Anda di halaman 1dari 18

9. A.

Terangkan sediaan injeksi, peroral, topikal,paten, generic Antihistamin


I.

Pengertian
Histamin merupakan salah satu faktor yang menimbulkan kelainan akut dan
kronis, sehingga perlu diteliti lebih lanjut mekanisme antihistamin pada pengobatan
penyakit alergik. Antihistamin merupakan inhibitor kompetitif terhadap histamin.
Antihistamin dan histamin berlomba menempati reseptor yang sama. Blokade reseptor
oleh antagonis H1 menghambat terikatnya histamin pada reseptor sehingga
menghambat dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos, peningkatan

II.

permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah.


Farmakodinamik Antihistamin
Histamin sudah lama dikenal karena merupakan mediator utama timbulnya
peradangan dan gejala alergi. Mekanisme kerja obat antihistamin dalam
menghilangkan

gejala-gejala

alergi

berlangsung

melalui

kompetisi

dengan

menghambat histamin berikatan dengan reseptor H1 atau H2 di organ sasaran.


Histamin yang kadarnya tinggi akan memunculkan lebih banyak reseptor H1.
Reseptor yang baru tersebut akan diisi oleh antihistamin. Peristiwa molekular ini akan
mencegah untuk sementara timbulnya reaksi alergi.
Reseptor H1 diketahui terdapat di otak, retina, medula adrenal, hati, sel endotel,
pembuluh darah otak, limfosit, otot polos saluran nafas, saluran cerna, saluran
genitourinarius dan jaringan vaskular. Reseptor H2 terdapat di saluran cerna dan
dalam jantung. Sedangkan reseptor H3 terdapat di korteks serebri dan otot polos
bronkus. Di kulit juga terdapat reseptor H3yang merupakan autoreseptor, mengatur
pelepasan dan sintesis histamin. Namun, peranan dalam menimbulkan gatal dan
III.

inflamasi masih belum jelas.


Penggolongan Antihistamin
a. Antihistamin Generasi Pertama
AH1 ini dalam dosis terapi efektif untuk menghilangkan bersin, rinore,
gatal pada mata, hidung dan tenggorokan pada seasonal hay fever, tetapi tidak
dapat melawan efek hipersekresi asam lambung akibat histamin. AH1 efektif
untuk mengatasi urtikaria akut, sedangkan pada urtikaria kronik hasilnya kurang
baik. Mekanisme kerja antihistamin dalam menghilangkan gejala-gejala alergi
berlangsung melalui kompetisi dalam berikatan dengan reseptor H1 di organ
sasaran.
Histamin yang kadarnya tinggi akan memunculkan lebih banyak reseptor
H1. Pada umumnya obat antihistamin generasi pertama ini mempunyai efektifitas
yang serupa bila digunakan menurut dosis yang dianjurkan dan dapat dibedakan

satu sama lain menurut gambaran efek sampingnya. Namun, efek yang tidak
diinginkan obat ini adalah menimbulkan rasa mengantuk sehingga mengganggu
aktifitas dalam pekerjaan. Efek sedatif ini diakibatkan oleh karena antihistamin
generasi pertama ini memiliki sifat lipofilik yang dapat menembus sawar darah
otak sehingga dapat menempel pada reseptor H1 di sel-sel otak. Dengan tiadanya
histamin yang menempel pada reseptor H1 sel otak, kewaspadaan menurun dan
timbul rasa mengantuk. Selain itu, efek sedatif diperberat pada pemakaian alkohol
dan obat antidepresan misalnya minor tranquillisers. Karena itu, pengguna obat
ini harus berhati-hati. Di samping itu, beberapa antihistamin mempunyai efek
samping antikolinergik seperti mulut menjadi kering, dilatasi pupil, penglihatan
berkabut, retensi urin, konstipasi dan impotensia.
b. Antihistamin Generasi Kedua
Antihistamin generasi kedua mempunyai efektifitas antialergi seperti
generasi pertama, memiliki sifat lipofilik yang lebih rendah sulit menembus
sawar darah otak. Reseptor H1 sel otak tetap diisi histamin, sehingga efek
samping yang ditimbulkan agak kurang tanpa efek mengantuk. Obat ini
ditoleransi sangat baik, dapat diberikan dengan dosis yang tinggi untuk
meringankan gejala alergi sepanjang hari, terutama untuk penderita alergi yang
tergantung pada musim. Obat ini juga dapat dipakai untuk pengobatan jangka
panjang pada penyakit kronis seperti urtikaria dan asma bronkial. Peranan
histamin pada asma masih belum sepenuhnya diketahui. Pada dosis yang dapat
mencegah bronkokonstriksi karena histamin, antihistamin dapat meredakan gejala
ringan asma kronik dan gejala-gejala akibat menghirup alergen pada penderita
dengan hiperreaktif bronkus. Namun, pada umumnya mempunyai efek terbatas
dan terutama untuk reaksi cepat dibanding dengan reaksi lambat, sehingga
antihistamin generasi kedua diragukan untuk terapi asma kronik. Yang
digolongkan dalam antihistamin generasi kedua yaitu terfenadin, astemizol,
loratadin dan cetirizin.
Terfenadin diperkenalkan di Eropa pada tahun 1981 dan merupakan
antihistamin pertama yang tidak mempunyai efek sedasi dan diijinkan beredar di
Amerika Serikat pada tahun 1985. Namun, pada tahun 1986 pada keadaan
tertentu dilaporkan terjadinya aritmia ventrikel, gangguan ritme jantung yang
berbahaya, dapat menyebabkan pingsan dan kematian mendadak. Beberapa faktor
seperti hipokalemia, hipomagnesemia, bradikardia, sirosis atau kelainan hati
lainnya atau pemberian bersamaan dengan juice anggur, antibiotika makrolid

(misalnya eritromisin), obat anti jamur (misalnya itraconazole atau ketoconazole)


berbahaya karena dapat memperpanjang interval QT. Pada tahun 1997 FDA
menarik terfenadin dari pasaran karena telah ditemukannya obat sejenis dan lebih
aman.
Astemizol (Hismanal)

merupakan antihistamin kedua yang tidak

menyebabkan sedasi diperbolehkan beredar di Amerika Serikat (Desember 1988).


Obat ini secara cepat dan sempurna diabsorpsi setelah pemberian secara oral,
tetapi astemizol dan metabolitnya sangat banyak distribusinya dan mengalami
metabolisme sangat lambat. Namun, karena kasus aritmia jantung dan kematian
mendadak telah diamati setelah penggunaan astemizol pada keadaan yang serupa
dengan terfenadin, maka pada astemizole diberikan tanda peringatan dalam kotak
hitam.
Loratadin (Claritin) mempunyai farmakokinetik serupa dengan terfenadin,
dalam hal mulai bekerjanya dan lamanya. Seperti halnya terfenadin dan
astemizol, obat ini mula-mula mengalami metabolisme menjadi metabolit aktif
deskarboetoksi loratadin (DCL) dan selanjutnya mengalami metabolisme lebih
lanjut. Loratadin ditoleransi dengan baik, tanpa efek sedasi, serta tidak
mempunyai efek terhadap susunan saraf pusat dan tidak pernah dilaporkan
terjadinya kematian mendadak sejak obat ini diperbolehkan beredar pada tahun
1993.
Cetirizin (Ryzen) adalah metabolit karboksilat dari antihistamin generasi
pertama hidroksizin, diperkenalkan sebagai antihistamin yang tidak mempunyai
efek sedasi. (dipasarkan pada Desember 1995). Obat ini tidak mengalami
metabolisme, mulai kerjanya lebih cepat dari pada obat yang sejenis dan lebih
efektif dalam pengobatan urtikaria kronik. Efeknya antara lain menghambat
fungsi eosinofil, menghambat pelepasan histamin dan prostaglandin D2. Cetirizin
tidak menyebabkan aritmia jantung, namun mempunyai sedikit efek sedasi
sehingga bila dibandingkan dengan terfenadin, astemizol dan loratadin obat ini
lebih rendah.
c. Antihistamin Generasi Ketiga
Yang termasuk antihistamin generasi ketiga yaitu feksofenadin, norastemizole
dan deskarboetoksi loratadin (DCL), ketiganya adalah merupakan metabolit
antihistamin generasi kedua. Tujuan mengembangkan antihistamin generasi
ketiga adalah untuk menyederhanakan farmakokinetik dan metabolismenya, serta
menghindari efek samping yang berkaitan dengan obat sebelumnya.

Obat

Sediaan
Peroral

Dosis
Injeksi

AKRIVASTIN
Semprex

Topikal
3 x 8 mg/hari,
kecuali

8 mg kap

pd

anak < 12 thn


dan lansia
Maks :

ASTEMIZOL
Hismanal

10 mg tab

mg/hari

5mg/5mL syr

thn

Ikazol

10 mg tab

mg/hari

Scanthis

10 mg tab
5mg

Talensip

10
6-12

maks

5mL

susp
10 mg tab

AZATADIN MELEAT

2 x 1-2 mg

Bufazad

/hari

Zadin

1 mg kap

1-6thn : 2x 250

1 mg tab

mikrogram / hr

0,1 mg/mL syr

6-12th:

2x

DEKSBROMFENIRAMI

0,5-1 mg /hari
Dewasa : 2

N MELEAT

mg, anak : 2-

Bufarasmin

2 mg kap

6thn : 0,5 mg,

Dece

2 mg tab

6-12 thn 1 mg.

Dexteem

2 mg tab

Berikan 3 4

Fentika

2mg kaptab

x/hari

Histaclor

2mg tab

Polaris

2 mg tab

Vilergi

2 mg tab

Ramahist

2 mg tab

Polaramin

2 mg tab

DEFENHIDRAMIN

2 mg /5 mL syr
12,5 mg/5mL

10mg/mL

HIDROCLORIDA

Dewasa : 3 x
25 50mg/hari

Adidryl

10mg/mL

Drimpy

25 mg tabsal

Neo Utradip

50mg kap

Novadryl

anak: 5 mg /
kgBB/ hari

10mg/mL

Otede

50 mg tab

Recodryl
DENEBHIDRINAT

50 mg tab

2-3

Amnum

50 mg tab

100mg / hari,

Antimab

50mg tab

anak 7-12 thn

Antimo

50mg tab

25-50mg

10mg/mL
x50-

12,5mg/5mL
susp
Dramamim
KLOFERAMIN MELEAT

50 mg tab
4mg tab

CTM (generik)

4 mg tab

tiap 4-6 jam,

4 mg kaptab

max 24mg/hr,

4 mg tab

1-2thn 2x1mg,

Aficitom

50 mg/ mL
ORAL : 4mg

9. B. Terangkan sediaan injeksi, peroral, topikal,paten, generic Antibiotik


I.

II.

III.

Definisi
Antibiotik merupakan zat anti bakteri yang diproduksi oleh berbagai spesies
mikroorganisme (bakteri, jamur, dan actinomycota) yang dapat menekan pertumbuhan
dan atau membunuh mikroorganisme lainnya.
Mekanisme Kerja
Antimikroba diklasifikasikan berdasarkan struktur kimia dan mekanisme
kerjanya, sebagai berikut:
a. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri, termasuk golongan laktam misalnya, penisilin, sefalosporin, dan carbapenem dan bahan lainnya
seperti cycloserine, vankomisin, dan bacitracin.
b. Antibiotik yang bekerja langsung pada membran sel mikroorganisme,
meningkatkan permeabilitas dan menyebabkan kebocoran senyawa intraseluler,
termasuk deterjen seperti polimiksin, anti jamur poliena misalnya, nistatin dan
amfoterisin B yang mengikat sterol dinding sel, dan daptomycin lipopeptide.
c. Antibiotik yang mengganggu fungsi subunit ribosom 30S atau 50S untuk
menghambat sintesis protein secara reversibel, yang pada umumnya merupakan
bakteriostatik misalnya, kloramfenikol, tetrasiklin,eritromisin, klindamisin,
streptogramin, dan linezolid.
d. Antibiotik berikatan pada subunit ribosom 30S dan mengganggu sintesis protein,
yang pada umumnya adalah bakterisida Misalnya, aminoglikosida.
e. Antibiotik yang mempengaruhi metabolisme asam nukleat bakteri, seperti
rifamycin misalnya, rifampisin dan rifabutin yang menghambat enzim RNA
polimerase dan kuinolon yang menghambat enzim topoisomerase.
f. Antimetabolit, seperti trimetoprim dan sulfonamid, yang menahan enzim enzim
penting dari metabolisme folat.
Golongan Antibiotik
a. Golongan Penisilin
Penisilin diklasifikasikan sebagai obat -laktam karena cincin laktam
mereka yang unik. Mereka memiliki ciri-ciri kimiawi, mekanisme kerja,
farmakologi, efek klinis, dan karakteristik imunologi yang mirip dengan
sefalosporin, monobactam, carbapenem, dan -laktamase inhibitor, yang juga
merupakan senyawa -laktam.
Penisilin dapat terbagi menjadi beberapa golongan :
Penisilin natural (misalnya, penisilin G)
Golongan ini sangat poten terhadap organisme gram-positif, coccus gram
negatif, dan bakteri anaerob penghasil non--laktamase. Namun, mereka
memiliki potensi yang rendah terhadap batang gram negatif.
Penisilin antistafilokokal (misalnya, nafcillin)
Penisilin jenis ini resisten terhadap stafilokokal -laktamase. Golongan ini
aktif terhadap stafilokokus dan streptokokus tetapi tidak aktif terhadap

enterokokus, bakteri anaerob, dan kokus gram negatif dan batang gram
negatif.
Penisilin dengan spektrum yang diperluas (Ampisilin dan Penisilin
antipseudomonas)
Obat ini mempertahankan spektrum antibakterial penisilin dan mengalami
peningkatan aktivitas terhadap bakteri gram negatif.
No

Nama Obat

Sediaan

Amoxillin

500 mg

Ampicilin

500 mg

Sultamisilin tesilat

375 mg

Tetrasiklin Hcl

250 mg

Sulbenisilin

Na kloksasilin

250 mg

Oksitetrasiklin Hcl

50 mg

Levoflaksasin

500 mg

1g

b. Golongan Aminoglikosida
Yang termasuk golongan aminoglikosida, antara lain:
streptomisin, neomisin, kanamisin, tobramisin, sisomisin,
netilmisin, dan lain lain. Golongan aminoglikosida pada
umumnya digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri
gram negatif enterik, terutama pada bakteremia dan sepsis,
dalam kombinasi dengan vankomisin atau penisilin untuk
mengobati endokarditis, dan pengobatan tuberkulosis.
No

Nama Obat

Sediaan

Amikasin Sulfat

500 mg

Tobramisin

40 mg / ml

Gentamisin

40 mg / ml inj

Paromomisin Basa

250 mg / tab 125 mg / 5 ml

Kenamisin Sulfat

1 g / vial

c. Golongan Kloramfenikol
Kloramfenikol merupakan inhibitor yang poten terhadap
sintesis
protein
mikroba. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik dan memiliki
spektrum
luas
dan
aktif terhadap masing masing bakteri gram positif dan negatif
baik
yang
aerob
maupun anaerob.
No
1
2

Nama Obat
Kloramfenikol
Tiamfenikol

Sediaan
250 mg / tab , 125 mg / 5 ml
sirup
500 mg

d. Golongan Flurokuinolon
Golongan fluorokuinolon termasuk di dalamnya asam nalidixat,
siprofloxasin, norfloxasin, ofloxasin, levofloxasin, dan lainlain. Golongan
fluorokuinolon aktif terhadap bakteri gram negatif. Golongan fluorokuinolon
efektif mengobati infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh pseudomonas.
Golongan ini juga aktif mengobati diare yang disebabkan oleh shigella,
salmonella, E.coli, dan Campilobacter.
No

Nama Obat

Sediaan

Pefloksasin

400 mg

Ofloksasin

200 mg , 400 mg

Siprofloksasin

250 mg , 500 mg

Levoflaksasin

500 mg

Getifloksasin

400 mg

Norfloksasin

400 mg

e. Golongan Makrolid
Eritromisin merupakan bentuk prototipe dari obat golongan makrolida yang
disintesis dari S.erythreus. Eritromisin efektif terhadap bakteri gram positif
terutama pneumokokus, streptokokus, stafilokokus, dan korinebakterium.
Aktifitas antibakterial eritromisin bersifat bakterisidal dan meningkat pada pH
basa.
No
1
2
3
4
5

Nama Obat
Klaritromisin
Roksitromisin
Azitromisin basa
Eritromisin
Siprofloksasin

Sediaan
250 mg , 500 mg
150 mg
250 mg
250 mg
500 mg

f. Golongan Sefalosporin
Sefalosporin mirip dengan penisilin secara kimiawi, cara kerja, dan
toksisitas. Hanya saja sefalosporin lebih stabil terhadap banyak beta-laktamase
bakteri sehingga memiliki spektrum yang lebih lebar. Sefalosporin tidak aktif
terhadap bakteri enterokokus dan L.monocytogenes. Sefalosporin terbagi dalam
beberapa generasi, yaitu:
Sefalosporin generasi pertama
Sefalosporin generasi pertama termasuk di dalamnya sefadroxil, sefazolin,
sefalexin, sefalotin, sefafirin, dan sefradin. Obat - obat ini sangat aktif
terhadap kokus gram positif seperti pnumokokus, streptokokus, dan
stafilokokus.
Sefalosporin generasi kedua
Anggota dari sefalosporin generasi kedua, antara lain: sefaklor, sefamandol,
sefanisid, sefuroxim, sefprozil, loracarbef, dan seforanid. Secara umum, obat
obat generasi kedua memiliki spektrum antibiotik yang sama dengan
generasi pertama. Hanya saja obat generasi kedua mempunyai spektrum yang
diperluas kepada bakteri gram negatif.
Sefalosporin generasi ketiga
Obatobat sefalosporin generasi ketiga adalah sefeperazone, sefotaxime,
seftazidime, seftizoxime, seftriaxone, sefixime, seftibuten, moxalactam, dll.
Obat generasi ketiga memiliki spektrum yang lebih diperluas kepada bakteri
gram negatif dan dapat menembus sawar darah otak.
Sefalosporin generasi keempat
Sefepime merupakan contoh dari sefalosporin generasi keempat dan
memiliki spektrum yang luas. Sefepime sangat aktif terhadap haemofilus dan
neisseria dan dapat dengan mudah menembus CSS.

No

Nama Obat

Sediaan

Sefuroksim

500 mg

Sefadroksil

250 mg , 500 mg

Sefotaksim

1g

Na . Seftriakson

1g

Na . Sefazolin

1g

Sefaklor

500 mg

Sefditoren Pivoksil

100 mg

Sefpironil

Sefdinir

1g
100 mg

g. Golongan Tetrasiklin
Golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama untuk mengobati
infeksi dari M.pneumonia, klamidia, riketsia, dan beberapa infeksi dari
spirokaeta. Tetrasiklin juga digunakan untuk mengobati ulkus peptikum yang
disebabkan oleh H.pylori. Tetrasiklin menembus plasenta dan juga diekskresi
melalui ASI dan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang dan gigi pada
anak akibat ikatan tetrasiklin dengan kalsium. Tetrasiklin diekskresi melalui urin
dan cairan empedu.
No

Nama Obat

Sediaan

Tetrasiklin Hcl

250 mg , 500 mg

Oksitetrasiklin

250 mg

Doksisiklin

100 mg

h. Golongan Lain-lain
No
1
2
3
4
5
6
7

Nama Obat

Sediaan

Klindamisin
Metronidazol
Lincomisin
Etrinidazol
Sekridazol
Spiramisin
Merupeneum

150 mg , 200 mg
250 mg , 500 mg
500 mg
200 mg
500 mg
500 mg
100 mg , 1 g

Berdasarkan rumus kimianya, golongan ini dibagi menjadi :


NO

GENERIK

1.

Streptomisin

NAMA
DAGANG

Streptomicyn
(Streptomisi
n Sulfat
1g/5g)

Diagon Stop
(Sreptomisin
Sulfat 65 mg,
ftalilsulfatiaz
ol, 250 mg,
CaPantotenat
50 mg,
kliokinol
100mg)
Kaolana

SEDIAAN

FUNGSI

DOSIS

Injeksi:
Vial (1g
dan 5g)

Untuk mengobati
infeksi karena
Microbacterium
tuberculosis,
H.influenzae

Tuberkulosis
sehari 1g dosis
tunggal atau
dalam 2 dosis
terbagi, selama
6-12 atau lebih.
Meningitis atau
nefritik
tuberkulosis
sehari 2 g dosis
tunggal datau
dalam dosis
terbagi secara
terus menerus
tanpa interval

Sirup (60
mL)

Antiefektikum
saluran cerna

Botol (60
mL)

Pengobatan
penyakit infeksi
usus, termasuk

Bayi: sehari 3-4


x 1 sendok the,
anak: sehari 4-6

2.

Entromix

Botol (60
mL)

Viostreptin

Botol (60
mL)

Neomisyn
Bevalex
(Betametaso
n 17 Valerat
0,1%,
Neomisin
Sulfat 0,5%)

Neocenta
(Neomisin
Sulfat 0,5%,
Ekstrak
Plasenta
10%)
Neosinol
(Neomisin
Sulfat 5mg,
Fluosinolon
asetonida
0,25 mg per
g)
Nabacetin
Serbuk
(Neomisin

Krim tube
5g

Krim tube
15 g

Krim tube
10 g

Botol 5 g
serbuk

diare pada bayi


maupun diare
karena infeksi yag
disebabkan oleh
mikroorganisme
yang peka atau zat
beracun
Gastroenteritis
disebabkan
kuman yang pake
obat ini dan
berbagai toksin
Semua bentuk
diare basiler
despeptik enteritis
Untuk mengobati
inflamasi dari
dermatosis
responsif terhadap
kortikosteroid bila
terkomplikasi
dengan infeksi
sekunder
disebabkan
organisme rentan
terhadap neomisin
Untuk mengobati
terapi luka bakar,
Ulkus kronik,
ulkus dekubital,
eksim pioderma,
impetigo,
furunkulosis dan
penyakit kulit
lainnya

x 1 sendok teh,
dewasa: sehari
6x 2 sendok teh

Dewasa 6 x
sehari 10 mL,
anak 6 x sehari
5 mL, bayi 4 x
sehari 5 mL
Dewasa 1-2
sendok takar 3 x
sehari; anakanak 1 sendok
takar 2-3 x
sehari

Oleskan pada
tempat yang
sakit sehari 2-3
x

Oleskan pada
daerah yang
sakit sehari 4-6
x

Untuk mengobati
dermatitis yang
terinfeksi oleh
kuman yang peka
terhadap neomisin

Oleskan tipis
sehari 2-3 x

Untuk
pencegahan dan
pengobatan

Sehari beberapa
kali, taburkan
pada bagian

sulfat 5 mg,
basitrasin
250 UI per g)

3.

Kanamisyn

infeksi lokal pada


kulit dan mukosa

NB Topical
(Neomisisn
sulfat 5 mg,
Zn Basitrasin
500 UI per g)

Salep 5g

Kanabiotic
(Kanamisin
sulfat 1000
mg/vial)

Injeksi Dus
10 Vial

Kanamycin
INJ MEIJI
(Kanamisin
500 mg, 1g,
2g)

Kanamycin
Meiji
(Kanamisin
Monosulfat
250 mg, 50
mg/ml)

Injeksi:
Vial

10 x 10
kaplet, 60
mL sirup

Untuk mengobati
impetigo,
terbakar,
pioderma,
folikulitis barbae,
furunkolitis, akne
nekrotika, ulse
dekubitus, eksema
disertai infeksi
Infeksi kuman
peka kanamisisn
atau kuman yang
resisren terhadap
antibiotik lain
Infeksi saluran
nafas, TB, ISK,
GO dan supuratif,
petusis, disentri
basiler, diare akut,
adnektisis, peny.
Weil, profilaksis
infeksi paska
operasi
Supresi Bakteri
usus sebelum
operasi usus,
terapi tambahan
pada koma
hepatika, disentri
basiler, diare akut
dan infeksi
lainnya pada usus

yang sakit

Oleskan
langsung pada
daerah lesi

Sehari 15
mg/KgBB
dalam 2-4 dosis
Infeksi akut:
Sehari 1-2 g,
TB: Seminggu
sehari 3 x 1 g
atau semingggu
sehari 2x 2 g,
Go: Dosis
tunggal
Sterillasi usus:
dewasa 1g per
jam selama 4
jam, kemudian
1 g tiap 6 jam
selama 36-72
jam, anak dan
bayi 150250mg/kgBB/ha
ri dalam dosis
terbagi tiap jam
selama 6 jam.
Terapi
tambahan pada
koma hepatika:
Dewasa: sehari
8-12g dalam
dois terbagi.
Diberikan sehari
4x 20 kg: 5-10
mL 10kg: 2,55mL 8kgg: 2-4

mal 4 kg:1-2
mL

Kanarco
(Kanamisin
sulfat 1g)

4.

Gentamisyn

Injeksi:
Vial

Kanoxin
(Kanamisin
sulfat 1g)

Injeksi:
Vial

Garamycin
(Gentamisin
Sulfat 1
mg/g krim

Tube 5g
dan 15g
Krim, Tube
5 g dan 15
g salep

Digenta
(Gentamisin
1 mg,
betametason
0,5 mg)

Tube 10 g
krim

Sagestam Tts
Telinga
(Gentamisin
3 mg/ml)
Derticort
(Gentamisin
sulfat,
betametason

Botol 5 mL

Tube 5 g
Krim dan
10 g

Infeksi saluran
nafas, taringtis,
bronkitis
bronkopneumonia
, ISK, sistitis, GO,
uretritis, otitis
media,
osteomielitis dan
karbunkel

10mg / kgBB /
hari terbagi
dalam 2 dosis

ISK, saluran
nafas, TBC paru,
infeksi bakteri
supuratif dan
pencegah infeksi
setelah operasi

Dewasa: IM
sehari 1-2 g
dalam dosis;
anak, Im, 10-30
mg/kgBB/hari
dalam 2 dosis ;
gonore, IM 2 g,
TBC paru, IM
seminggu 2x 2 g
dalam 2 dosis

Untuk infeksi
kulit primer dan
sekunder karenna
bakteri yang
rentan
Dermatitis atopik,
dermatitis kontak,
dermatitis statis,
dermtitis
eksfoliatif,
neurodermatitis,
linchen planus,
eksim, intertigo,
psoriasis, pruritus
anogenital dan
senilis
Pengobtan infeksi
telinga luar (otitis
eksternal) yang di
sebabkan oleh
organisme yang
senssitif
gentamisin
Terapi inflamasi
kulit yang resposif
terhadap
kortikosteroid

Oleskan tipis
pada bagian
yang sakit
sehari 3-4 x

Oleskan tiap
hari 2-3 x

Sehari 3-4 x 2-4


tetes pada
telinga yang
sakit pada
malam hari
Oleskan tipis
dan merata pada
bagian yang
sakit

dengan infeksi
sekunder oleh
organisme yang
sensitif terhadap
gentamisin sulfat

diproprionat

5.

Sagestam Tts
Mata
(Gentamisin
3 mg/ml)

Botol 5 mL
tetes mata

Pengobatan
infeksi pada
bagian luar bola
mata dan
adneksanya yang
disebbakan oleh
organisme yang
sensitif terhadap
gentamisin

Sofra Tulle

Kasa Steril
(Pak 10
lembar)

Luka bakar,
traumatik,
ulcratif, electif,
infeksi kulit
sekunder

Daryant
Tulle

Kasa
Pembalut
(Dus 10
Pembalut)

Luka bakar, luka


infeksi sekunder,
tukak dan setelah
operasi

Blecidex
(Framisetin
sulfat 5 mg,
gramisidin
0,05 mg,
deksametaso
n 0,5 mg/ml

Botol tetes
5 mL

Mata, pengobatan
jangka pendek
yang memerlukan
steroid. Telinga
otitis ekstrena
akut dan kronis

Sofradex
(Framisetin
sulfat 5 mg,

Botol Tetes
mata dan
telinga 8

Pengobatan
jangka pendek,
inflamasi infeksi

Framisetyn

Sehari 6x 1-2
tetes pada mata
yang sakit,
infesi berat,
dosis awal 1
atau 2 tetes
setiap 15 atau
20 menit,
frekuensi
dikurangi secara
bertahap agar
infeksi
terkontrol
Gunakan selapis
pada luka
dengan
pembalut yang
sesuai untuk
luka yang
mengeluarka
eksudat, ganti
pembalut sehari
1x
Potong ukuran
yang sesuai,
letakkan pada
luka
Tetes mata: 1-2
tetes, teteskan
pada amta yang
sakit tiap 1-2
jam selama 2-3
hri, lanjutkan
sehari 3-4 x 1-2
tetes. Tetes
telinga sehari 14 x 2-3 tetes,
teteskan dala
telinga yang
sakit
Mata, teteskan
1-2 tetes sampai
6x sehari atau

gramisidin
0,05 mg,
deksametaso
n 0,5 mg/ml
Topifram
(Gramisisdin
a 0,25 mg,
desoksimeto
n 2,5 mg,
framisetina
7,5 mg)
6.

mL

okular disebabkan
organisme yang
sensitif

lebih bila
diperlukan.
Telinga,
teteskan sehari
3-4 x 2-3 tetes

Krim

Eksem,
Dermatitis,
epidermatitis, luka
bakar,
fotosensitisasi
yang terinfksi
bakteri

1-4 x sehari
oleskan paa
bagian yang
sakit

Botol 5 mL
tetes mata

Terapi infeksi
bagian luar mata
dan adneksanya
disebabkan
bakteri yang peka

Ringan atau
sedang 1-2 tete
setiap 4 jam;
berat: 2 tts
setiap jam
hingga sembuh

Amp 1,5
mL/60 mg;
vial 2
mL/80 mg

Septikimia, sepsis
neonatus, infeksi
pernapasan bawah
dan
gastrointestinum
salurran kemih,
kulitt, tulang,
jaringan lunak
terutama oleh
Pseudomonas
aeruginosa E.Coli,
Klebsiela,
Streptococcus
faecalis,
staphylococcus;
aereus

Infeksi sedang,
2-3
mg/kgBB/hari;
infeksi berat 3
mg/kgBB/hari;
Infeksi paling
berat: > 5
mg/KgBB/hari

Injeksi:
Dus 1 Vial

Infeksi gigi T,
peritinitis, Infeksi
saluran nafas
bawah, kulit,
tulang dan
jaringan lunak

Tobramisyn
Bralifex
(Tobramisin
3 mg/mL)

Nebcin
(Tobramisin
sulfat 60
mg/1,5 mL

Tobryne
(Trobramisis
n sulfat
40mg/mL)
Bralifex plus
(Tobramisisn
3 mg,
deksametaso
n 1 mg/mL)

Botol 5 mL
tetes mata

Infeksi mata
bakteri superfisial
atau adanya resiko
infeksi bakteri
yang
membuttuhkan
kortikosteroida,

35mg/kgBB/hari
dalam 3 dosis
terbagi; anakanak 1,5-1,9
mg/kgBB tiap
12 jam
1-2 tetes
diteteskan pada
kantung
konjungtiva
setiap 4-6 jam
selama 24-48
jam pertama,

Tobradex
(Tobramisin
0,3%,
deksametaso
n 0,1%)
7.

Salep

uveitis anterior
kronik, luka pada
kornea karena zat
kimia, radiasi,
terbakar karena
panas atau karena
penetrasi zat asing

dosis harus
ditingkatkan
menjadi 1-2
tetes setiap 2
jam

Infeksi mata

Amikasyn

Alostil
(Amikasin
Sulfat 500
mg)

Amikin
(Amikasin
Sulfat 250
mg, 500 mg
dan 1g)

Injeksi:
Vial 500
mg

Injeksi:
Vial

Infeksi kuman
gram negatif pada
intra abdominal,
jaringan lunak,
combustio,
jaringan tulang
dan sendi. Saluran
nafas bawah,
saluran kemih,
paska operasi.

Terapi pendek
infeksi parah
disebabkan
kuman gram
negatif yang peka
termasuk spesies
pseudomonas,
E.Coli, Proteus
Sp, Providencia,
Klebsiella,
Enterobacter
serratia, sp, dan

IM:
15mg/kgBB/har
i dibagi 2 dosis.
Neonatus dan
prematur: Dosis
Awal
10mg/kgBB/har
i dilanjtkan 15
mg/kgBB/hari
dibagi 2 dosis.
IV: 500 mg
alostin
dilarutkan
dalam
NaCl/dekstrosa
5%
Dewasa/anak:
IV dalam 1-2
jam. Dosis
maksimal sehari
1,5 g,
pengobatan
jangan lebih
dari 10 hari
Sehari
15mg/kgBB
dibagi dalm 2
dosis. Bayi baru
lahir atau byi
prematur. Dosis
awal:
10mg/kgBB/har
i diikuti dengan
sehari
15mg/kgBB
dibagi dalam 2

acinobacter sp

Mikasin
(Amikasin
sulfat 250
mg, 500 mg)

8.

Netilmisyn

9.

Paromomyci
n

Netromycin

Gabbroral
(Paromomisi
n sulfat
250mg,
125mg/5mL

Gabbryl

Injeksi:
Vial

Bakteremia,
septikemia,
infeksi saluran
nafas, tulang dan
sendi berat,
infeksi SSP, kulit,
intraabdominal,
luka bakar
terinfeksi, infeksi
paska OP, ISK
dengan
komplikasi dan
ISK berulang

Injeksi:
Vial

Infeksi bakteri
serius karena
strain yang
resisten
gentamisin

Sirup dan
tablet

Diare yang
disebabkan amuba
baik akut maupun
kronik, terapi
penunjang pada
kasus koma
hepatikum

Tablet dan
sirup

Terapi amebiasis
intestinal ringan
sampai sedang

dosis
Dewasa, anak
dan bayi yang
lebih besar: 7,5
mg/kgBB tiap
12 jam atau 5
mg/kgBB tiap 8
jam, bayi baru
lahir:
10mg/kgBB/har
i kemudian 7,5
mg/kgBB tiap
12 jam.
Maksimal 15
mg/kgBB/ hari.
Lama terapi 710 hari; ISK:
sehari 2x
250mg
BB> 50 kg,
Sehari:
2x150mg atau
sehari 1 x
300mg,
BB<50kg
sehari:
2x100mg atau
sehari 1x200
mg. Dosis ratarata 4-6
mg/kgBB/hari
Amubiasis:
dewasa/anak:25
35mg/kgBB/har
i, tebagi dalam
3 dosis selama
5-10 hari.
Manajemen
pada koma
hepatikum:; 4g
sehari dalam
dosis terbagi, 56 hari
Amubiasis
intestinal,
dewasa dan

yang disebabkan
entamoeba
histolytica. Terapi
penunjang untuk
koma hepatikum.

anak 25-35
mg/kgBB/hai
terbagi dalam 3
dosis, selama 710 hari. Tetapi
dapat diulangi
dengan interval
2 minggu. Oma
hepatikum
sehari 4g dalam
dosis terbagi.
Selama 5-6 hari

Daftar Pustaka
1. Black JW, Duncan WA, Durant CJ, Ganellin CR, Parsons EM. Definition and
antagonism of histamine H2 receptors. Nature 1972; 236: 3852. Ganiswara SG. Farmakologi dan Terapi edisi 4. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI;
1995.
3. White M. Mediators of inflammation and the inflammatory process. J Allergy Clin
Immunol 1999; 103: S378-81.
4. Kaliner MA. Clinical use of H1 antihistamines in elderly patients; considerations in a
polypharmaceutic patient population. Clinical Geriartric 1997; 5: 75-90.
5. Nathan R. Urticaria and Angioedema. Medical Progress 2000; 27: 24-8.
6. Simons FER, Simons KJ. The pharmacology and use of H1- receptor - antagonist
drugs. New Engl J Med 1994; 330: 1663-70.
7. Handley DA, Magnetti A, Higgins A.J. Therapeutic advantages of third generation
antihistamines. Exp Opin Invest Drugs 1998;7: 1045-54.
8. Woosley RL. Cardiac actions of antihistamines. Ann Rev Pharmacol Toxicol. 1996;
36: 233-52.
9. Hey JA, Del Prado M, Cuss FM. Antihistamine activity, central nervous system and
cardiovascular profiles of histamine H 1 antagonists; comparative studies with
oratadine, terfenadine and sedating antihistamines inguinea pigs. Clin Exp Allergy
1995; 25: 974-84.
10. Brannan MD, Reidenberg P, Radwanaski E. Loratadine administered concomitantly
with erythromycin. Pharmacokinetic and electrocardiographic evaluations. Clin
Pharmacol Ther 1995; 58: 269-78.