Anda di halaman 1dari 4

PENERAPAN AUTOREGRESSIVE DISTRIBUTED LAG (ARDL) DALAM

MEMODELKAN PENGARUH HARGA MINYAK DUNIA DAN


JUMLAH UANG BEREDAR TERHADAP INFLASI DI INDONESIA
Suaibatul Islamiyah
Jurusan Matematika, F.MIPA, Universitas Brawijaya
Email: ieslah@yahoo.com
Abstract. Inflasi adalah kecenderungan meningkatnya harga barang secara umum dan kontinu. Indonesia mengimpor
minyak karena hasil minyak dalam negeri tidak mencukupi. Saat harga minyak dunia naik, tentu akan berdampak terhadap
negara pengimpor minyak termasuk Indonesia. Kelebihan uang yang beredar di pasar juga dapat menyebabkan inflasi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh harga minyak dunia dan jumlah uang yang beredar terhadap
inflasi di Indonesia. Model yang digunakan adalah Model Autoregressive Distributed Lag (ARDL). Jika variabel di dalam
model ARDL, baik variabel terikat maupun variabel bebas memiliki akar unit, biasanya error juga akan mengandung akar
unit. Pada keadaan ini muncul regresi lancung (spurious regression). Namun sering ditemukan, error tidak mengandung tren
meskipun variabel terikat dan bebas mengandung tren. Keadaan ini disebut terjadi kointegrasi antar variabel. Jika variabel
terikat dan bebas tidak stasioner dan tidak berkointegrasi, model yang digunakan adalah ARDL terhadap data yang telah
stasioner. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak terdapat kointegrasi antar variabel dan model yang didapatkan
menunjukkan bahwa variabel jumlah uang beredar berpengaruh signifikan terhadap inflasi.
Kata Kunci: Autoregresi Distribusi Lag, ARDL, Kointegrasi.

1. PENDAHULUAN
Inflasi adalah kecenderungan meningkatnya harga barang secara umum dan kontinu. Inflasi
dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan
tekanan produksi dan/atau distribusi (produksi dan/atau distribusi yang tidak mencukupi). Indonesia
merupakan negara penghasil minyak, akan tetapi masih mengimpor minyak dari negara lain karena
produksi minyak di Indonesia sudah di bawah 1jt barrel per hari, sedangkan kebutuhan sudah di atas
1jt barrel per hari. Saat harga minyak dunia berfluktuasi, tentunya akan berdampak terhadap negara
pengimpor minyak termasuk Indonesia. Selain itu, seperti yang disebutkan sebelumnya, kelebihan
uang yang beredar di pasar dapat menyebabkan inflasi.
Jakaria (2008), dengan menggunakan analisis regresi dapat menunjukkan adanya pengaruh yang
signifikan dari variabel Jumlah Uang Beredar terhadap Inflasi. LeBlanc dan Chinn (2004)
menunjukkan pengaruh harga minyak terhadap inflasi hanya memiliki efek sederhana terhadap inflasi
Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman dan Jepang, sedangkan di Eropa lebih sensitif.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh harga minyak dunia dan jumlah
uang yang beredar terhadap inflasi di Indonesia. Inflasi, selain dipengaruhi oleh harga minyak dunia
dan jumlah uang beredar, juga terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh dirinya sendiri pada periode
sebelumnya. Sehingga pada penelitian ini akan digunakan model Autoregressive Distributed Lag
(ARDL) untuk mengetahui pengaruh harga minyak dunia dan jumlah uang beredar terhadap inflasi di
Indonesia.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Autoregressive Distributed Lag (ARDL)
Model regresi yang memasukkan nilai variabel yang menjelaskan baik nilai masa kini atau nilai
masa lalu (lag) dari variabel bebas sebagai tambahan pada model yang memasukkan nilai lag dari
variabel tak bebas sebagai salah satu variabel penjelas disebut Autoregressive Distributed Lag
(ARDL). Model ARDL sangat berguna dalam ekonometrik empiris, karena membuat teori ekonomi
yang bersifat statis menjadi dinamis dengan memperhitungkan peranan waktu secara explisit. Model
ini dapat membedakan respon jangka pendek dan jangka panjang dari variabel tak bebas terhadap satu
unit perubahan dalam nilai variabel penjelas (Gujarati, 1995).
Model ARDL (p, q1, q2, , qk) dapat dinyatakan sebagai berikut :
= +

=1

1
=0

1 +

2
=0

2 + +

=0

(1)

Jika variabel-variabel dalam regresi linier, baik variabel terikat maupun variabel bebas
memiliki akar unit, biasanya error juga akan mengandung akar unit. Pada keadaan ini muncul regresi
lancung. Namun sering ditemukan bahwa error tidak mengandung tren, dan meskipun variabel terikat
maupun variabel bebas mengandung tren. Keadaan seperti ini sering disebut sebagai kasus variabel
terikat berkointegrasi dengan variabel bebas. Dengan demikian, jika terjadi kointegrasi, masalah
regresi lancung akan hilang. Dalam keadaan dimana variabel terikat dan bebas tidak stasioner namun
berkointegrasi, model yang cocok digunakan adalah Error Correction Model (ECM). Sedangkan jika
tidak berkointegrasi, model yang digunakan adalah model ARDL antara variabel terikat dan bebas
yang telah ditransformasi seperti pada persamaan (2) (Rosadi, 2011).
= +

=1

1
=0

1 +

2
=0

2 + +

=0

+ (2)

2.2 Penentuan Panjang Lag


Karena variabel Xt jelas diasumsikan non stokastik (atau setidaknya berkorelasi dengan
gangguan ), dan Xt-1, Xt-2, , Xt-p non stokastik juga. Oleh karena itu, pada prinsipnya, kuadrat
terkecil biasa (OLS) dapat diterapkan pada model autoregresi distribusi lag. Untuk menentukan
panjang lag dapat menggunakan metode dari Alt dan Timbergen (Gujarati, 1995). Mereka
menyarankan prosedur sekuensial (berurutan) untuk mendapatkan lag optimum dari model ARDL (p,
q1, q2, , qk), yaitu, pertama meregresikan Yt pada Xt, kemudian meregresikan Yt pada Xt dan Xt-1,
kemudian meregresikan Yt pada Xt, Xt-1, dan Xt-2, dan seterusnya. Prosedur sekuensial berhenti bila
koefisien regresi dari variabel lag mulai menjadi tidak signifikan secara statistik atau koefisien dari
paling tidak satu variabel berubah tanda dari positif ke negatif atau sebaliknya.
2.3 Uji Kointegrasi
Kointegrasi merupakan kombinasi hubungan linear dari variabel-variabel yang nonstasioner dan
semua variabel tersebut harus terintegrasi pada orde atau derajat yang sama. Penggunaan metode
analisis kointegrasi tersebut bertujuan untuk menganalisis hubungan jangka panjang antara variabelvariabel penjelas dengan variabel terikat, terutama pada model yang mengandung variabel-variabel
yang tidak stasioner. Untuk menguji adanya kointegrasi dapat menggunakan metode Engle-Granger.
Langkah-langkah metode Uji Engle-Granger adalah sebagai berikut (Rosadi, 2011):
1. Ujilah adanya akar unit dalam variabel dan (misal dengan ADF test). Orde akar unit ini
harus sama. Jika hipotesis adanya akar unit ditolak, hipotesis adanya kointegrasi antar variabel
akan ditolak.
2. Selanjutnya estimasi persamaan regresi antara dan , dan simpan residual dari regresi ini.
3. Lakukan uji akar unit terhadap residual yang diperoleh pada langkah dua. Jika hipotesis
adanya akar unit ditolak, kita bisa menyimpulkan bahwa dan berkointegrasi.
Jika variabel-variabel yang diamati membentuk suatu himpunan variabel yang saling
berkointegrasi, maka model dinamis yang cocok untuk mencari keseimbangan jangka pendek adalah
model koreksi kesalahan atau Error Correction Model (ECM). Selanjutnya model koreksi kesalahan
tersebut akan menjadi model yang valid bilamana variabel-variabel yang berkointegrasi tersebut
didukung oleh Error Correction Term (ECT) yang signifikan secara statistik.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Uji Stasioneritas
Sebelum melakukan uji stasioneritas perlu dilihat plot data. Plot data inflasi, harga minyak
dunia, dan jumlah uang beredar (JUB) dapat dilihat pada Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3. Plot
data tersebut menunjukkan bahwa data tidak berada pada sekitar rata-rata, pada data inflasi dan harga
minyak data secara tidak teratur sedangkan pada JUB cenderung naik.

46

INFLASI

HARGA_MINYAK

80

120

70

100

60
80

50
40

60

30

40

20
20

10
0
1975

1980

1985

1990

1995

2000

2005

0
1975

2010

Gambar 1. Plot data inflasi

1980

1985

1990

1995

2000

2005

2010

Gambar 2. Plot data harga minyak dunia


JUB

3,000,000

2,500,000

2,000,000

1,500,000

1,000,000

500,000

0
1975

1980

1985

1990

1995

2000

2005

2010

Gambar 3. Plot data JUB


Pengujian stasioneritas ada dua, yaitu pengujian stasioneritas terhadap ragam dan pengujian
stasioneritas terhadap rata-rata. Pengujian stasioneritas ragam dilakukan dengan melakukan
transformasi Box-Cox. Hasil transformasi Box-Cox terhadap variabel inflasi, harga minyak dunia,
jumlah uang beredar (JUB) didapatkan nilai masing-masing sebesar -0,13, 0.04, 0.12. Hal tersebut
menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut tidak stasioner terhadap ragam dan perlu di
transformasi. Setelah ditransformasi menjadi LINF=ln(INFLASI), LHAR=ln(Harga_Minyak), dan
TJUB=(ln(JUB))2, nilai yang dihasikan masing-masing sebesar 0.82, 1.15, dan 1.09. Nilai
mendekati 1, sehingga variabel hasil transformasi tersebut telah stasioner terhadap ragam.
Selanjutnya dilakukan pengujian stasioneritas terhadap rata-rata pada variabel LINF, LHAR,
TJUB dengan ADF (Augmented Dickey Fuller) Test. Hasil ADF test menunjukan variabel LINF
stasioner pada level data, sedangkan LHAR dan TJUB tidak stasioner pada level data. Variabel LHAR
dan TJUB stasioner pada difference 1, sehingga perlu ditransformasi difference (pembedaan) menjadi
DLHAR, DTJUB.
Tabel 1. Tabel ADF (Augmented Dickey Fuller) Test pada difference
Variabel
DLHAR
DTJUB

t-statistic
-6.016519
-4.776713

p-value
0.0000
0.0000

3.2 Uji Kointegrasi


Berdasarkan hasil uji stasioneritas data pada rata-rata, telah diketahui bahwa variabel inflasi
(LINF) telah stasioner pada level data, sehingga LINF memiliki ordo integrasi 0 atau I(0). Sedangkan
variabel harga minyak dunia (LHAR) dan jumlah uang beredar (TJUB) stasioner pada difference 1,
sehingga memiliki ordo integrasi 1 atau I(1).
Metode Engle-Granger tahap 1 menyatakan bahwa jika variabel-variabel tersebut harus
memiliki ordo integrasi yang sama. Jika tidak sama, berarti tidak terdapat kointegrasi antar variabel.
Karena variabel inflasi, harga minyak dunia dan jumlah uang beredar tidak memiliki ordo yang sama,
maka dapat dinyatakan tidak terdapat kointegrasi antar variabel. Karena tidak terdapat kointegrasi
antar variabel inflasi, harga minyak dunia, dan jumlah uang beredar, maka model yang cocok
digunakan adalah model Autoregressive Distributed Lag pada data yang telah stasioner (2).

47

3.3 Penentuan Panjang Lag


Pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa nilai lag 1 dari variabel inflasi (LINF) tidak berpengaruh
signifikan terhadap variabel inflasi, sehingga variabel tersebut tidak dimasukkan ke dalam model.
Variabel harga minyak dunia (DLHAR) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel inflasi,
sehingga variabel tersebut tidak dimasukkan ke dalam model. Variabel jumlah uang beredar (DTJUB)
berpengaruh signifikan, sedangkan nilai lag dari variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan dan
telah berubah tanda dari positif menjadi negatif, sehingga variabel jumlah uang beredar pada periode t
(ordo 0) dimasukkan ke dalam model, sedangkan nilai lag dari variabel jumlah uang beredar tidak
dimasukkan dalam model.
Tabel 2. Tabel penentuan panjang lag
Lag

Variabel
DLHAR
Tidak signifikan
Tidak Signifikan

LINF
Tidak signifikan

DTJUB
Signifikan
Tidak Signifikan

3.4 Pemodelan dan Pengujian Parameter


Model yang diperoleh pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

= 1.467185 + 0.1507 +

Terdapat 2 macam pengujian parameter, uji parameter simultan dan uji parsial (individu). Pada
pengujian simultan, menunjukkan hasil yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99% dengan nilai
F=11.98 dan nilai p-value sebesar 0.001. Hal tersebut menunjukkan bahwa model regresi yang
diperoleh dapat digunakan. Pada pengujian parameter parsial, menunjukkan variabel jumlah uang
beredar signifikan dengan tingkat kepercayaan 99%. Hasil pengujian parameter parsial dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3. Tabel pengujian parameter secara parsial
Variabel

Koefisien

SE Koef.

C
DTJUB

1.467185
0.150700

0.213489
0.043541

T
6.872415
3.461121

P
0.0000
0.0015

Pengujian asumsi klasik (Galat menyebar normal, Non heterokedastisitas, Non autokorelasi)
pada model tersebut terpenuhi.
4. KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan kointegrasi antar variabel inflasi (LINF), harga minyak dunia (LHAR),
dan jumlah uang beredar (TJUB). Koefisien variabel jumlah uang beredar (JUB) bertanda positif dan
signifikan dengan tingkat kepercayaan 99%, artinya perubahan jumlah uang beredar berpengaruh
terhadap inflasi. Nilai koefisien 1.467185 menunjukkan bahwa peningkatan 1 milyar rupiah dari
jumlah uang beredar, akan meningkatkan angka inflasi sebesar 1.467185 persen.
DAFTAR PUSTAKA
Gujarati, D., (1995), Ekonometrika Dasar, Erlangga, Jakarta, Terjemahan: Drs. Ak. Sumarno Zain,
MBA, hal. 233-251.
Jakaria, (2008), Analisis Pengaruh Jumlah Uang Beredar, Pengeluaran Pemerintah dan Nilai Tukar
Terhadap Inflasi di Indonesia, Jurnal Media Ekonomi, 14 (3).
LeBlanc, M., dan Chinn M.D., (2004), Do High Oil Prices Presage Inflation, Journal of the National
Association of Business Economists, 39 (2), hal. 38-48.
Rosadi, D., (2011), Analisis Ekonometrika & Runtun Waktu Terapan dengan R, Andi, Yogyakarta,
hal. 197-200.

48