Anda di halaman 1dari 4

Nama : Heny Theresia

NIM

: 4111301022 (AM 7A)

Perekayasaan pelaporan keuangan


Contoh kasus :
Kasus 1 (Enron melakukan rekayasa laporan keuangannya menjadi keadaan laba)

Banyak pelanggaran yang dilakukan oleh para akuntan seperti skandal Enron, Worldcom
dan Perusahaan Perusahaan Besar di AS. Wordcom terlibat rekayasa laporan keuangan
milyaran dollar AS. Dalam pembukuannya Worldcom mengumumkan laba sebesar USD
3.9 milyar antara Januari 2001 sampai Maret 2002. Hal ini merupakan rekayasa
akuntansi. Kasus penipuan ini telah menenggelamkan kepercayaan investor terhadap
Korporasi AS dan menyebabkan harga saham dunia menurun serentak di akhir Juni 2002.
Dalam kasus ini, Scott Aullifan (CFO) dituduh telah melakukan tindakan kriminal di
bidang keuangan dengan kemungkinan hukuman 10 tahun penjara. Pada saat itu, para
investor memilih untuk menghentikan atau mengurangi aktivitasnya di bursa saham.
Yang sebenarnya Sebagai entitas bisnis, nilai kerugian Enron diperkirakan mencapai US$
50 miliar. Akibatnya, pelaku pasar modal kehilangan US$ 32 miliar dan ribuan pegawai
Enron harus menangisi amblasnya simpanan dana pensiun mereka tak kurang dari US$ 1
miliar karena manajemen Enron menanamkan dana tabungan karyawan itu untuk
membeli sahamnya sendiri.

Kasus 2 (Great River melakukan konspirasi dengan akuntan publik agar laporan keuangannya
dimark up.)

Bapepam menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan


keuangan Great River. Tak tertutup kemungkinan, Akuntan Publik yang menyajikan
laporan keuangan Great River itu ikut menjadi tersangka. Menteri Keuangan (Menkeu)
RI terhitung sejak tanggal 28 Nopember 2006 telah membekukan izin Akuntan Publik
(AP) Justinus Aditya Sidharta selama dua tahun. Sanksi tersebut diberikan karena

Justinus terbukti melakukan pelanggaran terhadap Standar Profesi Akuntan Publik


(SPAP) berkaitan dengan Laporan Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi PT Great
River International Tbk (Great River) tahun 2003.
Selama izinnya dibekukan, Justinus dilarang memberikan jasa atestasi
(pernyataan pendapat atau pertimbangan akuntan publik) termasuk audit umum, review,
audit kerja dan audit khusus. Dia juga dilarang menjadi Pemimpin Rekan atau Pemimpin
Cabang Kantor Akuntan Publik (KAP). Namun yang bersangkutan tetap bertanggung
jawab atas jasa-jasa yang telah diberikan serta wajib memenuhi ketentuan untuk
mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL). Pembekuan izin oleh Menkeu ini
merupakan tindak lanjut atas Surat Keputusan Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik
(BPPAP) Nomor 002/VI/SK-BPPAP/VI/2006 tanggal 15 Juni 2006 yang membekukan
Justinus dari keanggotaan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAIKAP). Hal ini sesuai dengan Keputusan Menkeu Nomor 423/KMK.06/2006 tentang Jasa
Akuntan Publik sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menkeu Nomor
359/KMK.06/2003 yang menyatakan bahwa AP dikenakan sanksi pembekuan izin
apabila AP yang bersangkutan mendapat sanksi pembekuan keanggotaan dari IAI dan
atau IAI-KAP.
Menurut Fuad Rahmany, Ketua Bapepam-LK, pihaknya sedang melakukan
penyidikan terhadap AP yang memeriksa laporan keuangan Great River. Kalau ditemukan
unsur pidana dalam penyidikan itu, maka AP tersebut bisa dijadikan sebagai tersangka.
Kita sedang proses penyidikan terhadap AP yang bersangkutan. Kalau memang nanti
ditemukan ada unsur pidana, maka dia akan kita laporkan juga Kejaksaan, ujar Fuad
Seperti diketahui, sejak Agustus lalu, Bapepam menyidik akuntan publik yang
mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003. Fuad menyatakan telah
menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River.
Sayangnya, dia tidak bersedia menjelaskan secara detail praktek konspirasi dalam
penyajian laporan keuangan emiten berkode saham GRIV itu
Fuad juga menjelaskan tugas akuntan adalah hanya memberikan opini atas
laporan perusahaan. Akuntan, menurutnya, tidak boleh melakukan segala macam
rekayasa dalam tugasnya. Dia bisa dikenakan sanksi berat untuk rekayasa itu, katanya
untuk menghindari sanksi pajak.Menanggapi tudingan itu, Kantor akuntan publik Johan
Malonda & Rekan membantah telah melakukan konspirasi dalam mengaudit laporan

keuangan tahunan Great River. Deputy Managing Director Johan Malonda, Justinus A.
Sidharta, menyatakan, selama mengaudit buku Great River, pihaknya tidak menemukan
adanya penggelembungan account penjualan atau penyimpangan dana obligasi. Namun
dia mengakui metode pencatatan akuntansi yang diterapkan Great River berbeda dengan
ketentuan yang ada. Kami mengaudit berdasarkan data yang diberikan klien, kata
Justinus.
Menurut Justinus, Great River banyak menerima order pembuatan pakaian dari
luar negeri dengan bahan baku dari pihak pemesan. Jadi Great River hanya mengeluarkan
ongkos operasi pembuatan pakaian. Tapi saat pesanan dikirimkan ke luar negeri, nilai
ekspornya dicantumkan dengan menjumlahkan harga bahan baku, aksesori, ongkos kerja,
dan laba perusahaan.
Justinus menyatakan model pencatatan seperti itu bertujuan menghindari dugaan
dumping dan sanksi perpajakan. Sebab, katanya, saldo laba bersih tak berbeda dengan
yang diterima perusahaan. Dia menduga hal itulah yang menjadi pemicu dugaan adanya
penggelembungan nilai penjualan. Sehingga diinterpretasikan sebagai menyembunyikan
informasi secara sengaja.
Johan Malonda & Rekan mulai menjadi auditor Great River sejak 2001. Saat itu
perusahaan masih kesulitan membayar utang US$ 150 Juta kepada Deutsche Bank. Pada
2002, Great River mendapat potongan pokok utang 85 persen dan sisa utang dibayar
menggunakan pinjaman dari Bank Danamon. Setahun kemudian Great River menerbitkan
obligasi Rp 300 miliar untuk membayar pinjaman tersebut. Kami hanya tahu kondisi
perusahaan pada rentang 2001-2003, kata Justinus.
Sebelumnya Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BapepamLK) telah melimpahkan kasus penyajian laporan keuangan Great River ke Kejaksaan
Agung pada tanggal 20 Desember 2006. Dalam laporan tersebut, empat anggota direksi
perusahaan tekstil itu ditetapkan menjadi tersangka, termasuk pemiliknya, Sunjoto
Tanudjaja.
Hasil pemeriksaan : Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam terdapat indikasi
penipuan dalam penyajian laporan keuangan. Pasalnya, Bapepam menemukan kelebihan
pencatatan atau overstatement penyajian account penjualan dan piutang dalam laporan
tersebut. Kelebihan itu berupa penambahan aktiva tetap dan penggunaan dana hasil emisi
obligasi yang tanpa pembuktian. Akibatnya, Great River kesulitan arus kas. Perusahaan

tidak mampu membayar utang Rp 250 miliar kepada Bank Mandiri dan gagal membayar
obligasi senilai Rp 400 miliar.
Kasus 3 (melakukan konspirasi dengan auditor agar melapor rugi dan menghindari pajak)

750 Penanam Modal Asing (PMA) terindikasi tidak membayar pajak, dengan cara
melaporkan rugi selama lima tahun terakhir secara berturut-turut. Dalam kasus ini
terungkap bahwa pihak manajemen PMA melakukan konspirasi dengan auditor dari
akuntan publik dalam melakukan manipulasi laba yang menguntungkan dirinya dan
korporasi, sehingga merugikan banyak pihak dan pemerintah. Kemungkinan telah terjadi
mekanisme penyuapan (Bribery) dalam kasus tersebut.

Note:
Perekayasaan pelaporan keuangan merupakan suatu proses pemikiran logis dan objektif untuk
membangun suatu stuktur dan mekanisme pelaporan keuangan dalam suatu negara untuk
mencapai tujuan Negara.
Bagaimana cara meminimalisir rekayasa laporan keuangan oleh pihak manajemen perusahaan
yang tidak bertanggung jawab?

Integritas merupakan hal yang terpenting didalam manajemen perusahaan, termasuk


integritas para akuntan yang menyusun laporan keuangan untuk mengikuti standard an
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku. Apabila integritas dapat dipelihara maka
persoalan keandalan laporan kuangan seolah memperoleh jalan keluar, sehingga laporan
keuangan yang disajikan manajemen dapat menjadi salah satu media
pertanggungjawaban yang efektid dan tidak menjadikan para pembacanya tersesat dalam
pengambilan keputusan.

Anda mungkin juga menyukai