Anda di halaman 1dari 59

DAFTAR ISI

Halaman Sampuli
Kata Pengantar.. ii
Daftar Isi iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..... 1
1.2 Rumusan Masalah .. 2
1.3 Tujuan . 3
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Sejarah HAM.

2.2 Definisi dan Konsep HAM

2.3 Fungsi dan Tujuan Badan HAM

2.4 Implementasi HAM dalam Segala Aspek Kehidupan.

2.5 Macam-macam HAM.......

2.6 Pandangan HAM...

2.7 Penerapan HAM dalam Kehidupan Sehari-hari.. 10


2.8 Penyimpangan dan Penyelewengan HAM...11
2.9 Contoh Kasus HAM.12
BAB 3 PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan

13

3.2 Saran..

14

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Yang mana hak adalah sesuatu
yang harus ia peroleh dan kewajiban adalah sesuatu yang harus ia lakukan.
Berbicara mengenai hak, sudah tidak asing lagi di teling kita, istilah Hak
Asasi Manusia. Sedangkan HAM itu sendiri merupakan hak-hak yang melekat pada
manusia, sebagai anugerah yang diberikan Tuhan yang harus dihormati oleh semua
orang dan negara. Jadi hak itu harus ia peroleh agar ia dapat menjalani kehidupannya
dengan tenang dan damai tanpa adanya gangguan dari pihak manapun.
Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang
dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan
yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga
merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang
sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. HAM lebih
dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum
reformasi.
Kemunculan aturan Hak Asasi Manusia sebagai mana wujud dari upaya
penghormatan dan perlindungan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh manusia. Hal
ini karena muncul begitu banyaknya pelanggaran yang terjadi, seperti kekerasan,
perbudakan, pembunuhan dan lain sebagainya baik yang dilakukan oleh individu
ataupun negara.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apakah HAM itu, bagaimana
pemikiran-pemikiran dalam perkembangannya, mari kita lihat dalam makalah Hak
Asasi Manusia di bawah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan HAM?
2. Bagaimana peranan HAM dalam kehidupan sehari-hari?
3. Bagaimana pengaturan HAM dalam undang-undang?
4. Sebutksn contoh kasus pelanggaran HAM?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan HAM beserta teori-teorinya
2. Menjelaskan kegunaan fungsi dari HAM dalam kehidupan sehari-hari
3. Menjelaskan berbagai cara yang mengatur HAM
4. Mengetahui berbagai upaya dalam menangani kasus HAM

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah HAM
Sejarah Hak Asasi Manusia dimulai dari gagasan hak asasi manusia.
Gagasan hak asasi manusia muncul sebagai reaksi atas kesewenang-wenangan
penguasa yang memerintah secara otoriter. Munculnya penguasa yang otoriter
mendorong orang yang tertekan hak asasinya untuk berjuang menyatakan
keberadaannya sebagai makhluk bermartabat. Nah, Zona Siswa pada kesempatan kali

ini akan membahas mengenai Sejarah Hak Asasi Manusia (HAM). Semoga
bermanfaat. Check this out!!!
A. Sejarah Perkembangan HAM di Dunia
Sejarah hak asasi manusia berawal dari dunia Barat (Eropa). Seorang
filsuf Inggris pada abad ke-17, John Locke, merumuskan adanya hak alamiah
(natural rights) yang melekat pada setiap diri manusia, yaitu hak atas hidup,
hak kebebasan, dan hak milik. Pada waktu itu, hak masih terbatas pada bidang
sipil (pribadi) dan politik. Sejarah perkembangan hak asasi manusia ditandai
adanya tiga peristiwa penting di dunia Barat, yaitu Magna Charta, Revolusi
Amerika, dan Revolusi Prancis.
1. Magna Charta (1215)
Piagam perjanjian antara Raja John dari Inggris dengan para
bangsawan disebut Magna Charta. Isinya adalah pemberian jaminan beberapa
hak oleh raja kepada para bangsawan beserta keturunannya, seperti hak untuk
tidak dipenjarakan tanpa adanya pemeriksaan pengadilan. Jaminan itu
diberikan sebagai balasan atas bantuan biaya pemerintahan yang telah
diberikan oleh para bangsawan. Sejak saat itu, jaminan hak tersebut
berkembang dan menjadi bagian dari sistem konstitusional Inggris.
2. Revolusi Amerika (1776)
Perang kemerdekaan rakyat Amerika Serikat melawan penjajahan
Inggris disebut Revolusi Amerika. Declaration of Independence (Deklarasi
Kemerdekaan) dan Amerika Serikat menjadi negara merdeka tanggal 4 Juli
1776 merupakan hasil dari revolusi ini.
3. Revolusi Prancis (1789)
Revolusi Prancis adalah bentuk perlawanan rakyat Prancis kepada
rajanya sendiri (Louis XVI) yang telah bertindak sewenang-wenang dan
absolut. Declaration des droits de Ihomme et du citoyen (Pernyataan HakHak Manusia dan Warga Negara) dihasilkan oleh Revolusi Prancis.
Pernyataan ini memuat tiga hal: hak atas kebebasan (liberty), kesamaan
(egality), dan persaudaraan (fraternite).

4. African Charter on Human and People Rights (1981)


Pada tanggal 27 Juni 1981, negara-negara anggota Organisasi
Persatuan Afrika (OAU) mengadakan konferensi mengenai HAM. Dalam
konferensi tersebut, semua negara Afrika secara tegas berkomitment untuk
memberantas

segala

bentuk

kolonialisme

dari

Afrika,

untuk

mengkoordinasikan dan mengintensifkan kerjasama dan upaya untuk


mencapai kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Afrika.
5. Cairo Declaration on Human Right in Islam (1990)
Deklarasi Kairo tentang Hak Asasi Manusia dalam Islam merupakan
deklarasi dari negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam di Kairo
pada tahun 1990 yang memberikan gambaran umum pada Islam tentang hak
asasi manusia dan menegaskan Islam syariah sebagai satu-satunya sumber.
Deklarasi ini menyatakan tujuannya untuk menjadi pedoman umum bagi
negara anggota OKI di bidang hak asasi maunsia.
6. Bangkok Declaration (1993)
Deklarasi Bangkok diadopsi pada pertemuan negara-negara Asia pada
tahun 1993. Dalam konferensi ini, pemerintah negara-negara Asia telah
mengegaskan kembali komitmennya terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB
dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Mereka menyatakan
pandangannya saling ketergantungan dan dapat dibagi hak asasi manusia dan
menekankan perlunya universalitas, objektivitas, dan nonselektivitas hak asasi
manusia.
7. Deklarasi PBB (Deklarasi Wina) Tahun 1993
Deklarasi ini merupakan deklarasi universal yang ditandatangani oleh
semua negara anggota PBB di ibu kota Austria, yaitu Wina. Oleh karenanya
dikenal dengan Deklarasi Wina. Hasilnya adalah mendeklarasikan hak asasi
generasi ketiga, yaitu hak pembangunan. Deklarasi ini sesungguhnya adalah
re-evaluasi tahap dua dari Deklarasi HAM, yaitu bentuk evaluasi serta
penyesuaian yang disetuju semua anggota PBB, termasuk Indonesia.
B. Sejarah Perkembangan HAM di Indonesia

Sepanjang sejarah kehidupan manusia ternyata tidak semua orang


memiliki penghargaan yang sama terhadap sesamanya. Ini yang menjadi latar
belakang perlunya penegakan hak asasi manusia. Manusia dengan teganya
merusak, mengganggu, mencelakakan, dan membunuh manusia lainnya. Bangsa
yang satu dengan semena-mena menguasai dan menjajah bangsa lain. Untuk
melindungi harkat dan martabat kemanusiaan yang sebenarnya sama antarumat
manusia, hak asasi manusia dibutuhkan. Berikut sejarah penegakan HAM di
Indonesia.
1. Pada masa prakemerdekaan
Pemikiran modern tentang HAM di Indonesia baru muncul pada abad
ke-19. Orang Indonesia pertama yang secara jelas mengungkapkan pemikiran
mengenai HAM adalah Raden Ajeng Kartini. Pemikiran itu diungkapkan
dalam surat-surat yang ditulisnya 40 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan.

2. Pada masa kemerdekaan


Pada masa orde lama gagasan mengenai perlunya HAM selanjutnya
berkembang dalam sidang BPUPKI. Tokoh yang gigih membela agar HAM
diatur secara luas dalam UUD 1945 dalam sidang itu adalah Mohammad
Hatta dan Mohammad Sukiman. Tetapi, upaya mereka kurang berhasil. Hanya
sedikit nilai-nilai HAM yang diatur dalam UUD 1945. Sementara itu, secara
menyeluruh HAM diatur dalam Konstitusi RIS dan UUDS 1950.
Pada masa orde baru pelanggaran HAM pada masa orde baru
mencapai puncaknya. Ini terjadi terutama karena HAM dianggap sebagai
paham liberal (Barat) yang bertentangan dengan budaya timur dan Pancasila.
Karena itu, HAM hanya diakui secara sangat minimal. Komisi Hak Asasi
Manusia dibentuk pada tahun 1993. Namun, komisi tersebut tidak dapat
berfungsi dengan baik karena kondisi politik. Berbagai pelanggaran HAM
terus terjadi, bahkan disinyalir terjadi pula berbagai pelanggaran HAM berat.
Hal itu akhirnya mendorong munculnya gerakan reformasi untuk mengakhiri
kekuasaan orde baru.
Pada masa reformasi masalah penegakan hak asasi manusia di
Indonesia telah menjadi tekad dan komitmen yang kuat dari segenap
komponen bangsa terutama pada era reformasi sekarang ini. Kemajuan itu
ditandai dengan membaiknya iklim kebebasan dan lahirnya berbagai dokumen
HAM yang lebih baik. Dokumen itu meliputi UUD 1945 hasil amendemen,
Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 39 tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan UU No. 26 tahun 2000 tentang
pengadilan Hak Asasi Manusia.
Pada tahun 2005, pemerintah meratifikasi dua instrumen yang sangat
penting dalam penegakan HAM, yaitu Kovenan Internasional tentang HakHak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR) menjadi Undang-Undang No. 11
tahun 2005, dan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik
(ICCPR) menjadi Undang-Undang No. 12 tahun 2005.

2.2 Definisi dan Konsep HAM


A. Pengertian HAM
Istilah hak-hak

asasi manusia/HAM merupakan terjemahan dari

istilah droits de Ihomme dalam bahasa Prancis yang bearti hak manusia,
atau dalam bahasa Inggris HAM berarti human rights. HAM dalam bahasa
Belanda berarti menselijke rechten. Di negara kita sendiri, Indonesia,
digunakan istilah hak-hak asasi yang berasal dari kata basic rights(Inggris)
dan grondrocten(Belanda). Beberapa ahli menyebutnya sebagai hak hak
fundamental yang diterjemahkan dari kata fundamental rights dan
fundamentele rechten (Belanda). Di negara Amerika Serikat selain
menggunakan istilah human rights juga digunakan istilah civil rights.
Pengertian Hak hak asasi manusia(HAM) yang merupakan ahli bahasa
dai istilah de Ilhomme, yang rangkaian lengkapnya berbunyi Declaration
des troits d Ihomme et du citoyen

atau pernyataan Hak-hak

Manusia(HAM) dan waga negara Prancis yang diploklamirkan pada tahun


1789, sebagai wujud keberhasilan revolusi kewarganegaraan yang bebas dari
kekangan kekuasaan penguasa tunggal negara tersebut. Di Indonesia sering
dipergunakan istilah hak dasar manusia. Dalam sejumlah peraturan
perundang-undangan(UU), contohnya dalam konstitusi Republik Indonesia
Serikat(RIS) Nomor XIV/MPRS/1966 baahkan dalam ketetapan MPR No.
II/MPR/1978 mengenai pedoman penghayatan dan pengalaman pancasila(Eka
Prasetya Pancaksrsa), digunakan istilah : Hak-Hak Asasi Manusia/HAM.
Pengertian HAM tersebut adalah hak yang melekat pada martabat
manusia yang melekat padanya sebagai insan ciptaan Allah YME atau hakhak dasar yang prinsip sebagai anugerah Illahi. Berarti Hak Asasi
Manusia(HAM) merupakan hak-hak yang dimiliki manusia berdasarkan
kodratnya, yang tidak dapat dipisahkan dari hakikat manusia itu sendiri. Oleh
kaena itu HAM bersifat luhur dan suci.

B. Konsep HAM
Hak Asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia
sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak dapat diganggu gugat
keberadaannya. Hak-hak tersebut telah dibawa sejak lahir dan melekat pada
diri manusia sebagai makhluk Tuhan. Setiap manusia memiliki derajat dan
martabat yang sama . Pada masa yang lalu, manusia belum mengakui akan
adanya derajat manusia yang lain sehingga mengakibatkan terjadinya
penindasan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Contoh yang
paling kongkret dapat dilihat pada penjajahan dari satu bangsa ke bangsa yang
lain. Indonesia yang dijajah dengan sangat tidak berperikemanusiaan oleh
kaum kolonialisme dengan menindas, dan menyengsarakan bangsa ini.
Sehingga, dilakukan perjuangan terus menerus untuk tetap mempertahankan
hak asasi manusia yang dimilikinya.
Jika berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia, dinyatakan bahwa hak asasi manusia adalah seperangkat hak
yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan
Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara hukum, pemerintahan, dan
setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia. Hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 39
Tahun 1999, adalah:
1. Hak untuk hidup,
2. Hak untuk berkeluarga,
3. Hak mengembangkan diri,
4. Hak keadilan,

5. Hak kemerdekaan,
6. Hak berkomunikasi,
7. Hak keamanan,
8. Hak kesejahteraan, dan
9. Hak perlindungan
Ciri pokok dari hakikat hak asasi manusia adalah
1. Hak asasi manusia tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. Hak
asasi manusia adalah bagian dari manusia secara otomatis
2. Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis
kelamin, asal usul, ras, agama, etnik, dan pandangan politik.
3. Hak asasi manusia tidak boleh dilanggar. Tidak seorang pun mempunyai
hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap memiliki
hak asasi manusia meskipun sebuah negara membuat hukum yang tidak
melindungi bahkan melanggar hak asasi manusia.
Hak asasi manusia atau biasa disingkat HAM merupakan sebuah hal
yang menjadi keharusan dari sebuah negara untuk menjaminnya dalam
konstitusinya. Melalui Deklarasi Universal HAM 10 desember 1948
merupakan tonggak bersejarah berlakunya penjaminan hak mengenai manusia
sebagai manusia. Naskah tersebut meruakan pernyataan sedunia tentang hakhak asasi manusia, sehingga tanggal 10 Desmber sering diperingati sebagai
hari hak asasi manusia. Isi pokok deklarasi tersebut tertuang pada Pasal 1
yang menyatakan bahwa Sekalian orang dilahirkan merdeka dan
mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan
budi, hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan. Hak- hak

yang diatur menurut Piagam PBB tentang deklarasi Universal Human Rights
1948 itu adalah:
1. Hak berpikir dan mengeluarkan pendapat,
2. Hak memiliki sesuatu,
3. Hak mendapatkan aliran kepercayaan atau agama
4. Hak untuk hidup,
5. Hak untuk kemerdekaan hidup,
6. Hak untuk memperoleh nama baik,
7. Hak untuk memperoleh pekerjaan,
8. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.
2.3 Fungsi dan Tujuan Badan HAM
A. KOMNAS HAM PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA
Sebagai lembaga yang bergerak di issue anak, Komnas PA memiliki tugas sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.

Melaksanakan mandate/kebijakan yang ditetapkan oleh Forum Nasional


Perlindungan Anak;
Menjabarkan Agenda Perlindungan Anak dalam Program Tahunan.
Membentuk dan memperkuat jaringan kerjasama dalam upaya perlindungan

anak, baik dengan LSM, masyarakat madani, instansi pemerintah, maupun


5. Lembaga internasional, pemerintah dan non-pemerintah;
6. Menggali sumber daya dan dana yang dapat membantu peningkatan upaya
perlindungan anak; serta
7. Melaksanakan administrasi perkantoran dan kepegawaian untuk menunjang
kinerja Lembaga Perlindungan Anak.

Sebagai lembaga yang bergerak di issue anak, Komnas PA memiliki fungsi sebagai
berikut :
1.

Melakukan pengumpulan data,informasi dan investigasi terhada pelanggaran hak

anak
2.

Melakukan kajian hukum dan kebijakan regional dan nasional yang tidak

memihak pada kepentingan terbaik anak


3. Memberikan penilaian dan pendapat kepada pemerintah dalam rangka
mengintegrasikan hak-hak anak dalam setiap kebijakan
4. Memberikan pendapat dan laporan independen tentang hukum dan kebijakan
berkaitan dengan anak
5. Menyebarluaskan, publikasi dan sosialisasi tentang hak-hak anak dan
situasi anak di Indonesia
6. Menyampaikan pendapat dan usulan tentang pemantauan pemajuan dan kemajuan,
dan perlindungan hak anak kepada parlemen, pemerintah dan lembaga terkait
7. Mempunyai mandat untuk membuat laporan alternatif kemajuan perlindungan anak
di tingkat nasional
8. Melakukan perlindungan khusus.
B. KOMISI ANTI KEKERASAN TERHADAPPEREMPUAN ATAU KOMISI
NASIONAL (KOMNAS) PEREMPUAN
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Atau Komisi Nasional
(Komnas) Perempuan. Adalah lembaga independen di Indonesia yang dibentu sebagai
mekanismenasional untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan. Komisi
Nasional ini didirikan pada tanggal 15 Oktober 1998 berdasarkan Keputusan Presiden
No.181/1998.

Tugas dan Wewenang Komnas Perempuan adalah :


1. Menjadi pusat sumber (informasi) tentang hak asasi perempuan sebagai HAM dan
kekerasan terhadap perempuan sebagai pelanggaran HAM
2. Menjadi negoisator dan mediator antara pemerintah dan komunitas korban dan
komunitas pejuang hak asasi perempuan,dengan menitikberatkan kepentingan korban
3. Menjadi inisiator perubahan serta perumusan kebijakan, termasuk perangkat dan
sistem hukum serta sistem dan kapasitas penanganan / pelayanan bagi korban yang
memberi perlindungan, pemenuhan dan pemajuan hak-hak perempuan
4. Pemantau dan pelapor tentang pelanggaran HAM, berbasis jender secara berkala
dengan bekerja sama dengan institusi-institusi HAM lainnya
5. Menjadi fasilitator pengembangan dan penguatan jaringan di tingkat lokal, nasional
dan internasional untuk kepentingan pencegahan, peningkatan kapasitas penanganan
dan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Fungsi :
1. Meningkatkan pencegahan kekerasan terhadap Perempuan
2. Meningkatkan kesadaran publik untuk pemenuhan tanggung jawab negara dalam
bentuk penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan
B. KKRN
Tugas :
1. membentuk KKRN Propinsi
2. menerbitkan buku putih (visi,misi, program kerja) dan segera mensosialisasikannya
3. menerima laporan dan melakukan inventarisasi semua kejadian pelanggaran HAM
4. menyusun skala prioritas penanganan kasus pelanggaran HAM berat

5. merumuskan kompensasi danrehabilitasi terhadap korban


6. merumuskan upaya rekonsiliasi yg kondusif dan berkesinambungan
7. melakukan prediksi ke depan akan kemungkinan terjadinya konflik di masyarakat
yang mengarah pada pelanggaran HAM dan upaya pencegahannya
Fungsi :
1. membantu pemerintah mengungkap hal terjadinya konflik dan kemungkinan
terjadinya pelanggaran HAM
2. membantu pemerintah membangun rekonsiliasi di masyarakat, baik secara sosial horizontal maupun struktural-vertikal
C. PENGADILAN HAM
Merupakan pengadilan khusus di lingkungan pengadilan umum dikabupaten
atau kota yang secara khusus menangani kasus pelanggaran HAM berat seperti
genosida (pemusnahan missal terhadap suatu ras, etnis, bangsa atau agama
tertentu)dan kejahatan terhadap kemanusiaan, seperti pembunuhan, pemusnahan,
pengusiran, perkosaan, pemaksaan pemandulan,peganiayaan, penculikan, kejahatan
apartheid

(penindasan

dan

dominasiterhadap

suatu

kelompok

rasdemi

mempertahankan kekuasaan) dan lain-lain (menurut UU No. 26 tahun 2000tentang


Pengadilan HAM).Dikenal juga pengadilan HAM adhoc yang menyelesaikan kasus
pelanggaran HAM yang terjadi sebelum UU HAM lahir (menganut asas retroaktif
atau berlaku surut).

2.4 Implementasi HAM dalam Segala Aspek Kehidupan


Implementasi HAM dalam dinamika kehidupan tersebut sangat luas dan dapat
dikelompokkan ke dalam bidang kehidupan pribadi, hukum, politik, sosial budaya,
ekonomi, dan karya intelektual.
Implementasi HAM dalam berbagai bidang kehidupan perlu memperhatikan
berbagai pertimbangan sebagai berikut:
a. sistem nilai dan norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara agar
kehidupan seseorang menjadi bermakna,
b. sistem filsafat dan dasar negara agar implementasi HAM tidak mengganggu
kehidupan negara,
c. agama agar HAM semakin meningkatkan kualitas kehidupan religius
seseorang
d. adat dan kebudayaan agar implementasi HAM tidak terasing dari kehidupan
masyarakat,
e. hukum agar implementasi HAM dalam kehidupan tidak mengganggu
ketertiban masyarakat.
Pada sub unit ini anda dapat mempelajari tentang implementasi HAM dalam
bidang kehidupan pribadi, hukum dan bidang politik. Bidang lainnya akan dapat anda
pelajari melalui sub unit berikutnya. Kompetensi yang diharapkan adalah anda
mampu: (a) menganalisis implementasi HAM dalam kehidupan pribadi, (b)
menganalisis HAM dalam bidang hukum, (c) menganalisis HAM dalam kehidupan
politik.

I. Implementasi HAM dalam Kehidupan Pribadi


Setiap manusia dilahirkan dalam suatu keluarga dan menjadi bagian utuh dari
keluarga tersebut. Keluarga juga menjadi bagian utuh dari suatu masyarakat.
Seterusnya, masyarakat juga bagian integral dari suatu bangsa atau negara. Individu
sebagai pribadi tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Namun demikian,
perkembangannya tersebut juga ditentukan oleh faktor bawaan berupa minat, bakat
dan selera. Perkembangan pribadi berada dalam antar aksi individu yang dipengaruh
berbagai faktor, terutama faktor alamiah, dan sosial budaya. Karenanya, perembangan
dan minat pribadi dapat berbeda-beda.
Setiap orang suka musik sesuai dengan yang diminatinya. Aada yang suka
musik klasik, tradisional, pop, rap, dangdut, jazz, keroncong, country, musik Barat
maupun musik Indonesia. Ketika seseorang menyukai dan menikmati salah satu
musik tertentu, maka cara menikmati musik tersebut harus tidak melanggar atau
mengganggu kebebasan orang lain. Sebab setiap orang mempunyai kebebasan.
Dikatakan bebas karena ia bebas dari tekanandan ancaman pihak lainnya. Selain itu ia
juga bebas melakukan sesuatu yang disukainya. Kebebasan atau kemerdekaan
dilindungi hukum dan undang-undang (pasal 28 dan 28 E ayat 3).
Kebebasan untuk berekspresi diri sesuai dengan yang diminatinya perlu
memperhatikan hak kebebasan orang lain. Suatu komunitas penggemar motor gede
(moge) ketika berkumpul dan konvoi di jalan raya perlu memperhatikan para
pengguna jalan lainnya sehingga kebebasan dan kenyamanan setiap pengguna jalan
tetap dilindung. Pada gambar di bawah ini dapat diketahui bahwa penggemar moge
tersebut menutup jalan tanpa memperhatikan pengguna jalan lainnya. Masing-masing
pengendara dengan atribut dan identitasnya show of force seakan-akan masyarakat
pelu mengetahui eksistensi komunitas penggemar moge dalam masyarakat. Hak
siapa yang dilanggar oleh penggemar moge tersebut?

Implementasi HAM dalam kehidupan pribadi agar tidak bertentangan atau


melanggar hak orang lain perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. kebebasan orang lain agar tidak terjadi pelanggaran terhadap kebebasan antar
pribadi
b. tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat
dan kebudayaan bangsa karena akan mengingkari kodratnya sebagai makhluk
sosial yang berbudaya
c. tidak bertentangan dengan peraturan hukum dan undang-undang yang berlaku
sebab akan mengganggu ketertiban umum dan keadilan
d. tidak bertentangan dengan negara karena akan menimbulkan perpecahan
bangsa dan negara
e. tidak bertentangan dengan agama yang dianut dan semangat keagamaan
masyarakat.
f. Penerapan hak asasi harus meningkatkan harkat dan martabat mnusia, dan
bukan sebaliknya malahan merendahkan derajatnya.
Tuntutan terhadap HAM sering dikacaukan dengan kebebasan yang tiada
batasnya. Memang, HAM itu universal dan tidak boleh dilanggar oleh siapapun juga
tetapi dalam penerapannya harus sesuai dengan pandangan hidup bangsa yang
bersangkutan. Di balik kebebasan seseorang itu ada kebebasan orang lain yang juga
harus dihormati dan tidak boleh dilanggar. Di situ ada hak maka di sisi lain ada
kewajiban untuk memberikan hak orang lain.
Manusia sebagai individu memiliki hak-hak pribadi yang tidak boleh
dilanggar oleh siapapun juga, termasuk negara. Bahkan hak pribadi tersebut harus
dijamin dan dilindungi serta dikembangkan sesuai dengan harkat dan martabatnya
sebagai manusia. Menurut UUD 1945 dan UU Nomor 39 tahun 1999, hak pribadi
tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

hak hidup,
hak kebebasan beragama,
hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
hak berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat
hak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar
hak memperoleh pendidikan dan ipteks
hak untuk memperoleh perlindungan hukum dan kewarganegaraan

h. hak atas pekerjaan yang layak


i. hak untuk bebas dari penyiksaan yang merendahkan derajat manusia dan
ancaman ketakutan untuk berbuat sesuatu, termasuk di dalamnya hak untuk
bebas dari tindak kekerasan dalam rumah tangga
j. hak tempat tinggal dan layanan kesehatan
k. hak milik artinya setiap orang berhak mempunyai milik baik sendiri maupun
bersama-sama dengan orang lain demi pengembangan diri, keluarga, bangsa,
dan masyarakatnya dengan cara tidak melawan hukum. Tidak seorangpun
dapat dirampas hak miliknya dengan sewenang-wenang dan secara melawan
hukum. Namun demikian hak milik tersebut berfungsi sosial
l. hak tidak diperbudak
m. hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif
II. Implementasi HAM dalam Kehidupan Hukum
Menurut UUD 1945 pasal 1 ayat 3, negara Indonesia adalah negara hukum. Implikasi
dari pasal ini adalah setiap warga negara dan penyelenggara wajib tunduk dan patuh pada
hukum. Penyelesaian masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara wajib dilakukan
menurut hukum. Penyelesaian secara hukum itu merupakan perwujudan dari supremasi
hukum. Dengan konsep ini maka Indonesia menganut teori rechstaats atau rule of law. Ciri
rechstaats negara hukum adalah sebagai berikut:
a. adanya perlindungan HAM
b. adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan negara untuk menjamin perlindungan
HAM
c. pemerintahan berdasarkan peraturan
d. adanya peradilan administrasi.
Konsep rechstaats hampir sama dengan konsep the rule of law. Menurut Wiyono
(2006), unsur-unsur yang harus ada pada negara yang menganut the rule of law adalah
sebagai berikut:
a. adanya supremasi aturan-aturan
b. adanya kesamaan kedudukan di depan hukum
c. adanya jaminan perlindungan HAM
Implementasi konsep rechstaats atau rule of law dalam kehidupan negara Indonesia
berdasarkan Pancasila diuraikan oleh Hadjon (1987) sebagai berikut:

a. keserasian hubungan antara pemerintah dan rakyat berdasarkan rakyat berdasarkan


kerukunan
b. hubungan fungsional yang proporsional antara kekuasaan-kekuasaan negara
c. prinsip penyelesaian sengketa secara musyawarah dan peradilan merupakan sarana
terakhir jika musyawarah itu gagal
d. keseimbangan anntara hak dan kewajiban
Implementasi HAM di dalam hukum ditunjukkan adanya pengakuan hak atas
persamaan di depan hukum atau perlindungan yang sama oleh hukum. Asas persamaan di
depan hukum ini menjadi landasan pokok masyarakat yang adil dan demokratis. Setiap
orang, baik kaya atau miskin, anggota mayoritas atau minoritas etnik, mayoritas atau
minoritas

agama, penguasa atau oposisi, kesemuanya berhak mendapat perlindungan yang

sama di depan hukum. Tidak seorangpun dapat diperlakukan secara diskriminiatif di depan
hukum. Oleh karena itu harus ada sistem peradilan yang jujur dan terbuka.
Perlindungan yang sama di depan hukum membawa implikasi pada proses yang wajar.
Sebab ada kecenderungan bahwa orang yang menjalankan kekuasaan peradilan akan
menyalahgunakan kekuasaan. Atas nama negara banyak individu dipenjarakan, dirampas
kebebasan dan hartanya, bahkan dihukum mati tanpa dikenai dengan tuduhan resmi dan
disertai bukti-bukti yang cukup. Jika ada tuduhan terhadap seseorang telah melakukan tindak
pidana, maka selama belum ada keputusan hakim atau hukum dari pengadilan yang
mempunyai kekuatan hukum yang tetap, ia harus dianggap sebagai orang yang tidak bersalah
(presumption innocense). Ia harus diperlakukan sama dan tidak disiksa. Ia tetap diperlakukan
secara sama dan manusiawi. Penegak hukum tidak boleh melakukan penahanan terhadap
seseorang tanpa tunduhan resmi yang jelas, apalagi menggunakan cara-cara penyiksaan fisik
dan psikologis untuk melakukan mendapatkan keterangan. Memang, setiap negara manapun
di dunia mempunyai tugas dan tanggung jawab menjaga ketertiban masyarakat. Tetapi,
prosedur dan aturan yang digunakan oleh negara untuk menjaga ketertiban masyarakat
tersebut tidak boleh sewenang-wenang melainkan harus sesuai dengan hukum yang adil. Apa
saja syarat adanya proses hukum yang wajar dan adil itu? Suatu proses hukum dikatakan
wajar apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
a. hukum tidak berlaku surut artinya hukum itu tidak diberlakukan kepada para pelaku
pelanggaran hukum sebelum aturan hukum itu dibuat dan ditetapkan secara sah.
b. tidak seorangpun dapat dituduh dua kali melakukan tindak kejahatan yang sama

c. seseorang dianggap tidak bersalah selama belum ada keputusan hakim yang
mempunyai kekuatan hukum yang tetap, presumtion of innosence.
d. semua orang diperlakukan sama di depan hukum, artinya tidak ada diskriminasi di
dalam proses hukum
e. proses hukum yang dilakukan sesuai dengan keadilan hukum dan keadilan
masyarakat.
f. setiap orang tidak boleh dihukum tanpa ada ketentuan hukum yang berlaku
g. setiap orang berhak didampingi pembela di dalam proses peradilan, mulai dari
pemeriksaan sampai dengan keputusan pengadilan yang memiliki kekuatan yang
tetap
Implementasi HAM didalam kehidupan hukum secara yuridis konstitusional telah diatur
di dalam UUD 1945. Sebagai hukum positif dan menjadi sumber hukum bagi peraturan
hukum di bawahnya, UUD 1945 telah meletakkan dasar-dasar implementasi HAM dalam
kehidupan hukum sekalipun masih bersifat umum.

III. Implementasi HAM dalam Kehidupan Politik


Di dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan. Penyelesaian masalah kehidupan
berbangsa dan bernegara dilakukan dengan permusyawaratan, artinya dibicarakan
oleh seluruh rakyat Indonesia. Proses pembahasannya dilakukan dengan hikmat yaitu
dilakukan dengan akal sehat atau rasional (benar) dan baik (moral dan etika). Atas
dasar itu maka negara Indonesia menganut teori kedaulatan rakyat, sebagaimana di
tegaskan di dalam pasal 1 ayat 2 kedaulatan di tangan rakyat dan dilaksanakan
sesuai dengan UUD. Atas dasar pasal ini maka sistem demokrasi yang dilakukan
adalah demokrasi konstitusional. Untuk menyalurkan aspirasi politik hanya dapat
dilakukan secara tertib dan berkeadilan dengan hukum dan konstitusi.
Implementasi HAM dalam bidang politik dijamin secara konstitusional.
Menurut pasal 28 UUD 1945 dikatakan bahwa kemerdekaan berserikat, berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan
UU. Lebih lanjut dijelaskan di dalam pasal 28 D ayat 3 dijelaskan bahwa setiap warga
negara berhak memperoleh kesempatan yang sama. Pasal 28 E ayat 3 menjelaskan
pula bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat berkumpul dan

mengeluarkan pendapat. Dari ketentuan pasal tersebut di atas maka dapat diketahui
bahwa impelmentasi HAM di dalam bidang politik perlu memperhatikan:
a. peraturan hukum yang berlaku sebagaimana dituangkan dalam UUD, UU, dan
PP serta peraturan pelaksanan lainnya agar hak-hak politik tidak dilanggar
oleh orang atau pihak lain
b. etika dan moral politik agar di dalam melaksanakan hak politik dilakukan
dengan baik dan bertanggungjawab
c. ajaran Tuhan sebagaimana diatur dalam agama yang diyakini sehingga
pelaksanaan hak politik itu dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa
d. budaya masyarakat Indonesia sehingga hak-hak politik dilakukan secara
santun dan bermartabat serta berkepribadian Indonesia
e. di dalam melaksanakan hak politik tetap perlu menjaga integritas nasional dan
tidak menimbulkan perpecahan nasional.
Hak-hak politik dimiliki setiap warga negara Indonesia. Hak politik tersebut
dijamin oleh UUD. Penyampaian aspirasi melalui demonstrasi dilakukan sesuai
dengan aturan hukum dan norma yang berlaku sehingga tertib dan santun. Dari
gambar di atas dapat dilihat bahwa polisi bertugas mengatur ketertiban sehingga
demonstrasi berjalan tertib dan aman. Para demonstran menyampaikan orasi aspirasi
korban bencana lumpur panas di Sidoarjo yang belum mendapat ganti rugi yang
memuaskan. Demonstrasi berlangsung secara damai dan tidak ada tindak kekerasan.
Bentuk-bentuk hak politik lainnya adalah sebagai berikut:
a. hak berserikat dan berkumpul dapat dilakukan melalui organisasi massa dan
politik. Untuk menyalurkan aspirasi politik setiap warga negara mempunyai
hak pilih dan dipilih melalui pemilu. Pemilu di Indonesia telah dilakukan pada
tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, dan 2004. Sejak tahun
2004 pemilihan umum untuk calon legislatif (DPR, DPD, DPRD) dan
pemilihan pasangan presiden dan wakil presiden dilakukan secara langsung
oleh rakyat. Hak politik rakyat sebagai wujud teori kedaulatan rakyat (pasal 1
ayat 2 UUD 1945) merupakan implementasi HAM di dalam bidang politik.

b. hak mengeluarkan pikiran secara lisan dan tulisan. Bentuknya dilakukan


melalui demonstrasi dan kebebasan pers untuk menyampaikan aspirasi
tentang hak-haknya yang dilanggar oleh orang lain
c. hak yang sama dalam pemerintahan dilakukan melalui hak ikut dalam
pemerintahan. Setiap orang berhak dipilih dan memilih wakil-wakilnya di
DPR, DPRD, DPD atau duduk dalam pemerintahan. Misalnya seseorang
mempunyai hak yang sama untuk menjadi presiden atau pegawai negeri sipil
atau yang lainnya. Ketentuan untuk menjadi presiden diatur dalam UUD 1945
pasal 4 sampai dengan 9.
d. mendirikan partai politik,

LSM

(lembaga

swadaya

masyarakat),

menyebarluaskan aspirasi dan nuraninya sesuai dengan nilai-nilai agama,


kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa (pasal 24 UU
No. 39 tahun 1999)
e. hak untuk mogok kerja untuk menuntut hak-haknya sebagai pekerja
f. hak memilih, memiliki, mengganti atau mempertahankan

status

kewarganegaraan sesuai dengan UU kewarganegaraan


g. hak berpindah kewarganegaraan sesuai dengan UU kewarganegaraan
h. setiap orang berhak untuk bebas memilih kewarganegaraannya dan tanpa
diskriminasi menikmati hak-hak yang bersumber dan melekat pada
kewarganegaraan serta wajib melaksanakan kewajibannya sebagai warga
negara sesuai dengan UU.
i. Setiap orang berhak mencari suaka politik untuk memperoleh perlindungan
politik dari negara lain.
IV. Implementasi HAM dalam Kehidupan Ekonomi
Setiap orang memiliki kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup tersebut hampir tak
terbatas, misal kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan rohani atau spiritual.
Mengingat kebutuhan hidup itu sangat banyak, sedangkan alat pemenuhannya
terbatas, maka orang melakukan tindakan ekonomi dengan bekerja. Dengan bekerja,
orang akan memperoleh penghasilan yang dapat dipakai sebagai sarana untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut.
Kegiatan ekonomi sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup merupakan
kegiatan yang sangat fundmental bagi kehidupan manusia. Bahkan, kegiatan ekonomi

itu dapat mensejahterakan dan sekaligus melahirkan sistem sosial dalam masyarakat.
Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa negara ini didirikan untuk memajukan
kesejahteraan umum. Supaya kesejahteraan umum itu dapat dirasakan secara adil dan
merata oleh seluruh rakyat, maka bumi, air, dan segala isinya dikuasai negara dan
dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia (pasal 33
UUD 1945 ayat 3). Dari ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan ekonomi
itu berpusat pada kegiatan kerakyatan.
Ekonomi kerakyatan tidak sama dengan ekonomi rakyat. Istilah ekonomi rakyat
mempunyai konotasi negatif dan diskriminatif (Mubyarto, 2000). Dikatakan negatif
karena ekonomi rakyat dilawankan dengan ekonomi konglomerat. Dikatakan
diskriminatif karena konsep tersebut dipandang memihak salah satu pelaku ekonomi,
yaitu rakyat kecil. Ekonomi kerakyatan merupakan aturan main berekonomi (sistem)
yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh anggota masyarakat
untuk menjalankan kegiatan ekonomi. Ketentuan pasal 33 UUD 1945 ayat (1)
menyebutkan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan. Artinya dalam menjalankan hak ekonomi tidak didasarkan atas
persaingan tetapi kerjasama saling menguntungkan. Sekarang ini hampir tidak ada
satu negara manapun di dunia yang hanya mengandalkan persaingan dan tidak
membutuhkan kerjasama internasional. Sebab setiap negara memiliki potensi yang
masing-masing yang berbeda.
Lebih lanjut ayat (2) menjelaskan bahwa cabang-cabang produksi yang penting
bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara. Indonesia
sebagai negara yang bertumpu pada ekonomi agribsinis memiliki potensi yang sangat
besar. Tanah yang luas dan subur dapat dijadikan lahan perkebunan yang produktif
menunjang ekonomi nasional. Wilayah lautan yang sangat luas dengan potensi
kekayaan hasil laut belum diekplorasi dan dieksploitasi untuk kesejahteraan bersama.
Ketentuan ayat (3) menjelaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasasi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Dari ketentuan ini dapat diketahui bahwa rakyat Indonesia
mempunyai hak untuk dapat menikmati semua kekayaan alam demi kesejahteraan

dan kemamuran. Atas dasr ini maka negara Indonesia menganut sistem negara
kesejahteraan (welfare state). Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas
demokrasi

ekonomi

dengan

prinsip

kebersamaan,

efisiensi,

berkeadilan,

berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan


kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Para pelaku ekonomi di dalam ketentuan
tersebut adalah masyarakat, swasta, dan pemerintah. Dalam menjalankan kegiatan
ekonomi perlu memperhatikan hak-hak para pelaku ekonomi. Hak tersebut adalah
kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi para pelaku ekonomi dalam menjalankan
kegiatannya. Efisiensi merupakan prinsip ekonomi modern dengan menggunakan
teknologi yaitu industri. Namun demikian, kegiatan industri dan ekonomi lainnya
harus mempertimbangkan tanggung jawab sosial. Ekonomi nasional akan semakin
mandiri berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan jika mempertimbangkan hak-hak
ekonomi bagi para pelaku eonomi.
Demokrasi ekonomi memberikan kesempatan yang sama kepada para pelaku
ekonomi untuk mengembangkan ekonomi nasional. Tujuannya untuk kesejahteraan
bersama (umum). Kesenjangan ekonomi harus dihapuskan karena akan menimbulkan
kesenjangan sosial dan politik yang akhirnya akan mengganggu kepentingan dan
integritas nasional.
Untuk membangkitkan kembali keeterpurukan ekonomi akibat krisis maka
diperlukan reformasi. Reformasi ekonomi menuju demokrasi ekonomi (Wahyoedi,
2004) yang sesuai dengan HAM perlu memperhatikan:
a. lebih menjamin pemerataan ekonomi
b. membela kepentingan rakyat banyak tidak hanya untuk sektor usaha UKM
dan koperasi, tetapi juga usaha swasta nasional dan BUMN
c. mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin
d. ekonomi yang berwawasan lingkungan demi kelangsungan hidup persaingan
dan kerjasama ekonomi baik lokal maupun global.
V. Implementasi HAM dalam Kehidupan Sosial Budaya
Kehidupan masyarakat merupakan wahana setiap orang untuk memenuhi
kebutuhan berinteraksi dengan sesamanya. Kebutuhan pribadi tidak akan dapat

dipenuhi tanpa bekerja sama dengan orang lain. Kebutuhan bersama yang harus
dipenuhi merupakan hak publik. Untuk memenuhi hak publik itu diperlukan sarana
atau fasilitas publik
1.
2.
3.
4.
5.

Layanan transportasi
layanan kesehatan (lingkungan sehat)
perumahan sehat
layanan pendidikan
kelestarian warisan budaya

Negara menjamin HAM dan berkewajiban memberikan perlindungan, penegakan


dan pemenuhan HAM. Untuk dapat menjamin HAM, negara dan pemerintah
bertanggungjawab terhadap pelaksanaan HAM sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku. Salah satu tujuan negara sebagaimana disebutkan dalam Pembukaan
UUD 1945 adalah memajukan kesejahteraan umum. Artinya, negara didirikan untuk
menjamin agar semua kebutuhan hidup jasmani dan rohani dapat dipenuhi bagi
rakyat banyak.
Upaya negara untuk memajukan masyarakat dan bangsa perlu memperhatikan
identitas budaya dan hak masyarakat tradisional, sebagaimana terdapat pada gambar
di atas. Simbol kesejahteraan berupa upacara adat gunungan di daerah Jogjakarta
menunjukkan bahwa masyarakat berhak untuk menikmati kesejahteraan tampak
pada saat masyarakat berebut gunungan sedangkan pemimpin dibawa ke alam illahi
(memimpin sesuai dengan aturan yang ditetapkan dan diridloi Tuhan. Masyarakat
adat dan lembaga adat juga masih terdapat di Padang, Sumatera Barat dan desa
Banjar di Bali. Hal ini sesuai dengan pasal 28 I ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi
identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban. Di dalam masyarakat dan lembaga adat itu
terdapat kearifan lokal dalam menyelesaikan kehidupan bersama.
Kebutuhan akan hidup sehat bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan makan
dan minum saja tetapi juga lingkungan hidup yang sehat. Lingkungan hidup yang
asri, sejuk, nyaman, dan aman sangat dibutuhkan sebagi hunian yang sehat.

Kesehatan lingkungan menjadi dambaan setiap masyarakat. Kondisi lingkungan yang


sehat dapat dilihat dari gambar di bawah ini.
Hak masyarakat untuk melestarikan budaya sebagaimana dijamin dalam pasal 28H
ayat 3 yang berbunyi bahwa identitas budaya dan hak masyarakat tradisional
dihormati selaras dengan perkembangan zaman. Identitas budaya tersebut
mencerminkan kepribadian suatu masyarakat. Di dalamnya terdapat suatu sistem nilai
yang diyakini kebenarannya dan menjadi pandangan hidup masyarakat. Kebudayaan
tradisional yang masih relevan dengan perkembangan zaman perlu dikembangkan
dan dilestarikan.
VI. Implementasi HAM dalam karya intelektual (HAKI)
Manusia dibekali dengan kemampuan rasio, cipta, rasa, dan karsa, serta
kebudayaan. Kemampuan tersebut membuat manusia mampu beradaptasi dan
beraktualisasi diri. Berbagai benda berupa barang atau jasa dibuat untuk bekal
beradaptasi dengan lingkungan. Misalnya, seseorang yang tinggal di pedesaan maka
ia akan mempertahankan hidupnya dengan beradaptasi dengan membuat berbagai
peralatan kebutuhan hidup sehari-hari di pedesaan. Orang tersebut membuat berbagai
peralatan rumah tangga dengan anyaman. Anyaman tersebut setelah mendapat
sentuhan seni akan menjadi karya seni yang tidak semua orang dapat melkukannya.
Untuk memenuhi kebutuhan makanan, orang membuat bahan lauk pauk dari berbagai
hasil tanaman seperti kedelai untuk dibuat menjadi tahu dan tempe. Karya tersebut
begitu banyak dijumpai di masyarakat sehingga menjadi milik masyarakat. Tidak
diketahui siapa pembuat pertama tempe dan tahu sehingga sampai sekarang belum
ada yang mengklaim dan mendaftarkan sebagai hail karya intelektual. Akibatnya,
produk barang ini sedkarang sudah diklaim sebagai karya intelektual orang Jepang.
Kerajinan batik di berbagai daerah di Indonesia, sampai sekarang juga belum
didaftarkan oleh orang atau lembaga sebagai hasil karya intelektual. Kerajinan batik
tersebut sudah merakyat di daerah Pekalongan, Jogya, Solo, Jawa Timur, Kalimantan,
dan lain sebagainya. Bangsa-bangsa lain banyak yang tertarik untuk mempelajari

kerajinan batik ini sehingga beberapa diantaranya bahkan sudah diklaim sebagai
karya intelektual.
Kemampuan manusia untuk membuat sesuatu yang baru menimbulkan banyak
temuan baru. Tamuan baru tersebut sebagai karya intelektual harus dilindungi karena
merupakan hak yang dimiliki seseorang dan orang lain tidak mampu membuatnya.
Temuan baru tersebut dapat merupa barang dan jasa hasil temuan ilmiah ataupun
temuan intelektual. Supaya tidak terjadi pembajakan yang merampas hak
intelektual orang lain maka diperlukan perlindungan hukum. Hak atas karya
intelektual bermacam-macam. Setiap produk baik bersifat konkrit maupun abstrak
sebagai karya intelektual harus dihormati dan dihargai. Beberapa karya intelektual
yang menjadi hak setiap pemiliknya adalah sebagai berikut.
1. Hak Cipta
Hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk
memngumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin unuk itu
dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menuut perundangan yang
berlaku. Siapa saja yang dapat dikatakan pencipta? Mereka ialah seseorang atau
beberapa orang secara bersama-sama dengan inspirasinya melahirkan suatu ciptaan
berdasarkan kemampuan imajinasi, pikiran, kecekatan, keterampilan atau keahlian
yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas atau bersifat pribadi. Ukuran suatu
ciptaan adalah didasarkan atas keaslian karya cipta tersebut. Apa saja ciptaan yang
dilindungi oleh UU No. 19 tahun 2002 tentang hak cipta? Ciptaan yang dilindungi
(UU No. 19 tahun 2002 pasal 12) adalah sebagai berikut:
1)

buku, program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang

2)
3)

diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain


ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu
alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu

4)
5)
6)

pengetahuan
lagu atau musik dengan atau tanpa teks
drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan pantomim
seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni

7)

kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan


arsiterktur

8)
9)
10)
11)

peta
seni batik, fotografi.
Sinematografi
Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, data base dan karya lain dari

12)

hasil pengalihwujudan (tidak mengurangi hak cipta atas ciptaan asli)


Semua ciptaan yang tidak atau belum diumumkan, tetapi sudahmerupakan
suatu bentuk kesatuan yang nyat yang memungkinkan perbanykan hasil
karya itu.

Apakah ada karya yang tidak dapat memiliki hak cipta? Karya-karya apa saja yang
tidak dikategorikan melanggar hak cipta tersebut? Beberapa karya yang tidak ada atau
tidak melanggar hak cipta adalah sebagai berikut:
1) hasil rapat terbuka lembaga-lembaga Negara
2) peraturan perundang-undangan
3) pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah
4) putusan pengadilan atau penetapan hakim
5) keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya.
6) pengumuman atau memperbanyak lambang negara dan lagu kebangsaan
7) pengumuman atau perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan pemerintah
kecuali memang yang sudah dilndungi undang-undang
8) pengambilan berita aktual baik seluruhnya atau sebagian dari lembaga penyiaran
atau surat kabar
Hak cipta yang dimiliki seseorang atau lembaga agar tidak dilanggar pihak lainnya
perlu dilindungi undang-undang.
2. Hak Paten
Peraturan perundangan yang mengatur hak atas karya intelektual tentang Paten
di Indonesia ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang
Paten. Menurut pasal 1 UU tersebut, paten adalah hak eksklusif yang diberikan
negara kepada inventor (penemu) atas hasil invensinya di bidang teknologi selama
waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya atau memberikan persetujuan
kepada pihak lain untuk melaksanakannya.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa paten adalah hak yang
dimiliki seseorang karena:
a.
b.
c.
d.
e.

hak ekslusif
hak ekslusif tersebut diberikan negara
orang menemukan sesuatu yang baru (invensi)
kegiatan penemuan itu dilakukan sendiri
mendapat persetujuan dari pihak inventor untuk melaksanakan kegiatan

penemuan
f. invensi dalam teknologi selama kurun waktu tertentu.
Berdasarkan pengertian paten tersebut di atas, dapat diketahui bahwa setiap
pemegang paten memiliki hak yang tidak boleh dilanggar pihak lainnya. Hak tersebut
adalah melarang pihak lain tanpa persetujuannya untuk membuat, menggunakan,
menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual
atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi paten. Di samping itu juga
melarang pihak lain tanpa persetujuannya menggunakan proses produksi yang diberi
paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana pada produk paten
tersebut di atas.
Bagaimana cara mengajukan hak paten? Paten dapat dimiliki dengan cara (pasal
15 - 44 UU Nomor 14 tahun 2001):
(1) paten diberikan atas dasar permohonan. Pemohonan tersebut memuat: (a) tanggal,
bulan, dan tahun permohonan, (b) alamat lengkap dan jelas dari pemohon, (c) nama
lengkap dan kewarganegaraan inventor, (d) nama dan alamat lengkap kuasa bila
permohonan diajukan melalui kuasa, (e) surat kuasa khusus bila diajukan melalui
kuasa, (f) pernyataan permohonan untuk diberi paten, (g) judul invensi, (h) klaim
yang terkandung dalam invensi.
(2) Permohonan dapat diajukan Pemohon atau Kuasanya yaitu konsultan Haki yang
terdaftar pada Direktorat Jenderal.
(3) setiap permohonan hanya diajukan untuk satu atau beberapa invensi yang merupakan
satu kesatuan invensi
(4) permohonan dikenai biaya yang harus dibayarkan keada Direktoral Jenderal

(5) permohonan disertai dengan pernyataan bukti cukup tentang invensinya, dapat berupa
gambar
(6) pemeriksaan substantif atas permohonan paten
(7) Direktorat Jenderal mengumumkan permohonan yang dinyatakan lengkap selama 30
hari sejak tanggal permohonan lengkap
(8) Pengumuman dilakukan dengan (a) dimuat dalam Berita Resmi Paten yang
diterbitkan Direktorat Jenderal, (b) sarana khusus yang disediakan Direktorat
Jenderal.
(9) Pengumuman permohonan dilakukan dengan mencantumkan:
a. nama dan kewarganegaraan inventor
b. nama dan alamat lengkap pemohon atau Kuasa
c. judul invensi
d. tanggal penerimaan
e. abstrak
f. klasifikasi abstrak
g. gambar jika ada,
h. nomor pengumuman
j. nomor permohonan.
(10) Direktorat Jenderal mengumumkan permohonan yang telah memenuhi syarat.
(11) Pengumuman Paten dilakukan segera setelah 18 hari sejak tanggal penerimaan dan
pengumamuman Paten sederhana segera setelah tiga bulan sejak tanggal penerimaan.
3. Hak atas Merek
Untuk memenuhi kebutuhan hidup yang hampir tak terbatas, manusi menciptakan
berbagai produk barang dan jasa. Produktivitas barang dan jasa itu bila dilakukan
secara manual maka hasilnya masih terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan
penerapan teknologi sehingga produksi barang dan jasa dapat dilakukan secara
massal. Perkembangan ipteks yang sangat cepat dan canggih menuntut produksi
barang dan jasa memperoleh perlindungan hukum. Barang dan jasa sebagai karya
manusia diberi penanda yang disebut merek.

Merek adalah tanda berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka,


susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya
pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Merek terdiri
dari tiga macam: (a) merek dagang yaitu merek yang digunakan pada baran-barang
yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau
badan hukum yang membedakan dengan barang sejenis lainnya, (b) merek kolektif
adalah merek yang digunakan pada barang dan jasa dengan karakteristik yang sama
yang diperdagangkan yang secara bersama-sama membedakan dengan barang yang
sejenis lainnya, (c) merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang
diperdagangkn seseorang atau badan hukum yang membedakan dengan jasa-jasa
sejenis lainnya (UU No.15 tahun 2001 pasal 5).
Hak atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik
merek yang terdaftar dalam daftar umum merek untuk jangka waktu tertentu dengan
menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk
menggunakannya. Apakah semua merek dapat didaftarkan kepada negara sehingga
memiliki hak atas merek tersebut? Tidak! Tidak semua merek dapat didaftarkan pada
negara. Merek tidak dapat didaftar apabila merek tersebut mengandung unsur-unsur
(UU No. 15 tahun 2001 pasal 5):
1. bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas
agama, kesusilaan atau ketertiban umum;
2. tidak memiliki daya pembeda;
3. telah menjadi milik umum;
4. merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang
dimohonkan pendaftarannya.
Jika anda memiliki barang dan jasa yang diperdagangkan, maka anda dapat
memberikan merek sebagai identitasnya. Adanya merek tersebut akan memberikan
tanda pengenal terhadap barang dan jasa yang anda miliki sehingga berbeda dengan
yang lain dan mudah dikenal oleh masyarakat. Apakah cara memiliki hak atas merek
itu sulit? Tidak sulit. Anda dapat mengajukan permohonan hak atas merek secara
tertulis kepada direktorat jenderal:
1) permohonan tertulis dengan mencantumkan:

a) tanggal, bulan, dan tahun


b) nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat pemohon
c) nama lengkap dan alamat Kuasa apabila permohonan diajukan melalui
kuasa, yaitu Konsultan Haki
d) nama negara dan tanggal permintaan merek yang pertama kali apabila
diajukan dengan hak prioritas
2) permohonan ditandatangani pemohon atau Kuasanya
3) permohonan dilampiri dengan bukti pembayaran biaya
4) pemohon terdiri atas satu aorang atau beberapa orang atau badan hukum
5) permohonan yang diajukan oleh beberapa orang cukup ditandangani salah satu
pemohon dengan

melampirkan persetujuan tertulis dari para pemohon yang

mewakilkan
6) permohonan yang diajukan dengan Kuasa, harus ditandatangani oleh oleh semua
pihak yang berhak atas merek tersebut.
Setelah permohonan tersebut di atas diajukan kepada Direktorat Jenderal, maka
akan dilakukan pemeriksaan kelengkapan persayaratan pendaftaran. Bila belum
lengkap, maka pemohon diminta melengkapinya paling lama dalam waktu dua bulan.
Apabila

persyaratannya

tidak

lengkap,

maka

Direktorat

Jenderal

akan

memberitahukan permohonan dapat ditarik kembali.


Setelah 30 hari penerimaan permohonan, Direktorat Jenderal akan melakukan
pemeriksaan substantif. Pemeriksa tersebut adalah pejabat yang karena keahliannya
diangkat oleh Menteri. Pemeriksa tersebut yang akan menentukan apakah
permohonan itu diterima atau ditolak. Bila ditolak, maka penolakan tersebut akan
diberitahukan kepada pemohon disertai dengan alasan penolakannya. Bila
permohonan disetujui maka akan diumumkan paling lama dalam 10 hari.
Pengumuman merek yang disetujui dalam permohonan akan didaftar oleh Direktorat
Jenderal dan diumumkan dalam Berita Resmi Merek atau sarana khusus lainnya
yang mudah dibaca masyarakat. Pengumuman dilakukan dengan mencantumkan:
a) nama dan alamat lengkap pemohon atau Kuasa
b) kelas dan jenis barang dan atau jasa bagi merek yang dimohonkan

c) tanggal penerimaan, nama negara dan tanggal penerimaaan yang diajukan


dengan hak prioritas
d) contoh merek, lengkap dengan spesifikasinya.
Masa berlaku merek selama 10 tahun dan dapat diperpanjang. Hak atas merek
ini dapat dialihkan kepada pihak lain karena pewarisan, wasiat, hibah, perjanjian, atau
sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pemegang merek dapat juga memberikan hak atas merek dengan perjanjian.
Pemberian hak tersebut dinamakan lisensi. Lisensi adalah pemberian hak merek
kepada pihak lain untuk memproduksi barang dan jasa sesuai aturan yang berlaku.
4.Hak atas Rahasia Dagang
Sebagai

negara

yang

sedang

tumbuh

industrinya,

Indonesia

perlu

mengupayakan persaingan yang sehat dan tangguh dalam dunia usaha. Untuk
memajukan industri agar memiliki daya kompetetif yang tinggi di dunia internasional,
perlu diciptakan iklim yang mendorong kreasi dan inovasi di kalangan masyarakat.
Caranya adalah dengan memberikan perlindungan hukum terhadap rahasia dagang.
Sebagai bagian dari hak karya intelektual, tidak semua temuan diungkapkan oleh
penemunya. Mereka ingin tetap menjaga kerahasiaan karya intelektualnya.
Kebutuhan akan perlindungan terhadap karya intelektual dalam bentuk rahasia
dagang tersebut merupakan salah satu bagian dari Agreement Establishing of The
World Trade Organization (Persetujuan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO).
Rahasia dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang
teknologi dan/ata bisnis, mempunyai nilai ekonomis karena berguna dalam kegiatan
usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia dagang (pasal 1 UU No. 30
tahun 2000). Rahasia dagang dapat diberikan kepada pihak lain dalam bentuk lisensi.
Lisensi ini merupakan izin yang diberikan kepada pihak lain untuk menikmati
manfaat ekonomi dari suatu rahasia dagang melalui perjanjian. Pemberiuan lisensi ini
tidak dimaksudkan sebagai pengalihan hak tetapi hanya pemberian hak berupa izin
memanfaatkan nilai ekonomis rahasia dagang.
Rahasia dagang memperoleh perlindungan apabila informasi bersifat rahasia
dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan tidak dapat diketahui umum.

Informasi dikatakan memiliki nilai ekonomis jika informasi tersebut dapat digunakan
untuk menjalankan kegiatan usaha yangbersifat komersial atau mendapatkan
keuntungan. Informasi tersebut dianggap dijaga kerahasiaannya apabila pemilik telah
melakukan langkah-langkah yang layak dan patut. (pasal 3 UU No. 30 tahun 2000).
Ruang lingkup rahasia dagang yang memperoleh perlindungan dari negara adalah:
a.
b.
c.
d.

metode produksi
metode pengolahan
metode penjualan atau marketing
atau metode lain di bidang teknologi dan/atau bisnis yang mempunyai nilai
ekonomi yang tinggi, misalnya sofware, mesin pengupas kacang tanah,
perdagangan waralaba dan lain sebagainya.

Apa saja hak yang dimiliki oleh pemilik rahasia dagang? Setiap pemilik rahasia
dagang memiliki hak: (a) menggunakan sendiri rahasia dagang yang dimilikinya, (b)
memberikan lisensi kepada pihak lain, (c) melarang pihak lain menggunakan lisensi
rahasia dagang tanpa izin, (d) mengungkapkan rahasia dagang kepada pihak ketiga
untuk tujuan komersial.
Bagaimana cara pengalihan hak dan lisensi rahasia dagang? Hak atau lisensi
rahasia dagang dapat dialihkan jika tidak menimbulkan akibat hukum pada pihak
ketiga dan dilakukan dengan dokumen pengalihan hak yang sah. Cara pengalihan hak
tersebut dapat melalui:
1)
2)
3)
4)
5)

pewarisan
hibah
wasiat
perjanjian tertulis
sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundangan, misalnya putusan
pengadilan tentang kepailitan.

Seseorang atau pihak lain dapat melakukan pelanggaran rahasia dagang apabila
mengungkapkan rahasia dagang, mengingkari kesepakatan,

atau mengingkari

kewajiban tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga rahasia dangan yang
bersangkutan. Perbuatan pengungkapan rahasia dagang tersebut dianggap tidak
melanggar apabila: (a) untuk alasan pertahanan dan keamanan negara, (b) kesehatan,
(c) atau keselamatan masyarakat, (d) rekayasa produk atas penggunaan rahasia

dagang semata-mata untuk kepentingan pengembangan produk lebih lanjut (pasal 15


UU No. 30 tahun 2000).
Pelanggaran atas rahasia dagang termasuk delik aduan dan akan dikenai dengan
hukuman pidana. Apabila seseorang atau pihak lain melakukan pelanggaran rahasia
dagang makan akan dikenai pidana penjara paling lama 2 tahun dan atau denda paling
banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
5.Hak atas Desain Industri
Industri merupakan kegiatan eknomi yang memanfaatkan teknologi dalam
memproduksi barang dan jasa secara massal. Penerapan teknologi tersebut
mengakibatkan proses industri menjadi sangat efisien dan kompetetif. Suatu produk
barang dan jasa dibuat dengan desain khusus sehingga produk tersebut menjadi
menarik dan diminati masyarakat konsumen. Menurut UU No. 31 Tahun 2000,
desain industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi garis atau warna atau
keduanya yang dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk barang, komoditas
industri dan kerajinan tangan. Misalnya, desain industri batik memiliki hak karya
intelektual yang tidak boleh dijiplak oleh orang lain. Hak desain industri dapat
dimiliki oleh setiap orang yang memiliki karya intelektual. Hak desain industri
diberikan secara eksekutif kepada setiap orang yang memiliki kekayaan intelektual.

2.5 Macam-macam HAM


A. Hak Asasi Pribadi (Perseonal Rights)
Hak Asasi Pribadi adalah hak yang meliputi kebebasan menyatakan pendapat,
kebebasan memeluk agama, kebebasan bergerak, kebabasan dalam untuk aktif setiap
organisasi atau perkumpulan dan sebagainya.
Contohnya :

Hak Kebebasan dalam mengutarakan atau menyampaikan pendapat.

Hak Kebebasan dalam menjalankan kepercayaan dan memeluk atau memilih


agama.

Hak Kebabasan dalam berpergian, berkunjung, dan berpindah-pindah tempat.

Hak Kebabasan dalam memilih, menentukan organisasi dan aktif dalam


organisasi tersebut.

B. Hak Asasi Ekonomi (Property Rights)


Hak Asasi Ekonomi adalah Hak untuk memiliki, membeli dan menjual, serta
memanfaatkan sesuatu.
Contohnya :

Hak Asasi Ekonomi tentang kebebasan dalam membeli.

Hak Asasi Ekonomi tentang kebebasan dalam mengadakan dan melakukan


perjanjian Kontrak

Hak Asasi Ekonomi tentang kebebasan dalam memiliki sesuatu

Hak Asasi Ekonomi tentang kebabasan dalam memiliki pekerjaan yang layak.

Hak Asasi Ekonomi tentang kebabasan dalam melakukan transaksi

Hak Asasi Ekonomi dalam bekerja

C. Hak Asasi Politik (Politik Rights)


Hak Asasi Politik adalah hak ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih maksunya hak
untuk dipilih contohnya : mencalonkan sebagai Bupati , dan memilih dalam suatu
pemilu contohnya memilih Bupati atau Presiden), hak untuk mendirikan parpol, dan
sebagainya.
Contohnya :

Hak Asasi Politik dalam memilih dalam suatu pemilihan contohnya pemilihan
presiden dan kepala daerah

Hak Asasi Politik dalam Dipilih dalam pemilihan contohnya pemilihan bupati
atau presiden

Hak Asasi Politik tentang kebebasan ikut serta dalam kegiatan pemerintahan

Hak Asasi Politik dalam mendirikan partai politik

Hak Asasi Politik dalam membuat organisasi-organisasi pada bidang politik

Hak Asasi Politik dalam memberikan usulan-usulan atau pendapat yang


berupa usulan petisi

D. Hak Asasi Hukum (Rights Of Legal Equality)


Hak Asasi Hukum adalah hak untuk mendapatkan perlakukan yang sama dalam
hukum dan pemerintahan.
Contohnya :

Hak dalam mendapatkan layanan dan perlindungan hukum

Hak dalam mendapatkan dan memiliki pembelaan hukum pada peradilan.

Hak yang sama dalam proses hukum

Hak dalam perlakuan yang adil atau sama dalam hukum

E. Hak Asasi Sosial dan Budaya (Social and Culture Rights)


Hak Asasi Sosial dan Budaya adalah hak yang menyangkut dalam masyarkat yakni
untuk memilih pendidikan, hak untuk mengembangkan kebudayaan dan sebagainya.
Contohnya :

Hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak

Hak untuk mendapat pelajaran

Hak untuk memilih, menentukan pendidikan

Hak untuk mengembangkan bakat dan minat

Hak untuk mengembangkan Hobi

Hak untuk berkreasi

F. Hak Asasi Peradilan (Procedural Rights)


Hak Asasi Peradilan adalah hak untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan
dan perlindungan (procedural rights), misalnya peraturan dalam hal penahanan,
penangkapan dan penggeledahan.
Contohnya :

Hak mendapatkan perlakukan yang adil dalam hukum

Hak mendapatkan pembelaan dalam hukum

Hak untuk mendapatkan hal yang sama dalam berlangsungnya proses hukum
baik itu penyelidikan, penggeledahan, penangkapan, dan penahanan.

2.6 Pandangan HAM


1. Pandangan Bangsa Indonesia terhadap HAM
Dalam Ketetapan MPR No XVII/MPR/1998 dijelaskan mengenai pandangan Bangsa
Indonesia terhadap HAM, sebagai berikut :
1. Manusia sebagai makhluk Tuhan YME dianugerahi hak asasi tanpa perbedaan
2. Bangsa Indonesia menjunjung tinggi dan menerapkan HAM sesuai dengan
Pancasila
3. Hak tidak terlepas dari kewajiban
4. Bangsa Indonesia menghormati deklarasi HAM PBB 1948
5. HAM adalah hak anugerah Tuhan YME, yang melekat pada diri manusia,
bersifat kodrati, universal, dan abadi berkaitan dengan harkat dan martabat
manusia
Pengakuan bangsa Indonesia terhadap HAM nampak pada UUD 1945 yaitu pada :
1. Pembukaan UUD 1945 alinea I yang berbunyi : Bahwa sesungguhnya
kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa.. artinya adanya hak untuk
merdeka atau kebebasan
2. Pembukaan UUD 1945 alinea IV, yaitu sila II Pancasila : Kemanusiaan yang
adil dan beradab, merupakan landasan idiil HAM di Indonesia
3. Pasal 27 s.d. 34 pada hakikatnya adalah HAM
4. Pasal 28A s.d. 28J mencantumkan rumusan HAM
2. Pandangan Islam Terhadap Hak Asasi Manusia
Islam sebagai agama dengan ajarannya yang universal dan konprehensif
meliputi akidah, ibadah, muammalah dan akhlak yang masing-masing memuat
ajaran tentang keimanan.dimensi ibadah memuat ajaran tentang mekanisme
pengabdian manusia kepada Allah dengan memuat ajaran tentang hubungan manusia
dengan sesama manusia maupun dengan alam sekitar. Kesemua dimensi ajaran
tersebut dilandasi oleh ketentuan-ketentuan yang disebut dengan istilah syariatatau
fikih.Dalam konteks syariat dan fikih itulah terdapat ajaran tentang hak asasi
manusia (HAM).
Adanya ajaran tentang HAM dalamIslam menunjukkan bahwa Islam sebagai
agama telah menempatkan manusia sebagai mahluk terhormat dan mulia.Karena itu

perlindungan dan penghormatan terhadap manusia merupakan tuntutan dan ajaran


Islam itu sendiri yang wajib dilaksanakan oleh umatnya terhadap sesama manusia
tanpa kecuali.
Menurut Abul Ala Al-Maududi, HAM adalah hak kodrati yang
dianugerahkan Allah SWT. Kepada setiap manusia dan tidak dapat dicabut atau
dikurangi oleh kekauasaan atau badan apapun.Hak-hak yang diberikan Allah itu
bersifat permanen, kekal dan abadi, tidak boleh diubah atau dimodifikasi.(Abul Ala
Al-Maududi 1998).
Dalam Islam terdapat dua konsep tentang hak, yakni hak manusia (haq alinsan) dan hak Allah (haqullah). Setiap hak itu saling melandasi satu sama lain. Hak
Allah melandasi hak manusia dan juga sebaliknya. Dalam aplikasinya, tidak ada
satupun hak yang terlepas dari kedua hak tersebut, misalnya, shalat, manusia tidak
perlu campur tangan untuk memaksakan seseorang mau shalat atau tidak, karena
shalat merupakan hak Allah, maka tidak ada kekuatan duniawi apakah itu negara,
organisasi ataupun teman yang berhak mendesak seseorang untuk melakukan shalat.
Shalat merupakan urusan pribadi yang bersangkutan dengan Allah, meskipun
demikian dalam shalat itu ada hak individu manusia yaitu berbuat kedamaian antar
sesamanya.
Sementara itu dalam hak al-Insane seperti hak kepemilikan, setiap manusia
berhak untuk mengelola harta yang dimikinya, namun demikian pada hak manusia itu
tetap ada hak Allah yang mendasarinya.Konsekwensinya adalah bahwa meskipun
seseorang berhak memanfaatkan benda miliknya, tetapi tidak boleh menggunakan
harta miliknya itu untuk tujuan yang bertentangan dengan ajaran Allah.Jadi sebagai
pemilik hak, diakui dan dilindungi dalam penggunaan haknya, namun tidak boleh
melanggar hak mutlak (hak Allah).Kepemilikan hak pada manusia bersifat relatif,
sementara pemilik hak yang absolut hanyalah Allah.
Konsep Islam mengenai kehidupan manusia didasarkan pada pendekatan
theo-sentris (theocentries) atau yang menempatkan Allah melalui ketentuan
syariatnya sebagai tolok ukur tentang baik-buruk tatanan kehidupan manusia baik
sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat atau warga bangsa.Dengan

demikian konsep Islam tentang HAM berpijak pada ajaran tauhid.Konsep tauhid
mengandung ide persamaan dan persaudaraan manusia.Konsep tauhid juga mencakup
ide parsamaan dan persatuan semua mahluk yang oleh Harun Nasution dan Bakhtiar
Efendi disebut dengan ide peri kemahlukan.Peri kemahlukan memuat nilai-nilai
kemanusiaan dalam arti sempit.Ide Peri Kemahlukan mengandung makna bahwa
manusia tidak boleh sewenang-wenang terhadap sesama mahluk termasuk juga pada
binatang dan alam sekitar.
HAM dalam Islam sebenarnya bukan barang asing, kerena wacana tentang
HAM dalam Islam lebih awal dibandingkan dengan konsep atau ajaran lainnya.
Dengan kata lain Islam datang secara inhern membawa ajaran entang HAM. Ajaran
tentang HAM yang terkandung dalam Piagam Magna Carta tercipta 600 tahun setelah
kedatangan Islam. Selain itu juga diperkuat oleh pandangan Weeramantry bahwa
pemikiran Islam mengenai hak-hak dibidang sosial, ekonomi dan budaya telah jauh
mendahului pemikiran barat (Bambang Cipto, dkk, 2002).
Ajaran Islam tentang HAM dapat dijumpai dalam sumber utama ajaran Islam yaitu
Al-Qur-andan Al-Hadits, yang merupakan sumber ajaran normative, juga terdapat
dalam praktek kehidupan umat Islam.Tonggak sejarah keberpihakan Islam terhadap
HAM, yaitu pada pendeklarasian Piagam Madinah yang dilanjutkan dengan
deklarasi Kairo (Cairo Declaration).
3. Pemahaman HAM dari Beberapa Perspektif Teori berikut ini:

Teori Universalisme (Universalitas Theory)


Teori Universalisme (Universalitas Theory) Hak Asasi Manusia berasal dari

konsep universalisme moral dan kepercayaan akan keberadaan kode-kode moral


universal yang melekat pada seluruh manusia, yang bersifat lintas budaya dan lintas
sejarah serta dapat diidentifikasi secara rasional. Universalisme moral ini berasal dari
pemikiran Aristoteles, yang mengungkapkan bahwa terdapat ketertiban moral yang
bersifat alamiah dan menjadi dasar bagi seluruh sistem keadilan rasional. Hukum ini
sudah ada sejak sebelum manusia mengenal konfigurasi sosial dan politik.

Teori Relativisme Budaya

Teori Relativisme Budaya Isu relativisme budaya muncul menjelang


berakhirnya perang dingin sebagai respon terhadap klaim universal dari gagasan Hak
Asasi Manusia. Gagasan bahwa hak asasi manusia terikat dengan konteks budaya
yang umumnya diusung oleh negara-negara berkembang dan negara-negara islam.
Memadukan universalisme dan pluralisme Telah diakui secara umum bahwa
dalam prakteknya HAM dikondisikan oleh konteks sejarah, tradisi, budaya, agama,
dan politik-ekonomi yang sangat beragam, namun tetap terdapat nilai-nilai universal
yang berpengaruh.Martabat manusia, kebebasan, persamaan, dan keadilan merupakan
sebagian nilai yang mengesampingkan perbedaan dan merupakan milik kemanusiaan
secara utuh.HAM merupakan bagian dari warisan kemanusiaan yang dinikmati umat
manusia dimasa sekarang. Tidaklah mudah untuk memaksakan konsep universalitas
HAM kepada beragam tradisi, budaya dan agama. Oleh karena itu, penting untuk
menggali kesamaan konsep yang prinsipil, yaitu martabat manusia. Secara praktis
seluruh negara di dunia sependapat bahwa apa yang mereka akui sebagai pelanggaran
berat terhadap HAM adalah genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan
perang

Teori Hukum Alam/Natural Law


Dalam teori ini Hak asasi manusia dipandang sebagai hak Kodrati (hak yang

sudah melekat pada manusia sejak lahir) dan jika manusia tersebut meninggal maka
hak-hak yang dimilikinya pun akan hilang. Hak asasi Manusia dimiliki secara otonom
(Independent) terlepas dari pengaruh Negara sehingga tidak ada alasan Negara untuk
membatasi HAM tersebut.Jika hak-hak tersebut diserahkan kepada Negara, Negara
boleh membatasi hak-hak yang melekat pada manusia itu. Menurut John Locke,
semua individu dikaruniai oleh alam, hak yang inheren atas kehidupan, kebebasan
dan harta, yang merupakan milik mereka sendiri dan tidak dapat dipindahkan atau
dicabut oleh Negara. Tetapi Locke juga mempostulatkan bahwa untuk menghindari
ketidakpastian hidup dalam alam ini, umat manusia telah mengambil bagian dalam
suatu kontrak sosial atau ikatan sukarela, dimana hak tersebut diserahkan kepada
penguasa Negara.

Apabila penguasa Negara memutuskan kontrak social itu dengan melanggar hakhak kodrati individu, para kawula Negara itu bebas untuk menyingkirkan sang
Penguasa dan menggantikannya dengan suatu pemerintah yang bersedia menghormati
hak-hak itu. Menurut Hugo De groot, eksistensi hukum kodrati yang merupakan
landasan semua hukum positif atau hukum tertulis dapat dirasionalkan dengan
landasan nalar yang benar.Sedangkan menurut JJ.Rosseau dan Immanuel Kant, rakyat
yang mempunyai hak-hak otonom tersebut menyerahkan sebagian hak-haknya
kepada Negara yang kemudian diatur atau dimuat dalam suatu konstitusi (untuk
mengetahui mana yang merupakan perintah atau larangan). Jika Negara gagal maka
rakyat bisa mengambil kembali hak-hak yang telah diserahkan kepada Negara
melalui dua cara yaitu:
a. Konstitusional, contohnya : melalui pemilu
b. In-konstitusional, seperti memaksa wakil rakyat turun sebelum waktunya
(masa jabatannya berakhir).
Teori Hukum alam Melahirkan Fundamental Rights atau Basic Rights yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Hak Hidup
Hak bebas dari penyiksaan
Hak untuk bebas dari perbudakan
Hak untuk bebas beragama
Equlity before the law
Hak untuk tidak dituntut oleh hukum yang berlaku surut atau non retroaktif

atau ex post facto


g. Hak untuk tidak dituntut secara pidana atas kegagalan memenuhi kewajiban
kontraktual.
Di Indonesia cenderung menggunakan teori Hukum alam karena setiap warga
Negara telah memiliki hak asasi manusia /fundamental rights sejak mereka lahir
bahkan sejak dalam kandungan. Ada atau tidak adanya hukum/konstitusi yang
mengatur tentang HAM, hak tersebut tidak akan hilang dan tetap dimiliki oleh warga
Negara. Adanya konstitusi atau aturan yang mengatur tentang Hak asasi manusia
tersebut, adalah untuk menegaskan atau menguatkan bahwa HAM yang melekat itu
diakui oleh Negara.Sehingga Negara yang menjamin adanya hak asasi manusia.

Teori Positivisme

Dalam teori ini, setiap warga Negara baru mempunyai Hak setelah ada aturan
yang jelas dan tertulis yang mengatur tentang hak-hak warga Negara tersebut.Jika
terdapat pengabaian atas hak-hak warga Negara tersebut dapat diajukan gugatan atau
klaim. Individu hanya menikmati hak-hak yang diberikan Negara.

2.7 Penerapan HAM dalam Kehidupan Sehari-hari


Pelaksanaan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia baru pada tahap kebijakan
belum menjadi bagian dari sendi-sendi dasar kehidupan berbangsa untuk menjadi
faktor integrasi atau persatuan. Problem dasar HAM yaitu penghargaan terhadap
martabat dan privasi warga negara sebagai pribadi juga belum ditempatkan
sebagaimana mestinya.Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia (Komnas HAM) Marzuki Darusman da-lam diskusi yang
diselenggarakan Forum Diskusi Wartawan Politik (FDWP) di Wisma Surabaya Post
Jakarta. Dalam diskusi itu diperbincangkan masalah hak asasi, politik dan demokrasi
di Indonesia termasuk hubungan Komnas HAM dan pemerintah. Pelaksanaan HAM
di kita masih maju mundur. Namun itu tidak menjadi soal karena dalam proses, kata
Marzuki. Padahal jika melihat sisi historis, kata Marzuki, HAM di Indonesia beranjak

dari amanat penderitaan rakyat untuk mewujudkan kemerdekaan dari penjajah.


Begitu pula seperti tercermin dari Sila Kemanusiaan yang berpangkal dari falsafah
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bangsa

Indonesia

memiliki

krisis

multi

dimensional

sebagai

akibat

menumpuknya masalah ekonomi, social budaya, politik, hokum dan keamanan.


Kondisi demikian sangat berpotensi untuk terjadi nya sebuah pelanggaran HAM.
Pelanggaran Hak Asasi Manusia
banyak dilakukan oleh aparat terhadap warga negara dan sebaliknya, bahkan antar
warga negara sendiri, hal tersebut sering kita saksikan baik secara langsung maupun
melalui media elektronik maupun media cetak seperti:
1.
2.
3.
4.
5.

Penganiayaan
Pemerkosaan
Kekerasan dalam rumah tangga
Penjualan anak dan perempuan
Pembakaran tempat ibadah.
Kondisi tersebut tidak boleh di biarkan begitu saja, karena akan berdampak

pada mental anak cucu bangsa ini. Contoh penerapan HAM dalam kehidupan seharihari, antara lain :
1. Melarang anggota masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dalam menghadapi
pelanggaran HAM atau kejahatan yang terjadi di lingkungan masyarakat setempat.
2. Memberi contoh/tauladan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat seharhhari
dengan berperilaku yang baik dan sopan misalnya dalam menjalankan kendaraan
bermotor dijalan umum atau jalan raya dengan tidak mentang-mentang bahwa
ia aparat kepolisian.
3. Cepat tanggap dan membantu kesulitan yang terjadi di lingkungannya.
4. Memberi pertolongan baik di llingkungan tugasnya maupun di tempat-tempat lain
bila ada orang/anggota masyarakat yang memerlukan pertolongan.
5. Sopan berkendaraan di jalan raya/umum, dengan mengikuti peraturan/rambu-rambu
lalulintas yang berlaku.
6. Dalam menggunakan fasilitas Rumah Tangga di-usahakan tidak mengganggu
lingkungan disekitarnya.

7. Ikut berpartisipasi dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masyarakat


dimana ia bertempat tinggal.
8. Menahan diri apabila terjadi pertengkaran diantara sesama rekan atau tetangga dan
berupaya menyelesaikan pertengkaran tersebut dengan baik dan terhormat, serta
jangan ikut-ikutan main hakim sendiri.
9. Melakukan kegiatan rumah tangga dengan tidak mengganggu ketenangan dan
ketertiban tetangganya.
10. Mentaati tata tertib lingkungan hidup sehari-hari di lingkungan masyarakat masingmasing.
11. Menghindari pertengkaran/adu fisik karena masing-masing merasa dirinya benar.
12. Jangan mengembangkan perselisihan antar anak menjadi perselisihan antar orang
tua.

2.8 Penyimpangan dan Penyelewengan HAM


Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia sejak
manusia masih dalam kandungan sampai akhir kematiannya. Di dalamnya tidak
jarang menimbulkan gesekan-gesekan antar individu dalam upaya pemenuhan HAM
pada dirinya sendiri. Hal inilah yang kemudian bisa memunculkan pelanggaran HAM
seorang individu terhadap individu lain,kelompok terhadap individu, ataupun
sebaliknya.
Setelah reformasi tahun 1998, Indonesia mengalami kemajuan dalam bidang
penegakan HAM bagi seluruh warganya. Instrumen-instrumen HAM pun didirikan
sebagai upaya menunjang komitmen penegakan HAM yang lebih optimal. Namun
seiring dengan kemajuan ini, pelanggaran HAM kemudian juga sering terjadi di
sekitar kita.

Pengertian Pelanggaran HAM secara Umum

HAM merupakan hak asasi manusia yang dimana hak tersebut melekat dan
dimiliki seseorang ketika ia dilahirkan didunia ini. Pelanggaran HAM merupakan
sesuatu hal yang merugikan dan memandang rendah martabat seorang manusia

baik disengaja maupun tidak disengaja.


Pengertian Pelanggaran HAM menurut Pasal 1 UU No. 39 Tahun 1999
Menurut Pasal 1 Angka 6 No. 39 Tahun 1999 yang dimaksud dengan pelanggaran
hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang
termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian
yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak
asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang
dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyesalan

hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Pengertian Pelanggaran HAM menurut Pasal 1 UU UU no 26 Tahun 2000
Menurut UU no 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, Pelanggaran HAM
adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orng termasuk aparat negara
baik disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi,
membatasi, dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau kelompok orang
yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan, atau dikhawatirksn
tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan
mekanisme hukum yang berlaku.
Dengan demikian pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran
kemanusiaan baik dilakukan oleh individu maupun oleh institusi negara atau
institusi lainnya terhadap hak asasi individu lain tanpa ada dasar atau alasan

yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakanya.


Aspek aspek Pelanggaran HAM
1. Sadar
Misalnya: Iri, dendam
2. Tidak Sadar
Misalnya: Berkata kata menyakitkan tanpa disadari
3. Tidak Sadar Tapi Tahu
Misalnya: biasanya dikarenakan dendam yang

terpendam

dan

ia

mengkonsumsi barang yang membuatnya kehilangan kesadaran diri


Penyimpangan HAM pada Masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde
Reformasi

Masa Orde Baru


Sejak PKI berhasil ditumpas, Presiden Soekarno belum bertindak tegas

terhadap G 30 S/PKI. Hal ini menimbulkan ketidaksabaran di kalangan mahasiswa


dan masyarakat. Pada tanggal 26 Oktober 1965 berbagai kesatuan aksi seperti
KAMI, KAPI, KAGI, KASI, dan lainnya mengadakan demonsrasi. Mereka
membulatkan barisan dalam Front Pancasila. Dalam kondisi ekonomi yang parah,
para demonstran menyuarakan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Oleh karena itu
presiden memberi mandat kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan keadaan dan
kewibawaan pemerintah. Mandat itu dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret
(Supersemar). Keluarnya Supersemar dianggap sebagai tonggak lahirnya Orde
Baru .
Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia.
Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan
Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat koreksi total atas penyimpangan
yang dilakukan Orde Lama Soekarno. Orde Baru tersebut berlangsung dari tahun
1968 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang
pesat meski hal ini dibarengi praktek korupsi yang merajalela di negara ini. Selain
itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar. Dalam
beberapa aspek, HAM terjamin. Tetapi dalam beberapa aspek lainnya, HAM tidak
dilindungi.
Pelanggaran HAM pada Orde Baru
Harus diakui pada masa Orde Baru dari segi pembangunan fisik memang
ada dan keamanan terkendali, tetapi pada masa Orde Baru demokrasi tidak ada,
kalangan intelektual dibelenggu, pers di daerah di bungkam, KKN dan
pelanggaran HAM terjadi di mana-mana.
a. kekuasaan pemerintah yang absolute
Suharto, presiden Republik Indonesia ke-2, menduduki tahta kepresidenan
Indonesia selama 32 tahun yang tampak jelas dalam pemerintahan Suharto di

mana pemerintahan dijalankan secara absolut. Presiden Suharto mengkondisikan


kehidupan politik yang sentralistik untuk melanggengkan kekuasaan.
b.

rendahnya transparansi pengelolaan


Rendahnya transparansi pengelolaan negara juga menjadi salah satu

keburukan pemerintahan Orde Baru. Suatu undang-undang tidak mengikat jika


tidak diundangkan melalui lembaran negara. Suatu sidang pengadilan dianggap
tidak sah apabila tidak dibuka untuk umum. Penelitian yang dilakukan oleh
lembaga peneliti yang menyangkut kepentingan masyarakat harus dipublikasikan.
Pada masa Orde Baru, hak penyiaran dikekang. Berita-berita televisi dan surat
kabar tidak boleh membicarakan keburukan-keburukan pemerintahan, kritik
terhadap pemerintah, dan berita-berita yang dapat mengganggu stabilitas dan
keamanan nasional.
c.

Lemahnya fungsi lembaga perwakilan rakyat


Lemahnya fungsi lembaga perwakilan rakyat menjadi salah satu keburukan

Orde Baru. Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat menjadi
semacam boneka yang dikendalikan oleh pemimpin negara, oleh karena itu aspirasi
masyarakat hanya sebatas pendengaran yang tak bernilai.
d.

Hukum yang diskriminatif/tidak adil/sewenang - wenang


Hukum yang diskriminatif menjadi keburukan Orde Baru selanjutnya. Hukum

hanya berlaku bagi masyarakat biasa atau masyarakat menengah ke bawah. Pejabat
dan kelas atas menjadi golongan yang kebal hukum. Hak yang tak sepadan oleh
masyarakat atas dengan bawah.
-

Masa Orde Masa Orde Lama (1959-1965)


Pada masa Orde Lama lembaga-lembaga negara MPR, DPR, DPA dan BPK
masih

dalam

bentuk

sementara,

belum

berdasarkan

undang-undang

sebagaimana ditentukan oleh UUD 1945.


Beberapa penyimpangan yang terjadi pada masa Orde Lama, antara lain:
a. Presiden selaku pemegang kekuasaan eksekutif dan legislatif (bersama DPR) telah
mengeluarkan ketentuan perundangan yang tidak ada dalam UUD 1945 dalam bentuk
penetapan presiden tanpa persetujuan DPR.

b. Melalui Ketetapan No. I/MPRS/1960, MPR menetapkan pidato presiden 17


Agustus 1959 berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita (Manifesto Politik
Republik Indonesia) sebagai GBHN bersifat tetap. Hal ini tidak sesuai dengan UUD
1945.
c. MPRS mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. Hal ini
bertentangan dengan UUD 1945, karena DPR menolak APBN yang diajukan oleh
presiden. Kemudian presiden membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-GR), yang
anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
d. Presiden membubarkan DPR hasil pemilu 1955, karena DPR menolak APBN yang
diajukan oleh presiden. Kemudian presiden membentuk DPR-Gotong Royong (DPRGR), yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh presiden.
e. Pimpinan lembaga-lembaga negara dijadikan menteri-menteri negara, termasuk
pimpinan MPR kedudukannya sederajat dengan menteri. Sedangkan presiden menjadi
anggota DPA.
f. Demokrasi yang berkembang adalah demokrasi terpimpin.
g. Berubahnya arah politik luar negeri dari bebas dan aktif menjadi politik yang
memihak salah satu blok.
Beberapa penyimpangan tersebut mengakibatkan tidak berjalannya sistem
sebagaimana UUD 1945, memburuknya keadaan politik, keamanan dan ekonomi
sehingga mencapai puncaknya pada pemberontakan G-30-S/PKI. Pemberontakan ini
dapat digagalkan oleh kekuatan-kekuatan yang melahirkan pemerintahan Orde Baru.
-

Masa Periode Reformasi

Penyebab utama runtuhnya kekuasaan Orde Baru adalah adanya krisis moneter tahun
1997 . Sejak tahun 1997 kondisi ekonomi Indonesia terus memburuk seiring dengan
krisis keuangan yang melanda Asia. Keadaan terus memburuk. KKN semakin
merajalela, sementara kemiskinan rakyat terus meningkat. Terjadinya ketimpangan
sosial yang sangat mencolok menyebabkan munculnya kerusuhan sosial. Muncul
demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa. Tuntutan utama kaum demonstran
adalah

perbaikan

ekonomi

dan

reformasi

total.

Periode Reformasi diawali dengan pelengseran Soeharto dari kursi Presiden


Indonesia oleh gerakan reformasi. Pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden RI dan menyerahkan jabatannya
kepada wakil presiden B.J. Habibie. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan
Orde Baru dan dimulainya Orde Reformasi.
Beberapa Pelanggaran HAM pada Masa Reformasi
Sekalipun terdapat berbagai pembenahan, di masa reformasi masih terjadi
banyak pelanggaran HAM. Dalam beberapa hal, HAM sudah cukup ditegakkan.
Tetapi dalam beberapa hal lain, pelanggaran HAM justru semakin marak setelah
masa reformasi berlangsung. Berikut ini adalah beberapa kasus pelanggaran HAM
yang terjadi pada masa reformasi.
a. Kebijakan Yang Anti Rakyat Miskin
Dalam pelaksanaan hak asasi manusia, khususnya hak ekonomi sosial dan
budaya, kinerja pemerintah sangat lemah. Pemahaman yang lemah terhadap
hak asasi manusia, dan lemahnya komitmen untuk menjalankan kewajiban
menghormati, melindungi, dan memenuhi hak telah berdampak pada
meluasnya pelanggaran HAM, khususnya terhadap warga yang lemah secara
ekonomi, sosial dan politik.
b. Meningkatnya Pengangguran dan Masalah Perburuhan
Tingkat upah yang tinggi di Indonesia sering dipandang membebani kaum
pengusaha sehingga mereka menuntut agar biaya tersebut ditekan.Alih-alih
mengurangi jumlah pengangguran, justru PHK massa dilegalkan. Akibat PHK
tersebut, ribuan buruh ikut menambah jumlah pengangguran.
c. Terabaikannya hak-hak dasar rakyat
Secara normatif orientasi kebijakan pembangunan memang telah berubah.
Pemenuhan hak dasar rakyat merupakan salah satu komitmen yang tertuang
dalam Strategi Pembangunan Nasional 2004-2005. Namun pada kenyataanya,
implementasi kebijakan itu hingga sekarang sepertinya belum berubah dimana
pembangunan masih menekankan pada pertumbuhan ekonomi, dengan

mengabaikan pemerataan dan keadilan.


Jenis jenis Pelanggaran HAM
a. Kasus pelanggaran HAM yang bersifat berat, meliputi :

1.

Pembunuhan masal (genosida)

Genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk


menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa,
ras, etnis, dan agama dengan cara melakukan tindakan kekerasan (UUD

No.26/2000 Tentang Pengadilan HAM)


2.
Kejahatan Kemanusiaan
Kejahatan kemanusiaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan berupa
serangan yang ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil seperti
pengusiran penduduk secara paksa, pembunuhan,penyiksaan, perbudakkan
dll.

b. Kasus pelanggaran HAM yang biasa, meliputi :

Pemukulan

Penganiayaan

Pencemaran nama baik

Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya

Menghilangkan nyawa orang lain

Peristiwa Pelanggaran HAM di Indonesia


Setiap manusia selalu memiliki dua keinginan, yaitu keinginan berbuat baik, dan
keinginan berbuat jahat. Keinginan berbuat jahat itulah yang menimbulkan
dampak pada pelanggaran hak asasi manusia, seperti membunuh, merampas harta
milik orang lain, menjarah dan lain-lain. Pelanggaran hak asasi manusia dapat
terjadi dalam interaksi antara aparat pemerintah dengan masyarakat dan antar
warga masyarakat. Namun, yang sering terjadi adalah antara aparat pemerintah
dengan masyarakat. Apabila dilihat dari perkembangan sejarah bangsa Indonesia,

ada beberapa peristiiwa besar pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dan
mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah dan masyarakat Indonesia,
seperti :
a. Kasus Tanjung Priok (1984)
Kasus tanjung Priok terjadi tahun 1984 antara aparat dengan warga sekitar yang
berawal dari masalah SARA dan unsur politis. Dalam peristiwa ini diduga terjadi
pelanggaran HAM dimana terdapat rarusan korban meninggal dunia akibat kekerasan
dan penembakan.
b. Kasus terbunuhnya Marsinah, seorang pekerja wanita PT Catur Putera Surya
Porong, Jatim (1994)
Marsinah adalah salah satu korban pekerja dan aktivitas yang hak-hak pekerja di PT
Catur Putera Surya, Porong Jawa Timur. Dia meninggal secara mengenaskan dan
diduga menjadi korban pelanggaran HAM berupa penculikan, penganiayaan dan
pembunuhan.
c. Kasus terbunuhnya wartawan Udin dari harian umum bernas (1996)
Wartawan Udin (Fuad Muhammad Syafruddin) adalah seorang wartawan dari harian
Bernas yang diduga diculik, dianiaya oleh orang tak dikenal dan akhirnya ditemukan
sudah tewas.
d. Peristiwa Aceh (1990)
Peristiwa yang terjadi di Aceh sejak tahun 1990 telah banyak memakan korban, baik
dari pihak aparat maupun penduduk sipil yang tidak berdosa. Peristiwa Aceh diduga
dipicu oleh unsur politik dimana terdapat pihak-pihak tertentu yang menginginkan
Aceh merdeka.
e. Peristiwa penculikan para aktivis politik (1998)
Telah terjadi peristiwa penghilangan orang secara paksa (penculikan) terhadap para
aktivis yang menurut catatan Kontras ada 23 orang (1 orang meninggal, 9 orang
dilepaskan, dan 13 orang lainnya masih hilang).

Kasus Pelanggaran HAM di Lingkungan Sekitar

1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan
yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.
2.

Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata
kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap
mahasiswa.

3.

Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap


para pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan
sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan.

4.

Para pedagang tradisioanal yang berdagang di pinggir jalan merupakan pelanggaran


HAM ringan terhadap pengguna jalan sehingga para pengguna jalan tidak bisa
menikmati arus kendaraan yang tertib dan lancar.

5.

Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan
tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga
seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.
2.5 Instrumen Nasional HAM
1. UUD 1945 : Pembukaan UUD 1945, alenia I IV; Pasal 28A sampai dengan 28J;
Pasal 27 sampai dengan 34
2. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
3. UU No. 36 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
4. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
5.UU No. 7 Tahun 1984 tentang Rativikasi Konvensi PBB tentang penghapusan
Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan
6.UU No. 8 tahun 1998 tentang pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan
Perlakuan atau penghukuman lain yang Kejam, tidak Manusiawi atau Merendahkan
Martabat Manusia
7.UU No. 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan Konvensi ILO nomor 182 mengenai
pelanggaran dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk
untuk Anak
8.UU No. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang hak-hak
ekonomi, Sosial dan Budaya

9. UU No. 12 tahun 2005 tentang Konvenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan
Politik

Upaya Mengatasi Pelanggaran HAM

Upaya penanganan pelanggaran HAM di Indonesia yang bersifat berat, maka


penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan HAM, sedangkan untuk kasus
pelanggaran HAM yang biasa diselesaikan melalui pengadilan umum.Beberapa upaya
yang dapat dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari untuk
menghargai dan menegakkan HAM antara lain dapat dilakukan melalui perilaku
sebagai berikut
1. Mematuhi instrumen-instrumen HAM yang telah ditetapkan.
2. Melaksanakan hak asasi yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab.
3. Memahami bahwa selain memiliki hak asasi, setiap orang juga memiliki
kewajiban asasi yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
5. Menghormati hak-hak orang lain.

BAB 3
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan
kiprahnya. Setiap individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu
hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang
lain.
HAM setiap individu dibatasi oleh HAM orang lain. Dalam Islam, Islam
sudah lebih dulu memperhatikan HAM. Ajaran Islam tentang Islam dapat dijumpai
dalam sumber utama ajaran Islam itu yaitu Al-Quran dan Hadits yang merupakan
sumber ajaran normatif, juga terdapat dalam praktik kehidupan umat Islam.
Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundangundangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh
seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam
pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui
hukum acara peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang
pengadilan HAM.
3.2 Saran

Sebagai

makhluk

sosial

kita

harus

mampu

mempertahankan

dan

memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati
dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan
Jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-injak oleh orang lain.
Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan
mengimbangi antara HAM kita dengan HAM orang lain.