Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM KESELAMATAN KERJA

SEMESTER III KOMPETENSI DASAR III

Keselamatan Kerja di PT. APAC INTI


CORPORA

Kelompok3
(Kelas B)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Arvin Afriansyah
AldhilaLiantika M
Endaryani
Indah Puspitaningrum
Ira Pracinasari
Novia Andrisiyani
Rizky Finaldia P
Wachid Nur Mualim

(R.0012010)
(R.0012004)
(R.0012030)
(R.0012046)
(R.0012048)
(R.0012066)
(R.0012084)
(R.0012100)

PROGRAM DIPLOMA 3HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013
PENGESAHAN

Laporan Praktikum Manajemen Limbah


Semester III Kompetensi Dasar IIIdengan Judul :
Keselamatan Kerja di PT. APAC INTI CORPORA

Kelompok 3
Telah disahkan pada tanggal:

Pada Hari Senin tanggal 11 November 2013

Pembimbing Praktikum,

Praktikan

Soraya Noor Fadhila, A.Md

Wachid Nur Mualim


NIM. R0012100

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu aspek dalam keselamatan kerja yang harus diperhatikan yaitu
adanya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Suatu kejadian atas peristiwa

kecelakaan tentu ada sebabnya. Cara penggolongan sebab-sebab kecelakaan di


berbagai negara tidak sama. Namun ada kesamaan umum, yaitu bahwa kecelakaan
disebabkan oleh dua golongan penyebab yaitu:
1) Tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan (unsafe
human acts);
2) Keadaan-keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe condition).
Kecelakaan kerja yang terjadi di suatu perusahaan akan dapat menimbulkan
kerugian: 1) Kerusakan; 2) Kekacauan organisasi; 3) Keluhan dan kesedihan; 4)
Kelainan dan cacat; 5) Kematian (Sumamur, 1993).
Ada bagian-bagian tempat kerja yang mempunyai risiko kecelakaan lebih
besar seperti tempat kerja yang mengolah bahan kimia yang mudah terbakar,
tempat kerja yang mengandung bahan beracun dan berbahaya dan tempat kerja
tertutup. Untuk tempat kerja lainnya, dengan menerapkan prosedur kerja khusus.
Komunikasi penting untuk keselamatan dan kesehatan tenaga kerja. Komunikasi
secara lisan mempunyai berbagai kelemahan seperti salah dengar, salah interpretasi,
lupa. Ditinjau dari sudut keselamatan kerja keadaan ini dapat menimbulkan keadaan
berbahaya. Oleh karena itu dalam keadaan yang mempunyai risiko tinggi maka
kelemahan dalam komunikasi lisan ini dihilangkan dengan adanya komunikasi
secara tertulis, dalam bentuk izin kerja (work permit).
Adakalanya suatu pekerjaan berada dibawah pengawasan beberapa bagian
yang masing-masing mempunyai tanggung jawab terpisah. Dalam keadaan
demikian diperlukan sistem izin kerja dalam melaksanakan pekerjaan tertentu,
sehingga pekerjaan yang dilakukan diketahui oleh semua bagian yang bertanggung
jawab dan semua persyaratan keselamatan dalam pelaksanaan pekerjaan dapat
dipenuhi. Sistem izin kerja diperlukan pula pada pekerjaan perbaikan dan
pemeliharaan mesin, pekerjaan penggalian, bekerja dalam tangki tertutup, pekerjaan
yang dapat menimbulkan api di daerah bahan yang mudah terbakar atau meledak,

bekerja di lingkungan alat berat, dan pekerjaan yang melewati waktu lebih dari satu
giliran (shift) kerja (Syukri Sahab, 1997). PT. Apac Inti Corpora merupakan
perusahaan tekstil dimana dalam kegiatan produksi terdapat pekerjaan-pekerjaan
yang dapat menimbulkan kecelakaan
menggunakan api
bekerjadi

kerja

seperti pekerjaan

(pemotongan, pengelasan,

ketinggian

(perbaikan

atap,

penggerindaan),
pembersihan

plafon,

pengecatan pipa-pipa over head), memasuki bejana sehingga diperlukan surat izin
kerja. Berdasar

dari

latar

belakang

masalah

diatas,

peneliti

melakukan

pengamatan tentang Penerapan Sistem Izin Kerja sebagai Upaya Pencegahan


Kecelakaan Kerja di PT. Apac Inti Corpora Semarang.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana penerapan sistem izin
kerja sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja di PT. Apac Inti Corpora
Semarang?.
C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui penerapan sistem izin kerja
dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja di PT. Apac Inti Corpora Semarang.

D. Manfaat
Diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini, dapat memberi manfaat kepada:
1. Perusahaan

a. Menjalin kerja sama yang saling menguntungkan antara PT. Apac Inti
Corpora dengan Program D.III Hiperkes dan Keselamatan Kerja
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Mendapatkan alternatif calon tenaga kerja khususnya di bidang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang telah diketahui mutu dan
kredibilitasnya.
c. Mendapatkan informasi tentang pelaksanaan sistem izin kerja di PT.Apac
Inti Corpora.
2. D.3 Hiperkes dan Keselamatan Kerja
a. Menambah studi kepustakaan untuk meningkatan kualitas mahasiswa
dalam

menerapkan

keselamatan

kerja

dan

kesehatan

kerja

di

perusahaan khususnya tentang sistem izin kerja.


b. Menjalin terbinanya kerja sama antara Program D.III Hiperkes dan
Keselamatan Kerja dengan PT. Apac Inti Corpora.
c. Sebagai sarana pengembangan
ilmu dan

teknologi bidang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi mahasiswa dengan dunia


industri.
3. Peneliti
a. Dapat mengetahui penerapan sistem izin kerja di PT. Apac Inti
Corpora.
b. Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan
aplikasi ilmu teori yang diperoleh selama menempuh pendidikan di
Progam Studi Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja.
c. Dapat memberikan sumbangan yang positif terhadap tempat penelitian
khususnya dalam hal penerapan aspek Keselamatan Kerja dan
Kesehatan Kerja (K3) tentang Sistem Izin Kerja.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Bahaya
a. Pengertian Bahaya
Bahaya pekerjaan adalah faktorfaktor dalam hubungan pekerjaanyang
dapat mendatangkan kecelakaan. Bahaya tersebut disebut potensial, jika
faktorfaktor tersebut belum mendatangkan kecelakaan (Sumamur,1993).
b. Sumber Bahaya

Umumnya di semua tempat kerja selalu terdapat sumber bahaya yang dapat
mengancam keselamatan maupun kesehatan tenaga kerja. Menurut Syukri Sahab
(1997), sumber bahaya ini bisa berasal dari:
1) Bangunan, Peralatan dan Instalasi
Bahaya dari bangunan, peralatan dan instalasi perlu mendapat perhatian.
Konstruksi bangunan harus kokoh dan memenuhi syarat. Desain ruangan dan
tempat

kerja

harus

menjamin keselamatan

dan

kesehatan

tenaga

kerja.

Pencahayaan dan ventilasi harus baik, tersedia penerangan darurat, marka dan
rambu yang jelas dan tersedia jalan penyelamatan diri. Instalasi harus memenuhi
persyaratan keselamatan kerja baik dalam desain maupun konstruksinya. Dalam
industri juga digunakan berbagai peralatan yang mengandung bahaya, yang bila
tidak dilengkapi dengan alat pelindung dan pengaman bisa menimbulkan bahaya
seperti kebakaran, sengatan listrik, ledakan, luka-luka atau cidera.
2) Bahan
Bahaya dari bahan meliputi berbagai risiko sesuai dengan sifat bahan antara
lain mudah terbakar, mudah meledak, menimbulkan alergi, menimbulkan kerusakan
pada kulit dan jaringan tubuh, menyebabkan kanker, mengakibatkan kelainan
pada janin, bersifat racun dan radio aktif.
3) Proses
Bahaya dari proses sangat bervariasi tergantung teknologi yang digunakan.
Industri kimia biasanya menggunakan proses yang berbahaya, dalam prosesnya
digunakan suhu, tekanan yang tinggi dan bahan kimia berbahaya yang memperbesar
risiko bahayanya. Dari proses ini kadangkadang timbul asap, debu, panas, bising,
dan bahaya mekanis seperti terjepit, terpotong, atau tertimpa bahan.
4) Cara Kerja

Bahaya dari cara kerja dapat membahayakan tenaga kerja itu sendiri dan
orang lain disekitarnya. Cara kerja yang demikian antara lain cara kerja yang
mengakibatkan hamburan debu dan serbuk logam, percikan api serta tumpahan bahan
berbahaya.
5) Lingkungan Kerja
Bahaya dari lingkungan kerja dapat digolongkan atas berbagai jenis bahaya
yang

dapat

mengakibatkan

berbagai gangguan kesehatan dan penyakit akibat

kerja serta penurunan produktivitas dan efisiensi kerja. Bahaya tersebut adalah:
a) Faktor Lingkungan Fisik
Bahaya yang bersifat fisik seperti ruangan yang terlalu panas, terlalu
dingin, bising, kurang penerangan, getaran yang berlebihan, dan radiasi.
b) Faktor Lingkungan Kimia
Bahaya yang bersifat kimia yang berasal dari bahanbahan yang
digunakan maupun bahan yang dihasilkan selama proses produksi. Bahan ini
berhamburan ke lingkungan karena cara kerja yang salah, kerusakan atau
kebocoran dari peralatan atau instalasi yang digunakan dalam proses.
c) Faktor Lingkungan Biologik
Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari
serangga maupun dari binatang lainnya yang ada di tempat kerja.
d) Faktor Faal Kerja atau Ergonomi
Gangguan yang besifat faal karena beban kerja yang terlalu berat,
peralatan yang digunakan tidak serasi dengan tenaga kerja.
e) Faktor Psikologik
Gangguan jiwa dapat terjadi karena keadaan lingkungan sosial tempat
kerja yang tidak sesuai dan menimbulkan ketegangan jiwa pada tenaga kerja,
seperti hubungan atasan dan bawahan yang tidak serasi.
2. Kecelakaan
a. Pengertian Kecelakaan

Menurut Sumamur (1993), kecelakaan adalah kejadian yang tidak


terduga dan tidak diharapkan. Sedangkan kecelakaan akibat kerja berhubungan
dengan hubungan kerja pada perusahaan.
b. Penyebab Kecelakaan
Kecelakaan dapat ditimbulkan oleh kondisi yang tidak aman, atau
tindakan tidak aman, atau kombinasi dari keduanya (Dewan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Nasional,1994).
1) Kondisi tidak aman
Kondisi tidak aman adalah kondisi yang mengandung bahaya
yang potensial, misalnya pakaian kerja yang tidak sesuai, atau tempat
kerja yang tidak tertib.

2) Tindakan tidak aman


Tindakan tidak aman adalah setiap tindakan yang tidak sesuai
dengan aturan yang dibuat untuk menjamin keselamatan di tempat kerja,
dan hal tersebut jelas dilarang keras, misalnya melalui suatu daerah pada
gang yang ditentukan dengan maksud mengambil jalan pintas atau
berlari dengan tergesa-gesa
c. Pencegahan Kecelakaan
Menurut Sumamur (1993), kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah
dengan dua belas hal berikut:
1) Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai
kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi, perawatan dan
pemeliharaan, pengawasan, pengujian dan cara kerja peralatan
tugas-tugas

pengusaha

pemeriksaan kesehatan.

dan

buruh,

industri,

latihan, supervisi medis, P3K dan

2) Standarisasi yang ditetapkan secara resmi, setengah resmi atau tidak


resmi

mengenai

misalnya

syarat-syarat

keselamatan

sesuai instruksi

peralatan industri dan alat pelindung diri (APD).


3) Pengawasan, agar ketentuan undang-undang wajib dipatuhi.
4) Penelitian bersifat teknik, misalnya tentang bahan-bahan yang berhaya,
pagar pengaman, pengujian APD, pencegahan ledakan dan peralatan
lainnya.
5) Riset medis, terutama meliputi efek fisiologis dan patologis, faktor
lingkungan

dan

teknologi

kecelakaan.
6) Penelitian psikologis,

dan

keadaan

yang

mengakibatkan

meliputi penelitian tentang pola-pola

kewajiban yang mengakibatkan kecelakaan.


7) Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang
terjadi.
8) Pendidikan.
9) Latihan-latihan.
10) Penggairahan, pendekatan lain agar bersikap yang selamat.
11) Asuransi, yaitu insentif finansial untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan.
12) Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan.
3. Sistem Izin Kerja
Ada bagianbagian tempat kerja yang mempunyai risiko kecelakaan
lebih besar seperti tempat kerja yang mengolah bahan kimia yang mudah meledak
dan terbakar, tempat kerja yang mengandung bahan beracun dan berbahaya dan
tempat kerja tertutup. Untuk tempat kerja seperti ini perlu tindakan preventif
yang lebih ketat dari tempat kerja lainnya dengan menerapkan prosedur kerja
khusus (Syukri Sahab, 1997).
a. Definisi Sistem Izin Kerja
Sistem izin kerja adalah catatan tetap atas tindakan pencegahan yang
diambil untuk pekerjaan perawatan (maintenance) (CCH Australia Limited,1997).
Menurut Syukri Sahab (1997), sistem izin kerja pada prinsipnya adalah suatu

dokumen tertulis sebagai persyaratan untuk melaksanakan pekerjaan berbahaya


dengan memperhatikan bahaya potensial yang ada serta langkah pencegahan yang
harus dilakukan
b. Tujuan Sistem Izin Kerja
Menurut Syukri Sahab (1997) tujuan pemberlakuan sistem izin kerja
adalah:
1) Supaya pengawas benar-benar mengetahui bahwa pekerjaan tertentu akan
dilaksanakan didalam lokasi yang menjadi tanggung jawabnya, meliputi
tipe pekerjaan dan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan serta peralatan
yang digunakan, sehingga bisa dilakukan langkah-langkah pencegahan
yang perlu,

dan

apabila

timbul

keadaan

darurat,

bisa

segera

mengambil langkah cepat untuk mengatasi keadaan.


2) Agar setiap tenaga kerja yang ditugaskan melakukan pekerjaan berbahaya
benar-benar mengetahui risiko bahayanya, dan telah mengetahui prosedur
kerja aman yang harus dilaksanakan dalam pekerjaan
dilengkapi dengan
peralatan

tersebut

serta

alat-alat perlindungan diri yang sesuai, dan semua

yang digunakan benar-benar aman dan sesuai dengan tipe

pekerjaan.
3) Melalui sistem kerja diidentifikasi dan dikendalikan bahaya- bahaya yang
mengancam

jiwa

manusia

dan

aset

perusahaan, melalui serangkaian

pengecekan terhadap lokasi, bahan, proses, instalasi serta lingkungan kerja


dan menentukan kualifikasi orang yang akan melakukan pekerjaan.
Sistem izin

kerja

dengan demikian

adalah untuk

mengendalikan

operasi sehingga benar-benar sesuai dengan prosedur dan persyaratan agar


terjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja maupun aset perusahaan.
Sistem ini juga untuk menghindari terjadinya

kesalahan

komuniksi

lisan,setiap instruksi dan persyaratan tenaga kerja dituliskan dalam formulir

izin kerja. Pengawasan dan pengendalian tenaga kerja juga menjadi lebih
mudah sehingga akan meningkatkan keamanan.
c. Macam Izin Kerja
Menurut Syukri Sahab (1997) ada berbagai tipe izin kerja antara lain, izin
kerja dingin, izin pekerjaan penggalian dan izin melakukan pekerjaan berbahaya
yang terdiri dari izin menggunakan api, izin kerja di ruang tertutup, proses izin
pekerjaan berbahaya, izin kerja berenergi panas.Sistem perizinan kerja di daerah
berbahaya meliputi:

1) Izin Kerja Panas


Diperlukan untuk

jenis

pekerjaan

yang

berkaitan

dengan

penggunaan nyala api yang dapat menyalakan bahan yang mudah


terbakar. Pengecualian untuk hal tersebut diatas adalah kendaraan dengan
sistem pembakaran tertutup, dapur unit proses atau pembangkit tenaga uap
(boiler).
2) Izin Kerja Dingin
Diperlukan untuk setiap pekerjaan, kecuali pekerjaan rutin yang tidak
termasuk pekerjaan yang menggunakan atau menimbulkan sumber nyala
api.
3) Izin Masuk
Izin masuk sangat penting apabila seseorang, baik seluruh atau
sebagian tubuhnya

harus

masuk

kedalam ruangan tertutup seperti

bejana (vessel), tangki, bak (pit), lubang galian dengan kedalaman lebih
dari 1,3 meter, ataupun tempat-tempat lain yang terasa terdapat gas,
debu, uap ataupun fume yang berbahaya. Izin masuk hanya berfungsi
memberi izin memasuki ruangan tertutup saja, sedangkan sebenarnya

yang

akan dilakukan apakah pekerjaan dingin atau panas, harus

dilengkapi dengan izin kerja yang sesuai.


4) Izin Penggalian
Setiap pekerjaan penggalian, tanpa melihat berapapun dalamnya
penggalian tersebut harus dilengkapi dengan izin penggalian. Untuk
penggalian dengan kedalaman lebih dari 1,3 meter menggunakan izin
masuk.
5) Izin Kerja Listrik
Merupakan surat

pernyataan

yang

ditandatangani dan

dikeluarkan oleh pejabat listrik yang berwewenang yaitu seseorang


yang diberi tugas untuk melaksanakan pekerjaan perbaikan listrik
ataupun peralatannya. Izin ini hanya mencakup aspek pekerjaan listrik
saja. Pekerjaan pengisolasian aliran listrik yang diperlukan sebelum
pekerjaan perbaikan dilakukan pada suatu peralatan listrik tidak termasuk
dalam lingkup izin pekerjaan
pada

listrik tetapi

harus dimasukkan

saat menandatangani izin kerja, baik panas, dingin, masuk

ruang tertutup ataupun penggalian, yang sesuai dengan pekerjaan


mekanik tersebut atau pada sertifikat isolasi.
6) Izin Pekerjaan Radio aktif
Digunakan
untuk pekerjaan
yang

berhubungan dengan

penggunaan peralatan X-Ray atau sumber zat radio aktif. Selain adanya
izin tersebut diatas, terdapat juga izin Lockout dan tagout (lockout dan
tagout

permit).

Logout

dan

tagout digunakan untuk melindungi

tenaga kerja dari material berbahaya dan atau sumber energi yang masuk
ada di tempat kerja (American Institut of Chemical Engineer, 1995).
Lockout akan mengunci secara fisik

untuk

mencegah

pengoperasian

peralatan dan termasuk informasi tag yang menerangkan tujuan lockout,


identifikasi orang yang menginstalasi lock dan mengidentifikasi tanggal
bahwa lock sudah diinstal. Tagout (instalasi tag, tetapi bukan lock)
dapat digunakan pada waktu lock tidak dapat dijalankan atau tidak
diinginkannya

lock.

Lockout

dan

tagout

permit

dapat

dikeluarkansecara independen, atau bersama-sama atau tergabung dengan


permit lain.
d. Aturan-Aturan Khusus Izin
Dalam American Institut of Chemical Engineer (1995), Untuk penerapan
sistem izin kerja harus berdasarkan pada dasar aturan yang kuat seperti tersebut
dibawah ini:
1) Jika pekerjaan dilakukan dalam lingkup sistem izin kerja harus telah sah
sebelum pekerjaan dimulai.
2) Izin kerja dikeluarkan oleh kelompok yang bertanggung jawab langsung
terhadap peralatan atau area kerja.
3) Beberapa organisasi memperbolehkan izin dikeluarkan oleh pemberi izin
seperti tersebut diatas, organisasi lain oleh level yang lebih tinggi.
4) Pada saat pekerjaan yang akan dilaksanakan pada peralatan dimana
penanggung jawab area langsung tidak diterangkan dengan jelas, izin
dikeluarkan oleh level berikutnya atau personel yang mewakilinya.
5) Jika tanggung jawab untuk peralatan atau area yang terkait dalam izin
kerja melibatkan dua atau lebih unit operasi (departemen), izin harus
ditanggulangi oleh wakil masing- masing departemen.
6) Pada umumnya, tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan menerima
izin dan menandatanganinya, pada keadaaan atau kasus lain supervisor
menerima dan menandatangani izin.
7) Salinan izin harus berada pada tempat kerja.
8) Izin harus sesuai untuk priode waktu tertentu (contoh: dari waktu
pengeluaran sampai akhir shift)
9) Jika pekerjaan tidak dimulai, atau berhenti karena keadaan, kontrol, atau
prosedur yang diperlukan tidak tentu atau tetap, izin harus dibatalkan dan
izin baru dikeluarkan, setelah evaluasi ulang sebelum pekerjaan dimulai.
10) Jika pekerjaan berhenti atau ditunda untuk alasan lain, cara lain yang tepat
atau sesuai harus diberitahukan, dan izin untuk melanjutkan pekerjaan
harus didapat.

11) Bila pekerjaan diperpanjang melebihi periode yang ditetapkan, pekerjaan


harus dihentikan sementara setelah evaluasi ulang, izin tetap diperpanjang
atau izin baru dikeluarkan.
12) Pada saat pekerjaan selesai, atau akhir hari kerja, izin harus dikembalikan
kepada pemberi izin, dinilai untuk mengindikasi status

pekerjaan,

dan

ditandatangani oleh pelaksana atau personel.

e. Personel yang Berwenang Tanda Tangan


Dalam British Petrolium Chemical (1995), Terdapat tiga personel yang
berwenang menandatangani izin yaitu: Operating Autority (pemberi wewenang),
Performing Autority (penerima wewenang),

dan

Autorised

Gas

Tester

(pengetes gas yang berwenang).


1) Operating Autority atau Pemberi Wewenang
Dalam area berbahaya tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan

oleh

maintenance, inspeksi atau departemen lain tanpa ada izin tertulis dari orang
yang berwenang (British Petrolium Chemical, 1995). MenurutCCH
Limited (1997), izin dikeluarkan

oleh

orang

yang

Australian

mengetahui

betul

tentang peralatan, mengetahui bahaya-bahaya yang dapat terjadi dalam


pelaksanaan pekerjaan, sudah ditraining tentang sistem izin kerja dan yang
sudah diberi wewenang untuk mengeluarkan izin. Dalam
of Chemical Engineer (1995), tanggung

American

Institute

jawab pemberi wewenang dalam

pengeluaran izin kerja adalah sebagai berikut:


a)
Memastikan izin telah diisi dengan jelas dan lengkap dan telah
b)

disetujui.
Memastikan bahwa peralatan atau area telah disiapkan dengan

c)

melakukan pemeriksaan tempat kerja sebelum mengeluarkan izin.


Memeriksa tempat kerja sebelum memulai pekerjaan.

d)

Menunjukkan dengan jelas pada

izin

bahwa tempat

kerja telah

e)

diperiksa dan telah siap untuk melakukan pekerjaan.


Memastikan bahwa keadaan udara telah dites oleh petugas yang
berkualitas jika diperlukan untuk izin (seperti untuk masuk
tertutup

atau

pekerjaan

panas),

ruang

untuk menentukan konsentrasi

oksigen dan atau gas yang mudah terbakar, hidrogen sulfida, karbon
f)
g)

monoksida atau gas lain yang beracun yang mungkin ada.


Menuliskan hasil tes pada izin.
Memastikan bahwa penerima izin mengerti hal-hal

yang

berhubungan dengan izin dan keadaan-keadaan yang tidak lazim yang


h)

berhubungan dengan pekerjaan.


Menghentikan pekerjaan jika

i)

membahayakan keselamatan kerja.


Memberikan keterangan tentang

j)
k)

petugas penolong bantuan.


Memeriksa kebersihan tempat pada penyelesaian pekerjaan.
Menerima salinan izin yang telah lengkap yang diperlukan sebagai file

terjadi

keadaan

perkembangan

untuk manajemen.
2) Performing Autority atau Penerima Wewenang.
Sebagai orang yang menerima wewenang
pekerjaan,

biasanya

seorang

yang

dapat

pekerjaan pada

untuk melaksanakan

Maintenance Enginer, Forman atau Craftman

yang bertanggungjawab atas pekerjaan. (British Petrolium of Chemical Engineer


1995). Dalam American Institute of Chemical Engineer (1995), tanggung
jawab penerima wewenang adalah sebagai berikut:
a) Memeriksa tempat kerja dalam kondisi aman sebelum memulai
b)
c)
d)
e)

pekerjaan.
Melaksanakan pekerjaan yang sesuai dengan izin.
Mengikuti semua ketentuan yang tertera pada izin.
Menjaga atau memastikan salinan izin berada pada tempat kerja.
Memberitahukan perubahan kondisi pada tempat kerja kepada

personel yang mengeluarkan izin.


f) Jika diperlukan, memperpanjang izin atau meminta izin baru.

g) Menandatangani dan mengembalikan izin pada pemberi izin pada akhir


pekerjaan atau berakhirnya hari atau waktu kerja dengan pernyataan
bahwa pekerjaan telah selesai (lengkap, tidak lengkap).
h) Membersihkan kembali area atau tempat kerja.

3) Pengetes Gas yang Berwenang (Autorised Gas Tester)


Sebagai

pengetes

gas

untuk

mendeteksi

uap-uap berbahaya, gas-gas

beracun, oksigen. Orang yang bertugas mengetes gas harus sudah mendapatkan
training yang cukup, dan training ulang dalam penggunaan dan kalibrasi peralatan tes
gas yang masih dapat digunakan dan interpretasi hasil dari tes yang dilakukan (British
Petrolium Chemical, 1995).
f. Formulir Izin Kerja
Komunikasi

penting

untuk

keselamatan

dan

kesehatan tenaga kerja.

Komunikasi secara lisan mempunyai kelemahan seperti salah dengar, salah


interpretasi, dan lupa. Ditinjau dari keselamatan

kerja

keadaan

ini

dapat

menimbulkan keadaan berbahaya. Oleh karena itu dalam keadaan yang mempunyai
risiko tinggi maka kelemahan dalam komunikasi lisan ini dihilangkan dengan
adanya komunikasi secara tertulis, dalam bentuk izin kerja (work permit). Dengan
sistem izin kerja setiap instruksi dan persyaratan pekerjaan dituliskan dalam
formulir izin kerja (Syukri Sahab,1997). Format yang pasti dari formulir izin kerja
tergantung pada pengoprasian pekerjaan. Formulir

biasanya dibuat

dalam tiga

salinan (triplicate). Dicetak dengan nomor seri, dan dengan berbagai tipe
warna. Seperti merah untuk pekerjaan panas, biru untuk pekerjaan dingin dan
kuning untuk masuk ruangan tertutup British petrolium chemical,1995). Dalam
British Petrolium Chemical (1995), formulir izin kerja berisi ketentuan-ketentuan
sebagai berikut:

1) Lokasi yang pasti dan deskripsi peralatan untuk pekerjaan yang akan
dilakukan harus tertera pada bagian atas formulir izin kerja.
2) Sifat dan tingkat yang tepat dari pekerjaan yang akandilakukan
harus tertera, termasuk alat dan peralatan yang akan digunakan.
3) Masa berlakunya izin kerja harus jelas tertera pada formulir izin kerja.
4) Formulir izin mencantumkan metode isolasi yang akan digunakan
dan adanya ceklist yang berisi keadaan-keadaan yang penting dan
tindakan pencegahan yang sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.
Hal

ini

untuk

menghindari kesalahan seperti lupa, dan juga sebagai

cek atau pemeriksaan untuk Performing Autority.


5) Terdapat kolom untuk mencatat hasil tes gas, yang disertai tanggal
dan tanda tangan pengetes gas yang berwewenang.
6) Pengesahan izin oleh Operating Autority dan Performing Autority
sebagai penerima wewenang.
7) Penutupan izin setelah pekerjaan

selesai,

penandatanganan oleh

Operating Autority dan Performing Autority.


8) Prosedur Izin Kerja Menurut Syukri Sahab (1997), prosedur izin kerja
adalah sebagai berikut:
1) Proses Izin Kerja
Untuk pekerjaan yang memerlukan izin kerja terlebih dahulu dibuatkan
rencana kerja. Dalam membuat rencana ini pengawas

pelaksana

perlu

berkonsultasi dengan bagian keselamatan kerja dan orang yang bertanggung jawab
terhadap lokasi

pelaksanaan

pekerjaan.

Untuk setiap pekerjaan

dinyatakan jumlah pekerja, jenis peralatan yang digunakan, dan lama waktu
pelaksanaan. Sebelum izin diproses yang bertanggung
pelaksanaan

jawab terhadap

pekerjaan di lapangan harus telah mengatur segala sesuatu yang

berkaitan dengan pekerjaan termasuk jenis pekerjaan yang akan digunakan.


Dalam persiapan lapangan pelaksanaan pekerjaan harus sudah mengisolasi lokasi.
Setelah pengisolasian, pelaksana melaporkan kepada pusat pengendali operasi
yang akan memeriksa kebenaran laporan tersebut, baru izin kerja dapat diproses.

2) Pelaksanaan Sistem Izin Kerja


Bagaimana pelaksanaan sistem izin kerja tergantung pada kompleksitas
operasi perusahaan serta tingkat risiko yang ada. Tidak ada model standar yang bisa
diberlakuan di semua tempat kerja. Karena itu bagaimana sistem yang akan
diterapkan didesain oleh

manajemen perusahaan. Dalam membuat desain sistem

ini yang perlu diingat adalah memuat prinsip umum namun cukup fleksibel atau
luwes

sehingga dapat diterapkan pada semua jenis pekerjaan yang berbahaya.

Berikut ini adalah langkah dasar pelaksanaan izin kerja:


a. Pekerjaan yang akan dilaksanakan harus dirinci secara spesifik.
b. Bahaya yang ada dalam pekerjaan agar dicantumkan. Sebaiknya
disediakan ceklist.
c. Isolasi yang perlu

dilakukan,

hubungan

yang

harus diputuskan

serta pengujian ditentukan dan dicantumkan dengan jelas dalam izin.


d. Peringatan yang perlu dicantumkan dalam izin, serta pengujiannya
bisa digunakan ceklist.
e. Batas waktu pengerjaan ditentukan dan penanggung jawab pelaksana
dilengkapi dengan jam tangan.
f. Setelah semua dilaksanakan dan penanggungjawab puas dengan segala
persiapan yang tercantum dalam izin, maka pejabat yang diberi
kewenangan menandatangani izin.
3) Serah Terima Tanggung Jawab
a) Penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan harus memastikan

bahwa

izin benar-benar sudah lengkap, dan mengerti betul pekerjaan yang


akan dilaksanakan serta tindakan berjaga-jaga yang perlu dilakukan.
b) Penanggung jawab pekerjaan menandatangani izin kerja.
c) Pengecekan untuk memastikan bahwa semua peralatan keselamatan
yang perlu sudah tersedia dan tindakan berjaga-jaga telah ditentukan
sudah dilaksanakan.
d) Bila pekerjaan harus dilanjutkan pada akhir giliran kerja dan bila
perlu memperpanjang izin kerja dikonsultasikan pada pejabat yang

memberi izin. Berdasarkan ini, izin lama dapat diperpanjang atau izin baru
dikeluarkan.
4) Penyelesaian Pekerjaan
a) Penanggung jawab pekerjaan setelah pekerjaan

selesaimenandatangani

surat izin kerja sebagai bukti bahwa pekerjaan telah selesai.


b) Apabila pelaksanaan lebih dari satu kelompok, maka setiap pemimpin
kelompok menandatangani izin kerja.
c) Mesin dan peralatan ditimbang terimakan kembali kepada bagian
produksi,

dan

penanggung

jawab

bagian

yang bersangkutan

menandatangani izin sebagai tanda penerima tanggung jawab.


d) Izin kerja dianggap selesai dan kembali kepada kerja biasa.
e) Kontrol Izin Kerja
Untuk memastikan sistem izin kerja aman pada tempat kerja sebagaimana
terdapat pada aturan-aturan izin kerja, adanya kontrol izin kerja sangat dianjurkan
(British Petrolium Chemical, 1995). Kontrol izin kerja dapat dilakukan dengan audit
izin kerja, dengan audit izin kerja dapat diketahui kelemahan pada sistem izin kerja
sehingga dapat dilakukan langkah perbaikannya secara dini. Audit

ini

dapat

dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam proses, internalauditor


perusahaan atau eksternal auditor (American Institute of Chemcal Engineer, 1995).
Peraturan Perundangan yang Berhubungan dengan Sistem Izin Kerja Dalam
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.05/MEN/1996 tentang Sistem Manejemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada bab

III

pasal

3,

disebutkan

bahwa

Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau
lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik
proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti
peledakan, pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem
Manajemen K3.

Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/1996 pada lampiran II


bagian 6 tentang Keamanan Bekerja Berdasarkan Sistem Manajemen K3 diatur
Sistem dan Pengawasan, antara lain sebagai berikut:
1) Petugas yang berkompeten telah mengidentifikasikan bahaya yang
potensial dan telah menilai risiko-risiko yang timbul dari suatu proses
kerja.
2) Apabila

upaya

pengendalian

diperlukan

maka

upaya

ditetapkan melalui tingkat pengendalian.


3) Terdapat prosedur kerja yang didokumentasikan

tersebut

dan

jika

diperlukan diterapkan suatu sistem izin kerja untuk tugastugas yang


berisiko tinggi.
4) Prosedur kerja
berkompeten

dan

instruksi

dengan masukan

kerja

dibuat

dari

oleh

petugas

tenaga kerja

yang

yang

dipersyaratkan untuk melakukan tugas dan prosedur disahkan oleh


pejabat yang ditunjuk.
5) Alat pelindung diri disediakan bila diperlukan dan digunakan secara
benar serta dipelihara selalu dalam kondisi layak pakai.
6) Dilakukan pengawasan untuk menjamin bahwa setiap pekerjaan dilakukan
dengan aman dan mengikuti prosedur yang telah ditentukan.
7) Setiap orang diawasi sesuai dengan tingkat kemampuan dan tingkat
risiko tugas.

BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Sistem Izin Kerja
Dalam kegiatan industri PT. Apac Inti Corpora memberlakukan sistem izin kerja
untuk mengambil langkah kerja yang sesuai dengan standar keselamata dan
kesehatan

kerja. Sistem izin

kerja memungkinkan

terlaksananya

pekerjaan yang aman dan terbebas dari potensi bahaya akibat sifat pekerjaan
tersebut.

Adapun tujuan dari diberlakukannya sistem izin kerja di PT. Apac Inti Corpora yaitu:
a. Tujuan dasar dari pelaksanaan izin kerja di PT. Apac Inti Corpora adalah
mencegah dan meminimalkan kecelakaan yang mungkin terjadi di tempat
kerja.
b. Menjamin

bahwa

setiap

tempat

dimana

tenaga

kerja

melakukan

pekerjaannya dipastikan dalam keadaan aman.


c. Menjamin setiap personel yang terlibat di area kerja tersebut sudah mengikuti
cara kerja yang aman.
d. Menjamin lingkungan tempat kerja dengan standar keamanannya sudah
dapat diterima untuk dilakukannya pekerjaan.
e. Melalui penerapan sistem izin kerja maka semua prosedur mengenai
keselamatan dan kesehatan kerja sudah dilaksanakan, sehingga risiko
terjadinya kecelakan dapat dikendalikan.
PT. Apac Inti Corpora mempunyai komitmen yang tinggi untuk menciptakan
dunia kerja yang aman dan sehat melalui keselamatan dan kesehatan kerja, untuk
mewujudkan komitmen tersebut PT. Apac Inti Corpora menyelenggarakan izin
bekerja aman untuk mencegah kecelakaan kerja pada tenaga kerja yang bekerja di
tempat tertentu yang dapat megakibatkan cidera atau kelainan-kelainan akibat
pekerjaannya.
2. Izin Kerja
Izin kerja diartikan sebagai dokumen resmi yang berisi tentang perizinan atas
pekerjaan yang akan dilakukan oleh seorang tenaga kerja. Izin kerja dengan aman
yang diberlakukan di PT. Apac Inti Corpora melalui Departemen Occupational
Health and Safety (OHS) meliputi pekerjaan-pekerjaan menggunakan api (Hot
Work Permit), memasuki vessel atau bejana seperti pembersihan di ruang boiler
dan

kerja di ketinggian seperti perbaikan atap, perbaikan plafon, memasangan

instalasi listrik.

Izin kerja dengan aman

bertujuan

untuk memformalkankomunikasi

lintas fungsi antar kelompok kerja dan mengkoordinasi tugas-tugas atau pekerjaan
dalam rangka menciptakan dan mempertahankan lingkungan kerja yang aman
melalui proses otorisasi pekerjaan tertentu yang akan dilaksanakan, melakukan
penilaian

risiko

diidentifikasi

guna

dengan

memastikan kondisi
baik

bahaya

yang

ada

telah

serta menerapkan upaya pencegahan yang sesuai

sebelum pekerjaan dimulai.


Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa personel yang ada ditempat tertentu
telah

mengkomunikasikan kepada pihak terkait untuk mendapatkan safe

work permit (izin bekerja aman) dan melaksanakan pekerjaan dengan aman
serta menerapkan upaya pengendalian yang memadai Sebelum mengerjakan
pekerjaan

dengan

surat

izin

kerja,

staff OHS

yang

berwenang

akan

mengeluarkan surat izin, membuat daftar surat izin yang dikeluarkan, termasuk
tanggal pegeluaran, kepada siapa diberikan dan tanggal pengembalian surat izin.
Surat izin tetap dipegang oleh tenaga kerja pelaksana pekerjaan sampai pekerjaan
selesai atau shiftnya berakhir. Jika pekerjaan tidak dapat diselesaikan pada akhir
shift, maka pengawas bagian OHS yang bertugas pada shift berikutnya harus
membuat surat izin baru untuk shift itu. Surat izin untuk pekerjaan yang sudah selesai
akan diarsipkan di OHS departement.
3. Formulir Izin Kerja
PT. Apac Inti Corpora menggunakan formulir izin kerja (surat izin kerja
dengan aman) dalam pelaksanaan izin kerja di lapangan. Surat izin kerja ini berlaku
untuk satu jenis pekerjaan dan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Formulir
izin kerja berisi tentang:
a. Aspek Mutu Pekerjaan
1) Waktu pelaksanaan pekerjaan

2) Jenis pekerjaan
3) Kesesuaian dengan Surat Izin Kerja
b. Apek Lingkungan dan Estetika
1) Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan akibat pekerjaan.
2) Menjaga

kebersihan

lingkungan

tempat kerja

selama pekerjaan.

3) Membersihkan tempat kerja setelah pekerjaan selesai.


4) Menata kembali tempat kerja seperti semula setelah pekerjaan selesai.
c. Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja
1) Alat pemadam api disiapkan sesuai pekerjaan.
2) Mengamankan bahan-bahan yang mudah terbakar.
3) Blind flange atau sekat harus terpasang.
4)

Membersihkan atau menghilangkan tekanan fluida yang ada dalam


sistem.

5) Memasang rambu-rambu atau tanda sesuai dengan pekerjaan.


6) Melakukan grounding pada waktu pengelasan.
7) Pemeriksaan kabel atau pita di bawah atau di atas tanah.
8) Alat Pelindung Diri (APD) yang harus dipakai.
Surat izin kerja dikeluarkan oleh Departemen Occupational Health and
Safety (OHS), pemohon (pelaksana pekerjaan) mendapat formulir

perizinan

dengan persetujuan dari pimpinan Departemen Occupational Health and Safety


(OHS). Sebelum mendapatkan perizinan untuk melakukan pekerjaanya seorang
tenaga kerja harus melakukan inspeksi terhadap tempat kerja dimana tenaga

kerja akan melakukan pekerjaanya dengan pengawasan Departemen OHS, setelah


dinyatakan aman barulah seorang tenaga kerja boleh melakukan pekerjaannya.
4. Personel yang Berwenang
a.

Tenaga Kerja yang Berwenang sebagai Pengawas dalam Pekerjaan Tenaga

kerja

yang

berwenang

kerja

yang

diberi

sebagai

wewenang

pengawas

dalam pekerjaan

untuk mengawasi

dapat mengadakan pengawasan selama pekerjaan itu berlangsung.


kerja

bagian

Departeman

yang
OHS

diberi

mungkin

haruslah

tenaga

kerja

yang

potensi
ini

tenaga

pekerjaan

tenaga

memiliki
Dalam hal

bahaya. Sebagai

adalah

wewenang

berwenang

dan

bertanggung jawab dalam pengawasan pekerjaan untuk pekerjaan yang berisiko


seperti pengelasan, penggerindaan, pemotongan.
Pengawas pekerjaan bagian OHS harus menginspeksi tempat kerja
menandatangani surat izin. Jika pengawas memutuskan bahwa

tempat

dan
kerja

tidak cukup aman untuk memulai atau melanjutkan pekerjaan, pengawas harus
mencari alternatif lain, seperti pindah ketempat kerja yang lebih aman. Jika pengawas
memutuskan bahwa tempat kerja untuk memulai atau melanjutkan pekerjaan, maka
pengawas memastikan agar tindakan pencegahan dan prosedur yang tercantum
dalam surat izin mengharuskan tempat kerja diinspeksi untuk memeriksa bahanbahan yang mudah terbakar, seperti peralatan yang berlapis karet, pipa, bahan-bahan
lain yang mudah menyala.
b.

Pelaksana Pekerjaan
Sebagai pelaksana

pekerjaan

yang

diberi wewenang

dari pemberi

wewenang haruslah orang yang terlatih dibidangnya dan telah mengikuti pelatihan
mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Dalam hal ini biasa dilakukan oleh
tenaga kerja bagian workshop, dan maintenance.

Sebagai seorang

tenaga kerja

yang

akan

melakukan pekerjaannya,

terlebih dahulu memastikan bahwa area dimana dilakukannya pekerjaan bebas


dari bahaya kebakaran dan

mengetahui lokasi penyimpanan peralatan pemadam

kebakaran. Selain itu, semua tenaga kerja

yang

berada di area kerja tersebut

bertanggung jawab untuk menginspeksi peralatan sebelum digunakan dan memberi


tahu pengawas

pekerjaan

jika

mengetahui

ada

kerusakan

yang

dapat

membahayakan keselamatan kerja.


c.

Pengetes Gas yang Berwenang


Sebagai orang yang berwenang mengidentifikasi gas atau bahan kimia

lainnya yang mungkin terdapat dimana tenaga kerja melakukan pekerjaannya


harus mampu mengenali potensi bahaya yang ada ditempat tersebut. Seorang
pengetes gas haruslah orang yang mempunyai kompetensi tentang gas-gas yang
berbahaya bagi tenaga kerja.

Departemen OHS

belum menempatkan

seorang

pengetes gas untuk mendeteksi uap-uap berbahaya, gas-gas beracun, oksigen.


5. Personel yang Bertanggung Jawab
Personel yang bertanggung jawab dalam izin kerja adalah personel yang
terlibat di area dimana pekerjaan itu dilakukan. Personel ini bertanggung jawab atas
keselamatan kerja yang berlangsung selama pekerjaan itu dilakukan, sehingga tenaga
kerja yang bekerja mendapat jaminan atas keselamatan pekerjaan. Personel yang
dimakud adalah manajer OHS atau staff departemen OHS yang ditunjuk.
6. Prosedur Surat Izin Kerja
a.

Izin Kerja Menggunakan Api (Hot Work Permit)

1) Izin ini dikeluarkan untuk pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:


a. Pengelasan
b. Pemotongan dengan api
c. Menggerinda di daerah-daerah yang terdapat gas

d. Pemanasan atau membakar


2) Pimpinan OHS atau dapat didelegasikan kepada staff yang sedang bertugas
yang berhak mengeluarkan surat izin.
3) Prosedur Mengeluarkan Surat Izin
a. Tenaga kerja atau kontraktor yang telah menerima perintah kerja

segera

menghubungi bagian OHS untuk mengurus surat izin kerja.


b. Bagian OHS melakukan pemeriksaan dokumen terkait dengan
jenis pekerjaan,
untuk kemudian
persiapan-persiapan yang harus
dilakukan
sebelum
memulai pekerjaan.
c. Jika semua dikatakan baik maka pelaksana pekerjaan harus menandatangani
work permit dan menandakan perintah kerja sudah dimengerti dan harus
ditaati.
d. Pelaksana pekerjaan harus menyimpan permit tersebut baik- baik di lokasi
pekerjaan, karena setiap saat petugas OHS atau petugas lain yang diberi
hak akan memeriksa pekerjaan.
b.

Izin Kerja Memasuki Vessel (Bejana)

1) Izin ini dikeluarkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:


a)

Memasuki

vessel/tangki

atau

bejana

yang

sehari-hari digunakan untuk

menyimpan dan memproses bahan-bahan yang membahayakan atau kondisi di


dalamnya berbahaya terhadap tubuh manusia, demikian izin ini dikeluarkan
untuk memasuki boiler.
b)

Kepada mereka yang akan memasuki tangki tersebut untuk tujuan pengelasan,
perbaikan dan pemeriksaan bagian dalam tangki atau bejana tersebut.

2) Pimpinan OHS atau dapat didelegasikan kepada staff yang sedang bertugas
yang berhak mengeluarkan surat izin.
3) Proses mengeluarkan izin:

a. Tenaga kerja atau kontraktor yang telah menerima pekerjaan segera


menghubungi bagian OHS
diperlukan.
b. Inspektor menerima

yang akan mengeluarkan safety permit yang

salinan

safety

permit

warna

biru

dan bagian

pembelian salinan warna hijau.


c. Pelaksana pekerjaan harus menyimpan permit tersebut baik-baik di lokasi
pekerjaan, karena setiap saat petugas OHS atau petugas lain (security) yang
diberi hak akan memeriksa pekerjaan.
d. Pemeriksaan dan persiapan harus dilakukan oleh inspektor OHS adalah
1.
2.

meliputi:
Melakukan seperti apa yang tercantum di dalam ceklist permit.
Menyiapakan alat-alat pelindung pernafasan yang lebih baik jika sewaktu-waktu
diperlukan. Alat-alat pelindung diri disimpan sedekat mungkin dengan tempat

3.

kerja.
Jika semua

sudah

dianggap

aman,

maka

pelaksana pekerjaan harus

menandatangani permit tersebut dan merupakan tanda bahwa perintah kerja


sudah dimengerti dan

segera

dilaksanakan

sesuai

dengan

petunjuk-

petunjuk dari OHS.


c.

Izin Kerja Ketinggian

1) Izin ini dikeluarkan untuk pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:


a. Setiap melakukan pekerjaan ditempat ketinggian (pembersihan plafon,
perbaikan atap).
b. Pengecatan pipa-pipa over head
2) Pimpinan OHS atau dapat didelegasikan kepada staff yang sedang bertugas
yang berhak mengeluarkan surat izin.
3) Prosedur mengeluarkan izin ini:

a. Tenaga

kerja

atau

kontraktor

menghubungi bagian OHS

yang

telah

menerima pekerjaan harus

untuk melaporkan rencana jenis pekerjaan yang

akan dikerjakan.
b. Pelaksana pekerjaan mengisi permit dan mematuhi semua ketentuan yang ada
di permit tersebut.
c. Pelaksana pekerjaan menyimpan permit tersebut setelah ditandatangani,
untuk sewaktu-waktu diperlihatkan kepada pemeriksan.
7. Proses Perizinan
Sebelum memulai pekerjaan seorang tenaga kerja yang akan melakukan
pekerjaan haruslah terlebih dahulu mengajukan permohonan untuk memperoleh izin
untuk melakukan pekerjaanya. Departemen Occupational Health and Safety (OHS)
yang berhak memberikan surat izin terhadap pelaksanaan kerja. Izin kerja akan
diberikan kepada tenaga kerja setelah pengawas bagian OHS memastikan tidak ada
bahaya bahan- bahan lainnya yang mengancam keselamatan tenaga kerja.
Sebagai tahap akhir dari suatu prosedur izin kerja, pemeriksaan tempat kerja
merupakan serangkaian kegiatan inspeksi yang dilakukan dilokasi

kerja

sebelum

tenaga kerja meninggalkan tempat kerja. Pemeriksaan melibatkan seluruh tenaga


kerja yang terlibat dilokasi kerja tersebut. Pemeriksaan dimasudkan untuk
memastikan tempat kerja bersih dari peralatan kerja kerja yang tertinggal di dalam
ruang dimana tenaga kerja

melakukan

pekerjaan

maka

seorang

pengawas

pekerjaan harus dapat berperan mengidentifikasi tahap akhir terhadap tempat kerja
yaitu dengan memeriksa ulang agar bahan yang sifatnya mudah terbakar,
meledak atau bahan-bahan lain yang tidak semestinya ada untuk segera disingkirkan.
Pemeriksaan tempat kerja dilakukan sebelum tenaga kerja dan pengawas pekerjaan
tanda tangan pada akhir kerja, pemeriksaan dilakukan secara total untuk
menjamin tempat dimana tenaga kerja melakukan pekerjaan seperti mengelas,
penggerindaan dinyatakan telah selesai dikerjakan dan dapat dioperasikan atau
digunakan dengan aman.

8. Distribusi Formulir Izin Kerja


Formulir izin kerja disediakan dan dikeluarkan oleh Departemen OHS,

dibuat

rangkap lima lembar yang masing-masing lembaran dipegang oleh orang yang
terlibat didalam pekerjaan tersebut yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Lembaran pertama berwarna putih untuk pelaksana pekerjaan,


Lembaran berwarna kuning untuk user (peminta pekerjaan),
Lembaran berwarna merah untuk Manajer OHS,
Lembaran berwarna biru untuk Pengawas OHS,
Lembaran berwarna hijau untuk bagian pembelian (pengadaan barang).

B. Pembahasan
1. Sistem Izin Kerja
Kegiatan produksi di PT. Apac Inti Corpora memungkinkan adanya
potensi bahaya yang besar baik dari peralatan kerja maupun lingkungan kerja,
sehingga

perlu

adanya

suatu

kebijakan

yang mengontrol keadaan tersebut

dengan tujuan untuk mencegah kecelakaan kerja atau sakit akibat kerja yang
dapat menimbulkan cidera pada manusia (tenaga kerja), rusaknya peralatan kerja
dan berdampak tehadap lingkungan. Sehingga untuk pengendalian yang tepat
terhadap

potensi bahaya tersebut PT. Apac Inti Corpora menerapkan prosedur

keselamatan kerja tentang surat izin kerja. Izin kerja berlaku untuk semua jenis
pekerjaan yang dikerjakan di lingkungan PT. Apac Inti Corpora yang sifatnya
memiliki tingkat potensi bahaya dengan risiko tinggi misalnya: bekerja di tempat
ketinggian,

memasuki vessel atau bejana,

kerja menggunakan api (hot work)

pengelasan (welding) dan penggerindaan (grinding). Penerapan surat izin kerja sesuai
dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/1996 pada lampiran II
bagian 6 tentang Keamanan Bekerja Berdasarkan Sistem Manajemen K3.
2. Izin Kerja

Izin bekerja dengan aman (Safe Work Permit) yang diberlakukan di PT. Apac
Inti Corpora meliputi izin kerja menggunakan api (Hot Work Permit), izin kerja
memasuki vessel atau bejana, izin kerja di ketinggian. Hal tersebut sesuai dengan
Peraturan

Menteri

Tenaga

kerja

No.05/MEN/1996 pada lampiran II bagian 6

disebutkan bahwa Terdapat prosedur kerja yang direkomendasikan dan jika


diperlukan diterapkan suatu sistem izin kerja untuk tugas-tugas yang berisiko tinggi.
3. Formulir Izin Kerja
Dalam pekerjaan yang memiliki nilai risiko tinggi, PT. Apac Inti Corpora
menggunakan formulir izin kerja sebagai media komunikasi tertulis, mengingat
komunikasi lisan mempunyai kelemahan seperti salah dengar, tidak jelas, salah
pengertian dan lupa. Formulir izin kerja dibuat semudah mungkin utuk diisi oleh
tenaga kerja, selain itu formulir izin kerja diberlakukan checklist agar pengisian tidak
memakan waktu dan meminimalkan kesalahan dalam pengisian. Dalam formulir
izin kerja terdapat aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja mengenai penggunaan
alat pelindung diri, hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.
05/MEN/1996 pada lampiran II bagian 6 tentang Keamanan Bekerja Berdasarkan
Sistem Manajemen K3 menyebutkan bahwa: Alat pelindung diri disediakan
bila diperlukan dan digunakan secara benar serta dipelihara selalu dalam kondisi
layak pakai.
4. Personel yang Berwenang
a. Tenaga Kerja yang Berwenang sebagai Pengawas Pekerjaan Sesuai dengan
Peraturan

Menteri

Tenaga Kerja No.05/MEN/1996

pada

lampiran II bagian 6 disebutkan bahwa Petugas yang berkompeten telah


mengidentifikasikan bahaya yang potensial dan telah menilai risiko-risiko
yang timbul dari suatu proses kerja.Dalam

hal

ini

departemen

OHS

telah menempatkan pengawas pekerjaan akan berada di lokasi kerja sampai


tempat ini dinyatakan aman dari potensi bahaya.

b. Pelaksana Pekerjaan
Untuk memulai pekerjaan, seorang tenaga kerja harus memiki izin untuk
melakukan suatu pekerjaan sebelum mulai bekerja dan memberi tahu
pengawas pekerjaan sebelum mulai bekerja untuk mengawasi pelaksanaan
pekerjaan.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.

05/MEN/1996 pada lampiran II bagian 6 disebutkan bahwa Dilakukan


pengawasan untuk menjamin bahwa setiap pekerjaan dilaksanakan dengan
aman dan mengikuti prosedur dan petunjuk kerja yang telah ditentukan.
c. Pengetes Gas yang Berwenang
Departemen OHS belum menempatkan seorang pengetes gas untuk
mendeteksi uap-uap berbahaya, gas-gas beracun, oksigen. Orang yang
bertugas mengetes gas harus sudah mendapatkan training yang cukup,
dan training ulang dalam penggunaan dan kalibrasi peralatan tes gas yang
masih dapat digunakan dan interpretasi hasil dari tes yang dilakukan. Hal
ini belum sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/1996
pada lampiran II bagian 6 tentang Keamanan Bekerja Berdasarkan Sistem
Manajemen K3 menyebutkan bahwa Petugas yang berkompeten

telah

mengidentifikasi bahaya yang potensial dan telah menilai risiko-risiko


yang timbul dari suatu proses kerja.
5. Personel yang Bertanggungjawab
Sebagai personel yang berwenang mengeluarkan surat izin untuk pekerjaan
menggunakan api (hot work), memasuki vessel dan bekerja di ketinggian seorang
manajer OHS atau staff bagian OHS yang diberi wewenang
menandatangani izin kerja

sebelum

harus

pekerjaan dilaksanakan,

memeriksa

lokasi kerja dan memastikan kondisi tempat kerja aman, fasilitas pendukung
seperti

APAR

dan

petugas

pemadam sudah ada ditempat sebelum memulai

pekerjaan. Hal ini sesuai dengan Peraturan

Menteri

Tenaga

Kerja

No.

05/MEN/1996 pada lampiran II bagian 6 tentang Keamanan Bekerja Berdasarkan

Sistem Manajemen K3 menyebutkan bahwa Petugas yang berkompeten telah


mengidentifikasi bahaya yang potensial dan telah menilai risiko-risiko yang timbul
dari suatu proses kerja.
6. Prosedur Surat Izin Kerja
Dalam pelaksanaanya, prosedur izin kerja di PT. Apac Inti Corpora
dibuat oleh departemen Occupational Health and Safety (OHS). Dalam prosedur izin
kerja diuraikan tentang pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan surat izin kerja yaitu
sebagai berikut:
a.

Izin Kerja Menggunakan Api (Hot Work Permit)


Menurut PT. Apac Inti

menggunakan api diartikan

Corpora

pekerjaan

sebagai jenis pekerjaan

akibat percikan bunga api, lelehan logam, busur las

dengan

yang menimbulkan panas


yang

dapat

menyalakan

bahan yang mudah terbakar atau menyala. Izin kerja menggunakan api di PT.
Apac Inti Corpora bertujuan untuk memberantas cara kerja, kondisi dan prosedur
yang dapat membahayakan
terhadap proses akibat

manusia,

merusak

kebakaran yang

peralatan

atau

menyebabkan

mungkin disebabkan oleh pengelasan

(welding), penggerindaan (grinding) dan pemotongan (cutting).


b.

Izin Kerja Memasuki Vessel


Di PT. Apac Inti Corpora ruang tertutup atau terbatas diartikan sebagai

ruang yang terbatas yang tidak diperuntukkan untuk ditempati dan mempunyai
pintu

keluar

yang

terbatas.

Ini khususnya pada area yang memiliki bahaya

kekurangan oksigen atau area tempat penumpukan gas yang mudah terbakar.
Tujuan dikeluarkannya izin masuk ruang terbatas adalah untuk mencegah cidera
pada tenaga kerja akibat bekerja di ruang terbatas. Untuk menjamin bahwa para
tenaga kerja PT. Apac Inti Corpora dan para kontraktornya

mengetahui

memahami standar perusahaan mengenai bekerja di ruang terbatas.

dan

c.

Izin Kerja Ketinggian


Di

PT. Apac

Inti

Corpora

berkerja

di

tempat

ketinggian seperti

membersihkan plafon, perbaikan atap, pengecatan pipa-pipa over head, harus


mendapatkan izin kerja dengan aman (safe work permit) untuk melakukan pekerjaanpekerjaan tersebut.
Prosedur izin kerja dibuat dan dikeluarkan oleh Departemen OHS, hal
ini sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/ 1996 pada
lampiran II bagian 6 menyebutkan bahwa Prosedur kerja dan instruksi kerja
dibuat oleh petugas yang berkompeten dengan masukan dari tenaga kerja yang
dipersyaratkan untuk melakukan tugas dan prosedur disahkan oleh pejabat yang
ditunjuk.
7. Proses Izin Kerja
Sebelum memulai pekerjaan seorang tenaga kerja yang akan melakukan
pekerjaan haruslah terlebih dahulu mengajukan permohonan untuk memperoleh izin
untuk melakukan pekerjaanya. Departemen Occupational Health and Safety (OHS)
yang berhak memberikan surat izin terhadap pelaksanaan kerja. Izin kerja akan
diberikan kepada tenaga kerja setelah pengawas memastikan tidak ada bahaya
bahan-bahan lainnya yang mengancam keselamatan tenaga kerja. Hal ini sesuai
dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/1996 pada lampiran II
bagian 6 disebutkan bahwa Petugas yang berkompeten telah mengidentifikasikan
bahaya yang potensial dan telah menilai risiko-risiko yang timbul dari suatu
proses kerja.
8. Distribusi Izin Kerja
Formulir izin kerja disediakan dan dikeluarkan oleh Departemen OHS,
dibuat

rangkap

lima

lembar

yang

masing-masing

lembaran dipegang oleh

orang yang terlibat didalam pekerjaan. Formulir izin kerja dikeluarkan

untuk

pekerjaan-pekerjaan

yang

berisiko

tinggi seperti pekerjaan menggunakan api,

memasuki vessel dan bekerja di ketinggian.


Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga kerja No. 05/MEN/1996 pada
lampiran II bagian 6 disebutkan bahwa Terdapat prosedur kerja yang
direkomendasikan dan jika diperlukan diterapkan suatu sistem izin kerja untuk tugastugas yang berisiko tinggi.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem izin
kerja di PT. Apac Inti Corpora sesuai dengan peraturan Menteri TenagaKerja
No.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Kerja(SMK3) pada
lampiran II bagian 6: Keamanan Bekerja Berdasarkan SistemManajemen K3, bahwa
terdapat prosedur kerja yang didokumentasikan danjika diperlukan diterapkan suatu
izin kerja untuk tugastugas berisiko tinggi.Terbukti dengan dikeluarkan dan
diterapkannya prosedur keselamatan kerjatentang sistem izin kerja oleh Departemen
Occupational Health anda Safety (OHS). Dengan menerapkan sistem izin kerja, PT.
Apac Inti Corpora dapatmencegah dan meminimalkan kecelakaan kerja yang
mungkin terjadi ditempat kerja.

B. Saran

Sebaiknya formulir izin kerja terdapat kolom hasil tes gas olehpengetes
gas yang berwewenang mendeteksi uap-uap berbahaya, gas-gas beracun, oksigen
pada pekerjaan yang mempunyai risiko terhadap gas.

DAFTAR PUSTAKA

American Institute of Chemical Enginer, 1995. Guidelines For Process Safety


Documentation. New York

CCH Australia Limited, 1997. Managing Occupational Health & Safety in 1


volume. Jakarta.

Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N), 1994. Pedoman


Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bagi Pekerja Baru. Jakarta: DK3N.

Departemen Tenaga Kerja, 1995. Peraturan Mentri Tenaga Kerja No.


05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja. Jakarta: Departemen Tenaga Kerja.

Muchammad Arief, 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan.


Klaten: Perhimpunan Pemandirian Masyarakat Indonesia.

Sumamur, P. K, 1993. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta:


PT. Toko Gunung Agung.

Syukri Sahab, 1997. Teknik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


Jakarta: PT. Bina Sumber Daya Manusia.