Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH STUDI ISLAM II

SALAH SATU SEJARAH AMAL USAHA


MUHAMMADIYAH
(Pondok Pesantren Al-Manaar Muhammadiyah Pemalang)

Disusun Oleh :
Nama : Indah Safitri
NIM : 1308010082
Kelas : IV B

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2015

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Stusi Islam II dengan pokok bahasan Sejarah Pondok Pesantren AlManaar Muhammadiyah Pemalang.
Makalah ini saya buat dengan sederhana dan ringkas agar dapat dipahami
oleh semua pembaca, semoga makalah ini dapat memberikan ilmu yang
bermanfaat untuk saya dan semua pembaca.
Dan pada kesempatan ini, saya menyampaikan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang telah membantu. Khususnya kepada Bapak
Pengampu Dosen Studi Islam II, berkatnya saya bisa menyusun makalah yang
sedemikian ini, dan olehnya saya juga mengetahui proses hakikat manusia
sebagai ciptaan, sehingga manusia harus tunduk kepada sang Pencipta yaitu Allah
SWT dengan cara mengakhlaqinya. Semoga amal baik semua pihak yang telah
membantu mendapatkan balasan yang sepadan dari Allah SWT. Amin.

Purwokerto, 26 Juni 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar dan terpenting yang ada di
Indonesia adalah Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan
pada
tanggal
8
Dzulhijjah
1330
H
bertepatan
dengan tanggal 18 November 1912M di Yogyakarta. Muhammadiyah
didirikan dengan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam
sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Jauh sebelum Muhammadiyah resmi berdiri pada tahun 1912, KH. Ahmad
Dahlan telah merintis pendidikan modern yang memadukan antara
pendidikan Barat yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu umum dan
pendidikan Islam yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama.Gagasan
pembaharuan Muhammadiyah di dalamnya sudah termasuk gagasan
pembaharuan di bidang pendidikan. KH. Dahlan melihat adanya problematika
obyektif yang dihadapi oleh pribumi yaitu terjadinya keterbelakangan
pendidikan yang takut karena adanya dualisme model pendidikan yang
masing-masing memiliki akar dan kepribadian yang saling bertolak belakang.
Di satu pihak pendidikan Islam yang berpusat di pesantren mengalami
kemunduran karena terisolasi dari perkembangan pengetahuan dan
perkembangan masyarakat modern, di pihak lain sekolah model Barat bersifat
sekuler dan nasional mengancam kehidupan batin para pemuda pribumi
karena dijauhkan dari agama dan budaya negerinya.
Sejarah perkembangan kehidupan manusia, pendidikan telah menjadi
semacam teknologi yang memproduksi manusia masa depan paling efektif.
Dari fenomena perkembangan yang terakhir, memberikan petunjuk bahwa
pendidikan bukan saja menjadi alat suatu lembaga atau suatu masa dalam
berbagai proyeksi berbagai macam tujuan mereka, pendidikan bahkan telah
menjadi kebutuhan manusia sendiri secara massal, karenanya pendidikan yang
diterima oleh manusia hendaknya pendidikan yang seimbang antara
pendidikan lahir dan batin, antara pendidikan dunia dan akhirat, sehingga
manusia dalam memperoleh pendidikan tersebut memiliki keseimbangan
dalam mengelola kehidupannya untuk dapat mencapai tujuan yang ideal yakni
fi al-dunya hasanatan wa fi al-akhirati hasanatan. Tujuan ideal inilah yang
digagas oleh KH. Ahmad Dahlan dalam hal perjuangan di bidang pendidikan
yang menjadi warna pendidikan Muhammadiyah.

Gagasan pembaharuan di bidang pendidikan yang menghilangkan dikotomi


pendidikan umum dan pendidikan agama pada hakikatnya merupakan
terobosan besar dan sangat fundamental karena dengan itu Muhammadiyah
ingin menyajikan pendidikan yang utuh, pendidikan yang seimbang yakni
pendidikan yang dapat melahirkan manusia utuh dan seimbang
kepribadiannya, tidak terbelah menjadi manusia yang berilmu umum saja atau
berilmu agama saja.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah muhammadiyah itu?
2. Bagaimana Perkembangan Pendidikan Muhammadiyah?
3. Bagaimana Sejarah Pondok Pesantren Al-Manaar Muhammadiyah
Pemalang?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui Apakah Muhammadiyah itu.
2. Mengetahui Bagaimana Perkembangan Pendidikan Muhammadiyah.
3. Mengetahui Bagaimana Sejarah Pondok Pesantren Al-Manaar
Muhammadiyah Pemalang.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Muhammadiyah


Kauman, sebuah daerah di kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan,
Kota Yogyakarta, sekitar 500 meter ke arah selatan dari ujung kawasan
Malioboro. Di tempat inilah Muhammadiyah lahir pada 8 Dzulhijjah 1330,
bertepatan dengan tanggal 18 November 1912. Maksud dan tujuannya ialah untuk
menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam, sehingga dapat mewujudkan
masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Faktor-faktor lain yang mendorong K.H
Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah antara lain:
1.

Ajaran Islam dilaksanakan tidak secara murni bersumberkan Al Quran dan

Hadist, tetapi tercampur dengan perbuatan syirik dan khurafat.


2.

Lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak lagi dapat memenuhi tuntunan

zaman, akibat dari terlampau mengisolir diri dari pengaruh luar.


3.

Keadaan umat yang sangat menyedihkan dalam bidang sosial, ekonomi,

politik, kultural, akibat adanya penjajahan.


Semangat

yang

ditunjukkan

Muhammadiyah

yang

lahir

untuk

mementingkan pendidikan dan pengajaran yang berdasarkan Islam, baik


pendidikan di sekolah/madrasah ataupun pendidikan dalam masyarakat. Maka
tidak

heran

sejak

berdirinya

Muhammadiyah

membangun

sekolah-

sekolah/madrasah-madrasah dan mengadakan tabligh-tabligh, bahkan juga


menerbitkan buku-buku dan majalah-majalah yang berdasarkan islam. Di antara
sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tertua dan jasanya ialah:
1.

Kweekschool Muhammadiyah Yogya.

2.

Muallimin Muhammadiyah, Solo, Jakarta.

3.

Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta.

4.

Zuama/Zaimat Yogyakarta.

5.

Kuliyah Mubaligin/mubalighat, Padang Panjang.

6.

Tablighschool Yogyakarta.

7.

H.I.K Muhammadiyah Yogya.


Dan

masih

banyak

lagi

sekolah/madrasah

yang

didirikan

oleh

Muhammadiyah ini, semua sekolah/madrasah ini didirikan pada masa penjajahan


Belanda dan pendudukan Jepang, yang tersebar pada tiap-tiap Cabang
Muhammadiyah seluruh kepulauan Indonesia.
Pada

masa

Indonesia

merdeka

Muhammadiyah

mendirikan

sekolah/madrasah berlipat-lipat ganda banyaknya dari masa penjajahan Belanda


dahulu. Jika di jumlahkan ada 682 buah Madrasah dan 877 buah Sekolah Umum
dan totalnya 1559 buah madrasah dan sekolah umum
Mula-mula K.H Ahmad Dahlan memberi pelajaran agama islam di
Kweekschool Jetis, sekolah guru pada zaman penjajahan Belanda meskipun
pelajaran itu hanya diberikan diluar pelajaran-pelajaran yang formal. Sistem yang
beliau gunakan sudah sangat pedagogis. Di samping memberikan pelajaran islam
di Kweekschool. K.H Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah yang sebagian
mengikuti teknik sekolah-sekolah kursi, meja, kapur dan lain-lain tetapi diberi
juga pelajaran agama. Di samping itu didirikan juga madrasah-madrasah yang
merupakan modernisasi dari pesantren-pesantren yang telah ada kitab-kitab,
metode mengajarnya, latihan dan ujian diambil dari sekolah model barat. Dengan
demikian Muhammadiyah berhasil mendekatkan dua golongan rakyat, yakni

kaum intelek Indonesia yang memperoleh didikan model Barat dengan rakyat
dengan rakyat selebihnya yang melulu mendapatkan pelajaran agama, dua
golongan yang sudah mulai terpisah dan tercerai.
Muhammadiyah telah mengadakan pembaharuan pendidikan agama dengan jalan
modernisasi dalam sistem pendidikan, menukar sistem pondok pesantren dengan
sistem pendidikan yang modern yang sesuai dengan tuntutan dan kehendak
zaman. Mengajarkan agama dengan cara yang mudah di faham, didaktis, dan
pedagogis, selalu menjadi pemikiran dalam Muhammadiyah.
Selain jasa di bidang pendidikan, ada pula usaha dan jasa-jasanya yang besar
lainnya yaitu : mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat menurut
mestinya.

Umumnya

masjid-masjid

dan

langgar-langgar

di

Yogyakarta

menghadap ke jurusan timur dan orang-orang sembahyang di dalamnya


menghadap ke arah barat lurus. Padahal kiblat yang sebenarnya menuju Kabah
dari tanah Jawa haruslah miring ke arah utara 24 derajat dari sebelah barat.
Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang ilmu falak itu orang tidak boleh
menghadap kiblat menuju barat lurus, melainkan harus miring ke utara 24
derajat. Oleh sebab itu K.H Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya
sendiri, supaya menuju arah kiblat yang betul. K.H Ahmad Dahlan juga
mengajarkan agama islam secara populer, bukan saja di pesantren, melainkan ia
pergi ke tempat-tempat lain seperti mendatangi berbagai golongan bahkan dapat
dikatakan bahwa K.H Ahmad Dahlan adalah bapak mubaliq islam di Jawa
Tengah. K.H Ahmad Dahlan memberantas bitah-bitah dan khurafat serta adat
istiadat yang bertentangan dengan ajaran agama islam

2.2 Perkembangan Pendidikan Muhammadiyah


Cita-cita pendidikan yang digagas Kyai Dahlan adalah lahirnya
manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai ulama-intelek atau
intelek-ulama, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan
ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam rangka mengintegrasikan
kedua sistem pendidikan tersebut, Kyai Dahlan melakukan dua tindakan
sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang
sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan
pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang
sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan
yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain.
Namun, ide Kyai Dahlan tentang model pendidikan integralistik yang mampu
melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem
pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi
terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa
berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi
perkembangan.
Dalam rangka menjamin kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka
atas saran murid-muridnya Kyai Dahlan akhirnya mendirikan persyarikatan
Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran yang dikembangkan Kyai
Dahlan bercorak kontekstual melalui proses penyadaran. Contoh klasik
adalah ketika Kyai menjelaskan surat al-Maun kepada santri-santrinya secara
berulang-ulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan
supaya kita memperhatikan dan menolong fakir miskin, dan harus
mengamalkan isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru
diganti surat berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh
pendidik Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan
ala al-Maun sebagaimana dipraktekkan Kyai Dahlan.
Anehnya, yang diwarisi oleh warga Muhammadiyah adalah teknik
pendidikannya, bukan cita-cita pendidikan, sehingga tidak aneh apabila ada
yang tidak mau menerima inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan dianggap
sebagai bidah. Sebenarnya, yang harus kita tangkap dari Kyai Dahlan adalah
semangat untuk melakukan perombakan atau etos pembaruan, bukan bentuk
atau hasil ijtihadnya. Menangkap api tajdid, bukan arangnya. Dalam konteks
pencarian pendidikan integralistik yang mampu memproduksi ulama-intelek-

profesional, gagasan Abdul Mukti Ali menarik disimak. Menurutnya, sistem


pendidikan dan pengajaran agama Islam di Indonesia ini yang paling baik
adalah sistem pendidikan yang mengikuti sistem pondok pesantren karena di
dalamnya diresapi dengan suasana keagamaan, sedangkan sistem pengajaran
mengikuti sistem madrasah/sekolah, jelasnya madrasah/sekolah dalam
pondok pesantren adalah bentuk sistem pengajaran dan pendidikan agama
Islam yang terbaik. Dalam semangat yang sama, belakangan ini sekolahsekolah Islam tengah berpacu menuju peningkatan mutu pendidikan. Salah
satu model pendidikan terbaru adalah full day school, sekolah sampai sore
hari, tidak terkecuali di lingkungan Muhammadiyah.
Satu dekade terakhir ini virus sekolah unggul benar-benar menjangkiti
seluruh warga Muhammadiyah. Lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai
Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) berpacu dan
berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pendidikan untuk menuju pada
kualifikasi sekolah unggul. Sekarang ini hampir di semua daerah kabupaten
atau kota terdapat sekolah unggul Muhammadiyah, terutama untuk tingkat
TK dan Sekolah Dasar. Sekolah yang dianggap unggul oleh masyarakat
sehingga mereka menyekolahkan anak-anak di situ pada umumnya ada dua
tipe; sekolah model konvensional tetapi memiliki mutu akademik yang tinggi,
atau sekolah model baru dengan menawarkan metode pembelajaran mutakhir
yang lebih interaktif sehingga memiliki daya panggil luas.
Apabila
Muhammadiyah
benar-benar
mau
membangun
sekolah/universitas unggul maka harus ada keberanian untuk merumuskan
bagaimana landasan filosofis pendidikannya sehingga dapat meletakkan
secara tegas bagaimana posisi lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah
dihadapan pendidikan nasional, dan kedudukannya yang strategis sebagai
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fungsinya sebagai
wahana dakwah Islamiyah. Ketiadaan orientasi filosofis ini jelas sangat
membingungkan; apa harus mengikuti arus pendidikan nasional yang sejauh
ini kebijakannya belum menuju pada garis yang jelas karena setiap ganti
menteri musti ganti kebijakan. Kalau memang memilih pada pengembangan
iptek maka harus ada keberanian memilih arah yang berbeda dengan
kebijakan pemerintah. Model pondok gontor bisa dijadikan alternatif, dengan
bahasa dan kebebasan berpikir terbukti mampu mengantarkan peserta didik
menjadi manusia-manusia yang unggul. . Filsafat pendidikan
memanifestasikan pandangan ke depan tentang generasi yang akan

dimunculkan. Filsafat yang dianut dan diyakini oleh Muhammadiyah adalah


berdasarkan agama Islam, maka sebagai konsekuensinya logik,
Muhammadiyah berusaha dan selanjutnya melandaskan filsafat pendidikan
Muhammadiyah atas prinsip-prinsip filsafat yang diyakini dan dianutnya
Jika menengok sekolah atau universitas Muhammadiyah saat ini, dari
sisi kurikulumnya itu sama persis dengan sekolah atau universitas negeri
ditambah materi al-Islam dan kemuhammadiyahan. Kalau melihat materi
yang begitu banyak, maka penambahan itu malah semakin membebani anak,
karenanya amat jarang lembaga pendidikan melahirkan bibit-bibit unggul.
Apakah tidak sudah waktunya untuk merumuskan kembali Al-Islam dan
kemuhammadiyahan yang terintegrasikan dengan materi-materi umum, atau
paling tidak disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik; misalnya, evaluasi
materi ibadah dan Al-Quran, serta bahasa dengan praktek langsung tidak
dengan sistem ujian tulis seperti sekarang ini.
Perhatian dan komitmen Muhammadiyah dalam bidang pendidikan
tidak pernah surut, hal ini nampak dari keputusan-keputusan persyarikatan
yang dengan konsisten dalam setiap muktamar (sebagai forum tertinggi
persyarikatan Muhammadiyah) senantiasa ada agenda pembahasan dan
penetapan program lima tahunan bidang pendidikan, sejak pendidikan dasar
sampai pendidikan tinggi. Dalam lima belas tahun terakhir (tiga kali
muktamar) dapat dilihat bahwa Muhammadiyah senantiasa memiliki agenda
yang jelas berkenaan dengan program pendidikan, keputusan-keputusan
dalam muktamar sebagaimana dapat kita lihat sebagai berikut:
Rincian program bidang pendidikan keputusan Muktamar 43 Banda
Aceh:
1. Peningkatan kualitas Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah
dilakukan dengan empat tema pokok, yaitu pengembangan kualitas,
pengembangan keunggulan, pengembangan kekhasan program, dan
pengembangan kelembagaan yang mandiri. Empat tema pokok ini
diimplementasikan dalam proses belajar mengajar agar secara terpadu
merupakan aktivitas alih pengetahuan, alih metode dan alih nilai.
2. Menata kembali kurikulum Pendidikan dasar dan Menengah
Muhammadiyah pada semua jenjang dan jenis sekolah Muhammadiyah yang
meliputi pendidikan al-Islam Kemuhammadiyahan dan sebagai kekhasan

sekolah Muhammadiyah, spesifikasi setiap wilayah sesuai kebutuhan dan


kondisi setempat, pendidikan budaya dan seni yang bernafas Islam.
3. Menyusun peta Nasional Pendidikan Muhammadiyah yang memuat
spesifikasi tiap wilayah/daerah, agar didapatkan relevansi pendidikan dengan
kebutuhan masyarakat setempat.
4. Merespon secara positif pengembangan sekolah unggulan dengan tetap
mengembangkan kekhasan pendidikan Muhammadiyah, terutama dalam
pengembangan kurikulum dan proses belajar mengajar, sehingga misi
pendidikan Muhammadiyah tetap terlaksana.
5. Dalam pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM),
penyelenggaraan pendidikan diorientasikan kepada peningkatan kompetensi
lulusan yang elastis dan antisipatif terhadap tuntutan dan kebutuhan masa
depan, yang meliputi kompetensi akademik, kompetensi profesional,
kompetensi menghadapi perubahan, kompetensi kecendekiaan dan
kompetensi iman dan takwa.
6. Mengarahkan program PTM untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan kebutuhan masa
depan.
7. Kaidah pendidikan dasar dan menengah serta kaidah PTM perlu
disempurnakan, sesuai dengan perkembangan tuntutan masyarakat.
8. Koordinasi dan pengawasan pelaksanaan kaidah pendidikan dasar dan
menengah serta perguruan tinggi perlu ditingkatkan.
9. Meningkatkan dan memantapkan kerja sama antara Majelis Dikdasmen
dan Majelis Dikti.
10.Mengupayakan beasiswa Muhammadiyah bagi para siswa dan atau
mahasiswa yang berprestasi.
11.Melalui amal usaha pendidikan meningkatkan kualitas kader-kader ulama
yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.
12.Mengembangkan berbagai lembaga pendidikan khusus seperti pesantren
dan madrasah diniyah, taman pendidikan Al-Quran, serta taman kanak-kanak
Al-Quran. Penanganan pondok pesantren dan madrasah menjadi tanggung

jawab dan wewenang dari Majelis Dikdasmen.Rencana Strategis Pendidikan


Muhammadiyah Membangun kekuatan Muhammadiyah dalam bidang
pendidikan dan pengembangan sumber daya insani, ilmu pengetahuan dan
teknologi (iptek), dan eksplorasi aspek-aspek kehidupan yang bercirikan
Islam, sehingga mampu menjadi alternatif kemajuan dan keunggulan di
tingkat nasional atau regional.
Keputusan setiap Muktamar berkenaan dengan program pendidikan
bukan hanya sekedar daftar keinginan, akan tetapi program-program tersebut
merupakan bentuk komitmen persyarikatan Muhammadiyah dalam dunia
pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, keputusankeputusan muktamar berkenaan dengan bidang pendidikan tersebut
menggambarkan betapa Muhammadiyah menjadikan lembaga pendidikan
sebagai pilar yang strategis dalam mendukung tujuan Muhammadiyah.
Program-program tersebut juga mencerminkan dinamika pendidikan yang
dikelola oleh persyarikatan Muhammadiyah.
2.3 Sejarah Pondok Pesantren Al-Manaar Muhammadiyah Pemalang
Pondok Pesantren Modern Al Manaar Muhammadiyah Pemalang,
merupakan satu-satunya podok pesantren Muhammadiyah yang ada di kota
Pemalang. Pada awal berdirinya, Pondok Pesantren Al Manaar Kebondalem
Pemalang ini, hanya menerima santri Putri saja, belum ada santri putra seperti
sekarang. Pada waktu itu masih berdiri pondok pesantren Al Manaar Putra
yang berlokasi di daerah Ulujami. Setelah PonPes Al Manaar Putra tersebut
tutup, barulah pada tahun 2008 Pondok Modern Al Manaar Muhammadiyah
Pemalang membuka dan menerima santri putra untuk angkatan yang pertama.
Jadi, keberadaan santri putra yang ada sekarang bukanlah merge atau afiliasi
dari pondok Al Manaar Putra yang sebelumnya. Akan tetapi berdiri sendiri,
dengan konsep dan wajah baru.
Ponpes Modern Al Manaar dalam perjalanan hidupnya mengalami pasangsurut pengalaman. Dari pengalaman manis, teramat manis, juga pengalaman
pahit yang begitu pahit. Dari pengalaman-pengalaman inilah Al Manaar
menapaki jalan kehidupan yang sekarang.
Dengan semangat juang, untuk membentuk kader Muhammadiyah yang
berakhlakul karimah, ber akal ilmiah, berjiwa satria, Ponpes Al Manaar
bangkit dengan kurikulum baru yang lebih terarah untuk meraih cita,
menggapai dunia menuju akhirat yang bahagia.

Inilah Ponpes Al Manaar, suatu menara suar untuk keberlangsungan


Muhammadiyah di kota Pemalang khususnya, juga Muhammadiyah di
manapun berada pada umumnya. Kami mendidik santri dengan konsep
keterpaduan antara ilmu dunia dengan ilmu agama. Pendidikan kami
meliputi:
1. Sekolah Menengah Pertama- Muhammadiyah 01 Program Khusus.
(SMPMpk)
2.

Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 01 Pemalang

3.

Sekolah Menengah Kejuruan Al Maanar


Pondok pesantren (ponpes) modern Al Manaar Muhammadiyah terus
berbenah untuk mewujudkan visi dan misinya. Keberadaan ponpes yang
didirikan Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Pemalang, itu
sebelumnya sejajar dengan sekolah di kompleks perguruan Muhammadiyah.
Kini, ponpes tersebut yang mengelola sekolah-sekolah di perguruan itu.
Direktur ponpes, Sapto Suhendro SAg mengatakan, sekolah yang berada
di kompleks perguruan Muhammadiyah antara lain SMP Muhammadiyah 1,
SMA Muhammadiyah 1, SMK Al Manaar Muhammadiyah dan Ponpes
Modern Al Manaar Muhammadiyah. Dulu ponpes dipimpin pengasuh
pondok, sekarang dipimpin seorang direktur yang membawahi sekolahsekolah di kompleks perguruan Muhammadiyah, jelas Sapto.
Dengan demikian, ponpes berwenang menetapkan kebijakan untuk
dilaksanakan sekolah-sekolah di perguruan itu. Dasar dalam menjadikan
ponpes sebagai pondok terintegrasi adalah hasil musyawarah daerah (musda)
PDM pada 2011. Dalam Musda, lanjut Sapto, ditetapkan program khusus
bidang pendidikan yakni mengintegrasikan sekolah-sekolah Muhammadiyah
di Jalan Markisa, Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Pemalang. Sekolah
tersebut berada dalam satu manajemen Ponpes Modern Al Manaar yang
dipimpin direktur dan bertanggung jawab kepada majelis pendidikan dasar
dan menengah PDM.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
- Muhammadiyah lahir pada 8 Dzulhijjah 1330, bertepatan dengan tanggal
18 November 1912.
- Cita-cita pendidikan yang digagas Kyai Dahlan adalah lahirnya manusiamanusia baru yang mampu tampil sebagai ulama-intelek atau intelekulama, yaitu seorang muslim.
- Pondok Pesantren Modern Al Manaar Muhammadiyah Pemalang,
merupakan satu-satunya podok pesantren Muhammadiyah yang ada di
kota Pemalang
-

Ponpes Modern Al Manaar yang dipimpin direktur dan bertanggung jawab


kepada majelis pendidikan dasar dan menengah PDM.

DAFTAR PUSTAKA

Mulkhan,
Abdul
Munir.
1990. Pemikiran
Muhammadiyah. Jakarta: Bumi Aksara.

KH.

Ahmad

Dahlan

dan

Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan. 1991. K.H. Ahmad Dahlan : riwayat hidup dan
perjuangannya. Bandung: Angkasa.
Yusuf, M. Yunan (ed.). 2000. Filsafat Pendidikan Muhammadiyah (naskah awal).
Jakarta: Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah