Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Reproduksi adalah naluri setiap organisme untuk beranak-pinak.
Ciri etik individu makhluk hidup ialah bahwa umurnya terbatas, dan pada
suatu ketika akan menjadi tua kemudian mati karena suatu faktor, baik itu
parasit, pemangsa atau sebagainya. Karena itu perlu suatu perkembangan baru
untuk mengganti reputasi yang telah tiada. Jadi kelangsungan hidup individu
sebagian ditunjukkan untuk memenuhi kemampuan reproduksi yang mutlak
bagi kelestarian spesies. Fungsi alamiah seekor hewan jantan adalah
menghasilkan sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa yang hidup, aktif dan
potensial fertil, dan secara sempurna meletakakannya ke dalam saluran
kelamin betina. Inseminasi buatan hanya memodifiser cara dan tempat
peletakan spermatozoa. Semua proses-proses fisiologis dalam tubuh hewan
jantan, baik secara langsung maupun tidak langsung, menunjang produksi dan
kelangsungan hidup spermatozoa. Akan tetapi pusat kegiatan kedua proses ini
terletak pada organ reproduksi hewan jantan itu sendiri.
Organ reproduksi jantan secara umum dapat berfungsi sebagai
tempat menghasilkan sperma (testis). Testis sendiri adalah merupakan pabrik
penghasil dua macam produk yaitu sel kelamin jantan (spermatozoa) dan
hormon (testosteron). Testis sendiri terdiri dari saluran buntu, yang disebut
tubuli seminiferi yang bermuara kedalam epididymis. Dinding dalam tubuli
tersebut dilapisi oleh selapis sel-sel bakal sel kelamin berbentuk bulat yang
disebut spermatogonia. Diantara spermatogonia yang melapisi dinding tubuli
seminiferi adalah sel-sel yang berbentuk langsing, letaknya berselang-seling
dengan spermatogonia dan mengarah kedalam lumen. Sel tersebut adalah sel
sertoli penghasil hormon testosteron.
Organ kelamin pada jantan terdiri dari organ kelamin primer,
sekunder, luar dan kelenjar pelengkap. Organ-organ tersebut memiliki bentuk,
1

ukuran dan fungsi yang berbeda-beda. Untuk mengetahui hal itu perlu
pembelajaran yang lebih lanjut. Hal inilah yang melatar belakangi
dilakukannya praktikum ini.
1.2 Tujuan dan Kegunaan Praktikum
1.2.1 Tujuan Praktikum
Praktikum bertujuan agar para praktikan mampu memahami,
mengetahui,

dan

dapat

membedakan

fungsi-fungsi

organ-organ

reproduksi sapi jantan.


1.2.2 Kegunaan Praktikum
Kegunaannya agar praktikan mampu mengenali letak, bentuk dan
memahami fungsi organ reproduksi sapi jantan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Organ Reproduksi Sapi Jantan

A. Testis
Organ kelamin primer pada hewan jantan adalah testis atau biasa
disebut orchis atau didimos, disebut organ kelamin primer karena bersifat
esensial yaitu menghasilkan sperma, dan menghasilkan hormon kelamin
jantan yaitu testosteron. Pada semua spesies testis berkembang didekat
ginjal yaitu pada daerah krista genitalia primitif. Pada mamalia, testis
mengalami penurunan yang cukup jauh, sedangkan pada kebanyakan
spesies berakhir pada scrotum. Testis akan rusak bila suhunya sama
dengan suhu tubuh. Hewan yang tidak mengalami penurunan testis ke
dalam skrotum atau yang mengalami cryptorchid, spermatogenesis
(pembentukan sperma) tidak akan terjadi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa hal tersebut semata-mata karena pengaruh suhu. Karena bila testis
yang cryptorchid didinginkan secara buatan, spermatogenesisi tetap
berlangsung. (Anonim, 2009).
Testis terbagi secara tak sempurna oleh mediastinum, suatu
septum yang terbatas. Helai-helai jaringan ikat berjalan dari pusat testis
pada sumbu longitudinal dan bersambung dengan selaput pemisah.
Segmen-segmen testis mengandung banyak tubuli seminiferi yang
berkelok-kelok, jaringan longgar dan sel-sel interstial yang berserakan
(Setiawan, 2005).
B. Vas Deferens
Vas deferens (ductus deferens) adalah pipa berotot yang pada
saat ejakulasi mendorong spermatozoa dari Epididymis ke duktus
ejakulatoris dalam uretra prostatik. Vas deferens meninggalkan ekor
Epididymis bergerak melalui kanal inguinal yang merupakan bagian dari
korda spermatic dan pada cincin inguinal internal memutar ke belakang,
memisah dari pembuluh darah dan saraf dari korda. Selanjutnya dua vas

deferens mendekati uretra, bersatu dan kemudian ke dorso caudal kandung


kemih, serta dalam lipatan peritoneum yang disebut lipatan urogenital
(genital fold) yang dapat disamakan dengan ligamentum lebar pada betina
(Frandson, 2002).
Vas deferens mengangkut sperma dari ekor Epididymis ke
uretra. Dindingnya mengandung otot-otot licin yang penting dalam
mekanisasi pengangkutan semen waktu ejakulasi. Diameternya mencapai 2
mm dan konsistensinya seperti tali berwarna kekuningan. Dekat badan
Epididymis, vas deferens menjadi lurus dan bersama buluh-buluh darah
dan lymphe serta serabut-serabut saraf, membentuk funiculus spermaticus
yang berjalan melalui canalis ingualis ke dalam cavum abdominalis.
Ampulla pada sapi mempunyai panjang 10 sampai 14 cm, dengan
diameternya 2 sampai 2,5 cm. Ampulla tidak terdapat pada anjing, babi
kecil dan kucing (Toelihere, 2007).
C. Epididimis
Epididimis adalah suatu struktur yang memanjang yang bertaut
rapat dengan testis. Epididymis mengandung ductus Epididymis yang
sangat berliku-liku, dan mencapai panjang lebih 40 meter jantan dewasa
dan kurang lebih 60 meter pada babi dan 80 meter pada kuda. Epididymis
dapat dibagi atas kepala, badan, dan ekor. Kepala (caput Epididymis)
membentuk suatu penonjolan dasar dan agak berbentuk mangkok yang
dimulai pada ujung proximal testis. Umumnya Epididymis berbentuk U,
berbeda-beda dalam ukurannya dan menutupi seluas 1/3 dari bagian testis.
Melalui serosa, saluran Epididymis tersusun dalam lobuli dan mengandung
ductus efferentes testis dengan saluran Epididymis berjumlah 13 sampai 15
buah dekat ujung proximal testis, caput Epididymis menjadi pipih dan
bersambung ke badan (corpus Epididymis) yang langsing dan berjalan
distal sepanjang tepi posterior testis. Pada ujung distal testis, corpus
menjelma menjadi cauda Epididymis yang pada sapi dewasa mencapai
ukuran sebesar ibu jari dan agak berayun dalam kedudukannya. Didekat
ligamentum testis, saluran Epididymis menjadi lebih kasar pada pelipatan
sekeliling ligamen, bersambung ke proximal sebagai ductus deferens
(Abimanyu, 2007).
4

D. Scrotum
Scrotum adalah kulit berkantong yang ukuran, bentuk dan
lokasinya menyesuaikan dengan testis yang dikandungnya. Kulit scrotum
adalah tipis, lembut dan relatif kurang berambut. Selapis jaringan
fibroelastik

bercampur

dengan

serabut

otot

polos

disebut tunika

dartos, terdapat disebelah dalam dari kulit dan pada cuaca dingin serabutserabut

otot

dari

mempertahankan

dartos
posisi

tersebut
terhadap

berkontraksi
dinding

dan

membantu

abdominal. Tunika

dartos melintas bidang median antara dua testis membantu membentuk


septum scrotal yang membagi scrotum menjadi dua bagian lateral pada
masing-masing testikel (Firdaus, 2004).
Fungsi utama skrotum adalah untuk memberikan kepada testis
suatu lingkungan yang memiliki suhu 1 sampai 8oC lebih dingin
dibandingkan temperatur rongga tubuh. Fungsi ini dapat terlaksana
disebabkan adanya pengaturan oleh system otot rangkap yang menarik
testis mendekati dinding tubuh untuk memanasi testis atau membiarkan
testis atau membiarkan testis menjauhi dinding tubuh agar lebih dingin.
Dengan kata lain fungsi scrotum yaitu mengatur temperatur testes dan
epidermis agar tidak terlalu rendah dengan suhu tubuh (termoregulator
testes) (Anonim, 2001).
E. Penis
Penis mempunyai dua fungsi utama yaitu menyemprotkan
semen ke dalam alat reproduksi betina dan sebagai tempat keluarnya urine.
Penis terbungkus oleh tunica fibrosa yang padat dan putih yang disebut
tunica albuginea. Penis dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian
pangkal yang melekat pada facia atau ligamentum yang kuat dan disebut
crush penis (bagian badan) dimana bagian badan dimana bagian tangannya
melipat melingkar menyerupai huruf S disebut flexura sigmoidea dan
bagian ujung penis disebut glans penis, yang dilengkapi dua macam
perlengkapan yaitu musculus refraktor penis yang dapat merelaksasi dan
mengkerut dan corpus convernosum penis untuk menegangkan penis
(Partodihardjo, 2002).
5

Glands penis pada sapi mempunyai panjang 7,5-12,5 cm dan


agak lancip; sedangkan glands penis pada kambing menyerupai suatu
penonjolan filiformis sepanjang 4-5 cm, dengan panjang glands penis 57,5 cm. Penis pada sapi jantan dewasa panjangnya mencapai 100 cm
diukur dari dari akar sampai ke ujung glands penis. Penis sapi dalam
keadaan ereksi dan pemacekan penis menonjok ke luar dari preputium
sepanjang 25-60 cm. Pada kambing penisnya memiliki panjang 35 cm
dengan flexura sigmoidea yang berkembang baik. Diameternya relatif
kecil 1,5-2 cm. Bentuk penis silindris sedikit menipis dari pangkal penis ke
ujung yang bebas (Anonim, 2008).
F. Preputeum
Kata prepuce atau preputeum mempunyai arti sama dengan
sarung adalah ivaginato dari kulit yang membungkus secara sempurna
pada ujung bebas dari penis. Perkembangan embrionik dari organ ini sama
dengan perkembangan dari organ labia minira pada ternak betina. Prepuce
dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian prepenile, lipatan luar dan
bagian penile, lipatan dalam. Sekitar lubang prepuse ditumbuhi oleh
rambut panjang dan kasar. Pada saat penampungan semen dalam program
inseminasi buatan, perlu diadakan pencukuran terhadap rambut ini, untuk
menjaga agar semen tidak tercemar oleh kotoran yang kemungkinan besar
menempel pada rambut tersebut (Nuryadi, 2000).
Preputium adalah lipatan kulit disekitar ujung bebas penis.
Permukaan luar merupakan kulit yang agak khas, sementara dalam
menyerupai membrane mukosa yang terdiri dari lapisan preputial dan
lapisan penil yang menutup permukaan extremitas bebas dari penis.
Preputium kuda merupakan lipatan rangkap, sehingga dua lapisan
konsentrik mengelilingi penis apabila penis ditarik kembali. Preputium
babi mempunyai divertikulum (kantung) disebelah dorsal dari orifisium
preputial. Kantung itu mengakumulasi urine, sekresi-sekresi dan sel-sel
mati yang menyebabkan adanya bau khas pada babi dewasa (Jamaludin,
2002).

Lubang preputium terletak sedikit dibelakang umbilicus dan


biasanya dikelilingi oleh rambut panjang. Rongga preputium tempat ujung
penis yang bebas itu terletak, mempunyai panjang 37,5 cm dan bergaris
tengah 2,5 cm. preputium berdinding sel epitel pipih bertanduk dengan
tinggi yang berbeda-beda. Pada waktu ereksi penis biasanya memenjang
tetapi tidak lebih dari 25 sampai 30 cm melewati muara preputium dan
akan mencapai perpanjangan yang sempurna hanya pada detik sapi itu
mencapai titik tertinggi dari aktifitas kopulasi (Harianto, 2005).
2.2.

Kelenjar Asesoris

A. Kelenjar Vesikularis
Kelenjar vesikularis terdapat sepasang, terletak di kanan dan kiri
ampulla ductus deferens. Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara ke
dalam urethra, umumnya muaranya menjadi satu dengan ampulla
sehingga ada 2 muara kiri dan kanan (ostium ejaculatorium). Sekresi
kelenjar ini banyak mengandung protein, potasium, fruktosa, asam sitrat,
asam askorbut, vitamin dan enzim, warnanya kekuning-kuningan karena
banyak mengandung flavin dengan pH 5,7 sampai 6,2 (Widayati dkk,
2008).
B. Kelenjar Prostata
Kelenjar prostata pada sapi berjumlah sepasang, berbentuk bulat
dan tidak berlobus. Kelenjar prostata terdiri dari dua bagian, bagian badan
prostata dan bagian prostata yang cryptik. Sekresinya benyak mengandung
ion anorganik (Na, Cl, Ca, Mg). Sekresi kelenjar prostata pada sapi sangat
encer dan mempunyai pH yang basa (7,5 sampai 8,2) (Widayati dkk,
2008).
C. Kelenjar Bulbourethralis
Kelenjar bulbourethralis terdapat sepasang, di sebelah kanan dan
kiri urethra bulbourethralis, di bawah musculus bulbo spongiosus. Kelenjar
bulbourethralis pada sapi sebesar buah kemiri, padat dan mempunyai
kapsul. Ukuran kelenjar bulbourethralis pada babi lebih besar (Widayati
dkk, 2008). Kelenjar bulbourethralis terdapat sepasang, berbentuk bundar,

kompak, berselubung tebal dan pada sapi sedikit lebih kecil daripada
kelenjar bulbourethralis pada kuda. Kelenjar-kelenjar tersebut terletak di
atas urethra dekat jalan keluarnya dari cavum pelvis (Feradis, 2010).

BAB III
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM
3.1.

Waktu dan Tempat


Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 20 Mei 2016
bertempat di Laboratorium Reproduksi Ternak Gedung E Lantai 2 Fakultas
Peternakan Universitas Mataram.

3.2.

3.3.

Materi Praktikum
3.2.1. Alat-alat
Satu set alat Section
Bak Lilin
Alat Tulis
Timbangan
Pita Ukur
3.2.2. Bahan
Organ Reproduksi Sapi Jantan
Metode Praktikum
Adapun metode praktikum yang digunakan dalam praktikum ini
yaitu sebagai berikut:
1. Mencuci bersih semua bagian organ kelamin kelamin jantan
2. Menguliti scrotum hingga bersih
3. Membuang semua lemak yang menempel pada bagian organ kelamin
4. Membersihkan bagian testis hingga terlihat dengan jelas bentuknya
5. Menyusun bagian organ kelamin sesuai dengan urutannya
6. Mengamati setiap bentuk dan letak dari setiap organ kelamin
7. Menggambar organ kelamin beserta nama organnya
8. Mendokumentasikan gambar dari organ kelamin
9. Membersihkan alat dan bahan setelah selesai melakukan pengamatan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Praktikum
Tabel 1. Data Pengukuran dan Penimbangan Organ Reproduksi Sapi Jantan
No

Organ

Panjang

Lingkar

Berat Total
9

(Cm)
1
2
3

Penis
Testis Kanan
Testis Kiri

28
9
10

(Cm)

(Gram)

12
13

98,85

1
2
3
4
5
6

(Gambar 1. Organ Reproduksi Sapi Jantan)


Keterangan:
1. Glands Penis
2. Sigmoid Flexur
3. Preputium
4. Veniculus Fermeticus
5. Testis
6. Epididimis

1
2
3
4
5

(Gambar 2. Organ Testis Sapi)

10

Keterangan:
1. Penggantung Testis (Veniculus Fermeticus)
2. Capud Epididimis
3. Testis
4. Corpus Epididimis
5. Tubulus Seminiferus
6. Cauda Epidimis
4.2.

Pembahasan Praktikum
Reproduksi merupakan kemampuan atau usaha suatu makhluk
hidup untuk memperbanyak keturunannya dengan cara menghasilkan
individu baru. Dalam melakukan reproduksi tentu ternak memiliki organorgan yang berperan dalam proses reproduksi. Organ reproduksi ternak jantan
terdiri dari organ reproduksi primer, saluran-saluran organ kelamin serta
kelenjar tambahan atau kelenjar asesoris. Organ reproduksi terdiri dari organ
reproduksi primer dan sekunder. Organ reproduksi primer pada jantan yaitu
testis sedangkan organ reproduksi sekunder terdiri dari saluran-saluran
kelamin meliputi vas deferen, epididimis, vas eferen, serta penis yang di
dalamnya terdapat saluran uretra. Berdasarkan hasil penimbangan berat total
organ reproduksi sapi jantan secara keseluluran yaitu sebesar 98,85 gram.
Testis terdiri dari dua buah yang merupakan organ reproduksi
primer karena bertugas dalam memproduksi sel kelamin jantan atau
spermatozoa melalui proses spermatogenesis. Bagian testis yang berfungsi
sebagai tempat pembentukan spermatozoa ini adalah tubulus seminiferus.
Selain berfungsi untuk menghasiolkan sel gamet jantan (spermatozoa), testis
juga berperan dalam memperoduksi hormone kelamin jantan yaitu
testosteron. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2009), mengatakan
bahwa testis merupakan organ primer yang bersifat esensial yaitu
menghasilkan sperma serta menghasilkan hormon kelamin jantan yaitu
testosteron. Berdasarkan hasil pengukuran pada testis didapatkan hasil yaitu
panjang testis sebelah kanan sebesar 9 cm serta lingkar testisnya

yaitu

sebesar 12 cm. Panjang testis kiri adalah 10 cm dengan lingkar testisnya


sebesar 13 cm. Faktor yang mempengaruhi perbedaan ukuran testis adalah
tergantung pada umur, berat badan, dan bangsa sapi. Secara fungsional testis
merupakan organ utama dari sistem reproduksi jantan yang berperan penting
dalam spermatogenesis dan steroidogenesis. Spermatogenesis berlangsung
11

pada lapisan epitel tubulus seminiferus testis untuk menghasilkan


spermatozoa, sedangkan steroidogenesis berlangsung di sel-sel leydig
jaringan interstisial testis untuk mensintesin hormon steroid jantan
(androgen).
Testis dibungkus oleh kapsul putih mengkilat (tunica albuginea)
yang banyak mengandung serabut syaraf dan pembuluh darah yang terlihat
berkelok-kelok. Skrotum adalah kantong pembungkus testes. Skrotum terdiri
atas kulit yang ditutupi bulu-bulu halus, tunica dartos dan tunica vaginalis
propria. Fungsi skrotum adalah mengatur temperatur testis dan epididimis
melindungi dan menyokong testis supaya tetap pada temperatur 40 sampai 70
C lebih rendah dari temperatur tubuh (Widayati dkk, 2008). Fungsi skrotum
adalah membantu memelihara suhu yang rendah dari testis yaitu 7 0 F di
bawah suhu tubuh, dengan jalan mengadakan pengkerutan dan pengendoran
dari dinding skrotum tersebut, dengan demikian proses spermatogenesis dapat
berjalan secara sempuna. Mekanisme pengaturan panas atau termoregulator
dilakukan oleh musculus cremaster externus dan musculus cremaster
internus. Kedua musculus ini akan menarik testis ke atas mendekati rongga
perut untuk mendapatkan pemanasan. Tunika dartos menarik testis mendekati
perut sehingga permukaan testis menjadi lebih kecil dan melipat untuk
mencegah pengeluaran panas. Apabila temperatur panas, kedua otot ini
relaksasi sehingga testis turun menjauhi perut dan permukaan mengembang
untuk mempercepat pengeluaran panas (Widayati dkk, 2008).
Rete testis terdiri dari saluran-saluran yang beranastomose dalam
mediastinum testis. Saluran-saluran ini terletak di antara tubulus seminiferus
dan ductus eferen yang berhubungan dengan ductus epididimis dalam kepala
epididimis. Sel leydig menghasilkan hormon kelamin jantan testosteron yang
terdapat di dalam jaringan pengikat di antara tubulus seminiferus.
Epididimis adalah saluran yang menghubungkan testis dan penis.
Epididimis dibagi menjadi 3 bagian, yaitu cauda epididimis, corpus
epididimis dan caput epididimis. Hal ini sesuai dengan pendapat Abimanyu
(2007), bahwa epididimis dapat dibagi atas kepala, badan, dan ekor. Kepala
(caput Epididymis) membentuk suatu penonjolan dasar dan agak berbentuk
mangkok yang dimulai pada ujung proximal testis. Umumnya Epididymis

12

berbentuk U, berbeda-beda dalam ukurannya dan menutupi seluas 1/3 dari


bagian testis. Frandson (2002) menambahkan bahwa, epididimis merupakan
pipa panjang dan berkelok-kelok yang menghubungkan vasa eferensia pada
testis dengan ductus deferens (vas deferens). Epididimis merupakan saluran
spermatozoa yang panjang dan berbelit, terbagi atas caput, corpus, dan cauda
epididimidis, melekat erat pada testis dan dipisahkan oleh tunika albugenia
Epididimis memiliki fungsi sebagai transportasi (saluran pengangkut sperma),
meningkatkan konsentrasi sperma yang awalnya encer dengan konsentrasi
25.000-350.000 sel per mm3 menjadi lebih kental, maturasi (pematangan),
deposisi (penyimpanan) tepatnya dibagian cauda epididimis karena pada
tempat ini mampu mampu mempertahankan kehidupan sperma dan reabsorbsi
cairan sperma agar lebih kental dengan penambahan konsentrasi.
Epididimis mempunyai empat fungsi utama yaitu pengangkutan
atau transportasi, konsentrasi atau pengentalan, maturasi dan penyimpanan
spermatozoa (Feradis, 2010). Epididimis berfungsi untuk mengangkut
spermatozoa. Beberapa faktor berkontribusi terhadap gerakan spermatozoa
melalui epididimis. Salah satu faktor adalah tekanan dari produksi
spermatozoa. Fungsi kedua dari epididumis adalah konsentrasi spermatozoa.
Spermatozoa masuk ke dalam epididimis dari testis berkonsentrasi relatif
sekitar 100 juta spermatozoa/ml. Epididimis konsentrasinya meningkat
sekitar 4 x 109 (4 miliar) spermatozoa per ml. Konsentrasi terjadi sebagai
cairan, yang menangguhkan spermatozoa di testis, yang diserap oleh sel-sel
epitel dari epididimis. Penyerapan cairan ini terutama di caput dan ujung
proksimal dari corpus. Fungsi ketiga dari epididimis adalah penyimpanan
spermatozoa. Kebanyakan spermatozoa disimpan dalam cauda epididimis
dari mana spermatozoa terkonsentrasi yang dikemas ke dalam epididimis
lumen. Epididimis sapi dewasa mengandung kira-kira 50 sampai 74 miliar
spermatozoa. Kondisi yang optimal dalam cauda dibutuhkan untuk
kelangsungan hidup spermatozoa selama penyimpanan. pH rendah, viskositas
tinggi, konsentrasi karbon dioksida tinggi, rasio kalium-natrium tinggi,
pengaruh testosteron, dan kemungkinan kombinasi beberapa-faktor lainnya
berkontribusi ke tingkat metabolisme rendah dan memperpanjang daya hidup.
Fungsi keempat epididimis adalah pematangan spermatozoa. Spermatozoa
13

baru terbentuk masuk ke caput dari ductus efferens, spermatozoa tersebut


tidak memiliki kemampuan motilitas ataupun kesuburan. Ketika spermatozoa
melewati epididimis spermatozoa memperoleh kemampuan untuk menjadi
motil dan subur. Jika cauda yang diikat di setiap akhir, spermatozoa paling
dekat dengan corpus meningkat kesuburannya hingga 25 hari. Selama periode
yang sama, spermatozoa terdekat ductus deferens berkurang kemampuan
kesuburannya. Oleh karena itu, tampak bahwa kemampuan spermatozoa
menjadi subur di cauda dan kemudian menjadi matang namun akan menurun
kesuburannya apabila tidak dikeluarkan.
Vas deferens adalah saluran yang menghubungkan epididimis
dengan uretra untuk menyalurkan sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat
Toelihere (1981) bahwa fungsi vas deferens adalah mengangkut sperma dari
cauda epididimis ke uretra. Frandson (2002), mengatakan bahwa vas deferens
(ductus deferens) adalah pipa berotot yang pada saat ejakulasi mendorong
spermatozoa dari Epididimis ke duktus ejakulatoris dalam uretra prostatik..
Ujung dari vas deferens membesar dan disebut ampula yang berfungsi
sebagai tempat deposisi sementara sperma yang akan diejakulasikan.
Beberapa berpendapat bahwa ampulla berfungsi sebagai depot penyimpanan
jangka pendek untuk semen. Namun, spermatozoa matang hanya dalam
waktu singkat di dalam ampulla. Spermatozoa berenang di dalam ampulla
selama ejakulasi sebelum memasuki urethra.
Penis merupakan organ kopulasi yang terdiri dari 2 bagian yaitu
gland penis dan penis. Penis mempunyai tugas ganda yaitu pengeluaran urin
dan perletakan semen ke dalam saluran reproduksi betina. Penis terdiri dari
akar, badan, dan ujung bebas yang berakhir pada glans penis (Feradis, 2010).
Penis merupakan organ kopulasi pada hewan jantan, berbentuk silinder
panjang dan bersifat fibroelastik (kenyal). Penis membentang ke depan dari
arcus ischiadicus pelvis sampai ke daerah umbilikus pada dinding ventral
perut. Penis ditunjang oleh fascia dan kulit. Penis terdiri akar atau pangkal,
badan penis dan ujung penis (Widayati et al., 2008). Berdasarkan hasil
praktikum didapatkan panjang penis sapi yaitu 28 cm. Faktor yang
memperngaruhi ukuran penis adalah bobot badan, umur dan bangsa sapi.

14

Menurut Feradis (2010), bagian ujung atau glans penis terletak


bebas dalam preputium. Badan penis terdiri dari corpus cavernosum penis
yang relatif besar dan diselaputi oleh suatu selubung fibrosa tebal berwarna
putih, tunica albuginea. Bagian ventral terdapat corpus cavernosum urethra,
suatu struktur yang relatif lebih kecil yang mengelilingi urethra.
Preputium adalah suatu invaginasi berganda dari kulit yang berisi
dan menyelubungi bagian bebas penis sewaktu tidak ereksi dan menyelubungi
badan penis caudal dari glans penis sewaktu ereksi. Preputium melindungi
penis dari pengaruh luar dan kekeringan. Fornix preputii adalah daerah
dimana preputii bertaut dengan penis tepat caudal dari glans penis (Widayati
et al., 2008). Preputium merupakan invaginasi kulit yang tertutup pada ujung
penis. Ini memiliki asal embrio sama dengan labia minora pada betina. Hal ini
dapat dibagi ke dalam bagian prepenile, yang merupakan lipatan luar, dan
bagian penis, atau lipatan dalam. Lubang kulit preputium ini dikelilingi oleh
rambut preputial panjang.
Uretra adalah saluran akhir dari sperma, yang berfungsi juga
sebagai saluran urin. Uretra yang memanjang dari vesika urinaria sampai ke
ujung bebas penis sebagai lintasan urin dan semen. Uretra adalah saluran
tunggal yang memanjang dari persimpangan ampula ke ujung penis. Uretra
berfungsi sebagai saluran ekskretoris baik urin maupun semen.
Kelenjar asesoris merupakan organ reproduksi sekunder pada
ternak jantan. Kelenjar asesoris ada tiga macam yaitu vesikula seminalis,
kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Kelenjar vesicularis pada sapi terdapat
sepasang, jelas lobulasinya dan berada di dalam lipatan urogenital lateral dari
ampull. Sekresi kelenjar vesikularis merupakan cairan keruh dan lengket yang
mengandung protein, kalium, asam sitrat, fruktosa, dan beberapa enzim yang
konsentrasinya tinggi, kadang-kadang berwarna kuning karena mengandung
flavin. pH-nya berkisar 5,7 sampai 6,2. Dua senyawa yang disekresikan yaitu
fruktosa dan sorbitol, merupakan sumber utama energi untuk spermatozoa
sapi. Sekresi kelenjar vesikularis membentuk 50 persen dari volume ejakulasi
normal pada sapi (Feradis, 2010). Prostata adalah kelenjar tunggal yang
terletak di sekitar dan sepanjang urethra dibagian posterior saluran ekskretoris
dari kelenjar vesikularis. Sekresi prostata yang tinggi ion anorganik dengan

15

natrium, klor, kalsium, dan semua magnesium dalam larutan. Menurut


Widayati dkk, (2008), sekresi kelenjar prostata banyak mengandung ion
anorganik (Na, Cl, Ca, Mg). Sekresi pada sapi sangat encer dan mempunyai
pH yang basa (7,5 sampai 8,2). Kelenjar prostata berkontribusi kecil untuk
volume cairan semen di sebagian besar spesies. Kelenjar bulbourethralis
adalah sepasang kelenjar yang terletak di sepanjang urethra dekat titik luar
dari panggul. Ukuran dan bentuknya seperti kenari pada sapi. Hasil sekresi
yang bersifat mukus dan mirip protein kelenjar bulbourethralis, disekresikan
mendahului proses ejakulasi pada ruminansia, berperan menetralisasikan
lingkungan urethra dan melumasi urethra serta vagina.
Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (2002) bahwa kelenjar
prostat menghasilkan sekreta yang bersifat alkalis yang berperan sebagai
buffer saat berada di saluran reproduksi betina yang bersifat asam dan
memberikan bau yang spesifik pada cairan semen. Kelenjar cowper atau biasa
disebut dengan (kelenjar bulbouretral) berjumlah sepasang dan terletak di
belakang uretra. Kelenjar prostat adalah salah satu kelenjar asesoris yang
berfungsi menghasilkan cairan yang memberi bau khas pada sperma.

16

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pelaksanaan
praktikum Ilmu Reproduksi Ternak ini yaitu sebagai berikut:
1. Organ reproduksi sapi jantan terdiri dari organ primer dan organ
sekunder. Organ primer yaitu testis sedangkan organ sekunder terdiri
dari saluran-saluran kelamin serta kelenjar tambahan (asesoris).
2. Testis merupakan organ kelamin primer yang memiliki fungsi ganda
yaitu sebagai penghasil sel gamet (spermatozoa) dan penghasil
hormon kelamin yaitu testosterone. Testis dibungkus oleh skrotum.
3. Saluran kelamin terdiri dari epididimis, vas deferen, serta penis yang
didalamnya terdapat uretra.
4. Kelenjar asesoris merupakan kelenjar tambahan yang terdiri dari
kelenjar vesikularis, prostate, dan bulbourethralis (cowper).

5.2.

Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan terhadap pelaksanaan
praktikum ini yaitu sebaiknya praktikan lebih serius dalam melakukan
pengamatan terhadap organ reproduksi jantan sehingga untuk kedepannya
dapat membedakan nama, fungsi serta letak masing-masing organ.

17

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu. 2007. Sistem Reproduksi Sapi Termasuk Perbandingan dengan


Ruminansia Lainnya ( Domba, Kuda dan Babi ). MIPA FKIP Biologi
Universitas Jambi: http://bhimashraf.blogspot.com/2007/04/archive.40
70038573.html
Anonim, 2009. Testis. http//www.Google.com. (Diakses 23 Mei 2016)
Anonim, 2001. Anatomi dan Fungsi Reproduksi Jantan. http://peternakanuin.
blogspot.com/2001/12/anatomi-dan-fungsi-reproduksi-jantan.mht.
(Diakses 23 Mei 2016).
Anonim, 2008. Galnds Penis. http//glands-penis.htm. (Diakses 23 Mei 2016)
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.
Frandson. 2002. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada Univercity.
Yogyakarta.
Firdaus.

2004.

2009. Kelenjar

Assesoris

Jantan.

http//kelenjar-assesoris-

jantan.html. (Diakses 23 Mei 2016).


Harianto. 2005. Buku Teks Histologi Veteriner II Edisi Ketiga. UI-Press. Jakarta
Jamaludin.

2002.

Kelenjar

Prostate. http://tianshicenter.blogspot.com/feeds/

prostate. (Diakses 23 Mei 2016)


Nuryadi.

2000. Dasar-dasar

Reproduksi

Ternak. http://changes-theworld.

blogspot. com/2000_05_01_archive.html. (Diakses 23 Mei 2016)


Partodihardjo. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Produksi Mutiara. Jakarta.
Setiawan. 2005. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Toelihere. 2007. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
Widayati, D.T, Kustono., Ismaya., S. Bintara. 2008. Ilmu Reproduksi Ternak.
Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

18

LAMPIRAN

19

20