Anda di halaman 1dari 13

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN BAGI

BANGSA INDONESIA SEHUBUNGAN TELAH


DIBERLAKUKAN AFTA

Oleh:
Lisa Ariyani
Rani Fibrianuri A.
Siti Suntianah

MADRASAH ALIYAH NEGERI TENGARAN


TAHUN PELAJARAN
2013/2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan ke hadirat ALLAH SWT, karena dengan karunia-Nya kami
dapat menyelesaiakan karya ilmiah yang berjudul Keuntungan dan Kerugian bagi Bangsa
Indonesia sehubungan telah diberlakukan AFTA. Meskipun banyak hambatan yang kami alami
dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil menyelesaikan karya ilmiah ini tepat pada
waktunya.Tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada guru pembimbing yang telah
membantu dan membimbing kami dalam mengerjakan karya ilmiah ini. Kami juga mengucapkan

terimakasih kepada teman-teman yang juga sudah memberi semangat baik langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan karya ilmiah ini.
Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada teman-teman dari hasil karya
ilmiah ini. Karena itu kami berharap semoga karya ilmiah ini dapat menjadi sesuatu yang
berguna bagi kita bersama.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan,
untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna
sempurnanya karya ilmiah ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Tengaran,15 Maret 2014

Penyusun

Daftar isi

Halaman Judul..i

Kata Pengantar.ii
Daftar Isi..iii
BAB I Pendahuluan..
1.1 Latar Belakang.
1.2 Rumusan Masalah..
1.3 Manfaat Penelitian.
BAB II Pembahasan..
2.1 Pengertian AFTA
2.2 Keuntungan AFTA bagi Indonesia
2.3 Kerugian AFTA bagi Indonesia..
2.4 Keanggotaan AFTA..
2.5 Tujuan AFTA
2.6 Manfaat dan Tantangan AFTA bagi Indonesia
2.7 Jangka Waktu Realisasi AFTA
BAB III Penutup.
3.1 Kesimpulan.
Daftar Pustaka..

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

AFTA[1][1] adalah sebuah persetujuan oleh negara-negara anggota ASEAN mengenai


sektor produksi lokal di seluruh negara ASEAN yang Indonesia terlibat didalamnya.Setelah
diratifikasinya perjanjian tersebut perekonomian Indonesia dihadapkan dengan masalah baru
yang lebih komplek dimana pada tahap ini Indonesia bila tidak segera membenahi diri
dalam menyikapi persaingan bebas tersebut, maka dapat dipastikan nantinya produk-produk
yang dihasilkan pasti akan ditinggalkan masyarakat[2][2].Dengan kata lain,Indonesia dituntut
untuk lebih meningkatkan daya saing produk lokal untuk bersaing dengan dengan produkproduk dari negara lainya serta harga yang kompetitif menjadi suatu pertimbangan penting
dalam proses perdagangan bebas di kalangan Negara-negara di Asia Tenggara ini.
Pada awalnya paerjanjian AFTA terbentuk berdasarkan pada pertemuan yang diadakan
pada pertemuan tingkat kepala Negara ASEAN (ASEAN Summit) ke-4 di Singapura pada
tahun 1992.Kepala Negara dari negara-negara di Asia Tenggara pada waktu itu
mengumumkan pembentukan suatu kawasan perdagangan bebas di wilayah regional Asia
Tenggara, kemudian pada KTT ASEAN ke-9 tanggal 7-8 oktober 2003 di bali diadakan
penandatanganan
merealisasikannya.

persetujuan

pembnetukan

AFTA

serta

jangka

waktu

dalam

Mengingat besarnya potensi pasar yang ada di Indonesia ,tentu sangat menggiaurkan dari
pasar negara lain.Dan dengan reputasi Indonesia sebagai salah satu negara yang paling besar
penduduknya,serta dengan tingkat konsumsi yang tinggi tentunya secara siap atau tidak siap
kita akan tetap masuk dalam wabah free trade zone seperti sekarang ini. Seperti beberapa isu
yang berkembang di masyarakat yaitu terjadinya pasar bebas yang telah resmi berjalan mulai
Januari 2010 ini semakin mendesak produk nasional. Berbagai kecemasan membayangi
pelaku usaha dan konsumen. Salah satu kecemasan konsumen nasional adalah segi keamanan
produk impor yang akan bebas masuk dari berbagai daerah di Indonesia sebagai salah satu
gerbang pasar internasional selama ini[3][3].

1.2 Rumusan Masalah


a.

Apa keuntungan dan kerugian AFTA bagi Indonesia ?

b. Apa tujuan diadakannya AFTA?


c.

Bagaimana sejarah terbentuknya AFTA?

d. Siapkah Indonesia menghadapi AFTA dengan potensi yang dipunyai Indonesia sekarang ini ?

1.3 Manfaat Penelitian


Manfaat atau Kegunaan penelitian ini adalah :
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi tambahan yang berguna dalam
meningkatkan ilmu pengetahuan terutama dalam mengkaji isu isu hubungan internasional
yang berupa proses integrasi di Negara-negara sesama regional.
Memperluas cakrawala pengetahuan bagi si penulis dalam mengembangkannya serta
bermanfaat bagi tambahan ilmu pengetahuan bagi rekan-rekan sipenulis serta siapa saja yang
membaca penelitian ini. Terutama mengenai isu pasar bebas.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian AFTA


ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara
ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya
saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi
dunia serta serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.
AFTA dibentuk pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di
Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA ditargetkan ASEAN FreeTrade Area (AFTA) merupakan
wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas
perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan
menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai dalam waktu 15 tahun (19932008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun
2002.
2.2 Keuntungan AFTA Bagi Indonesia.
Suatu kesepakatan atau perjanjian kerjasama dalam perdagangan dilakukan terdapat suatu
keuntungan tersendiri bagi negara yang ikut kedalamnya. Dalam AFTA tersendiri, negara-negara
ASEAN sepakat untuk ikut serta berarti terdapat suatu keuntungan yang nantinya akan didapat
oleh negara anggotanya.
Bagi Indonesia sendiri, AFTA merupakan kerjasama yang menguntungkan. AFTA
merupakan peluang bagi kegiatan eksport komoditas pertanian yang selama ini dihasilkan dan
sekaligus menjadi suatu tantangan tersendiri untuk menghasilkan komoditas yang kompetitif si
pasar regional AFTA sendiri. Peningkatan daya saing ini akan mendorong perekonomian
Indonesia untuk semakin berkembang. AFTA juga merangsang para pelaku usaha di Indonesia
untuk menghasilkan barang yang berkualitas sehingga dapat bersaing dengan barang-barang
yang dihasilkan oleh negara-negara ASEAN lainnya.
AFTA juga dianggap dapat memberikan peluang bagi pengusaha kecil dan menengah di
Indonesia untuk mengekspor barangnya. Hal ini membuat para pelaku usaha tersebut
mendapatkan pasar untuk melempar produk-produknya selain di pasar dalam negeri. Adanya
kesempatan besar bagi para pelaku usaha di Indonesia untuk lebih meningkatkan produk
barangnya dari segi mutu juga mendorong kesadaran para pengusaha-pengusaha di Indonesia
untuk memiliki daya saing usaha yang kuat.
Jelas semua hal tersenut dapat terwujud dengan adanya sokongan dari pemerintah
Indonesia dalam memberikan modal bagi peningkatan kualitas produksi dan standar mutu

barang. Pemerintah Indonesia sepatutnya menerapkan suatu undang-undang yang memberikan


kebebasan bagi para pelaku usahanya untuk meningkatkan daya saingnya. Hal ini dikarenakan
untuk menciptakan suatu usaha yang mandiri terutama dalam menghadapi AFTA. Dukungan
pemerintah sangat dibutuhkan disini, jika suatu industri tidak dapat bersaing dikarenakan
rendahnya mutu barang pemerintah haruslah memberikan suatu sokongan dengan cara
memberikan bantuan modal.Bentuk bantuan tersebut semata-mata untuk merangsang para
pengusaha kecil dan menengah dalam peningkatan kualitas barang produksinya agar dapat
bersaing dengan produk-produk lain yang masuk ke pasar dalam negeri.
2.3 Kerugian AFTA bagi Indonesia
Dalam setiap hubungan kerjasama pasti terdapat hambatan-hamatan yang dihadapi.
Hambatan tersebut biasanya muncul saat pengaplikasian perjanjian. Dalam penerapan AFTA
banyak hambatan yang dihadapi saat pertama kali diterapkan. ASEAN-6 merupakan negara
anggota ASEAN yang pertama kali menerapkan usaha pengaplikasian AFTA. ASEAN-6 menjadi
contoh bagi empat negara ASEAN lain. Dalam penerapan AFTA terutama penerapan penurunan
tarif terhadap beberapa barang komoditas. Banyak negara anggota ASEAN melakukan proteksi
terhadap barang yang dianggap penting bagi negaranya sehingga penerapan penurunan tarif
terhadap komoditas yang diproteksi tersebut mengalami penundaan.
Negara-negara di ASEAN sebenarnya memiliki perbedaan tinggak perekonomian. Hal itu
terlihat pada pendapatan perkapita masing-masing negara anggota ASEAN. Beberapa negara
memiliki pendapatan perkapita lebih tinggi dari pada negara lainnya. Belum lagi ketidak stabilan
politik dalam negeri yang juga mempengaruhi perekonomian di negara-negara anggota ASEAN.
ASEAN-6 contohnya, pendapatan perkapita negara-negara ASEAN-6 lebih tinggi dibandingkan
empat negara lainnya yaitu, Lao PDR, Myanmar, Vietnam dan Kamboja. Sehingga sulit bagi
keempat negara tersebut untuk menurunkan tarif bagi barang yang dianggap sensitif bagi
kepentingan dalam negerinya. Belum lagi persaingan barang komoditas antara negara-negara
anggota ASEAN, terkadang kualitas barang yang rendah dan tidak dapat bersaing membuat
ambruknya industri kecil di beberapa negara tersebut. Bahkan bukan bagi keempat negara di
ASEAN yang tergolong memiliki perekonomian rendah tetapi juga negara anggota ASEAN-6
harus menghadapi kenyataan bahwa industri kecil di negaranya harus mengalami guncangan
karena tidak dapat bersaing dengan barang komoditas yang masuk ke negaranya.
Bahkan banyak anggapan bahwa AFTA hanya menghasilkan persaingan yang tidak
seimbang bagi negara anggota ASEAN itu sendiri. Penurunan tarif barang bagi barang yang
masuk dari negara anggota ASEAN menimbulkan kerugian. Ketidak siapan pasar industri lokal
juga yang menjadi kendala bagi berjalannya AFTA dan penerapan penurunan tarif. Seperti
negara-negara anggota ASEAN lainnya Indonesia pun mengalami hal yang sama. Daya saing
barang yang diperdagangkan kurang memenuhi standar yang ditetapkan, hal ini mengakibatkan
banyaknya industri-industri kecil dan menengah di Indonesia mengalami kerugian yang besar.
Persaingan produk dalam negeri dengan produk yang masuk kedalam negeri membuat para
pengusaha harus bisa meningkatkan kualitas barang produksinya. Hal tersebut tidak mudah
dengan keterbatasan modal yang dimiliki oleh para pengusaha-pengusaha kecil dan menengah.
Belum lagi keterbatasan dari segi infrastruktur di Indonesia, keterbatasan tekhnologi yang
menunjang produksi para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia juga menjadi suatu

masalah tersendiri. Dalam AFTA para pengusaha dipaksa untuk memiliki daya saing yang tinggi,
agar nantinya pengusaha-pengusaha dalam negeri ini dapat mandiri.
Peran dan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan disini, pemerintah haruslah membuat
suatu regulasi yang jelas dalam menanggapi masalah-masalah yang dihadapi oleh para
pengusaha di Indonesia khususnya pengusaha kecil dan menengah mengenai bantuan modal
usaha. Pemerintah sepatutnya menolong para pengusaha kecil dan menengah kita dalam
meningkatkan kualitas produknya agar nantinya produksi mereka tidak berhenti dan rugi. Selama
ini permasalahan yang yang selalu timbul adalah ketidak mampuan pemerintah Indonesia dalam
melindungi para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya
para pengusaha yang tergolong pengusaha kecil dan menengah di Indonesia mengalami kerugian
besar dan produksinya berhenti dikarenakan kualitas barang mereka kalah dibandingkan dengan
barang-barang yang masuk dari Vietnam dan Cina. Contohnya industri rotan di Indonesia,
biasanya para pengusaha rota hanya mengirim berupa rotan yang belum diolah sehingga
merugikan pihak pengusaha rotan dalam negeri, sedangkan rotan yang masuk dari Cina dan
Vietnam biasanya telah diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Dari
permasalah tersebut seharusnya pemerintah sudah memiliki langkah yang pasti untuk melindungi
para pengusaha rotan, caranya dengan mengekspor produk rotan bukan sekedar bahan dasarnya
saja tapi berupa rotan yang telah di olah menjadi suatu produk yang harga jualnya lebih tinggi,
sama dengan yang diekspor Vietnam dan Cina.
Dalam banyak hal, AFTA dapat efektif dan menguntungkan Indonesia jika para
pengusaha dan pemerintah Indonesia bekerja sama. Solusi yang jelas bagi para pengusaha di
Indonesia akan membantu Indonesia dalam menghadapi pasar bebas yang diberlakukan.
Pemerintah melindungi para pengusaha kecil dan menengah dengan cara bantuan modal untuk
melakukan produksi agar para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia dapat membuat suatu
produk yang memiliki daya saing yang tinggi saat dipasarkan. Kendala yang tengan dihadapi
adalah masalah infrastruktur di Indonesia yang kurang mendukung. Pemerintah juga sepatutnya
menyediakan infastruktur yang memadai, seperti jalanan yang rusak akan menghambat proses
distribusi barang dan dapat merugikan. Indonesia memiliki banyak barang komoditas yang tidak
kalah oleh Vietnam dan Cina. Masalahnya hanya terletak pada daya saing para pengusaha di
Indonesia dalam persaingan di dalam pasar bebas ini.
2.4 Keanggotaan AFTA
Ketika persetujuan AFTA ditandatangani resmi, ASEAN memiliki enam anggota, iaitu,
Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Vietnam bergabung pada 1995,
Laos dan Myanmar pada 1997 dan Kamboja pada 1999. AFTA sekarang terdiri dari sepuluh
negara ASEAN. Keempat pendatang baru tersebut dibutuhkan untuk menandatangani
persetujuan AFTA untuk bergabung ke dalam ASEAN, namun diberi kelonggaran waktu untuk
memenuhi kewajiban penurunan tarif AFTA.
Sebagai contoh dari keanggotaan AFTA adalah sebagai berikut, Vietnam menjual
sepatuke Thailand, Thailand menjual radio ke Indonesia, dan Indonesia melengkapi lingkaran
tersebut dengan menjual kulit ke Vietnam. Melalui spesialisasi bidang usaha, tiap bangsa akan
mengkonsumsi lebih banyak dibandingyang dapat diproduksinya sendiri.

2.5 Tujuan AFTA

menjadikan kawasan ASEAN sebagai tempat produksi yang kompetitif sehingga produk
ASEAN memiliki daya saing kuat di pasar global.

menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI).

meningkatkan perdagangan antar negara anggota ASEAN (intra-ASEAN Trade).

2.6 Manfaat dan Tantangan AFTA bagi Indonesia


Manfaat :

Peluang pasar yang semakin besar dan luas bagi produk Indonesia, dengan penduduk
sebesar 500 juta dan tingkat pendapatan masyarakat yang beragam;

Biaya produksi yang semakin rendah dan pasti bagi pengusaha/produsen Indonesia yang
sebelumnya membutuhkan barang modal dan bahan baku/penolong dari negara anggota
ASEAN lainnya dan termasuk biaya pemasaran;

Pilihan konsumen atas jenis/ragam produk yang tersedia di pasar domestik semakin
banyak dengan tingkat harga dan mutu tertentu;

Kerjasama dalam menjalankan bisnis semakin terbuka dengan beraliansi dengan pelaku
bisnis di negara anggota ASEAN lainnya.

Tantangan :

Pengusaha/produsen Indonesia dituntut terus menerus dapat meningkatkan kemampuan


dalam menjalankan bisnis secara profesional guna dapat memenangkan kompetisi dari
produk yang berasal dari negara anggota ASEAN lainnya baik dalam memanfaatkan
peluang pasar domestik maupun pasar negara anggota ASEAN lainnya.

2.7 Jangka Waktu Realisasi AFTA


KTT ASEAN ke-9 tanggal 7-8 Oktober 2003 di Bali, dimana enam negara anggota
ASEAN Original Signatories of CEPT AFTA yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia,
Philipina, Singapura dan Thailand, sepakat untuk mencapai target bea masuk dengan tingkat
tarif 0% minimal 60% dari Inclusion List (IL) tahun 2003; bea masuk dengan tingkat tarif
0% minimal 80% dari Inclusion List (IL) tahun 2007; dan pada tahun 2010 seluruh tarif bea
masuk dengan tingkat tarif 0% harus sudah 100% untuk anggota ASEAN yang baru, tarif 0%
tahun 2006 untuk Vietnam, tahun 2008 untuk Laos dan Myanmar dan tahun 2010 untuk
Cambodja.
a. Tahun 2000 : Menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 85% dari
seluruh jumlah pos tarif dalam Inclusion List (IL).
b. Tahun 2001 : Menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 90% dari
seluruh jumlah pos tarif dalam Inclusion List (IL).
c. Tahun 2002 : Menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 100% dari
seluruh jumlah pos tarif dalam Inclusion List (IL), dengan fleksibilitas.

d. Tahun 2003 : Menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 100% dari
seluruh jumlah pos tarif dalam Inclusion List (IL), tanpa fleksibilitas.
Untuk ASEAN-4 (Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja) realisasi AFTA dilakukan
berbeda yaitu:
Vietnam tahun 2006 (masuk ASEAN tanggal 28 Juli 1995).
Laos dan Myanmar tahun 2008 (masuk ASEAN tanggal 23 Juli 1997).
Kamboja tahun 2010 (masuk ASEAN tanggal 30 April 1999).

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
AFTA adalah bentuk dari Free Trade Area di kawasan Asia Tenggara merupakan
kerjasama regional dalam bidang ekonomi mempunyai tujuan untuk meningkatkan volume
perdagangan di antara negara anggota melalui penurunan tarif beberapa komoditas tertentu,
termasuk di dalamnya beberapa komoditas pertanian, dengan tarif mendekati 0-5 persen. Inti
AFTA adalah CEPT (Common Effective Preferential Tariff), yakni barang-barang yang
diproduksi di antara negara ASEAN yang memenuhi ketentuan setidak-tidaknya 40 %
kandungan lokal akan dikenai tarif hanya 0-5 %.
Sampai saat ini, CEPT masih merupakan hal yang sulit untuk dijalankan oleh Negaranegara di ASEAN, hanya Singapura saja yang sudah dapat mengurangi hambatan tarifnya
sebesar 0 %, sedangakan Negara-negara ASEAN lainnya masih berusaha untuk mencoba
mengurangi hambatan tarifnya.

Indonesia sebagai Negara yang menyetujui AFTA, sebentar lagi akan masuk ke dalam era
perdagangan bebas, sehingga bangsa ini akan bersaing dengan bangsa-bangsa ASEAN lainnya.
Dengan kondisi bangsa Indonesia dan perekonomian Indonesia saat ini, Indonesia dapat
dikatakan masih belum siap dalam menghadapi persaingan global. Sumber daya manusia
Indonesia dengan masih banyaknya masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keahlian yang
minim membuat Indonesia diprediksikan akan kalah dalam persaingan. Situasi politik dan
hukum di Indonesia yang amat sangat tidak pasti juga menambah jumlah nilai minus Indonesia
dalam menghadapi AFTA.

Daftar Pustaka

http://www.antara.co.id/arc/2007/4/4/infrastruktur-dan-sdm-indonesia-belum-siap-hadapi-afta/
(diakses pada tanggal 14 April 2007, Pk. 17.30 WIB)
http://pse.litbang.deptan.go.id/publikasi/FAE_21_1_2003_0.pdf. (diakses pada tanggal 14 April
2007, Pk. 17.45 WIB)
Pernyataan Ketua Komisi B DPRD Riau, T Azuwir dalam Riau Harus Bangun Industri Hilir
Perkebunan dalam http://www.riauhariini.com/daerah.php?act=full&id=1149&kat=14, 24
Januari 2010
http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=1&id=11981,Halal Jadi Kekuatan Produk Lokal
Bersaing Menghadapi AFTA
Menurut Edgar M Hoover dalam jurnal transnasional,Penetapan Batam,Bintan,dan Karimun
Sebagai SEZ oleh Dewi Yulinda hal 20-21 vol 1 edisi juli 2009.

Kerjasama yang terjalin antara Negara China dengan Negara-negara ASEAN yang mulai berlaku
pada 1 januari 2010.
Mocthar Mashoed,Studi Hubungan Internasional Tingkat Analisis dan Teorisasi hal 160.

[1][1] AFTA adalah Asean Free Trade area


[2][2] Pernyataan Ketua Komisi B DPRD Riau, T Azuwir dalam Riau Harus Bangun Industri Hilir Perkebunan dalam
http://www.riauhariini.com/daerah.php?act=full&id=1149&kat=14, 24 Januari 2010

[3][3] http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=1&id=11981,Halal Jadi Kekuatan Produk Lokal Bersaing


Menghadapi AFTA
19 Jan 2010