Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH ANATOMI FISIOLOGI SISTEM

PERSYARAFAN

Disusun Oleh :
GASPAR GORAN BEDA

1010713059

NADINE ANGGITA K

1610713087

RANGGA MAULANA
SIFA NUR AENI

1610713055

S1 KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA
TAHUN 2016

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sistem syaraf ?
2. Bagaimana penyusun sistem syaraf ?
3. Bagaimana mekanisme jalannya impuls pada sistem syaraf ?
4. Bagaimana mekanisme nyeri ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian sistem syaraf
2. Mengetahui penyusun sistem syaraf
3. Mengetahui mekanisme jalannya impuls pada sistem syaraf
4. Mengetahui mekanisme nyeri

BAB II
PEMBAHASAN

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERSARAFAN

Sistem saraf dibagi menjadi system saraf pusat dan system saraf tepi. Sistem saraf pusat
terdiri dari otak dan medulla spinalis. Sistem saraf tepi terdiri dari neuron aferen dan eferen saraf
somatic dan neuron system saraf otonom.
a. Jaringan saraf
1) Neuroglia
Sel penyokong untuk sel SSP. Terdiri dari empat sel yaitu:
a) Microglia; Mempunyai sifat fagosit; bila ada jaringan saraf yang rusak maka sel ini
bertugas mencerna sisa-sisa jaringan yang rusak
b) Ependima; Berperan dalam produksi CSF. Sel ini merupakan epietl pleksus koroideus
di ventrikel otak
c) Astroglia; Menyediakan nutrisi esensial yang dibutuhkan oleh neuron untuk
mempertahankan potensial bioelektris yang sesuai untuk konduksi impuls dan
transmisi sinaptik
d) Oligodendroglia; Menghasilkan myelin dalam SSP.
2) Sel sechwan
Membentuk myelin maupun neurolema saraf tepi
b. Selubung otak dan medulla spinalis
Jaringan gelatinosa otak dan medulla spinalis dilindungi oleh tulang tengkorak, tulang
belakang, dan tiga lapisan jaringan penyambung yaitu dura mater, arachnoid, dan pia mater.
Medulla spinalis dipertahankan di sepanjang kanalis vertebralis oleh 20-22 pasang
ligamentum dentatum dan dentikulatum
c. Suplai darah otak dan medulla spinalis
1) Suplai darah dari arteri karotis

Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari atreri karotis komunis kira-kira
setinggi tulang rawan tiroidea. Arteri karotis komunis kiri langsung bercabang dari arkus
aorta, sedangkan arteri karotis komunis kanan berasal dari arteria brachiosefalika. Arteri
arotis eksterna memperdarahi wajah, tiroid, lidah dan faring. Cabang arteri karotis
eksterna yaitu arteri meningea media memperdarahi struktur dalam wajah dan
mengirimkan cabang besar ke dura mater. Arteri karotis interna masuk ke tengkorak
setinggi kiasma optikum menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri serebri anterior
memberi suplai darah pada struktur nucleus kaudatus, putamen basal ganglia, kapsula
interna dan korpus kalosum, bagian lobus frontal dan parietal termasuk korteks
somestetik dan korteks motorik. Bila terjadi penyumbatan maka akan terjadi hemiplegic
kontralateral, paralisis bilateral dan gangguan sensorik juga dapat timbul bila terjadi
sumbatan total kedua arteri serebri anterior
Arteri serebri media mensuplai darah pada bagian lobus temporalis, parietalis, dan
frontalis korteks serebri dan membentuk penyebaran pada bagian lateral. Memperdarahi
girus presentralis dan postsentralis, korteks auditorius, somestetik, motorik dan
pramotorik. Apabila tersumbat menyebabkan afasia berat yang terkena hemisfer serebri
dominan bahasa
2) Suplai darah dari arteria vertebrobasilaris
Berasal dari arteri subklavia kanan dan kiri. Kedua arteri memasuki tengkorak
melalui foramen magnum setinggi perbatasan pons dan medulla oblongata. Kedua arteri
bersatu membentuk arteri basilaris. Arteri basilaris setinggi otak tengah bercabang
membentuk sepasang arteri serebri posterior. System vertebrobasilaris memperdarahi
medulla oblongata, pons, serebelum, otak tengah, sebagian diensefalon. Arteri serebri
posterior memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipital, temporal,
apparatus kokhlearis dan organ vestibular. Korteks penglihatan primer pada lobus
parietalis diperdarahi oleh arteri kalkarina cabang arteri serebri posterior. Bila tersumbat
menyebabkan hemianopsia homonym kontralateral
3) Sirkulus arteriosus willisi
Adanya anastomosis pembuluh darah yang menyatukan arteria terpisah yang
mengalirkan darah ke otak. Arteri serebri posterior dihubungkan dengan arteri serebri

media lewat arteri komunikans posterior, kedua arteri serebri anterior dihubungkan oleh
arteri komunikans anterior.

d. Drainase vena otak

Sebagian besar drainase vena serebrum adalah melalui vena dalam, yang mengalirkan
darah ke sinus-sinus dura. Akhirnya, sinus-sinus ini mengalirkan darah ke vena jugularis
interna pada dasar tengkorak dan bersatu dengan sirkulasi umum. Sinus-sinus dura terdiri
dari sinus sagitalis superior dan inferior, sinus sigmoideus, tranversus, sinus rektus, dan sinus
kavernosus
e. Ventrikel dan cairan serebrospinal

Pada setiap hemisfer serebri terdapat satu ventrikel lateral. Ventrikel ketiga terdapat
dalam diensefalon, sedangkan ventrikel keempat terdapat dalam pons dan medulla oblongata.
Ventrikel lateral mempunyai hubungan dnegan ventrikel ketiga melalui sepasang foramen
interventrikularis monro. Ventrikel ketiga dan keempat dihubungkan melalui suatu saluran
sempit di otak tengah yaitu aqueduktus sylvius. Pada ventrikel keempat terdapat tiga lubang;
sepasang foramen luschka di lateral dan satu foramen magendie di medial, yang berlanjut ke
ruang subarachnoid otak dan medulla spinalis
Dalam setiap ventrikel terdapat struktur sekresi yaitu pleksus koroideus berupa
jalinan pembuluh darah pia mater yang mempunyai hubungan langsung dengan ependima.
CSF jernih, tak berwarna, terdiri dari air, elektrolit, gas oksigen dan karbondioksida yang
terlarut, glukosa, beberapa leukosit (limfosit), dan sedikit protein. Sebagian besar CSF di
reabsorpsi ke dalam darah melalui vili arachnoidalis (granulasio arachnoidalis), yang
menonjol dari ruang subarachnoid ke sinus sagitalis superior otak. Volume CSF sekitar 125
ml, dengan kecepatan sekresi pleksus koroidalis sekitar 500-750 ml/hari, tekanan CSF sekitar
130 mmH2O (13 mmHg)
f. Otak
1) Batang otak

Terdiri dari medulla oblongata, pons, dan mesensefalon. Medulla oblongata


merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin,
batuk, menelan, pengeluaran air liur dan muntah. Pons sebagai penghubung jaras
kortikoserebelaris yang menyatukan hemisfer serebri dengan serebelum. Bagian bawah
pons berperan sebagai pengaturan pernafasan. Juga terdapat nucleus saraf cranial V
(trigeminus), VI (abdusen), dan VII (fasialis) terdapat disini. Mesensefalon (otak tengah)
terdiri dari bagian posterior (kolikuli superior dan kolikuli inferior) dan anterior
(pedunkulus serebri). Kolikuli superior berperan dalam refleks penglihatan dan
koordinasi gerakan penglihatan. Kolikuli inferior berperan dalam refleks pendengaran.
Pedunkulus serebri merupakan bagian dari jaras ekstrapiramidal atau jaras impuls
motorik involuntar
2) Serebelum
Terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang
menyerupai atap tenda yaitu tentorium. Serebelum terdiri dari bagian tengah, vermis, dan
dua hemisfer lateral. Serebelum dihubungkan dengan batang otak oleh tiga berkas serabut
yaitu pedunkulus (superior, media, dan inferior). Fungsi utamanya sebagai pusat refleks
yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan
kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh
3) Diensefalon
Terdiri dari empat yaitu: thalamus, subtalamus, epitalamus, dan hipotalamus.
Thalamus berfungsi sebagai pusat semsorik, integrasi ekspresi motorik karena hubungan
fungsinya terhadap pusat motorik utama dalam korteks serebri, serebelum dan ganglia
basalis. Hipotalamus berfungsi dalam pengaturan cairan tubuh dan susunan elektrolit,
suhu tubuh, fungsi endokrin dari tingkah laku seksual dan reproduksi normal, ekspresi
ketenangan dan kemarahan serta lapar dan haus

Lesi pada subtalamus dapat

menimbulkan diskinesia dramatis (hemibalismus), ditandai oleh gerakan kaki atau tangan
yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Sedangkan epitalamus berhubungan dengan
system limbic dan berperan pada beberapa dorongan emosi dasar dan integrasi informasi
olfaktorius
4) System limbic

Terdiri dari struktur kortikal (girus singuli, giru hipokampus dan hipokampus) dan
subkortikal (amigdala, traktus dan bulbus olfaktorius, septum). Berfungsi berkaitan
dengan pengalaman ekspresi alam perasaan dan emosi, terutama reaksi takut, marah dan
emosi yang berhubungan dengan perilaku seksual

5) Serebrum
Serebrum terdiri dari 2 hemisfer dan 4 lobus. Substansi grisea terdapat pada bagian
luar dinding serebrum dan substansia alba menutupi dinding serebrum bagian dalam.
Pada prinsipnya sebagian besar hemisfer serebri (telensefalon) berisi jaringan sistem saraf
pusat ( SSP ). Area inilah yang mengontrol fungsi motorik tertinggi, yaitu terhadap fungsi
individu dan intelegensi.
a) Frontal
Lobus terbesar, terletak pada fossa onterior. Area ini mengontrol perilaku individu,
membuat keputusan, kepribadian dan menahan diri
b) Parietal
Lobus sensori: area ini menginterprestasikan sensasi sensasi rasa yang tidak
berpengaruh adalah bau. Lobus parietal membantu individu mengetahui posisi dan
letak bagian tubuhnya kerusakan pada daerah ini menyebabkan sindrom hemineglect
c) Temporal
Berfungsi mengintegrasikan sensasi kecap, bau dan pendengaran. Ingatan jangka
pendek sangat berhubungan dengan daerah ini
d) Oksipital
Terletak pada lobus posterior hemisfer serebri. Bagian ini bertanggung jawab
menginterprestasikan penglihatan
6) Saraf cranial
Saraf cranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan tengkorang melalui
lubang pada tulang yaitu foramina. Terdapat 12 pasang saraf cranial yaitu:
a) Nervus I (Olfaktorius) komponennya sensorik, fungsinya berperan dalam penciuman
b) Nervus II (Optikus) komponennya sensorik, fungsinya berperan dalam penglihatan
c) Nervus III (Okulomotorius) komponennya motorik, fungsinya berperan dalam

mengangkat kelopak mata atas, konstriksi pupil, dan sebagian besar gerak okuler
d) Nervus IV (Trochlear) komponennya motorik), fungsinya gerakan mata ke bawah dan
ke dalam
e) Nervus V (Trigeminus) komponennya motorik dan sensorik. Motorik berperan dalam
otot temporalis dan maseter (menutup rahang dan mengunyah); gerakan rahang ke
lateral, sedangkan cabang sensorik berperan dalam kulit wajah; dua pertiga depan
kulit kepala,; mukosa mata; mukosa hidung dan rongga mulut, lidah dan gigi
f) Nervus VI (Abdusen) komponennya motorik. Fungsinya berperan dalam deviasi mata
ke depan
g) Nervus VII (Fasialis) komponennya motorik dan sensorik. Motorik berperan dalam
otot-otot ekspresi wajah termasuk otot dahi, sekeliling mata serta mulut serta
lakrimasi dan salviasi. Bagian sensorik berperan dalam pengecapan dua pertiga
bagian depan lidah (rasa manis, asam, asin)
h) Nervus VIII (Vestibulokokhlearis) komponennya

sensorik. Berperan dalam

keseimbangan dan pendengaran


i) Nervus IX (Glosofaringeus) komponennya motorik dan sensorik. Motorik pada
faring: menelan, refleks muntah; parotis: salvias. Sedangkan sensorik berperan pada
faring: lidah posterior termasuk rasa sakit
j) Nervus X (Vagus) komponennya motorik dan sensorik. Motorik berperan pada faring,
laring: menelan, refleks muntah, fonasi: visera abdomen. Sensorik berperan pada
faring, laring: refleks muntah visera leher, toraks dan abdomen
k) Nervus

XI

(Assesorius)

komponennya

motorik.

Berperan

pada

otot

sternokleidomastoideus dan bagian atas dari otot trapezius: pergerakan kepala dan
bahu
l) Nervus XII (Hipoglosus) komponennya motorik. Berperan pada pergerakan lidah
7) Saraf spinal
Saraf-saraf spinal pada manusia berukuran panjang sekitar 45 cm dan lebar 14 mm.
Medulla spinalis terdiri atas 31 pasang segmen jaringan saraf dan masing-masing
memiliki sepasang saraf spinal yang keluar dari kanalis vertebralis melalui voramina
intervertebralis. Saraf spinal diberi nama sesuai dengan voramina intervertebralis tempat

keluarnya saraf-saraf tersebut, kecuali saraf servikal pertama yang keluar di antara tulang
oksipital dan vertebra servikal I. Dengan demikian, terdapat 8 pasang saraf servikal
(hanya 7 vertebra servikalis), 12 pasang saraf torakalis, 5 pasang saraf lumbalis, 5 pasang
saraf sakralis, dan 1 pasang saraf koksigeal.

8) Medulla spinalis
Medulla spinalis mengendalikan berbagai aktivitas refleks dalam tubuh, sebagai
pusat refleks spinal dan juga sebagai jaras konduksi impuls dari atau ke otak. Bagian ini
mentransmisi impuls ke dan dari otak melalui traktus asenden dan desenden. Medulla
spinalis berbentuk silinder berongga dan agak pipih.

Walaupun diameter medulla

spinalis bervariasi, diameter struktur ini biasanya sekitar ukuran jari kelingking. Panjang
rata-rata 42 cm. Dua pembesaran, pembesaran lumbal dan serviks menandai sisi keluar
saraf spinal besar yang mensuplai lengan dan tungkai. Tiga puluh satu pasang (31) saraf
spinal keluar dari area urutan korda melalui foramina intervertebral
Medulla spinalis terdiri dari sebuah inti substansi abu-abu yang diselubungi
substansi putih. Kanal sentral berukuran kecil dikelilingi oleh substansi abu-abu
bentuknya seperti huruf H. Batang atas dan bawah huruf H disebut tanduk atau kolumna
dan mengandung badan sel, dendrit asosiasi dan neuron eferen serta akson tidak
termielinisasi. Tanduk dorsal adalah batang vertical atas substansi abu-abu. Tanduk
ventral adalah batang vertical bawah. Tanduk lateral adalah protrusi di antara tanduk
posterior dan anterior pada area toraks dan lumbal sistem saraf perifer. Komisura abu-abu
menghubungkan substansi abu-abu di sisi kiri dan kanan medulla spinalis. Setiap saraf
spinal memiliki satu radiks dorsal dan satu radiks ventral
Substansi putih korda yang terdiri dari akson termielinisasi, dibagi menjadi
funikulus anterior, posterior dan lateral. Dalam funikulus terdapat fasiukulu atau traktus.
Traktus diberi nama sesuai dengan lokasi, asal dan tujuannya.

DAFTAR PUSTAKA
Black, Joice. M., & Hawk, Jane. H. (2009). Medical Surgical Nursing; clinical management for
positive outcomes. 7th Edition. St. Louis : Elsevier. Inc
Price, S. A & Wilson, L. Patifisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit; alih bahasa, Brahm
U. Pendit..[et. al]. Edisi 6. Jakarta: ECG.