Anda di halaman 1dari 4

Nama

NPM
Kelompok
Kelas

: Hanifa Nurmira Tama


: 1313024037
: 2 ( Dua )
:A

Tanggal: 14 Mei 2016


NILAI

REFLEKSI PADA MANUSIA


( Laporan Praktikum Fisiologi Hewan )
A. Tujuan Praktikum :
1. Agar mahasiswa memahami tentang pengertian gerak refleks
2. Agar mahasiswa mengetahui tentang mekanisme terjadinya gerak refleks
B. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Refleksi Pada Manusia
Kelamin

Probandus

Wanita

1
2
3

Rata-rata
Pria

1
2
3
4

Rata-rata

A
Kr
1
2
2
1,7
0
0
1
0
0,2
5

B
Kn
1
2
3
2
2
0
1
0
0,7
5

Kr
3
1
3
2,3
3
0
1
1
1,2
5

C
Kn
2
2
2
2
3
0
1
1
1,2
5

Kr
3
1
3
2,3
3
3
3
2
2,7
5

D
Kn
2
2
2
2
3
3
3
2
2,7
5

Kr
1
3
3
2,3
2
0
0
1
0,7
5

E
Kn
1
2
1
1,7
0
0
0
3
0,7
5

Kr
1
1
1
1
3
3
0
3
2,2
5

Kn
1
1
2
1,3
3
3
3
3
3

Keterangan:
Kr = kaki kiri
Kn = kaki kanan
1 = Refleks lemah
2 = Refleks sedang
3 = Refleks kuat
C. Pembahasan
Pada pengamatan kali ini yaitu mengenai refleks pada manusia. Pada uji A
dengan cara kerja yaitu praktikan duduk di meja dengan nyaman (rileks)
dengan menyilangkan kedua kaki. Ujung kaki menggantung bebas ketuk
tendon patela (tendon dibawah lutut) dengan hammer refleks dan dicatat
hasilnya, dilakukan dengan kaki yang lain. Selanjutnya pada uji B praktikan
diminta untuk berkonsentrasi seperti sedang memasukkan benang ke dalam
lubang jarum. Lalu pada uji C praktikan diminta untuk menggenggam jarijarinya didepan dada dan kedua tangan saling mendorong. Praktikan juga pada

uji D diminta untuk memejamkan kedua mata. Selanjutnya pada uji E praktikan
diminta berlari selama 5 menit.
Setelah dicatat, didapat reaksi diantara praktikan diantaranya sebagai berikut
dengan uji A didapatkan rata-rata wanita pada kaki kiri 1,7 sedangkan pada
pada pada kaki kanan 2. Pada percobaan B diperoleh refleks dengan rata-rata
pada kaki kiri 2,3 dan pada kanan 2. Pada percobaan C juga diperoleh refleks
dengan rata-rata pada kaki kiri 2,3 dan pada kanan 2. Pada percobaan D
diperoleh refleks dengan rata-rata pada kaki kiri 2,3 dan rata-rata pada kaki
kanan 1,7. Pada percobaan E diperoleh refleks dengan rata-rata pada kaki kiri 1
dan rata-rata pada kaki kanan 1,3. Sedangkan pada percobaan probandus lakilaki, pada percobaan A didapatkan rata-rata pada kaki kiri sebesar 0,25 dan
rata-rata pada kaki kanan 0,75. Pada percobaan B didapatkan rata-rata pada
kaki kiri dan kaki kanan sebesar 1,25. Pada percobaan C didapatkan rata-rata
pada kaki kiri dan kaki kanan sebesar 2,75. Pada percobaan D didapatkan ratarata pada kaki kiri dan kaki kanan sebesar 0,75. Pada percobaan E didapatkan
rata-rata pada kaki kiri sebesar 2,25 dan rata-rata pada kaki kanan sebesar 3.
Praktikum kali ini sesuai dengan teori dimana tanpa disadari oleh volunter pada
bagian tendon lututnya (ligamentum patelaris) dipukul dengan pemukul, hasil
yang diperoleh yaitu lutut (kaki) menendang/bergerak dengan sendirinya tanpa
disadari oleh volunter. Gerak refleks ini merupakan salah satu jenis lung refleks
yang paling sederhana yang disebut monosinaptik, karena hanya terdapat satu
sinaps antara neuron sensori dan neuron motor. Bergeraknya kaki secara tibatiba disebabkan karena pada saat tendon lutut dipukul, dan karena itu teregang,
maka reseptor dalam tendon tersebut dirangsang; suatu impuls menjalar
melewati lung refleks ke sumsum tulang belakang lalu kembali lagi; maka otot
yang terpaut pada tendon tersebut berkontraksi yang mengakibatkan
menjulurnya kaki secara tiba-tiba (Kimball, 1994: 256).
Karakteristik gerak refleks yaitu gerak refleks berjalan sangat cepat dan
tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan
kontrol dari otak. Jadi dapat di katakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi
kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya
berkedip, bersin, atau batuk. Unit dasar setiap kegiatan refleks terpadu adalah
lengkung refleks. Lengkung refleks ini terdiri dari alat indra, serat saraf aferen
satu atau lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau di ganglion
simpatios saraf eferent dan efektor. Kegiatan pada lengkung refleks di mulai
pada reseptor sensorik sebagai potensial reseptor yang besarnya sebanding
dengan kuat rangsangan. Lengkung refleks paling sederhana adlah lengkung
refleks yang mempunyai satu sinaps antara neuron aferent dan eferent.
Lengkung refleks semacam ini dinamakan monosinaptik dan refleks yang
terjadi di sebut refleks monosinaptik (Soewolo, 1994: 163).

Adapun mekanisme gerak refleks yaitu : refleks dimulai dengan diterimanya


rangsanngan oleh reseptor dan diteruskan ke serabut syaraf sensorik. Serabut
syaraf sensorik ini kemudian akan memasuki sumsum tulang belakang melalui
syaraf spinal yang memiliki badan sel pada akar dorsal. Pada bagian akar
dorsal dari sumsum tulang belakang ini, kemudian akan dihubungkan dengan
sel interneuron yang terdapat pada matriks kelabu dari sumsum tulang
belakang ke serabut saraf motorik yang memiliki badan sel pada akar ventral.
Selanjutnya dari serabut saraf motorik ini akan menuju efektor (sel-sel otot)
untuk memberikan respon. Secara singkat dapat dituliskan sebagai berikut:
impuls neuron sensorik sum-sum tulang belakang neuron motorik
efektor (Syamsuri, 2004: 185).
Suatu refleks adalah setiap respon yang terjadi secara otomatis tanpa disadari.
Terdapat macam-macam refleks: refleks-refleks yang penting bagi neurologi
klinis dapat di bagi menjadi 4 kelompok, yaitu: 1) refleks superfisial (kulit dan
lendir), 2) refleks tendon dalam (miotatik), 3) refleks viseral (organik), 4)
refleks patologik (abnormal). Refleks juga dapat di klasifikasikan menurut
tingkat dari refresentasi sentralnya yaitiu sabagai refleks spinal, bulbar (refleks
postural dan penegakan), otak tangah atau cerebellum. Selain itu ada juga
lengkung refleks sederhana, melibatkan sejumlah struktur reseptor yaitu organ
indera yang khusus bagian akhir kulit atau fusus neuromuskularis yang
perangsangannya memprakarsai suatu impuls neoron aferent yang
mentransmisi impuls melalui suatu saraf perifer ke susunan saraf pusat, tempat
di mana saraf bersinaps dengan suatu neuron interkalasi, satu atau lebih neuron
interkalasi menyampaikan impuls ke saraf eferent. Neoron eferent berjalan
keluar dalam saraf dan menyampaikan impuls ke suatu efektor. Dan efektor
yaitu otot (otot polos, lurik, atau otot jantung) atau kelenjar yang memberikan
respon. Sementara kesatuan anatomik susunan saraf adalah neuron, maka
kesatuan fungsionalnya adalah lingkungan refleks ini merupakan dasar
anatomik untuk kegiatan kegiatan refleks diluar pengendalian kemauan kita,
ini berarti reaksi reaksi yang lebih kurang bersifat otomotik dan tidak
berubah-ubah yang tidak melibatkan pusat-pusat fungsional susunan saraf
pusat yang lebih tinggi (Wulangi, 1996: 192).
D. Kesimpulan
1. Manusia memiliki sistem saraf yang mana saraf-saraf tersebut dapat
menghantarkan stimulus keotak hingga menimbulkan respon. Respon akan
ditanggapi oleh neuron dengan mengubah potensial yang ada antara
permukaan luar dan dalam dari membran
2. Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis
terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat

dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari


terlebih dahulu.
3. Refleks lebih lebih kuat ketika mata praktikan ditutup dibandingkan mata
praktikan terbuka.
4. Gerak refleks pada manusia dipengaruhi oleh faktor berikut, aktivitas,
konsentrasi terhadap rangsang yang datang, bagian yang menerima rangsang
(reseptor), usia dan jenis kelamin.
E. Daftar Pustaka
Kimball, John W,1994. Biologi Edisi Kelima. Erlangga: Jakarta.
Soewolo,dkk.1994.Fisiologi Hewan. UT: Jakarta
Syamsuri, I. 2004. Biologi. Penerbit Erlangga: Jakarta
Wulangi. S kartolo. Prinsip-prinsip fisiologi Hewan. DepDikBud: Bandung

Praktikan

Bandarlampung, 14 Mei 2016


Mengetahui,
Asisten

Hanifa Nurmira Tama


NPM 1413024037

Aulia Zakia
NPM 1313024098