Anda di halaman 1dari 4

Refleksi Cinta Tak Bertepi

Jember, 11 Dzulhijjah 1437 H/13 September 2016

Seorang hamba tidak meninggalkan sesuatu yang dicintai kecuali untuk sesuatu yang lebih
dicintai. Ia meninggalkan Sesuatu yang lebih tidak dicintai kecuali untuk sesuatu yang lebih
dicintai1.
Nabi Ibrahim alaihis sallam adalah salah seorang hamba-Nya yang telah menyempurnakan
bentuk cinta kepada-Nya. Maka pantaslah menyemat predikat khalilullah (kekasih Allah)
pada diri beliau, dan pantas pula beliau menjadi salah satu suri tauladan bagi kita semua.

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan dia. (QS. Al Mumtahanah : 4)
Mari kita rasakan bersama-sama seberapa dalam kecintaan nabi Ibrahim kepada Rabbnya
dengan menyimak beberapa fragmen kehidupan beliau.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan
larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. (QS. Al Baqarah :124)
Kedalaman cinta yang pertama adalah dari sisi tingkat pengorbanan.

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka
Sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imran : 92)
Abu Jafar rahimullah berkata, Makananya adalah, kalian tidak akan pernah mendapatkan
al birr (kebajikan) wahai kaum muslimin ! Maksudnya adalah, kebjikan yang mereka cari
dengan ketaatan dan ibadah hanya kepada-Nya, serta kebajikan yang mereka harapkan dariNya. Tepatnya, masuk ke dalam surga dan diselamatkan dari siksa, hingga kalian
menyedekahkan apa yang kalian cintai, yakni harta berharga yang kalian miliki2.




1
2

Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Penawar Hati Yang Sakit, h. 220


Imam Ath Thabari. Tafsir Ath Thabari jilid 5, h. 608-609.

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta
benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong
Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar.
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada
mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan
siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (QS.
Al Hasyr : 8 9)
Kisah shahabat Anshar Abu Thalhah radhiyallahu anhu melayani tamu.



Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari
berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At Taubah : 24)

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan
Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Al Baqarah : 207)
Kisah hijrahnya Shuhaib bin Sinan (Shuhaib Ar Rumi) radhiyallahu anhu
Logika kehidupan :
Orang tua pasti totalitas dalam memperjuangkan kehidupan anaknya

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail
(seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".
Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan
(jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan
tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah
taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Baqarah : 127 128)
Kedalaman cinta yang kedua adalah dari sisi tingkat kekhawatiran kehilangan
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, Seseorang yang mengharapkan sesuatu, maka ia
dituntut melakukan tiga hal sebagai konsekuensi logisnya. Pertama, ia harus mencintai
sesuatu itu. Kedua, ia takut dan khawatir tidak mendapatkan sesuatu itu. Ketiga, ia harus
menggerakkan segala daya upaya untuk mendapatkan sesuatu tersebut3.



Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan
orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak
mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu
bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera
untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera
memperolehnya. (QS. Al Muminuun : 57 61)
Aisyah radhiyallahu anha bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang
ayat ini, Apakah mereka itu adalah yang meminum khamr, berzina dan mencuri? Beliau
shalallahu alaihi wa sallam menjawab, Bukan wahai anak perempuan Ash Shidiq. Akan
tetapi mereka itu adalah yang shalat, berpuasa, bersedekah dan kemudian mereka khawatir
semua itu tidak diterima Allah. Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba dalam
kebaikkan. (HR. At Tirmidzi)
Doa yang sering diamalkan Nabi SAW setelah shalat fajar :
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu
yang bermanfaat, rizki yang baik(halal), dan amalan yang
diterima. (HR. Ibnu Majah dan Ibnus Sunni)4
3

Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Penawar Hati Yang Sakit, h. 50.


Hadits ini memiliki pendukung yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani dengan sanad shahih. Lihat catatan kaki Terjemah Zadul
Maad jilid 3, h. 104
4

Logika kehidupan :
Akhir pemburuan cinta adalah bersama yang kita cintai, selama hal itu belum kita raih,
jiwa akan merasa khawatir dan perjuangan belumlah berakhir.
Kedalaman cinta yang ketiga adalah dari sisi tingkat kesempurnaan pemberian
Logika kehidupan :
Adakalanya orang tua meminta maaf kepada sang putra
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang mewujudkan cintanya :
Pertama faktor internal (dari dalam diri)

Ketahuilah bahwa di tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh jasad akan
baik. Namun jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging
tersebut dalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua faktor eksternal (dari luar diri)


Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam
keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi
sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang
dikerjakannya. (QS. Ath Thur : 21)
Referensi :
1. Ghanayim, Muhammad Ahmad, Menjalin Cinta dengan Allah. Cakrawala Publishing. Cet I, 2006.
2. Al Jauziyah, Ibnu Qayyim. Penawar Hati Yang Sakit (Terjemahan Kitab Al Jawabul Kaafii liman Sa ala Anid
Dawaaisy Syaafii). Penerjemah ust Ahmad Tarmudzi, LC. Gema Insani Press. Cet II, 2003.
3. Al Jauziyah, Ibnu Qayyim. Terjemah Zadul Maad Jilid 3, tahqiq : Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth dan Syaikh
Syuaib Al Arnauth. Penerjemah ust Amiruddin Jalil, LC. Griya Ilmu, Cet I, 2008
4. Abu Jafar Muhammad bin Jarir Ath Thabari. Tafsir Ath Thabari (Terjemah Jami Al Bayan an Tawil Ayi Al
Quran) Jilid 3. Pustaka Azzam. Cet II, 2013.
5. Abu Jafar Muhammad bin Jarir Ath Thabari. Tafsir Ath Thabari (Terjemah Jami Al Bayan an Tawil Ayi Al
Quran) Jilid 5. Pustaka Azzam. Cet II, 2014.
6. Al Quran In Word