Anda di halaman 1dari 17

SIKAP TERHADAP PENGETAHUAN, MITOS, ILMU KEALAMAN DAN

FILSAFAT DAN DAMPAKNYA PADA PROSES PEMBELAJARAN


BIOLOGI

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Filsafat IPA dan Bioetika
yang dibina oleh Dr. H. Abdul Gofur, M.Si dan Dr. Sueb, M.Kes

Oleh :
Biologi / Offering A
M. B. Murditya
(160341800937)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCA SARJANA
POGRAM STUDI BIOLOGI
Agustus 2016

ABSTRAK
Murditya, M. B. 2016. Sikap Terhadap Pengetahuan, Mitos, Ilmu Kealaman Dan
Filsafat Dan Dampaknya Pada Proses Pembelajaran Biologi. Makalah,
Prodi Pendidikan Biologi, Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang.
Pembimbing: (1) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si, (2) Dr. Sueb, M.Kes
Kata kunci: Pengetahuan, Mitos, Ilmu Kealaman, Filsafat.
Pada era keterbukaan informasi seperti saat ini, sangat penting bagi
seseorang untuk dapat bersikap terhadap berbagai informasi yang diterimanya.
Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk menyaring,
mengolah dan menganalisis berbagai informasi yang diterima oleh seseorang.
Lebih lanjut, pemikiran kritislah yang mengubah seperangkat informasi dan
pengetahuan menjadi ilmu kelaman atau sains dan seperangkat filosofi nilai yang
membangun masyarakat. Di pihak lain, pemikiran kritis pula yang menentukan
bahwa seperangkat informasi dan pengetahuan berubah menjadi mitos yang layak
ditinggalkan. Seiring berjalannya waktu, filsafat tidak hanya harus didukung
pemikiran kritis dan rasional saja namun juga oleh pengalaman yang data diterima
oleh panca indra. Lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa yang menjadi pembeda
antara filsafat dan sains dengan mitos dan pengetahuan adalah bahwa filsafat dan
sains harus didukung oleh kemampuan berpikir kritis, rasional dan empiris. Di
pihak sikap antipati terhadap filsafat berpotensi menimbulkan bias pemikiran yang
bias dalam pemikiran seseorang saat mensikapi pengetahuan, mitos, ilmu
kealaman dan filsafat. Bias tersebut kemudian berkembang menjadi pemikiran
yang keliru. Pada guru dan calon guru biologi, bias pemikiran ini kemungkinan
dapat menimbulkan kesenjangan antara perkembangan penelitian biologi dengan
konsep biologi yang diajarkan di sekolah, miskonsepsi dan lambatnya
peningkatan tingkat literasi sains.

ABSTRACT
Murditya, M. B. 2015. Attitude Toward Knowledge, Myth, Science and
Philosophy and Its Impact On Biology Learning Process. Paper,
Department of Biology, Graduate Program, State University of Malang.
Advisors: (1) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si, (2) Dr. Sueb, M.Kes
Keywords: Knowledge, Myth, Natural Science, Philosophy.
In globalization era, it is important to have an ability to determine the
incoming information. Critical thinking skill was an ability to determining,
processing and analyzing various incoming information. Furthermore, critical
thinking skill was responsible in order transforming set of information and
knowledge into science dan philosophical value that construct the society. In the
other hand, it was also critical thinking skill that was responsible on transforming
set of information and knowledge into myth that should be abandoned. During its
development, philosophy has been transformed, the modern philosophy not only
supported by critical thinking skill and reason, but also must be empirically
proven. Furthermore, it could be concluded that the differences between
philosophy with science and myth with knowledge was fact that dictate
philosophy and science must be supported by ability to think critically, reasonably
and empirically. In the other hand, the neglectful attitude toward philosophy
robably could create biased mind frame while determining right decision toward
knowledge, myth, science and philosophy. In teacher and student of biology
education, this biased mind frame could give arise gap between biological
research and biology education, misconception and slow improvement in
scientific literacy

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya, sehingga penyusunan makalah yang berjudul Sikap Terhadap
Pengetahuan, Mitos, Ilmu Kealaman Dan Filsafat Dan Dampaknya Pada Proses
Pembelajaran Biologi ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu
.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima
kasih kepada semua pihak yang telah banyak berperan dalam proses penulisan
makalah ini, hingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik, untuk itu penulis
menyampaikan terima kasih kepada :

1. Dr. H. Abdul Gofur, M.Si, dan Dr. Sueb, M.Ke selaku dosen pembimbing
Mata Kuliah Tugas Filsafat IPA dan Bioetika yang telah membimbing dan
mengarahkan penulis dalam penyusunan makalah ini.
2. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah
memberikan bantuan dalam penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini, masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak kekurangannya, untuk itu maka penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca untuk
kesempurnaan makalah ini.

Malang, 25 Agustus 2016

Penulis

iii

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK ............................................................................................................ i
ABSTRACT .......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................. 3
C. Tujuan ................................................................................................... 3
D. Manfaat ................................................................................................. 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Hubungan Antara Pengetahuan, Mitos, Ilmu Kealaman Dan
Filsafat .................................................................................................. 4
B. Hubungan Antara Kemampuan Berpikir Kritis Dengan Beberapa
Masalah Pembelajaran Biologi ............................................................. 6
BAB III PENUTUP
A. Simpulan ............................................................................................... 10
B. Saran ..................................................................................................... 11
DAFTAR RUJUKAN ........................................................................................... 12

iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada era keterbukaan informasi saat ini cukup sulit bagi seseorang untuk
dapat mengambil sikap terhadap berbagai macam informasi yang diterimanya. Hal
ini dikarenakan pada era keterbukaan informasi ini, hampir setiap hari masyarakat
dipaparkan pada informasi yang sangat banyak, beragam dan bahkan terkadang
saling bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Sebagai contohnya, seringkali
seseorang bergabung dalam beberapa grup di media sosial dimana setiap grup
membicarakan topik informasi yang beragam, selain itu ditambah dengan hobi dari
beberapa anggota grup yang senang asal membagikan informasi yang
mengakibatkan ketidaknyamanan dan juga ketidakpercayaan pada informasi yang
dibagikan. Rasa ketidakpercayaan ini muncul sebagai akibat dari fenomena yang
seringkali terjadi yakni informasi yang tersebar di grup media sosial seringkali
bertolak belakang bahkan merupakan berita bohong. Hal tersebut menyebabkan
sangat penting bagi seseorang untuk memiliki kemampuan menyaring informasi
sehingga dapat bersikap terhadap berbagai informasi yang diterimanya.
Seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk bersikap terhada suatu
informasi yang terpapar padanya memiliki kemungkinan untuk turut menyebarkan
informasi tersebut terutama melalui media sosial apabila informasi tersebut
terkesan menarik baginya. Fenomena inilah yang umum dijumpai dalam
masyarakat saat ini. Lebih lanjut, apabila informasi yang disebarkan tidak jelas
sumber dan kebenarannya akan berpotensi merugikan baik untuk penyebar
informasi maupun penerima informasi tersebut. Informasi sendiri secara etimologis
berarti kabar atau berita mengenai sesuatu (KBBI, 2016). Pada umumnya tingkat
kebenaran suatu informasi dapat dinilai dari sumbernya, namun pada beberapa
kasus penyebaran informasi yang berulang-ulang memungkinkan informasi
tersebut berubah menjadi sebuah pengetahuan. Di pihak lain, perubahan suatu
informasi menjadi pengetahuan akan menjadi fenomena yang merugikan apabila
informasi yang disebarkan tersebut keliru.

Informasi dapat dikatakan sebagai bahan paling dasar untuk menghasilkan


karya pemikiran seseorang. Informasi yang didapat oleh seseorang atau masyarakat
dapat tetap menjadi sebuah informasi ataupun berkembang menjadi pengetahuan,
mitos, sains bahkan menjadi filosofi nilai yang mendasari tatanan hidup
masyarakat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan kemampuan memilah,
mengolah dan mensikapi informasi menjadi penting. Lebih lanjut, guna
memaksimalkan ketiga kemampuan tersebut diperlukan kemampuan berpikir kritis.
Kemampuan berpikir kritis merupakan jembatan yang menghubungkan
antara informasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat
untuk menjadi ilmu kealaman atau sains bahkan menjadi filosofi. Kemampuan
berpikir kritis akan menimbulkan rasa takjub dan penasaran dalam diri seseorang.
Pada gilirannya, rasa takjub dan rasa penasaran yang timbul dalam diri seseorang
akan memicu orang tersebut untuk kritis bertanya (Chaffe, 2011). Pertanyaanpertanyaan kritis inilah yang kemudian akan memicu seseorang untuk berpikir
secara filosofis. Ketika seseorang telah berpikir secara filosofis berarti orang
tersebut sedang berpikir tentang sebuah pemahaman yang mendalam tentang
sebuah arti sejati dari suatu hal (Chaffe, 2011).
Segala aspek perkembangan dan kemajuan umat manusia yang terjadi saat
ini merupakan hasil pemikiran kritis dari para pemikir di berbagai bidang.
Pemikiran kritislah yang mengubah seperangkat informasi dan pengetahuan
menjadi sains dan seperangkat filosofi nilai yang membangun masyarakat. Di
pihak lain, pemikiran kritis pula yang menentukan bahwa seperangkat informasi
dan pengetahuan berubah menjadi mitos yang layak ditinggalkan.
Kondisi yang dijumpai di masyarakat khususnya pada mayoritas guru
biologi dan calon guru biologi mennujukkan sikap yang antipati terhadap filsafat.
Sikap yang semacam ini tentunya menimbulkan munculnya penyikapan yang
berbeda terhadap pengetahuan, mitos, ilmu kealaman dan filsafat yang pada
gilirannya akan berpengaruh pada proses pembelajaran biologi. Berdasarkan
paparan tersebut penulis menyusun makalah yang berjudul SIKAP TERHADAP
PENGETAHUAN, MITOS, ILMU KEALAMAN DAN FILSAFAT DAN
DAMPAKNYA PADA PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan antara pengetahuan, mitos, ilmu kealaman dan filsafat?
2. Bagaimana hubungan antara kemampuan berpikir kritis dengan beberapa
masalah pembelajaran biologi?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, mitos, ilmu kealaman dan
filsafat
2. Untuk mengetahui hubungan antara kemampuan berpikir kritis dengan
beberapa masalah pembelajaran biologi
D. Manfaat
1. Makalah ini bermanfaat untuk menginformasikan kepada akademisi dan
praktisi pendidikan sains, khususnya pendidikan biologi tentang hubungan
antara pengetahuan, mitos, ilmu kealaman dan filsafat
2. Makalah ini bermanfaat untuk menginformasikan kepada akademisi dan
praktisi pendidikan sains, khususnya pendidikan biologi tentang pentingnya
membelajarkan siswa agar memiliki kemampuan berpikir kritis

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, MITOS, ILMU KEALAMAN DAN


FILSAFAT
Penjelasan tentang hubungan antara pengetahuan, mitos, ilmu kealaman atau
sains dan filsafat dapat dimulai dari etimologis. Etimologi adalah ilmu yang
memnyelidiki asal usul kata dan perubahan dalam bentuk dan makna (KBBI, 2016).
Pengetahuan secara etimologi dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui
(KBBI, 2016). Mitos dalam KBBI (2016) cerita suatu bangsa tentang dewa dan
pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam,
manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan
cara gaib. Sains dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematis yang diperoleh dari
sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar
atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari, dan sebagainya (KBBI, 2016).
Lebih lanjut dalam KBBI (2016) dijelaskan bahwa filsafat adalah pengetahuan dan
penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan
hukumnya. Dari pemaparan tersebut, dapat dipahami bahwa pengetahuan merupakan
himpunan yang menghubungkan antara pengetahuan itu sendiri, mitos, sains dan
filsafat.
Di pihak lain, hubungan antara pengetahuan, mitos, ilmu kealaman atau sains
dan filsafat juga dapat dijelaskan dari sudut pandang epistimologis. Dari sudut
pandang epistimologis, Socrates dan Plato menyatakan bahwa pengetahuan, mitos,
sains dan filsafat semuanya adalah hasil dari olah pikiran manusia yang bersumber
dari kemampuan berpikir rasional manusia (Chaffe, 2011). Pemikiran semacam ini
disebut juga dengan aliran rasionalis. Socrates, plato dan pemikir rasionalis lain juga
berpendapat bahwa setiap orang dilahirkan dengan pengetahuan atau ide bawaan
(innate knowledge) (Chaffe, 2011). Pendapat dan pemikiran para pemikir rasionalis
tersebut ditentang oleh John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan, sains dan
filsafat semuanya adalah hasil dari olah pikiran manusia yang bersumber dari
pengalaman (Chaffe, 2011). Pengalaman sendiri merupakan data atau informasi yang
diperoleh dan diteruskan dari seluruh panca indra seseorang (Chaffe, 2011). Lebih
lanjut, hasil pemikiran rasional yang tidak didukung dan dibuktikan oleh panca indra
seseorang hanya akan menjadi sebuah spekulasi metafisik (Chaffe, 2011). Keberadaan
4

5
pengetahuan atau ide bawaan (innate knowledge) yang dipercaya oleh para pemikir
rasionalis ini merupakan salah satu contoh dari spekulasi metafisik. Pada kehidupan
masyarakat umum, mitos dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari spekulasi
metafisik.
Pengetahuan, mitos, sains dan filsafat berdasarkan tinjauan etimologis dan
epistimologis dapat dijelaskan sebagai hasil olah pikiran manusia terhadap
pengetahuan yang diperolehnya. Lebih lanjut hasil olah pikiran manusia tersebut
untuk dapat dinyatakan benar maka harus dapat dikaji secara rasional dan dibuktikan
oleh pengalaman yang dapat diterima oleh panca indra. Salah satu contoh
pengetahuan yang secara rasional dapat dianggap benar namun tidak dapat dibuktikan
melalui pengalaman yang dapat diterima oleh panca indra adalah mitos dewa petir
Thor. Orang-orang skandinavia di masa lalu mengetahui bahwa salah satu sumber
suara keras adalah dua keras benda yang saling bertumbukan, petir menghasilkan
suara keras seperti suara dua benda yang saling bertumbukan. Hal inilah yang
kemudian, membuat orang-orang skandinavia di masa lalu mengasosiasikan suara
petir dengan aktivitas orang memukul palu, dan untuk menghasilkan suara yang keras
tersebut maka yang memukul palu bukanlah orang melainkan dewa yang bernama
Thor. Dari sudut pandang pemikiran rasional, pengasosian ide tersebut dapat
dibenarkan, namun asosiasi tersebut sayangnya tidak didukung dengan pengalaman
yang dapat dibuktikan dengan panca indra. Konsep asosiasi antara suara petir dengan
dewa petir Thor dapat dengan mudah dipatahkan dengan pertanyaan sederhana
seperti, adakah yang pernah melihat Thor? atau berapa besar ukuran palu Thor?.
Karakter utama yang membedakan antara sains dengan mitos serta filsafat
masa lalu dengan filsafat modern adalah keterujian melalui pengalaman yang dapat
diterima oleh panca indra. John Locke menyatakan bahwa hasil olah pikiran rasional
yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman yang dapat diterima oleh panca indra
adalah spekulasi metafisik (Chaffe, 2011). Lebih lanjut pengalaman yang dapat
diterima oleh panca indra ini merupakan dasar dari kerangka berpikir secara empiris.
Hal inilah yang kemudian mendasari munculnya aliran filsafat empiris yang
dipelopori oleh John Locke.
Penjelasan mengenai hubungan yang sangat dekat antara filsafat dan sains
dapat dimulai dari definisi dan perkembangan filsafat itu sendiri. Filsafat berasal dari
dua kata bahasa yunani, yakni philein yang berarti mencintai dan sophia yang berarti
kebijaksanaan, yang jika digabungkan menjadi upaya pencarian kebijaksanaan

6
(Chaffe, 2011). Sepanjang sejarah peradaban manusia, misi dan tujuan dari filsafat
terus mengalami perubahan, sebab secara alami filsafat terus berhadapan dengan
pertanyaan paling mendasar, menantang, dan kompleks dalam kehidupan manusia
(Chaffe, 2011). Hal ini sangat wajar karena kemunculan filsafat sendiri dimulai dari
rasa takjub yang kemudian memicu timbulnya rasa penasaran, pada gilirannya rasa
penasaran ini akan memicu timbulnya pemikiran yang kritis, rasional dan kemudian
empiris (Chaffe, 2011). Seiring berjalannya waktu, sangat dapat dipahami bahwa halhal yang menimbulkan rasa takjub dan penasaran pada manusia terus berubah. Hal
inilah yang kemudian menyebabkan filsafat menjadi semakin mendalam sekaligus
semakin meluas hingga mencangkup banyak aspek dari kehidupan manusia. Dalam
perkembangannya, filsafat kemudian melahirkan disiplin ilmu baru yakni sains, baik
sains alam maupun sains sosial (Chaffe, 2011). Hal inilah yang kemudian
menyebabkan filsafat dapat disebut sebagai ibu dari segala ilmu.
Sains sebagai keturunan langsung dari filsafat pasti memiliki sifat-sifat yang
serupa dengan filsafat. Seiring perkembangan filsafat yunani menjadi filsafat modern
yang ditandai dengan munculnya aliran filsafat empiris, maka sains yang telah
mewarisi sifat cara berpikir kritis dan rasional pada gilirannya juga mewarisi sifat
empiris. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa filsafat dengan sains baik sains alam dan
sosial memiliki persamaan dalam hal kerangka berpikir kritis, rasional dan empiris.

B. HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DENGAN


BEBERAPA MASALAH PEMBELAJARAN BIOLOGI

Pada beberapa negara berkembang, khususnya Indonesia, masyarakat pada


umumnya cenderung bersifat anti terhadap filsafat dan aktivitas berpikir kritis degan
alasan takut terjerumus pada pemikiran yang keliru. Masyarakat Indonesia pada
umumnya menghindari filsafat karena filsafat bersifat bebas dan tidak terikat. Hal
inilah yang kemudian dianggap oleh mayoritas masyarakat Indonesia sebagai
ketidakpastian yang harus dihindari. Di pihak lain, Chaffe (2011) menjelaskan bahwa
tujuan filsafat adalah memerdekakan pikiran dari berbagai prasangka sosial, politik
dan agama sehingga terbentuk jiwa yang berkesadaran guna menemukan berbagai
makna. Hal ini cukup bertentangan dengan pemikiran mayoritas masyarakat Indonesia
yang cenderung terikat pada prasangka sosial, politik dan agama. Lebih lanjut, sikap

7
anti terhadap filsafat ini tercermin jelas dari sikap mayoritas masyarakat Indonesia
yang sukar mengutarakan dan menerima kritik serta cenderung patuh.
Sikap anti filsafat pada mulanya akan berdampak pada terjadinya bias dalam
pemikiran seseorang dalam bersikap terhadap pengetahuan, mitos, ilmu kealaman dan
filsafat. Bias tersebut kemudian berkembang menjadi pemikiran yang keliru.
Pemikiran

yang keliru tersebut dapat bertahan apabila orang tersebut

kurang

berkembang kemampuan berpikir kritis sehingga orang tersebut sukar mengutarakan


dan menerima kritik. Ironisnya, kondisi ini juga umum dijumpai pada mahasiswa
perguruan tinggi, yang pada pembahasan makalah ini difokuskan pada universitas
eks-LPTK dan LPTK. Hal ini tentu akan berdampak pada kualitas luaran tenaga
kependidikan khususnya guru. Kualitas guru lulusan suatu universitas eks-LPTK dan
LPTK paling mudah dilihat dari penguasaan materi pelajaran yang diampunya.
Guru yang memiliki kemampuan berpikir kritis rendah akan cenderung sukar
menerima konsep ilmu baru dan imun terhadap kritik. Guru yang semacam ini akan
sukar menyesuaikan diri dan aktivitas pembelajarannya dengan perkembangan ilmu
yang dinamis. Salah satu bidang sains yang saat ini berkembang sangat pesat adalah
biologi, maka idealnya guru biologi harus memiliki kemampuan berpikir kritis yang
baik sehingga dapat menyesuaikan pembelajarannya dengan perkembangan bidang
keilmuan dan zaman. Pada kenyataannya, mayoritas guru biologi di Indonesia tidak
memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik sehingga muncul beberapa masalah
dalam proses pembelajaran biologi diantaranya: kesenjangan antara perkembangan
penelitian biologi dengan konsep biologi yang diajarkan di sekolah (Dougherty,
2011); Miskonsepsi (Tekkaya, 2002; Kwen, 2005; Nehm dan Reilly, 2007; Thompson
dan Louge, 2006); terakhir adalah perlunya peningkatan tingkat literasi sains (Porter
dkk, 2010).
Lemahnya kemampuan berpikir kritis menyebabkan guru kehilangan rasa
takjub akan suatu hal atau konsep baru pada mata pelajaran yang diampunya sehingga
berakibat pada terjadinya stagnansi belajar. Ironisnya pada kebanyakan guru,
stagnansi belajar ini seringkali terjadi pada beberapa tahun pasca lulus kuliah.
Stagnansi belajar ini kemudian menyebabkan terjadinya ketertinggalan yang jauh
antara konsep-konsep yang diajarkan guru di sekolah dengan konsep-konsep baru
yang ditemukan oleh peneliti, dalam bahasan ini khususnya untuk biologi. Dougherty
(2011) menemukan bahwa penyebab utama terjadinya ketertinggalan yang jauh antara
konsep-konsep yang diajarkan guru biologi di berbagai sekolah di Amerika dengan

8
konsep-konsep baru yang ditemukan oleh peneliti adalah rendahnya standard capaian
kompetensi mata pelajaran biologi yang ditetapkan oleh kurikulum Amerika. Hal ini
lah yang kemudian menjadi salah satu alasan bagi guru biologi di Amerika untuk
merasa cukup dengan pengetahuan ilmu biologi yang dimilikinya sehingga enggan
untuk mengikuti perkembangan dari berbagai penelitian terbaru di bidang biologi.
Ironisnya, kemungkinan besar hal yang sama juga sedang terjadi pada guru biologi di
Indonesia sebagai akibat dari perpaduan antara lemahnya kemampuan berpikir kritis
dan rendahnya standard capaian kompetensi mata pelajaran biologi yang ditetapkan
dalam kurikulum 2013.
Lemahnya kemampuan berpikir kritis juga menyebabkan guru dan siswa,
sukar mendeteksi dan memperbaiki miskonsepsi yang diterimanya. Miskonsepsi
adalah ketidaksesuaian konsep yang dimiliki oleh siswa dengan konsep yang dimiliki
oleh ilmuwan di bidangnya (Tekkaya, 2002). Miskonsepsi yang terjadi pada siswa
biasanya muncul bukan karena konsep yang dipelajari itu terlalu sulit, namun karena
siswa memandang konsep yang diajarkan tersebut dari sudut pandang yang berbeda
dari sudut pandang guru atau ilmuwan (Coley dan Taner, 2012). Coley dan Taner
(2015) menjelaskan bahwa munculnya miskonsepsi akibat perbedaan sudut pandang
siswa, guru dan ilmuwan terjadi sebab latar belakang siswa yang beraneka ragam.
Lebih lanjut, Thompson dan Louge (2006) menyatakan bahwa miskonsepsi yang
terjadi pada siswa memiliki pola tingkat dan jenis miskonsepsi yang muncul pada
siswa dengan kelompok usia tertentu.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa miskonsepsi tidak muncul sebagai
akibat heterogenitas latar belakang siswa, tetapi akibat pembelajaran konsep yang
salah oleh guru. Miskonsepsi yang terjadi pada siswa kemungkinan besar muncul
akibat pembelajaran konsep yang salah oleh guru (Yates dan Marek, 2014).
Miskonsepsi yang terjadi pada siswa dapat terjadi secara tidak sengaja akibat
pembauran informasi yang diperoleh siswa di sekolah dan diluar sekolah, maupun
terjadi secara sengaja akibat tendensi tertentu dari guru (Yates dan Marek, 2014).
Miskonsepsi yang terjadi pada guru dapat didiagnosa berdasarkan soal ujian yang
dibuatnya, sebab soal ujian yang dibuat oleh guru menunjukkan tingkat pemahaman
maupun tendensi dari guru tersebut (Kwen, 2005). Kemunculan miskonsepsi dalam
proses pembelajaran yang sulit disadari dan diperbaiki dapat menyebabkan
pemahaman atau bahkan mitos dalam pembelajaran. Di pihak lain, Nehm dan Reilly
(2007) menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya miskonsepsi dapat diminimalisir

9
dengan model pembelajaran aktif (active-learning model). Model pembelajaran aktif
dapat

meminimalisir

kemungkinan

munculnya

miskonsepsi

sebab

model

pembelajaran ini memungkinkan siswa dan guru untuk berpikir kritis serta
berinteraksi aktif sehingga dapat saling mengkoreksi (Nehm dan Reilly, 2007).
Pada era keterbukaan informasi seperti saat ini, kemampuan beripikir kritis
yang dibelajarkan oleh filsafat dan sains sangat diperlukan untuk mengembangkan
tingkat literasi sains yang bagus. Literasi sains diartikan sebagai sebuah kemampuan
untuk memahami, menganalisis dan mengintegrasikan data tersebut ke dalam
pengetahuan sains yang lebih umum (Porter dkk, 2010). Tingkat penguasaan literasi
sains yang baik memungkinkan seseorang untuk mampu menyaring, menganalisis dan
mengolah data atau informasi yang tersaji di media dengan baik, sehingga dapat
mengambil sikap yang sesuai berkenaan dengan data atau informasi tersebut.
Kemampuan berpikir kritis, rasional dan empiris yang dibelajarkan melalui
filsafat dan sains memiliki peran yang penting dan mendasar bagi seorang guru,
khususnya guru biologi. Ketiga kemampuan tersebut memungkinkan guru biologi
mejadi pribadi yang penuh rasa takjub, sehingga menjadi terus penasaran dan peduli
mengikuti perkembangan penelitian sub bidang biologi yang menarik baginya. Hal ini
memungkinkan pemahaman keilmuan biologinya semakin dalam sehingga dapat
mengajarkan konsep-konsep biologi pada siswa yang diselaraskan dengan
perkembangan ilmu biologi saat ini.
Guru yang terbiasa berpikir kritis, rasional dan empiris melalui filsafat akan
menjadi pribadi yang bebas dan terbuka sekaligus selektif. Guru yang demikian akan
menjadi guru yang peragu dan selalu mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
diampunya dengan standard yang ketat, sehingga meminimalisir terjadinya
miskonsepsi. Lebih lanjut, guru tersebut juga mampu menyaring, menganalisis dan
mengolah data atau informasi yang tersaji di media dengan baik, sehingga dapat
mengambil sikap dan membelajarkan siswanya bersikap yang sesuai terhadap data
atau informasi yang diterima tersebut.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Penjelasan tentang hubungan antara pengetahuan, mitos, ilmu kealaman
atau sains dan filsafat dapat dimulai dari etimologis.dan epistimologis. Dari
sudut pandang etimologis dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan
himpunan yang menghubungkan antara pengetahuan itu sendiri, mitos, sains
dan filsafat. Di pihak lain, dari sudut pandang epistimologis, dapat
disimpulkan

bahwa

satu-satunya

hal

yang

menghubungkan

antara

pengetahuan, mitos, sains dan filsafat adalah fakta bahwa keempatnya adalah
hasil dari olah pikiran manusia yang bersumber dari kemampuan berpikir
rasional manusia. Lebih lanjut, dari sudut pandang epistimologis juga dapat
disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kiritis, rasional dan empiriklah yang
akan menentukan suatu data atau informasi akan tetap menjadi pengetahuan
ataukah berubah menjadi mitos, sains atau filsafat. Secara epistimologis juga
menyatakan bahwa mitos sebagai salah satu contoh spekulasi metafisik
merupakan hasil dari olah pikir rasional manusia yang tidak dapat dibuktikan
secara empirik. Di pihak lain, sains dan filsafat modern merupakan hasil olah
pikir rasional manusia yang teruji secara empirik. Lebih lanjut, dapat
disimpulkan bahwa persamaan yang menghubungkan filsafat dengan sains
baik sains alam dan sosial adalah dalam hal kerangka berpikir kritis, rasional
dan empiris.
Sikap antipati guru dan calon guru biologi terhadap filsafat merupakan
sikap yang kurang tepat. Hal ini dikarenakan melalui filsafat guru dan calon
guru biologi dapat belajar mengasah kemampuan berpikir kritisnya.
Kemampuan berpikir kritis ini penting bagi seorang guru biologi, utamanya
agar guru biologi dapat terus mengikuti dan menyesuaikan pembelajarannya
dengan perkembangan bidang biologi yang terbaru. Lebih lanjut, kemampuan
berpikir kritis juga diperlukan oleh guru biologi, agar guru biologi tersebut
memiliki rasa ragu dan mampu mengevaluasi pembelajaran yang diampunya,
sehingga meminialisir kemungkinan munculnya miskonsepsi. Lebih lanjut,

10

11

kemampuan berpikir kritis juga menyebabkan guru tersebut mampu


menyaring, menganalisis dan mengolah data atau informasi yang tersaji di
media dengan baik, sehingga dapat mengambil sikap dan membelajarkan
siswanya bersikap yang sesuai terhadap data atau informasi yang diterima
tersebut. Demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir yang
dibelajarkan melalui filsafat memiliki beberapa manfaat bagi guru biologi,
yakni:
a. guru biologi memiliki kesadaran untuk terus menyesuaikan diri dan
pembelajaran yang diampunya dengan perkembangan bidang biologi,
b. guru biologi dapat meminimalisir kemungkinan timbulnya miskonsepsi
pada siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran yang diampunya,
c. guru biologi dapat meningkatkan kemampuan literasi sains-nya dan juga
literasi sains muridnya.

B. Saran
Satu-satunya saran yang terpikir oleh penulis untuk memperbaiki dan
meningkatkan kualitas serta kedalaman bahasan dari makalah ini adalah
perlunya penulis untuk mempelajari filsafat secara lebih mendalam.
Berkenaan dengan hal tersebut maka penulis merasa perlu untuk mempelajari
filsafat dengan tidak hanya bersumber pada buku teks filsafat namun juga
jurnal internasional untuk filsafat. Penulis mengakui bahwa, penulis memiliki
keterbatasan akses informasi untuk mengakses referensi jurnal internasional
untuk filsafat. Lebih lanjut, guna mengefisienkan perbaikan dan pembahasan
dari makalah ini, penulis memohon kesediaan dari pembaca untuk
memberikan masukan terkait dengan pembahasan dalam makalah ini.

DAFTAR RUJUKAN

Chaffe, J. 2011. The Philosopher Way: A Text Reading, 3rd Edition. Upper Saddle
River: Pearson
Coley, J.D. dan Kimberly D. Tanner, K.D. 2012. Common Origins of Diverse
Misconceptions: Cognitive Principles and the Development of Biology
Thinking. CBELife Sciences Education Vol. 11. Hal: 209215
Coley, J.D. dan Kimberly D. Tanner, K.D. 2015. Relations between Intuitive
Biological Thinking and Biological Misconceptions in Biology Majors and
Nonmajors. CBELife Sciences Education Vol. 14. Hal: 119
Dougherty, M.J., Pleasants, C., Solow, L., Wong, A., dan Zhang, H. 2011. A
Comprehensive Analysis of High School Genetics Standards: Are States
Keeping Pace with Modern Genetics?. CBELife Sciences Education Vol.
10. Hal: 318327
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), (online), (http://kbbi.web.id/), diakses tanggal 22 Agustus 2016
Kwen, B.H. 2005. Teachers Misconceptions of Biological Science Concepts as
Revealed in Science Examination Papers. AARE 2005 International
Education Research Conference
Nehm, R.H. dan Reilly, L. 2007. Biology Majors Knowledge and Misconceptions
of Natural Selection. BioScience Vol. 57 No. 3. Hal: 263272
Jason A. Porter, J.A., Wolbach, K.C., Purzycki, C.B., Bowman, L.A., Agbada, E.
dan Mostrom, A.M. 2010. Integration of Information and Scientific
Literacy: Promoting Literacy in Undergraduates. CBELife Sciences
Education Vol. 9. Hal: 536542
Tekkaya, C. 2002. Misconception as Barrier To Understanding Biology.
Hacettepe Universitesi Egitim Fakultesi Dergisi, Vol 23. Hal: 259-266.
Thompson, F. dan Logue, S. 2006. An Exploration Of Common Student
Misconceptions In Science. International Education Journal Vol. 7 No. 4.
Hal: 553559
Yates, T.B. dan Marek, E.A. 2014. Teachers Teaching Misconceptions: A Study
Of Factors Contributing To High School Biology Students Acquisition Of
Biological Evolution-Related Misconceptions. Evolution: Education and
Outreach Vol 7 No.7 Hal: 553559

12