Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

LANDASAN DAN ASAS PENDIDIKAN

Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak


dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan
dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama
terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa
landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural,
yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan.
Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk
menjemput masa depan. Sedangkan asas yang akan dikaji adalah asas Tut Wuri
Handayani, belajar sepanjang hayat, kemandirian dalam belajar.

A. LANDASAN PENDIDIKAN

Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus tak


terputus dari generasi ke generasi di mana pun di dunia ini. Upaya memanusiakan
manusia melalui pendidikan itu diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup
dan dalam latar sosial-kebudayaan setiap masyarakat tertentu. Oleh karena itu,
meskipun pendidikan itu universal, namun terjadi perbedaan-perbedaan tertentu
sesuai dengan pandangan hidup dan latar sosiokultural tersebut. Dengan kata lain,
pendidikan diselenggarakan berlandaskan filsafat hidup serta berlandaskan
sosiokultural setiap masyarakat, termasuk di Indonesia.
1. Landasan Filososfis
a. Pengertian Landasan Filosofis
Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat
pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang
sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik
dijalankan.
Selanjutnya perlu dikemukakan secara ringkas empat aliran filsafat atau
mazhab filsafat pendidikan yang besar pengaruhnya dalam pemikiran dan
penyelenggaraan pendidikan. Keempat mazhab filsafat pendidikan itu
(Mudyahardjo, Rasyidini, & Soegiyanto, 1992) (Ardhana, 1986) adalah:
1) Esensialisme
Esensialisme adalah mashab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip
idealisme dan realisme secara eklektis. Esensialisme adalah suatu konsepsi
bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur dunia
beserta isinya dengan tiada cela pula, ini berarti bagaimanapun bentuk, sifat,
kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata tersebut.
Dibawah ini adalah uraian mengenai penjabarannya menurut realisme dan
idealisme.
a. Realisme yang mendukung esensialisme disebut realisme obyektif karena
mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tempat manusia
didalamnya. Terutama sekali ada dua golongan ilmu pengetahuan yang
mempengaruhi realisme ini.
b. Idealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis
dibandingkan dengan realisme obyektif. Yang dimaksud dengan ini adalah
bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan
meliputi segala sesuatu. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam
semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit, idealisme menetapkan
suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini nyata. Ajaran-ajaran Hegel
memperjelas pandangan tersebut diatas.
Pandangan mengenai pendidikan yang diutarakan disini bersifat umum,
simplikatif dan selektif, dengan maksud agar semata-mata dpat memberikan
gambaran mengenai bagian-bagian utama dari esensialisme. Disamping itu
karena tidak setiap filsuf idealis dan realis mempunyai faham esensialistis
yang sistematis, maka uraian ini bersifat eklektik.
2) Perenialisme
Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran
konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan
universal.
Latar Belakang Munculnya Aliran Perenialisme

Teori kependidikan kalangan perenialis mencuat sebagai sebuah pemikiran


formal (resmi) pada dekade 1930-an sebagai bentuk reaksi terhadap kalangan
progresif. Perenialisme modern secara umum menampilkan sebuah penolakan
besar-besaran terhadap cara pandang progresif. Bagi kalangan perenealis,
permanensi (keajegan), meskipun pergolakan-pergolakan politik dan sosial
yang sangat menonjol, adalah lebih riil (nyata) dari pada konsep perubahan
kalangan pragmatis. Dengan demikian kalangan perenialis mempelopori
gerakan kembali pada hal-hal absolut dan memfokuskan pada ide-gagasan
yang luhur (menyejarah dari budaya manusia), ide-gagasan ini telah terbukti
keabsahan dan kegunaannya karena mampu bertahan dari ujian waktu.
Perenialisme menekankan arti penting akal budi, nalar, dan karya-karya besar
pemikir masa lalu.
Oleh karena itu perenialisme memandang pendidikan adalah sebagai jalan
kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti
dalam kebudayaan ideal dimaksud, education as cultural regression.
Perenialisme tak melihat jalan yang meyakinkan selain kembali kepada
prinsip-prinsip yang telah sedemikian membentuk sikap kebiasaan, bahkan
kepribadian manusia selain kebudayaan dulu dan kebudayaan abad
pertengahan.
3) Pragmatisme dan Progresifme
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari
nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan
progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar
adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan
melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.
Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting
melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individuindividu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang
ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta
individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa
adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul
di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta
umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan.
Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik,
sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.
Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada
tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa
kini mungkin tidak benar pada masa mendatang. Pendidikan harus terpusat
pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa
tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley, Ernest
Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.
4) Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang


menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan
masyarakat.
Rekonstruksionisme berasal dari bahasa inggris yang berarti menyusun
kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme
adalahsuatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan
membangun tata susunanhidup kebudayaan yang bercorak modern
Pada dasarnya aliran rekonstruksionisme sepaham dengan aliran
perenialismebahwa ada kebutuhan anam mendesak untuk kejelasan dan
kepastian bagi kebudayaanzaman modern sekarang (hendak menyatakan
krisis kebudayaan modern), yang sekarang mengalami ketakutan,
kebimbangan dan kebingungan. Tetapi aliran rekonstruksionisme tidak
sependapat dengan cara dan jalan pemencahan yang ditempuh filsafat
perenialisme. Aliran perenialisem memilih jalan kembali ke alam kebudayaan
abad pertengahan. Sementara itu aliran rekonstruksionisme berusaha
membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang
tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia. Untuk mencapai tujuan
tersebut, rekonstruksionisme berusaha mencari kepepakatan semua orang
mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam
suatu tatanan baru seluruh lingkungannya, maka melalui lembagai dan proses
pendidikan. Rekonstruksionisme ingin merombak tata susunan lama dan
membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamat dunia
merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Oleh karena itu
pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina
kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang
benar demi generasi sekarang dan enerasi yang akan datang sehingga
terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Aliran ini memiliki
persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur,
diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasasi oleh
golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teoritetapi
mesti menjadi kenyataan sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan
potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan,
kesejahteraan dankemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa
membedakan warna kulit, keturuanan,nasionalisme, agama (kepercayaan) dan
masyarakat bersangkutan.
b. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional
Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional
berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No.
II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh
rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa
Indonesia, dan dasar negara Indonesia.
2. Landasan Sosiologis
a. Pengertian Landasan Sosiologis

Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan


karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang
proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang
lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang:
1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
2. Hubungan kemanusiaan.
3. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
4. Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah
dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.
b. Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan
Nasional
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah
mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar,
mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek.
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan
pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal
menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur
sekolah (umpamanya) dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan
muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4,
pemasyarakatan P4 nonpenataran).
3. Landasan Kultural
a. Pengertian Landasan Kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab
kebudayaan dapat dilestarikan atau dikembangkan dengan jalur mewariskan
kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik
secara formal maupun informal.
Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang
sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nilainilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha
menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang
lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah
lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.
b. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional
Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu
melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat
dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan
kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan.
4. Landasan Psikologis
a. Pengertian Landasan Filosofis
Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan
perkembangan anak. Pemahaman terhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan
dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh
karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya
dalam bidang pendidikan.
Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama
kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan

kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang


akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar
yang digariskan.
b. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar
untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang
tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.
5. Landasan Ilmiah dan Teknologis
a. Pengertian Landasan IPTEK
Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga
pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke
dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses
penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam
bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam
pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan
calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan
fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.
b. Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai
kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia.
Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu
mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya
hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan
informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat.

B. ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN


Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau
tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan.
Khusus untuk pendidikan di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang
memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Asas-asas
tersebut bersumber baik dari kecenderungan umum pendidikan di dunia maupun
yang bersumber dari pemikiran dan pengalaman sepanjang sejarah upaya
pendidikan di Indonesia.
1. Asas Tut Wuri Handayani
Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem
Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini
kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan
dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun
Karso.
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)
Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan
semangat)
Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)
2. Asas Belajar Sepanjang Hayat

Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut


pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education).
Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan
dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan
antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di
masa depan.
Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
Pendidikan sepanjang hayat memungkinkan tiap warga negara Indonesia:
(1) mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri dan kemandirian
sepanjang hidupnya;
(2) mendapat kesempatan untuk memanfaatkan layanan lembaga-lembaga
pendidikan yang ada di masyarakat. Lembaga pendidikan yang ditawarkan
dapat bersifat formal, informal, non formal;
(3) mendapat kesempatan mengikuti program-program pendidikan sesuai bakat,
minat, dan kemampuan dalam rangka pengembasngan pribadi secara utuh
menuju profil Manusia Indonesia Seutuhnya (MIS) berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945; dan
(4) mendpaat kesempatan mengembangkan diri melalui proses pendidikan jalur,
jenjang, dan jenis pendidikan tertentu sebagaimana tersurat dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989.
3. Asas Kemandirian dalam Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan
kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun
guru selalu siap untuk ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru
dalam peran utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang
memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah
sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).
Keadaan yang Ditemui Sekarang
Dalam kaitan asas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa
keadaan yang ditemui sekarang: (1) usaha pemerintah memperluas kesempatan
belajar telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta
didik dari tahun ke tahun yang dapat ditampung baik dalam lembaga pendidikan
formal, non formal, dan informal; berbagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang
pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi, (2) usaha pemerintah dalam
pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga kependidikan pada semua jalur, jenis,
dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan tugsnya secara proporsional. Dan
pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pendidikan di seluruh tanah air.
Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik didalam negeri maupun diluar
negeri , (3) usaha pembaharuan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan isi
pendidikan agar mampu memenuhi tantangan pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya yang berkualitas melalui pendidikan, (4) usaha pengadaan dan
pengembangan sarana dan prasarana yang semakin meningkat: ruang belajar,
perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana pelatihan dan ketrampilan,

sarana pendidikan jasmani, (5) pengadaan buku ajar yang diperuntukan bagi
berbagai program pendidikan masyarakat yang bertujuan untuk: (a) meningkatkan
sumber penghasilan keluarga secara layak dan hidup bermasyarakat secara
berbudaya melalui berbagai cara belajar, (b) menunjang tercapainya tujuan
pendidikan manusia seutuhnya, (7) usaha pengadaan berbagai program pembinaan
generasi muda: kepemimpinan dan ketrampilan, kesegaran jasmani dan daya
kreasi, sikap patriotisme dan idealisme, kesadaran berbangsa dan bernegara,
kepribadian dan budi luhur, (8) usaha pengadaan berbagai program pembinaan
keolahragaan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada
anggota masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatanolahraga untuk
meningkatkan kesehatan dan kebugaran serta prestasi di bidang olahraga, (9)
usaha pengadaan berbagai program peningkatan peran wanita dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan keluarga sehat, sejahtera
dan bahagia; peningkatan ilmu pngetahuan dan teknologi, ketrampilan serta
ketahanan mental.
Dalam kaitan penerapan asas Tut Wuri Handayani, dapat dikemukakan
beberapa keadaan yang ditemui sekarang, yakni (1) peserta didik mendapat
kebebasan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan yang diminatinya di sema
jenis, jalur, dan jenjang pendidikan yang disediakan oleh pemerintah sesuai peran
dan profesinya dalam masyarakat. Peserta didik bertanggung jawab atas
pendidikannya sendiri, (2) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih
pendidikan kejuruan yang diminatinya agar dapat mempersiapkan diri untuk
memasuki lapangan kerja bidang tertentu yang diinginkannya, (3) peserta didik
memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk memasuki
program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama belajarnya, (4)
peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik atau mental memperoleh
kesempatan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan cacat yang
disandang agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang mandiri, (5) peserta didik
di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan
ketrampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang memiliki kemampuan
dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri, yang beragam dari potensi
dibawah normal sampai jauh diatas normal (Jurnal Pendidikan,1989).

DAFTAR PUSTAKA

Ardhana, W. (1986). Dasar-Dasar Kependidikan. Bandung: FIP-IKIP Malang.

Mudyahardjo, R., Rasyidini, W., & Soegiyanto, S. (1992). Pokok Dasar-Dasar


Kependidikan. Jakarta: P2TK-PT Depdikbud.
Tirtarahardja, U., & La Sulo, S. L. (2005). Pengantar Pendidikan (Revisi ed.).
Jakarta: Rineka Cipta.