Anda di halaman 1dari 36

Home

Makalah
o

Makalah Keperawatan

Makalah Kebidanan

Sub Menu 2.1

Sub Menu 2.2

Sub Menu 2.3

Laporan Pendahuluan Penyakit

Sub Menu 3.1

Sub Menu 3.2

Sub Menu 3.3

Laporan Pendahuluan

Daftar Artikel
Wednesday, September 14, 2016

Satya Excel Site -


Type here...
Enter your em

Topics :

Home Daftar Makalah MAKALAH PENYAKIT PNEUMONIA

MAKALAH PENYAKIT PNEUMONIA

Selasa, 09 Oktober 2012

MAKALAH TENTANG PENYAKIT PNEUMONIA

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS


KEPERAWATAN DEWASA II (KMB)
SEMESTER III
Dosen Pengampu : Arif Rohman Mansur S. Kep, Ns.

Disusun Oleh :
Satya Putra Lencana
M11.01.0015

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MADANI YOGYAKARTA

2012

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pneumonia adalah penyakit umum di semua bagian dunia. Ini adalah penyebab utama
kematian di antara semua kelompok umur. Pada anak-anak, banyak dari kematian ini terjadi
pada masa neonatus. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa satu dari tiga
kematian bayi baru lahir disebabkan pneumonia. Lebih dari dua juta anak balita meninggal
setiap tahun di seluruh dunia. WHO juga memperkirakan bahwa sampai dengan 1 juta ini
(vaksin dicegah) kematian yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus''''pneumoniae, dan
lebih dari 90% dari kematian ini terjadi di negara-negara berkembang. Kematian akibat
pneumonia umumnya menurun dengan usia sampai dewasa akhir. Lansia individu,
bagaimanapun, berada pada risiko tertentu untuk pneumonia dan kematian terkait. Karena
beban yang sangat tinggi penyakit di negara berkembang dan karena kesadaran yang relatif
rendah dari penyakit di negara-negara industri, komunitas kesehatan dunia telah
menyatakan untuk 2 November Hari Pneumonia Dunia, sehari untuk warga yang prihatin
dan pembuat kebijakan untuk mengambil tindakan terhadap penyakit. Di Inggris, kejadian
tahunan dari pneumonia adalah sekitar 6 kasus untuk setiap 1000 orang untuk kelompok
usia 18-39. Bagi mereka 75 tahun lebih dari usia, ini meningkat menjadi 75 kasus untuk
setiap 1000 orang. Sekitar 20-40% individu yang membutuhkan pneumonia kontrak yang
masuk rumah sakit antara 5-10% diterima ke unit perawatan kritis. Demikian pula, angka
kematian di Inggris adalah sekitar 5-10%. Individu-individu ini juga lebih cenderung
memiliki episode berulang dari pneumonia. Orang-orang yang dirawat di rumah sakit untuk
alasan apapun juga berisiko tinggi untuk pneumonia. Pneumonia merupakan komplikasi
yang sering terjadi setelah stroke yang menyulitkan penyembuhan pasien. Insidens yang
tinggi dari pneumonia nosokomial merupakan masalah yang sering terjadi di rumah sakit.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu pneumonia?
2. Mengapa sesorang bisa terkena pneumonia?
3. Apa yang menyebabkan seseorang terkena pneumonia?
4. Bagaimana tanda serta gejala dari pneumonia?
5. Bagaimana Asuhan Keperawatan serta diagnosa keperawatan yang tepat pada kasus
pneumonia?
C. TUJUAN

1. Untuk menjelaskan apa itu Pneumonia


2. Untuk menjelaskan penyebab penyakit Pneumonia, tanda dan gejala serta patofisiologinya
dalam tubuh.
3. Untuk mengetahui tindak lanjut intervensi keperawatan pada klien Pneumonia.
4. Untuk menjelaskan peran perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan utamanya
terhadap penderita Pneumoia
D. MANFAAT

1. Menambah wawasan, pengetahuan penulis dan pembaca di bidang kesehatan


khususnya pneumonia
2. Memberikan informasi mengenai masalah keperawatan pada pasien dengan
pneumonia dan penatalaksanaan masalah keperawatan
3. Dengan makalah ini diharapkan supaya para pembaca bisa lebih mengenal terhadap
tanda dan gejala yang berhubungan dengan Pneumonia.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. DEFINISI
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru atau alveoli.
Terjadinya pneumonia, khususnya pada anak, seringkali bersamaan dengan proses infeksi
akut pada bronkus, sehingga biasa disebut dengan bronchopneumonia. Gejala penyakit
tersebut adalah nafas yang cepat dan sesak karena paru-paru meradang secara mendadak.
Pneumonia adalah infeksi atau radang yang cukup serius pada paru-paru. Dari jenis-jenis
pneumonia itu ada yang spesifik/khusus yang disebut dengan tuberkulosis atau tbc atau Tb,
yang disebabkan oleh bakteri tuberkulosa. Jenis yang lain, adalah SARS yang adalah
pneumonia akibat -sampai hari ini- virus.
Pneumonia merupakan radang paru yang disebabkan mikroorganisme (bakteri, virus, jamur,
dan parasit).
Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi
akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton & Fugate, 1993).
Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian cairan di
dalam alveoli. Hal ini terjadi terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalah

adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran. Trakhabrnkialis, adalah pun beberapa
keadaan yang mengganggu mekanisme pertahanan sehingga timbul infeksi paru misalnya,
kesadaran menurun, umur tua, trakheastomi, pipa endotrakheal, dan lain-lain. Dengan
demikian flora endogen yang menjadi patogen ketika memasuki saluran pernafasa.
( Ngasriyal, Perawatan Anak Sakit, 1997)
Pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli)
yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi "inflame" dan terisi oleh
cairan. Pneumonia dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi oleh
bakteria, virus, jamur, atau parasit. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau
fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau
terlalu banyak minum alkohol.
B. TANDA DAN GEJALA

Batuk nonproduktif

Ingus (nasal discharge)

Suara napas lemah

Retraksi intercosta

Penggunaan otot bantu nafas

Demam

Ronchii

Cyanosis

Leukositosis

Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar

Batuk

Sakit kepala

Kekakuan dan nyeri otot

Sesak nafas

Menggigil

Berkeringat

Lelah.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - kulit yang lembab - mual dan muntah kekakuan sendi.
Secara umum dapat dibagi menjadi :
Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala, iritabel, gelisah,
malise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal. Gejala umum saluran pernapasan
bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum, napas cuping hidung, sesak napas, air
hunger, merintih, dan sianosis. Anak yang lebih besar dengan pneumonia akan lebih suka
berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. Tanda pneumonia
berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas bersama
dengan peningkatan frekuensi napas), perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas
melemah, dan ronki. Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak ekskursi dada
tertinggal di daerah efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, suara
napas tubuler tepat di atas batas cairan, friction rub, nyeri dada karena iritasi pleura (nyeri
berkurang bila efusi bertambah dan berubah menjadi nyeri tumpul), kaku
kuduk/meningismus (iritasi meningen tanpa inflamasi) bila terdapat iritasi pleura lobus
atas, nyeri abdomen (kadang terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus
kanan bawah). Pada neonatus dan bayi kecil tanda pneumonia tidak selalu jelas. Efusi
pleura pada bayi akan menimbulkan pekak perkusi.
C. ETIOLOGI
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau
sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri
positif-gram, Streptococus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus.
Bakteri Staphylococcus aureus dan streptokokus beta-hemolitikus grup A juga sering
menyebabkan pneumonia, demikian juga Pseudomonas aeruginosa. Pneumonia lainnya
disebabkan oleh virus, misalnya influenza. Pneumonia mikoplasma, suatu pneumonia yang
relatif sering dijumpai, disebabkan oleh suatu mikroorganisme yang berdasarkan beberapoa
aspeknya, berada di antara bakteri dan virus. Individu yang mengidap acquired
immunodeficiency syndrome, (AIDS) sering mengalami pneumonia yang pada orang
normal sangat jarang terjadi yaitu pneumocystis carinii. Individu yang terpajan ke aerosol
dari air yang lama tergenang, misalnya dari unit pendingin ruangan (AC) atau alat
pelembab yang kotor, dapat mengidap pneumonia Legionella. Individu yang mengalami
aspirasi isi lambung karena muntah atau air akibat tenggelam dapat mengidap pneumonia
asporasi. Bagi individu tersebut, bahan yang teraspirasi itu sendiri yang biasanya
menyebabkan pneumonia, bukan mikro-organisme, denmgan mencetuskan suatu reaksi
peradangan.
Etiologi:

Bakteri : streptococus pneumoniae, staphylococus aureus


Virus : Influenza, parainfluenza, adenovirus
Jamur : Candidiasis, histoplasmosis, aspergifosis, coccidioido mycosis, cryptococosis,

pneumocytis carini
Aspirasi : Makanan, cairan, lambung
Inhalasi : Racun atau bahan kimia, rokok, debu dan gas
Pneumonia virus bisa disebabkan oleh:

Virus sinsisial pernafasan

Hantavirus

Virus influenza

Virus parainfluenza

Adenovirus

Rhinovirus

Virus herpes simpleks

Sitomegalovirus.

Virus Influensa

Virus Synsitical respiratorik

Adenovirus

Rubeola

Varisella

Micoplasma (pada anak yang relatif besar)

Pneumococcus

Streptococcus

Staphilococcus
Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah: - virus sinsisial pernafasan adenovirus - virus parainfluenza dan - virus influenza.
Faktor-faktor risiko terkena pneumonia, antara lain, Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA), usia
lanjut, alkoholisme, rokok, kekurangan nutrisi, Umur dibawah 2 bulan, Jenis kelamin lakilaki , Gizi kurang, Berat badan lahir rendah, Tidak mendapat ASI memadai, Polusi udara,
Kepadatan tempat tinggal, Imunisasi yang tidak memadai, Membedong bayi, efisiensi
vitamin A dan penyakit kronik menahun.

D. PATHOFISIOLOGI
Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau kuman di
tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di
tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyakit) yang masuk
akan dilawan oleh pelbagai sistem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batukbatuk, atau perlawanan oleh sel-sel pada lapisan lendir tenggorokan, hingga gerakan

rambut-rambut halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar. Tentu itu
semua tergantung besar kecilnya ukuran sang penyebab tersebut.
E.

PATHWAY

F. PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN


PENGOBATAN
Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan antibiotik per-oral
(lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah.
Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit jantung
atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotik diberikan melalui infus. Mungkin perlu
diberikan oksigen tambahan, cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik.
Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaannya
membaik dalam waktu 2 minggu.
Penatalaksanaan untuk pneumonia bergantung pada penyebab, sesuai yang ditentukan oleh
pemeriksaan sputum mencakup :

Oksigen 1-2 L/menit.

IVFD dekstrose 10 % : NaCl 0,9% = 3 : 1, + KCl 10 mEq/500 ml cairan. Jumlah


cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi.

Jika sesak tidak terlalu berat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui
selang nasogastrik dengan feeding drip.

Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta
agonis untuk memperbaiki transport mukosilier. Koreksi gangguan keseimbangan
asam basa dan elektrolit.

Antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :


Untuk kasus pneumonia community base :

Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.

Kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberia

Untuk kasus pneumonia hospital base :

Sefatoksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.

Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Gangguan petukaran gas

Bersihan jalan napas tidak efektif

Gangguan pola napas

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Isomnia

Intoleransi aktivitas

Hipertermi

H. NOC
Respiratory status
1. Tidak ada sianosis dan dyspneu
2. Pasien mampu bernafas dengan mudah
3. Tidak ada pursed lips
4. Menunjukkan jalan nafas yang paten (pasien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi
5.

pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal


Tanda tanda vital dalam rentang normal

Respiratory status : airway patency


1. Pasien tidak mengeluh sesak napas
2. Pasien bisa mengeluarkan dahak dengan batuk yang efektif
3. Mulut tidak terlihat sianosis
4. RR dalam rentang normal
Respiratory status : ventilation
1. Pasien tidak sesak nafas
2. Tidak menggunakan otor bantu pernafasan
3. Fase ekspirasi dan inspirasi dalam rentang normal
4. Tidak ada retraksi dada
Nutritional status
1. Peristaltik usus dalam rentang normal
2. Asupan makanan adekuat
3. Asupan cairan seimbang
4. Asupan nutrisi dalam rentang normal
5. Berat badan dalam batas normal
Sleep
1. Pasien tidak mengeluh susah tidur
2. Jam tidur pasien dalam rentang normal
3. Pola tidur pasien tidak terganggu
Thermoregulation
1. Suhu tubuh dalam rentang normal
2. Nadi dan RR dalam rentang nomal
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

I.

NIC

Respiratory Monitoring
1. Monitor Frekuensi, ritme, kedalaman pernafasan
2. Catat pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot tambahandan retraksi otot intracosta
3. Monitor pernafasan hidung
4. Monitor pola nafas : bradipnea, takipnea, hiperventilasi
5. Palpasi ekspansi paru
6. Monitor hasil rongen
7. Auskultasi suara pernafasan
Airway Management
1. Buka jalan nafas
2. Gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
3. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
4. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
5. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
6. Keluarkan secret dengan batuk efektif atau suction
7. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
8. Monitor respirasi dan status O2
9. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan
10. Kolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu
11. Pasang mayo bila perlu
12. Lakukan suction pada mayo
Airway Management
1. Buka jalan nafas
2. Gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
3. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
4. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
5. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
6. Keluarkan secret dengan batuk efektif atau suction
7. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
8. Monitor respirasi dan status O2
9. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan
10. Kolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu
11. Pasang mayo bila perlu
12. Lakukan suction pada mayo
Nutrition Management
1. Kaji adanya alergi makanan
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukkan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
pasien
3. Monitor julkah nutrisi dan kandungan kalori
4. Berikan makanan yang terpilih yang disukai pasien
5. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Sleep enhancement
1. Monitor pola tidur dan jam tidur pasien
2. Sesuaikan lingkungan (cahaya, kebisingan, suhu, tempat tidur
3. Tentukan jam tidur pasien
Temperature regulation

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Monitor suhu minimal tiap 2 jam


Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
Monitor TD, nadi dan RR
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tanda-tanda hipertemi dan hipotemi
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh
Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan, akibat panas
Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif dan

kedinginan
10. Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan emergency yang
diperlukan
11. Ajarkan indikasi dari hipertemi dan penanganan yang diperlukan
12. Berikan ant pireti jika perlu

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY.K DI BANGSAL MELATI DENGAN
DIAGNOSA MEDIS PNEUMONIA DI RSUD MADANI YOGYAKARTA
Ny. K sudah 2 hari yang lalu mengeluh sesak napas batuk susah mengeluarkan dahak, dari
pemeriksaan perawat diperoleh data : suhu tubuh 37, TD 120/90 mmHg, RR 30, auskultasi
suara paru ronchy, terlihat menggunakan otot bantu pernafasan, setelah di rontgen thorax
photo menunjukkan filtrasi melebar.
A. PENGKAJIAN
IDENTITAS PASIEN
No Rek
: 12345
Tanggal masuk : 5 Desember 2011
Nama
: Ny. K
Alamat
: wonosari
Usia
: 50 tahun
Jenis Kelamin
: laki-laki
Status
: kawin
Pendidikan
: SMA
Agama
: islam

Keluhan utama :
Pasien mengeluh sesak napas

IDENTITAS KELUARGA
Nama
: Tn. A
Alamat
: wonosari
Usia
: 58 th
Jenis Kelamin
: Perempuan
Status
: kawin
Pendidikan
: SMA
Agama
: islam
Hubungan dg Pasien : suami

Riwayat kesehatan sekarang :


sejak 2 hari yang lalu pasien mengeluh sesak napas, pada saat batuk susah
mengeluarkan dahak. Dibawa ke Rumah Sakit Madani Yogyakarta pada
tanggal 10 Desember jam 08.00. setelah dilakukan tindakan keperawatan
didapat data suhu tubuh 37, TD 120/90 mmHg, RR 30x/mnt, nadi 90x/mnt,
auskultasi suara paru ronchy, terlihat menggunakan otot bantu pernafasan,
terlihat fase ekspirasi memanjang saat bernafas, mulut sianosis
Riwayat kesehatan dahulu :
Pasien
pernah
menderita
demam
typhoid dan dirawat di RS Sarjito
Riwayat
kesehatan
keluarga
:
Ayah pasien menderita hipertensi, tidak ada riwayat DM
Yogyakarta.
Riwayat alergi :
Pasien tidak mengalami alergi makanan atau obat-obatan.
Genogram

Ket :

Pasien perempuan

Laki laki meninggal


Laki laki hidup
Perempuan
hidup

a.

Pola Fungsi Yang Bermasalah


Pola manajemen kesehatan-persepsi kesehatan:
Tingkat pengetahuan kesehatan atau penyakit
Pasien mengatakan saya sudah mengetahui tentang penyakit yang saya

derita ini
Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan
pasien mengatakan jika merasa sesak napas, saya langsung duduk sebentar

hingga rasa sesak hilang


Faktor faktor yang sehubungan dengan kesehatan
pasien mengatakan saya sering bekerja sampai larut malam hingga

kelelahan.
b. Pola aktivitas dan latihan

Sebelum sakit
Aktivitas
Makan
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilisasi ditempat tidur
Berpindah
Ambulansi
Naik Tangga

Keterangan :
: mandiri
: dibantu sebagian
: dibantu orang lain
: dibantu orang dan alat
: Ketergantungan/tidak mampu

Selama Sakit
Aktivitas
Makan
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilisasi ditempat tidur
Berpindah
Ambulansi
Naik Tangga
Keterangan :
: mandiri
: dibantu sebagian
: dibantu orang lain
: dibantu orang dan alat
: Ketergantungan/tidak mampu

c.

Pola Eliminasi

Sebelum sakit

pasien mengatakan sebelum sakit saya tidak


pernah terganggu pola BAB dan BAK, tidak pernah
mengalami kesulitan BAB dan BAK.

Selama sakit

pasien mengatkan selama sakit saya tidak ada


masalah pada pola BAB dan BAK.

d. Pola Nutrisi-Metabolik
Sebelum sakit

Pasien mengatakan saya makan 3 x sehari dengan


porsi penuh dengan lauk ikan, tempe, telur & kuah
sop kadang juga pakai daging ayam dan saya
makan selalu habis sering juga untuk menambah
lagi dan saya minum air putih sekitar 10 gelas

Selama sakit

seharinya .
Pasien mengatakan saya jarang makan di
karenakan tidak nafsu makan, terkadang saya
makan hanya sekali saja dalam sehari dan tidak
habis dengan lauk ayam goreng, telur rebus, kuah
sop sapi, minumnya tidak ada perubahan sekitar 10
gelas / harinya.

e. Pola istirahat-tidur
Sebelum sakit :

Pasien mengatakan saya biasanya tidur pukul 10


malam dan terbangun pada pukul 5 atau setengah 6,
dan tidur saya pulas/puas tanpa ada gangguan pola
tidur atau pun cemas karena fikiran .

Selama sakit :

Pasien mengatakan ketika saya tidur, terkadang


sesak napas tiba-tiba dan batuk, saya jadi terbangun
dan susah untuk tidur lagi, kira-kira saya tidur
sehari selama 2 jam saja dan tidak pernah tidur
siang .

f.

Pola Kognitif Perseptual

Sebelum sakit
pasien mengatakan saya mampu berkomunikasi
dengan baik dan mengerti apa yang dibicarakan,

Selama sakit

serta mampu merespon dan bersosialisasi dengan


baik.
pasien mengatakan saya masih bisa
berkomunikasi dengan baik, dan dapat menjawab
pertanyaan dengan baik ketika ditanya oleh petugas
rumah sakit.

g. Pola Konsep diri


Gambaran diri
Pasien mengatakan saya senang dengan anggota tubuh saya,meskipun saya
terlihat gemuk.
Identitas diri
Pasien mengatakansaya bersyukur diciptakan sebagai perempuan dan saya
bangga pada diri saya karna sudah mampu melahirkan 3 orng ank.
Peran diri
Pasien mengatakansaya berperan dirumah sebangai ibu rumah tangga yang
mengurus 3 orang ank dan 1 suami.
Ideal diri
Pasien mengatakan harapan saya sebagai seorang istri harus dapat mengurus 3 org
anak dan seorang suami.
Harga diri
Pasien mengatakan saya sebagai ibu rumah tangga senang karena memiliki
seorang suami yang menghargai saya
h. Pola toleransi stress

koping
Sebelum sakit

pasien mengatakan jika saya ada masalah selalu


menceritakan masalah saya kepada keluarga dan

Selama sakit

tidak pernah menyembunyikan masalah


pasien mengatakan saya masih selalu
menceritakan masalah saya kepada keluarga dan
tidak pernah menyembunyikan masalah walaupun
dalam keadaan sakit

i.

Pola Reproduksi-seksualitas
Tidak dikaji (pasien menolak)

j.

Pola hubungan peran

Pasien mengatakan hubungan saya dengan

Sebelum sakit

keluarga saya baik-baik saja dan saya tidak merasa


di kucilkan dari keluarga serta masyarakat

selama sakit

sekitarnya .
Pasien mengatakan hubungan saya sama keluarga
dan masyarakat disekitar masih baik-baik saja
tidak ada rasa saya di kucilkan dari orang-orang
malahan teman dan kerabat banyak yang
mendoakan saya agar cepat sembuh .

k. Pola nilai dan keyakinan

Sebelum sakit
pasien mengatakan saya ibadah tidak rutin,

Selama sakit

terkadang hanya magrib yang dilaksanakan


pasien mengatakan selama sakit saya tidak pernah
melakukan ibadah dikarenakan sering sesak jika
bergerak.

B.

PEMERIKSAAN FISIK

1. PENAMPAKAN UMUM
Keadaan

Sedang

umum
Kesadaran

Composmentis

GCS

15

TD : 120/90

Suhu : 37C

mmHg
Skala Nyeri

E:4

V:5

M:6

RR : 30x/mnt

Nadi : 90x/mnt

2. Kepala dan leher


a. Rambut

Inspeksi : Rambut lurus, beruban, sedikit


berketombe.
Palpasi : Rambut halus ,lembut .

b. Mata

Inspeksi : Bentuk mata simetris,sklera tidak ikterik,


ada reaksi pupil ketika di beri cahaya, palpebra
menghitam (terlihat sembab), konjungtiva tidak
anemis.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada kedua bola

c.

Telinga

mata dan tidak ada masa.


Inspeksi : Bentuk telinga kiri & kanan simetris,
tidak ada lesi, tidak ada serumen yang abnormal.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada tragus dan

d. Hidung

prosesus mastoideus
Inspeksi : Lubang hidung simetris,tidak terdapat
lesi, pernapasan cuping hidung.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada hidung ,tidak

e.

Mulut

terdapat masa maupun polip.


Inspeksi : Tidak ada lesi, bibir simetris, tidak ada
stomatitis &tonsilitis, tidak terdapat sariawan,
mulut sianosis .
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada palatum &

f.

Leher

tidak ada pembengkakan.


Inspeksi : Tidak ada lesi, gerakan rotasi dan fleksi
rentang normal, vena juguralis tak terlihat
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan tidak terdapat
masa.

3. DADA
Inspeksi

dada cekung (retraksi intercosta),


Tidak ada nyeri tekan, pengembangan ekspansi

Palpasi

dada dari inspirasi maupun ekspirasi tidak


simetris,tidak terdapat masa.
Terdengar bunyi sonor pada dada,

Perkusi
suara napas ronchi.

Auskultasi
4. Jantung

Inspeksi

Ictus cordis tak terlihat di intracosta ke 5 mid

Palpasi

clavicula sinistra
Ictus cordis teraba,tidak ada nyeri tekan

Perkusi

Auskultasi

Perkusi jantung redup


Suara I dan suara II terdengar bunyi lub dub lub
dub dalam rentang normal.

5. Abdomen

perut kelihatan kecil, tidak ada tanda-tanda

Inspeksi

inflamasi, Tidak ada lesi, elastisitas kulit dalam


rentang normal,tidak terdapat benjolan.

Auskultasi

Palpasi

suara usus hiperperistaltik 40x/mnt


nyeri tekan pada abdomen .tidak terdapat masa
,pada area appendix atau pada kuadran atas / bawah
tidak ada nyeri tekan.
perkusi abdomen timpani

Perkusi

6. Inguenal dan genetalia


Tidak dikaji (pasien menolak)
7. Ekstremitas

Inspeksi
Tidak terdapat lesi pada ektremitas pada atas & bawah ,tidak terjadi patah tulang.
Palpasi
Tidak ada nyeri tekan pada kedua tangan dan kaki, akral terasa hangat , tidak ada
edema.
Kekuatan otot

4
4

4
4

C. TERAPI OBAT
1.
2.
3.
4.

Sefotoksim
: 2x1
Amikasin
: 2x1
O2
: 2L/mnt
Infus NaCl 0,9% : 3x1

D. DATA FOKUS

Data Subjektif
Pasien mengeluh sesak napas, pada

saat batuk susah mengeluarkan dahak

Pasien mengatakan nafsu makan

Data Obyektif
RR 30x/mnt
auskultasi suara paru ronchy
terlihat menggunakan otot bantu

berkurang
Pasien mengatakan saya kurang bisa

tidur karna sesak nafas

pernafasan
pernapasan cuping hidung
dada cekung
Fase ekspirasi terlihat memanjang

E.

hiperperistaltik 40x/mnt
palpebra menghitam (terlihat sembab)
Nyeri tekan pada abdomen
Mulut terlihat sianosis

ANALISA DATA
Symtom
Ds :

Etiologi
Sputum dalam jumlah

Problem
Ketidakefektifan

Pasien mengeluh sesak

berlebihan

bersihan jalan nafas

Hiperventilasi

Ketidakefektifan pola

napas pada saat batuk


susah mengeluarkan
dahak
Do :

auskultasi suara paru

ronchy
Mulut terlihat sianosis
RR 30 x/mnt
Ds :

nafas

Pasien mengeluh sesak


nafas
Do :

Fase ekspirasi terlihat

memanjang
terlihat menggunakan

otot bantu pernafasan


pernapasan cuping

hidung
dada cekung
Ds :

Faktor psikologis

Ketidakseimbangan

Pasien mengatakan

nutrisi kurang dari

nafsu makan berkurang

kebutuhan tubuh

Do :

hiperperistaltik 40x/mnt
nyeri tekan pada daerah
abdomen
Ds :

Ketidaknyamanan fisik

Pasien mengatakan

(sesak napas)

saya kurang bisa tidur

Insomnia

karna sesak nafas


Do :

Palpebra menghitam
(terlihat sembab)

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH


1.
2.
3.
4.

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas


Ketidak efektifan pola nafas b/d hiperventilasi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor psikologis
Insomnia b/d ketidaknyamanan fisik (sesak napas)

F. PERENCANAAN NIC DAN NOC


Hr/tg

jam

NOC/ tujuan

NIC / intervensi

Setelah dilakukan

Airway Management

o
D

10

08.0

des

x
1

Buka jalan nafas


Gunakan teknik chin lift

ketidakefektifan bersihan

jalan nafas dapat teratasi

atau jaw thrust bila perlu


Posisikan pasien untuk

tindakan keperawatan

2011

selama 1x24 jam

dengan kriteria hasil:


Respiratory status :

perlunya pemasangan alat

ventilation-0403

memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien
jalan nafas buatan
Lakukan fisioterapi dada

Pasien tidak mengeluh

sesak napas
bila perlu
Pasien bisa mengeluarkan
Keluarkan secret dengan
dahak dengan batuk yang

efektif

batuk efektif atau suction


Auskultasi suara nafas,

Mulut tidak terlihat

catat adanya suara

sianosis
tambahan
RR dalam rentang normal
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan

Respiratory Monitoring

selama 1x24 jam

Monitor Frekuensi, ritme,

gangguan pola nafas dapat

kedalaman pernafasan
Catat pergerakan dada,

teratasi dengan kriteria

kesimetrisan, penggunaan

Ttd

hasil :

otot tambahandan retraksi

Respiratory Status-0415

otot intracosta
Monitor pernafasan

Pasien tidak sesak nafas


Tidak menggunakan otor

bantu pernafasan
Fase ekspirasi dan

normal

Tidak ada retraksi dada

Setelah dilakukan

pernafasan
Nutrition Management

tindakan keperawatan

selama 2x24 jam

Kaji adanya alergi

ketidakseimbangan nutisi

makanan
Kolaborasi dengan ahli

kurang dari kebutuhan

gizi untuk menentukkan

tubuh dapat teratasi

jumlah kalori dan nutrisi

dengan kriteria hasil :

yang dibutuhkan pasien


Monitor julkah nutrisi dan

kandungan kalori
Berikan makanan yang

Nutitional status-1004

Peristaltik usus dalam

rentang normaL
Asupan makanan adekuat
Asupan cairan seimbang
Asupan nutrisi dalam

rentang normal
Berat badan dalam batas

terpilih yang disukai pasien


Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
Nutrition monitoring

Monitor BB pasien
Monitor makanan

kesukaan pasien
Monitor mual dan muntah
Sleep enhancement

Monitor pola tidur dan

Insomnia dapat teratasi

jam tidur pasien


Sesuaikan lingkungan

dengan kriteria hasil :

(cahaya, kebisingan, suhu,

Sleep-0004

tempat tidur)
Tentukan jam tidur pasien

normal

bradipnea, takipnea,
hiperventilasi
Palpasi ekspansi paru
Monitor hasil rongen
Auskultasi suara

inspirasi dalam rentang

hidung
Monitor pola nafas :

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 2x24 jam

Pasien tidak mengeluh

susah tidur
Jam tidur pasien dalam
rentang normal

Pola tidur pasien tidak


terganggu

G. IMPLEMENTASI
Hari/

Jam

No

Tindakan

Respon

tgl
10

08.0

Dx
1

Menganamnesa Pasien

Ds : Pasien mengatakan

des

Memasang Infus NaCl

sesak napas
Do : terpasang infus

2011

08.1

Mengukur TTV

5
1

Memberikan injeksi

sefotaksim melalui IV
Memposisikan pasien

08.2

pada posisi semi fowler

Membuka jalan nafas


pasien dengan teknik
jaw trusth
1
Menganjurkan pada
pasien perlunya alat
bantu pernafasan dan
0

RR 30x/mnt
DO : sefotaksim 100 mg
melalui selang infus.
Ds : pasien mengatakan

menggunakan otot
bantu pernafasan
Ds : pasien mengatakan
saya masih sesak

09.3

x/mnt TD 110/80mmHg

masih sesak
Do : terlihat masih

08.3

NaCl 20tpm
Do : suhu 37, Nadi 90

memasang oksigen

napas
Do : terlihat ekspirasi
lebih dalam
Ds : pasien mengatakan
saya mau dipasang alat
bantu pernapasan
Do : terpasang alat

Memantau pergerakan
dada, kesimetrisan,
2
11.00

1,2

bantu napas kanul


binasal 2L/menit

penggunaan otot bantu


pernapasan

Do : Ekspirasi
memanjang, dada tidak

1
Melakukan tindakan
11.15

palpasi ekspansi paru


Melakukan tindakan
auskultasi suara napas
Mengukur TTV

1130

menggunakan otot
bantu pernafasan
Do : ekspirasi
memanjang
Do : suara napas roncy

12.0
0

simetris, masih

Menyarankan kepada

Paraf

pasien untuk makan dan


Memberikan pasien
12.3

makan siang dengan

menu tinggi protein,


2

14.0

bernutrisi dan berkalori.


Melakukan tindakan

Do : suhu 36,9 TD
120/80mmHg, nadi
80x/mnt, RR 28x/mnt
Ds : pasien mengatakan
saya tidak nafsu

mengeluarkan sputum

makan
Do : pasien makan

dengan batuk efektif

menghabiskan hanya

2/3 porsi.
Ds : pasien mengatakan
2
3

16.0

Memantau pergerakan

senang ketika dahak

dada, kesimetrisan,

dikeluarkan, walaupun

penggunaan otot

rasanya masih ada


Do : sputum keluar,

tambahan

warna putih kental.


Ds : pasien mengatakan
2

sesak berkurang
walaupun biasanya
Mengganti cairan infus

NaCl
Memonitor Hasil
rongen

kambuh pada malam


hari
Do : dada masih tidak
simetris, pasien masih
menggunakan otot

Melakukan tindakan
auskultasi suara paru

dan palpasi ekspansi

NaCl 20tpm
Do : bagian paru terlihat

paru

radiopaque pada poto

Mengukur TTV
20.1
5
21.0
0

bantu pernafasan
Do : Infus terpasang

rongen dan filtrasi


melebar

3
Memberikan makanan

Do : suara paru sonor,

yang terpilih yang

ekspirasi masih

disukai pasien

memanjang

Memberikan injeksi
sefotaksim melalui IV

DO : S: 37,5o TD :
120/90 mmHg RR:

Menanyakan pola tidur


dan jam tidur pasien

26x/mnt N : 98x/mnt.
DO : pasien makan
dengan nasi+sup+telur

11 des
2011

21.3
0

Menyesuaikan

DO : sefotaksim 100 mg

lingkungan (cahaya,

melalui selang infus.

kebisingan, suhu,
tempat tidur)

DS : Pasien mengatakan
biasanya tidur jam 10
malam.
DS : pasien mengatakan
tidak bisa tidur dalam
keadaan terang dan

12.0
5

mengatur cahaya lampu


(redup), mengatur suhu
ruangan sesuai
kebutuhan pasien.

06.3

Menentukan jam tidur

pasien

panas
DO : pasien terlihat
risih dengan
pencahayaan di ruangan
kamarnya.
DO : lampu di setting
redup dan suhu kamar
disesuaikan

Memberikan informasi
07.0

kepada pasien untuk

tidur dengan posisi semi


fowler
Mengganti cairan Infus
Mengukur TTV

DO : meminta pasien
tidur jam 22.00.
DS : pasien mengatakan
saya akan tidur jam
22.00
Ds : Pasien mengatakan
saya akan tidur dengan
3 bantal

Memberikan pasien
sarapan pagi dengan
menu tinggi protein,
nutrisi dan kalori.

Do : terpasang cairan
infus NaCl 20tpm
Do : suhu 36,7 Nadi
80x/mnt, TD
120/80mmHg, RR
26x/mnt
Ds : pasien mengatakan
tidak ada nafsu
makan
Do : Pasien tidak
menghabiskan
makanannya, pasien
hanya makan 2/3 porsi

H. EVALUASI

Tgl/h
ari
11

Jam
07.00

No

Catatan perkembangan

Dx
1 S : pasien mengatakan senang ketika dahak

des

dikeluarkan, walaupun rasanya masih ada, pasien

2011

masih mengeluh sesak nafas


O : Pasien masih menggunakan otot bantu
pernafasan, ekspirasi memanjang, RR 26xmnt
A : Tujuan belum tercapai ( pasien masih mengeluh
sesak napas, masih menggunakan otot bantu
pernafasan, ekspirasi masih memanjang

11

07.00

des

RR26x/mnt)
P : lanjutkan intervensi
Airway Management
S : Pasien mengatakan sesak berkurang walaupun
biasanya kambuh pada malam hari
O : suara paru sonor, dada tidak simetris, pasien

2011

masih menggunakan otot bantu pernafasan


A : Tujuan belum tercapai (masih sesak napas,
masih menngunakan otot bantu pernafasan, dada

11

07.00

des

makanan
A : Tujuan belum tercapai (pasien tidak nafsu

2011

11
des
2011

tidak simetris)
P : Lanjutkan Intervensi
Respiratory Monitoring
S : pasien mengatakan saya tidak nafsu makan
O : pasien hanya mampu menhabiskan 2/3 porsi

07.00

makan,hanya menghabiskan 2/3 porsi)


P : lanjutkan Intervensi
Nutrition Management
4 : pasien mengatakan tidak bisa tidur dalam keadaan
terang dan panas
O : pasien terlihat risih dengan pencahayaan di
ruangan kamarnya.
: tujuan belum tercapai (pasien mengatakan saya
tidak bisa tidur, pasien terlihat risih)
P : lanjutkan intervensi
Sleep enhancement

Ttd

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah kami membahas makalah mengenai asuhan keperawatan terhadap pasien
pneumonia, sebagaimana yang telah dipaparkan dalam makalah menyatakan bahwa
pneumonia merupakan inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian
alfeoli dengan cairan. Penyebabnya termasuk berbagai agen infeksi, iritan kimia, dan terapi
radiasi
B. SARAN
Saran untuk mahasiswa :
a. Untuk mahasiswa yang baru mengenal tentang penyakit pneumonia sebelum melakukan
tindakan haruslah mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum ke pasien, dan jangan lupa
memakai alat perlindungan diri seperti handscoun atau masker.
b. Jika tidak mengerti atau tidak memahami tindakan-tindakan pada kasus pneumonia
hendaklah bertanya, agar tidak ada kesalahpahaman dalam melakukan tindakan karena ini
menyangkut pasien pneumonia
Saran untuk kampus/dosen:
a. Sebelum mahasiswa dibebaskan kelahan praktek, hendaklah dosen dapat memastikan
bahwa mahasiswa menguasai prasat-prasat yang ditargetkan seperti tindakan-tindakan pada
kasus pneumonia agar mahasiwa memiliki bekal terlebih dahulu sebelum kelahan praktek.
b. Dosen hendaklah tetap membimbing mahasiswa agar lebih memahami tentang konsep
pneumonia

Saran untuk RS :
a. Diharapkan untuk tetap dan selalu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, karena pasien
butuh kenyamanan dirumah sakit jadi buatlah pasien merasa senyaman mungkin, dengan
pelayanan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan dirumah sakit
b. Lingkungan rumah sakit haruslah tetap bersih dan rapi, karena ini salah satu faktor
menentukan kenyamanan pasien dirumah sakit.

. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011 NANDA. Jakarta : EGC

Johnson, M., & Maas,M. Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louis: Mosby
McCloskey, J.C., & Bulechek, M.C. Nursing Intervention Classification (NIC).
St. Louis: Mosby
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?
id=&iddtl=448&idktg=2&idobat=&UID=20070925204927125.160.92.2 : Browsing 12
desember 2011
http://www.info-sehat.com/content.php?s_sid=797
http://www.suarapembaruan.com/News/2003/04/27/Kesehata/kes1.htm
http://www.medistra.com/Artikel_Kesehatan/Pneumonia.html
http://asuhan-keperawatan.blogspot.com/2006/05/pneumionia.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Pneumonia
http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=512

Share this article :


2

Diposkan oleh Satya Putra Lencana di 06.48


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: Daftar Makalah
Reaksi:
You might also like this post

0 Comments

0 Comments
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Your comment here

Last Detik News


Reading RSS Feed ...
rss feed widget

Satya Excel Site


Entri Populer

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN CAIRAN & ELEKTROLIT


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN KEBUTUHAN CAIRAN & ELEKTROLIT Disu...

LAPORAN PENDAHULUAN GASTROENTERITIS (GE) / DIARE


A. Definisi Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan
usus yang memberikan gejala diare dengan frek...

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN ELIMINASI


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN KEBUTUHAN ELIMINASI Disusun Oleh : Sat...

Recent Post
Blog Archive

2015 (4)

2014 (1)

2013 (53)

2012 (113)
o

November 2012 (25)

Oktober 2012 (29)

Sejarah Singkat Sumpah Pemuda

Makalah Penyakit Idiopatik Tombositopeni Purpura

Pathway Hipertensi

Makalah Anestesi (Anesthesia)

Free Cost From Mom

VIRUS KOMPUTER TERBARU MENGANCAM KORPORASI


DUNIA

KAMERA DITEMUKAN OLEH ILMUWAN MUSLIM

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN NUTRISI

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

ASUHAN KEBIDANAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR)

Bagaimana siih cara membaca EKG (Elektrokardiogram...

MAKALAH ABSORBSI, DISTRIBUSI MEKANISME DAN


ELIMINA...

Progress Report on Committing to Child Survival A ...

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS (DM)

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS (DM)

ASUHAN KEPERAWATAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

Kisah Inspiratif Seorang Anak 6 Tahun

PATHWAY PNEUMONIA

MENGAPA JIKA TERKENA AIR LIUR ANJING HARUS


DIBASUH...

MAKALAH PENYAKIT PNEUMONIA

MAKALAH PENYAKIT BRONKITIS

MAKALAH TENTANG ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM


PENDIDIK...

MAKALAH PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK (CHRONIC


KIDN...

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT ASMA

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT ASMA

SATUANACARA PENYULUHAN(SCABIES) ProgramStudi


Ilmu...

Urgensi Tauhid & Keutamaanya

Deklarasi Djuanda

LAPORAN PENHULUAN HIPERTENSI

September 2012 (6)

Juli 2012 (8)

Juni 2012 (33)

Mei 2012 (12)

Jurnal Kedokteran Indonesia

Indonesian Sciientific Journal Database

Jurnal Kesehatan Depkesz

Jurnal Kesehatan Dinkes Jateng,

Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas

Jurnal Kesehatan Masyarakat UNES

Jurnal Lab UGM

Jurnal Makara Kesehatan UI

Jurnal Manajemen Keperawatan Online

Jurnal UGM

Jurnal UI

Jurnal UII

Jurnal UNDIKSHA

Jurnal UNDIP

Jurnal UNILA

Jurnal Universitas Airlangga

Jurnal Universitas Islam 45 Bekasi

Jurnal UNY

Majalah Kedokteran Indonesia

Publikasi Ilmiah

International Medical Journal

Accademic Journals

AHA Journal

American Journal of Clinical Nutrition

American Journal of Epidemology

American Journal of Public Health

Annals of Internal Medicine

Bioline International

BMC Pregnany and Childbirth

British Medical Journal (BMJ)

Canadian Medical Association Journal (CMAJ)

Center of Disesase Control

EBSCO

Environmental Health

European Journal of Clinical Nutrition

Free Medical Journal

Indian Journal of Occupational and Enviromental Medicine

International Journal of Enviromental Research and Public Health - Open Acces


Journal

International Journal of Epidemology

JOGN Nursing : Journal of Obstetric, Gynecology & Neonatal nursing

Jornal of American Mediical Association

Journal NEJM

Journal of Enviromental Health Research

Journal of Environmental and Public Health

Journal of Epidemology

Journal of Epidemology & Community Health

Journal of Occupational & Enviromental Medicine

Journal of Occupational Health

Journal of Reproduction & Infernity

Journal Sciencedirect

Journal Spingerlink

Nutrition Journal

Occupational & Enviromental Medicine

Occupational Medicine

PMC Journal

ProQuest Journal

Reproduction, Fertility and Development

The Journal of Reproduction and Development

The Oncologist

Followers
Murottal Terjemah Rodja
Blogroll

About
Try Relay: the free SMS and picture text app for iPhone.

It's Me

Satya Putra Lencana


Lihat profil lengkapku
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright 2011. Satya Excel Site - - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger