Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH FAKTOR KELEMBABAN DAN PENUTUPAN TUMBUHAN BAWAH

TERHADAP UKURAN POPULASI PRENJAK JAWA


DI HUTAN PENDIDIKAN WANAGAMA I, GUNUNG KIDUL,
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Khairanisa Hening Pratiwi
*Minat Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada ,
Yogyakarta, Indoneisa .
**Laboratorium Satwa Liar, Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar,Fakultas
Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Abstrak
Hutan Wanagama I merupakan hutan rehabilitasi yang memiliki potensi sebagai habitat
berbagai macam jenis burung. Kondisi hutan rehabilitasi yang berbeda dengan hutan alam
tentu akan berpengaruh terhadap jumlah individu burung. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh faktor abiotik berupa kelembaban dan faktor biotik berupa
tutupan tumbuhan bawah terhadap ukuran populasi burung Prenjak Jawa. Metode
pengambilan data burung dan faktor abiotik menggunakan metode point count sejumlah 105
point dengan penempatan menggunakan sistem sytematic sampling with random start. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan kelembaban terhadap
jumlah individu burung Prenjak Jawa. Analisis regresi menunjukan persamaan Y=
2,650241+(-0,002326)X1. Sedangkan tutupan tumbuhan bawah tidak berpengaruh
signifikan. Ditinjau dari aspek ekologi, burung membutuhkan suhu dan kelembaban optimal
untuk dapat tinggal suatu wilayah.
Kata kunci : Wanagama, kelembaban, tutupan tumbuhan bawah, ukuran populasi, Prenjak
Jawa
keanekaragaman
PENDAHULUAN

berbagai bentuk ekosistem dan satwa


menonjol

di

berbagai

habitat

(Subeno, 2000). Dalam habitatnya, burung


dapat

berperan

Hal

ini

dikarenakan burung tersebar di berbagai

Burung merupakan bagian penting dari


paling

hayati.

sebagai

indikator

belahan dunia dan salah satu satwa yang


peka teradap perubahan lingkungan serta
hidup di berbagai habitat pada berbagai
ketinggian tempat (Sujatnika dkk, 1995).
Habitat

satwa

burung,

dipengaruhi oleh faktor biotik dan faktor

Laporan Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar 2014


8

termasuk

abiotik. Faktor biotik meliputi vegetasi dan

jumlah burun prenjak jawa adalah tutupan

populasi,

abiotik

tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah terdiri

meliputi suhu, kelembaban, kelerengan,

dari tumbuhan selain permudaan pohon,

jarak dari sumber air, cuaca, dan lain-lain.

misal rumput, herba, dan semak belukar,

sedangkan

faktor

Burung Perenjak Jawa merupakan salah


satu burung endemik Indonesia yang
berstatus

Least

Concern.

Perenjak

merupakan burung pemakan serangga


berukuran kecil dengan kepala tajam atau
ramping

serta

(Mackinnon,1990).

paruh

yang

Habitat

perenjak di alam berada pada

tajam

serta

(Ewusie,

1990).

Selanjutnya Philips (1959), menyatakan


bahwa

tumbuhan

yang

termasuk

tumbuhan penutup tanah adalah kelompok


herba yang tingginya

sampai 0,5 meter

sampai 1 meter.
Tumbuhan

burung
pohon-

paku-pakuan

komunitas

bawah

tanaman

yang

adalah
menyusun

pohon pekarangan, tegalan, sawah, dan

stratifikasi bawah dekat permukaan tanah.

hutan. Di Jawa dan Bali burung ini sangat

Tumbuhan ini umumnya berupa rumput,

umum ditemui sampai ketinggian 1.500

herba, semak atau perdu rendah.

meter (Mackinon,1990). Burung Perenjak

jenis vegetasi ini ada yang bersifat annual,

Jawa (Prinia familiaris) sering mencari

biannual, atau perenial dengan bentuk

makan di bawah tajuk, namun dapat juga

hidup soliter, berumpun, tegak menjalar

mencapai puncak pohon. Perenjak Jawa

atau

berburu mulai dari permukaan tanah

Sedangkan faktor abiotik yang dapat

hingga tajuk pepohonan. Burung ini

memengaruhi ukuran populasi Prenjak

membuat sarangnya di rerumputan atau

Jawa salah satunya adalah kelembaban.

semak-semak hingga ketinggian sekitar 1,5

Faktor abiotik meliputi kelembaban, dan

m di atas tanah (Winnasis,et al., 2011).

faktor biotik berupa tutupan tumbuhan

Hutan Wanagama I merupakan


sebuah model hutan buatan pada kawasan
karst yang membentuk suatu struktur

memanjat

(Aththorick,

Jenis-

2005).

bawah yang berbeda di Hutan Wanagama


dapat memengaruhi ukuran populasi yang
ada.

habitat yang khas. Unit pengelolaan Hutan

BAHAN DAN METODE

Wanagama I berbasis petak, sehingga


setiap petak memiliki tipe vegetasi dan

Bahan dan Alat


Alat yang digunakan dalam penelitian ini

habitat yang berbeda. Habitat dipengaruhi

berupa

oleh faktor biotik dan faktor abiotik. Salah

Positioning System), Kompas, Kamera,

satu faktor biotik yang dapat memengaruhi

Buku

Binokular,
panduan

Laporan Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar 2014


9

GPS
lapangan

(Global
burung,

Tallysheet, Roll meter dan pita meter, Tali,

diameter lingkaran arah Utara-Selatan dan

Alat

Hutan

Timur-Barat, sehingga terdapat 20 titik

dan

pada tiap plot. Penutupan tumbuhan bawah

Penelitian

dihitung dengan menggunakan tabung

dilaksanakan pada tanggal 29 November

okuler yang diberi benang/tali silang pada

2014, pukul 07.00 17.00 WIB.


Cara Penelitian

salah satu ujungnya. Pada setiap titik

tulis,

Peta

Pendidikan

Topografi

Wanagama,

thermohygrometer.

dilakukan

pengamatan

menggunakan

kelembaban

tabung okuler ke arah bawah untuk melihat

menggunakan metode protocol sampling,

penutupan tumbuhan bawah. Nilai dari

dengan meletakkan thermohygrometer di

penutupan

tengah titik point count. Sedangkan dataa

persentase dari jumlah titik pengamatan

penutupan tumbuhan bawah diestimasi

yang penutupan tajuknya menyinggung

menggunakan tabung okuler, pada plot

titik persilangan benang dari tabung

berbentuk lingkaran dengan diameter 22,6

okuler.

Pengukuran

tumbuhan

bawah

adalah

m dibuat sepuluh titik pengamatan pada

Gambar 1. Plot lingkaran

Gambar 2. Tabung okuler

Pengambilan data burung Prenjak Jawa


Pengamatan

burung

di

Hutan

Pendidikan Wanagama I menggunakan


metode point count (titik hitung) yang
dibuat dalam 105 plot. Radius pengamatan
setiap titik hitung berbentuk lingkaran
imaginer (distance bands) dengan jari-jari

sekitar

50

meter,

waktu

pengamatan setiap titik hitung adalah 10


menit dan waktu untuk beradaptasi dengan
lingkungan dua menit. Titik Pengamatan
dibuat dengan cara sistematik sampling.
Jarak antar titik sejauh 200 meter, hal ini
dilakukan untuk menghindari terjadinya
pengulangan pencatatan (double count)

Laporan Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar 2014


10

lamanya

jenis burung. Metode pencatatan secara

Penelitian ini dilakukan dengan

langsung dilakukan dengan melihat obyek

pengambilan data pada 105 plot yang

burung (dapat menggunakan binokular).

dilakukan di 7 petak yaitu petak 5, petak 6,

Dicatat jumlah burung yang diamati.

petak 7, petak 13, petak 14, petak 16, dan

No
1
2
3
4
5
6
7
Total

No

Jumlah Prenjak

Petak
5
6
7
13
14
16
18

Jawa
5
5
16
2
14
4
5
51

petak 18. Berdasarkan hasil


pengamatan, diperoleh jumlah
burung Prenjak Jawa di Hutan
Pendidikan

Wanagama

sebanyak 51 individu yang


tersebar

dibeberapa

petak.

Jumlah individu Prenjak Jawa


dapat dilihat pada tabel 1. Data
hasil

pengamatan

jumlah

individu burung Prenjak Jawa (Prinia


familiaris).

Tabel 1. Data hasil pengamatan


jumlah individu burung Prenjak
Jawa (Prinia familiaris)

Gambar 3. Desain pembuatan point count


Untuk

mengetahui

pengaruh

kerapatan vegetasi, tutupan tajuk, dan


tutupan tumbuhan bawah terhadap ukuran
populasi

Perenjak

menggunakan

uji

Jawa

yaitu

regresi.

Dalam

melakukanan alisis data statistic dengan


uji regresi yaitu menggunakan program R.

Hutan

Pendidikan

Wanagama

memiliki rata-rata penutupan tumbuhan


bawah

sebesar

71,04%.

Berdasarkan

pernyataan MacKinnon et al. (1998)


bahwa

habitat

cenderung

burung

terbuka

dan

Prenjak

Jawa

menyediakan

banyak serangga sebagai pakan utama.


Kondisi

tersebut

ternyata

tidak

mempengaruhi ukuran populasi burung


Prenjak Jawa karena hasil analisis regresi
menunjukkan penutupan tumbuhan bawah

HASIL DAN PEMBAHASAN

tidak berpengaruh signifikan terhadap


ukuran populasi burung Prenjak Jawa.

Laporan Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar 2014


11

Sehingga dapat dikatakan berapapun besar

penetasan telur. Pada kelembaban yang

nilai tutupan tumbuhan bawah tidak

disertai suhu yang optimal, jenis aves

memengaruhi ukuran populasi Prenjak

dapat bertelur dan menetaskan telurnya

Jawa di Hutan Wanagama I.

secara maksimal. Hal ini dikatakan oleh


Wulandari (2002) dalam Ningytas (2013)
bahwa

temperatur

merupakan

dan

faktor

kelembaban

penting

untuk

perkembangan embrio. Temperatur yang


terlalu tinggi akan menyebabkan kematian
embrio

ataupun

sedangkan

abnormalitas

kelembaban

embrio,

mempengaruhi

pertumbuhan normal dari embrio.

Gambar 4. Hasil analisis regresi pengaruh


kelembaban dan tutupan tumbuhan bawah
terhadap ukuran Populasi Prenjak Jawa.
Dari

pengolahan

analisis

yang

dilakukan, ditunjukan tidak ada pengaruh


yang signifikan dari tutupan tumbuhan
bawah terhadap ukuran populasi Prenjak
Jawa, sebaliknya kelembaban menunjukan
pengaruh yang signifikan terhadap ukuran
populasi Prenjak Jawa. Persamaan yang
dihasilkan adalah:

Gambar 5. Coplot kelembaban terhadap

Y= 2,650241+(-0,002326)X1

ukuran populasi Prenjak Jawa.

Keterangan :
Hubungan yang dihasilkan dari hasil

Y=Ukuran populasi Prenjak Jawa

analisis

X1= Kelembaban
Bagi
kelembaban

beberapa

regresi

menunjukan

adanya

korelasi negatif. Hal ini berarti semakin


jenis

berpengaruh

aves,
terhadap

rendah nilai kelembaban maka ukuran


populasi Prenjak Jawa akan semakin
banyak. Selain itu dari coplot yang

Laporan Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar 2014


12

dihasilkan dapat diketahui bahwa pada


kelembaban

79-92%

merupakan

MacKinnon, J. 1990. Panduan Lapangan


Pengenalan

Burung-Burung

di

kelambaban yang berpengaruh signifikan

Jawa dan Bali. Gadjah Mada

terhadap populasi Prenjak Jawa.

University Press.Yogyakarta.
Phillips R.W.

KESIMPULAN

1982.Science of dental

materials 8th Ed. W.B Saunders

Kesimpulan dari penelitian ini


adalah: faktor tuutupan tumbuhan bawah
tidak berpengaruh signifikan, sedangkan
faktor kelembaban berpengaruh signifikan
pada ukuran populasi Prenjak Jawa di
Hutan Wanagama I.

Company.

Page:

137-154

Philadelphia.
Ningtyas, M.S., dkk. 2013.

Pengaruh

Temperatur terhadap Daya Tetas


dna Hasil Tetas Telur Itik (Anas
plathyrinchos).

Jurnal

Ilmiah

Peternakan 1(1):347-352

UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kepada seluruh pihak yang

Subeno. 2000. Konsentrasi Kelimpahan

telah membantu suksenya penelitian ini,

Satwa Burung di Hutan Pendidikan

terutama dosen Riset dan Manjemen Satwa

Wanagama

Liar, seluruh Coass, dan seluruh teman-

Fakultas

Kehutanan

UGM.

teman praktikan Riset.

Lembaga

Penelitian

UGM.

I,

Gunungkidul.

Yogyakarta.
Sujatnika., Jepson, P., Soehartono, T.R.,

DAFTAR PUSTAKA
Aththorick,

T.

A.

Crosby, M. J., dan Mardiastuti, A.


2005.

Kemiripan

1995.

Melestarikan

Komunitas Tumbuhan Bawah pada

Keanekaragaman

Beberapa

Indonesia:

Hayati

Tipe

Ekosistem

di

Kabupaten

Burung Endemik. Jakarta: PHPA/

Labuhan Batu. JurnalKomunikasi

Birdlife International- Indonesia

Penelitian Vol 17 (5) (2005).

Programme.

Perkebunan

Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi


Tropika.
Tanuwijaya.

Pendekatan

Daerah

Winnasis, S., Sutadi., Achmad T., Richard

Penerjemah

Usman

N. 2011. Birds of Baluran National

Bandung.

Penerbit

Park. Situbondo: Balai Taman

ITB. hal. 251

Nasional Baluran.

Laporan Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar 2014


13