Anda di halaman 1dari 26

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Perpindahan panas adalah salah satu faktor yang sangat menentukan
operasional suatu pabrik Kimia. Penyelesaian soal-soal perpindahan kalor secara
kuantitatif biasanya didasarkan pada neraca energi dan perkiraan laju perpindahan
kalor. Perpindahan panas akan terjadi apabila ada perbedaan temperatur antara 2
bagian benda. Panas akan berpindah dari temperatur tinggi ke temperatur yang lebih
rendah. Panas dapat berpindah dengan 3 cara, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
Pada peristiwa konduksi, panas akan berpindah tanpa diiukti aliran medium
perpindahan panas. Panas akaan berpindah secara estafet dari satu partikel ke
partikel yang lainnya dalam medium tersebut. Pada peristiwa konveksi,
perpindahan panas terjadi karena terbawa aliran fluida.
Secara termodinamika, konveksi dinyatakan sebagai aliran entalpi, bukan
aliran panas. Pada peristiwa radiasi, energi berpindah melalui gelombang
elektromagnetik. Ada beberapa alat penukar panas yang umum digunakan pada
industri. Alat-alat penukar panas tersebut antara lain: double pipe, shell and tube,
plate-frame, spiral, dan lamella.Penukar panas jenis plate and frame mulai
dikembangkan pada akhir tahun 1950 an. Banyak penelitian yang telah dilakukan
pada penukar panas jenis ini, namun umumnya fluida operasi yang digunakan
adalah air. Pada praktikum ini, fluida yang digunakan adalah udara. Fluida udara
dimanfaatkan sebagai fluida operasi karena kalor yang dihasilkan flue gas dari
operasi suatu pabrik belum dimanfaatkan secara maksimal. Praktikum ini juga
merupakan salah satu usaha pengakjian lebih dalam mengenai flue gas.

Hasil

praktikum diharapkan tampil dalam bentuk korelasi NNU = a.NREb Dengan demikian
didapat korelasi antara bilangan Reynolds dengan bilangan Nusselt.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah yang dimaksud dengan heat exchanger?
2. Apakah yang dimaksud dengan perpindahan panas secara konveksi?

1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perpindahan panas secara


konveksi?
2. Peristiwa apa sajakah yang termasuk fenomena perpindahan panas secara
konveksi?

1.1 TUJUAN
Tujuan praktikum modul perpindahan panas adalah:
1. Praktikan mempelajari peristiwa/ fenomena perpindahan panas konveksi
melalui percobaan penukar panas bejana.
2. Praktikan mampu memilih konfigurasi sistem perpindahan panas yang
paling baik.
3. Praktikan mampu memahami peristiwa konveksi yang terjadi pada
kehidupan sehari-hari.
4. Praktikan mampu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju kalor
konveksi.

1.2 MANFAAT
Manfaat praktikum Modul Perpindahan Panas adalah:
1. Agar praktikan dapat mempelajari peristiwa/fenomea perpindahan panas
melalui percobaan panas plate and frame.
2. Agar praktikan mampu memilih konfigurasi sistem perpindahan panas
yang paling baik,
3. Agar praktikan mampu memhami peristiwa konveksi yang terjadi pada
kehidupan sehari-hari.
4. Agar praktikan dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju
kalor konveksi.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kalor
Kalor adalah bentuk energi yang dirasakan oleh manusia. Energi mewujudkan
keadaan di mana jumlah energi yang dipindahkan antara manusia dan
persekitarannya mencapai keseimbangan secara termal (Weller dan Youle, 1981).
Perpindahan kalor merupakan sifat dasar alam persekitaran, iaitu Hukum
Termodinamika. Hukum ini menyatakan bahawa apabila terdapat suatu kawasan
dengan kandungan kalor yang tinggi, seperti suhu yang tinggi, dan satu lagi
kawasan dengan kandungan suhu yang rendah, akan terdapat kecenderungan serta
merta untuk kalor berpindah daripada kawasan yang tinggi kepada kawasan yang
rendah.
Terdapat tiga mekanisme perpindahan, iaitu radiasi, konveksi, konduksi dan
perubahan bahan di mana setiapnya memiliki sifat tertentu. Radiasi termal
merupakan mekanisme dasar aliran kalor dan penting di mana bumi menerima
energinya daripada suria. Radiasi adalah aliran energi melalui

gelombang

elektromagnet yang melalui bahan vakum atau lut sinar.


Seperti yang berlaku pada bahagian bangunan yang lain, perpindahan kalor
pada atap terdiri daripada empat jenis iaitu konduksi, konveksi, radiasi dan
evaporasi. Sebahagian kalor yang diserap daripada radiasi suria hilang melalui
proses konveksi ke udara luar. Sebahagian dilepaskan semula ke bahagian ruang,
dan sisanya dihantarkan melalui bahan atap untuk menaikkan suhu sisi bawah atap.
Apabila atap curam disusun dengan menggunakan lapisan-lapisan nipis, dan
memiliki keberaliran yang tinggi, akan berlaku kenaikan suhu yang tinggi. Kalor
dari sisi bawah atap ini dihantarkan dari atap ke siling secara evaporasi dan radiasi
gelombang panjang.
Mekanisme perpindahan kalor dengan cara konduksi dan konveksi merupakan
pengangkutan energi yang disebabkan oleh perbedaan suhu. Prinsip yang sama
dengan ini ialah perpindahan uap air secara penyerakan atau konveksi yaitu
pengangkutan satu unsur daripada campuran yang sesuai dengan perbedaan tahap
pekatan. Kalor adalah sebuah bentuk energi,merupakan suatu kuantitas yang dapat
diukur. Satuan kaor adalah Btu (British Thermal Unit) yang berarti jumlah kalor
3

yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 pon air pada 60 F adalah 1 F. Dalam
sistem metrik (SI) satuan kalor disebut dengan kalori (kal) didefinisikan sebagai
jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 pon air pada 15 C, sebesar
1 C.
2.2 Satuan kalor
Kalor adalah sebuah bentuk energi. Satuan: Joule (J). 1 kJ (kilojoule) = 1000
Joule. Suhu (t) adalah merupakan pertanda hadirnya kalor dalam suatu benda. Ia
mengukur keadaan termal benda tersebut. Satuan suhu adalah Celcius (C). suhu
terndah sama dengan suhu air yang membeku pada 0 C . suhu didihnya adalah 100
C. Suhu diukur dengan thermometer air raksa. Kaitan antara kalor dan temperature
disebut dengan konsep kalor spesifik (specific heat). Kalor spesifik diartikan
sebagai jumlah kalor energi yang dibutuhkan satuan massa benda untuk naik
suhunya. Satuan kalor spesifik : J/kg C. Kalor juga berkaitan dengan massa volume
suatu benda yang disebut dengan volume spesifik (cv). Terdapat bentuk-bentu kalor
yaitu:
a. Kalor Sensibel
Kalor sensibel adalah merupakan kalor yang dapat dirasakan oleh indera.
Dengan kata lain dia adalah merupakan bentuk kalor yang bergandengan
dengan perubahan suhu dari benda yang terkait.
b. Kalor Laten
Kalor laten adalah energi termal yang terlibat dalam perubahan keadaan
sebuah benda tanpa perubahan temperatur. Contoh: perubahan dari padat
ke cair atau dari cair ke padat. Suhu adalah merupakan tanda hadirnya
kalor dalam sebuah benda. Satuan suhu adalah derajat celsius.
c. Kalor Jenis
Kalor jenis adalah sifat khusus suatu zat yang menunjukkan
kemampuannya untuk menyerap kalor. Zat yang kalor jenisnya tinggi
mampu menyerap lebih banyak kalor untuk kenaikan suhu yang rendah
d. Kapasitas Kalor
Kapasitas kalor didefinisikan banyaknya kalor yang diperlukan untuk
menaikkan suhu suatu benda sebesar 1C.

Zat
Alumunium
Tembaga
Kaca
Besi atau Baja
Timah hitam
Marmer
Perak
Kayu

Kalor jenis
(J/Kg K)
900
390
840
450
130
860
230
1700

Zat
Alkohol
Raksa
Air
es (-5C)
cair (15C)
uap (110C)
Badan manusia
Udara

Kalor jenis
(J/Kg K)
2400
140
2100
4180
2010
3470
1000

Tabel 2.1 Kalor jenis berbagai zat (pada 20 C dan tekanan tetap 1 atm)
2.3 Prinsip Termodinamika
Termodinamika adalah ilmu yang berkaitan dengan aliran kalor yang
hubungannya dengan kerja mekanik.
a. Hukum pertama Termodinamika:
Adalah merupakan prinsip kekekalan energi. Energi tidak dapat diciptakan
atau dimusnahkan, hanya diubah dari satu bentuk kebentuk lainnya.
b. Hukum kedua Termodinamika:
Perpindahan kalor atau energi dapat terjadi secara spontan hanya dalam satu
arah, dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih dingin.
Dari zona suhu yang lebih tinggi kalor dapat mengalir menuju zona yang
bersuhu yang lebih rendah dengan 3 cara :
1. Konduksi
2. Konveksi
3. Radiasi
Perpindahan ini dapat diukur dengan 2 cara:
a. Sebagai aliran total dalam satuan waktu (kadar aliran kalor) melalui suatu
luasanctertentu sebuah benda atu ruang.
b. Sebagian berat jenis dari aliran ini, yaitu kadar aliran per-satuan luas (berat
jenis fluks).
Dan mempunyai dua kuantitas yakni:
1. Kadar aliran kalor yang melalui sebuah bidang yaitu jumlah energi yang
melaluinya dalam satuan waktu (J/s = Joule/second = W(Watt)).
2. Berat jenis fluks adalah jumlah energi yang melalui sebuah unit luasan dari
sebuah benda atau ruang dalam satuan waktu diukur dalam Watt/m2.

Apabila suhu pada setiap titik dalam sebuah objek adalah tetap pada setiap
masa maka keadaan ini dikatakan keadaan mantap (Harkness, 1978). Bangunan
dalam keadaan mantap hanya akan berlaku apabila suhu udara luar dan dalam
adalah tetap. Dalam situasi sebenar, keadaan mantap tidak pernah berlaku. Suatu
keadaan hampir mantap akan diperolehi dalam bangunan apabila suhu luaran
menunjukkan perubahan harian yang kecil dan suhu dalaman dikekalkan melalui
penyaman udara.
Keadaan mantap untuk udara luar dan dalam, jarang berlaku dalam keadaan
sebenar. Suhu udara harian dan radiasi suria berubah setiap masa. Perubahan ini
bersifat berkala yang berubah setiap 24 jam. Suhu udara mencapai kedudukan
terendah pada awal pagi dan meningkat sehingga maksimum pada waktu tengahari
dan akan turun semula.
Pengiraan gandaan secara terus ke atas kalor suria melalui sebuah unsur pada
keadaan fana secara berkala yang berlaku di luar ataupun di dalam bangunan,
sangat rumit dan belum terdapat sebarang kaedah yang disediakan untuk menjawab
persoalan ini (Harkness, 1978). Walaubagaimanapun, pengiraan ini bukan lagi
merupakan masalah apabila Mitalas dan Stephenson (1976) memperkembangkan
kaedah tersebut. Mereka menyatakan bahawa penentuan gandaan kalor secara terus
dapat dilakukan dengan anggapan bahawa terdapat suhu yang berubah secara
berkala dan suhu yang tetap. Secara praktikalnya, anggapan ini berhubung dengan
keadaan di mana dinding di bahagian luar terdedah kepada perubahan udara luar
manakala bahagian dalamnya berada dalam keadaan tetap dengan menggunakan
penyaman udara.
2.4 Pengertian Konveksi Secara Umum
Konveksi dapat dimaksudkan sebagai perpindahan kalor melalui cecair atau
gas. Konveksi merupakan suatu mekanisme di mana energi kalor dipindahkan oleh
gabungan satu bahagian bendalir, iaitu gas atau cecair, dengan yang lain (Straaten,
1967). Oleh itu, konveksi sentiasa melibatkan gerakan atau aliran bahan. Konveksi
oleh udara tidak boleh berlaku tanpa kehadiran pergerakan udara, tetapi pergerakan
udara dapat berlaku tanpa perpindahan kalor. Perpindahan kalor secara konveksi
berlaku pada permukaan dinding, lantai dan atap atau pipa, ataupun benda alir
mengalir di luar batas bahan pejal pada suhu yang berbeda.

Sebagian besar konveksi ditentukan oleh perbedaan suhu antara permukaan


dengan udara, kasar atau tidaknya permukaan, gerakan udara ke atas permukaan
dan orientasi permukaan. Daya aliran konveksi merupakan kuantiti yang sentiasa
berubah (Billington, 1952).
Kalor dihantarkan melalui ruang udara secara konveksi dan radiasi. Rongga
udara ini merupakan sebuah rintangan (hampir sama seperti penebatan) dan
percubaan menunjukkan bahawa rongga udara normal memiliki rintangan kira-kira
0.21 m2 0C/W untuk kalor yang menuju ke bawah. Bagi kalor yang menuju ke atas,
unsur konveksi bertambah apabila permukaan panas menetapkan aliran konveksi di
atasnya supaya lebih banyak, lebih mudah berbanding di bawah, oleh itu rintangan
jatuh sehingga 0.14 m2 0C/W (Baker, 1987).
Apabila ruang diberi pengalihudaraan secara bebas, maka diharapkan terdapat
pengurangan perpindahan kalor kerana kalor dipindahkan melalui udara daripada
luar. Udara yang berada di dalam rongga ini dikeluarkan dan digantikan oleh udara
tenang (still air) daripada luar. Bagi pengalihudaraan yang cekap, mudah diperolehi
dalam ruang loteng yang besar dengan bukaan pengalihudaraan yang besar. Suhu
udara di dalam rongga ini akan tetap atau hampir kepada suhu udara luar. Maka
mengurangkan unsur konveksi dengan berkesan kepada sifat (Baker, 1987).
Bagaimanapun, dalam ruang udara biasa, unsur konveksi bukan merupakan
unsur perpindahan kalor utama dalam rongga udara. Unsur utama adalah
perpindahan kalor secara radiasi. Penebatan terhadap radiasi berfungsi untuk
mengurangkan perpindahan kalor melalui rongga udara samada dengan
mengurangkan keberpancaran daripada sisi bawah atap yang panas atau dengan
menambahkan daya pantulan permukaan dalam yang sejuk daripada siling (Baker,
1987).
Perpindahan kalor dari satu permukaan sebuah benda padat ke sebuah benda
cair, yaitu cairan atau gas sebaliknya. Konveksi tergantung kepada:
a. Luas daerah kontak antara benda dan zat cair (m2).
b. Perbedaan tempertur antara benda dan zat cair, T = T1 T2 (C).
c. Koefisien konveksi (hc), dalam W/m2 C, tergantung pada kekentalan
(viscousitas) dan kecepatan zat cair dan juga konfigurasi dari zat cair/alir
tersebut.

Nilai koefisien konveksi :


a. Hc = 3,0 = untuk permukaan vertikal
b. Hc = 4,3 = aliran kalor naik. Udara ke plafon,lantaike udara.
c. Hc = 1, 5= aliran kalor turun. Udara kelantai, plafon ke udara.
Permukaan yang menghadap angin:

Dengan :

= 5,8 + 4,1

V = kecepatan angina (m/s)


Aliran kalor konveksi

Persamaan ini sesuai untuk:

1. Konveksi bebas/alami, dimana aliran udara disebabkan oleh perbedaan


berat jenis..
2. Konveksi dipaksa : Dimana udara (fluida) dipompa atau didorong dari arah
sebelah benda.
Koefisien hc tergantung kepada :
a. Kecepatan fluida/angin.
b. Suhu fluida.
c.

Suhu permukaan.

d. Konduktifitas.
e.

Kalor Spesifik fluida.

f.

Berat jenis fluida.

g.

Viskositas fluida.

h. Bentuk kontak permukaan.


i.

Dimensi fisik sistem.

Pengoperasian suatu pabrik tidak lepas dari proses perpindahan panas yang
terjadi antara dua fluida yang berbeda temperaturnya. Alat yang digunakan adalah
penukar panas (heat exchanger). Penukar panas adalah peralatan proses yang
digunakan untuk memindahkan panas dari dua fluida yang berbeda dimana
perpindahan panasnya dapat terjadi secara langsusng (kedua fluida mengalami
pengontakan) ataupun secara tidak langsung (dibatasi oleh suatu dinidng pemisah/

sekat). Fluida yang mengalami pertukaran panas dapat berupa fasa cair-cair, cairgas, dan gas-gas.
Dalam melakukan perancangan penukar panas harus diperhitungkan faktor
perpindahan panas pada fluida dan kebutuhan daya pompa mekanis untuk
mengatasi gaya gesek dan menggerakkan fluida. Penukar panas untuk fluida kerja
yang memiliki rapat massa besar (fluida cair), energi yang hilang akibat gesekan
reletif lebih kecil daripada energi yang dibutuhkan sehingga pengaruh yang
merugikan ini jarang diperhitungkan. Sedangkan untuk fluida yang rapat massanya
rendah seperti gas, penambahan energi mekanik dapat lebih besar dari laju panas
yang dipertukarkan. Pada sistem pembangkit daya termal, energi mekanik dapat
mencapai 4 sampai 10 kali energi panas yang dibutuhkan.
Ada tiga tipe penukar panas yang sering digunakan, yakni plate and frame/
gaskette plate (umumnya disebut plate exchanger), spiral plate, dan lamella.
Kesamaan dari ketiga konfigurasi ini adalah permukaan pemindahan panas samasama terdiri dari paralel lempeng logam yang dipisahkan permukaan kontak dan
panas yang diterima mengubah aliran fluida pada saluran tipis.
Penukar panas jenis plate adalah penukar panas yang dapat memindahkan
panas lebih baik dari dua konfigurasi lainnya. Kelebihan lain penukar panas jenis
plate ini adalah:
1. fleksibel dalam penyusunan arah alir fluida
2. memiliki laju perpindahan panas yang tinggi
3. mudah dalam pengecekan/ inspeksi dan perawatan.
Proses pertukaran panas di industri digunakan untuk pemenuhan kebutuhan
unit proses dan untuk konservasi energi. Penukar panas yang baik adalah yang
memiliki laju perpindahan panas seoptimal mungkin. Ketidakoptimalan laju
perpindahan panas ditentukan nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan (U).
Hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan menunjukkan bahwa perubahan
fluks massa udara dapat meningkatkan nilai U untuk setiap laju alir massa flue gas
konstan pada lat penukar panas jenis plat. Marriot (1971) membatasi rentang
bilangan Reynolds yang efektif untuk fluida operasi gas-gas adalah 10-400. Pada
bilangan Reynolds yang terlalu tinggi, laju alir fluida juga akan tinggi, yang akan
menyebabkan perpindahan panas tidak efektif.

10

Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan penukar panas plate and frame
dengan beberapa karakteristik, antara lain penukar panas pelat bersaluran jamak
banyak saluran, beraliran berlawanan arah, dan beraliran menyilang. Variabel yang
terlibat dalam percobaan ini adalah besarnya laju alir massa fluida yang
menentukan bilangan Reynolds operasi. Laju alir fluida dihitung dengan
menggunakan rotameter yang telah dikalibrasi terleih dahulu. Pembacaan
temperatur fluida menggunakan termokopel yang ditempatkan pada aliran masuk
dan keluar fluida panas maupun fluida dingin. Karakteristik yang akan diamati
berupa laju perpindahan panas Q, fluks kalor hilang qloss, koefisien perpindahan
panas konveksi h, bilangan Reynolds, dan bilangan Nusselt.
2.5 Penukar Panas Jenis Pelat
Penukar panas adalah alat yang digunakan untuk mempertukarkan panas secara
kontinue dari suatu medium ke medium lainnya dengan membawa energi panas.
Secara umum ada 2 tipe penukar panas, yaitu:
1. direct heat exchanger, dimana kedua medium penukar panas saling kontak
satu sama lain.
2. indirect heat exchanger, dimana kedua media penukar panas dipisakan oleh
sekat/ dinding dan panas yang berpindah juga melewatinya.
Yang tergolong indirect HE adalah penukar panas jenis shell and tube, pelat,
dan spiral. Sedangkan yang tergolong direct HE adalah cooling tower dimana
operasi perpindahanpanasnya terjadi akibat adanaya pengontakan langsung antara
air dan udara.
Penukar anas jenis pelat memberikan hasil yang lebih baik dalam proses
pertuakran panas, karena:
1. Menggunakan material tipis untuk permukaan penukar panas sehingga
menurunkan tahanan panas selama konduksi.
2. Memberikan derajat turbulensi yang tinggi yang memberikan nilai konveksi
yang besar sehingga meningkatkan nilai U dan juga menimbulkan self
cleaning effect.
3. Faktor-faktor fouling kecil karena:
a. Aliran turbulen yang tinggimenyebabkan padatan tersuspensi.
b. Profil kecepatan pada pelat menjadi seragam.

11

c. Permukaan pelat secara umum smooth.


d. Laju korosi rendah.
e. Mempunyai nilai ekonomis dalam instalasi karena hanya
membutuhkan tempat 1/4 sampai 1/10 tempat yang dibutuhkan tube
dan spiral.
f. Mudah dalam modifikasi dan pemeliharaan.
g. Penukar panas jenis pelat dapat memindahkan panas secara efisien
bahkan pada beda temperatur sebesar 1 C sekalipun.
h. Penukar panas jenis pelat juga fleksibel dalam pemeliharaan aliran.
Menurut Bell (1959) ada beberapa tipe aliran fluida dalam pelat heat
exchanger, yaitu:
1. Seri
Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alirnya rendah dan beda
temperaturnya tinggi.
2. Paralel
Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alirnya lebih besar dan beda
temperaturnya rendah.
3. Seri paralel
Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alir dan beda temperaurnya tidak
terlalu tinggi (menengah).
Penukar panas jenis pelat terdiri atas pelat-pelat tegak lurus yang dipisahkan
sekat-sekat berukuran antara 2 sampai 5 mm. Pelat-pelat ini berbentuk empat
persegi panjang dengan tiap sudutnya terdapat lubang. Melalui dua di antara
lubang-lubang ini fluida yang satu dialirkan masuk dan keluar pada satu sisi,
sedangkan fluida yang lian karena adanya sekat mengalir melalui ruang antara di
sebelahnya. Struktur umum penukar panas kenis pelat yang dipublikasikan Marriot,
1971 dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut.

12

Gambar 2.1 Penukar panas jenis pelat [Marriot, 1971]


Banyak pelat bergelombang, sehingga aliran turbulen sudah tercapai pada
bilanagn Reynolds antara 10-400. Pelat yang lebih tipis akan memberikan
perpindahan panas yang lebih efisien, uniform, dan proses kontrol yang lebih baik.
Berdasarkan konstruksinya, penukar panas pelat dapat dibagi menjadi 2 macam,
yaitu Gasketted Plate Heat Exchanger dan Brazed Plate Heat Exchanger.
Gasketted plate heat exchanger mudah dimodifikasi karena desiannya
fleksibel. Fungsi utama gasket adalah menjaga tekanan fluida, menjaga laju alir
fluida dan mencegah pencampuran fluida. Selain iu, gasket juga mudah dibuka
untuk kontrol dan pembersihan. Brazed plate heat exchanger adalah pengembangan
jenis gasket. Kelebihannya adalah lebih kompak, dan digunakan untuk tekanan dan
temperatur tinggi.
2.6 Jenis-Jenis Plate Heat Exchanger
Pada percobaan ini, studi terhadap penuakr panas jenis pelat didasarkan pada
ragam aliran fluida operasi. Berdasarkan hal ini penukar panas jenis pelat dapat
dibedakan menjadi:
1. Penukar panas pelat beraliran jamak (multipass plate heat exchanger).
2. Penukar panas pelat berlawanan arah (countercurrent plate heat exchanger).
3. Penukar panas pelat bersilangan arah (crosscurrent plate heat exchanger).
Alat penukar panas saluran jamak memiliki spesifikasi aliran berupa saluran
jamak laluan (multipass) untuk aliran udara pendingin dan saluran tunggal untuk
aliran flue gas. Penukar panas pelat secara skematik dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Proses pertukaran panas pada penukar panas jenis ini secara sederhana mirip
dengan proses pertukaran panas pada penuakr panas pipa ganda (double pipe heat
excanger). Perbedaannya terletak pada bentuk alur laluan fluida. Pada pipa ganda

13

alur laluan fluida pendinginnya sejajar dengan alur laluan fluida panasnya. Baik
fluida dingin maupun panas memiliki alur aliran yang lurus (smooth). Sedangkan
pada penukar panas pelat beraliran jamak alur laluan fluida dingin membentuk
hutuf U dan sejajar dengan alur laluan fluida panas.

Gambar 2.2 Penukar panas jenis pelat berlairan jamak (multi-pass)


Pada alat penukar panas berlawanan arah, kedua fluida, flue gas, dan udara
pendingin mengalir masuk ke penukar panas dalam arah yang berlawanan dan
keluar sistem dalam arah yang berlawanan juga. Gambar 2.3 menunjukkan skema
arah aliran pada penukar pelat berlawanan arah.

Gambar 2.3 Penukar panas pelat berlawanan arah (counter current)


Pada penukar panas pelat bersilangan arah, udara bergerak menyilang melalui
matriks perpindahan panas yang dilalui oleh flue gas. Arah matriks perpindahan
panas pada penukar panas jenis ini dapat dilihat pada Gambar 2.4.

14

Gambar 2.4 Penukar panas bersilangan arah (cross-current)


2.7 Koefisien Perpindahan Panas
Perpindahan panas antara dua fluida yang dipisahkan oleh pelat terjadi secara
konduksi dan konveksi. Jika konduksi dan konveksi secara berurutan, maka tahanan
panas yang terlibat (konduksi dan konveksi) dapat dijumlahkan untuk memperoleh
koefisien perpindahan panas keseluruhan (U). Besaran 1/Uh dan 1/Uc disebut
tahanan keseluruhan terhdap perpindahan panas dan merupakan jumlah seri dari
tahanan di fasa fluida panas, pelat, dan fluida dingin. Secara metemais dapat
dirumuskan:
1

1
+

1
+

dan
1
dimana :

= tahanan panas keseluruhan atas dasar fluida panas

= tahanan panas keseluruhan atas dasar fluida dingin

hh = koefisien perpindahan panas di fluida panas

hc = koefisien perpindahan panas di fluida dingin

15

xw = tebal pelat
k = konduktivitas pelat
Perpindahan panas menjadi:
= (
=
=

dQ/dA adalah fluks panas per unit perpindahan panas di maan perbedaan
temperatur (Th - Tc). U adalah koefisien perpindahan panas keseluruhan, Tw adalah
temperatur dinding pelat. Gradien temperatur pada proses konveksi paksa
ditunjukkan pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Gradien temperatur pada proses konveksi paksa [McCabe, 1993]
Karena harga Th dan Tc berbeda untuk tiap titik, digunakan beda temperatur
ratarata logaritmik (TLMTD). Secara matematis dirumuskan:

16

ln

Untuk fluida dengan aliran single pass, TLMTD harus dikoreksi dengan faktor 0.95.
Koreksi perlu dilakukan agar nilai yang diperoleh lebih valid. Untuk memperoleh
harga faktor koreksi (Ft) perlu terlebih dahulu dicari nilai dari konstanta tak
berdimensi Z dan H. Dimana:
=
dan

Kemudian, dengan mengaluirkan nilai Z dan H pada Gambar 2.6, diperoleh nilai
Ft.
2.8 Variabel Keadaan
Secara matematis tujuan percobaan ini adalah mencari nilai a, b, c pada
persamaan:
NNU = a.NREb.NPRc
Dari persamaan si atas terlihat bahwa ada beberapa variable keadaan yang terlibat,
yaitu bilangan Reynolds, bilangan Prandtl, dan bilangan Nusselt. Bilangan
Reynolds menggambarkan karakteristik aliran fluida apakah bersifat laminar atau
turbulen. Bilangan Prandtl menunjukkan karakteristik termal fluida. Sedangkan
bilangan Nusselt menggambarkan karakteristik proses perpindahan panas.
Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang didefinisikan
sebagai perbandingan antara gaya inersia terhadap gaya viscous dalam system
aliran fluida. Secara matematis dapat dirumuskan:

dimana :
= densitas fluida (kg/m3)

. .

17

v = laju alir fluida (m/s2)


= viskositas fluida (ms2/kg)
d = diameter (m)

Gambar 2.6 Faktor koreksi temperatur untuk aliran cross-current [McCabe, 1993]
Berikut adalah densitas fluida udara pada tekanan atmosferik:
Temperatur (K)

273,15

288,15

Desitas (g/L)

1,2928

1,2250

Tabel 2.1 Densitas fluida udara pada tekanan atmosferik


Aliran fluida cair pada tube bersifat laminar bila bilangan Reynolds kurang dari
2100. Pada rentang bilangan Reynolds antara 2100-6000 fluida mengalir pada regim
transisi. Sedangkan jika bilangan Reynolds sudah lebih dari 6000 aliran fluida
tergolong turbulen.
Bilangan Prandtl merupakan bilangan tak berdimensi yang didefinisikan
sebagai pebandingan antara kapasitas panas fluida dikalikan viskositas terhadap
konduktivitas termal fluida. Secara matematis bilangan Prandtl dirumuskan
sebagai:
=

dimana

Cp = kapasitas panas fluida


= viskositas fluida (ms2/kg)
k = konduktivitas termal fluida
Berikut ini adalah bilangan Prandtl fluida udara pada tekanan atmosferik:
Temperatur (K)

Bilangan Prandtl

18

160

0.754

200

0.738

240

0.724

280

0.710

300

0.705

350

0.699

400

0.694

450

0.691

500

0.689

Tabel 2.2 Bilangan Prandtl fluida udara pada tekanan atmosferik


Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai bilangan Prandtl udara relatif konstan
sehingga korelasi bilangan tak berdimensi tersebut dapat disederhanakan menjadi:
NNU = a.NREb
ln(

) = ln + ln(

Persamaan diatas yang merupakan persamaan yang menunjukkan korelasi


antara bilangan Nusselt dengan bilangan Reynolds.
Bilangan Nusselt didefinisikan sebagai perbandingan antara gradien dinding
(dT/dy)w terhadap gradien temperatur (T-Tw)/D. Secara matematis dapat ditulis:
=

Dari persamaan tersebut, terlihat ada beberapa variabel yang mempengaruhi


besarnya nilai bilangan Nusselt, yaitu koefisien perpindahan panas, konveksi h,
diameter ekivalen pelat D, dan konduktivitas termal fluida k. Nilai konduktivitas
termal fluida udara pada berbagai suhu dapat dilihat pada tabel berikut;
Temperatur (K)

300

350

400

500

600

700

800

Kudara (10-2W/mK)

2.62

3.00

3.38

4.07

4.69

5.24

5.73

Tabel 2.3 Nilai konduktivitas termal fluida udara pada berbagai suhu

2.9 Korelasi Data


Untuk aliran turbulen pada penukar panas jenis pelat, Marriot (1971)
memberikan korelasi sebagai berikut

19

dimana

= a. N

.N

NNU

= bilangan Nusselt

NRE

= bilangan Reynolds

NPR

= bilangan Prandtl

= viskositas fluida (ms2/kg)

= viskositas fluida di lapisan batas (ms2/kg)

a = 0.15-0.40
b = 0.65-0.85
c = 0.30-0.45
d = 0.05-0.20
Persamaan khusus yang digunakan Marriot (1971) adalah:
N

= 0.374 N

.N

0.668

0.333

Persamaan ini berlaku untuk fluida operasi air-air dengan rentang bilangan
Reynolds antara 10-10000. Karena dan w dapat dianggap sama, maka Troupe
(1960) merumuskan hubungan di atas menjadi:

= 0.383 0.0505

0.655

dengan besaran l adalah panjang saluran dan besaran s adalah jarak aliran lokal.
Untuk pelat dengan satu macam struktur geometri, perbandingan l/s besarnya antara
1.5 sampai 10, tetapi untuk banyak tipe seperti pelat dengan struktur geometri yang
bersilangan, perbandingan l/s sulit ditentukan. Untuk aliran laminar Sieder-State
merumuskan hubungan sebagai berikut:

20

2.10 Neraca Massa dan Energi pada Sistem Alat Perpindahan Panas
Karakteristik alat perpindahan panas ditentukan oleh beberapa faktor, antara
lain:
1. Jenis fluida yang akan dipertukarkan panasnya.
2. Laju alir fluida.
3. Tipe aliran yang dipakai (co-current atau counter-current).
4. Letak fluida panas dan dingin, di dalam atau di luar alat penukar panas
tersebut.
Dalam neraca entalpi pendingin dan pemanas didasarkan pada asumsi bahwa
dalam penukar kalor tidak terjadi kerja poros, sedang energi mekanik, energi
potensial, dan nergi kinetik semuanya kecil dibandingkan dengan suku-suku lain
dalam persamaan neraca energi. Maka, untuk satu arus dalam penukar kalor:
=

Dimana,

m = laju aliran massa dalam arus tersebut


q=

= laju perpindahan kalor ke dalam arus

Ha dan Hb = entalpi per satuan massa arus pada waktu masuk dan pada waktu
keluar.
Penggunaan laju perpindahan kalor dapat lebih disederhanakan dengan asumsi
salah satu dari fluida dapat mengambil kalor dan melepaskan kalor ke udara sekitar
jika fluida itu lebih dingin dari udara. Perpindahan kalor dari atau ke udara sekiktar
dibuat sekecil mungkin dengan isolasi yang baik sehingga kehilangan kalor tersebut
diabaikan terhadap perpindahan kalor yang melalui dinding tabung yang
memisahkan udara panas dan udara dingin. Dengan asumsi tersebut, perpindahan
kalor pada fluida panas adalah:
(

)=

)=

sedangakan untuk fluida dingin adalah :

Tanda qc positif sedangkan tanda qh negatif karena fluida panas menerima


kalor sedangkan fluida dingin melepas kalor. Dengan asumsi tidak ada kalor yang
terbuang ke lingkungan, maka

21

Maka persamaan neraca entalpi keseluruhan adalah

)=

)=

Perhitungan perpindahan klalor didasarkan atas luas penukaran pemanasan


yang dinyatakan dalam laju panas per luas permukaan atas dasar luas bidang tempat
berlangsungnya aliran panas. Laju perpindahan kalor per satuan luas disebut fluks
kalor.
Bila fluida dipanaskan atau didinginkan, suhu fluida di dalam pemanas ataupun
pendingin akan berbeda-beda. Jika fluida itu sedang mengalami pemanasan, suhu
minimum terdapat pada dinding pemanas, dan meningkat berangsur sampai ke
pusat. Suhu rata-rata dalah suhu yang dicapai bila keseluruhan fluida yang mengalir
melalui penampang dikeluarkan dan dicampurkan secara adiabatik sehingga
didapatkan satu suhu yang seragam.
Fluks panas terjadi dengan driving force perbedaan suhu yaitu Th-Tc (T). Th
adalah suhu rata-rata fluida panas dan Tc adalah suhu rata-rata fluida dingin.
Perbedaan suhu tersebut disebut Overall Local Temperature Difference. Dalam
suatu alat penukar panas T tersebut berubah dari suatu titik ke titik lain sehingga
fluks juga berubah. Fluks lokal adalah dq/dA sebanding dengan nilai T pada tiap
titik menurut persamaan

= .

U adalah koefisien perpindahan panas keseluruhan (overall). Untuk menyelesaikan


integrasi tersebut harus diasumsikan beberapa pengandaian untuk penyederhanaan
antara lain :
1. Koefisien U bernilai konstan.
2. Kalor spesifik fluida panas dan fluida dingin konstan.
3. Pertukaran kalor dengan lingkungan diabaikan.
4. Aliran tunak dapat searah maupuin berlawanan arah.
Supaya asumsi-asumsi ini dapat berlaku benar maka nilai T harus kecil karena
sebetulnya parameter-parameter tersebut merupakan fungsi suhu. Perhitungan T
ini dihitung secara LMTD.

22

2.11 Konveksi Dalam Keseharian


Konveksi udara secara alami yang terjadi sewaktu membakar sesuatu pada
gambar 2.6. Udara panas di dekat nyala api memuai dan massa jenisnya menjadi
lebih kecil. Udara dingin (massa jenisnya lebih besar) yang berada di sekitar api
menekan udara panas ke atas, sehingga terjadilah arus konveksi udara. Arus
konveksi udara inilah yang membawa asap bergerak ke atas.

2.6 Aliran konveksi di udara


Angin laut dan angina darat yang dimanfaatkan nelayan untuk berlayar mencari
ikan terjadi melalui konveksi alami udara. Pada siang hari, tanah lebih cepat
menjadi panas daripada laut sehingga udara di atas daratan lebih lebih panas
daripada udara di atas lautan. Oleh digantikan oleh udara di atas laut, terjadilah
angin laut (Gambar 2.7).

Gambar 2.7 Angin laut terjadi melalui konveksi alami


Pada malam hari, tanah lebih cepat dingin daripada laut sehingga udara di atas
daratan lebih dingin daripada udara di atas laut. Oleh karena itu, udara di atas laut

23

naik dan tempatnya digantikan oleh udara di atas daratan, terjadilah angina darat
(Gambar 2.8).

Gambar 2.8 Angin darat terjadi melalui konveksi alami


Dalam konveksi paksa, fluida yang telah dipanasi telah langsung diarahkan ke
tujuannya oleh sebuah peniup (blower) atau pompa. Contoh konveksi paksa adalah
pada sistem pendingin mobil, dimana air diedarkan di dalam pipa-pipa air oleh
bantuan pompa air. Panas mesin yang tidak dikehendaki dibawa oelh sirkulasi air
menuju ke radiator. Di dalam sirip-sirip radiator ini air hangat didinginkan oleh
udara. Air yang dingin kembali menuju pipa-pipa air yang bersentuhan dengan
blok-blok mesin untuk mengulang siklus berikutnya. Perlu diperhatikan bahwa
radiator berfungsi sebagai penukar kalor. Jadi, fungsi radiator adalah menjaga suhu
mesin agar tidak melampaui batas desain, sehingga mesin tidak rusak karena
pemanasan lebih. Oleh karena itu, pemilik mobil harus selalu memeriksa apakah
volume air radiatornya cukup atau tidak.

Gambar 2.9 Konveksi paksa pada sistem pendingin mobil


Contoh konveksi paksa lainnya adalah pada pengring rambut, seperti
ditunjukkan pada gambar 2.10. Kipas menarik udara disekitarnya dan meniupkan

24

udara tersebut melalui elemen pemanas. Dengan cara ini dihasilkan suatu arus
konveksi paksa udara panas.

Gambar 2.10 Arus konveksi paksa pada pengering rambut

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Bahan dan Alat yang digunakan


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
1. Bejana kaca transparan
2. Termokopel dan termometer reader (2 buah)
3. Lampu spirtus
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
1. Air bersih
2. Serbuk gergaji kayu

3.2 Prosedur Kerja


Pengambilan data dilakukan dengan mengukur semua variabel saat
melakukan pengujian. Tahap tahap yang dilakukan dalam melakukan pengujian
adalah sebagai berikut:
1. Bejana diisi air hingga penuh.
2. Serbuk gergaji kayu dimasukkan.
3. Lampu spiritus dinyalakan untuk untuk memanaskan air dalam wadah.
4. Mengukur temperatur dasar wadah (Tdw) pada setiap temperatur air
permukaan mencapai temperatur yang ditetapkan.
5. Mengamati perilaku serbuk gergaji dan diamati gerakannya pada tiap
pengukuran temperature.
6. Mengisi table 1. Hasil pengamatan

25

BAB 5. PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Konveksi dapat dimaksudkan sebagai perpindahan kalor melalui cecair atau
gas. Konveksi merupakan suatu mekanisme di mana energi kalor dipindahkan
oleh gabungan satu bahagian bendalir, iaitu gas atau cecair, dengan yang lain
(Straaten, 1967).
Sebagian besar konveksi ditentukan oleh perbedaan suhu antara permukaan
dengan udara, kasar atau tidaknya permukaan, gerakan udara ke atas permukaan
dan orientasi permukaan. Daya aliran konveksi merupakan kuantiti yang sentiasa
berubah (Billington, 1952).
Praktikum ini mengamati suatu pergerakan dari serbuk geragaji ketika
dimasukkan ke dalam bejana pada suhu yang berbeda. Pada suhu awal atau mulamula serbuk gergaji yang dimasukkan kedalam bejana yang berisi air akan
tenggelam. Ketika api dari bunsen sudah dihidupkan maka akan membuat air di
dalam bejana menjadi semakin bertambah temperaturnya. Karena ada kenaikan
temperatur dari air, maka air akan mendidih. Ketika air mendidih terjadi pergolakan
atau pergerakan dari serbuk gergaji dengan membentuk siklus putaran dari samping
menuju ke tengah bejana begitu seterusnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi temperatur dari air maka akan
membuat pergolakan atau pergerakan dari serbuk gergaji semakin cepat. Selain itu
masih ada beberapa ciri-ciri yang lain, contohnya terdapat titik uap air di bejana, air
menjadi keruh dan lain sebagaina.

5.2 SARAN
Sebaiknya dalam melakukan pengambilan data selanjutnya disediakan waktu
yang cukup lama, agar hasil pengambilan data bisa lebih akurat dan sebaiknya alatalat dan bahan yang hendak diujikan diatur terlebih dahulu dan dirawat untuk dapat
bekerja secara maksimal. Agar pada saat pengambilan data, mesin akan benar-benar
dapat siap untuk diuji dan digunakan.

29