Anda di halaman 1dari 4

SMF/BAGIAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Cara pemeriksaan Amsler Grid

Disusun Oleh :
Norman Delvano

Weky, S.Ked

(1108012032)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

Amsler grid adalah susunan baik vertikal dan horisontal yang umumnya
digunakan untuk mendeteksi gangguan penglihatan yang disebabkan oleh
kerusakan retina.
Cara pemeriksaan :

1.

Jelaskan maksud dan prosedur pemeriksaan.

2.

Mintalah penderita untuk memegang testing grid sejajar dengan garis


pandang mata, dengan jarak kira-kira 36cm ( 14 inchi ) dari mata
penderita. Tutuplah mata lain yang tidak sedang diperiksa.

3.

Mintalah penderita untuk memfiksasi matanya pada central spot dari


testing grid tersebut.

4.

Tanyakan pada penderita apakah garis-garis lurus pada testing grid


berubah menjadi garis lengkung (distorted ) atau apakah garis-garis
tersebut hilang ( loss ).

5.
6.

Mintalah pasien untuk menggambar area yang distorted maupun yang loss
pada amsler grid notepad. Pastikan pada notepad tersebut tercantum
tanggal pemeriksaan,nama penderita dan mata manakah yang diperiksa.
Lakukan pemeriksaan ini pada kedua mata,.

Tujuan : tes ini untuk memeriksa fungsi penglihatan sentral (makula)


Nilai : apabila didapatkan kelainan pada garis Amsler atau kelainan pada
lapamgan pandang sentral, berarti ada kelainan organik pada retina sentral
Catatan : karena jarak pemeriksaan terlalu dekat maka kelainan kecil pada
lapangan pandang sukar ditemukan. Pada pasien dengan kelainan makula
sebaiknya pemeriksaan dilakukan sendiri di rumah dan dianjurkan 3 kali
seminggu untuk mengetahui perubahan makula.

Amsler Grid Chart

Gambar Amsler Grid normal

PERSEPSI PENGLIHATAN SENTRAL


1. Proses Penglihatan
Cahaya merupakan suatu spektrum gelombang elektromagnetik. Panjang
gelombang cahaya adalah 400-700nm, dapat merangsang sel batang (rod
cell) dan kerucut (cone cell) sehingga dapat terlihat oleh kita. Gelombang
cahaya terlihat sebagai suatu spectrum. Apabila ada rangsang cahaya yag

masuk ke mata maka rangsang tersebut akan diteruskan mulai dari kornea,
aqueous humor, pupil, lensa, vitreous humor dan terakhir retina. Kemudian
impuls tersebut diteruskan ke bagian saraf penglihatan yang berlanjut
dengan lobus osipital sebagai pusat penglihatan pada otak besar. Bagian
lobus osipital kanan akan menerima rangsang dari mata kiri dan
sebaliknya lobus osipital kiri akan menerima rangsang mata kanan. Di
dalam lobus osipital ini impuls akan diolah kemudian diinterpretasikan
sebagai penglihatan di mata. Pembiasan cahaya dari suatu benda akan
membentuk bayangan benda jika cahaya tersebut jatuh di bagian bintik
kuning pada retina, karena cahaya yang jatuh pada bagian ini akan
mengenai sel-sel batang dan kerucut. Selanjutnya diteruskan ke saraf optik
dan saraf optik meneruskannya ke otak sehingga terjadi kesan melihat.
Sebaliknya, bayangan suatu benda akan tidak nampak, jika pembiasan
cahaya dari suatu benda tersebut jatuh di bagian bintik buta pada retina.
2. Jaras
Cahaya yang sampai di retina mengakibatkan hiperpolarisasi dari
reseptor pada retina. Hiperpolarisasi mengakibatkan timbulnya potensial
aksi pada sel-sel ganglion, yang aksonnya membentuk nervus optikus.
Kedua nervus optikus akan bertemu pada kiasma optikum, di mana serat
nervus optikus dari separuh bagian nasal retina menyilang ke sisi yang
berlawanan, kemudian akan menyatu dengan serat nervus optikus dari sisi
temporal yang berlawanan, membentuk suatu traktus optikus. Serat dari
masing-masing traktus optikus bersinaps pada korpus genikulatum lateralis
dari thalamus. Kemudian dilanjutkan sebagai radiasi optikum ke korteks
visual primer pada fisura calcarina pada lobus oksipital medial. Serat-serat
tersebut kemudian diproyeksikan ke korteks visual sekunder.Selain ke
korteks visual, serat-serat visual tersebut juga ditujukan ke beberapa area
seperti: (1) nukleus suprakiasmatik dari hipotalamus mengontrol irama
sirkadian dan perubahan fisiologis lain yang berkaitan dengan siang dan
malam, (2) ke nukleus pretektal pada otak tengah, menimbulkan gerakan
refleks pada mata untuk fokus terhadap suatu obyek tertentu dan
mengaktivasi refleks cahaya pupil, dan (3) kolikulus superior, untuk
mengontrol gerakan cepat dari kedua mata.