Anda di halaman 1dari 86

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bendungan adalah suatu bangunan air yang dibangun khusus untuk
membendung (menahan) aliran air yang berfungsi untuk memindahkan aliran
air atau menampung sementara dalam jumlah tertentu kapasitas/volume air
dengan menggunakan struktur timbunan tanah homogen (Earthfill Dam),
timbunan batu dengan lapisan kedap air (Rockfill Dam), konstruksi beton
(Concrete Dam) atau berbagai tipe konstruksi lainnya (Soedibyo, 2003) Namun
selama ini orang-orang mengabaikan kondisi tanah maupun batuan tempat
bangunan didirikan, sehingga dikemudian hari dalam proses pemeliharaan
pasca pembangunannya ditemukan berbagai masalah. Salah satu masalah yang
sering muncul yaitu adanya retakan dan rekahan pada bangunan, khususnya
bangunan bendung yang dapat menyebabkan kebocoran. Kebocoran banyak
terjadi bukan pada bangunan bendung melainkan dari bawah permukaan
bendung (main dam), sehingga air pada daerah penampungan akan meresap ke
dalam tanah dan migrasi melalu permeabilitas batuan, oleh karena itu
permeabilitas dan rekahan di bawah permukaan ini harus ditutup. Salah satu
solusi untuk menutup permeabilitas ini adalah dengan menggunakan metode
grouting.
Grouting merupakan metode perbaikan tanah, batuan, beton, dan struktur
bangunan dengan cara menyuntikan slurry material dengan tekanan tertentu
untuk mengisi rekahan pada batuan, tanah, beton, struktur bangunan dan
material sejenis yang berfungsi untuk memadatkan dan memperbaiki kerusakan
(Warner, 2004). Terdapat beberapa macam metode grouting yang digunakan
pada setiap jenis permasalahan yang berbeda pula. Seperti halnya pada daerah
dengan jenis tanah yang mudah ambles, maka grouting yang digunakan harus
bertahap dari atas ke bawah, lain halnya ketika batuannya cukup masif namun

memiliki banyak rekahan sangat dianjurkan untuk melakukan injeksi dari


bawah ke atas.
Berdasarkan dasar/subjek keilmuan yang penulis pelajari, peran geologi
memiliki posisi yang sentral dalam pembangunan infrastuktur seperti
bendungan yaitu untuk mengetahui kondisi geologi dan memberikan solusi
untuk menangani permasalahan yang akan muncul seperti kebocoran dan
kerusakan pada bangunan bendung. Maka Program Studi Teknik Geologi
Universitas Diponegoro mewajibkan Kerja Praktik sebagai mata kuliah yang
wajib diikuti oleh mahasiswa Teknik Geologi Universitas Diponegoro. Kerja
praktik ini diharapkan sebagai media bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu
yang didapatkan di Perguruan Tinggi ke perusahaan profesional. Berkenaan
dengan hal tersebut, penulis selaku mahasiswa Program Studi Teknik Geologi
Universitas Diponegoro melaksanakan kerja praktik di CV. Tirta Pertiwi.
1.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud
Maksud dari penulisan karya ilmiah ini adalah melakukan prosedur
pengambilan data penyelidikan pemboran geoteknik hingga dilakukan grouting
pada Bendungan Logung.
1.2.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah:
1. Untuk mengetahui peran seorang ahli geologi di dunia konstruksi
bendungan.
2. Untuk mengetahui kondisi dunia kerja khususnya di bidang
geoteknik
3. Untuk mengetahui langkah-langkah dalam menginterpretasi kondisi
bawah permukaan dalam konstruksi Bendungan Logung.
4. Untuk mengetahui litologi, nilai permeabilitas dan hubungannya
dengan kebutuhan grouting pada Bendungan Logung.
1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kerja Praktik ini berlangsung selama satu bulan, dimulai pada tanggal 15
Oktober 2015 hingga 28 November 2015 yang dilaksanakan di CV. Tirta

Pertiwi, Bendungan Logung, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo,


Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia (gambar 1.1). Rincian kegiatan
kerja praktik berupa orientasi perusahaan, studi pustaka, pengambilan dan
pengolahan data (tabel 1.1).

Lokasi Pekerjaan
Bendungan Logung

Gambar 1.1 Peta Lokasi penelitian wilayah Sungai Logung, Kudus


Tabel 1.1 waktu pelaksanaan dan rincian kegiatan kerja praktik.
No
1
2
3
4
5

Rincian Kegiatan

Minggu

Waktu Pelaksanaan
Minggu Minggu Minggu-

-1

-2

-3

Orientasi Perusahaan
Studi Literatur
Deskripsi Core batuan
Uji Permeabilitas dan Grouting
Pembuatan laporan

1.4 Batasan Masalah


Dalam kegiatan kerja praktik ini permasalahan dibatasi seputar aktivitas
menjadi seorang ahli geologi di bidang penyelidikan geoteknik kondisi bawah
permukaan untuk mencegah kebocoran dengan melakukan grouting pada
Bendungan Logung.
3

1.5 Sistematika Penulisan


Penjelasan mengenai sistematika penulisan laporan Kerja Praktik adalah
sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini tersusun tentang latar belakang, maksud dan tujuan, ruang
lingkup berupa lokasi dan waktu pelaksanaan kerja praktik, batasan
masalah, dan sistematika penulisan.
BAB II KONDISI LINGKUNGAN KERJA PRAKTIK
Bab ini tersusun tentang kondisi daerah dilakukannya kerja praktik
meliputi lokasi pelaksanaan, kondisi geologi, dan profil perusahaan lokasi
kerja praktik.
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini tersusun mengenai dasar teori mengenai pemboran geoteknik, uji
permeabilitas batuan, grouting, dan desain bendungan.
BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTIK
Pada bab ini dijelaskan mengenai mekanisme pelaksanaan pekerjaan kerja
praktik yang meliputi pekerjaan yang dilakukan,dan hasil/output dari
pelaksanaan kerja praktik yang dilakukan.
BAB V KESIMPULAN
Bab ini merupakan ringkasan atau intisari dari pelaksanaan kerja praktik
yang dilakukan.

BAB II
KONDISI LINGKUNGAN KERJA PRAKTIK
2.1 Lokasi Pelaksanaan Kerja Praktik
Lokasi pelaksanaan kerja praktik mahasiswa berada pada wilayah proyek
pembangunan Bendungan Logung, Kabupaten Kudus. Wilayah administrasi lebih
rinci daerah kerja praktik sebagai berikut :
-

Dukuh : Slalang
Kelurahan : Tanjungrejo
Kecamatan : Jekulo
Kabupaten : Kudus
Provinsi : Jawa Tengah

2.2 Hidrologi dan Meteorologi Regional Daerah Kerja Praktik


a. Daerah Tangkapan Air Penentuan Daerah Tangkapan Air (DTA) dilakukan
berdasar pada peta topografi Lembar Gembong dan Jekulo skala 1 : 25.000
(Peta Rupabumi Digital Indonesia, Bakosurtanal, Edisi: Th. 2000).
b. Hidrologi Stasiun hujan yang terdapat di DTA Bendungan Logung yaitu
stasiun hujan Rahtawu di kecamatan Gebog, Tanjungrejo di kecamatan
Jekulo dan Gembong di kecamatan Gembong yang letaknya berdekatan.
Besarnya pengaruh tiap stasiun terhadap DPS Logung digunakan Metode
Poligon Thiessen.
c. Meteorologi Iklim daerah kerja praktik (Tabel 2.1) rata-rata sama dengan
keadaan di Indonesia terbagi dalam dua musim, yaitu musim hujan dan
kemarau dalam periode satu tahun. Data meteorologi meliputi temperatur
udara, data penyinaran, kecepatan angin dan kelembaban udara.
2.3 Kondisi Topografi Regional Daerah Kerja Praktik
Keadaan topografi daerah rencana Bendungan Logung berupa perbukitan
dengan batas lembah berbentuk V dengan lebar dasar sekitar 50 m dan kemiringan
tebing kiri sekitar 45-70 bagian kanan 30-50. Pada rencana lokasi bendungan
elevasi dasar sungainya adalah +43,00 dan elevasi punggung bukit kiri +115,00
dan punggung bukit kiri +110,00. Bentuk topografi rencana daerah genangan

berupa tampungan yang memanjang dan menyempit ke hulu, tidak memiliki


daerah kantong yang melebar.
Tabel 2.1. Tabel Data Meteorologi (BPS Kab. Kudus, 2002)

No
1
2
3
4

Data Meteorologi
Temperatur udara rata-rata
Penyinaran
Kecepatan angin
Kelembaban udara

Rata-rata
23,61 C
56,12 %
0,39 m/dt
79,57%

2.4 Kondisi Geologi Regional


Lokasi proyek Bendungan Logung terletak pada bagian Pulau Jawa yang
relatif stabil. Daerah ini secara fisiografis termasuk dalam Lajur Muria-Lasem,
yaitu pada kerucut Gunung Muria yang berumur Kuarter (Bemmelen, 1949). Pada
kaki tenggara Gunung Muria, tersingkap perbukitan Patiayam yang berumur lebih
tua. Batuan penyusun komplek kerucut Gunung Muria terdiri dari tiga Formasi,
yaitu: Batuan Gunung Genuk (lava, breksi gunungapi dan tuf), Lava Muria (lava
basal atau andesit, leusit, tefrit, leusitit, trakhit dan sienit) dan Tuf Muria (tuf,
lahar dan tuf pasiran).
Perbukitan Patiayam tersusun oleh Formasi Patiayam yang berumur
Pliosen, terdiri dari perselingan batupasir tufan dan konglomerat tufan dengan
sisipan batulempung, batugamping dan breksi. Struktur geologi terdiri dari
kelurusan dan kubah. Kelurusan yang dijumpai di daerah Gunung Genuk dan
Gunung Muria menunjukkan berbagai arah yang tak teratur.
Daerah pengaliran Kali Logung terletak di lereng tenggara Gunung Muria,
berbentuk

memanjang

arah

utara-selatan,

mulai

dari

puncak

Gunung

Argojembangan (1410 m) sampai ke Dusun Slalang, di kaki perbukitan Gunung


Patiayam (350 m). Batuan penyusun Daerah Pengaliran Sungai Logung tersusun
oleh empat satuan, yaitu: Formasi Patiayam (batupasir, konglomerat dan breksi,
bersisipan batulempung), Lava Muria (lava basalt dan andesit), Tuf Muria (tuf,
lahar dan tuf pasiran), dan endapan Aluvial (kerakal pariran dan pasir lempungan)
seperti pada gambar 2.1.

PETA GEOLOGI
REGIONAL WILAYAH
BENDUNG LOGUNG,
KUDUS,
JAWA TENGAH
TANPA SKALA

Legenda :

Gambar 2.1 Peta Geologi regional daerah penelitian tanpa skala (Suwarti,
1992)
2.5 Kondisi Tata Guna Lahan
Kabupaten Kudus mempunyai luas 42.516 ha, terdiri dari 21.704 Ha
(51,04 %) merupakan lahan sawah dan 20.812 Ha (48,96%) adalah bukan lahan
sawah. Jika dilihat menurut penggunaannya, Kabupaten Kudus terdiri atas lahan
sawah dengan pengairan teknis seluas 4.203 Ha (9,88 %) dan sisanya
berpengairan teknis, sederhana, tadah hujan dan lainnya. Sedangkan bukan
lahan sawah yang digunakan untuk bangunan dan halaman sekitar seluas 9.983 Ha
(23,48 %) dari luas Kabupaten Kudus. (Tabel 2.2).
Tabel 2.2. Tabel Luas Penggunaan Lahan di Kabupaten Kudus Tahun 2002 (BPS
Kab. Kudus, 2002)

No
1

Jenis Penggunaan Tanah


Pengairan Teknis

Luas (ha)
4.251,6

2
3
4
5
6

Pengairan Teknis
Bangunan
Hutan
Tegalan/Huma
Lainnya
Jumlah

5.952
9.778,68
2.976,12
6.337,4
13.179,96
42.516

2.6 Kondisi Umum Sosial Ekonomi


Jumlah penduduk Kabupaten Kudus pada tahun 2002 tercatat sebesar
719.193 jiwa, terdiri dari 354.899 jiwa laki-laki (49,35%) dan 364.294 jiwa
perempuan (50,65%).
a. Pola Hubungan Sosial Pola hubungan sosial budaya di sekitar tapak
proyek masih memperlihatkan ciri kegotong-royongan, pola hubungan
sosial penduduk pendatang dan lokal tidak mengalami masalah dan tetap
terbina dengan baik.
b. Kondisi Sosial Ekonomi Sosial Umum, kondisi ekonomi masyarakat di
sekitar bendungan relatif cukup baik diatas prasejahtera. Mereka umumnya
menyatakan dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi kesehatan
dipengaruhi oleh kondisi pemukiman dan lingkungan. Pada umumnya
kondisi fisik rumah disekitar bendungan, cukup baik dengan kondisi
tempat tinggal yang relatif cukup nyaman.
c. Tingkat Pendidikan, Pendapatan dan Mata Pencaharian Tingkat pendidikan
masyarakat di daerah studi tergolong relatif sedang-rendah (SMP>54%).
Namun tingkat pendapatan masyarakat tergolong cukup sejahtera. Sedang
mayoritas mata pencaharian di daerah studi sebagian besar adalah sektor
pertanian (75,6%).
2.7 Profil Perusahaan Lokasi Kerja Praktik
Kerja Praktik Mahasiswa dilakukan pada sebuah Persekutuan Komanditer atau
disebut dengan CV dengan nama terdaftar berupa CV. Tirta Pertiwi. Persekutuan
komanditer ini merupakan konsultan yang bergerak dalam bidang kebumian
dengan motto utama The Ultimate Geosolution dan logo berupa air mancur
yang tinggi dengan warna biru (Gambar 2.1). Persekutuan komanditer ini

melakukan berbagai investigasi dalam bidang kebumian seperti survei geologi


permukaan, penelitian bawah permukaan metode geofiska, eksplorasi air tanah,
eksplorasi pertambangan, pemboran sumur air tanah, penyelidikan geoteknik, dan
pelaksaanan geoteknik konstruksi.
2.7.1 Visi dan Misi
Persekutuan komanditer ini memiliki visi dan misi dalam menjalankan
usahanya yaitu seperti berikut :
Visi :
Menjadi perusahaan terkemuka yang kompetitif, handal dan terpercaya di
bidang geologi dan kebumian.
Misi :
a.
b.
c.
d.

Memberi solusi masalah geologi, airtanah dan kebumian.


Memberikan pelayanan prima kepada klien.
Membangun kemitraan dengan klien secara berkesinambungan.
Selalu mengikuti perkembangan teknologi geologi, air tanah dan

bidang kebumian.
e. Meningkatkan kompetensi, kualitas dan kesejahteraan karyawan.
2.7.2 Profil CV. Tirta Pertiwi
Berdasarkan visi dan misi dari CV. Tirta Pertiwi, persekutuan komanditer
tersebut terus melakukan perkembangan dari awal persekutuan komanditer
tersebut berdiri yaitu sejak tahun 2012. Telah banyak pekerjaan di bidang
geologi yang dilakukan oleh persekutuan komanditer ini. Awalnya
persekutuan komanditer ini hanya bergerak dalam bidang survey hidrogeologi
yang kemudian merambah hingga ke bidang eksplorasi mineral, bahan
tambang, dan geoteknik. Berikut merupakan profil lengkap mengenai CV.
Tirta Pertiwi :
a.
b.
c.
d.

Nama Institusi
Tahun Pendirian
Direktur Utama
Alamat

e. Nomor Telepon

: CV. TIRTA PERTIWI


: 2012
: Y. Kadar Budianto
: Jalan Karang nomor 2 Kemasan Sawit,
Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia 57374
: (+62276) 3295629, 3287215

f. Email
g. Bidang Usaha

: info@tirtapertiwi.com
: - Ekplorasi air tanah
- Pembuatan sumur dalam
- Penyelidikan geoteknik
- Penyelidikan geologi
- Penyelidikan metode geofisika
- Eksplorasi pertambangan

Gambar 2.2 Logo CV. Tirta Pertiwi tempat mahasiswa melakukan


Kerja Praktik (tirtapertiwi.com)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Tinjauan Umum
Bangunan bendung merupakan bangunan yang berfungsi untuk menampung
air dalam skala besar yang pada nanti nya akan dimanfaatkan untuk bermacammacam fungsi seperti sumber air, tambak ikan, hingga pembangkit listrik.
Bendungan tersusun oleh beberapa komponen yang memiliki fungsi yang berbeda
dengan komponen lainnya. Pada dasarnya komponen tersebut diharapkan dapat
menahan volume air dan menggenangi badan bendung, tetapi kebocoran dapat
terjadi pada komponen tersebut baik akibat faktor teknis konstruksi maupun

10

kontrol geologi. Oleh karena itu perlu dilakukan penyelidikan geoteknik untuk
menghindari kebocoran tersebut dengan berbagai metode, salah satu nya adalah
grouting. Hal ini akan dibahas lebih detail dalam sub-bab selanjutnya.
3.2 Bendungan dan Komponennya
Bendungan (dam) adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air
dari sebuah aliran sungai, maupun saluran air menjadi sebuah tempat
penampungan bervolume cukup besar menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi
sehingga lokasi tersebut tergenang oleh air (Kharagpur, 2015). Seringkali
bendungan juga digunakan sebagai sumber energi non-hidrokarbon dengan
mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air yang memiliki turbin
dan generator. Bendungan terdiri dari beberapa komponen, yaitu :
3.2.1 Badan bendung (body of dams)
Badan bendungan adalah tubuh bendungan yang berfungsi sebagai
penghalang air. Bendungan umumnya memiliki tujuan untuk menahan air,
sedangkan struktur lain seperti pintu air atau tanggul digunakan untuk
mengelola atau mencegah aliran air ke dalam daerah tanah yang spesifik.
Kekuatan air memberikan listrik yang disimpan dalam pompa air dan ini
dimanfaatkan untuk menyediakan listrik bagi jutaan konsumen.
3.2.2 Pondasi (foundation)
Pondasi adalah bagian dari bendungan yang berfungsi untuk menjaga
kokohnya bendungan. Pondasi dari bendungan biasa berupa beton dan grout
pada bawah permukaan untuk mencegah kebocoran.
3.2.3 Pintu air (gates)
Digunakan untuk mengatur, membuka dan menutup aliran air di
saluran baik yang terbuka maupun tertutup. Bagian yang penting dari pintu
air adalah :
a. Daun pintu (gate leaf) adalah bagian dari pintu air yang menahan
tekanan air dan dapat digerakkan untuk membuka , mengatur dan
menutup aliran air.

11

b. Rangka pengatur arah gerakan (guide frame) adalah alur dari baja
atau besi yang dipasang masuk ke dalam beton yang digunakan
untuk menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai dengan yang
direncanakan.
c. Angker (anchorage) adalah baja atau besi yang ditanam di dalam
beton dan digunakan untuk menahan rangka pengatur arah gerakan
agar dapat memindahkan muatan dari pintu air ke dalam konstruksi
beton.
d. Hoist adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air agar dapat
dibuka dan ditutup dengan mudah.
3.2.4 Bangunan pelimpah (spill way)
Spill way (gambar 3.1) adalah bangunan beserta intalasinya untuk
mengalirkan air banjir yang masuk ke dalam waduk agar tidak
membahayakan keamanan bendungan. Bagian-bagian penting daribangunan
pelimpah :
a. Saluran pengarah dan pengatur aliran (controle structures)
digunakan untuk mengarahkan dan mengatur aliran air agar
kecepatan alirannya kecil tetapi debit airnya besar.
b. Saluran pengangkut debit air (saluran peluncur, chute, discharge
carrier, flood way) semakin tinggi bendungan, makin besar
perbedaan antara permukaan air tertinggi di dalam waduk dengan
permukaan air sungai di sebelah hilir bendungan. Apabila
kemiringan saluran pengangkut debit air dibuat kecil, maka
ukurannya akan sangat panjang dan berakibat bangunan menjadi
mahal. Oleh karena itu, kemiringannya terpaksa dibuat besar,
dengan sendirinya disesuaikan dengan keadaan topografi setempat.
c. Bangunan peredam energy (energy dissipator) digunakan untuk
menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi energi air agar
tidak merusak tebing, jembatan, jalan, bangunan dan instalasi lain
di sebelah hilir bangunan pelimpah.

12

Gambar 3.1 spill way pada bendungan (Kharagpur, 2015)

3.2.5 Katup (kelep, valves)


Fungsinya sama dengan pintu air biasa, hanya dapat menahan tekanan
yang lebih tinggi (pipa air, pipa pesat dan terowongan tekan). Merupakan
alat untuk membuka, mengatur dan menutup aliran air dengan cara memutar,
menggerakkan kea rah melintang atau memenjang di dalam saluran airnya.
3.2.6 Drainage gallery
Drainage gallery merupakan bagian dari bendungan yang berfungsi
menampung material limpahan dari bendung dan digunakan sebagai alat
pembangkit listrik pada bendungan.
3.3 Penyelidikan Geoteknik
Geoteknik merupakan bagian dari rekayasa sipil yang didasarkan pada
pengetahuan geologi tentang karakteristik batuan dan tanah. Penyelidikan
geoteknik merupakan pekerjaan yang dilakukan sebelum pekerjaan pemindahan
tanah atau penempatan beban pada tanah berlangsung. Dengan adanya
perencanaan geoteknik diharapkan dapat dicapai suatu kegiatan dengan
produktivitas optimal, efisien dan aman.

13

Penyelidikan geoteknik dibedakan menjadi 2, yaitu penyelidikan geoteknik


lapangan dan penyelidikan geoteknik laboratorium. Berikut dijelaskan secara
umum kedua penyelidikan tersebut :
3.3.1 Penyelidikan Geoteknik Lapangan
Penyelidikan geoteknik merupakan penyelidikan yang dilakukan insitu
atau langsung di lapangan untuk mendapatkan gambaran mengenai daya
dukung sisi geologi untuk kepentingan konstruksi. Beberapa pengujian yang
termasuk ke dalam penyelidikan geoteknik lapangan adalah sebagai berikut :
a. Pemboran Tangan
Dalam survey geologi teknik di lapangan, metode penyelidikan yang
umum dipakai salah satunya adalah pemboran tangan. Pemboran tangan
adalah penyelidikan dengan membuat lubang ke dalam tanah dengan alat
pemboran manual yang digerakkan dengan tenaga manusia. Pemboran ini
dilakukan untuk mengetahui kondisi tanah dengan kedalaman yang dekat
permukaan. Pemboran tangan merupakan metode yang murah dan
mudah, serta cocok untuk penyelidikan pada tanah permukaan yang
konsistensinya lunak hingga kaku. Tujuan pemboran tangan adalah
sebagai berikut:
-

Mengidentifikasi jenis dan lapisan tanah pada kedalaman dangkal.

Mengambil contoh tanah terganggu (disturbed sample)

Membuat lubang
kedalaman

untuk memasukkan tabung

tertentu

untuk

mengambil

tcontoh

contoh pada
tanah

asli

(undisturbed sample).
-

Memasukkan alat uji lapangan pada kedalaman yang dikehendaki,


misalnya sondir, SPT, dan lainnya.

b. Pemboran Inti
Pemboran

inti

adalah

semua

jenis

pemboran

yang

tenaga

penggeraknya adalah mesin. Pemboran inti dapat menjangkau kondisi


bawah permukaan tanah yang relatif dalam dibandingkan dengan
pemboran tangan. Maksud pemboran inti adalah untuk mengetahui

14

kondisi bawah permukaan yang jangkauannya relatif lebih dalam


dibandingkan dengan pemboran tangan. Berbagai parameter yang
diselidiki dalam penyelidikan pemboran inti diantaranya adalah sifat dan
kualitas batuan. Berbagai parameter tersebut dapat diperoleh dengan
menganalisa sample (core) hasil pengintian (coring).
i.

Tujuan Pemboran Inti


Pekerjaan pemboran inti dilaksanakan dengan tujuan untuk
memperoleh data geologi teknik bawah permukaan tanah (insitu
testing) yang akan digunakan untuk analisa geologi teknik melalui
pengujian lapangan dan laboratorium
Pada setiap pemboran inti diusahakan agar perolehan contoh inti
tanah (Core recovery) mencapai 100%. Core Recovery itu sendiri
artinya adalah presentasi tanah/batuan yang diperoleh selama proses
pengeboran. Urutan stratigrafi tanah yang diperoleh sangat tergantung
dari core recovery-nya.
ii. Peralatan Pemboran Inti
Pemboran inti menggunakan alat pemboran (gambar 3.2 dan
tabel 3.1) yang digerakkan oleh mesin diesel dengan sistem hidraulik.
Motor penggerak alat bor biasanya terdiri dari:
a.

Alat pemutar stang bor dengan kecepatan yang dapat diatur dan
memberikan gaya ke bawah.

b. Pompa untuk mensirkulasikan air ke bawah melalui stang bor.


c. Roda pemutar (winches) dan derrick/ tripod untuk menaikturunkan rangkaian alat dan stang bor ke dalam lubang.

15

Gambar 3.2 Skema Peralatan Pemboran Inti (Sosrodarsono


dan Nakazawa, 1981)
Skema suatu alat pemboran inti pada dasarnya terdiri dari
menara, tubuh mesin bor serta pipa atau alat konstruksi bawah
permukaan. Tabung penginti/ core barrel untuk mengambil inti batuan,
terdiri dari tiga jenis, yaitu Single tube core barrel (Gambar 3.3),
double tube core barrel, dan Triple tube core barrel (Gambar 3.4).
Tabung penginti disesuaikan dengan kondisi batuan di lapangan, dalam
suatu pengeboran geoteknik dapat tabung penginti yang biasanya
digunakan untuk batuan keras adalah single tube core barrel,
sedangkan untuk batuan yang lunak dapat menggunakan double tube
core barrel karena terdapat sirkulasi air.Untuk pemboran geoteknik
pada lokasi ini digunakan tabung penginti dengan single tube core
barrel.

16

Gambar 3.3 Single tube core barrel (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1981)

Gambar 3.4 triple core barrel (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1981)

Dalam penggunaan tabung penginti pada pemboran geoteknik


disesuaikan dengan batuan di lapangan apakah batuan tersebut lunak
atau keras.
Tabel 3.1 Peralatan Dalam Pemboran Inti Beserta Fungsinya
Bagian
Pompa air

Fungsi
Memompa air agar mampu

Keterangan

17

mengangkat dan menekan


Sambungan

air formasi
Meneruskan air dari selang

berputar
Batang bor

bor ke stang bor


Sebagai saluran air

Panjang bervariasi mulai dari 0.61, 0.5,


1.5, 3, 3.305, 4.12 serta 2.5 meter.

Hammer
Pipa pelindung

Sedangkan beratnya mencapai 11.25 kg


Mengatasi rangkaian terjepit Berat mencapai 60 kg
Untuk melindungi supaya air Panjang casing 0.5 - 2.5 m dan

(casing)

tidak

masuk

formasi, maksimum

m.

Pahat

casing

memperlancar air pembilas, diletakkan pada ujung rangkaian casing


memperlancar
masuknya

keluar untuk memasukkan casing ke dalam

rangkaian

bor, lubang bor. Jika batuan lunak berfungsi

serta melindungi lubang bor sebagai sepatu casing dan biasanya


Tabung

jika terjadi caving.


Untuk
mengambil

tebal
inti Terdapatnya berbagai macam tabung

penginti

batuan

saat inti diantaranya : Single CB (satu

(core)

pada

pekerjaan

tabung dengan panjang 1.5 m) untuk


batuan yang lunak kurang cocok karena
dapat tercuci oleh air. Double CB (dua
tabung,

yaitu

lapis

dalam

untuk

menangkap inti dan lapis luar untuk


sirkulasi air. Triple CB (terdiri dari tiga
bagian, yaitu tabung luar dalam dan
penginti

untuk

mengeluarkan

batuan hasil coring.

Bagian

Fungsi

Keterangan

18

inti

Pahat inti

Untuk

membuat

(mata bor)

dengan cepat

lubang Jenisnya terdiri dari : Non coring bit


(terdiri

dari

shooping

bit

untuk

memecah batuan yang keras dengan


cara di tumbuk atau dijatuhkan serta
rock bit untuk pemboran minyak atau
air) serta jenis kedua adalah coring bit
yang berfungsi untuk pengambilan inti
batuan.
iii. Pencatatan dalam Kegiatan Pemboran
Dalam proses pemboran inti, pencatatan perlu dilakukan untuk
memperoleh data yang selengkap mungkin, adapun hal yang perlu
dicatatat berdasarkan SNI 03-2436-1991, meliputi :
a. Pemilik Pekerjaan, antara lain nama instansi atau badan yang
memberikan pekerjaan pengeboran inti.
b. Pelaksana pekerjaan, antara lain nama instansi atau badan yang
melaksanakan pekerjaan pengeboran inti.
c. Rincian pencatatan, hal ini dilakukan oleh seorang wellsite
geologist, rincian pencatatan tersebut diantaranya :
1) Koordinat lubang pemboran;
2) Metode pengeboran;
3) Melakukan pemerian contoh inti;
4) Kondisi core (broken, fracture, dll);
5) Dokumentasi contoh inti meliputi tanggal dan lokasi;
6) Informasi kedalaman yang di berikan operator bor
mengenai perubahan kecepatan penetrasi pemboran.
d. Juru Bor bertugas untuk mencatat :
1) Tanggal pemboran;
2) Mulai dan selesainya inti yang terambil;
3) Sirkulasi air;

19

4) Jenis bit, mesin bor, mesin pompa dan tabung penginti,


serta rotary per minute;
5) Pergantian mata bor baik ukuran maupun jenisnya
(menandakan kekuatan setiap lapisan).
6) Semua masalah dengan kegiatan pengeboran (water loss,
pipa terjepit/patah, dll);
7) Keterangan mengenai lubang bor meliputi nomor, elevasi,
azimut, dan inklinasi;
8) Pemerian label pada tempat penyimpanan contoh inti;
e. Jenis bangunan, yang antara lain nama bangunan atau rencana
bangunan yang diselidiki, misalnya bendungan, pelimpah
bangunan gedung, jembatan, dan terowongan.
f. Skala harus dicantumkan untuk menyatakan penggambaran
kedalam lubang bor.
g. Kemajuan pengeboran, dicatat untuk setiap panjang pengeboran
yang dilakukan.
h. Inti yang terambil, dicatat panjangnya kemudian dihitung
persentasinya terhadap panjang pengeboran.
i. Pemerian inti
iv. Deskripsi Inti Pemboran
Dalam pemerian inti tentu terlebih dahulu dibedakan apakah
material tersebut tanah atau batuan, karena keduanya memiliki sifat
fisik yang berbeda. Berikut dijelaskan deskripsi pada tanah dan batuan
berdasarkan sifat fisiknya:
a. Pemerian Inti Pada Tanah (Untuk Geologi Teknik)
Tanah berdasarkan sifat lekatannya dibagi menjadi dua yaitu
tanah kohesif dan tanah non-kohesif. Tanah kohesif adalah tanah
yang mempunyai lekatan antar butir-butirnya (contoh tanah
lempung dan lanau), sedangkan tanah non-kohesif adalah tanah
yang tidak mempunyai atau sedikit sekali lekatan antar butirnya

20

(contohnya pasir). Sedangkan tanah berdasarkan campuran


butirnya dibagi menjadi tanah berbutir kasar yang sebagian besar
butir-butirnya berupa pasir dan kerikil, tanah berbutir halus yang
sebagian butir-butir tanahnya berupa lempung dan lanau, serta
tanah organik yang mengandung bahan-bahan organik.
Deskripsi sifat fisik pada tanah diantaranya jenis tanah,
warna, ukuran butir, keteguhan, kepadatan, sifat plastisitas,
bentuk partikel, kandungan air,

kelulusan air. Berikut

penjelasannya :
a) Jenis Tanah
Secara umum klasifikasi & deskripsi batuan/tanah
berdasarkan kepada genesis, struktur, kandungan utama,
besar butir, mineralogi butiran mineral utama. Tujuan dari
deskripsi

dan

klasifikasi

batuan/tanah

adalah

untuk

menentukan jenis batuan/tanah agar diperoleh gambaran


tentang sifat-sifat batuan/tanah tersebut.
Beberapa sistem klasifikasi tanah telah dibuat, misalnya
sistem ASTM (American Standard of Testing Material) atau
USCS (Unified Soil Classification System). Klasifikasi tanah
dibedakan menjadi dua, yaitu tanah berbutir kasar dengan
ukuran butir pasir gravel dan tanah berbutir halus dengan
ukuran lempung lanau.
Tanah campuran dengan susunan dari dua jenis tanah
berbeda, maka campuran yang dominan dinyatakan sebagai
kata benda, sedang yang sedikit sebagai kata sifat. Contoh :
-

Pasir

lanauan,

menyatakan

tanah

pasir

yang

mengandung lanau;
-

Lempung pasiran, menyatakan tanah mengandung sifatsifat lempung dengan mengandung sedikit pasir.

21

Sistem klasifikasi USCS menggunakan dua huruf untuk


menunjukkan sifat dan komposisi tanah (tabel 3.2 dan tabel
3.3 )
Tabel 3. 2 Klasifikasi tanah USCS tanah berbutir halus
Huruf Pertama
Huruf Kedua
O
C
M

Organic
Lempung
Lanau

H
L

Batas Cair Tinggi


Batas Cair Rendah

Tabel 3.3 klasifikasi tanah USCS tanah berbutir kasar


Huruf Pertama
Huruf Kedua
G
Gravel
W
Gradasi Baik
S
Sand/pasir
P
Gradasi Buruk
M
Kelanauan
C
Kelempungan
b) Warna
Tanah dan batuan memiliki berbagai macam warna.
Warna dari tanah dan batuan merupakan karakteristik yang
penting di dalam kegiatan identifikasi material ini. Beberapa
corak warna yang sering dimiliki tanah dan batuan antara lain
seperti pada tabel 3.4 di bawah ini.
Tabel 3.4 Warna tanah dan batuan (SNI 2436:2008)
Warna dasar

Warna imbuhan

Merah
Kuning
Coklat
Hijau
Biru
Kelabu
Hitam
Warna dasar
Putih

Kemerahan
Kekuningan
Kecoklatan
Kehijauan
Kebiruan
Kekelabuan
Kehitaman
Warna imbuhan
Keputih-putihan

Demikian pula tanah dan batuan yang memiliki lapisanlapisan atau lensa dan bagian tersendiri dari tanah dan batuan
22

perlu ditentukan warna tersendiri. Pada umumnya penentuan


warna disesuaikan dengan kondisi kandungan air yang ada,
namun untuk tanah dan batuan yang sudah memiliki
perubahan kadar air atau dalam keadaan kering, hal ini perlu
dijelaskan pada laporan tersebut.
c) Ukuran Butir
Secara sederhana berdasarkan ukuran diameter butirnya,
tanah di-klasifikasikan sebagai berikut (tabel 3.5).
d) Tingkat Keteguhan
Tingkat keteguhan berlaku pada tanah kohesif atau tanah
berbutir halus yang dibedakan dengan kriteria sangat lunak,
lunak, teguh, sangat teguh, keras dan sangat keras seperti
pada tabel 2.2.7, juga dapat ditentukan oleh jumlah N
Standard Penetration Test (NSPT).
Tabel 3.5 Klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butir Skala Wentworth
Jenis Tanah
Bongkah (boulder)
Berangkal (cobble)
Kerakal (pebble)
Kerikil (granule)
Pasir sangat kasar (very coarse sand)
Pasir kasar (coarse sand)
Pasir sedang (medium sand)
Pasir halus (fine sand)
Pasir sangat halus (very fine sand)
Lanau (silt)
Lempung (clay)

SAND

Batas ukuran butir


> 256 mm
64 256 mm
4 64 mm
2 4 mm
1 2 mm
1/2 - 1 mm
1/4- 1/2 mm
1/8 1/4 mm
1/16 1/8 mm

SILT
CLAY

1/16 1/256 mm
< 1/256 mm

GRAVEL

Tabel 3.6 Tingkat keteguhan tanah berbutir halus (SNI 2436:2008)


Kriteria
Sangat lunak

Ciri tanah berbutir halus


Keluar diantara jari bila ditekan

Lunak

Mudah dibentuk dengan tekanan jari yang rendah

Teguh
Sangat teguh
Keras

Dapat ditekan dengan tekanan jari yang kuat


Membekas bila ditekan dengan ibu jari
Membekas bila ditekan dengan kuku ibu jari
Sulit untuk memperoleh bekas bila ditekan dengan kuku

Sangat Keras

ibu jari

Nilai NSPT
<2
2-4
4-8
8-15
15-30
>30

23

e) Tingkat Kepadatan
Tingkat kepadatan berlaku untuk tanah non kohesif atau
pada tanah berbutir kasar yang dibedakan dengan kondisi
sangat lepas, lepas, agak padat, padat, sangat padat seperti
pada tabel 2.2.8, juga dapat ditentukan oleh jumlah N
Standard Penetration Test (NSPT).
Tabel 3.7 Tingkat kepadatan tanah pada tanah non kohesif (SNI
2436:2008)
Kondisi
Sangat lepas

Uji di lapangan

(very loose)
Lepas (loose)
Agak padat

Mudah digali dengan sekop

04

Agak susah digali, pasak susah untuk ditancapkan

4 10

Sulit dipindahkan dengan sekop dan pasak sulit

(medium

ditancapkan

dense)
Padat (dense)
Sangat padat
(very dense)

f)

Nilai N SPT

Pasak tidak dapat ditancapkan, untuk dipindahkan/digali memerlukan peralatan tambahan


Sulit untuk diangkat/dipindahkan

10 30

30 50
> 50

Plastisitas
Plastisitas adalah kemampuan butir-butir tanah halus
untuk mengalami perubahan bentuk tanpa terjadi perubahan
volume atau pecah. Tidak semua jenis tanah mempunyai sifat
plastis. Tanah yang didominasi oleh mineral pasir kuarsa dan
pasir lainnya tidak mempunyai sifat plastis walaupun ukuran
partikelnya halus dan berapapun banyaknya air ditambahkan.
Semua mineral liat, mempunyai sifat plastis dan dapat
digulung mejadi benang/ulir tipis pada kadar air tertentu
tanpa menjadi hancur. Tanah yang mempunyai daya lekatan
antar butir adalah tanah kohesif (lempung dan lanau),

24

sehingga tanah jenis inilah yang mempunyai sifat plastis.


Tingkat keplastisan tanah dapat dilihat pada tabel 3.8
g) Struktur dan perlapisan
Struktur dan perlapisan pada tanah dibagi ke dalam dua
bagian, yaitu pada tanah berbutir kasar diantaranya pasir,
kerikil, kerakal, bongkah (tabel 3.9) dan tanah berbutir halus
diantaranya lanau dan lempung (tabel 3.10), selain itu ada
juga struktur dan perlapisan pada tanah organik (tabel 3.11).
Untuk skala perlapisan dapat dilihat pada tabel 3.12.
Tabel 3.8 Tingkat keplastisan tanah pada tanah kohesif (SNI
2436:2008)
Kondisi

Rentang

Uji di lapangan

Non-plastis

Tanah jika digulung-gulung sepanjang 40 mm,

Agak plastis

tebal 6 mm tidak bias terbentuk


Tanah dapat digulung sepanjang 40 mm dgn tebal

(Sligthly

6 mm dan dapat menahan beratnya sendiri, tetapi

plastic)

bila tebalnya 4 mm, tanah menjadi tidak dapat

batas cair
-

0 35 %

menahan beratnya sendiri

Semi plastis

Tanah

dapat

dibentuk

menjadi

gulungan

(Moderately

sepanjang 40 mm, setebal 4 mm dan dapat

plastic)

menahan beratnya sendiri, tapi bila tebalnya 2

35 % - 50 %

mm tidak dapat menahan beratnya sendiri


Kondisi

Rentang

Uji di lapangan
dapat

dibentuk

menjadi

batas cair

Sangat palstis

Tanah

gulungan

(Very plastic)

sepanjang 40 mm, setebal 2 mm serta dapat

50 % - 90 %

menahan beratnya sendiri

Tabel 3.9 Struktur pada tanah berbutir kasar (SNI 2436:2008)


Kondisi
Homogen/seragam
(Homogeneous)

Identifikasi Lapangan
Endapan terdiri dari 1 jenis tanah yang dominan

25

Terdiri dari lapisan-lapisan dari berbagai jenis, berselang-

Saling
melapis/berlapis (Inter
stratified/Interbedded)
Heterogen

seling (alternating) atau terdiri dari pita-pita atau lensalensa dari material yang berbeda. Skala interval jarak antara
lapisan dapat juga digunakan untuk identifikasi
Suatu campuran terdiri dari berbagai tipe material

(Heterogeneous)

Partikel-partikel
Lapuk (Weathered)

tanah

yang

melemah,

biasanya

memperlihatkan pelapisan yang konsentrik (menuju satu


titik)

Tabel 3.10 Struktur pada tanah berbutir halus (SNI 2436:2008)


Kondisi

Identifikasi Lapangan
menjadi fragmen polihedral

Terpecah
Bercelah (Fisured)

sepanjang

celahnya, Skala interval jarak antara diskontinuitas dapat


juga digunakan untuk identifikasi

Homogen/seragam

Endapan terdiri dari (terutama) 1 tipe material

(Homogeneous)

Terdiri

dari

lapisan-lapisan

dari

berbagai

jenis,

Saling melapis/berlapis

berselang-seling (alternating) atau terdiri dari pita-pita

(Inter

atau lensa-lensa dari material berbeda. Skala interval

stratified/Interbedded)

jarak antara lapisan dapat juga digunakan untuk


identifikasi.

Lapuk (Weathered)

Biasanya terdiri dari pecahan-pecahan atau strukturstruktur seperti kolom.

Tabel 3.11 Struktur pada tanah organik (SNI 2436:2008)


Kondisi

Identifikasi Lapangan

Berserat/Humus (Fibrous)

Terdapat sisa-sisa tumbuhan dan

Tak berbentuk (Gambut) (Amorphous)

menyimpan sisa kekuatan


Tidak terdapat lagi sisa-sisa tumbuhan

h) Kebundaran
Tanah yang berupa pasir, kerikil dan kerakal memiliki
berbagai jenis kebundaran yang berbeda yaitu berbentuk
menyudut, agak menyudut, agak bundar dan bundar yang
dijelaskan pada tabel 3.13 di bawah ini.

26

Tabel 3.12 Skala perlapisan pada tanah (SNI 2436:2008)


Kondisi
Pelapisan sangat tebal (very thickly

Spasi rata-rata (mm)


Lebih dari 2000

bedded)
Pelapisan tebal (thickly bedded)
Pelapisan medium (medium bedded)

2000 s/d 600


600 s/d 200

Pelapisan tipis (thinly bedded)


Pelapisan sangat tipis (very thinly

200 s/d 60
60 s/d 20

bedded)
Terlaminasi tebal (thickly lamination)
Terlaminasi tipis (thinly lamination)

20 s/d 6
Dibawah 6

Tabel 3.13 Kebundaran Butir Kasar (SNI 2436:2008)


Ciri Butiran
Beberapa bidang dengan ujung yang runcing dan permukaan

Bentuk Butiran
Menyudut

yang kasar
Beberapa bidang dengan ujung yang agak runcing Agak

Agak Menyudut

menyudut
Berbentuk agak bundar dengan tonjolan yang membundar
Berbentuk bundar dengan permukaan yang cukup halus,

Agak Bundar
Bundar

tidak ada tonjolan

i) Kelulusan Air
Dengan menggunakan hasil pencatatan nilai kelulusan air
pada tanah ini maka diperoleh tingkat kelulusan tanah seperti
pada tabel 3.14.
j) Kandungan Air
Kandungan air pada tanah dan batuan akan memberikan
tanah dan batuan ini dalam kondisi kering, lembab dan basah.
Untuk menentukan kondisi tanah ini maka identifikasi dapat
menggunakan standar seperti pada tabel 3.15
Tabel 3.14 Kelulusan Air (SNI 2436:2008)
Jenis Material
Kerikil Bersih

Nilai Kelulusan Air


(cm/detik)
>10-2

Tingkat Kelulusan
Sangat Tinggi

27

10-2-10-3
10-4-10-5
10-6
<10-6

Pasir Kasar Bersih


Pasir Halus
Pasir Halus Lanauan
Lempung

Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah

Tabel 3.15 Kondisi Kandungan Air (SNI 2436:2008)


Ciri Tanah dan Batuan
Tidak mengandung air
Lembab, air dalam tanah/batuan tidak dapat dilihat
Air dapat dilihat, biasanya tanah atau batuan yang

Kondisi
Kering
Lembab
Basah

diperoleh di bawah muka/air tanah

b. Pemerian Inti Pada Batuan (Untuk Geologi Teknik)


Pemerian

pada

batuan

meliputi

sifat

fisik

batuan,

diantaranya : jenis batuan, warna, pelapukan, ukuran butir,


kekerasan, kebundaran, sementasi, tebal lapisan, diskontinuitas,
kelulusan air. Berikut penjelasannya :
a) Jenis Batuan
Batuan dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan cara
terbentuknya, yaitu:
a. Batuan beku, terbentuk dari hasil kristalisasi magma
dibawah permukaan tanah akibat penurunan suhu yang
diinisiasi oleh pergerakan dari magma tersebut.
b. Batuan sedimen, batuan yang terbentuk dari material
yang ditransfer dan diendapkan, tapi juga dapat
terbentuk dari tanaman, binatang dalam pemanasan dan
tekanan juga dapat terbentuk dari reaksi kimia.
c. Batuan malihan, terbentuk dari batuan yang sudah
menjadi batuan beku dan batuan sedimen, kemudian
berubah akibat tekanan dan temperatur tinggi.
Batuan diidentifikasi dan diklasiifikasi berdasarkan
karakteristik

kandungan

mineral,

tekstur

dan

fabrik

(hubungan orientasi antara butiran).


b) Warna

28

Misalnya merah, kekuningan, coklat abu-abu muda.


Demikian pula tanah dan batuan yang berlapis-lapis atau
melensa harus dilakukan deskripsi warna tersendiri di setiap
lapisannya.
c) Besar Butir
Besar butir adalah ukuran (diameter dari fragmen batuan).
Skala pembatasan yang dipakai adalah Skala Wentworth.
Untuk deskripsi batuan berdasar besar butir bisa dilihat tabel
3.16.
d) Tingkat Pelapukan
Akibat waktu yang terus berjalan dan pengaruh dari cuaca
serta iklim secara bergantian, batu mengalami perubahan
tingkat pelapukan yang ditinjau antara lain dari warna,
diskontinuitas, tekstur. Penentuan tingkat pelapukan dapat
menggunakan tabel 3.17 di bawah ini. Tingkat pelapukan ini
merupakan karakter batuan yang dapat melengkapi keperluan
identifikasi batuan.
e) Kekerasan Batuan
Tingkat kekerasan batuan dapat dilakukan dengan uji
penggoresan dengan menggunakan pisau saku terhadap
batuan tersebut. Tingkat kekerasan batuan dapat dilihat pada
tabel 3.18.
f) Kebundaran
Merupakan tingkat kelengkungan/kebundaran dari setiap
fragmen butiran. Istilah-istilah yang dipakai adalah sebagai
berikut :
-

wellrounded (membundar baik)


rounded (membundar)
sub rounded (membundar tanggung)
angular (menyudut)
sub angular (menyudut tanggung)

29

Tabel 3.16 Besar Butir (SNI 2436:2008)


Ukuran

Deskripsi

(mm)

Batulempung

<0.002
0.002-

Batulanau

Batulumpur
Batupasir
butiran halus
Batupasir
butiran sedang

<0.06

yang tidak terpisahkan, butiran tidak

0.2-0.6

(mm)

Batupasir
butiran kasar
Konglomerat
Cobble
conglomerate

tidak terdapat kenampakan perlapisan


Bersifat non plastis, kenampakan
perlapisan
Campuran dari lempung dan lanau

0.06-0.2

0.6-2

Setipe
Ukuran

Bersifat plastis, bereaksi dengan air,

0.06

Ukuran

Deskripsi

Macam Tanah

Dapat Dikenali

lempung
Ukuran lanau

tampak
Masing-masing butiran dapat tampak

Pasir halus

dengan menggunakan kaca pembesar


Butiran sangat jelas dibawah kaca

Pasir sedang

pembesar

Macam Tanah

Dapat Dikenali

Setipe

Butiran jelas dapat dilihat dengan mata

Pasir kasar

telanjang

2-6

Ukuran partikel jelas

Ukuran gravel

60-200

Ukuran partikel jelas

Ukuran cobble

Tabel 3.17 Tingkat Pelapukan Batuan (SNI 2436:2008)


Tingkat
Pelapuka
Perubahan
Warna
Tidak ada

Ciri Batuan
Diskontinuita Permukaa
s
Tertutup

< 20% pada


diskontinuita
s
Sebagian
batu
> 20% pada

Terisi tipis

Terisi tebal

n Batu
Tidak

n
Tekstur
Dapat

Ikatan
Batu
Terikat

Tidak

berubah

diamati

Sebagian

Dapat

berubah

diamati

Mudah

Dapat

Sebagian

Lapuk

digali
Sebagian

diamati
Dapat

terpisah
Sebagian

sedang
Lapuk kuat

Terikat

Lapuk
Lapuk
ringan

30

diskontinuita

besar

berubah

Keseluruhan

Seperti

batu

diamati

terbuka

Sebagian

tanah

dapat

Lapuk

Terpisah

sempurna

diamati

Tabel 3.18 Tingkat Kekerasan Batuan (SNI 2436:2008)


Ciri Batuan
Tingkat
Berupa tanah bersifat plastis
Mudah dihancurkan dengan tangan dan terlalu lunak bila

Kekerasan
Lunak
Rapuh

dipotong dengan pisau saku


Ciri Batuan

Tingkat

Dapat dicungkil sampai dalam atau dipahat dengan pisau saku


Dapat digores dengan pisau, meninggalkan bekas debu
Agak sulit digores, meninggalkan sedikit debu
Tidak dapat digores dengan pisau saku, meninggalkan tanda

Kekerasan
Rendah
Sedang
Keras
Sangat Keras

pisau saku pada permukaan batu


g) Sementasi
Pada batuan yang bersifat besementasi akibat kandungan
kalsium karbonat dan mengandung butiran kasar memiliki
sementasi yang bervariasi seperti tabel 3.19.
h) Kelulusan Air
Dengan menggunakan hasil pencatatan nilai kelulusan air
pada tanah dan batuan ini maka diperoleh tingkat kelulusan
tanah dan batuan seperti pada tabel 3.20.
Tabel 3.19 Kriteria Sementasi Batuan (SNI 2436:2008)
Ciri Batuan
Remuk atau pecah bila ditekan dengan tekanan rendah dengan jari

Kriteria
Rendah

Remuk atau pecah bila ditekan dengan tekanan yang kuat dengan

Sedang

jari
Tidak remuk atau pecah bila ditekan dengan jari

Kuat

31

Tabel 3.20 Kelulusan Air (SNI 2436:2008)


b.

Jenis Material

Nilai Kelulusan Air

(Batuan berdiskontinuitas)
Sangat rapat
Rapat
Sedang
Jarang
Jenis Material

(cm/detik)
>10-2
-2
10 -10-3
10-4-10-5
10-6
Nilai Kelulusan Air

(Batuan berdiskontinuitas)
Tidak Berkontinuitas

(cm/detik)
<10-6

Tingkat Kelulusan
Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Tingkat Kelulusan
Sangat Rendah

i) Tebal Lapisan
Selain data sifat fisik batuan di atas, struktur batuan
berupa perlapisan juga harus diuraikan atau dijelaskan
berdasarkan tebal perlapisan seperti pada tabel 3.21 dibawah
ini.
j) Diskontinuitas
Diskontinuitas adalah kondisi umum retakan dan rekahan
yang terjadi pada massa batuan yang merupakan zona/bidang
perlapisan yang lemah. Diskontinuitas ini memiliki ciri dan
bentuk yang tertutup, terbuka atau terisi. Di antara bidang
perlapisan ini dijumpai celah yang merupakan ruang pemisah
antara bidang/dinding batuan tersebut. Celah ini dapat berisi
material, udara atau air. Ukuran celah dari diskontinuitas ini
dapat diukur yang tegak lurus antara bidang diskontinuitas
tersebut. Kriteria diskontinuitas dapat dilihat pada tabel 3.22
di bawah ini.
Tabel 3.21 Tebal Lapisan (SNI 2436:2008)
Tebal Lapisan
>1m
0.5-1 m
50-500mm
10-50mm
2.5-10mm
<2.5mm

Kriteria
Sangat Tebal
Tebal
Tipis
Sangat tipis
Sementasi
Sementasi Tipis

32

c. Pemetaan Geologi Teknik


Pemetaan dan penyelidikan geologi teknik ini dimaksudkan untuk
mengumpulkan berbagai data dan informasi geologi teknik permukaan
dan bawah permukaan yang mencakup: sebaran serta sifat fisik
tanah/batuan, kondisi air tanah, morfologi dan bahaya beraspek
geologi. Hasil pemetaan dan penyelidikan diharapkan dapat berguna
sebagai data dasar dalam menunjang perencanaan pembangunan maupun
penataan ruang di daerah (Syarief, 2013).
Metoda

yang

digunakan

dalam

melakukan

pemetaan

dan

penyelidikan geologi teknik adalah metoda kualitatif dan kuantitatif.


Metoda kualitatif yaitu melaksanakan pengamatan lapangan, pengukuran
struktur, deskripsi sifat fisik dan keteknikan tanah/batuan, kondisi
keairan, dan menginventarisasi kebencanaan geologi yang ada. Metoda
kuantitatif yaitu melakukan perhitungan dan analisis seperti daya dukung,
kestabilan lereng,

kompresibilitas dan pergerakan tanah. Dalam

pemetaan geologi teknik yang dilakukan adalah melihat kondisi-kondisi


seperti berikut untuk kemudian diambil sebuah parameter mengenai
kemampuan tanah dan batuan suatu daerah:
-

Morfologi
Tanah dan batuan
Hidrogeologi
Struktur geologi
Dll
Tabel 3.22 Kriteria Diskontinuitas (SNI 2436:2008)
Ukuran Celah
< 0,1 mm

Kriteria
Sangat rapat

0,1 0,25 mm

Rapat

0,25 0,5 mm

Terbuka sebagian

0,5 2,5 mm

Agak terbuka

2,5 5 mm

Terbuka

5 - 10 mm

Lebar

33

1 - 10 cm

Sangat lebar

10 100 cm

Besar

>1m

Sangat besar

d. Pengujian geoteknik lapangan


Pengujian geoteknik di lapangan diantaranya terdiri dari beberapa
pengujian seperti berikut :
(a) Uji Penetrasi Standar (SPT = Standard Penetration Test)
Uji penetrasi standar (SPT) dilaksanakan bersamaan dengan penge
boran untuk mengetahui baik perlawanan dinamik tanah maupun
pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan. Metode
pelaksanaan pekerjaan SPT dapat mengacu pada SNI 03-4153-1996.
Uji SPT dilakukan untuk mengetaui persebaran sifat fisik berupa
kekuatan batuan, secara vertical dan horizontal. Uji SPT dilakukan
sewaktu dilakukan pengeboran inti pada lapisan tanah yang diuji, mata
bor dilepas dan diganti dengan suatu alat yang disebut standard split
barrel sampler. Kemudian, pipa bor diturunkan kembali sampai alat
tersebut menumpu lapisan tanah yang akan diuji. Di atas ujung pipa
bor, yang berada di permukaan tanah, dipasang pemberat seberat 63,5
kg yang digantung pada sebuah kerekan. Pemberat ini ditarik naik
turun dengan tinggi jatuh 76 cm. Sesudah suatu permukaan awal
sedalam 15 cm, jumlah pukulan untuk setiap penurunan split barrel
sampler sebesar 30,5 cm (1 ft) dihitung. Nilai N didefinisikan sebagai
jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk penetrasi silinder split barrel
sampler sedalam 30,5 cm pada setiap pengujian.
(b). Uji Penetrasi Konus (CPT = Cone Penetration Test)
Metode pelaksanaan pekerjaan CPT dapat mengacu pada SNI
032827-1992. Metode percobaan di lapangan yang umum dilakukan
pemeriksaan dan penyelidikan di lapangan adalah percobaan penetrasi
atau penetration test yang menggunakan alat penetrometer. Cara
penggunaan alat tersebut ialah dengan jalan menekan atau memutar
stang yang mempunyai ujung khusus ke dalam tanah yang dapat

34

ditentukan kedalaman berbagai lapisan tanah yang berbeda dan


mendapatkan indikasi kekuatan tanah tersebut. Penyelidikan semacam
ini disebut percobaan penetrasi dan alat yang dipakai disebut
penetrometer statis (sondir). Penetrometer statis di Indonesia di pakai
secara luas hanyalah Alat Sondir (Dutch Penetrometer), juga disebut
Ducth deep sounding apparatus.
(c). Uji Geser Baling (VST = Vane Shear Test)
Uji ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan geser tanah di
lapangan. Kuat geser dari hasil uji geser baling agar dikoreksi sebelum
digunakan dalam analisis stabilitas bendungan (timbunan) di atas tanah
lunak, daya dukung dan galian pada lempung lunak.
(d). Uji Permeabilitas
Uji permeabilitas di dalam lubang bor ada beberapa macam,
diantaranya :
i.

Packer Test (Lugeon Test)


Pengujian dilakukan pada lubang bor menggunakan tekanan
dari air yang dipompakan ke dalam lubang bor. Untuk menyekat
zona yang diuji menggunakan karet packer yang dapat
dikembangkan dengan dongkrak atau dengan pemompaan bisa
juga secara hidrolis. Pengujian di tengah-tengah lubang bor dapat
menggunakan double packer menggunakan dua karet packer
sebagai penyekat di bagian atas dan bawah zona yang di uji.
Metode pengujiannya adalah dengan memasukkan air
bertekanan ke dalam lubang bor menggunakan rubber packer
untuk menyumbat lubang bor agar air tidak bocor saat pengujian
tekanan air. Untuk mengatur tekanan air yang diinjeksikan ke
dalam lubang bor, digunakan pressure gauge. Selain itu juga
digunakan flow meter untuk mengukur debit air. Setelah
dilakukan pengujian kemudian dilakukan perhitungan untuk
mendapatkan nilai lugeon dengan cara :
Lu= 10 Q / P L
35

Lu = Lugeon unit (l/mnt/m)


Q = debit aliran yang masuk (l/mnt)
P = tekanan total (Po+Pi) (kg/cm2)
L = panjang lubang yang di uji (m)
ii.

Open End (Constant Head dan Falling Head)


Pengujian open end terdiri dari 2 metode yaitu metode
constant head dan metode falling head. Constant Head
merupakan metode yang memiliki cara kerja air terus
dimasukkan konstan ke dalam lubang tes, cara kerja detilnya
seperti berikut :
-

Tabung berisi air selalu mendapat tambahan air lewat


kran, dan dijaga agar ketinggian permukaan air senantiasa
tetap.

Tabung berisi contoh batuan atau tanah dengan luas


penampang A dan panjang contoh L, bagian atas dan
bawahnya ditutup suatu lempeng yang berpori.

Tabung penampung air digunakan untuk mengukur


volume air yang tertampung (Q) dalam waktu tertentu (t)

Sedangkan untuk metode falling head lubang bor di isi air


sampai penuh. Air dibiarkan turun kemudian di isi lagi berulangulang sampai kelihatan lapisan tanah yang di uji jenuh air.
Lubang di isi penuh air lagi dan penurunan muka air di ukur dari
waktu ke waktu sebagai data untuk menghitung harga
permeabilitas lapisan tanah/batuan yang di uji.
3.3.2 Penyelidikan Geoteknik Laboratorium
Uji geoteknik laboratorium bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan sifat
teknis tanah ataupun batuan, berikut penjelasan dari beberapa uji laboratorium
untuk geoteknik :
a. Uji Laboratorium untuk Sifat Fisik Tanah

36

(a) Kadar Air


Uji kadar air bertujuan untuk mengukur jumlah air yang ada dalam
tanah sesuai dengan berat keringnya, untuk memperoleh karakteristik
kuat geser, penurunan dan parameter lainnya secara korelasi empirik.
Uji dapat dilakukan dengan standar uji SNI 03-1965-1990, Metode
Pengujian Kadar Air Tanah.
(b) Berat Jenis
Tujuan uji berat jenis adalah untuk mengukur berat jenis butiran
tanah. Uji dapat dilakukan dengan mengacu pada standar uji SNI 031964-1990, Metode Pengujian Berat Jenis Tanah. Prosedur uji
dilakukan dengan cara mengukur berat jenis sebagai rasio berat dengan
volume tertentu bahan padat tanah pada temperatur tertentu terhadap
berat air suling dengan volume yang sama pada temperatur tersebut,
yang diambil dalam temperatur udara.
(c) Berat Volume
Pengukuran berat volume contoh tanah tidak terganggu di
laboratorium, dilakukan secara sederhana dengan menimbang bagian
contoh tanah dan membaginya dengan volume (SNI-03-3637-1994).
Kadar air harus dihasilkan pada waktu yang sama untuk memberikan
konversi yang diperlukan dari berat volume total hingga berat volume
kering. Jika contoh tidak terganggu tidak tersedia, maka berat volume
dievaluasi dari hubungan berat volume antara kadar air dan atau angka
pori maupun derajat kejenuhan yang diasumsi atau yang teruji.
(d) Analisis Saringan
Uji analisis saringan dapat dilakukan dengan mengacu pada standar
uji SNI 03-1975-1990 Metode Mempersiapkan Contoh Tanah dan
Tanah Mengandung Agregat, SNI 03-3423-1994, Metode Pengujian
Analisis Ukuran Butir Tanah Dengan Alat Hidrometer. Distribusi
ukuran butir digunakan untuk menentukan klasifikasi tekstur tanah
(misal kerikil, pasir, lempung lanauan dan lain-lain) yang akan

37

digunakan dalam evaluasi karakteristik teknik seperti kelulusan air,


kekuatan dan potensi swelling.

(e) Analisis Hidrometer


Uji analisis hidrometer dapat dilakukan dengan mengacu pada
standar uji SNI 03-3422-1994 Metode Pengujian Batas Susut Tanah.
Tujuan uji ini adalah untuk mengukur distribusi (persentase) ukuran
butiran yang lebih kecil dari saringan No.200 (<0,075 mm) dan
mengidentifikasi persentase lanau, lempung dan koloida dalam tanah.
Prosedur uji dilakukan dengan cara mencampur tanah yang melewati
saringan No. 200 dengan dispersant dan air suling, lalu ditempatkan
dalam gelas ukur dalam keadaan suspensi cair. Ukuran relatif dan
persentase butiran halus diukur berdasarkan hukum Stokes yaitu untuk
pengendapan butiran bulat.
(f) Batas-Batas Atterberg
Uji batas-batas Atterberg dapat dilakukan dengan mengacu pada
standar uji SNI 03-1966-1990, Metode Pengujian Batas Plastis Tanah,
SNI 03-1967-1990, Metode Pengujian Batas Cair Dengan Alat
Casagrande, SNI 03-1975-1990, Metode Mempersiapkan Contoh Tanah
dan Tanah Mengandung Agregat. Untuk menggambarkan konsistensi
dan plastisitas tanah berbutir halus dengan perubahan derajat kadar air
diperlukan uji batas-batas Atterberg.
(g) Uji Kompaksi (Hubungan Antara Kadar Air dan Kepadatan)
Uji kompaksi dapat dilakukan dengan mengacu pada standar uji
SNI 03-1742-1989, Metode Pengujian Kepadatan Ringan Untuk Tanah.
Tujuan uji adalah untuk mengetahui kepadatan kering maksimum yang
diperoleh di bawah tenaga pemadatan nominal tertentu untuk suatu
tanah dan kadar air optimum sesuai dengan kepadatan.
(h) Klasifikasi Tanah

38

Tujuan uji klasifikasi tanah adalah untuk memberikan informasi


ringkas jenis dan karakteristik dasar tanah, manfaatnya sebagai material
konstruksi bangunan atau fondasi, unsur pokok dan lain-lain. Uji dapat
dilakukan dengan mengacu pada standar uji ASTM D 2487 Test Method
for Classification of Soils for Engineering Purposes dan D 3282 The
Unified Soil Classification System (USCS).
(i) Korosivitas Tanah
Tujuan uji korosivitas tanah adalah untuk mengetahui sifat agresif
dan korosivitas tanah, pH, kadar sulfat dan klorida tanah. Uji dapat
dilakukan dengan mengacu pada standar uji ASTM G 51 Test Method
for pH of Soil for Use in Corrosion Testing .
(j) Resistivitas Tanah
Tujuan uji resistivitas tanah adalah untuk mengukur potensi korosi
tanah. Uji dapat dilakukan dengan mengacu pada standar uji ASTM G
57, Field Measurement of Soil Resistivity (Wenner Array).
(k) Kadar Organik Tanah
Tujuan

uji

kadar

organik

tanah

adalah

untuk

membantu

penggolongan tanah dan identifikasi karakteristik teknik tanah. Uji ini


dapat dilakukan dengan mengacu pada standar uji ASTM D 2974. Test
Methods for Moisture, Ash and Organic Matter of Peat and Other
Organic Soils.
b. Uji Laboratorium untuk Sifat Teknis Tanah
Sifat teknik tanah ditentukan dengan melakukan uji-uji yang terdiri atas
uji kuat geser, analisis tegangan total dan efektif, uji kuat geser tanah
terkekang, uji kekuatan triaksial, uji kuat geser langsung, uji resonant
column, dan uji geser baling mini (miniature vane). Parameter-parameter
yang diperoleh dari hasil uji tersebut digunakan untuk analisis dan desain
pondasi dan timbunan pada bangunan air dan bendungan, serta bangunan
pelengkapnya.
(a) Uji Kuat Geser

39

Kuat geser harus ditentukan berdasarkan gabungan uji lapangan dan


laboratorium. Hasil uji laboratorium memberikan parameter kuat geser
acuan dengan batasan dan pembebanan yang terkontrol. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
i) Untuk lempung, digunakan uji laboratorium yang mencakup uji
tekan tidak terkekang (UC=unconfined compression) atau uji tidak
terkonsolidasi tidak terdrainase (UU).
ii) Contoh tidak terganggu maupun contoh yang dicetak ulang
(remolded) atau yang dipadatkan dapat digunakan untuk uji kuat
geser. Untuk uji kuat geser tanah terganggu dan tanah dicetak
ulang, benda uji harus dipadatkan atau distabilkan pada kadar air
dan kepadatan tertentu. Jika pengambilan contoh tidak terganggu
tidak praktis (misal tanah pasiran dan tanah kerikilan), maka perlu
disiapkan benda uji cetak ulang yang mendekati kepadatan dan
kadar air alami untuk pengujian. (b) Uji Kuat Geser Tanah
Terkekang (Unconfined Compression Strength = UCS).
Tujuan uji kuat geser tanah terkekang adalah untuk mengukur kuat
geser tidak terdrainase (cu) lempung dan lempung lanauan. Uji dapat
dilakukan dengan mengacu pada standar uji SNI 3638:2012, Metode
Pengujian Kuat Tekan Bebas Tanah Kohesif.
(c) Uji Kekuatan Triaksial
Uji kekuatan triaksial bertujuan untuk mengetahui karakteristik
kekuatan tanah yang mencakup informasi rinci pengaruh tekanan
lateral, tekanan air, pori, drainase dan konsolidasi. Uji dapat dilakukan
dengan mengacu pada standar uji SNI 03-2455-1991, Metode Pengujian
Triaxial A, SNI 03-2815-1992 Metode Pengujian Triaxial B.
(d) Uji Kuat Geser Langsung
Uji kuat geser langsung mempunyai tujuan untuk mengukur kuat
geser tanah sepanjang permukaan bidang datar yang telah ditentukan
sebelumnya (horisontal). Uji dapat dilakukan dengan mengacu pada

40

standar uji SNI 03-3420-1994, Metode Pengukuran Kuat Geser


Langsung Tidak Terkonsolidasi Tanpa Drainase.
(e) Uji Resonant Column
Tujuan uji resonant column adalah untuk menentukan karakteristik
modulus geser (Gmax atau G 0) dan redaman (D) tanah pada regangan
kecil sebagai akibat adanya gaya-gaya dinamik, khususnya akibat
goncangan gempa pada tanah dan fondasi mesin. Uji dapat dilakukan
dengan mengacu pada standar uji ASTM D 4015, Test Methods for
Modulus and Damping of Soils by the Resonant Column Method.
(f) Uji Geser Baling Mini (Miniature Vane)
Tujuan uji geser baling mini adalah untuk menentukan kuat geser
tidak terdrainase (su) dan sensitivitas (St) lanau dan lempung jenuh. Uji
dapat dilakukan dengan mengacu pada standar uji ASTM D 4648, Test
Method for Laboratory Miniature Vane Shear Test for Saturated FineGrained Clayey Soil.
c. Uji Laboratorium Pada Batuan
Uji laboratorium pada batuan disebut sebagai mekanika batuan.
Mekanika batuan merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat mekanik
batuan dan massa batuan. Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki
peran yang dominan dalam operasi penambangan, seperti pekerjaan
penerowongan, pemboran, penggalian, peledakan dan pekerjaan lainnya.
Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik batuan dan massa batuan
dilakukan berbagai macam uji coba baik itu di laboratorium maupun di
lapangan langsung atau secara insitu. Mekanika batuan sendiri mempunyai
karakteristik mekanik yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
a) Uji kuat tekan uniaksial (UCS)
Penekanan uniaksial terhadap contoh batuan selinder merupakan
uji sifat mekanik yang paling umum digunakan. Uji kuat tekan
uniaksial dilakukan untuk menentukan kuat tekan batuan (t),

41

Modulus Young (E), Nisbah Poisson (v), dan kurva teganganregangan. Contoh batuan berbentuk silinder ditekan atau dibebani
sampai runtuh. Perbandingan antara tinggi dan diameter contoh
silinder yang umum digunakan adalah 2 sampai 2,5 dengan luas
permukaan pembebanan yang datar, halus dan paralel tegak lurus
terhadap sumbu aksis contoh batuan. Dari hasil pengujian akan
didapat beberapa data seperti:
i. Kuat Tekan Batuan (c)
Tujuan utama uji kuat tekan uniaksial adalah untuk
mendapatkan nilai kuat tekan dari contoh batuan. Harga
tegangan pada saat contoh batuan hancur didefinisikan sebagai
kuat tekan uniaksial batuan dan diberikan oleh hubungan :
c = F
A
Keterangan :
c = Kuat tekan uniaksial batuan (MPa)
F = Gaya yang bekerja pada saat contoh batuan hancur (kN)
A = Luas penampang awal contoh batuan yang tegak lurus
arah gaya (mm)
ii. Modulus Young ( E )
Modulus Young atau modulus elastisitas merupakan faktor
penting dalam mengevaluasi deformasi batuan pada kondisi
pembebanan yang bervariasi. Nilai modulus elastisitas batuan
bervariasi dari satu contoh batuan dari satu daerah geologi ke
daerah geologi lainnya karena adanya perbedaan dalam hal
formasi batuan dan genesa atau mineral pembentuknya.
Modulus elastisitas dipengaruhi oleh tipe batuan, porositas,
ukuran partikel, dan kandungan air. Modulus elastisitas akan
lebih besar nilainya apabila diukur tegak lurus perlapisan
daripada diukur sejajar arah perlapisan (Jumikis, 1979).

42

Modulus elastisitas dihitung dari perbandingan antara


tegangan aksial dengan regangan aksial. Modul elastisitas
dapat ditentukan berdasarkan persamaan :
=
a
Keterangan:

E
.

= Modulus elastisitas (MPa)


= Perubahan tegangan (MPa)

a = Perubahan regangan aksial (%)


Terdapat tiga cara yang dapat digunakan untuk menentukan
nilai modulus elastisitas yaitu :
1. Tangent Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara
tegangan aksial dengan regangan aksial yang dihitung
pada persentase tetap dari nilai kuat tekan. Umumnya
diambil 50% dari nilai kuat tekan uniaksial.
2. Average Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara
tegangan aksial dengan regangan aksial yang dihitung
pada bagian linier dari kurva tegangan- tegangan.
3. Secant Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara
tegangan aksial dengan regangan aksial yang dihitung
dengan membuat garis lurus dari tegangan nol ke suatu
titik pada kurva regangan-tegangan pada persentase yang
tetap dari nilai kuat tekan. Umumnya diambil 50% dari
nilai kuat tekan uniaksial.
iii. Nisbah Poisson ( Poisson Ratio )
Nisbah Poisson didefinisikan sebagai perbandingan negatif
antara regangan lateral dan regangan aksial. Nisbah Poisson
menunjukkan adanya pemanjangan ke arah lateral (lateral
expansion) akibat adanya tegangan dalam arah aksial. Sifat
mekanik ini dapat ditentukan dengan persamaan :

43

l
V= a
Keterangan:
V

= Nisbah Poisson

= regangan lateral (%)

= regangan aksial (%)

Pada uji kuat tekan uniaksial terdapat tipe pecah suatu


contoh batuan pada saat runtuh. Tipe pecah contoh batuan
bergantung pada tingkat ketahanan contoh batuan dan kualitas
permukaan contoh batuan yang bersentuhan langsung dengan
permukaan alat penekan saat pembebanan. Kramadibrata
(1991)

mengatakan

bahwa

uji

kuat

tekan

uniaksial

menghasilkan tujuh tipe pecah, yaitu :


a. Cataclasis
b. Belahan arah aksial (axial splitting)
c. Hancuran kerucut (cone runtuh)
d. Hancuran geser (homogeneous shear)
e. Hancuran geser dari sudut ke sudut (homogeneous shear
corner to corner)
f. Kombinasi belahan aksial dan geser (combination axial
dan local shear)
g. Serpihan mengulit bawang dan menekuk (splintery
union-leaves and buckling)
b) Uji Kuat Tarik Tak Langsung ( Brazilian Test )
Sifat mekanik batuan yang diperoleh dari uji ini adalah kuat tarik
batuan (t). Ada dua metode yang dapat dipergunakan untuk
mengetahui kuat tarik contoh batuan di laboratorium, yaitu metode
kuat tarik langsung dan metode kuat tarik tak langsung. Metode kuat
tarik tak langsung merupakan uji yang paling sering digunakan. Hal
ini disebabkan uji ini lebih mudah dan murah daripada uji kuat tarik
langsung. Salah satu uji kuat tarik tak langsung adalah Brazilian test.
44

Pada uji brazilian, kuat tarik batuan dapat ditentukan berdasarkan


persamaan:
t= 2.F
.D.L
Keterangan :
t = Kuat tarik batuan (MPa)
F = Gaya maksimum yang dapat ditahan batuan (KN)
D = Diameter contoh batuan (mm)
L = Tebal batuan (mm)
c) Uji Kekekalan agregat (Soundness Test)
Kekekalan agregat dapat diuji dengan menggunakan larutan
kimia untuk memeriksa reaksinya pada agregat. Agregat harus
memenuhi syarat seperti yang tercantum dalam SNI 0052-80 Mutu
dan Cara Uji Agregat. Syarat mutu untuk agregat normal adalah
sebagai berikut :
1. Agregar Halus, jika diuji dengan menggunakan larutan
Natrium Sulfat bagian yang hancur maksimum 10% dan jika
diuji dengan menggunakan Magnesium Sulfat (MgSO4)
bagian yang hancur maksimum 15 %.
2. Agregat Kasar, jika diuji dengan menggunakan larutan
Natrium Sulfat (NaSO4) bagian yang hancur maksimum
adalah 12 % dan jika diuji dengan menggunakan Magnesium
Sulfat (MgSO4) bagian yang hancur maksimum adalah 18 %.
Dapat dihitung dengan :
Kekekalan agregat = A-C X 100%
A
Keterangan :
A : Berat agregat sebelum uji
C : Berat agregat setelah uji
d) Uji Keausan Batuan Mesin Los Angeles

45

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat ketahanan


aus kerikil/batu pecah dengan menggunakan alat mesin Los Angeles.
Pengujian ketahanan aus kerikil dengan cara ini memberikan
gambaran yang berhubungan dengan kekerasan dan kekuatan kerikil,
serta kemungkinan terjadinya pecah butir-butir kerikil selama
penumpukan, pemindahan maupun selama pengangkutan. Nilai yang
diperoleh dari hasil pengujian ketahanan aus ini berupa prosentase
antara berat bagian yang halus (lewat lubang ayakan 2 mm) setelah
pengujian dan berat semula sebelum pengujian. Makin banyak yang
aus makin kurang tahan keausannya. Pada umumnya kerikil
disyaratkan bagian yang aus/hancur tidak lebih dari 10% setelah
diputar 10 kali, dan tidak boleh lebih dari 40% setelah diputar 100
kali. Mesin terdiri dari silinder baja tertutup pada kedua sisinya
dengan diameter 711 mm (28 inch), silinder bertumpu pada dua
poros pendek yang tak menerus dan berputar pada poros mendatar,
silinder berlubang untuk melakukan benda uji, penutup lubang
terpasang rapat sehingga permukaan dalam silinder tidak terganggu.
Di bagian dalam silinder terdapat bilah baja melintang penuh
setinggi 89 mm (3,5 inch). Saringan No.12 (1,7 mm) dan saringansaringan lainnya. Timbangan, dengan ketelitian 5 gram, bola-bola
baja dengan diameter rata-rata 4,68 cm (1 7/8 inch) dan berat
masing-masing antara 400 gram sampai 440 gram. Tata cara
pelaksannaannya adalah sebagai berikut :
1. Benda uji ditimbang sesuai
2. Kerikil/batu pecah dimasukkan ke dalam mesin Los Angeles
3. Bola baja dimasukkan ke dalam mesin Los Angeles dengan
jumlah sesuai tabel
4. Mesin diputar dengan kecepatan 30 sampai 33 rpm sebanyak
100 kali.
5. Bola baja dikeluarkan dari mesin Los Angeles.

46

6. Benda uji dikeluarkan dari mesin Los Angeles, kemudian


diayak memakai ayakan no. 12.
7. Kerikil yang tertinggal ditimbang di atas ayakan no 12.
8. Bola baja dan kerikil yang tertinggal di atas ayakan no 12
dimasukkan kembali ke dalam mesin Los Angeles.
9. Mesin Los Angeles diputar sebanyak 400 kali (jadi dengan
putaran pertama berjumlah 500 kali).
Perhitungan :
a-b
Keausan =

x 100 %
a

Keterangan :
a = berat benda uji semula gram
b = berat benda uji tertahan saringan no. 12 gram.
e) Uji triaxial
Tujuan utama uji triaksial adalah untuk menentukan kekuatan
batuan padakondisi pembebanan triaksial melalui persamaan kriteria
keruntuhan. Kriteria keruntuhan yang sering digunakan dalam
pengolahan data uji triaksial adalah criteria Mohr-Coulomb. Hasil
pengujian triaksial kemudian diplot kedalam kurva Mohr- Coulomb
sehingga dapat ditentukan parameter-parameter kekuatan batuan
sebagai berikut:
-

Strength envelope (kurva intrinsik)

Kuat geser (Shear strength)

Kohesi (C)

Sudut geser dalam ()

Pada pengujian triaksial, contoh batuan dimasukkan kedalam sel


triaksial, diberi tekanan pemampatan (3), dan dibebani secara aksial

47

(1), sampai runtuh. Pada uji ini, tegangan menengah dianggap sama
dengan tekanan pemampatan (3= 1).
Alat uji triaksial yang digunakan merupakan merujuk pada alat
triaksial yang dikembangkan oleh Von Karman pada tahun 1911. Di
dalam apparatus ini, tekanan fluida berfungsi sebagai tekanan
pemampatan (3 ) yang diberikan kepada contoh batuan. Fluida
dialirkan dengan menggunakan pompa hidraulik dan dijaga agar
selalu konstan.
3.4 Grouting
Grouting merupakan metode perbaikan tanah, batuan, beton, dan struktur
bangunan dengan cara menyuntikan slurry material dengan tekanan tertentu untuk
mengisi rekahan pada batuan, tanah, beton, struktur bangunan dan material sejenis
yang berfungsi untuk memadatkan dan memperbaiki kerusakan (Warner, 2004).
Material yang diinjeksikan ini selanjutnya dapat memadat dalam kurun waktu
tertentu. Pada prinsipnya, metode grouting menekankan pada upaya pengisian
pori dan meningkatkan daya dukung tanah.
Tercatat dalam Practical Handbook of Grouting, Warner (2004), sejarah
grouting dimulai pada tahun 1800-an, bahkan jauh sebelumnya. Pekerjaan ini
pada awalnya merupakan penginjeksian material cair hingga semi kental yang
umumnya berupa kapur, semen, atau lempung kedalam rekahan dan juga sebagai
pengikat batuan dasar pada konstruksi bendungan untuk mengurangi rembesan.
Untuk mengisi rekahan, material grouting harus mudah mengalir dan ukuran
maksimum partikelnya harus lebih kecil daripada pori diskontinuitasnya. Karena
pori pada tanah umumnya sangat kecil, injeksi partikel grouting saat itu jarang ada
yang berhasil, sehingga dikembangkan material grouting dari larutan kimia
dengan viskositas rendah yang dapat menembus butiran tanah dan mampu
mengeras.
Jeziorski (1887 dalam Warner, 2004) mematenkan formula berbahan dasar
sodium silikat untuk grouting pada batuan atau tanah dengan pori yang halus.
Namun material ini sangat reaktif dan cepat mengeras sehingga seringkali
materialnya mengeras di dalam pompa sebelum diinjeksikan ke dalam lubang bor.
48

Kemudian Hugo Joosten (1925 dalam warner 2004) mengembangkan two-shoot


sodium silicate based system untuk mengatasi masalah tersebut. Sama seperti
sebelumnya, sistem ini berbahan dasar sodium silikat yang diinjeksikan ke dalam
lubang bor kemudian diikuti dengan penginjeksian reaktan kalsium klorida sesaat
setelah sodium silikat diinjeksikan. Meskipun sistem ini digunakan hingga tahun
1960-an, kesulitan pencampuran kedua komponen ini membuat aplikasinya tidak
meluas. Pengetahuan terus berkembang, penambahan semen portland kemudian
ditemukan sebagai pelopor untuk penguatan tanah dan pengerasannya mampu
bertahan lama.
Pada masa sekarang, aplikasi grouting sudah jauh berkembang. Dari yang
awalnya hanya digunakan untuk mengontrol aliran air dan mengurangi rembesan
kini digunakan untuk meningkatkan daya dukung tanah, mengisi rongga dan celah
rekahan pada tanah atau sebagai fungsi pemadatan, dan memperbaiki kerusakan
struktur (Warner, 2004).
3.5 Bahan Grouting
Dalam pekerjaan grouting, bahan yang diinjeksikan ke dalam rekahan
dapat berupa material suspensi dan atau material kimiawi. Pemilihan bahan
grouting harus disesuaikan dengan tujuan perbaikan tanah, apakah untuk
menghentikan rembesan air, untuk memperbesar kekuatan tanah, atau
memperbaiki kerusakan. Selain itu, bahan-bahan yang akan digunakan juga harus
cocok dengan karakteristik tanah yang akan diinjeksi.
Material suspensi yang umum digunakan adalah semen, dan dalam kondisi
tertentu digunakan bentonit atau bahan sejenis sebagai tambahan. Bahan semen
yang digunakan adalah semen portland tipe I, II, atau III yang tidak mengandung
bahan lain dan memenuhi syarat ASTM C 150 (Warner, 2004). Sedangkan air
yang digunakan sebagai cairan pencampur, harus bebas dari unsur-unsur yang
dapat menurunkan kualitas campuran.
Perbandingan bahan grout untuk campuran pasta semen ditentukan
berdasarkan tujuan grouting dan kondisi batuannya. Umumnya perbandingan
antara semen dengan air adalah 1 : 10 sampai 1 : 1, pada retakan yang relatif besar
digunakan campuran semen dengan bentonit 1 : 0,5 bahkan kadang-kadang

49

digunakan mortar yaitu campuran semen dan pasir. Proporsi campuran semen dan
air dimulai dari 1 : 10 atau 1 : 8, apabila grouting memperlihatkan penyerapan
yang lebih besar dari 30L/menit dan berlangsung selama 20 menit, maka secara
berangsur campuran akan dikentalkan. Sebaliknya, jika tekanan injeksi tiba-tiba
naik atau jumlah volume grout masuk berkurang sangat banyak, maka campuran
diubah menjadi lebih encer.
3.5.1 Grouting semen
Grouting semen merupakan grouting yang dilakukan menggunakan
campuran semen dan air dengan perbandingan 1 : 10 sampai 1 : 1 dan akan
berubah mengikuti kondisi batuannya sendiri, salah satunya yaitu nilai
permeabilitas (Piu, 2005). Terkadang pada grouting semen dilakukan
penambahan bahan grout berupa tanah lempung atau pasir halus yang
disesuaikan dengan kondisi batuan.
Secara umum, grouting semen tidak dapat dilakukan pada tanah
dengan nilai koefisien permeabilitas (k) < 10-1 cm/detik, dan grouting
lempung tidak bisa dilakukan pada tanah dengan permeabilitas < 10-2
cm/detik, sehingga pada batuan berbutir halus digunakan material kimia
sebagai bahan grouting (gambar 3.5).
3.5.2 Grouting kimia
Grouting kimia merupakan grouting yang dilakukan dengan material
berupa campuran bahan kimia dengan air atau bahan kimia dengan cairan
bahan kimia lainnya (Piu, 2005). Grouting dengan bahan ini umumnya
digunakan untuk mengisi retakan yang halus atau pada butiran batuan yang
halus dengan tujuan untuk memperkecil nilai koefisien permeabilitas serta
meningkatkan kuat tekan batuan atau bangunan yang dilakukan grouting
(gambar 3.5).
Pada tanah atau batuan dengan k > 10 -2 cm/detik, cairan grout harus
mempunyai viskositas 10 centipois atau lebih, kecuali jika grouting
dilakukan dekat permukaan dengan tekanan grout yang rendah. Grouting
kimia dapat dilakukan pada tanah dengan nilai k sampai 10 -5 cm/detik
dengan hasil yang baik (Federal Highway Administration 1976 dalam

50

Warner 2004). Menurut Warner (2004) terdapat 4 sistem grouting kimia


yang dibedakan berdasarkan kegunaannya, yaitu :
a. Grout kimia untuk penguatan. Sistem ini menggunakan larutan
natrium silikat yang mempunyai koefisien permeabilitas lebih
kurang 5 x 10-4 cm/detik. Larutan ini dapat melakukan penetrasi
pada tanah pasir halus dengan ukuran butir 70 100 mikron dan
pasir yang mempunyai permeabilitas kurang dari 10-4 cm/detik.
b. Grout kimia untuk mengontrol air dan rembesan. Pada dasarnya,
bahan kimia yang digunakan untuk mengontrol air pada pekerjaan
grouting merupakan senyawa polimer yang beragam, namun hanya
satu yang umum digunakan yaitu acrylic polimer jenis acrylamide.
Sistem ini dapat dilakukan pada tanah dengan k > 10-5 cm/detik
atau lebih. Karena acrylamide memiliki viskositas 1,50 centipois
atau sama dengan viskositas air, acrylamide mudah dipenetrasikan
ke dalam lapisan pasir halus. Untuk hasil yang lebih baik,
sebaiknya larutan ini memiliki nilai pH antara 7 11. Meskipun
cairan ini mudah dipenetrasikan, penggunaannya harus sangat hatihati karena cairan ini beracun dan dapat menembus kulit.
grout injected under pressure
Soil
particles

soil mass
grout injected under pressure

Soil
particles

soil mass

51

Gambar 3.5 (a) Grouting dengan campuran semen dan bentonit (b)
grouting dengan bahan kimia (Piu, 2005)

c. Grout resin untuk menanggulangi struktur. Bahan kimia yang


digunakan sebagai material grout lainnya yaitu resin atau getah.
Bahan ini digunakan karena sifatnya yang lembut dan elastis pada
temperatur

tinggi

namun

kaku

dan

menjadi

brittle

saat

temperaturnya rendah. Material ini digunakan pada grouting


struktur dan juga sering digunakan pada grouting untuk
meningkatkan kekuatan batuan.
d. Bahan grout lain. Bahan grout lainnyayang juga digunakan pada
pekerjaan grouting yaitu aspal dan lempung. Aspal yang umumnya
digunakan untuk lantai dan paving di jalan juga dapat digunakan
sebagai material grouting. Meski sangat jarang digunakan, aspal
dalam grouting berfungsi untuk mengontrol aliran air pada
rembesan. Sedikit berbeda dengan aspal, material clay dalam
pekerjaan grouting cukup sering digunakan sebagai campuran pada
bahan semen. Clay yang umum digunakan berupa bentonit.
3.6 Tipe Grouting Berdasarkan Fungsinya
Menurut sejarah, awalnya hanya ada satu tipe grouting yang digunakan,
yaitu permeation grouting yang berfungsi mengisi pori untuk mengurangi
rembesan. Hal ini sesuai dengan pekerjaan grouting saat itu yang digunakan untuk
mengontrol aliran air dan mengurangi rembesan pada bendungan. Saat ini
pekerjaan telah berkembang pada penguatan tanah, sehingga berkembanglah tipetipe grouting yang lain seperti compaction, fracture, dan mixing (gambar 3.6).
Dengan ketersediaan pompa beton modern, grouting dapat digunakan
untuk menutup rongga-rongga besar seperti pada saluran pipa, tangki, dan
tambang tua, tipe ini kemudian umum dikenal sebagai fill grouting.
Perkembangan pengetahuan kemudian membawa grouting pada cara lain yang
semula menginjeksikan material bertekanan kini muncul tipe grouting yang tidak
membutuhkan tekanan atau dikenal sebagai vacuum grouting.

52

Secara singkatnya, terdapat 6 tipe grouting yang dibedakan berdasarkan


fungsinya menurut Warner 2004, yaitu :
3.6.1
Permeation grouting
Permeation grouting atau disebut juga sebagai grouting penembusan
merupakan tipe grouting yang pertama ditemukan dan merupakan teknik
grouting yang paling luas penggunaannya. Teknik ini meliputi pengisian
retakan, rekahan, atau kerusakan kecil lain pada batu, beton, dan struktur
bangunan, juga pengisian rongga pada pori tanah, dan media porus lainnya.
Tujuan dilakukannya permeation grouting ini adalah untuk mengisi rongga
atau ruang pori tanpa mengubah formasi, konfigurasi, maupun volume
rongga (Warner, 2004).
Kelebihan permeation grouting dibandingkan dengan teknik injeksi
lain yaitu grouting jenis ini dapat digunakan di semua media, baik tanah,
batuan, beton maupun struktur bangunan. Dalam aplikasinya, teknik ini
berguna

dalam

penguatan

formasi,

meningkatkan

kohesi

tanah,menghentikan aliran air, maupun kombinasinya.

Gambar 3.6 Tipe grouting dan fungsinya (Warner, 2004)

3.6.2

Compaction grouting
Grouting

ini

merupakan

tipe

injeksi

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan daya dukung tanah. Sesuai dengan namanya, compaction


grouting berfungsi untuk mengompakkan atau memadatkan tanah.
Mekanisme pekerjaannya yaitu dengan cara menginjeksikan material yang

53

sangat kental bahkan hampir kaku ke dalam tanah. Penginjeksian material


ini membutuhkan tekanan yang sangat tinggi, untuk kedalaman 1,5 - 3 m
saja dibutuhkan tekanan minimal 100 psi (Warner, 2004).
Material yang diinjeksikan ini kemudian akan mendorong fragmen dan
matriks pada tanah di sekitar tempat injeksi, sehingga porositas pada tanah
tersebut akan berkurang. Karena volume pori tanah berkurang, maka
permeabilitasnya juga akan berkurang dan daya dukung tanah meningkat.
Meski teknik grouting ini baik untuk mengurangi porositas dan nilai
permeabilitas, tipe grouting ini tidak dapat mengurangi rembesan karena
material grout hanya mendorong agregat pada tanah, bukan mengisi celah
atau lubang pori.
3.6.3

Fracture grouting
Tipe grouting ini memanfaatkan sifat rekah hidrolik pada tanah dengan

permeabilitas rendah. Teknik fracture grouting ini dilakukan dengan cara


menginjeksikanslurry material bertekanan tinggi melebihi kuat tekan tanah
sehingga material tanah pecah dan bahan grout dapat dengan cepat
menembus zona rekahan membentuk lensa-lensa yang saling berhubungan
(Warner, 2004). Pemanfaatan sifat rekah hidrolik ini bertujuan untuk
membentuk hubungan interkoneksi lensa grouting yang nantinya dapat
meningkatkan kembali kekuatan tanah.
3.6.4

Mixing/Jet grouting
Merupakan metode penginjeksian menggunakan alat yang disebut

sebagai jet monitor. Tipe grouting ini dilakukan dengan cara membuat
lubang bor berdiameter 4 inchi, kemudian dengan jet bertekanan tinggi
bahan grout diinjeksikan secara serentak bersamaan dengan air dan udara
dari dalam mesin jet tersebut ke dalam tanah yang dituju (Warner, 2004).
Kelebihan dari metode ini yaitu adanya monitor pada alat injeksi
sehingga dapat diketahui apakah bahan grout sudah masuk ke dalam celah
yang dituju atau belum. Selain itu, mixing atau jet grouting ini merupakan
tipe grouting yang pekerjaannya paling cepat, juga dapat digunakan pada
semua tipe tanah, serta dapat menginjeksi hingga kedalaman 60 m bahkan
54

lebih. Tipe grouting ini umum digunakan untuk penyemenan di sekeliling


tiang pondasi, mencegah dan mengurangi penurunan tanah, serta menahan
deformasi horizontal pada batuan (gambar 3.7).
3.6.5

Fill grouting
Tipe grouting ini berfungsi untuk menutup rekahan-rekahan besar,

baik rekahan alami maupun buatan seperti saluran pipa, tangki, maupun
bekas galian tambang. Untuk mencegah amblesan, rongga-rongga ini harus
ditutup. Pada zaman dahulu, penginjeksian ini dilakukan menggunakan
peralatan yang sama dengan alat grouting tipe lainnya, namun saat ini telah
berkembang menggunakan peralatan khusus dengan materialnya berupa
mortar.
3.6.6

Vacuum grouting
Pada umumnya, grouting dilakukan dengan menginjeksikan material

grout ke dalam tanah dengan tekanan tinggi. Akan tetapi cara ini kurang
efektif pada kondisi tertentu, oleh karena itu digunakan vakum untuk
menyedot material grout masuk ke dalam bagian yang rusak (Warner, 2004).
Caranya adalah bagian tanah, batuan, atau pondasi yang rusak diisolasi dari
tekanan barometrik terlebih dahulu, sehingga pada kondisi yang vakum,
material grouting akan tersedot dan tertarik ke dalam bagian yang rusak
tersebut (gambar 3.8).

Gambar 3.7 Perbedaan grouting biasa dengan jet grouting ( Warner, 2004)

55

Gambar 3.8 Peralatan vacuum grouting (Warner, 2004)

3.7 Metode Grouting


Berdasarkan metode pelaksanaannya,grouting dibagi menjadi 2 metode
injeksi, yaitu metode single stage grouting dan metode multi stage grouting.
Kemudian untuk multi stage grouting dibedakan lagi menjadi 4 metode yaitu
upstage grouting, downstage grouting, circuit grouting, dan multiple packer
sleeve port pipe atau MPSP. Perbedaan tiap-tiap metode pelaksanaan ini
didasarkan pada kondisi kerusakan dan jenis tanah, batuan, beton atau struktur
bangunan tempat kerusakan tersebut terjadi.
3.7.1
Single Stage Grouting
Pada metode single stage grouting, pemboran dilaksanakan sampai pada
kedalaman yang telah ditentukan, kemudian dilakukan injeksi bahan grout
yang dapat berupa semen ataupun bahan kimia (Warner, 2004). Injeksi
hanya dilakukan sekali dan mencakup seluruh kedalaman, dengan alat
packer yang dipasang di bagian atas lubang bor sebagai penutup lubang.
Penggunaan alat packer ini dimaksudkan untuk menutup lubang bor agar
bahan grout tidak kembali ke permukaan ketika diinjeksikan, sehingga
seluruh material grout dapat masuk ke dalam rekahan pada sisi-sisi lubang
bor tersebut.
3.7.2
Multi Stage Grouting
Berbeda dengan metode single stage grouting yang melakukan injeksi
sekali untuk seluruh kedalaman (Warner, 2004), metode multi stage grouting
melakukan injeksi secara bertahap.
a. Upstage grouting, Pada metode ini, pemboran dilaksanakan sampai
pada kedalaman yang telah ditentukan, kemudian dipasang alat
packer didalam lubang bor (gambar 3.9). Alat packer ini berfungsi

56

untuk menutup lubang bor agar bahan grout tidak kembali ke


permukaan ketika diinjeksikan, sehingga seluruh material suspensi
grouting dapat masuk ke dalam rekahan pada sisi-sisi lubang bor.
Kemudian dilakukan groutingstage demi stage mulai dasar lubang
bor menuju ke atas (Soedibyo, 2003; Warner, 2004).
b. Downstage grouting, Berlawanan dengan metode

upstage

grouting, metode ini melakukan proses injeksi dari atas ke bawah.


Pada pelaksanaan metode grouting ini, lubang yang akan di
grouting dipersiapkan terlebih dahulu dengan melakukan pemboran
tahap pertama, kemudian dilakukan pencucian lubang bor hingga
kondisi lubang bor cukup bersih. Kemudian dilakukan grouting
sepanjang lubang bor dengan kedalaman sesuai stage pertama
tersebut. Setelah pelaksanaan stage pertama selesai, tekanan
dibiarkan konstan untuk beberapa saat hingga bahan grout masuk
ke dalam rekahan tanah atau batuan (gambar 3.10). Setelah bahan
grout pada stage pertama telah mengisi rekahan, pemboran
dilanjutkan kembali pada stage selanjutnya (Soedibyo, 2003).

Gambar 3.9 Upstage grouting (Soedibyo, 2003)

57

Gambar 3.10 Downstage grouting (Soedibyo, 2003)

c. Circuit grouting, Metode ini digunakan ketika batuan tempat


pelaksanaan grouting mudah sekali hancur dan rentan mengalami
gerak massa batuan. Tahap pekerjaannya dimulai dengan
melakukan pemboran pada bagian yang akan dilakukan injeksi,
kemudian dimasukan alat circuit grouting dan dilakukan injeksi
material. Material grout akan mengalir dari anulus menuju rekahan
pada sisi-sisi lubang bor, sisa materialnya kemudian akan naik ke
atas dan mengalir menuju tempat penampung bersama dengan
cutting yang terangkat. Sirkulasi ini berlangsung terus hingga
semua rekahan tertutup material grout. Ketika semua rekahan telah
tertutup, dilanjutkan pemboran tahap selanjutnya sesuai dengan
interval kedalaman yang telah ditentukan dan dilakukan proses
injeksi yang sama (gambar 3.11). Setelah semua kedalaman
dilakukan grouting, tahap terakhir yaitu dilakukan penginjeksian
material grout untuk menutup lubang bor (Warner, 2004).
d. Multiple Packer Sleeve Port Pipe, Metode ini merupakan metode
yang paling baru jika dibandingkan dengan metode grouting
lainnya. Metode ini umum dilaksanakan pada daerah dengan gerak
massa batuan aktif atau pada batuan fragmental dengan kondisi
terdapat banyak rekahan. Tahap pelaksanaannya dimulai dengan
melakukan pemboran hingga seluruh kedalaman dan dilakukan
pemasangan casing untuk mencegah keruntuhan. Setelah alat bor
58

diangkat, dimasukkan alat berupa sleeve port pipe dimana pada alat
tersebut terdapat kantong-kantong di bagian kanan dan kirinya.
Setelah alat terpasang kemudian casing diangkat dari dalam lubang
bor. Kantong-kantong yang terdapat pada alat ini kemudian
dipompa dan akan mengembang yang berguna sebagai pemisah
antara stage (Warner, 2004).

Gambar 3.11 Circuit grouting (Warner, 2004)

3.8 Grouting pada tanah dan batuan


Dalam teknik injeksi, terdapat banyak perbedaan antara grouting pada
tanah dan grouting pada batuan. Pertambahan beban pada zona yang sedang
diinjeksi merupakan hal mendasar dan sangat penting pada grouting tanah, namun
hal ini jarang diperhatikan pada batuan. Hal ini dikarenakan sifat batuan yang
keras sehingga kemampuannya menahan beban lebih besar daripada tanah pada
kedalaman yang sama. Selain itu, dari kuantitas material grout yang diinjeksikan
juga terdapat perbedaan, dimana kuantitas material grout yang diinjeksikan pada
tanah cenderung lebih banyak dibandingkan batuan pada kondisi yang sama
(Warner, 2004; Piu, 2005).
Grouting pada batuan selalu berkaitan dengan pengisian rongga atau
rekahan yang besar, sehingga tipe grouting yang dapat digunakan hanya
permeation grouting dan fill grouting yang mana keduanya berfungsi sebagai
pengisian rongga atau ruang (Warner, 2004; Piu, 2005). Lain halnya dengan tanah,
untuk grouting pada tanah terdapat beberapa tipe injeksi yang memiliki fungsi

59

berbeda-beda. Tipe grouting yang dapat dilakukan pada tanah yaitu permeation
grouting, compaction grouting, fracture grouting, vacuum grouting dan mixing/jet
grouting (Warner, 2004).
Jadi, dalam pelaksanaan grouting sangat penting untuk memilih tipe
penginjeksian yang akan digunakan, yang mana hal ini berkaitan dengan hasil
yang akan dituju nantinya. Dalam bidang industri, umumnya digunakan gabungan
dua atau lebih tipe injeksi untuk memberikan hasil yang lebih maksimal. Dengan
catatan waktu dan biaya yang dikeluarkan lebih besar.
3.9 Tahap Pelaksanaan Grouting
Pada pekerjaan grouting, sebelum dilakukan penginjeksian terlebih dahulu
dilakukan penyelidikan awal untuk mengetahui dengan lebih pasti faktor
penyebab dari retakan, rekahan, penurunan, longsoran, maupun kerusakan sejenis.
Informasi awal yang sangat dibutuhkan yaitu jenis litologi atau tanah serta pola
penyebarannya, nilai kekuatan batuan atau tanah, nilai permeabilitas serta nilai
porositas.
3.9.1 Penyelidikan awal
Sebelum menentukan titik yang akan dilakukan grouting dan kedalaman
injeksi, terlebih dahulu dilakukan penyelidikan awal. Hal ini berfungsi untuk
mengetahui lapisan mana yang harus diinjeksi, penentuan jumlah dan jarak
titik, penentuan kedalaman, serta metode dan tipe injeksi yang sesuai. Salah
satu cara untuk menentukan titik-titik grouting yaitu menggunakan uji
sondir, pengujian nilai SPT dan survey geolistrik.
Penyelidikan awal yang juga tidak memerlukan adanya pemboran yaitu
dengan melakukan geolistrik. Melalui metode ini akan didapatkan nilai
resistivitas dari lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan, kemudian
dilakukan interpetasi mengenai jenis litologi dan pola penyebaran retakan
atau keterdapatan rembesan dari anomali nilai resistivitas.
Dalam Jayanti (2011) metode geolistrik ini pernah dilakukan pada
waduk Cengklik, Boyolali untuk mengetahui zona rembesan pada tubuh
bendungan dan penentuan titik grouting untuk mengatasi rembesan tersebut.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, penyelidikan awal biasanya
dilakukan dengan cara pemboran coring. Metode pelaksanaan pekerjaan SPT

60

dapat mengacu pada SNI 03-4153-1996. Nilai SPT ini akan menggambarkan

tingkat kepadatan atau kekerasan lapisan tanah pada kedalaman yang diuji.
Cara pengujiannya yaitu dengan menggunakan alat split spoon yang
disambung dengan stang bor sampai ke dasar lubang bor kemudian
rangkaian ini dijatuhkan hammer dengan berat 63 kg dan tinggi jatuh 75 cm.
Sesudah pemukulan awal sedalam 15 cm, jumlah pukulan untuk setiap
penurunan split barrel sampler sebesar 30,5 cm (1 ft) dihitung. Nilai N
didefinisikan sebagai jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk penetrasi
silinder split barrel sampler sedalam 30,5 cm pada setiap pengujian.
3.9.2

Penentuan titik grouting


Penentuan titik grouting di lapangan berpatokan pada hasil penyelidikan
awal yang sebelumnya telah dilakukan oleh tenaga ahli. Jarak antar titik
grouting dan kedalaman penginjeksian juga dibuat berdasarkan penyelidikan
lapangan terlebih dahulu dan disesuaikan dengan kebutuhan (gambar 3.12).
Menurut Houlsby (1983) grouting pada daerah bendungan memiliki
posisi dan pola tersendiri dimana dibagi menjadi:
a. grouting tirai
b. grouting blanket
c. grouting konsolidasi
d. grouting kontak
Posisi grouting ini ditentukan berdasarkan jenis fungsinya, jarak antar
posisi grouting berkisar 6-12 m tetapi dapat disesuaikan dengan kondisi
geologi daerah tersebut (Mistry, 1965). Pelaksanaan grouting juga dengan
melihat posisi lubang grout tersebut apakah primer, sekunder maupun tersier
(gambar 3.13)

61

Gambar 3.12 Skema titik grouting (Suprapto, 2011)

Gambar 3.13 posisi dan pola grouting (Departemen PU, 2005)

3.9.3

Pemboran
Pengeboran

adalah

suatu

proses

pembuatan

lubang

vertikal/

miring/horisontal pada tanah/batuan dengan atau tanpa menggunakan alat/mesin


untuk keperluan deskripsi tanah/batuan, biasanya dapat dilakukan bersamasama dengan uji lapangan dan pengambilan contoh tanah/batuan ( FHWA NHI01-031). Pada pekerjaan grouting, terdapat dua macam pemboran yaitu

pemboran dengan pengambilan sample core dan pemboran tanpa sample


core. Pada pemboran tanpa coring, diameter lubang bor yang dibuat sebesar
46 mm dan untuk pemboran dengan coring, diameter lubang bor lebih besar

62

yaitu 76 mm. Selain itu, pada pemboran dengan coring digunakan mesin
khusus dengan penggerak hidrolik (gambar 3.14).
3.9.4

Uji Lugeon
Uji lugeon bertujuan untuk mengetahui nilai lugeon dari batuan. Nilai
lugeon merupakan suatu angka yang menunjukkan berapa liter air yang
dapat merembes ke dalam formasi batuan sepanjang beberapa satuan meter
(sesuai yang diinginkan) selama satu menit dengan tekanan standar 10 Bar
atau 10 kg/cm2 (Naudts dkk, 2003)
Nilai lugeon ini kemudian digunakan untuk menentukan perbandingan
campuran semen dan air serta volume material yang dapat diinjeksikan
kedalam batuan atau tanah tersebut (Warner, 2004; Udiana, 2013). Menurut
SNI 03-2393-1991 campuran material semen untuk grout disesuaikan
dengan nilai lugeon dari hasil uji permeabilitas (tabel 3.23).
Tabel 3.23 Hubungan nilai Lugeon dan rasio material grout (SNI 032393-1991)
Nilai Lugeon
Lu<5
5<Lu<10
Lu>10

Campuran Awal Injeksi


1:6
1:4
1:2

Perubahan Campuran Berikutnya


( 1 : 4 ), ( 1 : 2 ), ( 1 : 1 )
( 1 : 2 ), ( 1 : 1 )
(1:1)

b.

3.9.5

Pelaksanaan grouting
Ketika lubang bor sudah dibuat dan dibersihkan serta material grout
telah tersedia, injeksi dapat langsung dilakukan. Pada praktiknya, semua
pekerjaan ini dapat dilakukan sekaligus, dimana saat pemboran hampir
mencapai titik yang diinginkan, sudah dapat langsung dilakukan
pencampuran material grout pada grout mixer untuk menghemat waktu
pekerjaan.
Jika terdapat rekahan yang menerus, penggunaan packer pada bagian
atas rekahan yang sedang dilakukan grouting sangat penting. Packer ini
berfungsi untuk menahan material grout agar tidak kembali ke permukaan
ketika diinjeksikan, sehingga seluruh material grout dapat masuk ke dalam
rekahan pada sisi-sisi lubang bor (gambar 3.15).

63

Gambar 3.14 Peralatan pemboran untuk pekerjaan grouting (Warner, 2004)

Gambar 3.15 Pemberian tanda pada lubang bor yang sudah dilakukan grouting
(Warner, 2004)

BAB IV
PELAKSANAAN KERJA PRAKTIK
4.1 Bidang Pekerjaan
Pekerjaan yang dilakukan pada saat kerja praktik di CV. Tirta Pertiwi yaitu
berupa penyelidikan geoteknik berupa pemboran inti, water pressure test dan
grouting. Pekerjaan yang diikuti oleh mahasiswa pada saat pelaksanaan kerja
praktik berada di daerah Kali Logung, Kabupaten Kudus, Povinsi Jawa Tengah.

64

Pekerjaan geoteknik pada daerah ini berupa pemboran inti, uji tekanan air sebagai
parameter awal untuk pelaksanaan grouting.
4.2 Peralatan Pekerjaan
Dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, hal utama yang harus diketahui selain
prosedur pelaksanaan adalah peralatan yang digunakan. Pentingnya mengetahui
peralatan pada suatu pekerjaan adalah untuk mempermudah pelaksanaan proses
pekerjaan. Kemudian, peralatan tersebut haruslah memenuhi standar yang telah
ditetapkan, dengan demikian resiko terjadinya kecelakaan pada saat proses
pengerjaan dapat dikurangi. Berikut adalah penjelasan tentang alat yang
digunakan pada pekerjaan pemboran inti dan uji pemadatan lapangan :
4.2.1

Peralatan Pemboran Inti

Pemboran inti pada lokasi proyek dimaksudkan untuk mengetahui


kondisi bawah permukaan, hasil dari pemboran inti ini adalah berupa core
atau inti bor yang hasil tersebut digunakan untuk analisis laboratorium.
Adapun peralatan yang digunakan untuk pemboran inti diantaranya :
pompa air, mesin bor, tripod, katrol, casing, selang air, tabung penginti,
mata bor, dan kunci inggris. Berikut penjelasan tentang alat dan fungsi yang
diperlukan sebagai berikut :
a. Pompa Air
Pompa air (gambar 4.2) ini digunakan untuk memompa air
dengan tekanan tertentu, untuk mendinginkan mata bor, membantu
memasukan casing serta membantu

mengangkat material hasil

pemboran ke permukaan. Pada pekerjaan si bendungan logung ini air


yang digunakan berasal dari aliran Sungai Logung dekat dengan lokasi
pemboran. Pompa yang digunakan adalah pompa jenis dorong 3 klep
dengan merek dagang sanchin.
b. Mesin Bor
Mesin bor (gambar 4.3) yang digunakan adalah mesin bor dengan
sistem hidraulik untuk mengangkat serta memberi daya dorong ke bawah
mata bor, dan tabung penginti ke dalam lubang bor, untuk tenaga putar

65

dari mesin bor ini diperoleh dari mesin diesel. Mesin bor yang
digunakan adalah jackro-200 cc.

c.

Katrol
Katrol ini digunakan untuk menarik casing serta mata bor dan

tabung penginti ke atas permukaan tanah. Fungsi dari penggunaan katrol


disini adalah tenaga mesin untuk menarik atau mengangkat alat-alat
tersebut kepermukaan menjadi lebih ringan kerjanya dan penarikan
casing serta mata bor dan tabung penginti menjadi lebih mudah.

Gambar 4.2 Pompa air merek dagang sanchin dengan 3 klep untuk
memompa air

66

Gambar 4.3 Mesin bor hidraulik jackro-200 untuk pemboran inti dan
lubang terbuka

d. Pipa Bor
Pipa bor (gambar 4.4) merupakan pipa dengan bahan besi yang
berfungsi untuk perantara mesin bor dengan drilling bit. Pipa bor juga
berfungsi sebagai saluran masuk fluida pemboran untuk mendinginkan
mata bor dan mengangkat material hasil pemboran., pipa bor memiliki
panjang 0.5-3 m dan maksimum 3m.

Gambar 4.4 Pipa bor dengan diameter bervariasi

67

e. Casing
Casing dikenal juga dengan nama pipa pelindung, berfungsi
sebagai pelindung lubang bor yang membuat air tidak masuk ke dalam
formasi, memperlancar keluar masuknya rangkaian bor, serta melindungi
lubang bor jika terjadi caving. Pipa pelindung memiliki panjang 0.5-2.5
m dan maksimum 3m. Pahat casing diletakkan pada ujung rangkaian
casing untuk memasukkan casing ke dalam lubang bor.
Casing memiliki diameter yang berbeda, yang digunakan pada
pemboran geoteknik umumnya adalah tipe Nx dengan ukuran diameter
luar 89 mm, drilling bit yang digunakan dengan diameter luar 75mm dan
diameter dalam 55mm.
f. Selang Air
Selang air (Gambar 4.5) ini pada pemboran inti digunakan untuk
menyalurkan air dari bak penampungan menuju lubang bor atau juga
digunakan untuk mendorong sample tanah atau batuan supaya mudah
keluar dari tabung penginti.

Gambar 4.5 selang air yang digunakan pada mesin bor (panah merah)

g. Tabung Penginti
Tabung penginti berfungsi untuk mengambil inti batuan (core)
pada saat pekerjaan. Tabung penginti (Gambar 4.6) yang digunakan
adalah triple core barrel (tiga tabung dengan panjang 1.5 m).
68

Gambar 4.6 tabung penginti atau triple core barrel

h. Mata Bor
Mata bor berfungsi untuk membuat lubang dengan cepat. Mata bor
yang digunakan pada pekerjaan ini adalah drill bit (gambar 4.7 a) untuk
membuat lubang saja dengan mata tungsten dan coring bit (gambar 4.7
b) yang berfungsi untuk mengambil inti batuan dengan mata diamond.

a.

b.

Gambar 4.7 a) mata bor untuk membuat lubang dengan mata tungsten b)
mata bor untuk mengambil sampel dengan mata diamond

i. Kunci Pipa
Kunci pipa (Gambar 4.8) berfungsi untuk menyambung dan
membuka pipa atau casing serta menahan pipa agar tidak lolos kedalam
tanah.
j. Kotak Sampel Inti (Core Box)
Kotak sampel (gambar 4.9) merupakan kotak yang berfungsi untuk
menyimpan sampel dari hasil pemboran inti. Kotak sampel berukuran 1

69

m x 0.5 m dengan dibuat 5 sekat yang berfungsi menyimpan sampel


setiap 1 m dalam setiap sekat dan total 5 m sampel dalam 1 kotak sampel

Gambar 4.8 kunci pipa untuk membuka pipa dan menahan pipa (panah
merah)

Gambar 4.9 kotak sampel (core box) untuk menyimpan sampel dengan 5
sekat, menyimpan 5 m sampel setiap 1 kotak

4.2.2

Peralatan pekerjaan grouting

Grouting atau injeksi pada lokasi proyek dimaksudkan untuk membuat


pondasi bawah permukaan dari as bendungan (main dam) agar
memperkokoh bendungan dan mencegah terjadinya kebocoran.
Adapun peralatan yang digunakan untuk pekerjaan grouting sesuai
dengan panduan pelaksanaan grouting oleh Departemen Pekerjaan Umum
(2005) adalah mixer, hopper, pompa grout, meteran air, karet penyekat,

70

selang, dan pipa dengan katup. Berikut penjelasan tentang alat dan fungsi
yang diperlukan sebagai berikut :
a.

Mixer
Mixer merupakan alat dengan bentuk tabung dan kerucut pada
bagian bawah yang berfungsi untuk mencampur material yang akan
digrout dengan air seperti semen. Jumlah dan perbandingan semen dan
air disesuaikan dengan nilai Lugeon sesuai SNI 03-2393-1991.

Mixer
Hopper

Gambar 4.10 alat pencampur material grout atau mixer (panah kuning)
dan hopper untuk menampung dan menghitung jumlah grout (panah
merah)

b.

Hopper
Hopper (gambar 4.10) merupakan alat dengan bentuk kerucut
dengan diameter 59 cm dan tinggi 38 cm yang berfungsi untuk
menampung material grout dari mixer sebelum dialirkan ke dalam
lubang. Hopper juga berfungsi untuk menghitung jumlah volume
material grout yang masuk dengan melihat penurunan material grout di
dalam hopper.

c.

Pompa Grout
Pompa grout (gambar 4.11) merupaka alat yang berfungsi untuk
meneyedot material grout dari hopper dan mendorongnya menuju ke
dalam lubang grout dalam tekanan tertentu. Pompa grout ini merupakan
mesin dengan tenaga diesel dengan sistem hidraulik 4 klep.

71

Gambar 4.11 pompa grout untuk mendorong material grout

d.

Pressure Gauge
Pressure gauge (gambar 4.12) merupakan alat dengan bentuk
lingkaran yang berfungsi untuk mengukur tekanan aliran fluida ataupun
material grout di dalam selang untuk dialirkan ke dalam lubang.

Gambar 4.12 pressure gauge untuk mengukur tekanan fluida di dalam


selang

e.

Meteran Debit Air/ Flow Meter


Meteran debit air (gambar 4.13) merupakan alat yang berfungsi
untuk menghitung jumlah debit air yang masuk ke dalam lubang. Alat ini
berfungsi dalam pengerjaan Water Pressure Test untuk melihat debit per
menit air yang masuk sebagai dasar penentuan nilai Lugeon.

72

Gambar 4.13 meteran debit air/flow meter untuk menghitung debit air per
menit

f.

Karet penyekat
Karet penyekat atau disebut dengan packer (gambar 4.13)
merupakan alat yang berfungsi untuk menyekat atau menutup lubang bor
saat dilakukan grouting sehingga material grouting masuk pada stage
yang direncanakan tidak naik ke permukaan. Karet penyekat yag

g.

digunakan merupakan karet penyekat mekanis atau expansion packer.


Pipa dengan katup
Pipa dengan katup (gambar 4.14) merupakan pipa besi dengan alat
pengatur buka tutup untuk mengatur volume fluida yang masuk jika

h.

ingin dimasukkan dan ditutup saat ingin berhenti.


Selang
Selang (gambar 4.15) merupakan alat dengan bahan karet
berbentuk silinder yang berguna untuk mengalirkan material grout dari

i.

hopper menuju ke dalam lubang grout.


Stopwatch
Stopwatch merupakan alat untuk menghitung jumlah waktu
material grout dan air yang masuk ke dalam lubang grout.

4.3 Pelaksanaan Pekerjaan


Kedua pekerjaan selama kerja praktek dilaksanakan di lapangan pada tempat
yang sama yaitu pada wilayah Bendungan Logung, Kabupaten Kudus dengan
tujuan yang saling mendukung satu sama lain, adapun penjelasannya sebagai
berikut :

73

Gambar 4.14 pipa dengan katup/keran (kotak merah) dan karet penyekat
(kotak kuning)

4.3.1

Pemboran
Pemboran dilakukan pada ribuan titik bor yang telah ditentukan titik

bor nya (gambar 4.16) dengan tujuan yang berbeda-beda. Terdapat


pemboran yang hanya membuat lubang untuk jalur grout (open hole),
pemboran inti untuk melihat sampel dan persebaran grout, maupun
pemboran untuk kontrol grout (pilot hole) namun mahasiswa kerja praktik
hanya mengikuti pemboran di beberapa titik saja untuk open hole dan core
sampling pada titik check hole.
Tujuan dari pemboran ini adalah untuk mendapatkan lubang untuk
jalur grout, inti bor (core) yang kemudian akan digunakan untuk berbagai
macam uji geoteknik, diantaranya tingkat kekuatan tanah, jenis litologi
bawah permukaan, permeabilitas, plastisitas, dan lain-lain.

Gambar 4.15 selang untuk memasukkan material grout ke dalam lubang

4.3.2 Grouting
Grouting dilakukan pada ribuan titik grout yang telah ditentukan pola
nya yaitu grouting curtain, sub curtain, dan blanket pada bagian luar dan
dalam bendung atau upstream dan downstream sehingga grouting terdiri dari
8 baris (2 baris blanket, sub-curtain, curtain pada bagian dalam (upstream)
dan curtain, sub-curtain, 2 baris blanket pada bagian luar (downstream))
dengan spasi antar titik grout 1,5 m sepanjang jalur main dam yaitu 360 m.
Grouting dilakukan pada kedalaman yang bervariasi sesuai dengan pola nya.
Grouting curtain dengan kedalaman 30 m, grouting sub curtain dengan
74

kedalaman 15 m, dan grouting blanket dengan kedalaman 5 m. mahasiswa


hanya melakukan grouting pada beberapa titik karena keterbatasan waktu
yang dimiliki.
4.4 Deskripsi Pekerjaan
Pekerjaan yang dilakukan selama mahasiswa berupa pengamatan kegiatan
pemboran dan grouting. Kedua kegiatan tersebut dilakukan secara sistematis dan
berurutan. Berikut adalah penjelasan kegiatan tersebut :
4.4.1 Pemboran
Pekerjaan pemboran dilakukan melalui beberapa tahapan pekerjaan.
Tahapan-tahapan tersebut adalah :
a. Persiapan-mobilisasi alat dimana segala macam alat yang
digunakan dalam pemboran dibawa ke lokasi pemboran, alatalat tersebut diantaranya berupa katrol, mesin bor, mesin diesel,
pompa air, dan segala peralatan pendukung lainnya.
b. Perangkaian alat bor, kegiatan ini meliputi pemasangan atribut
mesin bor, menentukan sumber air yang akan digunakan dan
memasang rangkaian mesin pompa.
c. Dilakukan pengeboran inti sesuai dengan pola dan titik yang
telah ditentukan (gambar 4.17) untuk mendapatkan inti bor
pada kedalaman 0-1 m, kemudian dilakukan pengeboran untuk
memasang casing agar dinding lubang pengeboran tidak
mengalami keruntuhan dan merusak (mengotori, mencampuri)
hasil bor inti yang didapatkan. Setelah dilakukan proses
pemasangan
pengeboran

casing
inti

kemudian

kembali

untuk

dilanjutkan

lagi

mendapatkan

dengan
bor

inti

kedalaman 1-2 m. Proses tersebut terus berulang hingga dicapai


kedalaman yang diinginkan, dan pada daerah ini pengeboran
dilakukan hingga kedalaman 5-35 m tergantung titik dan jenis
grouting. Kedalaman 5 m untuk blanket, 15 m untuk sub
curtain, 30 m untuk curtain, dan 35 m untuk sampling pada

75

check hole. Untuk konduit/terowongan ditambah 2,2 m karena


ketebalan beton dari terowongan 2,2 m.
d. Pada kebanyakan titik tidak dilakukan kegiatan pemboran inti,
hanya pemboran open hole. Oleh karena itu tahapan yang
dikerjakan sama dengan tahap c tetapi tidak dilakukan
pengambilan sampel, selama kegiatan pemboran lubang bor
dicuci dengan fluida pemboran
Hasil dari pengeboran inti ini berupa sample tanah dan batuan
berbentuk silinder sesuai dengan bentuk tabung penginti. Sample tadi
kemudian disusun sesuai dengan tingkat kedalamannya masing-masing
pada kotak-kotak sampel (Gambar 4.16), hasil dari bor inti ini kemudian
dibawa ke laboratorium untuk di uji lebih lanjut. Untuk hasil deskripsi
dapat dilihat pada Lampiran bore log. Pada lembar deskripsi bore log
tersebut memuat data hasil pengeboran seperti kedalaman, ketebalan
sample, jenis batuan, deskripsi sample, serta hasil uji SPT di lapangan.
4.4.2 Grouting
Pekerjaan grouting memiliki banyak tahap yang harus dilakukan, tahapan
tersebut dimaksudkan agar grouting yang dilakukan sesuai dengan rencana dan
kondisi geologi wilayah tersebut. Tahapan-tahapan tersebut adalah :
a. Tahap persiapan, perakitan alat grouting, mixer diletakkan di tempat
kontrol bersamaan dengan hopper dan pompa grout. Pemasangan selang
untuk menyalurkan semen dari sistem kontrol ke pipa grout berkatup dan
penyekat karet yang memiliki katup dan pressure gauge untuk mengatur
tekanan. Pemasangan sistem air dari sumber air ke pompa air, lalu dari
pompa air ke selang air yang telah dipasang pressure gauge, katup, dan
volume meter.
b. Hubungkan sistem air dengan pipa grout berpenyekat karet ke dalam titik
grout yang direncanakan untuk melakukan Water Pressure Test sehingga
didapatkan nilai Lugeon sebagai dasar campuran material grout.
c. Pemilihan titik grout sesuai dengan pola, jarak antar titik grout yang
digunakan adalah 1.5 m dengan sistem tersier. Grouting yang dilakukan

76

harus menyelesaikan pola blanket, kemudian sub curtain, lalu terakhir


curtain (Lampiran 3 dan gambar 4.18)
d. Tentukan kedalaman yang hendak dilakukan grouting, grouting dilakukan
pada interval 5 meter dengan metode upstage sehinggalubang bor harus
sudah ada sebelum grouting dimulai, dan grouting dimulai dari kedalaman
paling bawah setinggi 5 meter kemudian naik dengan interval 5 meter
begitu seterusnya. Pada lokasi ini grouting dilakukan berurutan dari
kedalaman 30-25 m kemudian 25-20 m begitu seterusnya hingga 0-5 m.
e. Water Pressure Test dilakukan dengan mengalirkan air bertekanan tertentu
ke dalam titik grout, tekanan diatur dengan mengatur katup pada selang
pressure gauge dan nilai tekanan dibaca pada pressure gauge. Tekanan
yang digunakan bervariasi dari 0,5-4,5 kg/cm2 tergantung dari elevasi dan
kedalaman. Kemudian debit air dihitung per menit selama 5 menit untuk
didapatkan nilai debit keseluruhan, dan dilakukan perhitungan sesuai
rumus Lugeon (Lampiran Water Pressure Test)
f. Setelah didapatkan nilai Lugeon kemudian dilakukan pencampuran semen
dengan air dengan rasio yang disesuaikan nilai Lugeon seperti pada
ketetapan SNI 03-2393-1991 , tetapi terdapat perubahan sesuai keinginan
Departemen PU (2005) campuran air : semen = 1:6 diganti menjadi 1:5
g. Kemudian semen dicampur dengan air sesuai rasio yang ditetapkan di
dalam mixer, semen dari mixer diturunkan ke dalam hopper lalu dialirkan
ke dalam lubang grout dengan bantuan pompa grout dengan tekanan
tertentu yang diatur dengan mengatur katup pada selang dan membaca
nilai tekanan pada pressure gauge. Tekanan yang digunakan bervariasi
0.5-4.5 kg/cm2
h. Semen yang masuk ke dalam titik grout dicatat volume nya dengan
membaca penurunan ketinggian hopper setiap 10 menit yang dihitung
menggunakan stopwatch (Lampiran Grouting Record).
i. Grouting berhenti saat semen pada hopper tidak berkurang dalam hitungan
10 menit, yang menandakan bahwa lubang grout telah penuh dan jenuh
oleh fluida.

77

j. Tunggu semen pada interval kedalaman tersebut hingga kering dengan


waktu berkisar 4 jam, kemudian angkat pipa grout penyekat karet ke atas
setinggi 5 meter dari kedalaman sebelumnya
k. Ulangi hal tersebut hingga grouting telah menyentuh 0 meter.
l. Pindahkan selang ke pipa grout pada titik lain dan tahapan tersebut terus
dilakukan.

Gambar 4.16 Sample pemboran inti ditempatkan di dalam kotak

Gambar 4.17 pola dan titik grouting pada Bendungan Logung

78

Gambar 4.18 penampang melintang posisi titik grouting pada as Bendungan


Logung

4.5 Hasil Pekerjaan


Dari pelaksaan kerja praktik yang mahasiswa lakukan selama 30 hari di
wilayah pembangunan Bendungan Logung, didapatkan beberapa hasil sesuai
dengan bidang pekerjaan yang dilakukan. Dari hasil pemboran inti pada titik CH1 dengan total kedalaman pemboran 35 m (lampiran 5) diketahui batuan penyusun
wilayah Bendungan Logung dominan oleh endapan hasil vulkanisme gunung api
yang diperkirakan merupakan endapan Gunung Patiayam menurut Sumiyati
(1992). Pada bagian kedalaman 0-11 meter didominasi oleh batupasir dengan
material tuff yang dominan dan masih dalam keadaan lepas (unconsolidated)
padat (consolidated) dengan sisipan lapilli dan nilai Lugeon pada interval
kedalaman ini juga yang memiliki nilai paling tinggi yaitu 21,36 pada kedalaman
0-5 meter dan 29,42 pada kedalaman 5-10 meter. Pada kedalaman seterusnya
litologi yang ditemukan masih memiliki karakter yang sama berupa batupasir
tuffaan dengan sisipan lapilli tetapi memiliki nilai Lugeon yang cenderung kecil
yaitu berkisar 2,79 5,8.
Dari pengukuran water pressure test sebelum dilakukan grouting didapati
gambaran permeabilitas batuan bawah permukaan pada bagian main dam dari

79

Bendungan Logung dalam bentuk Lugeon (Tabel 4.1). Pada blok 23-24 yang
merupakan conduit atau terowongan memiliki nilai Lugeon berkisar 0,79 51,24.
Nilai Lugeon terendah terdapat pada titik C1.1 yaitu 0,79, walaupun nilai Lugeon
<5 tetap dilakukan grouting karena merupakan kontak beton terowongan dengan
batuan. Nilai Lugeon tertinggi yaitu pada titik C1.6 sebesar 51,24 dilakukan
grouting dengan campuran air : semen = 1:5 menghabiskan 182,24 Kg semen
selama 50 menit waktu injeksi. Jumlah semen terbanyak yang diinjeksi pada titik
C1.4 yaitu sebanyak 232,66 Kg semen. Berikut adalah data lengkapnya :
Tabel 4.1 Nilai Lugeon dan Jumlah semen grout yang dilakukan pekerjaan
Titik Grouting

Nilai Lugeon

Jumlah Semen

Waktu Grouting

C1.1
C1.2
C1.3
C1.4
C1.5
C1.6
C1.7
C1.8
C1.9
C1.10

0,79
3,62
1,34
16,19
4,5
51,24
23,25
4,59
4,59
5,64

Diinjeksi (Kg)
7,67
18,98
9,23
232,66
12,58
182,24
65,01
20,52
18,27
21,39

(menit)
40
60
40
140
50
50
80
60
50
50

4.6 Evaluasi Pekerjaan


Pelaksanaan pekerjaan pemboran dan grouting secara keseluruhan dapat
berjalan baik, tetapi terdapat beberapa kendala yang cukup menghambat jalannya
pekerjaan. Dalam kegiatan pemboran tidak keseluruhan sampel inti batuan dapat
terambil atau disebut core loss, hal ini dikarenakan karakter batuan yan cenderung
berupa pasir lepas (Lampiran log pemboran) dan kegiatan pemboran yang tetap
menggunakan sirkulasi air dengan volume besar. Untuk meminimalisir core loss
dapat dilakukan dengan memperkecil tekanan dan putaran bit sehingga sampel
akan masuk perlahan-lahan, dan mengatur jumlah sirkulasi dengan tekanan kecil
agar sampel tidak hilang.
Untuk pekerjaan grouting kendala yang terjadi adalah perubahan nilai Lugeon
yang cukup besar antar lubang satu dengan lubang di sebelahnya pada lokasi
River bed dan beberapa conduit. Hal ini menyulitkan dalam menggambarkan
permeabilitas bawah permukaan wilayah pondasi bendung. Saat dilakukan

80

grouting ada beberapa titik yang tidak selesai dilakukan grouting karena volume
semen yang masuk terlalu besar sehingga harus dihentikan dan dilanjut pada
keesokan hari nya saat telah mengering. Dapat dilakukan grouting bertekanan
rendah pada kasus seperti ini sehingga tekanan tidak terus mendorong material
semen grout hingga terjadi kebocoran pada tempat lain.
4.7 Manfaat Pekerjaan
Dari

pelaksanaan

kegiatan

kerja

praktik

ini,

mahasiswa

pelaksana

mendapatkan banyak manfaat selama program ini dijalankan. Manfaat tersebut


adalah sebagai berikut :
a. Mahasiswa mengerti mengenai gambaran kondisi dunia pekerjaan di
bidang geoteknik khususnya konstruksi bangunan bendung
b. Mahasiswa mengetahui peran seorang geolog dalam konstruksi bangunan
bendung
c. Mahasiswa mengetahui tata cara kegiatan pemboran dan grouting sehingga
dapat mengerti kendala-kendala yang terjadi pada kegiatan tersebut.

81

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Dari kegiatan Kerja Praktek yang dilaksanakan di CV. Tirta Pertiwi proyek
grouting Bendungan Logung, Kudus dapat diperoleh beberapa kesimpulan, antara
lain :
5.1.1

Pekerjaan yang dilakukan adalah pemboran inti untuk mengetahui


susunan litologi bawah permukaan, water pressure test untuk
mengetahui

nilai

permeabilitas

dan

grouting

untuk

menutup

permeabilitas pada batuan agar menjadi pondasi yang kokoh dan


5.1.2

mencegah kebocoran.
Batuan penyusun daerah Bendungan Logung merupakan hasil endapan
gunung api purba Gunung Patiayam dengan ciri litologi berupa

5.1.3

batupasir tuffaan dengan sisipan lapilli.


Nilai Lugeon pada titik C1.1-C1.10 berkisar 0,79-51,24. Nilai Lugeon
yang paling kecil berada pada titik C1.1 sebesar 0,79 dan Nilai Lugeon

5.1.4

paling besar berada pada titik C1.6 sebesa 51,24.


Grouting dilakukan dengan rasio campuran air berbanding semen
sebesar 1 : 5 dengan waktu pelaksanaan grouting berkisar 40-140
menit. Jumlah semen masuk paling banyak berada pada titik C1.4 yaitu
232,66 Kg, dan Jumlah paling sedikit pada titik C1.1 sebesar 7,67 Kg

5.2 Saran
5.2.1

Dalam pengambilan core seharusnya menggunakan core barrel yang

5.2.2

sesuai agar sample tidak hancur dan didapatkan sample yang utuh.
Penentuan tekanan dapat menggunakan alat otomatis bukan manual
menggunakan pengaturan katup agar nilai tekanan yang digunakan

5.2.3

lebih akurat.
Pencatatan jumlah semen yang keluar seharusnya dapat menggunakan
alat grouting recorder sehingga volume yang tercatat lebih akurat.

82

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus. 2002. Kudus Dalam Angka. ISSN 88520282. Pemerintah Kabupaten Kudus.
Badan Standarisasi Nasional. 1989. SNI 03-1742-1989 : Metode Pengujian
Kepadatan Ringan Untuk Tanah. Badan Penerbit Pekerjaan Umum :
Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1990. SNI 03-1964-1990 : Metode Pengujian Berat
Jenis Tanah. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1990. SNI 03-1965-1990 : Metode Pengujian Kadar
Air Tanah. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1990. SNI 03-1966-1990 : Metode Pengujian Batas
Plastis Tanah. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1990. SNI 03-1967-1990 : Metode Pengujian Batas
Cair Dengan Alat Casagrande. Badan Penerbit Pekerjaan Umum :
Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1990. SNI 03-1975-1990 : Metode Mempersiapkan
Contoh Tanah dan Tanah Mengandung Agregat. Badan Penerbit
Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1991. SNI 03-2393-1991 : Perbandingan Campuran
Material Grouting. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1991. SNI 03-2436-1991 : Metode Pencatatan dan
Interpretasi Hasil Pemboran Inti. Badan Penerbit Pekerjaan Umum :
Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1991. SNI 03-2455-1991 : Metode Pengujian
Triaxial A. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1992. SNI 03-2815-1992 : Metode Pengujian
Triaxial B. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1992. SNI 03-2827-1992 : Metode Pengujian
Lapangan Dengan Alat Sondir. Badan Penerbit Pekerjaan Umum :
Jakarta Selatan.
83

Badan Standarisasi Nasional. 1994. SNI 03-3420-1994 : Metode Pengukuran


Kuat Geser Langsung Tidak Terkonsolidasi Tanpa Drainase. Badan
Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1994. SNI 03-3422-1994 : Metode Pengujian Batas
Susut Tanah. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1994. SNI 03-3423-1994 : Metode Pengujian
Analisis Ukuran Butir Tanah dengan Alat Hidrometer. Badan Penerbit
Pekerjaan Umum : Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 1996. SNI 03-4153-1996 : Metode Pengujian
Penetrasi Dengan SPT. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta
Selatan
Badan Standarisasi Nasional. 2008. SNI 2436:2008 : Tata Cara Pencatatan dan
Identifikasi Hasil Pengeboran Inti. Badan Penerbit Pekerjaan Umum :
Jakarta Selatan.
Badan Standarisasi Nasional. 2012. SNI 3638:2012 : Metode Pengujian Kuat
Tekan Bebas Tanah Kohesif. Badan Penerbit Pekerjaan Umum : Jakarta
Selatan.
Bemmelen, R. W. V. 1949. The Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes.
Government Printing Office, The Hague.
Departemen Pekerjaan Umum. 2005. Pedoman Grouting Untuk Bendungan.
Jakarta.
Federal Highway Administration (FHWA). NHI-01-031. Manual on Subsurface
Investigations. National Highway Institute Publication : Washington.
Houlsby, A. C. 1983. Cement Grouting for Dams. Proc Conf Grouting in Geotech
Engineering. New Orleans. American Association of Civil Engineering.
Jayanti, A. G. R. 2011. Analisis Rembesan Bendungan dengan Metode Geolistrik
Studi Kasus di Bendungan Cengklik Kabupaten Boyolali. Semarang :
Universitas Diponegoro.
Jumikis, A. R. 1979. Rock Mechanics. Michigan. Trans Tech Publications Ltd.
Kementrian Pekerjaan Umum Wilayah Pemali Juana. 2012. Sertifikasi Desain
Bendungan Logung. Kudus.

84

Kharagpur. 2015. Hydraulic Structures for Flow Diversion and Storage Module 4
Lesson 6 : Design and Construction of Concrete Gravity Dams. CE IIT.
India.
Mistry, J. F. 1965. Clay Grouting Work at Ukai Dam. Journal Indian National
Society of Soil Mechanic and Foundation Engginering, Vol. 4, No. 3. PP
313-321.
Naudts, A. Landry, E. Hooey, S. Naudts, W. 2003. Additives and Admixtures in
Cement-Based Grouts. Grouting and Ground Treatment: pp. 1180-1191.
Piu, C. M. 2005. Analysis and Modeling of Grouting and its Application in Civil
Engineering. Queensland : University of Southern Queensland Faculty
of Engineering and Surveying.
Soedibyo. 2003. Teknik Bendungan. Jakarta : PT. Pradnya Paramita.
Suprapto, D. J. 2011. Kuliah Umum : Bencana Tanah Longsor. Semarang :
Universitas Sugiyopranoto.
Sosrodarsono. Nakazawa, K. 1981, Mekanika Tanah & Teknik Pondasi.
Association for International Technical Promotion, Tokio Japan, 1981.
Udiana, I. M. 2013. Desain Campuran Semen dan Air pada Pekerjaan Grouting
Proyek Bendungan / Waduk Nipah Madura-Jawa Timur. Kupang. Jurnal
Teknik Sipil Vol.II No.2.
Warner, J. 2004. Practical Handbook of Grouting : Soil, Rock, and Structures.
United States of America : Wiley.

85

LAMPIRAN

86