Anda di halaman 1dari 20

1

LAPORAN
PENGINDERAAN JARAK JAUH KELAUTAN

Oleh
RIESKA PARAMITA N.P
G1F113024

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
BANJARBARU
2015

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Kepulauan di Indonesia terbentuk oleh berbagai proses geologi (proses abrasi

atau pengikisan pantai maupun proses akresi atau pengendapan sedimen di pantai)
yang berpengaruhkuat pada pembentukan morfologi pantai maupun panjang garis
pantai. Dengan kondisi struktur tersebut , maka masalah lingkungan yang terjadi di
Indonesia yang cenderung meningkat dari waktuke waktu, dari pegunungan sampai
daerah pesisir, dari pedesaan ke daerah perkotaan dengan skalayang berbeda beda ,
dan bahaya alam yang sebagian besar terkait dengan tanah air .
Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan seni untuk memperoleh informasi
tentang objek, daerah atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh
dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap objek, daerah atau gejala
yang dikaji. Penerapan manfaat data informasi penginderaan jauh terutama foto
satelit dianggap paling baik sampai saat ini karena mempunyai tingkat resolusi yang
amat tinggi serta sifat stereoskopisnya sangat baik. Pembagian citra penginderaan
jauh (inderaja) bertujuan untuk menghasilkan peta tematik, dimana tiap warna
mewakili sebuah objek, misalkan hutan, laut, sungai, sawah, dan lain-lain. Makalah
ini

mempresentasikan

disain

dan

implementasi

perangkat

lunak

untuk

mengklasifikasi citra inderaja multispektral. Metode berbasis unsupervised yang


diusulkan

ini

adalah

integrasi

extraction, hierarchical (hirarki) clustering,

dari

metode feature
dan partitional

(partisi) clustering. Feature extraction dimaksudkan untuk mendapatkan komponen


utama citra multispektral tersebut, sekaligus mengeliminir komponen yang redundan,
sehingga akan mengurangi kompleksitas komputasi. Histogram komponen utama ini
dianalisa untuk melihat lokasi terkonsentasinya pixel dalam feature space.
Dalam perencanaan dan pengembangan suatu wilayah, diperlukan data-data
penunjang antara lain peta tutupan lahan. Peta tutupan lahan adalah peta yang
memberikan informasi mengenai objek-objek yang tampak di permukaan bumi.
Ketepatan informasi tutupan lahan akan memberikan kemudahan dalam melakukan
analisa perencanaan dan pengembangan suatu wilayah. Pembuatan peta tutupan
lahan, dapat memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, yang mana dalam
prosesnya menggunakan perangkat lunak pengolah citra.

Data klasifikasi tutupan lahan (land cover) mengacu pada data yang merupakan
hasil dari pengklasifikasian data citra satelit mentah menjadi data klasifikasi tutupan
lahan (land cover) . Klasifikasi citra bertujuan untuk pengelompokan atau melakukan
segmentasi terhadap kenampakan-kenampakan yang homogen dengan menggunakan
teknik kuantitatif.
Tutupan lahan (land cover) berbeda dengan penggunaan lahan (land use)
meskipun dua istilah ini sering digunakan secara bergantian. Penggunaan lahan
adalah deskripsi tentang bagaimana orang memanfaatkan lahan dan kegiatan sosial
ekonomi - perkotaan dan lahan pertanian merupakan dua kelas penggunaan lahan
yang paling umum dikenal. Pada satu titik atau tempat, mungkin ada beberapa
alternatif dan penggunaan lahan, spesifikasi yang mungkin memiliki politik dimensi.
Salah satu isu land cover (tutupan lahan) utama adalah bahwa setiap survei
mendefinisikan objek yang berbeda dengan nama yang sama. Sebagai contoh, ada
banyak definisi Forest, yang sebenarnya terdapat fitur hutan yang berbeda-beda
(tinggi, tutupan kanopi, hutan produksi, hutan kerapatan tinggi, hutan kerapatan
rendah, dan lain-lain ).
Citra satelit dan GIS untuk tutupan lahan (land cover) adalah kunci untuk
aplikasi yang beragam seperti lingkungan, kehutanan, hidrologi, pertanian, dan
geologi. Manajemen Sumber Daya Alam, Perencanaan dan program Pemantauan
bergantung pada informasi yang akurat tentang tutupan lahan (land cover) di suatu
daerah.
1.2.

Tujuan
Adapum tujuan dari laporan Penginderaan Jarak Jauh Kelautan ini adalah

sebagai berikut:
1.

Mengetahui cara melakukan proses penandaan (marking) objek untuk

2.

klasifikasi.
Mengetahui cara melakukan proses klasifikasi terawasi (supervised) terhadap
penampakan objek pada citra.

1.3. Ruang Lingkup


1.3.1. Ruang Lingkup Lokasi
Ruang lingkup lokasi praktik Penginderaan Jarak Jauh Kelautan yaitu di
perairan Desa Sungai Dua Laut, Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah

Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan. Secara geografis Desa Sungai Dua Laut
terletak pada posisi 34031,51 - 34213.57 Lintang Selatan dan 1151424 1160556 Bujut Timur. Sebelah timur dari lokasi praktik adalah laut terbuka,
yaitu berbatasan dengan Selat Makasar. Sebelah utara berbatasan dengan Desa
Persiapan Damar Indah dan Sumber Makmur.
1.3.2. Ruang Lingkup Materi
Adapun parameter yang dianalisis dari laporan Penginderaan Jarak Jauh
Kelautan adalah menganalisis citra dan membandingkan dengan data hasil praktek
lapang di Sungai Dua Laut. Analisis citra menggunakan aplikasi ArcView.

2.1.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


Pengertian Penginderaan Jarak Jauh
Penginderaan jauh didefinisikan sebagai proses perolehan informasi tentang

suatu obyek tanpa adanya kontak fisik secara langsung dengan obyek tersebut.
Informasi diperoleh dengan cara deteksi dan pengukuran berbagai perubahan yang
terdapat pada lahan dimana obyek berada. $rosestersebut dilakukan dengan cara
perabaan atau perekaman energi yang dipantulkan atau dipancarkan,memproses,
menganalisa dan menerapkan informasi tersebut. Informasi secara potensial
tertangkap pada suatu ketinggian melalui energi yang terbangun dari permukaan
bumi, yang secara detildidapatkn dari variasi-variasi spasial, spektral (Landgrebe,
2003).
Penginderaan jauh berasal dari kata remote sensing memiliki pengertian
bahwa penginderaan jauh merupakansuatu ilmu dan seni untuk memperoleh data dan
informasi dari objek dipermukaan bumi dengan menggunaka alat yang tidak
berhubungan langsung dengan objek yang dikajinya (Lillesand dan Kiefer,1990).
Pengindraan jauh adalah ilmu atau seni cara merekam suatu objek tanpa kontak
fisik dengan menggunakan alat pada pesawat terbang, balon udara, satelit, dan lainlain. Dalam hal ini yang direkam adalah permukaan bumi untuk berbagai

kepentingan manusia. Sedangkan arti dari citra adalah hasil gambar dari proses
perekaman penginderaan jauh (inderaja) yang umumnya berupa foto.
Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh data dari jarak jauh
dengan menggunakan peralatan tertentu. Data yang diperoleh itu kemudian dianalisis
dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Penginderaan Jauh merupakan terjemahan dari istilah remote sensing, adalah
ilmu, teknologi dan seni dalam memperoleh informasi mengenai objek atau
fenomena di (dekat) permukaan bumi tanpa kontak langsung dengan objek atau
fenomena yang dikaji, melainkan melalui media perekam objek atau fenomena yang
memanfaatkan energi yang berasal dari gelombang elektromagnetik dan mewujudkan
hasil perekaman tersebut dalam bentuk citra.
Pengertian tanpa kontak langsung di sini dapat diartikan secara sempit dan
luas. Secara sempit berarti bahwa memang tidak ada kontak antara objek dengan
analis, misalnya ketika data citra satelit diproses dan ditransformasi menjadi peta
distribusi temperatur permukaan pada saat perekaman. Secara luas berarti bahwa
kontak dimungkinkan dalam bentuk aktivitas ground truth, yaitu pengumpulan
sampel lapangan untuk dijadikan dasar pemodelan melalui interpolasi dan
ekstrapolasi pada wilayah yang jauh lebih luas dan pada kerincian yang lebih tinggi.
Beberapa Pengertian Penginderaan Jauh Oleh Para Ahli :
Menurut Lillesand and Kiefer
Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang
obyek, daerah atau gejala dengan jalan menganalisis data yang didapat dengan
menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah atau gejala yang
dikaji.
Menurut Lindgren
Penginderaan jauh adalah bermacam-macam teknik yang dikembangkan untuk
mendapat perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus
dalam bentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari
permukaan bumi.
Menurut Sabins
Penginderaan jauh adalah suatu ilmu untuk memperoleh, mengolah dan
menginterpretasi citra yang telah direkam yang berasal dari interaksi antara
gelombang elektromagnetik dengan suatu obyek.
Menurut Curran 1985

Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu penggunaan sensor radiasi


elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasi
sehingga menghasilkan informasi yang berguna.
Menurut Colwell 1984
Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan
data pada objek dipermukaan bumi dari satelit atau instrumen lain diatas jauh dari
objek yang diindera. Foto udara citra satelit dan citra radar adalah beberapa bentuk
penginderaan jauh.
Menurut Campbell 1987
Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi
mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak
jauh. Hal ini biasanya berhubungan dengan pengukuran pantulan atau pancaran
gelombang elektromagnetik dari suatu objek.
Menurut Avery 1985
Penginderaan jauh merupakan upaya memperoleh mengidentifikasi dan
menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian.
Menurut Richards dan jia 2006
Data penginderaan jauh diperoleh dari suatu satelit, pesawat udara balon udara
atau wahana lainnya. Data-data tersebut berasal rekaman sensor yang memiliki
karakteristik berbeda-beda pada masing-masing tingkat ketinggian yang akhirnya
menentukan perbedaan dari data penginderaan jauh yang di hasilkan.
Dari beberapa batasan pengertian diatas dapat disimpulkan

bahwa

penginderaan jauh merupakan upaya memperoleh informasi tentang objek dengan


menggunakan alat yang disebut sensor (alat peraba), tanpa kontak langsung dengan
objek atau penginderaan jauh merupakan pemantauan terhadap suatu objek dari jarak
jauh dengan tidak melakukan kontak langsung dengan objek tersebut.
Penginderaan jauh didefinisikan sebagai suatu metoda untuk mengenal dan
menentukan obyek dipermukaan bumi tanpa melalui kontak langsung dengan obyek
tersebut. Banyak pakar memberi batasan, penginderaan jauh hanya mencakup
pemanfaatan gelombang elektromaknetik saja, sedangkan penginderaan yang
memanfaatkan sifat fisik bumi seperti kemaknitan, gaya berat dan seismik tidak
termasuk dalam klasifikasi ini. Namun sebagian pakar memasukkan pengukuran sifat
fisik bumi ke dalam lingkup penginderaan jauh.
2.2.

Aplikasi Penginderaan Jarak Jauh di Bidang Kelautan

Inderaja yang dimanfaatkan dalam bidang kelautan disebut sebagai Seasat atau
MOS. Adapun pemanfaatan citra pengindraan jauh di bidang kelautan, yaitu sebagai
berikut :

Untuk mengamati sifat fisis air laut

Untuk mengamati pasang surut air laut dan gelombang laut

Sebagai pemetaan perubahan pantai, abrasi, sedimentasi dan lainnya


Inderaja yang dimanfaatkan dalam bidang hidrologi adalah Landsat dan SPOT.
Adapun pemanfaatan citra pengindraan jauh, yaitu :

Pemanfaatan daerah aliran sungai atau DAS dan konservasi sungai

Pemetaan sungai dan studi mengenai sedimentasi sungai

Pemanfaatan luas daerah dan intensitasi banjir


2.3. Tutupan Lahan
Tutupan lahan adalah kondisi kenampakan biofisik permukaan bumi yang
diamati. Penggunaan lahan adalah pengaturan, kegiatan dan input terhadap jenis
tutupan

lahan

tertentu

untuk

menghasilkan

sesuatu,

mengubah

atau

mempertahankannya. Analisis akan lebih efektif jika data yang dihasilkan dari kedua
istilah tersebut digabungkan karena memungkin mendeteksi lokasi perubahan terjadi,
perubahan tipe dan bagaimana suatu lahan berubah (Jansen dan Gregorio, 2002).
Penggunaan lahan berhubungan dengan kegiatan manusia pada sebidang lahan,
sedangkan penutup lahan adalah perwujudan fisik obyek-obyek yang menutupi lahan
tanpa mempersoalkan kegiatan manusia terhadap obyek-obyek tersebut. Satuansatuan penutup lahan kadang-kadang juga memiliki sifat penutup lahan alami
(Lillesand/Kiefer, 1994).
Secara lebih rinci, istilah lahan atau land dapat didefinisikan sebagai suatu
wilayah di permukaan bumi, mencakup semua komponen biosfer yang dapat
dianggap tetap atau bersifat siklis yang berada di atas dan di bawah wilayah tersebut,
termasuk atmosfer, tanah, batuan induk, relief, hidrologi, tumbuhan dan hewan, serta
segala akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa lalu dan sekarang;
yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap penggunaan lahan oleh manusia pada
saat sekarang dan di masa mendatang(Brinkman dan Smyth, 1973; dan FAO,
1976). Lahan dapat dipandang sebagai suatu sistem yang tersusun atas:
1.
komponen struktural yang sering disebut karakteristik lahan, dan
2.
komponen fungsional yang sering disebut kualitas lahan.
Klasifikasi tutupan lahan dan klasifikasi penggunaan lahan adalah upaya
pengelompokkan berbagai jenis tutupan lahan atau penggunaan lahan kedalam suatu
kesamaan sesuai dengan sistem tertentu. Klasifikasi tutupan lahan dan klasifikasi
penggunaan lahan digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam proses interpretasi

citra penginderaan jauh untuk tujuan pembuatan peta tutupan lahan maupun peta
penggunaan lahan. Menurut USGS (United States Geological Survey) sistem
klasifikasi tutupan lahan dan penggunaan lahan adalah seperti berikut:
Tabel 1.

Sistem klasifikasi tutupan lahan dan penggunaan lahan Menurut USGS


(United States Geological Survey)
Level I

Level II

Urban or built-up

Residential

land

Commercial and Service

Transportation, Communications
and utilities

Agricultural Land

Industrials and Commercial complexs

Mixed and commercial complexs

Mixed urban or built-up land

Other urban or built-up land

Cropsland and pasture

Orchads, groves, vineyards,


nurseries and ornamental
horticultural areas

Rangeland

Forest land

Water

Confined feedings operations

Other agricultural land

Herbaceous rangeland

Shrub-brushland rangeland

Mixed rangeland

Deciduous forest land

Evergreen forest land

Mixed forest land

Streams and canal

Lakes

Level I

Level II
3

Reservoirs

Bays and estuaries

Forested wetland

Nonforested wetland

Dry salt flats

Beaches

Sandy areas other than beaches

Bare exposed rock

Strip mines, quarries and gravel pits

Transitional areas

Mixed barren land

Shrub and brush tundra

Herbaceous tundra

Bare ground tundra

Wet tundra

Mixed tundra

Perennial snow or

Perennial snowfields

ice

Glaciers

Wetland

Barren Land

Tundra

Tabel klasifikasi tutupan lahan dan penggunaan lahan diatas mencakup


seluruh wilayah yang ada di bumi ini. Namun untuk penggunaan disuatu wilayah
tertentu hanya menggunakan sebagian saja dari tabel diatas. Misalnya untuk wilayah
Indonesia, tutupan dan penggunaan lahan yang umumnya digunakan adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.

Contoh tabel klasifikasi tutupan lahan dan penggunaan lahan


No

Tutupan/Penggunaan Lahan

Semak / Belukar

Danau / Waduk / Sungai

Hutan

10

2.4.

Kebun

Permukiman

Rawa

Sawah

Tegalan / Ladang

Klasifikasi Citra
Klasifikasi adalah teknik yang digunakan untuk menghilangkan informasi rinci

dari data input untuk menampilkan pola-pola penting atau distribusi spasial untuk
mempermudah interpretasi dan analisis citra sehingga dari citra tersebut diperoleh
informasi yang bermanfaat. Untuk pemetaan tutupan lahan, hasilnya bisa diperoleh
dari proses klasifikasi multispektral citra satelit. Klasifikasi multispektral sendiri
adalah algoritma yang dirancang untuk menyajikan informasi tematik dengan cara
mengelompokkan fenomena berdasarkan satu kriteria yaitu nilai spektral.
(Sekretariat FWI Simpul Bogor, 2003)
Klasifikasi multispektral diawali dengan menentukan nilai piksel tiap objek
sebagai sampel. Selanjutnya nilai piksel dari tiap sampel tersebut digunakan sebagai
masukkan dalam proses klasifikasi. Perolehan informasi tutupan lahan diperoleh
berdasarkan warna pada citra, analisis statik dan analisis grafis. Analisis statik
digunakan untuk memperhatikan nilai rata-rata, standar deviasi dan varian dari tiap
kelas sampel yang diambil guna menentukan perbedaan sampel. Analisis grafis
digunakan untuk melihat sebaran-sebaran piksel dalam suatu kelas.
2.4.1. Metode Klasifikasi Terbimbing (Supervised)
Pada metode supervised ini, analis terlebih dulu menetapkan beberapa training
area (daerah contoh) pada citra sebagai kelas lahan tertentu. Penetapan ini
berdasarkan pengetahuan analis terhadap wilayah dalam citra mengenai daerahdaerah tutupan lahan. Nilai-nilai piksel dalam daerah contoh kemudian digunakan
oleh komputer sebagai kunci untuk mengenali piksel lain. Daerah yang memiliki
nilai-nilai piksel sejenis akan dimasukan kedalam kelas lahan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Jadi dalam metode supervised ini analis mengidentifikasi kelas

11

informasi terlebih dulu yang kemudian digunakan untuk menentukan kelas spectral
yang mewakili kelas informasi tersebut (Indriasari, 2009).

Gambar 1.

Cara Kerja Metode Supervised

Algoritma yang bisa digunakan untuk menyelesaikan metode supervised ini


diantaranya adalah minimun distance dan parallelepiped.
2.4.2. Metode Klasifikasi Tak Terbimbing (Unsupervised)
Cara kerja metode unsupervised ini merupakan kebalikkan dari metode
supervised, dimana nilai-nilai piksel dikelompokkan terlebih dahulu oleh komputer
kedalam kelas-kelas spektral menggunakan algoritma klusterisasi (Indriasari, 2009).
Dalam metode ini, diawal proses biasanya analis akan menentukan jumlah kelas
(cluster) yang akan dibuat. Kemudian setelah mendapatkan hasil, analis menetapkan
kelas-kelas lahan terhadap kelas-kelas spektral yang telah dikelompokkan oleh
komputer. Dari kelas-kelas (cluster) yang dihasilkan, analis bisa menggabungkan
beberapa kelas yang dianggap memiliki informasi yang sama menjadi satu kelas.
Misal class 1, class 2 dan class 3 masing-masing adalah sawah, perkebunan dan
hutan maka analis bisa mengelompokkan kelas-kelas tersebut menjadi satu kelas,
yaitu kelas vegetasi. Jadi pada metode unsupervised tidak sepenuhnya tanpa campur
tangan manusia.
Beberapa algoritma yang bisa digunakan untuk menyelesaikan metode
unsupervised ini diantaranya adalah K-Means dan ISODATA.

12

Gambar 2.

Cara Kerja Metode Unsupervised

13

3.1.

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN


Waktu dan Lokasi
Peraktik lapang ini dilaksanakan pada tanggal 1 - 4 Desember 2015 di Desa

Sungai Dua Laut kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi
Kalimantan Selatan.

Gambar 1. Peta Lokasi Praktik Lapang di Desa Sungai Dua Laut


3.2. Alat dan Bahan
3.2.1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum penginderaan jarak jauh
kelautan adalah sebagai berikut :
1. GPS untuk memberi tanda titik lokasi
2. Alat tulis untuk mencatat data titik kordinat dan keterangan dilapangan
3. Perangkat computer untuk mengolah data
4. Aplikasi ArcView untuk membuat peta
3.2.2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum penginderaan jarak jauh
kelautan adalah citra ALOS tahun 2010.
3.3. Metode Pengambilan Data
Melakukan penelusuran lokasi (tracking) pada lokasi praktikum, kemudian
melakukan penandaan (marking) posisi terhadap obyek yang ditemui seperti jala,
pemukiman, hutan mangrove, lahan terbuka, tambak, lahan pertanian (sawit atau
sejenisnya), hutan (termasuk hutan belukar), dan lain-lain. Data yang diperoleh

14

dilapangan selanjutnya menjadi input pada tahapan pembuatan training area pada
citra untuk kepentingan klasifikasi pada tahap akhir.
3.3.1. Pengambilan GCP
Pengambilan GCP (Ground Control Point) dengan cara mengambilan titik
sampel dilapangan dengan menggunakan GPS yang selanjutnya digunakan untuk
keperluan pemberian koordinat pada proses rektifikasi yaitu pemberian koordinat
pada citra satelit berdasarkan data GCP yang ada dilapangan.
3.4.

Metode Analisis Data


Analisis data menggunakan klasifikasi terbimbing yang didasarkan pada

pengenalan pola spektral terdiri dari empat tahap, yaitu :


1. Tahap training sample: analisis menyusun kunci interpretasi dan
mengembangkan secara numerik spectral untuk setiap kenampakan dngan
memeriksa batas daerah (training area).
2. Tahapan klasifikasi : setiap pixel pada serangkaian data citra dibandingkan
setiap kategori pada kunci intrepetasi numeric, yaitu menentukan nilai
pixel yang tidak dikenal dan paling mirip dengan kategori yang sama.
Perbandingan tiap pixel citra dengan kategoripada kunci interpretasi
dikerjakan secara numeric dengan menggunakan berbagai strategi
klasifikasi (dapat dipilih salah satu dari jarak minimum rata-rata kelas,
parellelepiped, kemiringan maksimum). Setiap pixel kemudian diberi
nama sehingga diperoleh matrik multi dimensi untuk menentukan jenis
kategori penutupan lahan yang diinterpretasi.
3. Tahapan keluaran : hasil matriks didenileasi sehingga terbentuk peta
penutupan lahan, dan dibuat table matriks luas berbagai jenis tutupan lahan
pada citra.
4. Menghitung luas tutupan lahan : untuk menghitung luas area pada peta
yang telah dibuat harus menyesuaikan View Properties terlebih dahulu.
View Properties ada pada View pada toolbar, setelah sesuai dengan letak
dan posisi peta yang dibuat, maka langkah selanjutnya menghitung luas
dengan cara klik toolbar Geoteknika maka secara otomatis luas akan
terhitung. Dapat pula menghitung keliling, panjang, dan lain sebagai. Yang
harus diingat dalam menghitung luas ini adalah jangan lupa memodifikasi
atau menyesuaikan tabel (Attributes) sebelum menghitung.

15

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.

Peta Sebaran Ekosistem


Dibawah ini adalah peta hasil interpretasi citra dilihat berdasarkan identifikasi

pada citra ALOS 2010.

16

Gambar 2. Hasil interpretasi citra ALOS di Desa Sungai Dua Laut


Berdasarkan hasil interpretasi citra diatas (Gambar 2.) daerah Sungai Dua Laut
memiliki beraneka macam vegetasi. Berikut pertimbangan pemilihan kelas :
Tabel 3.

Pertimbangan pemilihan kelas berdasarkan hasil interpretasi citra ALOS

Nama

Kelas
Perair

o
.

an

Warn

Keterangan

a
Pada

kelas

perairan

ini

yang

termasuk di dalamnya adalah laut, sungai,


serta tubuh air lainnya. Hal ini dikarenakan
kenampakan objek objek tersebut sama

2
.

Mangr
ove

sehingga diklasifikasikan dalam satu kelas.


Alasan
pemilihan
kelas
ini
dikarenakan objek yang selalu berada di
kawasan pesisir atau pinggir pantai, tetapi
tidak menutup kemugkinan berada di dekat

3
.

Perke
bunan karet

objek perairan lain.


Kelas perkebunan

karet

dipilih

dikarenakan adanya kenampakan objek yang


siginifikan yaitu berada di tengah dengan
dikelilingi
belukar.

oleh

perkebunan

sawit

dan

17

Nama

Kelas
Perke

4
.

Warn

Keterangan

bunan sawit

Kelas

perkebunan

sawit

dipilih

dikarenakan kelas ini memiliki luasan cukup


besar pada citra dan memiliki kenampakan

5
.

Pemu
kiman

objek yang signifikan.


Kelas
pemukiman

dipilih

dikarenakan adanya kenampakan objek ini


yang siginifikan yaitu berada di tengah
dengan

6
.

Tamb
ak

dikelilingi

oleh

perkebunan karet.
Alasan
pemilihan

belukar

dan

kelas

ini

dikarenakan objek yang selalu berada di


kawasan pesisir dan bentuknya berpetakpetak seperti sawah,

tetapi tidak menutup

kemugkinan berada di dekat objek perairan


lain.
7
.

Beluk
ar

Kelas belukar dipilih dikarenakan


masih cukup banyak dijumpai objek belukar

Pantai

pada daerah citra ini.


Daerah ini

berbatasan

langsung

dengan laut dan memiliki bentuk memanjang


dari arah timur laut sampai barat daya
didaerah sungai dua laut.

4.2.

Luas Tutupan Lahan


Adapun hasil perhitungan luas tutupan lahan di Desa Sungai Dua laut adalah

sebagai berikut :
Tabel 4.
Luas Tutupan Lahan di Desa Sungai Dua Laut
No

Tutupan Lahan

Luas
(m2)

18

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Belukar
Kolom Perairan
Mangrove
Pantai
Perkebunan Karet
Perkebunan Sawit
Permukiman
Tambak
Jumlah

366.107
691.235
129.603
13.843,3
262.854
461.387
22.146,1
24.776
1.971.951

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui tutupan lahan yang berada di Desa
Sungai Dua Laut berjumlah 1.971.951 m2 dimana hasil luasan tersebut meliputi lahan
belukar, mangrove, perkebunan karet, perkebunan sawit, pemukiman, tambak,
pantai, dan kolom perairan. Tutupan lahan belukar memiliki luasan sebesar
366.106,604 m2, dimana luasan yang terdapat di daerah tersebut meliputi semak
belukar dan pepohonan liar, selain itu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
pemanfaatan lahan mengakibatkan cukup luasnya lahan tersebut. Tutupan lahan
mangrove memiliki luasan sebesar 129.603 m2 berada di kawasan pesisir atau pinggir
pantai, perkebunan karet di wilayah tersebut memiliki luasan sebesar 262.854 m 2,
dimana perkebunan tersebut merupakan mata pencaharian alternatif

masyarakat

Sungai Dua Laut selain menjadi nelayan. Tutupan lahan perkebunan sawit
merupakan

pemanfaatan lahan yang sangat dominan di Desa Sungai Dua Laut

memiliki luasan sebesar 461.387 m2. Lahan pemukiman di wilayah tersebut berada di
pesisir pantai yang berbatasan dengan perkebunan karet dan sawit, memiliki luasan
sebesar 22.146,1 m2, lahan tambak yang berdekatan dengan muara sungai memiliki
luasan sebesar 24.776 m2, namun lahan tersebut saat ini sudah tidak terpakai di
karenakan kondisi wilayah yang kurang memungkinkan. Tutupan lahan untuk
kawasan kolom perairan yang termasuk ke area praktik lapang memiliki luasan
sebesar 691.235 m2 dan untuk tutupan lahan kawasan pantai memiliki luasan sebesar
13.843,3 m2.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
1. Proses penandaan/marking dengan cara mengambil titik sampel dilapangan
dengan menggunakan GPS yang selanjutnya digunakan untuk keperluan

19

pemberian koordinat pada proses rektifikasi yaitu pemberian koordinat pada


citra satelit berdasarkan data penandaan/marking yang ada dilapangan.
2. Proses klasifikasi terawasi diawali dengan analis terlebih dulu yakni
menetapkan beberapa training area pada citra sebagai kelas lahan tertentu.
Penetapan ini berdasarkan pengetahuan analis terhadap wilayah dalam citra
mengenai daerah-daerah tutupan lahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
penggunaan lahan untuk perkebunan sawit dan karet sangat dominan
diwilayah tersebut. Setelah mengambil data titik koordinat wilayah vegetasi
di lokasi praktik dan membandingkannya dengan hasil interpretasi citra
diketahui bahwa hasil data titik koordinat sesuai dengan hasil interpretasi
citra. Berarti ketelitian citra ALOS dengan objek dilapangan dapat dikatakan
5.2.

akurat.
Saran
Laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu dibutuhkan kritik dan

saran sebagai masukan untuk penulis guna memperbaiki segala kekurangan yang ada
pada penulisan ini. Dalam praktek berikutnya agar lebih terlaksana dengan baik
sehingga data yang diperoleh lebih baik pula. Sehingga diperlukan kerjasama dalam
menganalisis data dan kejelasan pembagian tugas antar praktikan.

DAFTAR PUSTAKA
Landgrebe. 2003. Signal Theory Methods In Multispectral Remote Sensing . John
Willey and SonsInc.. New Jersey.
Lillesland dan Kiefer, 1990, Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta.
Gajah Mada University Press.
Nur Mohammad Farda. Tutorial Envi. Prodi Kartografi dan Penginderaan Jauh,
Jurusan Sains Informasi Geografi dan Pengembangan Wilayah. Fakultas
Geografi: Universitas Gadjah Mada.

20

Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh Dasar. Yogyakarta : Gadjah Mada University


Press.
Sutanto. 1992. Penginderaan Jauh; Jilid 1. Gajah Mada University.