Anda di halaman 1dari 4

Pemerintah Indonesia bersikap lemah atas intervensi asing terhadap

politik dan ekonomi dalam negeri

Mengingat utang luar negeri Indonesia sebagaimana yang dicatat oleh Bank
Indonesia selama Januari 2015 telah mencapai 298,6 miliar Dollar AS, hampir tidak
mungkin politik Indonesia tanpa disertai intervensi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa

utang merupakan instrumen politik. Selain itu, banyaknya investor asing terutama
dari Amerika Serikat, sulit bagi Indonesia untuk menghindar dari intervensi.
Akibat intervensi tersebut, Indonesia tidak bisa secara leluasa menentukan
arah politiknya sendiri. Salah satunya dalam hal memberikan suara kepada dunia
internasional. Ketika Israel melakukan agresi kepada rakyat Palestina, Pemerintah
Indonesia cenderung bersikap pasif. Padahal sudah jelas bahwa tindakan Israel
tersebut adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang merusak perdamaian dunia.
Sikap yang sama juga ditunjukkan Pemerintah Indonesia kepada pengungsi
Rohingya yang mencari suaka di Indonesia. Sikap tersebut tentunya tidak sesuai
dengan salah satu tujuan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan
Undang-Undang

Dasar

1945

yaitu

melaksanakan

ketertiban

dunia

yang

berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Indonesia perlu


mengingat kembali asas politik bebas aktif yang lebih sesuai dengan falsafah dan
kepribadian bangsa Indonesia.
Peristiwa lain yang cukup menggemparkan pada tahun 2013 adalah
terkuaknya penyadapan yang dilakukan oleh Amerika dan Australia terhadap
pejabat-pejabat penting termasuk Presiden RI saat itu Bapak Susilo Bambang
Yudhoyono.

Walaupun

akhirnya

Indonesia

dan

Australia

sepakat

untuk

menandatangani Tata Perilaku untuk Kerangka Kerja Sama Keamanan atau Code of
Conduct on Framwork for Security Cooperation yang didalamnya mengatur untuk
tidak melakukan tindakan-tindakan

yang dapat merugikan salah satunya adalah

penyadapan, ternyata penyadapan masih dilakukan lagi oleh Australia kepada


Presiden Joko Widodo.

Diperlukan sikap yang tegas dari Pemerintah Indonesia

untuk menyelesaikan masalah ini.


Walaupun begitu, terdapat salah satu sikap Pemerintah Indonesia yang patut
mendapat apresiasi ketika banyak intervensi dari Australia, Perancis, dan Brazil

dalam upaya menggagalkan eksekusi mati terpidana Bali Nine namun sama sekali
tidak ditanggapi oleh Pemerintah Indonesia. Sudah seyogyanya sikap seperti itu
ditunjukkan pemerintah dalam segala hal.
Bantuan keuangan yang diberikan oleh pihak asing kepada Indonesia tidak
dilakukan serta merta atas dasar kemanusiaan, tetapi lebih pada motivasi politik dan
ekonomi. Hal tersebut berdampak pada terenggutnya kedaulatan Indonesia dalam
pengelolaan perekonomian.

Negara-negara kreditur mendesak agar perumusan

kebijakan ekonomi Indonesia disesuaikan dengan keinginan mereka.


Yang terbaru adalah pinjaman utang dari China Development Bank (CDB)
yang dilakukan pemerintah pada tahun 2015 ini sebesar US$ 3 Miliar untuk tiga
Bank BUMN yaitu BRI, Bank Mandiri dan BNI. Di sinilah kemandirian perekonomian
kita kembali dipertanyakan.
Utang luar negeri memang diperbolehkan. Namun pemerintah hendaknya
mempunyai manajemen pengelolaan utang yang bagus dan sebisa mungkin
mengurangi ketergantungan terhadap utang luar negeri. Manajemen pengelolaan
utang diperlukan agar terhindar dari debt trap yaitu suatu kondisi negara tidak
sanggup membayar utang seperti yang pernah terjadi di akhir rezim Orde Baru.
Pemerintah juga harus menyeleksi tawaran-tawaran bantuan luar negeri dan sudah
seharusnya menolak pinjaman-pinjaman yang mengandung konsekuensi buruk
terhadap kebijakan perekonomian negara.
Indonesia dianugerahi dengan tanah yang kaya akan tambang.

Namun,

karena keterbatasan, Indonesia menyerahkan pengelolaan hasil bumi kepada pihak


asing dengan sistem bagi hasil. Namun pengelolaan tersebut lebih menguntungkan
pihak asing, sementara Indonesia mendapat keuntungan dengan porsi yang sangat
kecil dengan risiko tambang lambat laun akan habis. Pemerintah Indonesia sudah
selakyaknya

secepat mungkin mengembangkan teknologi dan mempunyai

kemauan keras untuk mengelola kekayaan alamnya sendiri. Jangan sampai karena
kepentingan segelintir golongan, kepentingan negara menjadi terabaikan.
Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa sistem ekonomi Indonesia sekarang
lebih condong ke mahzab kapitalisme dimana siapa yang mempunyai modal, dialah

yang berkuasa.

Hal ini tentunya tidak sesuai dengan pasal 33 Undang-undang

Dasar 1945 yang berbunyi:


(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas azaz kekeluargaan;
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh Negara;
(3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan ekonomi nasional.

Produk impor mengalahkan produk dalam negeri


Pasar Bebas Asean atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan
peluang sekaligus ancaman bagi bangsa Indonesia. Di satu sisi MEA merupakan
peluang

Indonesia

untuk

unjuk

gigi

dalam

perekonomian Asean,

namun

dikhawatirkan juga Indonesia akan kalah bersaing sehingga invasi asing terhadap
perekonomian dalam negeri semakin besar.
Saat ini produk-produk asing banyak membanjiri pasaran.

Produk-produk

asing tersebut sebagian besar merupakan produk jadi diolah dengan teknologi
tinggi.

Indonesia belum dibekali dengan teknologi, sehingga sebagian ekspor

Indonesia masih didominasi oleh ekspor bahan-bahan mentah dan setengah jadi
(raw materials).
Masyarakat Indonesia cenderung lebih suka memakai produk impor yang
telah mendapat stereotip bahwa produk buatan luar negeri memiliki kualitas lebih
bagus. Bahkan muncul sebuah anekdot bahwa sejak kita bangun tidur, beraktivitas
sampai kita tidur lagi semua dikuasai oleh asing. Idealnya, produk lokal dapat
menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Untuk itu perlu ditumbuhkan rasa cinta

kepada produk buatan dalam negeri.

Selain itu juga membutuhkan dukungan

pemerintah dalam membatasi kuota impor dan memberikan dorongan kepada


pengusaha-pengusaha lokal untuk berkarya.

Gaya hidup yang serba praktis menyebabkan masyarakat lebih suka


berbelanja di mall padahal sebagian besar mall tersebut dimiliki oleh asing.
Sementara itu terdapat keengganan masyarakat untuk berbelanja di pasar
tradisional.

Perlu ditumbuhkan kesadaran pada masyarakat bahwa dengan

berbelanja di pasar tradisional bisa menghidupkan perekonomian rakyat daripada


harus mengalirkan uang tersebut ke kantong investor luar negeri.