Anda di halaman 1dari 8

Faktor-faktor berikut ini dikaitkan dengan peningkatan risiko BPH:

Kesimpulan BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit yang


disebabkan oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran memanjang

Usia: BPH terjadi lebih umum pada usia lanjut.

Riwayat keluarga

Obesitas:

Obesitas,

keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi
orifisium uretra.

terutama

obesitas

pada

perut,

dapat

Prostatektomy adalah merupakan tindakan pembedahan bagian prostat (sebagian /


seluruh) yang memotong uretra, bertujuan untuk memeperbaiki aliran urin dan

meningkatkan risiko BPH.

menghilangkan retensi urinaria akut.

Fisik

tidak

aktif:

The

Health

Professionals

Study

dan

Massachusetts Male Aging Study menemukan tingkat aktivitas fisik


yang lebih rendah terkait dengan peningkatan risiko terkena BPH.

ANATOMI FISIOLOGI
Pada pria, beberapa organ berfungsi sebagai bagian dari traktrus urinarius maupun

PENGERTIAN

sistem reproduksi. Kelainan pada organ-organ reproduksi pria dapat menganggu

1.

Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi

salah satu atau kedua sistem. Akibatnya, penyakit sistem reproduksi pria biasanya

berupa hiperplasia kelenjar atauhiperplasia fibromuskular. Namun orang sering

ditangani oleh ahli urologi. Struktur dari sistem reproduksi pria adalah testis, vas

menyebutnya dengan hipertropi prostat namun secarahistologi yang dominan

deferen (duktus deferen), vesika seminalis, penis, dan kelenjar asesori tertentu,

adalah hyperplasia (Long, 2006).

seperti kelenjar prostat dan kelenjar cowper (kelenjar bulbo-uretral). Organ genetalia

2.

Hiperplasia prostat jinak adalah pembesaran kelenjar prostat nonkanker


(Basuki, 2000).

3.

Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh


penuaan (Soeparman, 2000).

4.

5.

Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara

pria terdiri dari 6 komponen yaitu :


a. Testis dan epididimis
b. Duktus deferen
c. Vesikula seminalis
d. Duktus ejakulatorius dan penis

umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi

e. Prostat

uretra (Hardjowidjoto, 2000).

f. Kelenjar bulbo-uretra

BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran


memanjang keatas kedalam kandungkemih dan menyumbat aliran urin dengan
cara menutupi orifisium uretra. (Schwartz, 2000).

Gambar Prostat

Prostat adalah organ genetalia pria yang terletak di sebelah interior buli-buli, di depan

Menurut Basuki (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab

rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri dengan

prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat

ukuran 3 x 4 x 2,5 cm dan beratnya 20 gram. Sebagian prostat mengandung kelenjar

erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses

grandular dan sebagian lagi otot involuter dan menghasilkan suatu cairan yang di

penuaan.

sebut semen, yang basa dan mendukung nutrisi sperma. Cairan prostat merupakan

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnyahiperplasi prostat

kurang lebih 25% dari seluruh volume ejakulat. Jika kelenjar ini mengalami hiperlasia

adalah :

jinak atau berubah menjadi kanker ganas dapat membantu uretra posterior dan

1.

mengakibatkan obstruksi saluran kemih.

Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen


pada usia lanjut

2.
ETIOLOGI
Penyebab hiperplasia prostat belum diketahui dengan pasti, ada beberapa pendapat

dari growth

factor

(faktor

pertumbuhan)

sebagai

pemicu

pertumbuhan stroma kelenjar prostat


3.

dan fakta yang menunjukan, ini berasal dan proses yang rumit dari androgen dan
estrogen. Dehidrotestosteron yang berasal dan testosteron dengan bantuan enzim

Peranan

Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang


mati

4.

Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem

5-reduktase diperkirakan sebagai mediator utama pertumbuhan prostat. Dalam

sehingga menyebabkan produksi selstroma dan sel epitel kelenjar prostat

sitoplasma sel prostat ditemukan reseptor untuk dehidrotestosteron (DHT). Reseptor

menjadi berlebihan

ini jumlahnya akan meningkat dengan bantuan estrogen. DHT yang dibentuk

Pada umumnya dikemukakan beberapa teori yaitu :

kemudian akan berikatan dengan reseptor membentuk DHT-Reseptor komplek.

Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel stem. Oleh karena suatu sebab

Kemudian masuk ke inti sel dan mempengaruhi RNA untuk menyebabkan

seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau faktor pencetus lain. Maka

sintesis protein sehingga terjadi protiferasi sel. Adanya anggapan bahwa sebagai

sel stem dapat berproliferasi dengancepat, sehingga terjadi hiperplasi kelenjar

dasar adanya gangguan keseimbangan hormon androgen dan estrogen, dengan

periuretral.

bertambahnya umur diketahui bahwa jumlah androgen berkurang sehingga terjadi

Teori kedua adalah teori Reawekering menyebutkan bahwa jaringan kembali

peninggian estrogen secara retatif. Diketahui estrogen mempengaruhi prostat bagian

seperti perkembangan pada masa tingkat embriologi sehingga jaringan periuretral

dalam (bagian tengah, lobus lateralis dan lobus medius) hingga pada hiperestrinisme,

dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya.

bagian inilah yang mengalami hiperplasia (Hardjowidjoto,2000).

Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan bahwa dengan

terjadinya pembesaran prostat akan terjadiresistensi yang bertambah pada leher

bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi testoteron dan terjadinya

vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi keadaan ini

konversi testoteron menjadi estrogen. (Sjamsuhidayat, 2005).

dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat
detrusor kedalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang

PATOFISIOLOGI

disebut trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah

aetrisor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar

inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari

disebut divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding

dengan berat normal pada orang dewasa 20gram. Menurut Mc Neal (1976) yang

kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya

dikutip dan bukunya Basuki (2000), membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona,

mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi

antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior

retensi urin. Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan

dan periuretra (Basuki, 2000). Sjamsuhidajat (2005), menyebutkan bahwa pada usia

iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama

lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen karena produksi

dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi), miksi

testosteron menurun dan terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan

terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas setelah miksi.

adipose di perifer. Basuki (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat

Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran

tergantung pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini

prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksiwalaupun

akan dirubahmenjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.

belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor (frekuensi miksi

Dehidrotestosteron inilah yang secaralangsung memacu m-RNA di dalam sel-sel

meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency, disuria).

kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar

Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak mampu lagi

prostat.

menampung urin,sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan

Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan

obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi

pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang

kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter danginjal, maka ginjal

disebabkan pembesaran prostat sebenarnyadisebabkan oleh kombinasi resistensi

akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat

uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatankontraksi

dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang

detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang

menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia

trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. Pada tahap awal setelah

dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang

menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika

3.

urinariamenjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan

Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.

sistitis dan bila terjadi refluksmenyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).

4.

Stadium III

Stadium IV

Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara
MANIFESTASI KLINIS

periodik (over flowin kontinen).

Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi

Menurut Smeltzer (2002) menyebutkan bahwa :

dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup

Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan ingin

lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah, rasa tidak puas

berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yangturun dan harus

sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengejan

mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine terus menerus setelah

(straining), kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang

berkemih), retensi urine akut.

akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow.

Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :

Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran

1.

prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun

Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :

belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitasotot detrusor dengan tanda dan

- Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum.

gejala antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada malam hari

- Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum.

(nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi

- Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.

(disuria) (Mansjoer,2000)

- Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum.

Rectal Gradding

- Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.


Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium:

2.

1.

Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh kencing

Stadium I

Clinical Gradding

Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis.

dahulu kemudian dipasang kateter.

2.

- Normal : Tidak ada sisa

Stadium II

Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak

- Grade I : sisa 0-50 cc

sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria

- Grade II : sisa 50-150 cc

dan menjadi nocturia.

- Grade III : sisa > 150 cc

- Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing

Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya


dianjurkan reseksiendoskopi melalui uretra (trans uretra).

KOMPLIKASI

3.

Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan semakin

Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan prostat

beratnya BPH, dapatterjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak mampu

sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam. Sebaiknya

melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksisaluran kemih dan apabila tidak

dilakukan pembedahan terbuka.Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans

diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal.

vesika, retropubik dan perineal.

Stadium III

Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan
penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intra
abdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko

4.

urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi dan

Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari retensi

hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media

urin total dengan

pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi

pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitive

refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).

dengan TUR atau pembedahan terbuka. Pada penderita yang keadaan umumnya

Stadium IV

memasang kateter atau sistotomi. Setelah

itu, dilakukan

tidak memungkinkan dilakukan pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif


PENATALAKSANAAN MEDIS

dengan memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif

Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH tergantung

adalah dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.

pada stadium-stadium dari gambaran klinisa.


1.

Stadium I

Menurut Mansjoer (2000) dan Purnomo (2000), penatalaksanaan pada BPH dapat

Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan pengobatan

dilakukan dengan:

konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa, seperti alfazosin dan terazosin.

1.

Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak

Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan, kurangi kopi, hindari

mempengaruhi proses hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini

alkohol,tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa kencing dan colok dubur.

Observasi

tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.


2. Stadium II

2.

Medikamentosa

A.

Penghambat alfa (alpha blocker)

3.

Terapi Bedah

Prostat dan dasar buli-buli manusia mengandung adrenoreseptor-1, dan prostat

Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria, penurunan fungsi ginjal,

memperlihatkanrespon mengecil terhadap agonis. Komponen yang berperan dalam

infeksi salurankemih berulang, divertikel batu saluran kemih, hidroureter, hidronefrosis

mengecilnya prostat dan leher buli- buli secara primer diperantarai oleh reseptor alpha

jenis pembedahan:

blocker. Penghambatan terhadap alfa telah memperlihatkanhasil berupa perbaikan

1.

subjektif dan objektif terhadap gejala dan tanda BPH pada beberapa pasien.

Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui sitoskopi atau

Penghambat alfa dapat diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor dan

resektoskop yang dimasukkan malalui uretra

waktu paruhnya

2.

B.

Penghambat 5-Reduktase (5-Reductase inhibitors)

TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy)

Prostatektomi Suprapubis

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada kandung kemih.

Finasteride adalah penghambat 5-Reduktase yang menghambat perubahan

3.

testosteron menjadi dihydratestosteron. Obat ini mempengaruhi komponen epitel

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian bawah

prostat, yang menghasilkan pengurangan ukuran kelenjar dan memperbaiki gejala.

melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih.

Dianjurkan pemberian terapi ini selama 6 bulan, guna melihat efek maksimal terhadap

4.

ukuran prostat (reduksi 20%) dan perbaikan gejala-gejala

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara skrotum

C.

D.

Terapi KombinasiTerapi kombinasi antara penghambat alfa dan

Prostatektomi Retropubis

Prostatektomi Peritoneal

dan rektum.

penghambat 5-Reduktase memperlihatkan bahwa penurunan symptom

5.

score dan peningkatan aliran urin hanya ditemukan pada pasien yang

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula seminalis dan

mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian terapi kombinasi tambahan

jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah, uretra

sedang berlangsung.

dianastomosiskan keleher kandung kemih pada kanker prostat.

Prostatektomi retropubis radikal

Fitoterapi

Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuh-tumbuhan


untuk tujuan medis. Penggunaan fitoterapi pada BPH telah popular di Eropa selama
beberapa tahun. Mekanisme kerjafitoterapi tidak diketahui, efektifitas dan keamanan
fitoterapi belum banyak diuji.

4.

Terapi Invasif Minimal

1.

Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)

Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar


prostatmelalui antena yang dipasang melalui/pada ujung kateter.
2.

Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP)

3.

A.

Trans Uretral Ballon Dilatation(TUBD)

Tanda persetujuan secara tertulis, penderita dan keluarga harus


menyatakan persetujuan pembedahan (informed konsen).

B.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Persiapan kulit

Menurut Soeparman (2000), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada

Daerah yang akan dicukur ditentukan, lebih baik kalau pencukuran langsung

pasien dengan BPH adalah :a. Laboratorium

dilaksanakan sebelum pembedahan. Penderita harus dimandikan dan bersih malam

1.

sebelum pembedahan.

Sedimen Urin

Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih.
2.

C.

Diet
Penderia tidak boleh makan makanan padat selama 12 jam pasien

Kultur Urin

dipuasakan minum cairan selama 8 jam sebelum pembedahan.

Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan


sensitifitas kumanterhadap beberapa antimikroba yang diujikan. b. Pencitraan1). Foto

D.

Cairan IV

polos abdomenMencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa

Pemberian cairan intravena tidak diperlukan pada berbagai kasus tetapi pada

prostat dan kadang menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang

penderita yang lansia atau lemah perlu diberi cairan penguat pada malam sebelum

merupakan tanda dari retensi urin.

pembedahan.

3.

4.

IVP ( Intra Vena Pielografi) Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau

Pengurangan isi perut

ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis,memperkirakan besarnya kelenjar

Pencahar

prostat, penyakit pada buli-buli.

pengosongan sebagian dari usus dilaksanakan pemberian 2-3 tablet dulcolax.


F.

Ultrasonografi ( trans abdominal dan trans rektal )

Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan
keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.
5.

E.

enema

kebanyakan

dilaksanakan

pada

pembedahan

perut,

Pemberian obat-obatan

Premedikasi anastetik biasanya ditangani oleh dokter ahli anastesi


G.

Systocopy

Tes

laboratorium

Penentuan BUN, kreatinin serum dan kalium serum, lab darah dan lain-lain.

Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan
melihat penonjolan prostat ke dalam rectum

I.

SEBELUM

Persiapan Pre-Operatif

DAN

Transfusi darah

Harus disiapkan bilamana perlu


J.

PERAWATAN

dan

SESUDAH

PEMBEDAHAN

Kandung kencing

Kateter folley digunakan pada pembedahan yang lama lebih baik memasang kateter

J.

Monitor kateter dan pengeluaran urinenya

sesudah

K.

Perawatan luka bersih pada daerah luka pasca bedah

L.

Pemberian antibiotic untuk menimimalkan infeksi pasca operasi

di

bedah

daripada

sebelumnya.

Persiapan Pre-Operatif
A.

DAFTAR PUSTAKA
Jenis pembedahan
Basuki, Purnomo. (2000). Dasar-Dasar Urologi, Perpustakaan Nasional RI, Katalog

Sehingga perawat dan dokter yang jaga mengetahui persoalan yang dihadapi
B.

Tanda-tanda vital

Tekanan darah, denyut nadi, respirasi, harus dicatat tiap 15 menit sesudah operasi,
tiap jam selam beberapa jam kemudian 4 jam hingga penderita sembuh
C.

Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit setiap hari

D.

Aktivitas dan posisi

Posisi mula-mula telentang tetapi penderita harus dimiringkan ke kiri atau ke kanan
setiap 30 menit sementara ia tidak sadarkan diri. Anjurkan menggerakan kaki secara
aktif atau pasif setiap jam.
G.

Makanan

H.

Cairan intra vena (catat jenis cairan dan kecepatan tetesan


pemberiannya)

I.

Pantau drain pada luka pembedahan bila ada catat outputnya

Dalam Terbitan (KTD): Jakarta.


Hardjowidjoto, S. (2000). Benigna Prostat Hiperplasi. Airlangga University Press:
Surabaya
Long, Barbara C. (2006). Perawatan Medikal Bedah. Volume 1. (terjemahan).
Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran: Bandung.
Schwartz, dkk, (2000). Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Editor : G. Tom Shires dkk,
EGC: Jakarta.
Sjamsuhidayat, (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.Jakarta: EGC
Soeparman. (2000). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2. FKUI: Jakarta
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC