke
tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu proses,
panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat dan atau perubahan tekanan,
reaksi kimia dan kelistrikan.
Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu fluida
yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah dan
secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas dan fluida dingin tidak berhubungan
langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah.
Stabilitas fasa fluida pada HE suhu rendah sangat penting mengingat aliran
panas/dingin harus dapat mengalir dengan baik (viskositas optimal). Pengaruh suhu, tekanan,
dan jenis kriogenik akan sangat menentukan efektivitas pertukaran panas yang terjadi.
Perpindahan Panas Secara Konduksi
Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling berdekatan antara
yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan molekul-molekul tersebut
secara fisik. Molekul-molekul benda yang panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekulmolekul benda yang berada dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya
dilimpahkan kepada molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih
cepat maka akan memberikan panas.
Panas dipindahan sebagai energi kinetik dari suatu molekul ke molekul lainnya, tanpa
molekul tersebut berpindah tempat. Cara ini nyata sekali pada zat padat.

Daya hantar panas konduksi (k) tiap zat berbeda-beda. Daya hantar tinggi disebut
penghantar panas (konduktor panas) dan yang rendah adalah penyekat panas (isolator panas ).
Q = k * A * (T1-T2) / X
A : luas bidang perpindahan panas
X : Panjang jalan perpindahan panas(tebal)
Q ; panas yang dipindahkan
Perpindahan Panas Secara Konveksi
Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan partikel
atau zat tersebut secara fisik.
Panas dipindahkan oleh molekul-molekul yang bergerak (mengalir). Oleh karena
adanya dorongan bergerak. Disini kecepatan gerakan (aliran) memegang peranan penting.
Konveksi hanya terjadi pada fluida
Q = h * A * (T2 T1)
h = koefisien perpindahan panas suatu lapisan fluida.
Q = panas yang dipindahkan
A = luas perpindahan panas

Perpindahan Panas Secara Radiasi


Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu energi dapat
dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang dingin)
dengan pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini akan
berubah menjadi panas jika terserap oleh benda yang lain.

Gambar 2.1 Perpindahan Panas pada Heat Exchanger (Djunaidi, 2009)


Panas dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Perpindahan seperti ini
tidak memerlukan zat antara/media.
Isolasi Panas
Mencegah kehilangan panas alat alat, pipa-pipa steam/gas yang bersuhu tinggi ke
sekeliling yang suhunya lebih rendah, atau sebaliknya.
Untuk alat-alat dengan suhu rendah, isolasi mencegah masuknya panas karena suhu
sekitarnya yang lebih tinggi.Isolasi juga mencegah bahaya yang dapat timbul bila orang
menyentuh permukaan benda yang panas atau dingin sekali.
Bahan Isolasi:

- daya hantar panas rendah


- dapat menahan arus konveksi
- disesuaikan dengan suhu

Permukaan datar: makin tebal, makin sedikit panas yang hilang


Perbedaan Suhu Rata-rata
Dalam perpindahan panas perbedaan suhu mengendalikan laju pemindahan panas.
Suhu fluida dalam alat sering tidak tetap. Untuk perhitungan digunakan perbedaan suhu ratarata. Perbedaan suhu ini disebut perbedaan suhu rata-rata logaritma (log mean temperature
diffrence) disingkat LMTD

2.2 Jenis-jenis dan Klasifikasi dari Heat Exchanger


2.2.1 Klasifikasi Alat Penukar Panas
1. Klasifikasi berdasarkan proses perpindahan panas
a. Tipe kontak tidak langsung

Tipe dari satu fase

Tipe dari banyak fase

Tipe yang ditimbun (storage type)

Tipe fluidized bed

b. Tipe kontak langsung

Immiscible fluids

Gas liquid

Liquid vapor

2. Klasifikasi berdasarkan jumlah fluida yang mengalir


a. Dua jenis fluida
b. Tiga jenis fluida
c. Lebih dari tiga jenis fluida

3. Klasifikasi berdasarkan kompaknya permukaan


a. Tipe penukar panas yang kompak, Densitas luas permukaan > 700 m
b. Tipe penukar panas yang tidak kompak, Densitas luas permukaan < 700 m

4. Klasifikasi berdasarkan mekanisme perpindahan panas


a. Dengan cara konveksi, satu fase pada kedua sisi alirannya.
b. Dengan cara konveksi pada satu sisi aliran dan pada sisi yang lainnya terdapat cara
konveksi 2 aliran.
c. Dengan cara konveksi pada kedua sisi alirannya serta terdapat 2 pass aliran masing
masing.
d. Kombinasi cara konveksi dan radiasi

5. Klasifikasi berdasarkan konstruksi


a. Konstruksi tubular (shell and tube)

Tube ganda (double tube)

Tube tunggal (single tube)

b. Konstruksi shell and tube

Sekat plat (plate baffle)

Sekat batang (rod baffle)

Konstruksi tube spiral

c. Konstruksi tipe pelat

Tipe pelat

Tipe spiral

Tipe lamella

Tipe pelat koil

d. Konstruksi dengan luas permukaan diperluas (extended surface)


1. Sirip pelat (plate fin)
2. Sirip tube (tube fin)

Heat pipe wall

Ordinary separating wall

e. Konstruksi dengan Regenerative

Tipe rotary

Tipe drum

Tipe disk (piringan)

Tipe matrik tetap

6. Klasifikasi berdasarkan pengaturan aliran


a. Aliran dengan satu pass

Aliran berlawanan

Aliran melintang

Aliran yang dibagi (divided)

Aliran parallel

Aliran split

b. Aliran dengan multipass


1. Permukaan yang diperbesar (extended surface)

Aliran counter menyilang


9

Aliran paralel menyilang

Aliran compound

2. Shell and tube

Aliran paralel yang berlawanan

Aliran split

Aliran dibagi (divided)

3. Multipass plat

2.2.2 Jenis jenis Heat Exchanger


Ada beberapa jenis Heat Exchanger yang banyak digunakan dalam industri, yaitu:
a. Penukar panas pipa rangkap (double pipe Heat Exchanger)
Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis penukar panas
dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan panas atau
dingin cairan yang terkandung dalam ruang annular dan cairan lainnya dalam pipa.
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang dikedua
ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida yang satu
mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus antara pipa
luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida
yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar
digunakan penukar panas jenis selongsong dan buluh (shell and tube Heat Exchanger).
Pada jenis ini tiap pipa atau beberapa pipa mempunyai shell sendiri-sendiri. Untuk
menghindari tempat yang terlalu panjang, Heat Exchanger ini dibentuk menjadi U. Pada
keperluan khusus, untuk meningkatkan kemampuan memindahkan panas, bagian diluar pipa
diberi sirip. Bentuk siripnya ada yang memanjang, melingkar dan sebagainya.

10

Gamb
ar 2 . Penukar panas jenis pipa rangkap (double pipe Heat Exchanger)

Pada alat ini, mekanisme perpindahan panas terjadi secara tidak langsung
(indirect contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga
kedua fluida tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida
pendingin) mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih
tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa annulus). Penukar panas demikian
mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun dalam susunan vertikal.
Perpindahan panas yang terjadi pada fluida adalah proses konveksi, sedang proses
konduksi terjadi pada dinding pipa. Panas mengalir dari fluida yang bertemperatur
tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.
Dalam desain pipa penukar panas ganda, merupakan faktor penting adalah jenis
pola aliran dalam penukar panas. Sebuah penukar panas pipa ganda biasanya akan
baik berlawanan arah / counterflow atau aliran paralel. Aliran silang tidak bekerja
untuk penukar panas pipa ganda ini. Pola aliran dan kerja panas yang dibutuhkan
pertukaran memungkinkan perhitungan perbedaan suhu.

11

Prinsip kerja dari alat ini adalah memindahkan panas dari cairan dengan
temperatur yang lebih tinggi ke cairan yang memiliki temperatur lebih rendah. Dalam
aliran panas (steam) dialirkan pada bagian dalam pipa konsentris sedangkan air
dialirkan pada bagian luar dari pipa konsentris ini (bagian annulus).
Namun, terkadang dalam beberapa alat seperti HE ini, akan ada pengotor didalam
pipa yang membuat proses perpindahan panas menjadi terganggu. Pengotoran ini
dapat terjadi karena endapan dari fluida yang mengalir, juga disebabkan oleh korosi
pada komponen dari Heat Exchanger akibat pengaruh dari jenis fluida yang
dialirinya. Selama Heat Exchanger ini dioperasikan, pengaruh pengotor pasti akan
terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat menganggu atau memperngaruhi
temperatur fluida mengalir, juga dapat menurunkan atau mempengaruhi koefisien
perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut.
Keistimewaan jenis ini adalah mampu beroperasi pada tekanan yang tinggi,
dan karena tidak ada sambungan, resiko tercampurnya kedua fluida sangat kecil.
Kelemahannya terletak pada kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil, Fleksibel
dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa, dapat dipasang secara seri ataupun
paralel, dapat diatur sedimikian rupa agar diperoleh batas pressure drop dan LMTD
sesuai dengan keperluan, mudah bila kita ingin menambahkan luas permukaannya
dan kalkulasi desain mudah dibuat dan akurat Sedangkan kelemahannya terletak pada
kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil, mahal, terbatas untuk fluida yang
membutuhkan area perpindahan panas kecil (<50 m2), dan biasanya digunakan untuk
sejumlah kecil fluida yang akan dipanaskan atau dikondensasikan
b. Penukar panas cangkang dan buluh (shell and tube Heat Exchanger)

Jenis ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam industri
perminyakan. Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang
dihubungkan secara paralel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang). Fluida
yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa

12

tetapi masih didalam shell, pada arah yang sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua
ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan aliran fluida


dalam shell side dan Tube side untuk shell and Tube exchanger adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Kemampuan untuk dibersihkan (Cleanability)


Korosi
Tekanan
Temperatur
Viskositas

Faktor yang mempengaruhi efektivitas alat penukar panas (Heat Exchanger) terutama Heat
exchanger tipe shell & tube:
a.

Penggunaan baffle dapat meningkatkan efektifitas alat penukar panas, hal

b.

ini sejalan dengan peningkatan koefisien perpindahan panas.


Pengaruh tebal isolasi pada bagian luar shell, efektifitas meningkat hingga

c.

suatu harga maksimum dan kemudian berkurang.


Dengan menggunakan alat penukar panas tabung konsentris, efektifitas
berkurang, jika kecepatan udara masuk dingin meningkat dan efektifitas

d.

meningkat, jika laju alir massa udara meningkat.


Menentukan jarak antar baffle minimum 0,2 dari diameter shell sedangkan
jarak maksimum ialah 1x diameter bagian dalam shell. Jarak baffle yang
panjang akan membuat aliran membujur dan kurang menyimpang dari
aliran melintang.

Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas
cangkang dan buluh dipasang sekat (buffle). Ini bertujuan untuk membuat turbulensi aliran
fluida dan menambah waktu tinggal (residence time), namun pemasangan sekat akan
memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir
fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.

Komponen-komponen Shell and Tube Heat Exchanger.

13

Dalam penguraian komponen-komponen heat exchanger jenis shell and tube akan dibahas
beberapa komponen yang sangat berpengaruh pada konstruksi heatexchanger. Untuk lebih
jelasnya disini akan dibahas beberapa komponen dari heat exchanger jenis shell and tube.
1. Shell
Kontruksi shell sangat ditentukan oleh keadaan tubes yang akan ditempatkan didalamnya.
Shell ini dapat dibuat dari pipa yang berukuran besar atau pelat logam yang dirol. Shell
merupakan badan dari heat exchanger, dimana didapat tube bundle. Untuk temperatur yang
sangart tinggi kadang-kadang shell dibagi dua disambungkan dengan sambungan ekspansi.
Bentuk-bentuk shell yang lazim digunakan ditunjukkan pada gambar berikut :

Gambar 2.12 Bentuk-bentuk shell dan penutupnya. (Anonim, 2011)


2. Tube (pipa)

14

Tube atau pipa merupakan bidang pemisah antara kedua jenis fluida yang mengalir
didalamnya dan sekaligus sebagai bidang perpindahan panas. Ketebalan dan bahan pipa harus
dipilih pada tekanan operasi fluida kerjanya. Selain itu bahan pipa tidak mudah terkorosi oleh
fluida kerja.
3. Sekat(Baffle)
Tubes atau pipa-pipa memegang peranan yang sangat penting di dalam penukar
panas.Dinding pipa merupakan bidang pemisah kedua jenis fluida yang mengalir di dalamnya
dan sekaligus berfungsi sebagai bidang perpindahan panas.Bahan dan ketebalan dnding pipa
harus dipilih agar diperoleh penghantaran panas yang baik dan juga harus mampu bekerja
pada tekanan operasi fluida kerjanya. Susunan tubes biasanya dipasang menurut konfigurasi
segitiga atau segiempat
Adapun fungsi dari pemasangan sekat (baffle) pada heat exchanger ini antara lain adalah
untuk :
1. Sebagai penahan dari tube bundle
2. Untukmengurangiataumenambah terjadinya getaran.
3. Sebagai alat untuk mengarahkanaliran fluidayangberada di dalamtubes.
Ditinjau dari segi konstruksinya baffle dapat diklasifikasikan dalam empat kelompok, yaitu :
1. Sekat plat bentuk segmen.
2. Sekat bintang (rod baffle).
3. Sekat mendatar.
4. Sekat impingement
4. Tube Side Channel dan Nozzle
Mengatur aliran fluida ditube

5. ChannelCover

15

Tutup yang dapat dibuka saat pemeriksaan dan pembersihan


6. Tube Sheet
Tempat untuk merangkai ujung-ujung tube sehingga menjadi satu yang disebut tube
bundle. HE dengan tube lurus pada umumnya menggunakan 2 buah tube sheet. Sedangkan
pada tube tipe U menggunakan satu buah tube sheet yang berfungsi untuk menyatukan tubetube menjadi tube bundle dan sebagai pemisah antara tube side dengan shell side.Tubesheet
merupakan bagian yang penting pada penukar panas.Bagian ini merupakan tempat
disatukannya pipa-pipa pada bagian ujungnya.Tube sheet ini dibuat tebal dan pipa harus
terpasang rapat tanpa bocor pada tube sheet. Dengan konstruksi fluida yang mengalir pada
badan shell tidak akan tercampur dengan fluida yang mengalir didalam tube. Penyambungan
antara tube sheet dengan pipa merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan,
karena.segala kegagalan penyambungan ini akan menyebabkan kebocoran dan pencampuran
kedua fluida di dalam penukar panas.
7. Tie Rods
Batangan besi yang dipasang sejajar dengan tube dan ditempatkan di bagian paling
luar dari baffle yang berfungsi sebagai penyangga agar jarak antara baffle yang satu dengan
lainnya tetap.

Tipe-tipe yang dikenal dari jenis Heat Exchanger ini adalah :

16

1.

Tipe Fixed tube sheet atau Fixed Head

2.

Tipe pipa U

3.

Tipe Floating tube sheet

Dengan Heat Exchanger jenis ini dapat diperoleh luas bidang perpindahan panas
yang besar dengan volume alat yang relative lebih kecil. Untuk pipa bisa dibuat dari berbagai
jenis bahan kontruksi, disesuaikan dengan alat sifat korosif fluida yang ditangani. Heat

17

Exchanger ini dapat digunakan untuk pemanasan/penguapan dan pendinginan atau


kondensasi segala macam fluida.
c. Penukar panas koil pipa (Pipe Coil Heat Exchanger)
Heat Exchanger ini mempunyai pipa berbentuk koil yang dibenamkan didalam
sebuah box berisi air dingin yang mengalir atau yang disemprotkan untuk mendinginkan
fluida panas yang mengalir di dalam pipa. Jenis ini disebut juga sebagai box cooler. Jenis ini
biasanya digunakan untuk pemindahan panas yang relative kecil dan fluida yang didalam
shell yang akan diproses lanjut.

Gambar 2.23Pipa Coil Heat Exchanger (Anonim, 2012)


HE jenis ini disusun dari tabung-tabung (tubes) dengan jumlah besar mengelilingi
tabung inti, dimana setiap HE terdiri dari lapisan-lapisan tabung sepanjang arah aksial
maupun radial. Aliran tekanan tinggi diberikan pada tube diameter kecil, sementara untuk
tekanan rendah dialirkan pada bagian luar tube diameter kecil.
Heat Exchanger jenis ini memiliki keuntungan untuk kondisi suhu rendah yaitu:
1

Perpindahan panas dapat dilakukan lebih dari dari dua aliran secara simultan.

18

Memiliki jumlah unit Heat Transfer yang tinggi

Dapat dilakukan pada tekanan tinggi.

d. Penukar Panas Pelat dan Bingkai (plate and frame heat exchanger)
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat pelat tegak lurus,
bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang penyekat lunak
(biasanya terbuat dari karet). Pelat pelat dan sekat disatukan oleh suatu perangkat penekan
yang pada setiap sudut pelat (kebanyakan segi empat) terdapat lubang pengalir fluida.
Melalui dua dari lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan
fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi sebelahnya. sedangkan media

yang lain karena adanya sekat mengalir melalui ruang antara disebelahnya. Dalam hal
itu hubungan ruang yang satu dan yang lainnya dimungkinkan.pelat-pelat yang
dibentuk sesuai kebutuhan dan umumnya terbuat dari baja (stainless steel type 304,
316, 317) atau logam lainnya.
Produk akan dipanaskan dan masuk kedalam suatu larutan yang kemudian akan mengalir
pada sebuah pelat. Proses pemanasan ini terjadi dengan adanya medium pemanas yang
mengalir pada saluran dan pelat yang lainnya. Dimana pelat yang telah tersusun ini akan
secara bergantian mengalirkan produk dan medium pemanas. Pelat yang dialiri produk tidak
akan dialiri oleh komponen lain.
Cairan panas yang melintasi bagian bawah head dialirkan ke atas melintas diantara setiap
plae genap sementara cairan dingin pada bagian puncak head dialirkan turun diantara platplat ganjil.Arah aliran produk dan medium pemanas di dalam pelat biasanya berbeda atau
boleh dikatakan mengalir secara berlawanan. Pada umumnya produk akan masuk melalui
saluran atas dan mengalir kebawah melewati pelat, sehingga aliran keluaran produk akan
berada dibawah, sedangkan medium pemanas akan masuk melalui saluran yang berkebalikan
dari produk, yaitu masuk melalui saluran bawah dan mengalir ke atas melewati pelat,
sehingga aliran pengeluaran medium pemanas akan berada diatas. Arah aliran yang
berlawanan ini dimaksudkan agar proses pemanasan dapat lebih cepat berlangsung.

19

Produk yang mengalir pada suatu pelat akan terhimpit oleh medium pemanas dengan
arah aliran yang berbeda, sehingga produk akan cepat memanas karena tertekan oleh pelat
yang mengalirkan medium pemanas. Produk yang telah menjadi panas dan medium yang
telah mengalir pada suatu pelat akan mengalir keluar.
Saluran pengeluaran medium pemanas dan produk ada dua macam tergantung dari
rangkaian pelat yang digunakan, baik itu seri maupun paralel. Pada rangkaian seri produk
yang masuk dan keluar akan melewati ports pada bagian front head yang sama. Sedangkan
pada rangkaian paralel produk dan medium pemanas akan masuk dan keluar melewati bagian
yang berbeda, yaitu masuk melewati ports pada bagian front head dan keluar melalui ports
pada bagian belakangnya.

Gambar 2.31 Penukar panas jenis pelat and Frame (Stevano Viktor, 2011)
e. Adiabatic Wheel Heat Exchanger
Jenis keempat penukar panas menggunakan intermediate cairan atau toko yang solid
untuk menahan panas, yang kemudian pindah ke sisi lain dari penukar panas akan
dirilis. Dua contoh ini adalah roda adiabatik, yang terdiri dari roda besar dengan benang
halus berputar melalui cairan panas dan dingin, dan penukar panas cairan.
f.

Pillow Plate Heat Exchanger

20

Sebuah pelat penukar bantal umumnya digunakan dalam industri susu untuk susu
pendingin dalam jumlah besar langsung ekspansi tank massal stainless steel. Pelat bantal
memungkinkan untuk pendinginan di hampir daerah seluruh permukaan tangki, tanpa sela
yang akan terjadi antara pipa dilas ke bagian luar tangki. Pelat bantal dibangun menggunakan
lembaran tipis dari logam-spot dilas ke permukaan selembar tebal dari logam.
Pelat tipis dilas dalam pola teratur dari titik-titik atau dengan pola serpentin garis
las. Setelah pengelasan ruang tertutup bertekanan dengan kekuatan yang cukup untuk
menyebabkan logam tipis untuk tonjolan di sekitar lasan, menyediakan ruang untuk cairan
penukar panas mengalir, dan menciptakan penampilan yang karakteristik bantal membengkak
terbentuk dari logam.

Gambar 2.39 Pillow plate heat exchanger (Anoni, 2012)

g. Dynamic Scraped Surface Heat Exchanger


Tipe lain dari penukar panas disebut dinamis besot permukaan heat exchanger.
Ini terutama digunakan untuk pemanasan atau pendinginan dengan tinggi viskositas
produk, proses kristalisasi, penguapan tinggi dan fouling aplikasi. Kali berjalan
panjang yang dicapai karena terus menerus menggores permukaan, sehingga
menghindari pengotoran dan mencapai kecepatan transfer panas yang berkelanjutan
selama proses tersebut.

21

Gambar 2.40 Dynamic scraped surface heat exchanger (Anonim, 2010)


h. Phase-Change Heat Exchanger
Selain pemanasan atau pendinginan cairan hanya dalam satu fasa, penukar panas
dapat digunakan juga untuk memanaskan cairan menguap (atau mendidih) atau
digunakan sebagai kondensor untuk mendinginkan uap dan mengembun ke
cairan. Pada pabrik kimia dan kilang, reboilers digunakan untuk memanaskan umpan
masuk untuk menara distilasi sering penukar panas .
Distilasi set-up biasanya menggunakan kondensor untuk mengkondensasikan uap
distilasi kembali ke dalam cairan.Pembangkit tenaga listrik yang memiliki uap yang
digerakkan turbin biasanya menggunakan penukar panas untuk mendidihkan air
menjadi uap.
Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang sering
disebut boiler atau generator uap. Dalam pembangkit listrik tenaga nuklir yang
disebut reaktor air bertekanan, penukar panas khusus besar yang melewati panas dari
sistem (pabrik reaktor) primer ke sistem (pabrik uap) sekunder, uap memproduksi
dari air dalam proses, disebut generator uap. Semua pembangkit listrik berbahan
bakar fosil dan nuklir menggunakan uap yang digerakkan turbin memiliki kondensor
permukaan untuk mengubah uap gas buang dari turbin ke kondensat (air) untuk
digunakan kembali. Untuk menghemat energi dan kapasitas pendinginan dalam kimia
dan tanaman lainnya, penukar panas regeneratif dapat digunakan untuk mentransfer

22

panas dari satu aliran yang perlu didinginkan ke aliran yang perlu dipanaskan, seperti
pendingin distilat dan pakan reboiler pra-pemanasan.
Istilah ini juga dapat merujuk kepada penukar panas yang mengandung bahan
dalam struktur mereka yang memiliki perubahan fasa. Hal ini biasanya padat ke fase
cair karena perbedaan volume kecil antara negara-negara ini. Perubahan fase efektif
bertindak sebagai buffer karena terjadi pada suhu konstan tetapi masih mungkin
untuk penukar panas untuk menerima panas tambahan. Salah satu contoh di mana ini
telah diteliti untuk digunakan dalam elektronik pesawat daya tinggi.

Gambar 2.41 Phase-change heat exchanger (Zuhrina, 2006)

2.2.3 Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas


Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu :
a.

Counter current flow (aliran berlawanan arah)

b.

Paralel flow/co current flow (aliran searah)

c.

Cross flow (aliran silang)

d.

Cross counter flow (aliran silang berlawanan)

23

2.3 Komponen dari Heat Exchanger Berdasarkan Fungsinya


Pemindahan panas dalam heat exchanger dilakukan dengan mengkontakkan
dua fluida melalui suatu bidang pemanas. Fluida pemanas atau pendingin berada
dalam suatu jaket, didalam pipa atau diluar pipa. Luas bidang pemanas harus cukup
(sesuai persamaan perpindahan panas dan kebutuhan panas). Adapun Alat penukar
panas dikelompokan berdasarkan fungsinya:
1. Chiller,
Adalah alat penukar panas yang digunakan untuk mendinginkan fluida sampai
pada temperature yang rendah. Temperature fluida hasil pendinginan di dalam chiller
yang lebih rendah bila dibandingkan dengan fluida pendinginan yang dilakukan
dengan pendingin air. Untuk chiller ini media pendingin biasanya digunakan amoniak
atau Freon.
2. Kondensor,
Adalah alat penukar panas yang digunakan untuk mendinginkan uap atau campuran
uap, sehingga berubah fasa menjadi cairan. Media pendingin yang dipakai biasanya
air atau udara. Uap atau campuran uap akan melepaskan panas latent kepada
pendingin, misalnya pada pembangkit listrik tenaga uap yang mempergunakan
condensing turbin, maka uap bekas dari turbin akan dimasukkan kedalam
kondensor, lalu diembunkan menjadi kondensat.
3. Cooler,
Adalah alat penukar panas yang digunakan untuk mendinginkan cairan atau gas
dengan mempergunakan air sebagai media pendingin. Disini tidak terjadi perubahan
fasa, dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka pendingin cooler
mempergunakan media pendingin berupa udara dengan bantuan fan (kipas).
4. Evaporator dan Vaporizer,
Adalah alat penukar panas yang digunakan untuk penguapan cairan menjadi uap.
Dimana pada alat ini menjadi proses evaporasi (penguapan) suatu zat dari fasa cair
menjadi uap. Yang dimanfaatkan alat ini adalah panas latent dan zat yang digunakan
adalah air atau refrigerant cair.
5. Reboiler,
Adalah alat penukar panas yang berfungsi mendidihkan kembali (reboil) serta
menguapkan sebagian cairan yang diproses. Adapun media pemanas yang sering
digunakan adalah uap atau zat panas yang sedang diproses itu sendiri.
6. Heat Exchanger,

24

Adalah alat penukar panas yang bertujuan untuk memanfaatkan panas suatu aliran
fluida yang lain. Maka akan terjadi dua fungsi sekaligus, yaitu:

Memanaskan fluida
Mendinginkan fluida yang panas

Suhu yang masuk dan keluar dari kedua jenis fluida diatur sesuai dengan
kebutuhannya.
2.4 Prinsip Kerja Heat Exchanger
Pada dasarnya prinsip kerja dari alat penukar panas yaitu memindahkan panas
dari dua fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara
langsung ataupun tidak langsung.
a.

Secara kontak langsung

panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui permukaan kontak
langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida. Transfer panas yang terjadi
yaitu melalui interfase / penghubung antara kedua fluida. Contoh : aliran steam pada
kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat bercampur), gas-liquid,
dan partikel padat-kombinasi fluida.

b.

Secara kontak tak langsung

Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dan dingin melalui dinding pemisah.
Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.

2.5 Cara Perawatan Umum pada Heat Exchanger

25

Salah satu masalah utama dalam pemeliharaan Heat Exchanger adalah


pengendapan kotoran (fouling) pada permukaan bidang perpindahan panas. Hal ini
menyebabkan peningkatan tahanan panas ( koefisien perpindahan panas mengecil).
Fouling juga menambah tahanan terhadap aliran fluida. Bertambahnya tambahan
memperbesar beda suhu rata-rata (LMTD).
Endapan yang membentuk kerak pada suatu tempat dapat mengakibatkan
pemanasan (meningkatkan suhu) yang berlebihan pada suatu tempat dan dapat
merusak pipa/tube (over heating).
Biasanya Shell And Tube Heat Exchanger dirancang dengan luas bidang
pemanas yang berlebihan dari seharusnya sehingga penurunan koefisien perpindahan
panas tidak langsung mengakibatkan penyimpangan besar kinerja (performance) heat
exchanger tersebut.
Bila fouling telah melewati harga tertentu (kerak semakin tebal), kemampuan
pelat/pipa sudah tidak lagi sebagaimana disyaratkan. Sebelum hal ini terjadi , alat
harus segera dihentikan untuk dibersihkan keraknya.
Kinerja (kemampuan kerja) heat exchanger dapat dievaluasi dengan membuat
neraca panas. Untuk itu dikumpulkan data. Untuk memudahkan penetapan kapan
penghentian harus dilakukan, dapat dilakukan pengamatan perubahan LMTD dan
kehilangan tekanan pada tube (lihat grafik P atau T LMTD terhadap waktu) Heat
Exchanger
Bila P dan / atau LMTD telah mencapai suatu harga tertentu, berarti fouling
sudah cukup banyak dan harus dihentikan untuk dibersihkan.
Tiap heat exchanger punya harga batasnya sendiri-sendiri yang berlainan dan
perlu diamati untuk menetapkan jadwal pembersihan, operasi yang tepat (sesuai
petunjuk yang diberikan) akan memperpanjang selang waktu pembersihan dan umur
heat exchanger.
Saat yang paling menentukan justru pada saat Start Up dan Shut Down,
pada saat ini bisa terjadi kejutan panas (perubahan panas tiba-tiba) dan hantaran

26

hidrolik yang dapat menimbulkan tegangan berlebihan dan tidak seimbang yang
dapat merusak sambungan-sambungan, pipa, packing dan atau timbul kebocoran.
Laju alir dalam sehell yang terlalu besar (berlebihan dari seharusnya) dapat
menimbulkan vibrasi (getaran) yang sangat membahayakan.

27

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan
untuk memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan
bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium
pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa
sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar
perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas
terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct contact).
Jenis-jenis penukar panas antara lain :
a. Double Pipe Heat Exchanger
b. Plate and Frame Heat Exchanger
c. Pipe Coil Heat Exchanger
d. Shell and Tube Heat Exchanger
e. Adiabatic Wheel Heat Exchanger
f. Pillow Plate Heat Exchanger
g. Dynamic Scraped Surface Heat Exchanger
h. Phase-change Heat Exchanger
Dari jenis-jenis Heat Exchanger diatas, komponen-komponen peralatan
tergantung dari jenisnya. Setiap komponen memiliki peranan masing-masing yang
semuanya saling bergantungan yang apabila salah satu tidak berfungsi maka akan
mengganggu kinerja dari peralatan tersebut.
Berdasarkan fungsinya Heat Exchanger dapat dikelompokkan menjadi
beberapa yaitu :
28

1
2
3
4
5
6

Chiller
Cooler
Condensor
Evaporator and Vaporizer
Reboiler
Heat Exchanger

Perawatan Heat Exchanger dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan


kinerja dari peralatan serta untuk menjaga dan merawat agar peralatan dapat bertahan
lebih lama dalam penggunaannya. Perawatan yang dilakukan diantaranya dengan cara
melakukan pemeriksaan secara rutin/ berkala maupun dalam jangka panjang.
Sebelum dilakukan perawatan, biasanya peralatan dilakukan analisa terlebih dahulu
untuk mengetahui bagian-bagian mana saja yang mengalami kerusakan maupun yang
membutuhkan perbaikan. Analisa yang sering dilakukan adalah analisa perpindahan
panas keseluruhan, faktor fouling dan penurunan tekanan pada Heat Exchanger.

3.2 Kritik dan Saran


Kami menyadari bahwa Makalah tentang heat exchanger ini masi jauh dari
kata sempurna. Oleh karenanya saya memohon kepada bapak Ir. Irawan Rusnadi , M.T
selaku dosen pembimbing mata kuliah Pengenalan Pabrik untuk memberikan kritik
dan saran yang bersifat membangun sehingga kami dapat membaiki makalah ini
sehingga menjadi makalah yang lebih baik.

29