Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK
UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT

NAMA
NIM
KELOMPOK
KELAS
ASISTEN

: ANDREAS BIMANDA CAHYADI


: 145100100111015
: A1
:A
:

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB III
ANALISIS KUALITATIF KARBOHIDRAT
TUJUAN
:
Mengetahui prinsip dasar uji kualitatif karbohidrat
Mengetahui perbedaan prinsip dari masing-masing metode
A. Pre-lab
1. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis karbohidrat dan beri contoh masingmasing 3 ?
Dalam makanan kita, karbohidrat terdapat dalam tiga jenis, yang
dibedakan atas strukturnya, yakni:
a. Zat Gula, merupakan jenis karbohidrat sederhana. Karbohidrat jenis ini
mudah dicerna dan mudah diserap tubuh. Tinggi-rendahnya kandungan
zat gula dalam makanan dapat diketahui dari rasa manisnya. Dapat
ditemui di dalam jagung manis (Apriadji, 2007).
b. Selulosa, merupakan jenis karbohidrat berbentuk serat yang tidak
dapat dicerna. Banyak terdapat di dalam beragam sayur-sayuran
(bayam, kangkung, kacang panjang, wortel), kulit buah-buahan (jambu
biji, apel, pir, anggur), kacang-kacangan (kacang hijau, kacang merah,
kedelai), serta dalam kulit ari serealia serta biji-bijian seperti wijen
(Apriadji, 2007).
c. Zat Pati, termasuk jenis karbohidrat kompleks. Karbohidrat jenis ini
memerlukan proses penguraian lebih rumit sebelum dapat diserap
tubuh. Zat pati pada umumnya banyak tersimpan di berbagai makanan
pokok seperti serealia (beras, gandum, jagung, sorgum), umbi-umbian
(ubi kayu, ubi jalar, talas, gembili) dan sagu (Apriadji, 2007).
2. Bagaimana prinsip analisis karbohidrat menggunakan uji Molisch?
Uji molisch adalah tes yang digunakan untuk mendeteksi adanya
karbohidrat. Reagen Molisch adalah larutan dari alfa-naftol dalam etanol
95%. Tes ini berguna untuk mengidentifikasi senyawa yang dapat
didehidrasi menjadi furfural atau hidroksimetilfurfural dengan adanya
H2SO4. Furfural berasal dari dehidrasi pentosa dan pentosan, sementara
hidroksimetilfurfural dihasilkan dari heksosa dan heksosan. Oligosakarida
dan polisakarida yang dihidrolisis akan menghasilkan monomer mereka.
Meskipun tes ini akan mendeteksi senyawa selain karbohidrat, hasil
negatif mengindikasikan tidak adanya karbohidrat (Harisha, 2005)
3. Bagaimanakah reaksi yang terjadi antara larutan yodium dengan
sampel?
Karbohidrat golongan polisakarida akan memberikan reaksi dengan
larutan iodin dan memberikan warna spesifik bergantung pada jenis
karbohidratnya. Amilosa dengan iodin akan berwarna biru. Amilopektin
dengan iodin akan berwarna merah violet. Glikogen maupun dekstrin

dengan iodin akan berwarna merah coklat (Williams, 2005).


4.Apa fungsi dari uji benedict dan sampel apa saja yang bereaksi positif
terhadap reagen benedict?
Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula
(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis
monosakarida dan beberapa disakarida, seperti laktosa dan maltosa. Jadi
yang dapat bereaksi positif adalah sampel yang memiliki gula pereduksi
seperti monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan
maltosa. Uji positifnya terbentuk warna kuning, hijau, atau merah
(Harisha, 2005).
5.Jelaskan prinsip dari uji barfoed!
Tes ini digunakan untuk membedakan monosakarida dari disakarida
dengan mengontrol pH dan waktu pemanasan. Uji Barfoed adalah tes
reduksi yang dilakukan dalam medium asam. Keasaman membuatnya
menjadi agen pengoksidasi yang lemah. Oleh karena itu hanya
monosakarida yang akan mereduksi ion tembaga. Namun, jika
pemanasan berkepanjangan, disakarida dapat terhidrolisis oleh asam dan
monosakarida yang dihasilkan akan memberikan tes positif (Malhotra,
2005).
B. Tinjauan Bahan
a. Reagen Molisch
Molisch yang (dinamai ahli botani Austria Hans Molisch) adalah reagen kimia
sensitif untuk mendeteksi karbohidrat, berdasarkan dehidrasi karbohidrat oleh asam
sulfat atau asam klorida untuk menghasilkan aldehida, yang mengembun dengan dua
molekul fenol (biasanya - naftol, meskipun fenol lain (misalnya resorsinol, timol)
juga memberikan produk berwarna), menghasilkan senyawa-merah atau ungu
berwarna. Larutan uji dikombinasikan dengan sejumlah kecil Molisch yang reagen (naftol dilarutkan dalam etanol) dalam tabung reaksi. Setelah pencampuran, sejumlah
kecil asam sulfat pekat ditambahkan secara perlahan menuruni sisi miring tabung,
tanpa pencampuran, untuk membentuk lapisan. Reaksi positif ditunjukkan dengan
munculnya cincin ungu pada antarmuka antara asam dan uji lapisan. Semua
karbohidrat - monosakarida, disakarida, dan polisakarida - harus memberikan reaksi
positif, dan asam nukleat dan glikoprotein juga memberikan reaksi positif, karena
semua senyawa ini akhirnya dihidrolisis menjadi monosakarida oleh asam mineral
kuat. Pentosa kemudian dehidrasi untuk furfural, sementara heksosa mengalami
dehidrasi sampai 5-hydroxymethylfurfural (Harisha, 2005).
b. H2SO4
Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini
larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan
dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Massa molar 98, 08 g/mol.
Cairan bening tak berwarna dan tak berbau. Derajat keasamannya memiliki pH 3.
Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan
air limbah dan pengilangan minyak (Agamanolis, 2005).

c. Larutan Yodium
Yodium (bahasa Yunani: Iodes - ungu), adalah unsur kimia pada tabel periodik
yang memiliki simbol I dan nomor atom 53. Unsur ini diperlukan oleh hampir semua
mahkluk hidup. Yodium adalah halogen yang reaktivitasnya paling rendah dan paling
bersifat elektropositif. Sebagai catatan, seharusnya astatin lebih rendah reaktivitasnya
dan lebih elektropositif dari pada yodium, tapi kelangkaan astatin membuat sulit
untuk mengkonfirmasikan hal ini. Yodium terutama digunakan dalam medis,
fotografi, dan sebagai pewarna. Seperti halnya semua unsur halogen lain, yodium
ditemukan dalam bentuk molekul diatomik (Agamanolis, 2005).

d. Reagen Barfoed
Barfoed adalah reagen kimia yang digunakan untuk mendeteksi adanya
monosakarida. Hal ini didasarkan pada pengurangan tembaga (II) asetat untuk
tembaga (I) oksida (Cu2O), yang membentuk endapan batu bata merah (Flinn, 2011).
RCHO + 2Cu2+ + 2H2O RCOOH + Cu2O + 4H +
(Disakarida juga bereaksi, tetapi reaksi jauh lebih lambat.) Kelompok aldehid dari
monosakarida yang biasanya membentuk hemiasetal siklik teroksidasi menjadi
karboksilat tersebut. Sejumlah zat lain, termasuk natrium klorida, dapat mengganggu.
Hal ini ditemukan oleh kimiawan Denmark Christen Thomsen Barfoed dan terutama
digunakan dalam botani. Reagen ini mirip dengan larutan Fehling untuk aldehida
(Flinn, 2011).
e. Reagen Benedict
Larutan Benedict digunakan untuk menguji keberadaan gula pereduksi dalam
suatu sampel. Prinsip pengujiannya sama dengan uji menggunakan larutan Fehling.
Gula pereduksi yang dapat diuji berupa monosakarida, disakarida kecuali sukrosa.
Larutan Benedict akan menguji keberadaan gugus aldehida dan keton pada gula
aldosa dan ketosa. Larutan Benedict mengandung sodium sitrat, natrium karbonat
anhidrat, dan tembaga sulfit. 7H2O, dan semua garam tersebut dilarutkan dalam air.
Hasil positif yang ditunjukkan dari uji ini adalah terbentukan endapan berwarna
merah bata yang tidak larut. Endapan merah bata diakibatkan reaksi dari ion logam
tembaga(II) direduksi menjadi tembaga (I) (Nigam, 2007).
f. Glukosa
Glukosa adalah monosakarida berkarbon enam (heksosa) yang
digunakan sebagai sumber dasar energi oleh kebanyakan sel
heterotrofik (Stansfield, 2006).
Glukosa adalah bahan bakar universal bagi sel manusia dan merupakan
sumber karbon untuk sintesis sebagian besar senyawa lainnya. Semua jenis sel
manusia menggunakan glukosa untuk memperoleh energi. Gula lain dalam makanan
(terutama fruktosa dan galaktosa) diubah menjadi glukosa atau zat antara dalam
metabolisme glukosa (Williams, 2005).

g. Fruktosa
Fruktosa (bahasa Inggris: fructose, levulose), atau gula buah,
adalah monosakarida yang ditemukan di banyak jenis tumbuhan
dan merupakan salah satu dari tiga gula darah penting bersama
dengan glukosa dan galaktosa, yang bisa langsung diserap ke aliran
darah selama pencernaan. Fruktosa ditemukan oleh kimiawan
Perancis Augustin-Pierre Dubrunfaut pada tahun 1847. Fruktosa
murni rasanya sangat manis, warnanya putih, berbentuk kristal
padat, dan sangat mudah larut dalam air. Fruktosa ditemukan pada
tanaman, terutama pada madu, pohon buah, bunga, beri dan
sayuran. Di tanaman, fruktosa dapat berbentuk monosakarida
dan/atau sebagai komponen dari sukrosa. Sukrosa merupakan
molekul disakarida yang merupakan gabungan dari satu molekul
glukosa dan satu molekul fruktosa (Habibana, 2014).
Fruktosa adalah polihidroksiketon dengan 6 atom karbon.
Fruktosa merupakan isomer dari glukosa; keduanya memiliki rumus
molekul yang sama (C6H12O6) namun memiliki struktur yang berbeda
(Habibana, 2014).

h. Sukrosa
Disakarida Sukrosa adalah gula pasir yang kita kenal sehari-hari. Selain
terdapat pada tebu dan bit, sukrosa juga dapat ditemukan ditanaman lain seperti nanas
dan wortel. Hidrolisis dengan enzim sukrase, sukrosa akan terpecah dan menghasilkan
satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa. Sukrosa digunakan sebagai zat
pemanis secara langsung dan untuk mengawetkan buah dalam kaleng (Marzuki,2010.)

i. Maltosa
Gula ini merupakan disakarida utama yang diperoleh dari hidrolisis pati.
Hidrolisis maltosa dengan enzim maltase akan menghasilkan dua molekul glukosa.
Maltosa mudah larut dalam air dan memiliki rasa lebih manis daripada laktosa, tetapi
kurang manis daripada sukrosa. Maltosa digunakan dalam makanan bayi (Marzuki,
2010.)

j. Pati
Pati atau amilum merupakan polisakarida yang terdapat banyak di alam
terutama pada sebagian besar tumbuhan. Amilum terdapat pada umbi, batang, daun,
dan biji-bijian. Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya
adalah polimer dari glukosa, yaitu amilosa (20 - 28%) dan sisanya amilopektin.
Amilum dapat dihidrolisis dengan sempurna menggunakan enzim amilase (Marzuki,
2010).

Amilosa

Amilopektin
k. Dekstrin

Dekstrin adalah golongan karbohidrat dengan berat molekul tinggi yang


merupakan modifikasi pati dengan asam. Dekstrin mudah larut dalam air, lebih cepat
terdispersi, tidak kental serta lebih stabil daripada pati. Fungsi dekstrin yaitu sebagai
pembawa bahan pangan yang aktif seperti bahan flavor dan pewarna yang
memerlukan sifat mudah larut air dan bahan pengisi (filler) karena dapat
meningkatkan berat produk dalam bentuk bubuk (Pudiastuti, 2013).

C. Diagram Alir
1. Uji Molisch
1 ml sampel
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
2 tetes reagen Molisch
Dikocok
1ml H2SO4
Hasil
2. Uji Yodium
Sampel
Diteteskan 1 tetes diatas cawan petri
1 tetes larutan yodium

Hasil
3. Uji Barfoed
Sampel
Dimasukkan 5 tetes ke dalam tabung reaksi
1 tetes reagen Barfoed
Dipanaskan dalam penangas air
Hasil

4. Uji Benedict
Sampel
Dimasukkan 2 tetes ke dalam tabung reaksi
1 ml Benedict
Dipanaskan diatas api bunsen
Hasil

D. Data Hasil Pengamatan


1. Uji Molisch
a. Tuliskan data hasil uji Molisch
Senyawa
Hasil Uji
Glukosa 5%
Ungu Pekat
Sukrosa 5%
Ungu Pekat
Pati 1%
Ungu Pekat

Keterangan
+
+
+

Prinsip dari uji molisch adalah reaksi dehidrasi karbohidrat oleh


H2SO4 membentuk cincin furfural dan ketika bereaksi dengan -naftol
akan membentuk kompleks ungu pada permukaan larutan. Tujuannya
adalah untuk menguji adanya kandungan karbohidrat dalam sampel,
sampel yang positif ditunjukan dengan adanya perubahan menjadi
berwarna ungu.
Mekanisme dari reaksi ini adalah karbohidrat dihidrolisis menjadi
monosakarida, selanjutnya monosakarida jenis pentosa akan mengalami
dehidrasi dengan asam tersebut menjadi furfural, sementara golongan
heksosa menjadi hidroksi-multifurfural menggunakan asam organik pekat.
Pereaksi Molisch yang terdiri dari -naftol dalam alkohol akan bereaksi
dengan furfural tersebut membentuk senyawa kompleks berwarna ungu.
Dimana monosakarida akan bereaksi lebih cepat daripada disakarida dan
polisakarida karena pada monosakarida langsung bisa mengalami
dehidrasi dengan asam sulfat membentuk furfural, sementara pada
disakarida harus diubah dahulu menjadi monosakarida baru bisa
dihidrolisis oleh asam sulfat membentuk furfural.
Reaksi

Karbohidrat + H2SO4 Hidroksi metil furfural


Hidroksi metil Furfural + -naftol Warna ungu pekat
Analisa Prosedur
Pertama mempersiapkan alat dan bahan yang akan yang digunakan
didalam percobaan antara lain reagen molisch, H2SO4, glukosa 5%,
sukrosa 5%, pati 5%, tiga tabung reaksi, rak tabung, pipet ukur 1 ml satu
buah, pipet tetes empat buah dan bulb atau labu hisap. Setelah semua
alat dan bahan siap kemudian mengenakan peralatan keselamatan
seperti sarung tangan latex dan masker. Selanjutnya memberi label pada
peralatan yang akan digunakan untuk mengambil reagen dan sampel.
Pertama, memasukkan masing-masing 1 ml sampel ke dalam masingmasing tabung reaksi. Kemudian di dalam lemari asam, masing-masing
sampel di dalam tabung reaksi di tetesi 2 tetes reagen molisch dan
dikocok, selanjutnya masing-masing sampel ditambahkan 1 ml H 2SO4
secara cepat namun berhati-hati, H2SO4 diambil dengan menggunakan
pipet ukur 1 ml dan saat dimasukkan, ujung pipet ukur harus menempel
pada dinding tabung reaksi supaya H2SO4 mengalir dan tidak menetes
karena dapat menyebabkan ledakan. Setelah sampel ditambahkan reagen
molisch dan H2SO4, tabung reaksi akan menjadi panas sehingga harus
diletakkan didalam rak tabung. Kemudian mengamati perubahan yang
terjadi dan mencata hasilnya.
b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Molisch dari beberapa sampel
dalam percobaan ini!
Pada percobaan uji molisch ini, praktikan telah melaksanakan prosedur penelitian
dengan benar dari awal hingga pengambilan asam pekat H 2SO4 dari botol penyimpanan.
Namun, ketika penambahan asam pekat ke dalam sampel terjadi kesalahan, yaitu
penambahan asam pekat ke dalam sampel tidak melalui dinding tabung reaksi. Hal tersebut
memang tidak menimbulkan reaksi yang spontan sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan.
Akan tetapi, hasil uji molisch yang seharusnya dapat menunjukkan pembentukkan cincin
furfural yang terjadi akibat dehidrasi kabohidrat oleh asam pekat justru tidak nampak. Pada
tabung reaksi terjadi perubahan warna sampel dari warna kuning kecoklatan menjadi warna

ungu pekat. Hasil yang didapat kemudian diamati dan diperoleh data bahwa semua sampel
yang digunakan, yaitu glukosa, sukrosa, dan pati menunjukkan hasil uji yang positif.
Hasil percobaan yang telah dilakukan menunjukkan perbedaan warna antara glukosa
yang termasuk monosakarida, sukrosa yang termasuk disakarida, dan pati yang termasuk
polisakarida. Pada glukosa teramati bahwa sampel ini memiliki warna ungu yang lebih pekat
dibandingkan dengan sampel yang lain. Hal ini terjadi karena pada uji molisch, semakin
pendek rantai suatu karbohidrat, maka akan semakin mudah karbohidrat tersebut terhidrasi
oleh asam sulfat dan reagen molisch sehingga terbentuk warna ungu yang sangat pekat.
Sementara pada polisakarida, warna ungu yang dihasilkan tidak seberapa pekat. Secara
keseluruhan, hasil percobaan uji molisch yang telah dilakukan sejalan dengan literatur yang
ada, bahwa pada sampel glukosa, sukrosa, dan pati menghasilkan perubahan warna menjadi
ungu pekat dan terdapat cincin pada sampel (Suryati, 2009).
2. Uji Yodium
a. Tuliskan data
Senyawa
Dekstrin
Sukrosa 5%
Glukosa 5%
Pati 1%

hasil uji Yodium!


Hasil Uji
Ungu
Bening
Bening
Ungu

Keterangan
+
+

Prinsip dari uji yodium adalah larutan yodium akan bereaksi dengan
pati dengan cara larutan yodium dalam bentuk triiodida akan masuk ke
struktur helikal pada pati dan membentuk warna biru tua atau biru
kehitaman. Tujuan dari uji yodium adalah untuk mengidentifikasi
kandungan pati dalam suatu sampel. Sampel yang positif ditunjukan
dengan adanya perubahan warna sampel menjadi biru tua, dekstrin akan
memberikan perubahan warna, namun perubahan warna pada dekstrin
tidak sesempurna pati karena pemutusan rantai-rantai gula pada dekstrin
tidak sempurna sehingga perubahan warna yang terjadi berupa warna
merah atau coklat. Yang berperan adalah amilosa (sekumpulan gulungan
heliks yang dibutuhkan untuk pembentukan kompleks warna, pada
monosakarida dan disakarida tidak memiliki gulungan heliks).
Mekanisme yang terjadi pada uji iodin ini adalah KI akan
membentuk kompleks triiodida dalam air yang kemudian masuk kedalam
helikal pati dan membentuk warna biru pekat. Reaksi yang terjadi pada uji
iodin ini adalah
H2O2(aq) + 3 I-(aq) + 2 H+ I3- + 2 H2O
I3-(aq) + 2 S2O32-(aq) 3 I-(aq) + S4O62-(aq)
Analisa Prosedur
Pertama mempersiapkan alat dan bahan yang akan yang digunakan
didalam percobaan antara lain larutan yodium 5%, dekstrin, sukrosa 5%,

glukosa 5%, pati 1%, pipet tetes dan cawan petri. Selanjutnya memberi
label pada peralatan yang akan digunakan untuk mengambil reagen dan
sampel. Pertama, membagi cawan petri menjadi 2 bagian. Kemudian
memberi tanda dengan cara menulis sampel. Selanjutnya meneteskan 1
tetes sampel di atas cawan petri. Setelah diteteskan, ditambahkan 1 tetes
larutan yodium di atas masing-masing sampel. Mengamati perubahan
warna yang terjadi dan mencatat hasilnya.
b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Yodium dari beberapa sampel
dalam percobaan ini!
Pada percobaan ini, praktikan telah melakukan prosedur percobaan yang ada dengan
baik. Hasil dari percobaan ini didapatkan bahwa perubahan warna sampel terjadi pada sampel
pati dan dekstrin. Pada pati, sampel berubah warna menjadi biru pekat hingga kehitaman.
Sementara pada dekstrin, sampel berubah warna menjadi keungu-unguan. Dari literatur yang
ada, diketahui bahwa dalam uji yodium ini yang menunjukkan hasil positif adalah sampel
yang berubah warna menjadi biru pekat, yaitu pada sampel polisakarida. Hal ini terjadi
karena hanya polisakarida yang memiliki rantai helikal lebih panjang sehingga makin banyak
senyawa I3 yang terperangkap di dalam helikal dan menimbulkan warna biru pekat (Suryati,
2009).
3. Uji Barfoed
a Tuliskan data hasil Barfoed test!
Hasil Uji
Keterang
Senyawa
Sebelum
Sesudah
an
Glukosa 5%
Biru muda
Terdapat endapan merah
+
bata muda
Sukrosa 5%
Biru muda
Biru
Maltosa 5%
Biru muda
Sedikit endapan merah
+
bata
Fruktosa 5%
Biru muda
Terdapat endapan merah
+
bata
Prinsip dari uji barfoed adalah monosakarida dan disakarida
pereduksi dicampurkan dengan reagen barfoed (campuran CuCH 3COO dan
CH3COOH) dan menghasilkan Cu2O berwarna merah. Tujuannya adalah
untuk mengidentifikasi monosakarida dan disakarida pereduksi dalam
suasana percobaan asam.
Mekanisme dari uji barfoed ini adalah Cu2+ dari pereaksi Barfoed
dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi
monosakarida daripada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida)
berwarna merah bata. Sedangkan dehidrasi fruktosa oleh HCL pekat
menghasilkan hidroksimetilfurfural dengan penambahan resorsinol akan
megalami kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah.
Reaksi pada monosakarida lebih cepat daripada senyawa disakarida
karena pada senyawa disakarida harus diubah menjadi monosakarida.
Reaksi

R-CHO + 2 Cu2+ + 2 H2O R-COOH + Cu2O + 4 H+


Analisa Prosedur
Pertama mempersiapkan alat dan bahan yang akan yang digunakan
didalam percobaan antara lain rak tabung reaksi, tabung reaksi sebanyak
empat buah, pipet ukur 1 ml, 4 pipet tetes, bulb atau labu penghisap,
beaker glass 250 ml dan penangas air. Selanjutnya memberi label pada
peralatan yang akan digunakan untuk mengambil reagen dan sampel.
Pertama, memasukkan masing-masing 5 tetes larutan sampel ke dalam
tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 1 ml reagen barfoed ke dalam
masing-masing tabung reaksi. Setelah ditambahkan, dicatat warna
sebelum dipanaskan terlebih dahulu, lalu sampel dalam tiap tabung reaksi
dipanaskan didalam penangas air. Mengamati perubahan warna yang
terjadi dan mencatat hasilnya.
b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Barfoed dari beberapa
sampel dalam percobaan ini!
Dari percobaan tersebut didapatkan bahwa sampel fruktosa, glukosa, dan maltosa
membentuk endapan berwarna merah bata pada dasar tabung reaksinya. Sementara pada
sampel sukrosa tidak ditemukan adanya endapan. Hal ini terjadi karena pada sampel glukosa,
fruktosa, dan maltosa termasuk dalam golongan monosakarida dan disakarida pereduksi
sehingga uji barfoed ini menunjukkan hasil yang positif. Sementara itu, sukrosa tidak
menunjukkan hasil yang positif karena sukrosa sendiri tidak termasuk dalam golongan gula
pereduksi, gugus pereduksi pada sukrosa telah digunakan oleh glukosa dan fruktosa untuk
berikatan satu sama lain.
Uji barfoed ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi monosakarida dan
disakarida. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan waktu terbentuknya endapan pada masingmasing sampel. Dapa dilihat pada sampel monosakarida membutuhkan waktu singkat sekitar
0- 2 menit untuk membentuk endapan. Sementara pada sampel disakarida membutuhkan
waktu lebih lama dari monosakarida. Hal ini juga sejalan dengan literatur yang ada bahwa
suasana asam yang ada pada ragen barfoed akan menyebabkan perbedaan waktu pada
pengendapan kupro oksida pada reaksi monosakarida dan disakarida. Pada konsentrasi dan
kondisi yang sama, disakarida akan membentuk endapan lebih lambat dari pada
monosakarida (Sumardjo, 2006).
4. Uji Benedict
a. Tuliskan data hasil Benedict test!
Hasil Uji
Senyawa
Sebelum
Sesudah
Glukosa 5%
Biru
Endapan merah
muda
bata
Sukrosa 5%
Biru
Hijau
muda

Keterangan
+
-

Fruktosa 5%

Biru
Endapan merah
+
muda
bata
Prinsip dari uji benedict adalah larutan CuSO4 dalam suasana basa
akan direaksikan dengan gula preduksi sehingga CuO tereduksi menjadi
Cu2O yang berwarna merah bata. Pereaksi benedict terdiri dari tembaga
sulfat dalam larutan natrium karbonat (NaCO3) dan natrium sitrat
(NaCH3COO) yang dapat mereduksi glukosa dimana glukosa terlebih
dahulu dioksidasi dalam bentuk garam asam glukoronat. Larutan CuSO4
dalam alkali akan direaksikan oleh gula yang mempunyai gugus aldehid
atau keton bebeas sehingga cupri oksida (CuO) tereduksi menjadi Cu2O
yang berwarna merah bata. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi gula
pereduksi dalam suasana basa.
Mekanisme dari uji benedict ini adalah reagen benedict yang
tersusun atas tembaga sulfat dan larutan natrium karbobat dan natrium
sitrat, mula-mula glukosa dioksidasi menjadi garam asam glukoranat yang
kemudian mampu mereduksi CuO menjadi Cu2O menjadi merah bata
Reaksi

Analisa Prosedur
Pertama mempersiapkan alat dan bahan yang akan yang digunakan
didalam percobaan antara lain rak tabung reaksi, tabung reaksi sebanyak
empat buah, pipet ukur 1 ml, 4 pipet tetes, bulb atau labu penghisap,
beaker glass 250 ml dan penangas air. Selanjutnya memberi label pada
peralatan yang akan digunakan untuk mengambil reagen dan sampel.
Pertama, memasukkan masing-masing 5 tetes larutan sampel ke dalam
tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 1 ml reagen barfoed ke dalam
masing-masing tabung reaksi. Setelah ditambahkan, dicatat warna
sebelum dipanaskan terlebih dahulu, lalu sampel dalam tiap tabung reaksi
dipanaskan didalam penangas air. Mengamati perubahan warna yang
terjadi dan mencatat hasilnya.
Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Benedict dari beberapa sampel
dalam percobaan ini!
Sampel yang positif yang ditunjukan dengan adanya perubahan
warna adalah glukosa dan fruktosa. Seperti yang sudah diketahui, glukosa
dan fruktosa merupakan monosakarida yang memiliki gugus pereduksi (OH) didalam rantainya sehingga glukosa dan fruktosa mampu mereduksi
reagen benedict dan menghasilkan endapan warna merah bata. Pada
sukrosa, gugus pereduksi telah hilang digunakan oleh glukosa dan
fruktosa untuk berikatan membentuk H2O.

Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa uji benedict akan
menunjukkan hasil positif dengan membentuk endapan berwarna merah bata (Pujianto,
2011). Uji ini sudah sejalan dengan literatur bahwa sampel benedict akan bereaksi langsung
dengan sampel yang memiliki gugus pereduksi (Sumardjo, 2006).
E. Pertanyaan
1 Bagaimana membedakan monosakarida dan disakarida dengan
menggunakan Barfoed test?
Untuk membedakan monosakarida dan disakarida pada uji barfoed praktikan dapat
melihat dari lamanya sampel membentuk endapan merah bata pada tabung reaksi.
Senyawa monosakarida akan lebih cepat membentuk endapan merah bata dibandingkan
dengan senyawa disakarida. Hal ini terjadi karena suasana asam yang terdapat pada
reagen barfoed yang dapat menyebabkan perbedaan lamanya pembentukan endapan pada
monosakarida dan disakarida (Sumardjo, 2006).
2 Bagaimana mengidentifikasi gula pereduksi sampel pada uji Benedict?
Untuk mengidentifikasi gula pereduksi dapat dilihat dari endapan yang akan terbentuk
pada sampel. Sampel yang mengandung gula pereduksi akan membentuk endapan merah
bata ketika direaksikan dengan reagen benedict (Harisha, 2005.)

F. Kesimpulan

Untuk mengetahui kandungan senyawa karbohidrat dalam suatu bahan dapat


dilakukan beberapa uji, yaitu uji molisch, uji yodium, uji barfoed, dan uji benedict. Uji
molisch adalah uji umum pada karbohidrat yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu
sampel mengandung karbohidrat atau tidak. Uji yodium digunakan untuk mengetahui
kandungan polisakarida pada suatu sampel. Jika dalam suatu sampel positif mengandung
polisakarida maka sampel akan berubah warna menjadi biru kehitaman. Hal ini terjadi karena
senyawa I3 akan lebih mudah terperangkap pada helikal polisakarida yang lebih panjang. Uji
barfoed digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya gula pereduksi dalam suatu sampel.
Uji barfoed dilakukan dalam suasana asam. Uji barfoed akan menunjukkan hasil positif jika
terbentuk endapan merah bata. Senyawa karbohidrat yang menunjukkan hasil positif pada uji
ini di antaranya glukosa dan fruktosa. Uji benedict juga digunakan untuk mengetahui sifat
pereduksi dari suatu karbohidrat. Uji benedict akan menunjukkan hasil positif jika sampel
berubah warna menjadi coklat. Senyawa karbohidrat yang menunjukkan hasil positif pada uji
ini di antaranya adalah glukosa dan fruktosa.

DAFTAR PUSTAKA

Agamanolis, D.P. 2005. Metabolic and toxic disorders. In: Prayson R,


editor. Neuropathology: a volume in the foundations in diagnostic
pathology series. Philadelphia: Elsevier/Churchill Livingstone
Apriadji, Wied Harry. 2007. Good Mood Food. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama
Flinn, Batavia. 2011. MSDS. http://emcmsds.com/chemdocs/34/34634.pdf. Diakses pada tanggal 15 Maret
2015 jam 17:58
Habibana. 2014. Fruktosa. (http://habibana.staff.ub.ac.id/files/2014/08/3.FRUKTOSA.pdf.) Diakses pada tanggal 11 Maret 2015 jam 21:16
Harisha. 2005. An Intoduction to Practical Biotechnology. New Delhi:
Laxmi Publications
Malhotra, Varun Kumar. 2005. Practical Biochemistry. New Delhi: Jaype
Brothers Medical
Marzuki, Ismail. 2010. Kimia dalam Keperawatan. Takalar: Pustaka As
Salam
Nigam, A., Ayyagari A. 2007. Lab Manual in Biochemistry, Immunology,
and Biotechnology. New Delhi: West Patel Nagar.
Pudiastuti, Lis, Tika Pratiwi. 2013. Teknologi Kimia dan Industri, Vol 2, No
2. http://ejournal-sl.undip.ac.id/index.php/jkti. Diakses pada 15
Maret 2015 jam 17:28
Stansfield, William D. 2006. Biologi Molekuler dan Sel. Jakarta: PT Gelora
Aksara Pratama
Williams. 2005. Biokimia Kedokteran Dasar. Jakarta: EGC
DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN
Pujianto, Agustoni. 2011. Reaksi Uji Karbohidrat. Semarang: Universitas Negeri Semarang
Sumardjo, Damin. Pengantar Kimia. Bandung: EGC
Suryati, Tati. 2009 Biologi Jilid 2. Jakarta: Quadra