Anda di halaman 1dari 2

Plasma Cell Gingivitis: Laporan Kasus

Aravinda Konidena, Gagan Puri, Deepa Jatti, Simarjeev Singh


Department of Oral Medicine and Radiology, Swarni Devi Dyal Hospital and Dental College,
Panchkula, Haryana, India
ABSTRACT
Plasma Cell Gingivitis (PCG) merupakan kondisi langka pada gingiva, yang memiliki
karakteristik berupa adanya infiltrasi dari sel plasma. Sebagian besar dari penyebab masih
belum diktehaui, namun diduga berasal dari reaksi hipersensitivitas terhadap alergen. Kami
melaporkan kasus yang menarik mengenai plasma cell gingivitis pada pasien berusia 28
tahun penderita muscular dystrophy tipe II, yang didiagnosis berdasarkan pemeriksaan
histopatologis dari eksisi jaringan gingiva, diharuskan karena sifat lesi yang sulit
disembuhkan hanya dengan pengobatan konvensional. Pasien memberikan respon pada
pemberian triamsinolon asetonida 0,1% dan Levocetrizine 5 mg secara topikal.
Kata kunci: Gingival enlargements, gingivitis, muscular dystrophy, plasma cell, plasma cell
gingivitis
PENDAHULUAN
Plasma Cell Gingivitis (PCG) merupakan kondisi langka pada gingiva, yang memiliki
karakteristik berupa adanya infiltrasi dari sel plasma. Sebagian besar dari penyebab masih
belum diktehaui, namun diduga berasal dari reaksi hipersensitivitas terhadap alergen.
Identifikasi dari alergen spesifik belum tentu dapat dilakukan. Beberapa alergen yang
sebelumnya diketahui sebagai pemicu antara lain mengunyah permen karet, beberapa
komponen dari pasta gigi, kayu manis, mint, cabai merah, daun khat, dan sebagainya.
Kondisi ini dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok berdasarkan etiologinya yaitu:
1. PCG karena alergen
2. PCG karena kelainan neoplastik
3. PCG karena penyebab yang belum dketahui
Diluar dari etiologinya, PCG memiliki gambaran klinis berupa pembesaran odematous
berwarna merah pada gingiva, rapuh dan mudah berdarah. Kelainan ini juga dkenal sebagai
atypical gingivostomatitis, idiopathic gingivostomatitis dan allergic gingivostomatitis,
terutama apabila disertai dengan bibir pecah-pecah dan ulser pada mukosa oral.
LAPORAN KASUS
Pasien berusia 28 tahun dilaporkan pada Departemen Oral Medicine dan Radiology dengan
keluhan utama berupa pembengkakan berwarna merah pada gusi gigi depan rahang atas
selama 2 bulan. Pasien pada awalnya mengetahui adanya pembengkakan kecil pada gusi
dan kemudian dikonsultasikan pada dokter gigi bedah mulut. Pasien diberikan terapi obatobatan dan diberikan perawatan profilaksis pada oral, namun tidak menunjukkan perubahan
yang signifikan terhadap kondisi pasien. Terdapat pembesaran secara bertahap pada
pembengkakan gusi, tidak nyeri, tetapi mudah berdarah apabila pasien menggigit dengan
gigi depannya. Pasien mengatakan tidak ada perubahan baru-baru ini pada produk

keberisihan gigi dan mulut maupun mengunyah permen karet. Tidak ada kehilangan nafsu
makan, demam maupun kekurangan tidur. Riwayat penyakit dari pasien yaitu muscular
dystrophy type II, dengan ketidakmampuan pasien untuk berjalan atau menggerakkan kaki
sejak 5 tahun yang lalu. Kedua kakak dan adik pasien menderita kelainan yang sama tetapi
berbeda tingkat keparahannya. Namun, riwayat penyakit pda keluarga tidak ada yang
menyebutkan adanya keluhan pada gusi. Pasien merupakan perokok ringan sejak 3 tahun
yang lalu.
Pasien menggunakan kursi roda dan membutuhkan bantuan untuk menjalankan aktivitasnya
sehari-hari. Pasien memiliki bentuk kepala dolikosefalik, leher yang pendek, skoliosis pada
tulang belakang ke arah kiri, serta kaki yang melemah.
Pemeriksaan oral menunjukkan adanya pembesaran marginal, papilla, dan attached gingiva
berwarna merah terang pada gingiva insisivus sentral rahang atas, dengan ukuran 2x2 mm
yang meluas dari mesial ke margin gingiva. Terdapat perdarahan ketika dilakukan probing,
dengan hilangnya kontur dan stipling dari gingiva. Konsistensi lesi lunak dan tidak sensitif
terhadap perabaan. Terdapat poket pada gingiva sedalam 5 mm pada bagian mesiobukal
dan distobukal. Insisivus rahang bawah juga menunjukkan gambaran yang sama hingga
kaninus rahang bawah. Terdapat jarak antar gigi secara menyeluruh pada insisivus lateral
rahang atas yang hilang. Kalkulus ringan ditemukan pada regio anterior rahang bawah
disertai stain secara menyeluruh. Terdapat kemungkinan adanya gingivitis tuberkulosis,
deskuamatif gingivitis kronis dan plasma cell gingivitis. Pemeriksaan hemogram lengkap,
biokimia rutin, dan pemeriksaan radiografis tidak menunjukkan adanya kelainan. Biopsi
eksisi dari jaringan yang membesar dilakukan pada insisiv sentral rahang atas bagian
kanan. Gingivoplasti juga dilakukan untuk mempertahankan kontur. Dressing periodontal
diaplikasikan untuk menjaga luka kemudian pasien diinstuksikan untuk kontrol setelah 1
minggu. Penyembuhan pasca operasi