Anda di halaman 1dari 15

STUDI KASUS PRAKTEK FARMASI KOMUNITAS

KOMUNIKASI DENGAN DOKTER

Disusun oleh :
Kelompok II (C2) / Apoteker XXXII
Yunita Andika Muktiningsih (1520303258)
Yuniven Merina Anin

(1520303259)

Zulfatun Mahmudah

(1520303260)

Adityo Teguh Wicaksono

(1520303261)

PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016

RESEP NO.2

Skrining Resep :
I. Persyaratan administrasi
Nama dokter

: dr. Kristianingsih, Sp.OG

Alamat dokter

: Jl. Mataram 22 Solo. Telp. 612345

SIP dokter

: Tidak ada

Tanggal penulisan resep : Tidak ada


Tanda R/

: ada

Nama Obat

: ada

Dosis obat

: ada

Jumlah yang diminta

: ada

Signa

: ada

Nama pasien

: Ny. Wahyu S.

Alamat pasien

: tidak ada

Umur pasien

: tidak ada

Paraf dokter

: tidak ada

II. Screening Farmasetik


a.

Nama obat

: Zibramax

Jenis

: Obat generik bermerk (Branded generic)

Kandungan

: Azithromycin

Golongan obat : Antibiotik (Makrolida)


Bentuk sediaan : Kaplet salut selaput
Dosis sediaan

: 250 mg, 500 mg

Dosis dlm R/

: 500 mg

Cara pemberian : Per oral


b. Nama obat

: Doksisiklin

Jenis

: Obat generik

Kandungan

: Doksisiklin

Golongan obat : Antibiotik (Tetrasiklin)

Bentuk sediaan : Kapsul


Dosis sediaan

: 100 mg

Dosis dlm R/

: 100 mg

Cara pemberian : Per oral


c. Nama obat

: Torasic

Jenis

: Obat generik bermerk (Branded generic)

Kandungan

: Ketorolac thromethamine

Golongan obat : Analgetik (NSAID)


Bentuk sediaan : Tablet salut selaput
Dosis sediaan

: 10 mg

Dosis dlm R/

: 10 mg

Cara pemberian : Per oral


d. Nama obat

: Pronalges

Jenis

: Obat generik bermerk (Branded generic)

Kandungan

: Ketoprofen

Golongan obat : Analgetik (NSAID)


Bentuk sediaan : Suppositoria
Dosis sediaan

: 100 mg

Dosis dlm R/

: 100 mg

Cara pemberian : Per rektal


III. Screening farmakologi
Doksisiklin
Indikasi:

Infeksi saluran nafas, saluran kemih-kelamin, kulit &


jaringan lunak, GO, sifilis & rickettsiosis. infeksi uretra,
endocervical, atau rektal tanpa komplikasi pada dewasa
yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Doksisiklin
juga diindikasikan untuk terapi infeksi yang disebabkan
bakteri Gram negatif (Acinetobacter species, Brucellosis;
Bartonellosis);

bila

uji

bakteriologi

mengindikasikan

penggunaan obat sesuai. doksisiklin diindikasikan untuk


terapi infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif bila
uji bakteriologi menunjukkan peka terhadap doksisiklin.
Mekanisme kerja:

bakteriostatik yang bekerja menghambat sintesis protein


dengan berikatan pada ribosomal subunit 30s sehingga
menghambat ikatan aminoasil-tRNA ke sisi A pada
kompleks ribosomal. Hambatan ikatan ini menyebabkan
hambatan sintesis ikatan peptida

Kontra Indikasi:

Tidak boleh diberikan pada anak dibawah 12 tahun, ibu


hamil dan menyusui. Tidak dianjurkan pada porviria.

Peringatan:

Gangguan fungsi hati , ginjal; ketergantungan alkohol,


fotosensitifitas (hindari paparan dengan sinar matahari atau
sinar lampu); hindarkan pada porfiria.

Efek samping:

mual, muntah, diare, eritema (hentikan pengobatan), sakit


keala dan gangguan penglihatan dapat merupakan petunjuk
terjadinya peningkatan tekanan intrakranial, pankreatitis
dan kolitis (radang usus).

Interaksi:

Pemberian bersamaan dengan antasida yang mengandung


aluminium, magnesium, sadium bikarbonat dan senyawa
besi dapat menurunkan kadar Doxycycline dalam darah.

Azithromycin
Indikasi

: infeksi-infeksi yang disebabkan oleh organisme yang


peka, infeksi saluran nafas atas (tonsillitis, pharingitis),
infeksi saluran nafas bawah (bronchitis, pneumonia),
infeksi kulit & jaringan lunak, penyakit hubungan seksual
(Sexually Transmitted Disease), urethritis, cervicitis yang
berkaitan dengan Chlamydia trachomatis, Ureaplasma
urealyticum dan Neisseria gonorrhoea.

Mekanisme kerja

: menghambat sintesis protein bakteri dengan berikatan


pada ribosom 50s

Kontraindikasi

: Gangguan fungsi hati

Peringatan

: Gangguan fungsi hati dan porfiria ginjal, perpanjangan


interval QT (pernah dilaporkan takikardi ventrikuler);
porfiria; kehamilan (tidak diketahui efek buruknya) dan
menyusui (sejumlah kecil masuk ke ASI).

Efek samping

: anoreksia, dyspepsia, flatulens, konstipasi, pankreatitis,


hepatitis, syncope, pusing, sakit kepala, mengantuk,
ansietas, hiperaktivitas, asthenia, paraesthesia, konvulsi,
neutropenia ringan, trombositopenia, interstisial nephritis,
gagal ginjal akut, arthralgia, fotosensitivitas, jarang:
gangguan pengecap, lidah berwarna pucat, dan gagal hati.

Interaksi

: antasida yang mengandung Al & Mg, warfarin, derivat


ergot, teofilin. Mengandung metabolisme siklosporin,
meningkatkan kadar digoksin dalam darah

Torasic
Indikasi

: Untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut


sedang sampai berat setelah prosedur bedah.

Mekanisme kerja

: Ketorolac

tromethamine

menghambat

sintesis

prostaglandin dan dapat dianggap sebagai analgesik yang


bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap
reseptor opiat.
Farmakokinetik (oral) ketorolac tromethamine diabsorpsi
dengan cepat dan lengkap setelah pemberian oral dengan
konsentrasi puncak rata-rata dalam plasma sebesar 0,87
mcg/mL setelah 50 menit pemberian dosis tunggal 10
mg. Waktu paruh plasma terminal 5,4 jam pada dewasa
muda dan 6,2 jam pada orang lanjut usia. Total bersihan
pada orang usia lanjut sedikit lebih rendah daripada

dewasa muda. Lebih dari 99% ketorolac terikat pada


konsentrasi yang beragam. Farmakokinetik Ketorolac
pada manusia setelah pemberian secara intramuskular
dosis tunggal atau multipel adalah linear. Kadar steady
state plasma dicapai setelah diberikan dosis tiap 6 jam
dalam sehari.
Kontra Indikasi

: - Pasien hipersensitif dengan obat ini, karena ada


kemungkinan

sensitivitas

dikontraindikasikan

pada

silang,

Ketorolac

pasien

Penderita

juga
ulkus

peptikum aktif.
- Penyakit serebrovaskuler yang dicurigai maupun yang
sudah pasti.
- Diatesis hemoragik termasuk gangguan koagulasi.
- Sindrom polip nasal lengkap atau parsial, angioedema
atau bronkospasme.
- Terapi bersamaan dengan ASA dan NSAID lain.
- Hipovolemia akibat dehidrasi atau sebab lain.
- Gangguan ginjal derajat sedang sampai berat (kreatinin
serum > 160 mmol/L).
- Riwayat asma.
- Pasien pasca operasi dengan risiko tinggi terjadi
perdarahan atau hemostasis inkomplit, pasien dengan
antikoagulan termasuk heparin dosis rendah (25005000 unit setiap 12 jam).
- Terapi bersamaan dengan ospentyfilline, probenecid
atau garam lithium.
- Selama kehamilan, persalinan, melahirkan atau laktasi.
- Anak < 16 tahun.

- Pasien yang mempunyai riwayat sindrom StevensJohnson

atau

ruam

vesikulobulosa.

Pemberian

neuraksial (epidural atau intratekal).


- Pemberian profilaksis sebelum bedah mayor atau intraoperatif jika hemostasis benar-benar dibutuhkan karena
tingginya resiko perdarahan.
Peringatan

: - Telah dilaporkan adanya peningkatan urea nitrogen


serum dan kreatinin serum
- Ketorolac menghambat agregasi trombosit dan dapat
memperpanjang waktu perdarahan.
- Bisa terjadi peningkatan borderline fungsi hati.
- Pernah dilaporkan terjadinya retensi cairan dan edema,
hati-hati pada pasien gagal jantung, hipertensi atau
kondisi serupa.

Efek samping

:-

Saluran cerna : diare, dispepsia, nyeri gastrointestinal,


nausea.

Susunan Saraf Pusat : sakit kepala, pusing, mengantuk,


berkeringat (nsiden 1% atau kurang), depresi, mulut
kering, euforia, haus berlebihan, parestesia, stimulasi,
vertigo.

Gastrointestinal : konstipasi, rasa penuh, kelainan


fungsi hati, melena, ulkus peptikum, perdarahan rektal,
stomatitis, muntah, flatus.

Respirasi : asma, dispnea.

Dermatologik : pruritus, urtikaria.

Kardiovaskular : vasodilatasi, pucat.

Interaksi

: Lipitor berinteraksi dengan antasida, antipirin, kolestipol,


digoksin, eritromisin/klaritromisin, kontrasepsi oral, dan
inhibitor protease.

Pronalges Supp
Indikasi

: Kegunaan

pronalges

(ketoprofen)

adalah

untuk

mengobati nyeri ringan sampai sedang pada sakit gigi


dan setelah cabut gigi, sakit kepala, sakit telinga, nyeri
dan radang pada penyakit reumatik yang ringan dan
gangguan otot skelet lainnya, nyeri sendi, demam, nyeri
setelah operasi terutama pembedahan ortopedik, gout
akut dan nyeri haid (dismenorea).
Mekanisme kerja

: Merupakan anti-inflamasi non-steroid (AINS) dengan


daya analgesik, anti-inflamasi dan antipiretik. Bekerja
menghambat sintesa prostaglandin. Diabsorbsi sempurna
dan cepat di saluran cerna, tidak dipengaruhi oleh
makanan;

makanan

hanya

memperpanjang

waktu

mencapai kadar puncak (t-maks) tanpa mempengaruhi


bioavailabilitas totalnya. Kadar puncak plasma tercapai
dalam waktu sampai 2 jam. Waktu paruh pada lanjut
usia selama 5 jam, dan 3 jam pada dewasa. Ketoprofen
OD diformulasikan agar obat dilepaskan sesuai pH usus
kecil. Waktu paruh Ketoprofen OD adalah 5-12 jam.
Kadar puncak plasma tercapai dalam waktu 6-7 jam.
Ketoprofen OD tidak dianjurkan untuk kasus nyeri akut,
karena merupakan obat controlled-release. Supositoria
yang diberikan pada malam hari lebih efektif dalam
mengontrol

nyeri

yang

timbul

sepanjang

malam

dibandingkan bentuk oral, kadar puncak dicapai dalam 12 jam, dengan waktu paruh eliminasi 2-3 jam. Pada
pemberian secara intramuskular, ketoprofen diabsorpsi
dengan baik.
Kontra Indikasi

: Hipersensitif terhadap Ketoprofen, asetosal dan AINS


lain, pasien yang menderita ulkus peptikum atau
peradangan aktif (inflamasi akut) pada saluran cerna,
bronkospasme berat atau pasien dengan riwayat asma
bronkial atau alergi, gagal fungsi ginjal dan hati yang
berat. Supositoria sebaiknya tidak digunakan pada
penderita proktitis atau hemoroid.

Peringatan

: - Karena Ketoprofen dieliminasi melalui ginjal dan dapat


mengurangi aliran darah ginjal, maka dosis ketoprofen
pada penderita gagal ginjal harus diturunkan dan
dimonitor secara ketat.
- Ketoprofen harus digunakan dengan hati-hati pada
penderita gangguan fungsi hati
- Hati-hati penggunaannya pada keadaan hiperasiditas
lambung.
- Sebaiknya diberikan bersamaan dengan makanan atau
susu untuk mencegah efek samping pada saluran cerna.
- Ketoprofen tidak dianjurkan untuk diberikan pada ibu
hamil dan menyusui, meskipun belum ada laporan
mengenai efek embriopatik.

Efek samping

: - Tablet: Dispepsia, mual, muntah, nyeri abdomen, sakit


kepala, pusing, tinitus, gangguan penglihatan, ruam dan
gangguan fungsi ginjal.

- Supositoria : kadang menyebabkan konsistensi feses


menjadi lunak.
Interaksi

Lipitor

berinteraksi

kolestipol,digoksin,

dengan

antasida,

eritromisin/klaritromisin,

kontrasepsi oral, dan inhibitor protease.


II. Permasalahan

antipirin,

III. Dialog antara Apoteker dengan Dokter


Pada sore hari seorang ibu datang ke apotek Setia Budi dengan membawa
resep. Pasien tersebut bertujuan akan menebus obat dan kebetulan langsung
bertemu dengan Apoteker Penanggung jawab Apotek.
Apoteker

: Selamat sore bu, saya Tyo apoteker di sini, ada yang bisa saya
bantu ?

Pasien

: Iya mas, ini saya mau menebus resep saya dari dokter (sambil
menyerahkan resep), (apoteker membaca resep/skrining resep, dan
didapat ada suatu masalah).

Apoteker

: maaf bu alamat rumah ibu dimana?

Pasien

: alamat rumah saya di Jl. Let.jend. Sutoyo no 35

Apoteker

: oh iya bu, ibu mohon tunggu sebentar, silahkan ibu duduk dulu.

(setelah dilakukan skrining resep, apoteker ke ruang konseling dan menelepon


dokter)
Apoteker

: Selamat sore, mohon maaf apakah ini benar tempat praktek dr.
Kristianingsih ?

Dokter

: Iya benar saya sendiri,dengan siapa saya bicara ?

Apoteker

: Saya Tyo, apoteker dari apotek Setia Budi Dok. Maaf Dokter,
apakah saya bisa mengganggu waktunya sebentar?

Dokter

: Bisa pak, ada yang bisa saya bantu ?

Apoteker

: Begini dok, kami mendapatkan resep dari tempat praktek dr.


Kristianingsih atas nama Ny Wahyu S., apa benar Ny Wahyu S.
pasien dokter ?

Dokter

: iya pak benar, ada yang bisa saya bantu ?

Apoteker

: Begini dok, pada resep dokter tertuliskan empat resep,


Resep I berisi

: Zibramax

Resep II berisi

: Doksisiklin

Resep III berisi

: Torasic

Resep IV berisi

: Pronalges Sup

Dokter

: ooo.iyaaabenar, memangnya kenapa?

Apoteker

:Begini dok, ada beberapa masalah yang saya temukan pada resep.
Yang pertama, di resep pertama ada Zibramax yang berisi
Azythromycin, di resep tidak disebutkan jumlah obatnya. Jadi ini
jumlah obatnya berapa dok?

Dokter

:ohh saya lupa berarti, jumlah obatnya 6 kaplet.

Apoteker

:ohh begitu ya dok. Kemudian pada resep terdapat 2 antibiotik,


pada resep pertama ada zibramax yang berisi azythromycin dan
pada resep kedua ada doksisiklin. Apa tidak sebaiknya digunakan 1
antibiotik saja dok sebagai profilaksis sebelum melakukan HSG ?

Dokter

: Loh kenapa?

Apoteker

: Begini dok, pada resep kan tertulis zibramax digunakan pada hari
ketiga haid kemudian digunakan doksisiklin pada hari keempat
haid. Penggunaan suatu antibiotik minimal adalah 3 hari, jika
zibramax digunakan hanya 1 hari maka resiko terjadi resistensi
lebih besar dok. Dan juga penggunaan 2 antibiotik sekaligus
sebagai profilaksis sebelum melakukkan HSG apa tidak terasa
berlebihan, resiko terjadinya efek samping yang dapat ditimbulkan
dari 2 antibiotik bisa lebih besar.

Dokter

: ohh begitu, ya sudah, zibramaxnya dihapus. Berikan doksisiklin


saja untuk profilaksis sebelum HSG.

Apoteker

: baik dok. jadi obat yang diberikan adalah doksisiklin 100 mg


diberikan 2 kali sehari diminum mulai pada hari keempat haid dan
jumlah yang diberikan adalah 20 tablet. Betul begitu dok?

Dokter

: iya betul. ada lagi yang ditanyakan ?

Apoteker

: ada dok, di resep juga terdapat 2 analgetik yaitu pada resep ketiga
ada torasik dan resep keempat ada pronalges, dimana keduanya
memiliki interaksi. Jadi ini gimana dok?

Dokter

: Tapi saya membuat resep dua obat itu waktu penggunaannya beda
lho.. pronalges supp diberikan 1 jam sebelum HSG saja. Untuk
mengatasi nyeri setelah HSG torasik baru diberikan.

Apoteker

: ohh begitu ya dok. jadi aturan pakai pronalges supp 1 kali sehari 2
supp dan diberikan 1 jam sebelum HSG saja. torasiknya itu 3 kali
sehari 1 tablet dan diberikan setelah HSG. Tapi dok di resep
jumlah pronalges 3 supp, bukannya harusnya 2 supp aja sudah
cukup dok?

Dokter

: iya, berikan 2 supp aja kalau begitu

Apoteker

: baik dok.

Apoteker

: Terimakasih banyak Dokter, maaf sudah mengganggu waktunya.


Selamat sore dokter.

Dokter

: iya pak sama-sama.

(Setelah melakukan komunikasi dengan dokter, apoteker menyiapkan obat dari


resep tersebut, dan menyerahkan kepada pasien)
Apoteker

: Atas nama Ny. Wahyu ?

Pasien

: Ya, saya sendiri mas

Apoteker

: ini ibu obatnya. Ada 3 obat doksisiklin, torasik dan pronalges.


Dokternya sudah menjelaskan tentang obat-obat ini belum bu?

Pasien

: sudah sih, kata dokter obat ini (doksisiklin) diminum sebelum


HSG tapi lanjutannya saya lupa.

Apoteker

: baik bu, ini saya jelaskan lagi ya. Ini obat pertama adalah
doksisiklin ini antibiotik diminum hari keempat haid, minumnya 2
kali sehari 1 kapsul sesudah makan. Karena ini antibiotik jadi harus
diminum rutin setiap hari dan sampai habis ya bu. Ini obat kedua
pronalges ini obat antinyeri. Obat ini bentuknya suppositoria jadi
harus dimasukkan lewat anus, ini dipakainya cuma sekali saja 1
jam sebelum HSG, sekali pakainya 2 suppo ya bu. Bu ini obatnya
harus disimpan di kulkas lebih tepatnya pada bagian pintu kulkas
jangan di freezer. Dan ini obat ketiga torasik, ini juga antinyeri

karena kemungkinan ibu akan merasa nyeri setelah HSG. Obat ini
diminum 3 kali sehari 1 tablet setelah makan. Obat ini mulai
diminum setelah HSG dilakukan, obat ini dapat dihentikan saat ibu
sudah tidak merasa nyeri lagi. Gimana bu, sudah paham dengan apa
yang telah saya jelaskan?
Pasien

: sudah mas.

Apoteker

: kalau begitu bisa diulangi bu?

Pasien

: Ini obat pertama adalah doksisiklin ini antibiotik diminum hari


keempat haid, minumnya 2 kali sehari 1 kapsul sesudah makan.
Karena ini antibiotik jadi harus diminum rutin setiap hari dan
sampai habis. Ini obat kedua pronalges ini obat antinyeri. Obat ini
bentuknya suppositoria jadi harus dimasukkan lewat anus, ini
dipakainya cuma sekali saja 1 jam sebelum HSG, sekali pakainya 2
suppo. Suppo harus disimpan di kulkas lebih tepatnya pada bagian
pintu kulkas jangan di freezer. Dan ini obat ketiga torasik, ini juga
antinyeri. Obat ini diminum 3 kali sehari 1 tablet setelah makan.
Obat ini mulai diminum setelah HSG dilakukan, obat ini dapat
dihentikan sudah tidak merasa nyeri lagi.

Apoteker

: baiklah, saya rasa ibu sudah paham. Ini harga obatnya Rp


200.000,- bu.

Pasien

: Ini uangnya mas.

Apoteker

: Ini bu obatnya, terimakasih. Semoga lekas sembuh

Pasien

: terimakasih juga mas.