Anda di halaman 1dari 34

0

PEDOMAN
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN
(PKB)
PERAWAT INDONESIA
Edisi ke 2

PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA

PENYUSUN

DEWAN PENGURUS PUSAT - PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA


Sekretariat: Jalan Boulevard Raya Barat, Kelapa Gading Jakarta Utara
Jakarta, Oktober - 2015

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

KATA PENGANTAR EDISI KE 2


KETUA UMUM DPP PPNI
(PERIODE 2015 2020)
Puji syukur kekhadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga
buku Pedoman Pengembangan Profesi Berkelanjutan (PKB)

edisi ke 2 ini telah dapat

diselesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama sejak kepengurusan DPP PPNI periode
2015-2020 dikukuhkan. Buku pedoman edisi ke 1 yang terbit pada tahun 2012 memang
dirasakan perlu direvisi karena banyak perkembangan baru baik dalam peraturan setelah
terbitnya Undang-undang No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, kemajuan ilmu
pengetahuan dan tehknologi kesehatan maupun kebutuhan anggota, agar proses
resertifikasi makin mudah tanpa mengurangi bobot mutu dalam rangka registrasi ulang di
MTKI .

PPNI sebagai organisasi profesi perawat turut bertanggung jawab serta siap bekerjasama
dengan pemerintah dalam menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu,
aman, efisien dan terjangkau, khususnya dalam bidang keperawatan, melalui pembinaan
mutu profesionalisme anggotanya dengan merujuk Undang-Undang no. 38 tentang
Keperawatan pasal 53 ayat : 3 yaitu Pendidikan nonformal atau pendidikan berkelanjutan
ditempuh setelah menyelesaikan pendidikan Keperawatan. Untuk itu, PPNI mengeluarkan
Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Perawat Indonesia yang akan
menjadi acuan operasional bagi semua perawat dalam mengembangkan kariernya maupun
Pengurus PPNI dalam pemberian Satuan Kredit Profesia (SKP) bagi perawat yang telah
berupaya mengembangkan dirinya

Penghargaan dan terima kasih saya ucapkan pada tim penyusun buku edisi ke 2 dan semua
pihak terkait yang telah bekerja tanpa mengenal lelah sehingga pedoman ini dapat
diterbitkan. Semoga Allah SWT meridhoi PPNI mengeluarkan Pedoman Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Perawat Indonesia

DPP PPNI
Ketua Umum
Harif Fadhillah, SKp., SH

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

2
KATA PENGANTAR EDISI KE 1
TIM PENYUSUN DPP PPNI
(PERIODE 2010 2015)
Undang-Undang RI no 36 th 2009 mengamanatkan bahwa Setiap orang mempunyai hak
dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
Dalam undang undang tersebut pada pasal 16 dinyatakan bahwa, pemerintah bertanggung
jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi
seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Sementara itu, pasal 19 menyatakan : Pemerintah

bertanggung

jawab

atas

ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan
terjangkau.

Upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien dan terjangkau oleh seluruh masyarakat
Indonesia ini dapat terwujud antara lain dengan mendayagunakan tenaga profesional
keperawatan secara optimal. Perawat, sebagai tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan fundamental bagi terwujudnya masyarakat sehat, mempunyai peranan penting,
baik dalam upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif di berbagai tatanan kesehatan,
diseluruh pelosok Tanah Air.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), sebagai organisasi profesi perawat turut
bertanggung jawab serta siap bekerjasama dengan pemerintah dalam menjamin
terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, aman, efisien dan terjangkau,
khususnya

dalam

bidang

keperawatan,

melalui

pembinaan

mutu

profesionalisme

anggotanya. Untuk itu, PPNI mengeluarkan Pedoman Pengembangan Keprofesian


Berkelanjutan (PKB) Perawat Indonesia yang akan menjadi acuan operasional bagi semua
perawat dalam mengembangkan kariernya maupun Pengurus PPNI dalam pemberian
Satuan Kredit Profesia (SKP) bagi perawat yang telah berupaya mengembangkan dirinya.

Dengan tersusunnya Pedoman ini, diharapkan mutu pelayanan keperawatan lebih terjamin,
serta ada kejelasan tentang pola pengembangan profesionalisme bagi setiap perawat.
Jakarta, Juni 2012
Tim Penyusun
PPNI Pusat

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

VISI DAN MISI


PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA

VISI

PPNI sebagai organisasi profesi yang disayangi anggota, dicintai


pemerintah dan diperhitungkan organisasi lainnya

MISI

1. Penguatan kepengurusan pada setiap level termasuk badan dan


kelembagaan
2. Mengupayakan dan mengutamakan kepentingan anggota dalam
pelaksanaan praktik yang umum, profesional, beretika dan
bermanfaat selayaknya profesi
3. Membangun jejaring yang luas dan efektif dalam melaksanakan
peran
4. Bekerjasama

dan berkoordinasi dengan

kebijakan perawat

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

pemerintah dalam

TUJUAN
1. Terbentuknya kepengurusan yang kuat

pada setiap level termasuk badan

dan kelembagaan
2. Terlaksananya

kegiatan

dalam

Mengupayakan

dan

mengutamakan

kepentingan anggota dalam pelaksanaan praktik yang umum, profesional,


beretika dan bermanfaat selayaknya profesi
3. Tersedianya jejaring yang luas dan efektif dalam melaksanakan peran
4. Terlaksananya kerjasama

dan koordinasi dengan

kebijakan perawat

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

pemerintah dalam

5
DAFTAR ISI

Hal
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Pedoman PKB Perawat Indonesia

BAB II

KETENTUAN UMUM BERDASARKAN SISTEM KREDENSIAL


PERAWAT DI INDONESIA
A. Pengertian
B. Tujuan
C. Cakupan Sistem Kredential
1. Registrasi
2. Sertifikasi
3. Lisensi
4. Akreditasi

BAB III

KETENTUAN PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN


(PKB) PERAWAT INDONESIA
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Pengertian
Tujuan
Bentuk PKB Perawat Indonesia
Prinsip PKB Perawat Indonesia
Ketentuan Umum
Satuan Kredit Profesi

7
7
8

9
9
9
9
9
9
12
13
14
16

16
16
17
17
18
18

PENATALAKSANAAN

25

A. Penilaian Kelayakan Penyelenggaraan & Permohonan SKP


B. Pelaporan Perolehan SKP

25
26

BAB V

MONITORING DAN EVALUASI


A. Monitoring
B. Evaluasi
C. Prinsip-prinsip Monitoring dan Evaluasi
D. Mekanisme Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi

27
27
28
29
30

BAB VI

PENUTUP

31

Referensi
Daftar Lampiran
Lampiran 1 : Form A, Laporan evaluasi diri
Lampiran 2 : Form B, Permohonan rekomendasi
Lampiran 3 : Form C, Format rekomendasi
Lampiran 4 : Mekanisme rekomendasi SKP Re-registrasi STR
Lampiran 5 : Mekanisme alur permohonan SKP
Lampiran 6 : Format Kurikulum pelatihan berbasis kompetensi
Lampiran 7 : Pembiayaan Pengajuan SKP dan Instituasional Fee

32
33

BAB IV

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pelayanan keperawatan merupakan Pelayanan profesional, sebagai bagian


integral dari pelayanan kesehatan yang mempunyai daya ungkit besar terhadap
pembangunan bidang kesehatan. Kualitas pelayanan kesehatan ditentukan salah
satunya dari kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat yang
berkualitas. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang RI No. 36 th. 2009 tentang
Kesehatan pada psl 63 ayat (4) yang menyatakan : Pelaksanaan pengobatan
dan/atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya
dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu.

Berdasarkan Undang-Undang No. 38 tahun 2014 pasal 53 ayat : 2 menyatakan


bahwa pengembangan praktik keperawatan bertujuan untuk mempertahankan
atau meningkatkan keprofesionalan perawat. Praktik profesional perawat sebagai
ciri utama profesi, diharapkan tetap dipelihara, dikembangkan dan ditingkatkan
kualitasnya guna mempertahankan standar praktik profesional yang tinggi,
sehingga masyarakat dapat menerima haknya untuk memperoleh pelayanan
keperawatan yang aman dan berkualitas.

Upaya yang harus dilakukan untuk menjamin kualitas pelayanan serta


melindungi masyarakat, perlu dikembangkan sistem kredensial guna memastikan
bahwa setiap perawat, program atau lembaga pelayanan keperawatan
/kesehatan berkualitas dan memenuhi standar yang ditetapkan. Proses
kredensial pada umumnya dilakukan oleh suatu badan regulator profesi yang
bersifat independen. Untuk mendukung pelaksanaan proses kredensial tersebut,
perlu dikembangkan sistem dan mekanisme yang dapat menjamin peningkatan
kemampuan profesional perawat, agar kinerjanya memenuhi tuntutan Standar
Profesi Keperawatan.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

7
Undang Undang No. 36 th 2009 pasal 24 ayat (2) menyatakan : Ketentuan
mengenai kode etik dan standar profesi diatur oleh organisasi profesi. Sementara
itu, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 17 Tahun 2013 sebagai perubahan
HK.02.02/MENKES/148/1/ 2010 Tentang : Izin dan Penyelanggaraan Praktik
Perawat, pasal 12 ayat 2 yang menyatakan: Perawat dalam menjalankan Praktik
senantiasa

meningkatkan

mutu

pelayanan

profesinya

dengan

mengikuti

perkernbangan Ilmu pangetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan


pelatihan sesuai dengan tugasnya, yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau
organisasi profesi.

Persatuan

Perawat

Nasional

Indonesia

(PPNI)

telah

menetapkan

Pengembangan Profesional sebagai ranah ke-tiga dalam Kerangka Kerja


Kompetensi bagi Perawat Indonesia, dimana salah satu elemen kompetensi yang
harus dilakukan adalah Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan,

sesuai

dengan standar kompetensi global yang ditetapkan oleh International Council of


Nurses (ICN). Sehingga Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai
organisasi profesi perawat, bertanggung jawab dalam menetapkan sistem dan
Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Perawat Indonesia.

B. Tujuan Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Perawat

Tujuan umum
Tersedianya

pedoman

untuk

pelaksanaan

Pengembangan

Keprofesian

Berkelanjutan untuk perawat Indonesia.

Tujuan khusus
Pedoman ini memberikan penjelasan berupa :
1. Sistem kredensial perawat di Indonesia
2. Ketentuan Umum Berdasarkan Sistem Kredensial Perawat di Indonesia
3. Ketentuan

Pengembangan

Keprofesian

Berkelanjutan

Indonesia
4. Sistem evaluasi dan monitoring.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

(PKB)

perawat

8
BAB II
KETENTUAN UMUM
BERDASARKAN SISTEM KREDENSIAL PERAWAT DI INDONESIA

A. Pengertian

Kredensial adalah proses evaluasi tenaga keperawatan untuk menentukan


kelayakan pemberian kewenangan klinis. Kredensial merupakan proses untuk
menjamin kualitas dan melindungi masyarakat dengan memastikan bahwa
individu, program, institusi atau jasa yang diberikan memenuhi standar. Proses
kredensial merupakan salah satu profesi keperawatan mempertahankan standar
praktik dan akuntabilitas persiapan pendidikan anggotanya. Proses kredensial
dilaksanakan oleh badan regulator independen yang ditetapkan berdasarkan
undang-undang.

B. Tujuan
Tujuan utama kredensial adalah untuk melindungi masyarakat penerima jasa
pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang
diberikan oleh perawat.

C. Cakupan Sistem Kredential


Proses kredensial mencakup : Registrasi, Sertifikasi, Lisensi, dan Akreditasi.
Di Indonesia, saat ini kredensial diatur dalam beberapa kebijakan pemerintah,
yang perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan organisasi profesi, dalam hal ini
PPNI.

1. REGISTRASI DAN REREGISTRASI


a. Pengertian
Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap perawat yang telah memiliki
Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi dan telah mempunyai
kualifikasi tertentu lainnya serta telah diakui secara umum untuk
menjalankan Praktik Keperawatan. Registrasi secara tertulis dibuat dalam
bentuk Surat Tanda Registrasi (STR) yang berlaku selama 5 (lima) tahun,
dan dapat diregistrasi ulang (reregistrasi) selama 5 (lima) tahun.
Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat
(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

Reregistrasi adalah registrasi ulang yang dilakukan saat masa berlaku


Surat Tanda Registrasi Perawat telah berakhir, Pengaturan Reregistrasi
perawat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
secara nasional.

b. Persyaratan Registrasi dan Registrasi Ulang


Merujuk pada Undang-Undang No. 38 Tahun 2014, pasal 18 ayat 3,
persyaratan registrasi adalah sebagai berikut :
1) Memiliki ijazah pendidikan tinggi keperawatan (D III, Ners, Ners
Spesialis, Ners Spesialis Konsultan)
2) Memiliki Sertifikat Kompetensi dan Sertifikat Profesi
3) Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental
4) Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi,
dan
5) Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi.

Persyaratan registrasi ulang adalah sebagai berikut :


1) Memiliki STR yang lama
2) Memiliki Sertifikat Kompetensi dan Sertifikat Profesi
3) Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental
4) Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi
5) Telah

mengabdikan

diri

sebagai

tenaga

profesi

atau

vokasi

dibidangnya
6) Memenuhi kecukupan 25 (dua puluh lima) Satuan Kredit Profesi (SKP)
dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan dan atau kegiatan
ilmiah lainnya.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

10
c. Registrasi Bagi Perawat Asing
Perawat

warga

negara

asing

yang

akan

melaksanakan

praktik

keperawatan di Indonesia harus memiliki STR (Sementara) setelah


mengikuti proses evaluasi kompetensi. STR (Sementara) tersebut berlaku
selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) tahun berikutnya.
Merujuk pada Undang-Undang No. 38 Tahun 2014, pasal 24 dan 25,
persyaratan registrasi bagi perawat asing adalah sebagai berikut :
1) Mengikuti evaluasi kompetensi yang terdiri dari penilaian kelengkapan
administrasi dan kemampuan klinik, antara lain :
Kelengkapan administrasi terdiri dari : kelengkapan ijazah, surat
keterangan fisik dan mental, surat pernyataan untuk mematuhi dan
melaksanakan ketentuan etika profesi. Penilaian kemampuan klinik
terdiri dari : surat keterangan telah mengikuti program evaluasi
kompetensi dan sertifikat kompetensi.
Perawat Warga Negara Asing atau Perawat Warga Negara Indonesia Lulusan
Luar Negeri harus memenuhi ketentuan mengenai sertifikat kompetensi dan
STR, untuk dapat bekerja sebagai perawat di Indonesia. Pemberian STR baru
atau perpanjangan STR kepada Perawat atau Perawat WNA atau Perawat
WNI Lulusan Luar Negeri harus sesuai dengan Peraturan perundangundangan yang berlaku.

d. Mekanisme Registrasi Ulang (Re-registrasi)


Mekanisme dan kebijakan PPNI dalam memberikan rekomendasi guna
perpanjangan Sertifikat kompetensi dalam rangka Re-Registrasi, sebagai
berikut :
1) Rekomendasi diberikan kepada anggota aktif PPNI yang memiliki Nomor
Induk Registrasi Anggota (NIRA) PPNI yang dikeluarkan oleh PPNI Pusat
sesuai hasil Munas 2010 dan terdaftar sejak 2012. Untuk perawat lulusan
setelah tahun 2012, keanggotaan dihitung sejak tahun kelulusan.
2) Surat

Rekomendasi

diberikan

oleh

PPNI

Propinsi

berdasarkan

pendelegasian dari PPNI Pusat (Surat Keputusan Pengurus Pusat PPNI)


dengan memperhatikan status keanggotaan dan terpenuhinya 25 SKP
sesuai ketentuan PPNI
Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat
(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

11
3) SKP yang diakui adalah SKP PPNI yang dikeluarkan sejak tahun 2011
4) Setiap tahun pada bulan kelahiran yang bersangkutan, setiap perawat
mengisi laporan evaluasi diri dan melampirkan bukti-bukti sesuai
kebijakan PPNI yang tertuang dalam pedoman, dengan menggunakan
form A (Lampiran 1)
5) Laporan evaluasi diri dan bukti-bukti pendukung dikirimkan ke sekretariat
PPNI Kabupaten / kota untuk diverifikasi oleh evaluator PKB Perawat
Indonesia yang ditetapkan melalui SK PPNI Pusat.
6) Setelah diverifikasi, evaluator PPNI Kabupaten / Kota memasukkan data
hasil evaluasi diri anggotanya (Perolehan SKP setahun) ke Sistem
Informasi Manajemen Keanggotaan (SIM-K) PPNI. Jika perolehan SKP
kurang dari 5, maka evaluator PPNI Kabupaten / Kota memberikan
umpan balik pertama kepada yang bersangkutan secara langsung atau
melalui PPNI Komisariat untuk mendapatkan pembinaan/pengarahan.
Pada akhir 3 tahun pertama PPNI Kab/Kota harus memberikan umpan
balik kedua kepada anggotanya atau melalui PPNI Komisariat apabila
perolehan SKP kurang dari 15, dan membantu mencarikan solusi agar
pada tahun ke lima, dapat tercapai 25 SKP.
7) Setiap akhir lima tahun, evaluator PPNI Kabupaten / Kota melakukan
verifikasi data evaluasi diri dan menyerahkan hasil verifikasi ke Pengurus
PPNI Propinsi untuk dimasukkan ke SIM-K Nasional
8) Pengurus

PPNI

Propinsi,

atas

nama

PPNI

Pusat

memberikan

rekomendasi untuk diteruskan ke MTKP guna memperpanjang Sertifikat


Kompetensi.
(Skema alur mekanisme rekomendasi guna perpanjangan sertifikat
kompetensi dalam rangka re-registrasi lihat lampiran 4) dan Pedoman
PKB PERAWAT INDONESIA dan penentuan SKP akan dijelaskan lebih
lanjut pada Bab III tentang PKB PERAWAT INDONESIA
2. SERTIFIKASI
Sertifikasi merupakan suatu proses pengakuan kompetensi profesional
seseorang, yang ditandai dengan pemberian sertifikat kompetensi.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

12
Sertifikat Kompetensi digolongkan dalam dua jenis ;
1) Sertifikat kompetensi dasar adalah bukti pengakuan terhadap sesorang
perawat mempunyai kompetensi sebagai perawat sesuai dengan dasar
kemampuan keilmuan yang didapat pada pendidikan formal (D III, Ners,
Ners Spesialis, Ners Spesialis Konsultan) melalui proses uji kompetensi
atau kegiatan lain.
2) Sertifikat

kompetensi

lanjutan

atau

kekhususan

adalah

bukti

pengakuan terhadap seorang perawat mempunyai kompetensi perawat


tahap lanjut atau kompetensi kekhususan melalui uji kompetensi atau
kegiatan lain.

3. LISENSI
Lisensi adalah ijin legal yang diberikan oleh pemerintah kepada perawat
untuk dapat melakukan praktik profesinya. Berdasarkan Undang-Undang No
38 Tahun 2014 tentang Keperawatan pasal 28 menyebutkan bahwa Praktik
Keperawatan dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan tempat
lainnya sesuai denan Klien sasarannya, yaitu terdiri atas praktik keperawatan
mandiri dan praktik keperawatan di fasilitas kesehatan.

Izin bagi perawat yang menjalankan praktik keperawatan diberikan dalam


bentuk Surat Izin Praktik Perawat (SIPP). SIPP diberikan oleh Pemerintah
daerah

kabupaten/Kota

atas

rekomendasi

pejabat

kesehatan

yang

berwenang di Kabupaten/Kota tempat Perawat menjalanakan praktiknya.


SIPP berlaku selama STR masih berlaku dan perawat berpraktik ditempat
sebagaimana tercantum dalam SIPP. SIPP hanya berlaku untuk 1 (satu)
tempat praktik dan seorang perawat diberikan SIPP paling banyak untuk 2
(dua) tempat. SIPP dapat dicabut keberlakukaannya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

13
Ketentuan mendapatkan SIPP, sebagai berikut :
1) Melampirkan Fotokopi Kartu NIRA yang aktif dan melunasi iuran anggota
PPNI.
2) Surat permohonan rekomendasi ke organisasi profesi yaitu PPNI
Kabupaten/Kota setempat, sebanyak 3 rangkap untuk pemohon, propinsi
(sebagai laporan) dan pertinggal. (Form B dalam lampiran 2)
3) Melampirkan STR yang masih berlaku
4) Rekomendasi dari organisasi profesi PPNI. (Form C dalam lampiran 3)
5) Surat pernyataan memiliki tempat praktik atau surat keterangan dari
pimpinan fasilitas pelayaan kesehatan.

Permohonan rekomendasi dengan menggunakan form B (lampiran 2)


Pengurus PPNI Kabupaten / Kota setelah menilai kelayakan melaksanakan
praktik mandiri, memberikan rekomendasi dengan menggunakan form C
(lampiran 3)
Rekomendasi dibuat rangkap

3 (tiga), untuk pemohon, untuk propinsi

(sebagai laporan) dan pertinggal.

Pengurus PPNI Propinsi setiap bulan Juni dan Desember membuat


rekapitulasi rekomendasi untuk pembuatan SIPP yang dikeluarkan di wilayah
propinsinya, dan dilaporkan ke Pengurus Pusat PPNI.

4. AKREDITASI
Akreditasi adalah pengakuan terhadap suatu lembaga dan program
pelatihan keperawatan yang menunjukkan bahwa lembaga atau program
pelatihan tersebut telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh PPNI.
Akreditasi lembaga dan program pelatihan dilakukan oleh PPNI Pusat
bersama himpunan / ikatan terkait dengan melibatkan pengurus propinsi
a. Kriteria Standar Akreditasi lembaga pelatihan:
Setiap lembaga pelatihan keperawatan diharapkan memenuhi kriteria
standar penyelenggara pelatihan keperawatan yang meliputi :
Standar 1. Organisasi dan Administrasi
Standar 2: Sumber Daya Manusia
Standar 3: Peserta pelatihan
Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat
(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

14
Standar 4: Rancangan Program Pendidikan
Standar 5: Sumber Materi/bahan dan Fasilitas
Standar 6: Catatan dan Laporan
Standar 7: Evaluasi

b. Akreditasi program pelatihan


Akreditasi program pelatihan dilakukan dengan mengevaluasi kurikulum
dan Garis Besar Program Pelatihan (GBPP) / Rancang Bangun Program
Pelatihan (RBPP).
Format Kurikulum dan GBPP / RBPP terlampir. (lampiran 6)

c. Lembaga yang Berwenang Melakukan Akreditasi


Satu Lembaga pelatihan dianggap memiliki legalitas apabila telah di
akreditasi. Lembaga yang memiliki kewenangan melakukan akreditasi
adalah pemerintah dalam hal ini PUSTANSERDIKNAKES bersama
Organisasi Profesi sebagai OP

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

15

BAB III
KETENTUAN PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN (PKB)
PERAWAT INDONESIA

A. Pengertian
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Perawat Indonesia adalah proses
pengembangan keprofesian yang meliputi berbagai kegiatan yang dilakukan
seseorang dalam kapasitasnya sebagai perawat praktisi, guna mempertahankan
dan meningkatkan profesionalismenya sebagai seorang perawat sesuai standar
kompetensi yang ditetapkan. Kegiatan dapat berupa pengalaman memberikan
asuhan

keperawatan,

melakukan

penelitian

mengikuti
ataupun

pendidikan/
publikasi

pelatihan,

karya

ilmiah.

menulis

artikel,

Pengembangan

keprofesian berkelanjutan bagi perawat ini sesuai UU no 36 th. 2009 tentang


Kesehatan

pasal

27

yang

menyatakan

Tenaga

kesehatan

dalam

melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan meningkatkan


pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.

B. Tujuan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Perawat Indonesia


Secara umum tujuan PKB Perawat Indonesia adalah meningkatkan kompetensi
profesional setiap perawat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
tekonologi di bidang kesehatan khususnya keperawatan, dengan memperhatikan
kebutuhan masyarakat, sehingga

mutu pelayanan keperawatan dapat

ditingkatkan.
Tujuan khusus pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi perawat adalah:
1. Memelihara dan meningkatkan kemampuan profesional perawat

sesuai

standar kompetensi nasional dan global


2. Terjaminnya mutu pelayanan keperawatan melalui upaya pengembangan
kompetensi profesional secara terus menerus.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

16

C. Bentuk PKB Perawat Indonesia


Kegiatan PKB perawat Indonesia mencakup beberapa bentuk:
1. Kegiatan praktik profesional : Memberikan pelayanan keperawatan, baik
berupa praktek di fasilitas pelayanan kesehatan maupun praktek keperawatan
mandiri, serta membimbing praktek mahasiswa di klinik maupun di
masyarakat
2. Pendidikan berkelanjutan : mengikuti seminar, workshop, dan pelatihan.
3. Pengembangan Ilmu Pengetahuan: Meneliti, Publikasi Hasil Penelitian di
jurnal, Menulis artikel di jurnal, Menulis buku yang dipublikasikan.
4. Pengabdian masyarakat: Berpartisipasi dalam pemberdayaan masyarakat
melalui

bentuk-bentuk

kegiatan

sosial,

memberikan

penyuluhan,

penanggulangan bencana, terlibat aktif dalam pengembangan profesi,


anggota pokja kegiatan keprofesian.

D. Prinsip PKB Perawat Indonesia


Prinsip PKB perawat Indonesia adalah:
1. Setiap perawat harus mempunyai rencana pengembangan dirinya sebagai
upaya untuk meningkatkan mutu keprofesiannya. Rencana pengembangan
diri dilakukan dengan mengisi form C (terlampir)
2. PKB Perawat merupakan kegiatan mandiri dengan ciri self directed dan
practice based
3. PKB perawat merupakan syarat untuk mendapatkan rekomendasi dari PPNI
dalam rangka perpanjangan sertifikat guna registrasi ulang (STR) atau lisensi
(SIPP)
4. PKB perawat harus didasarkan pada motivasi dasar :
a. Keinginan memberikan pelayanan terbaik bagi klien
b. Memenuhi Kewajiban sesuai standar profesi
c. Mencegah

kejenuhan,

dan

mendapatkan

kepuasan

diri

berkembangnya kemampuan sesuai dengan jenjang karier profesi.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

dengan

17
E. Ketentuan Umum
Ketentuan umum PKB perawat Indonesia adalah:
1. Pengembangan Keprofesian

Berkelanjutan

merupakan

syarat

untuk

mendapatkan rekomendasi PPNI dalam rangka registrasi ulang dan lisensi


praktik keperawatan.
2. Bukti seseorang melakukan kegiatan Pengembangan Keprofesian bagi
Perawat dinyatakan dalam bentuk Satuan Kredit Profesi (SKP) oleh
organisasi profesi
Kredit prasyarat yang diperlukan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan,
yaitu :

No.

Kegiatan Pengembangan Profesi

Proporsi

Kegiatan Praktik Profesional

20% (5 SKP)

Pendidikan Berkelanjutan

40 % (10 SKP)

Pengembangan Ilmu Pengetahuan

20% (5 SKP)

Pengabdian Masyarakat

20% (5 SKP)

F. Satuan Kredit Profesi


Berdasarkan Permenkes Nomor 1796 tahun 2011, untuk perpanjangan STR,
setiap perawat harus memiliki 25 SKP (100%). Rincian perhitungan adalah
sebagai berikut:

1. Kegiatan Praktik Profesional :


Kegiatan praktik professional perlu dicapai sebesar 40% setara dengan

SKP dalam 5 tahun. Satuan Kredit Profesi dalam kegiatan Praktik Profesional
ditentukan berdasarkan kegiatan sebagai berikut :
1) Pengalaman kerja mengelola pasien secara langsung selama 1 tahun = 1
SKP. Dibuktikan dengan: Surat Keterangan atasan yang berwenang bahwa
yang bersangkutan masih aktif sebagai perawat yang memberikan
pelayanan langsung ke pasien di fasilitas pelayanan kesehatan.
2) Pengalaman sebagai dosen pembimbing klinik : 1 tahun = 1 SKP
Dibuktikan dengan: surat keterangan sebagai pembimbing klinik dari
pimpinan institusi pelayanan tempat bimbingan klinik dilakukan.
Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat
(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

18
3) Pengalaman sebagai pengelola pelayanan keperawatan: 1 tahun = 1 SKP
Dibuktikan dengan: SK atasan yang berwenang bahwa yang bersangkutan
masih aktif sebagai pengelola pelayanan keperawatan di fasilitas
pelayanan kesehatan terkait.
4) Pengalaman sebagai praktisi mandiri keperawatan : 1 tahun = 1 SKP.
Dibuktikan dengan Surat Keterangan Kepala Puskesmas atau Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wilayah tempat perawat berpraktik.

2. Pendidikan Berkelanjutan
Pendidikan berkelanjutan perlu dicapai sebesar 40% setara dengan 10 SKP
dalam 5 tahun. Satuan Kredit Profesi dalam kegiatan pendidikan
berkelanjutan ditentukan berdasarkan kegiatan :
a. Seminar
Seminar adalah

sebuah pertemuan

atau persidangan khusus yang

memiliki teknis dan akademis untuk menyampaikan suatu pendapat atau


sesuatu suatu topik tertentu dengan pemecahan suatu permasalahan yang
memerlukan interaksi di antara para peserta seminar yang dibantu oleh
seorang guru besar ataupun cendikiawan.
Kegiatan seminar dapat diselenggarakan oleh lembaga/ institusi dan
himpunan. Kegiatan seminar yang dapat diberikan SKP, bila berlangsung
selama lebih kurang 7 jam.
Satuan Kredit Profesi dalam kegiatan seminar

dengan pembicara dan

penyelengara oleh sebagai berikut :

Item
100% Profesi Perawat
50% pembicara perawat dan
50% tenaga kesehatan lain
50-100% dilaksanakan profesi
lain ( profesi serumpun)

Lokal
2 SKP
1 SKP

Nasional
3 SKP
2 SKP

Internasional
4 SKP
3 SKP

1 SKP

2 SKP

2 SKP

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

19
b. Workshop, Loka karya/ Semi loka,
Suatu pertemuan ilmiah untuk membahas masalah tertentu oleh para pakar
dalam bidang tertentu. Hasil yang didapat dari lokakarya menjadi sebuah
produk yang dapat digunakan peserta lokakarya.

Jumlah Jam
5 - 10 jam
> 10 - 30 jam
> 30 - 60 jam
> 60 - 90 jam
> 90 - 120 jam
> 120 - 150 jam
> 150 - 210 jam
> 210 270
>270 330
> 330 390
> 390 450
> 450

SKP Peserta Kegiatan


Lokal / Nasional Internasional
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13

c. Pelatihan
Suatu cara yang digunakan untuk memberikan atau meningkatkan
keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaaan sekarang,
Sedangkan pendidikan

lebih

berorientasi

kepada

dan

pada

peningkatan

kemampuan

lebih menekankan

masa

depan

seseorang

untuk memahami dan menginterpretasikan pengetahuan.

Pelatihan yang diberikan sertifikat oleh DPP PPNI adalah pelatihan level
tiga (3) dan sertifikat di tanda tangani oleh ketua umum, Ikatan dan
Himpunan. Pelatihan level 1 dan 2 dapat diberikan oleh DPW, DPD dan
DPL serta sertifikat di tanda tangani oleh ketua PPNI dan Panitia.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

20
Pelatihan yang termasuk level 3 adalah sebagai berikut:
1) Emergency Nursing/BTCLS
2) Kamar Bedah Dasar
3) Hemodialisis
4) Critical Care
5) Manajemen

Bangsal

dan

Manajemen

Asuhan

Keperawatan

Profesional
6) Perawatan Luka & Stoma
7) Kardiologi Dasar
8) Orthopedi advance skill & Velo
9) Endoscopy saluran cerna
10) Bronkoskopi
11) Psychiatric Intensive Care Unit
12) Flight nursing
13) Pelatihan Intensif Care Pediatrik dan Neonatus (PICU dan NICU)
14) Maternity Care Advance
15) Disaster Nursing
16) Pelatihan ESWL untuk Perawat
17) Pelatihan Diagnostik Urologi untuk Perawat (Uroflowmetri, Biopsi
Prostat dan Urodinamik)
18) Pelatihan Uroendoskopi
19) Pelatihan Transplantasi Ginjal
20) Perawatan Mata Dasar
21) Pelatihan Infection Prevention Control Nurses (Dasar, Tingkat Lanjut,
dan Training of Trainer)
22) Pelatihan ICU Basic, Intermediate, dan Advance
23) Perawat Endoskopi (Basic 1 2, Intermediate, Advance, Expert)

d. Penyaji materi/narasumber (minimal 50 % narasumber / fasilitator adalah


perawat yang memiliki kepakaran di bidangnya.
e. Tingkat kegiatan dapat bersifat lokal/nasional/internasional.
1) Kegiatan dihargai pada tingkat Lokal apabila:
a) Peserta berasal dari 1 (satu) atau 2 (dua) propinsi
Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat
(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

21
b) Kegiatan membahas isu kesehatan dan atau keperawatan yang
terjadi di propinsi terkait, dan hubungannya dengan masalah
kesehatan nasional.
Untuk lingkup lokal, SKP dapat diberikan oleh PPNI Propinsi.
Pencantuman SKP pada sertifikat harus menyebutkan PPNI Propinsi
mana yang memberikan SKP.

2) Kegiatan dihargai pada tingkat Nasional, apabila:


a) Peserta berasal dari lebih dari (dua) propinsi.
b) Kegiatan membahas masalah kesehatan dan atau keperawatan di
beberapa propinsi atau masalah kesehatan nasional.
c) Pembicara diakui oleh PPNI, jika pembicara berasal minimal dari 2
Propinsi dan kompeten sesuai bidangnya serta kepakarannya diakui
secara nasional.
d) Kegiatan

merupakan

pelatihan

yang

menyangkut

standar

kompetensi yang bersifat nasional.


3) Kegiatan dihargai pada tingkat Internasional, apabila:
a) Seminar / temu ilmiah mengangkat masalah yang ada keterkaitan
dengan masalah / isue kesehatan atau keperawatan secara
internasional atau Pelatihan sesuai standar
b) Ada pembicara yang merupakan pakar dari negara lain, minimal 1
orang dari jumlah pembicara yang di undang,
c) Bahasa pengantar : disamping bahasa Indonesia, juga bahasa asing
lainnya.
d) Kegiatan diikuti oleh peserta dari dalam dan luar negeri.
Untuk lingkup internasional, SKP diberikan oleh PPNI Pusat

f. Ketentuan pemberian Satuan Kredit Profesi (SKP) berdasarkan jumlah jam


efektif yang digunakan selama kegiatan adalah sebagai berikut:
1). Kegiatan Pelatihan
Jumlah Jam
5- 10
jam
> 10 - 30 jam
> 30 - 60 jam

SKP Peserta Kegiatan


Lokal / Nasional Internasional
1
3
2
4
3
5

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

22
> 60 - 90 jam
> 90 - 120 jam
> 120 - 150 jam
> 150 - 210 jam
> 210 270
>270 330
> 330 390
> 390 450
> 450

4
5
6
7
8
9
10
11
12

6
7
8
9
10
11
12
13
14

Untuk Pelatihan Kompetensi dengan terstandar Nasional harus diberikan


oleh

Pengurus

Pusat,

diantaranya

Pelatihan-pelatihan

yang

di

kembangkan standarnya oleh Ikatan/Himpunan secara Nasional (Contoh :


Emergency Nursing, BTCLS, Keperawatan Kritis dan lain-lain). Pelatihan
BTCLS bagi mahasiswa dapat diberikan SKP dengan alasan menjadi
salah satu persyaratan masuk dunia kerja, sedangkan pelatihan lainnya
tidak dapat diberikan SKP sebeum mahasiswa lulus pendidikan tinggi
keperawatan.

g. Peran kepesertaan dapat berperan sebagai peserta/moderator/nara


sumber/fasilitator dan panitia. (Catatan: pilih salah satu).

Peran kepesertaan lain


1. Nara sumber
/Instruktur
2. Moderator
3. Panitia / fasilitator

Lokal
2 SKP

Nasional
3 SKP

Internasional
4 SKP

1 SKP
1 SKP

2 SKP
2 SKP

3 SKP
3 SKP

3. Pengembangan Ilmu Pengetahuan


Pengembangan Ilmu Pengetahuan dapat dicapai : 20 % ( 5 SKP )
Kegiatan
a) Meneliti (pengembangan
pelayanan atau penyelesaian

Peran

SKP

1) Peneliti utama

3 SKP / penelitian

2) Anggota

1 SKP / penelitian

- Penulis utama

5 SKP

- Penulis anggota

2 SKP

masalah di pelayanan)
b) Publikasi ilmiah:
- Jurnal Internasional

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

23

- Jurnal Nasional Terakreditasi

- Penulis utama

3 SKP

- Penulis anggota

1 SKP

Jurnal Nasional tidak

Penilus utama

2 SKP

terakreditas

Penulis anggota

1 SKP
-

c) Menulis Buku, menerjemahkan,


dan menyunting

Penulis, Penerjemah,
dan penyuntung:

d) Presentasi Oral

a. Nasional

3 SKP

b. Internasional

5 SKP

- Nasional

2 SKP

- Internasional

3 SKP

Catatan: perlu ditetapkan batas kepatutan

SKP Penelitian akan dinilai dan diberikan oleh PP PPNI bersama kolegium
terkait.
4. Pengabdian kepada masyarakat
Pengabdian kepada masyarakat dapat dicapai sampai dengan 20% (5 SKP)
selama 5 tahun
Bentuk -bentuk pengabdian masyarakat yang dapat diakui:
a. Berpartisipasi dalam pemberdayaan masyarakat melalui bentuk-bentuk
kegiatan sosial, penanggulangan bencana, dan anggota pokja kegiatan
keprofesian.

No

Kegiatan

Ketua

Anggota/Pelaksana

Kegiatan Sosial Masyarakat

Penanggulangan Bencana

Pokja Keprofesian

Dibuktikan dengan:
1) Surat Keputusan atau Surat tugas dari atasan/ pihak yang berwenang
2) Laporan kegiatan yang disahkan oleh penanggung jawab kegiatan

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

24
b. Berpartisipasi Sebagai Pengabdian Profesi per tahun
No

Kepengurusan

Jabatan
Pengurus

Pengurus

Anggota

Inti

Bidang

Pengurus

DPP PPNI

DPW. PPNI

DPD PPNI

DPK. PPNI

DPL. PPNI

Ikatan
Himpunan (PP)
Ikatan
Himpunan
(PW)

Pemberian SKP untuk pengabdian profesi dibuktikan dengan


memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Memiliki kartu anggota yang masih aktif dan telah melunasi iuran
anggota PPNI
2. Mengikuti satu kali Rapat Kerja, Musyawarah Nasional, Wilayah
dan atau Daerah yang diselenggarakan oleh PPNI.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

25
BAB IV
PENATALAKSANAAN

A. Penilaian kelayakan penyelenggaraan dan permohonan SKP


1. Penyelenggara mengajukan proposal kepada

PPNI Pusat untuk seminar,

workshop tingkat nasional dan internasional serta pelatihan, dan kepada


PPNI Propinsi untuk seminar dan work shop tingkat lokal / propinsi. Proposal
sudah harus masuk sekretariat PPNI paling lambat satu bulan sebelum
kegiatan dimulai,.
2. Proposal dikirim dengan melampirkan:
1) Kurikulum pelatihan, sesuai format yang telah ditetapkan (lampiran 6)
2) Daftar Riwayat Hidup pembicara dan atau fasilitator
3. PPNI bersama ikatan / himpunan akan

mengkaji proposal dan menilai

kelayakan penyelenggaraan. Untuk proposal yang masuk ke PPNI propinsi,


apabila Ikatan / Himpunan belum terbentuk di propinsi tsb, maka proposal
dikaji oleh tim penilai yang terdiri dari minimal 3 orang perawat yang memiliki
kepakaran dalam bidang terkait.
4. Dalam waktu paling lambat satu minggu setelah proposal diterima, PPNI
harus sudah memberikan jawaban atas permohonan tersebut.
5. Selambat-lambatnya 1 minggu sebelum kegiatan, penyelenggara harus
sudah mengirimkan daftar nama peserta, berikut no. keanggotaan PPNI
sebagai persyaratan untuk diprosesnya SKP
6. Bagi peserta yang on site (mendaftar di hari H), dalam waktu 3 hari,
penyelenggara harus sudah melaporkan ke PPNI, untuk dimasukkan ke
dalam on line system
7. Untuk SKP yang diberikan oleh propinsi, maka dalam waktu paling lambat 5
hari setelah kegiatan selesai, pengurus propinsi harus melaporkan kegiatan
dan daftar peserta ke PPNI Pusat.

Skema Mekanisme Permohonan SKP terlampir. (lampiran 5)

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

26
B. Pelaporan Perolehan SKP
3. Individu perawat membuat laporan evaluasi diri pelaksanaan kegiatan PKB
PERAWAT INDONESIA sesuai dengan yang diikutinya mencakup
1) Kegiatan praktik profesional
2) Pendidikan dan Pelatihan
3) Pengembangan Ilmu Pengetahuan.
4) Pengabdian masyarakat
4. Proses pelaporan selanjutnya lihat pada penjelasan tentang Registrasi.
5. Batasan nilai kredit minimal 5 SKP/ tahun
Format laporan lihat form A terlampir.

Kegiatan PKB Perawat Indonesia, dapat diselenggarakan oleh PPNI, IHatan /


himpunan Perawat yang sudah disahkan oleh PP PPNI, maupun lembaga lain di
luar PPNI yang telah mendapat pengesahan/ akreditasi dari Pengurus Pusat
PPNI.

Para perawat dapat memilih kegiatan yang sesuai dengan bidang

keahliannya.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

27
BAB V
MONITORING DAN EVALUASI

A. Monitoring
1. Pengertian
Monitoring adalah proses pengumpulan dan analisis informasi (
berdasarkan indikator yang ditetapkan) secara sistematis dan
kontinu tentang kegiatan program sehingga dapat dilakukan
tindakan koreksi untuk penyempurnaan program selanjutnya.

2. Tujuan
a. Mengkaji apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah
sesuai dengan rencana
b. Mengidentifikasi masalah yang dapat timbul agar langsung
dapat diatasi
c. Melakukan penilaian apakah pola kerja dan manajemen yang
digunakan sudah tepat untuk mencapai tujuan program kegiatan
d. Mengetahui kaitan antara kegiatan dengan tujuan untuk
memperoleh ukuran kemajuan
e. Menyesuaikan kegiatan dengan lingkungan yang berubah, tanpa
menyimpang dari tujuan

3. Manfaat monitoring
a. Salah satu fungsi manajemen yaitu pengendalian atau supervisi.
b. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas) kinerja
c. Untuk meyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan
d. Membantu penentuan langkah-langkah yang berkaitan dengan
kegiatan program

selanjutnya perlu diperbaiki dan menjaga

kinerja yang sudah baik.


e. Sebagai dasar untuk melakukan monitoring dan evaluasi
selanjutnya.
f. Membantu untuk mempersiapkan laporan dalam waktu yang
singkat
Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat
(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

28
4. Tipe dan Jenis Monitoring
a. Aspek

masukan

(input)

program

pendidikan

profesi

berkelanjutan antara lain mencakup : tenaga manusia, dana,


bahan, peralatan, jam kerja, data, kebijakan, manajemen dsb.
yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan program
pendidikan profesi berkelanjutan.
b.

Aspek proses / aktivitas yaitu

aspek dari proyek yang

mencerminkan suatu proses kegiatan, dalam hal ini adalah


semua tahapan proses yang terdapat dilangkah-langkah
metode pengembangan sistem yang dipergunakan.
c. Aspek keluaran (output), yaitu aspek proyek yang mencakup
hasil dari proses yang terutama berkaitan dengan kuantitas
(jumlah) dari setiap tahapan yang ada di metode pengembangan
sistem yang dipilih.

B. Evaluasi
1. Pengertian
Aktivitas

yang

konseptualisasi,

sistematis
desain,

dan

kontinyu

implementasi,

untuk
dan

menilai
manfaat

kebijakan/program

2. Tujuan
a. Untuk mendapatkan informasi dan menarik pelajaran dari
pengalaman

mengenai

pengelolaan

program

keluaran,

manfaat, dan dampak dari program pengembangan sistem


yang baru selesai dilaksanakan, maupun yang sudah berfungsi
b. Sebagai umpan balik bagi pengambilan keputusan dalam
rangka

perencanaan,

pelaksanaan,

pengendalian program selanjutnya

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

pemantauan

dan

29
3. Manfaat
Evaluasi awal kegiatan, yaitu penilaian terhadap kesiapan proyek
atau mendeteksi kelayakan proyek.

2. Evaluasi formatif, yaitu penilaian terhadap hasil-hasil yang telah


dicapai selama proses kegiatan proyek dilaksanakan. Waktu
pelaksanaan dilaksanakan secara rutin setiap selesai satu tahapan
dari metode pengembangan sistem yang digunakan.

3. Evaluasi sumatif, yaitu penilaian hasil-hasil yang telah dicapai


secara keseluruhan dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan.
Waktu pelaksanaan pada saat akhir proyek sesuai dengan jangka
waktu proyek dilaksanakan. Untuk proyek yang memiliki jangka
waktu enam bulan, maka evaluasi sumatif dilaksanakan menjelang
akhir bulan keenam. Untuk evaluasi yang menilai dampak proyek,
dapat dilaksanakan setelah proyek berakhir dan diperhitungkan
dampaknya sudah terlihat nyata.

C. Prinsip-prinsip Monitoring & Evaluasi


Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi suatu program kerjasama
harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Berorientasi pada hasil ( Result Based Monitoring ) dan evaluasi
dilakukan untuk mengukur hasil yang dicapai. Hasil monitoring dan
evaluasi

digunakan

sebagai

bahan

untuk

perbaikan

atau

peningkatan program kerjasama secara substansi dan administrasi


2. Mengacu pada kriteria keberhasilan Monitoring dan evaluasi
seharusnya dilaksanakan mengacu pada kriteria keberhasilan yang
telah ditetapkan. Sebelumnya penentuan kriteria keberhasilan
dilakukan bersama antara anggota tim pelaksana monitoring dan
evaluasi. Kerjasama Kementerian/ Lembaga terkait dan Organisasi
Internasional.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

30
3. Mengacu pada asas manfaat, Monitoring dan evaluasi sudah
seharusnya dilaksanakan dengan manfaat yang jelas. Manfaat
tersebut adalah berupa saran, masukan atau rekomendasi untuk
perbaikan program kerjasama di masa mendatang
4. Dilakukan

secara

obyektif.

Monitoring

dan

evaluasi

harus

dilaksanakan secara obyektif untuk melaporkan hasil temuannya


sesuai dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan

D. Mekanisme Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan pengembangan profesional berkelanjutan di monitoring dan di
evaluasi oleh DPW PPNI, DPD PPNI, DPL dan Ikatan serta himpunan,
selanjutnya dilaporkan kepada DPP PPNI.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

31

BAB VI
PENUTUP

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Perawat diperlukan oleh


perawat guna merencanakan pengembangan dirinya sebagai upaya untuk
meningkatkan

mutu

keprofesiannya,

serta

oleh

sarana

kesehatan

untuk

meningkatkan kompetensi perawat, motivasi dan karir profesional perawat yang


pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara keseluruhan.

Pedoman pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi perawat juga diharapkan


dapat digunakan sebagai acuan dalam menetapkan kebijakan di sarana kesehatan
bagi tenaga perawat., sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
dan mutu pelayanan kesehatan. Untuk itu perlu adanya komitmen pemerintah,
pimpinan sarana kesehatan, organisasi profesi serta para perawat guna terlaksana
dan kesinambungan dari pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi perawat ini.

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

32
Referensi
1. Undang-Undang No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
2. AD dan ART DPP PPNI tahun 2015
3. PPNI, 2012 Pengembangan Profesi Berkelanjutan (PKB )

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)

33

Daftar Lampiran
Lampiran 1 : Form A, Laporan evaluasi diri
Lampiran 2 : Form B, Permohonan rekomendasi
Lampiran 3 : Form C, Format rekomendasi
Lampiran 4 : Mekanisme rekomendasi SKP Re-registrasi STR
Lampiran 5 : Mekanisme alur permohonan SKP
Lampiran 6 : Format Kurikulum pelatihan berbasis kompetensi
Lampiran 7 : Pembiayaan Pengajuan SKP dan Instituasional Fee

Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Perawat


(PKBPerawat Indonesia-PPNI_Pusat-2015)