Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan walaupun dalam
bentuk yang sederhana. Tak lupa shalawat dan salam kita haturkankapada
junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, Nabi yang telah membawa manusia dari
alam kegelapan menuju alam yang terang benderang.
Makalah ini yang berjudul Perbedaan Individu dan Implikasi dalam
Pembelajaran merupakan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan. Makalah ini
merupakan inovasi pembelajaran untuk memahami mata kuliah tersebut secara
mendalam, semoga makalah ini dapat berguna untuk mahasiswa pada umumnya.
Kami sebagai penulis mengharapkan kemaklumannya jika dalam
penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dari segi cara penulisan, tata
bahasa maupun dari isi mutu penulisan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan
hati yang paling dalam kami harapkan saran dan kritikan yang sifatnya
membangun demi kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini
Akhirnya penulis menyadari, bahwa tak ada gading yang tak retak, tak
ada manusia yang luput dari salah dosa. Karena itulah siklus kehidupan manusia
yang penuh warna kekurangan, kekhilafan dan kelemahan. Begitupula dalam
penulisan karya tulis ini. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang sangat
membangun sangat diharapkan oleh penulis demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Makassar, 16 Maret 2016

Kelompok 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
1
B. Rumusan Masalah
2
C. Tujuan ................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.

Pengertian Intelegensia.........................................................................3
Mekanisme pembentukan perilaku menurut aliran holistic .4
Budaya................................................................................................ 17
Konsep pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidik 20
Prinsip Perkembangan .........................................................................21

BAB III PENUTUP

24

A. Kesimpulan

24

DAFTAR PUSTAKA

.25

PERBEDAAN INDIVIDU DAN IMPLIKASI


DALAM PEMBELAJARAN

KELOMPOK 1 :
Ira Anggriani Ridwan (1371042006)
Nurul Fauziyah (1571040013)

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dari bahasa bemacam-macam aspek perkembangan individu, dikenal ada
dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua manusia mempunyai unsur-unsur
kesamaan di dalam pola perkembangannya dan (ii) di dalam pola yang bersifat
umum dari apa yang membentuk warisan manusia secara biologis dan sosial, tiaptiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut
secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif. Sejauh
mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau
kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.
Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang dewasa, dan apakah ia
berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut individu. Individu
menunjukkan

kedudukan

seseorang

sebagai

orang

perorangan

atau

perseorangan.Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang


perseorangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Ciri dan sifat
orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut perbedaan
individu atau perbedaan individual.Maka perbedaan dalam perbedaan
individual menurut Landgren (1980: 578) menyangkut variasi yang terjadi, baik
variasi pada aspek fisik maupun psikologis.Seorang ibu yang memiliki seorang
bayi, bertutur bahwa bayinya banyak menangis, banyak bergerak, dan kuat
minum. Ibu lain yang juga memiliki seorang bayi, menceritakan bahwa bayinya
pendiam, banyak tidur, tetapi kuat minum. Cerita kedua ibu itu telah menunjukkan
bahwa kedua bayi itu memiliki ciri dan sifat yang berbeda satu sama lainnya.
Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa-siswa
yang berbeda satu sama lain. Siswa-siswa yang berada di dalam sebuah kelas,
tidak terdapat seorang pun yang sama. Mungkin sekali dua orang dilihatnya

hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyataannya jika diamati benar-benar
antara keduanya tentu terdapat perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal
oleh seorang guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya, seperti tinggi
badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan semacamnya.Dari fisiknya
seorang guru cepat mengenal siswa di kelasnya satu per satu. Ciri lain yang segera
dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begitu pula suara mereka.
Ada siswa yang lincah, banyak gerak, pendiam, dam sebagainya. Ada siswa yag
nada suaranya kecil dan ada yang besar atau rendah, ada yang berbicara cepat dan
ada pula yang pelan-pelan. Apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu
dengan yang lain memiliki sifat psikis yang berbeda-beda.
Upaya pertama yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan individu,
sebelum dilakukan pengukuran kapasitas mental yang mempengaruhi penilaian
sekolah, adalah menghitung umur kronologi. Seorang anak memasuki sekolah
dasar pada umur 6 tahun dan ia diperkirakan dapat mengalami kemajuan secara
teratur dalam tugas-tugas sekolahnya dilihat dalam kaitannya dengan faktor umur.
Selanjutnya ada anggapan bahwa semua anak diharapkan mampu menangkap/
mengerti bahan-bahan pelajaran yang mempunyai kesamaan materi dan
penyajiannya bagi semua siswa pada kelas yang sama. Ketidakmampuan yang
jelas tampak pada siswa untuk menguasai bahan pelajaran umumnya dijelaskan
dengan

pengertian

faktor-faktor

seperti

kemalasan

atau

sikap

keras

kepala.Penjelasan itu tidak mendasar, kenyataan bahwa para siswa memang


berbeda dalam hal kemampuan mereka untuk menguasai satu atau lebih bahan
pelajaran dan mungkin berada dalam satu tingkat perkembangan.
Telah disadari bahwa perbedaan-perbedaaan antara satu dengan lainnya
dan juga kesamaan-kesamaan di antara mereka merupakan ciri-ciri dari semua
pelajaran pada suatu tingkatan belajar.Sebab-sebab dan pengaruh perbedaan
individu ini dan sejauh mana tingkat tujuan pendidikan, isi dan teknik-teknik
pendidikan ditetapkan, hendaknya disesuaikan dengan perbedaan-perbedaan
tersebut, tampaknya hal ini telah mendapat banyak perhatian dari para ahli ilmu
jiwa dan petugas sekolah.

Inteligensi

mempengaruhi

penyesuaian

diri

seseorang

terhadap

lingkungannya, orang lain dan dirinya sendiri. Semakin tinggi taraf inteligensinya
semakin baik penyesuaian dirinya dan lebih mampu bereaksi terhadap rangsangan
lingkungan atau orang lain dengan cara yang dapat diterima. Hal ini jelas akan
meningkatkan konsep dirinya, demikian pula sebaliknya.Seseorang yang
mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan prestasinya. Jika
prestasinya meningkat maka konsep dirinya akan berubah (Syaiful, 2008).
Status sosial seseorang mempengaruhi bagaimana penerimaan orang lain
terhadap dirinya. Penerimaan lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri
seseorang.Penerimaan lingkungan terhadap seseorang cenderung didasarkan pada
status sosial ekonominya. Maka dapat dikatakan individu yang status sosialnya
tinggi akan mempunyai konsep diri yang lebih positif dibandingkan individu yang
status sosialnya rendah. Hal ini didukung oleh penelitian Rosenberg terhadap
anak-anak dari ekonomi sosial tinggi menunjukkan bahwa mereka memiliki
konsep diri yang tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari status
ekonomi rendah.Hasilnya adalah 51 % anak dari ekonomi tinggi mempunyai
konsep diri yang tinggi.Dan hanya 38 % anak dari tingkat ekonomi rendah
memiliki tingkat konsep diri yang tinggi (dalam Skripsi Darmayekti, 2006:21).
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Intelegensia ?
2. Bagaimana mekanisme pembentukan perilaku menurut aliran holistic
(humanisme) ?
3. Bagaimana budaya menanggapi perbedaan individu ?
4. Bagaimana konsep pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan ?
5. Apa saja prinsip dalam perkembangan ?
C. Tujuan
Untuk nemenuhi tugas kelompok matakuliah Psikologi Perkembangan peserta
didik
BAB II

PEMBAHASAN
A. Intelegensia
1) Pengertian Inteligensi
Inteligensi adalah suatu istilah yang popular.Hampir semua orang sudah
mengenal istilah tersebut, bahkan mengemukakannya. Seringkali kita dengar
seorang mengatakan si A tergolong pandai atau cerdas (inteligen) dan si B
tergolong bodoh atau kurang cerdas (tidak inteligen). Istilah inteligen sudah lama
ada dan berkembang dalam masyarakat sejak zaman Cicero yaitu kira-kira dua
ribu tahun yang lalu dan merupakan salah satu aspek alamiyah dari
seseorang.Inteligensi bukan merupakan kata asli yang berasal dari bahasa
Indonesia. Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latinyaitu
inteligensia. Sedangkan kata inteligensia itu sendiri berasal dari kata inter
dan lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga
inteligensi pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu
penalaran terhadap fakta atau kebenaran.
Untuk memperjelas pengertian inteligensi, maka penulis memaparkan
beberapa

definisi

inteligensi

yang

di kemukakan

oleh

beberapa

ahli

phisikologi maupun pendidik diantaranya :


Menurut para ilmuwan, dewasa ini manusia menggunakan 10 persen dari
kemampuan otaknya. Dari 10 persen itu sebagian besar hanya mengoptimalkan
belahan otak kiri (Stanford Research Institute).Pada dasarnya setiap orang dapat
menjadi jenius. Idealnya memang harus dipersiapkan sejak kecil dengan
mengaktifkan fungsi otak untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang
menunjang proses pembelajaran. Usia remaja juga dapat memberdayakan otak
secara optimal, untuk itu kita harus mengetahui terlebih dahulu cara kerja otak
tersebut. (Sidiarto L. 2008)
Beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai kecerdasan otak,
diketahui bahwa kecerdasan otak yang bersumber di sistem limbik justru

memberikan kontribusi jauh lebih besar dibandingkan dengan kecerdasan yang


bersumber dari neokorteks. Terdapat dua kecerdasan yang bersumber selain dari
neo kortex yaitu pada emosional di sistem limbik dan spiritual di God spot
(temporal). Kontribusi kecerdasan emosional dan spiritual terhadap keberhasilan
karir atau hidup seseorang diperkirakan sekitar 80%, sedangkan sisanya
merupakan kontribusi dari kecerdasan rasional. Dari 80% kontribusi tersebut
ternyata spiritual mendominasi sekitar 60% dan sisanya merupakan kontribusi
emosional.
Potensi kecerdasan sebagai inti Inteligensi merupakan pusat kreativitas
dan inovasi yang dihasilkan oleh suatu fungsi organ otak pada manusia
(Cattel,1971 dalam Pasiak 2008).Atau manusia dapat beraktifitas bermanfaat yang
merupakan kegiatan kreatif dan inovatif berdasar derajat inteligensi yang dimotori
oleh otak yang sehat.
Dengan demikian untuk mengatasi segala tantangan dan perubahan yang
terjadi. Oleh karena itu harus cerdas dan juga mampu menggunakan semua
kecerdasan otak yaitu intelektual, emosional dan spiritual.
Beberapa Pengertian Intelegensi menurut Para Ahli dalam Dalyono. (2007) :
1. Super dan Cites mengemukakan Intelegence has frequently been difined
as the ability to adjust to the environment or to learning from experience
(Super & Cites, 1962: 83) Intelegensi sebagai kemampuan menyesuaikan
diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman. Dimana manusia
hidup dan berinteraksi didalam lingkungannya yang kompleks untuk itu ia
memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2. Garrett (1946: 372) mengemukakan Intelegence includes at least the
abilities demanded in the solution of problems which requer the
comprehension and use of symbols (intelegensi itu setidak-tidaknya
mencakup kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan
masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta mengunakan simbol-

simbol. Karena manusia hidup senantiasa menghadapi permasalahan,


setiap permasalahan harus dipecahkan agar manusia manusia memperoleh
keseimbangan (homeostasis) dalam hidup.
3. Bischor, 1954 mengemukakan Intelegence is the ability to solve
problems of all kinds Intelegensi ialah kemampuan untuk memecahkan
segala jenis masalah. Defenisi intelegensi yang dikemukakan bischor ini
memuat perbedaan dengan defenisi menurut gareet yaitu intelegensi dalam
asti khusus sementara bischor dalam artian yang lebih luwes namun
bersifat operasional dan fungsional bagi kehidupan manusia.
4. Haidentich 1970 mengemukakan intelegence refers to ability to learn
and to utilize what has been learned in adjusting to unfamiliar situation,
or in the solving of problems Intelegensi menyangkut kemampuan untuk
belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha
penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam
pemecahan

masalah-masalah. Dimana manusia yang belajar sering

menghadapi situasi-situasi baru serta permasalahan hal ini memerlukan


kemampuan individu untuk belajar menyesuaikan diri serta memecahkan
setiap permasalahan yang dihadapi.
Menurut Purwanto, N.(1998) dalam mendidik dan mengajar, pendidik
tidak cukup hanya menyisihkan pengetahuan-pengetahuan atau tanggapantanggapan yang banyak ke dalam otak anak-anak .Pendapat ini mempertegas
bahwa anak harus diajar berpikir dengan baik, supaya anak tersebut dapat berpikir
dengan baik pula, dan kita perlu memberikan :
1. Pengetahuan siap (parate kennis), yaitu pengetahuan pasti yang sewaktuwaktu siap untuk dapat dipergunakan, seperti : hafal tentang huruf abjad,
perkalian dsb.
2.

Pengetahuan yang berisi, yang mengandung arti (tidak verbalistis) dan


yang benar-benar dimengerti oleh anak-anak.

3. Melatih kecakapan membentuk skema, yang memungkinkan berpikir


secara teratur dan skematis.
4. Soal-soal yang mendorong anak untuk berpikir, dalam hal ini faktor
motivasi memegang peranan yang penting.
Williem Sterm, inteligensi ialah suatu kesanggupan untuk menyesuaikan
diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat berpikir yang sesuai
dengan tujuannya, dan inteligensi tersebut sebagian besar tergantung dengan dasar
dan turunan Berdasar pendapat tersebut pendidikan dan lingkungan tidaklah
begitu berpengaruh kepada inteligensi seseorang.
Sedangkan menurut Jean Piaget, intelligence atau inteligensi diartikan
sama dengan kecerdasan, yaitu seluruh kemampuan berpikir dan bertindak secara
adaptif, termasuk kemampuan mental yang kompleks seperti berpikir,
mempertimbangkan, menganalisis, mensiotesis, mengevaluasi dan menyelesaikan
persoalan-persoalan.
Pendapat ini mempertegas bahwa inteligensi adalah seluruh kemungkinan
koordinasi yang memberi struktur kepada tingkah laku suatu organisme sebagai
adaptasi mental terhadap situasi baru.Dalam arti sempit inteligensi sering kali
diartikan sebagai inteligensi perasional, termasuk pula di dalamnya tahapantahapan yang sejak dari periode sensorimotoris sampai dengan operasional formal.
(Suryabrata S. 2010)
Menurut pendapat Munandar U. (1999) bahwa inteligensi meliputi
terutama kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perencanaan,
perumusan masalah, penyusunan strategi, representasi mental, keterampilan
pengambilan suatu keputusan dan keseimbangan serta integritas intelektual secara
umum

Wechler, merumuskan inteligensi sebagai keseluruhan kemampuan


individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah
dan menguasai lingkungan secara efektif.
Dari pendapat ini bahwa hal-hal yang mempengaruhi perkembangan
intelek itu antara lain :
1. Bertambahnya informasi yang disimpan (di dalam otak) seseorang
sehingga ia mampu berpikir reflektif.
2. Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan untuk memecahkan suatu
masalah, sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.
3. Adanya kebebasan berpikir menimbulkan keberanian seseorang dalam
menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah
secara keseluruhan dan menunjang keberanian anak dalam memecahkan
suatu masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.
Menurut dasar-dasar teori Piaget, perkembangan inteligensi yaitu :
1. Fungsi inteligensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis.
2. Bertambahnya usia menyebabkan berkembangnya struktur inteligensi
baru, sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif
Sedangkan

Semiawan

C.,

(1977)

mengatakan,

Kemampuan

mengablurkan mencakup kemampuan berpikir verbal dan berpikir kuantitatif,


sedangkan kemampuan menganalisis perubahan mencakup berpikir abstrak dan
berpikir verbal Menurut Bobbi Deporter dan Mike Henachi, semua kecerdasan
yang tinggi, termasuk intuisi ada dalam otak sejak lahir, dan selama lebih dari
tujuh tahun pertama kehidupan, kecerdasan ini dapat disingkapkan jika dirawat
dengan baik.

Pendapat ini mempertegas agar supaya kecerdasan-kecerdasan ini terawat


secara baik, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain yaitu :
1. Struktur syaraf bagian bawah harus cukup berkembang agar energi dapat
mengalir ke tingkat yang lebih tinggi.
2. Anak harus merasa aman secara fisik dan emosional.
3. Harus ada model
2) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi Seseorang
Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi, sehingga terdapat perbedaan
intelegensi seseorang dengan yang lain ialah:
1. Pembawaan, Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan cirri yang
dibawah sejak lahir. Batas kesangupan kita yakni dapat tidaknya
memecahkan suatu soal, pertama ditentukan oleh pembawaan kita.Orang
itu ada yang pintar ada pula yang bodoh. Sekalipun menerima latihan dan
pelajaran yang sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.
2. Kematangan, tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan
dan perkembangan. Tiap organ(fisik maupun non fisik) dapat dikatakan
telah matang jika telah mencapai kesangupan menjalangkan fungsinya
masing-masing. Anak tidak dapat memecahkan soal-soal tertentu karena
soal-soal itu masih terlampau sukar baginya.Organ-organ tubuhnya dan
fungsi-fungsi jiwanya masih belum matang untuk mengenai soalitu dan
kematangan erat hubungannya dengan umur.
3. Pembentukan, pembentukan ialah segala keadaan diluar diri seseorang
yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Dapat kita bedakan
pembentukan sengaja seperti yang dilakukan disekolah-sekolah) dan
pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar)

4. Minat dan pembawaan yang khas, Minat mengarahkan perbuatan kepada


suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri
manusia terdapat dorongan dorongan(motif-motif) yang mendorong
manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Motif menggunakan dan
menyelidiki dunia luar (manipulate and exploring motivasi) dari
manipulasi dan eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia luar itu, lama
kelamaan timbulah minat terhadap sesuatu, apa yang mereka minat
seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik
5. Kebebasan, kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metodemetode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia
mempunyai kebebasan memilih metode juga bebas dalam memilih
masalah sesuati dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini
berarti bahwa

minat itu tidak selamanya menjadi syarat dalam

pembentukan intelegensi. (Dalyono, 2007.)


B. Sosial Ekonomi
1) Mekanisme Pembentukan

Perilaku

Menurut

Aliran

Holistik

(Humanisme)
Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang
berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu
merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada
stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan
mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan
why

(mengapa).

What

(apa)

menunjukkan

kepada

tujuan

(goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How


(bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan
(goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why
(mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan
berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri

(motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi


ekstrinsik).
Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi
mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan
merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu
dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhanindividu secara hierarkis, yaitu:
1. kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan
2. kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental,
psikologikal dan intelektual
3. kebutuhan kasih sayang atau penerimaan
4. kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam
berbagai simbol-simbol status
5. kebutuhan aktualisasi diri.
Sementara itu, Stranger (Makmun, 2003) mengetengahkan empat jenis
kebutuhan individu, yaitu:
1. Kebutuhan berprestasi (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk
berkompetisi, baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai
prestasi yang tertinggi.
2. Kebutuhan berkuasa (need for power), yaitu kebutuhan untuk mencari dan
memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain.
3. Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation), yaitu kebutuhan
untuk mengikat diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi
ataupun persahabatan.

4. Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure), yaitu kebutuhan
untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat
perkembangannya.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi)
yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat
persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang
bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari
luar individu (motivasi ekstrinsik).
Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme
perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior), sehingga
membentuk suatu siklus.
Dalam pandangan holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi
kebutuhan dalam dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah
pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai atau tidak
tercapai tujuan tersebut.Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan
memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). Namun sebaliknya, jika tujuan
tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa
atau dalam psikologi disebut frustrasi. Reaksi individu terhadap frustrasi akan
beragam bentuk perilakunya, bergantung kepada akal sehatnya (reasoning,
inteligensi). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan
lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment).
Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya
lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian
diri yang keliru (maladjusment).
Bentuk perilaku salah (maldjustment), diantaranya : Agresi marah,
kecemasan tak berdaya, regresi (kemunduran perilaku), fiksasi, represi (menekan
perasaan), rasionalisasi (mencari alasan), proyeksi (melemparkan kesalahan
kepada lingkungan), sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang

sejenis), kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di


bidang lain), berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai
tujuan yang didambakannya).
Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta
didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang
dapat menimbulkan perilaku salah-suai.Sekaligus juga dapat memberikan
bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang
berkepanjangan dan frustrasi.
C. Budaya
Goodenough, 1971; Spradley, 1972; dan Geertz, 1973 mendefinisikan arti
kebudayaan di mana kebudayaan merupakan suatu sistem pengetahuan, gagasan
dan ide yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai
landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berperilaku
dalam lingkungan alam dan sosial di tempat mereka berada (Sairin , 2002).
Sebagai sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang dimiliki suatu
masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak (invisble power), yang
mampu menggiring dan mengarahkan manusia pendukung kebudayaan itu untuk
bersikap dan berperilaku sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi
milik masyarakat tersebut, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian dan
sebagainya.
Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang
lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama
menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non
fisik.Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup
manusia.
Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah
mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya

proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia. Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran
manusia dengan alam.Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang
memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang
berguna bagi kehidupannya.
Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam
perkembangan kepribadian manusia.Tanpa kepribadian manusia tidak ada
kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah kepribadiankepribadian.Para pakar antropologi, menunjuk kepada peranan individu bukan
hanya sebagai bidakbidak di dalam papan catur kebudayaan.Individu adalah
creator dan sekaligus manipulator kebudayaannya.Di dalam hal ini studi
kebudayaan mengemukakan pengertian sebab-akibat sirkuler yang berarti
bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang saling
menguntungkan. Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan
seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadiankepribadian
tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian dan
kebudayaan.Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan bukan sematamata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian
yang kreatif.Pranata sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat
mengembangkan kepribadian yang kreatif tersebut. Namun apa yang terjadi di
dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah kita ialah sekolah telah menjadi
sejenis penjara yang memasung kreativitas peserta didik.
Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah-laku yang
bisa dipelajari.Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan
seperti tingkah-laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang
dari orang dewasa dalam suatu generasi.Di sini kita lihat betapa pentingnya
peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.
Para pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan dalam
kebudayaan mula-mulanya muncul dari kaum behavioris dan psikoanalisis Para

ahli psikologi behaviorisme melihat perilaku manusia sebagai suatu reaksi dari
rangsangan dari sekitarnya.
Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan perilaku manusia.
Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap perilaku manusia ditentukan
oleh dorongan-dorongan yang sadar maupun tidak sadar ini ditentukan antara lain
oleh kebudayaan di mana pribadi itu hidup. John Gillin dalam Tilaar (1999)
menyatukan pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan
kepribadian manusia sebagai berikut.
1. Kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari
untuk belajar.
2. Kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksireaksi perilaku tertentu. Jadi selain kebudayaan meletakkan kondisi, yang
terakhir ini kebudayaan merupakan perangsang-perangsang untuk
terbentuknya perilaku-perilaku tertentu.
3. Kebudayaan mempunyai sistem reward and punishment terhadap
perilaku-perilaku tertentu. Setiap kebudayaan akan mendorong suatu
bentuk perilaku yang sesuai dengan system nilai dalam kebudayaan
tersebut dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap perilaku-perilaku
yang bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat
budaya tertentu.
4.

Kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan tertentu


melalui proses belajar. Apabila analisis Gillin di atas kita cermati, tampak
betapa peranan kebudayaan dalam pembentukan kepribadian manusia,
maka pengaruh antropologi terhadap konsep pembentukan kepribadian
juga akan tampak dengan jelas.

D. Konsep Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan

Pandangan Khaldun tentang penduidikan Islam berpijak pada konsep dan


pendekatan filosofis empiris.Melelui pendekatan ini, memberikan arah terhadap
visi tujuan pendidikan Islam secara ideal atau praktis. Meski ia tidak
mengkhususkan sebuah bab atau pembahasan mengenai tujuan pendidikan,
namun dari uraiannya dapat memeberikan kesimpulan terhadap arah dan tujuan
pendidikan yang diinginkannya. Menurutnya paling tidak ada 3 (tiga) tingkatanan
tujuan pyang hendakdicapaindalamprosespendidikan,yaitu:
1. Pengembangan kemahiran (al-malakah atau sekill) dalam bidang tertentu.
Orang awam bisa memililki pemahaman yang sama tentang suatu
persoalan dengan seorang ilmuwan. Akan tetapi, potensi al-malakah tidak
bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-baner memahami
dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini, para pakar (ilmuwan
khususnya) yang memiliki al-malakah secara sempurna.Sementara untuk
sampai pada tahap ini, diperlukan pendidikan yang sistematis dan
mendalam.
2. Penguasaan ketrampilan professional sesuai dengan tuntutan zaman ( link
and match). Dalam hal ini, pendidikan hendaknya ditunjukkan untuk
memperoleh ketrampilan yang tinggi dari profesi tertentu. Pendekatan ini
akan menunjang kemajuan dan kontinuitas sebuah kebudayaan, serta
peradaban umat manusia dimuka bumi. Pendidikan yang meletakkan
ketrampilan sebagai salah satu tujuannya yang hendak dicapai, dapat
diartikan

sebagai

upaya

mepertahankan

dan

memajukanperadabansecarakeseluruhan.
3. Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis
pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu pendidikan
hendaknya

diformat

memperhatikan

dan

dilaksanakan

pertumbuhan

dan

denmgan

perkembangan

terlebih

dahulu

potensi-potensi

psikologis peserta didik melalui pengembangan akal, akan dapat


membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial

dengan kehidupannya guna mewujudkan kesejahteraan hidupnya didunia


dan diakhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka keberadaan
pendidikan

merupakan

bagian

integral

dari

konstruksi

sebuah

peradaban.proses ini merupakan upaya mulia karena berhubungan dengan


penyebaran ilmu pengetahuan. Upaya tersebut merupakan salah satu tugas
manusia sebagai kalifah fil-ardh.
Seorang pendidik hendaknya memiliki pengetahuan yang memadai
tentang perkembangan psikologi peserta didik, pengetahuan ini akan sangat
membantu umtuk mengenal setiap individu peserta didik dalam mempermudah
dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidikhendaknyamengetahui
kemampuan daya serap peserta didik. Kemampuan ini akan bermanfaat bagi
penetapan materi pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta
didik. Bila pendidik memaksakan materi di luar kemampuan peserta didiknya,
maka akan menyebabkan kelesuan mental dan bahkan kebencian terhadap ilmu
pengetahuan yang diajarkan. Bila ini terjadi, maka akan menghambat proses
pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara
materi pelajaran yang sulit dan mudahdalamcakupanmateripendidikan.Dalam
melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan
metode mengajar yang efektif dan efisien. Dalam hal ini Ibnu khaldun
mengemukakan 6 (enam) prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik,yaitu:
1. Prinsip pembiasaan.
2. Prinsip tadrij (berangsur-angsur)
3. Prinsip pengenalan umum(generalistik)
4. Prinsip kontinuitas
5. Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik.
6. Menghindari kekerasan dalam mengajar.

Sementara pemikiran Khaldun tentang kurikulum pendidikan dapat dilihat


dari konsep epistimologinya.Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan
umat Islam dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu; ilmu pengetahuan syariiyyah
dan lmu pengetahuan filosofis.Ilmu pengetahauan asyariyyah berkenaan dengan
hukum dan ajaran-ajaran Islam. Ilmu ini diantarannya adalah tentang al-quran,
hadis , prinsip-prinsip syariah, fiqih, teologi, dan sufisme. Sementara itu ilmu
pengetahuan filosofis meliputi; logika, ilmu pengetahuan alam (Fisika),
metafisika, dan matematika.Ilmu pengetahuan filosofis juga sering disebut sains
ilmiah.Hal ini dibabkan karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki
kemampuan untuk menguasainya dengan baik. Ilmu pengetahuan syariiyyah dan
filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling
berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkannya.Konsep
ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan Islam
yang ideal. Yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik
yang memmiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban umat
manusia
E. Prinsip-Prinsip Perkembangan
Diantara prinsip-prinsip dalam perkembangan salah satu nya adalah:
Perbedaan

individu

(individual

difference),

maksudnya

adalah

proses

perkembangan setiap individu memilikimsifat dan karakteristik nya sendiri,


berbeda satu dengan yang lain. Baik menyangkut kecepatan atau kelambatan
nya,ada individu yang lebih cepat pada tahapan tertentu,akan tetapi lebih lambat
pada tahapan atau aspek yang lain konsekuensi nya adalah tidak ada dua individu
yang

sama

meskipun

lahir

kembar.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latinyaitu
inteligensia. Sedangkan kata inteligensia itu sendiri berasal dari kata inter
dan lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga
inteligensi pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu
penalaran terhadap fakta atau kebenaran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi, sehingga terdapat perbedaan


intelegensi seseorang dengan yang lain ialah:
1. Pembawaan, Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan cirri yang
dibawah sejak lahir.
2. Kematangan, tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan
dan perkembangan.
3. Pembentukan, pembentukan ialah segala keadaan diluar diri seseorang
yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
4. Minat dan pembawaan yang khas, Minat mengarahkan perbuatan kepada
suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri
manusia terdapat dorongan dorongan(motif-motif) yang mendorong
manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.
5. Kebebasan, kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metodemetode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah.
Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi
mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan
merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu
dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhanindividu secara hierarkis, yaitu:
1. kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan
2. kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental,
psikologikal dan intelektual
3. kebutuhan kasih sayang atau penerimaan
4. kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam
berbagai simbol-simbol status

5. kebutuhan aktualisasi diri.


Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah
mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya
proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia.
Pandangan Khaldun tentang penduidikan Islam berpijak pada konsep dan
pendekatan filosofis empiris.Melelui pendekatan ini, memberikan arah terhadap
visi tujuan pendidikan Islam secara ideal atau praktis.

Daftar Pustaka
Dalyono. M. 2007. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta Jakarta.
Depoter, Bobbi & Mike Hernachi 1999, Quantum Learning Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan, Kaifa, Bandung
Hartono S., 1999. Perkembangan Peserta Didik, Rineka Cipta, Jakarta

Makmun.S.A. 2003.Psikologi Pendidikan. Rosda Karya Remaja. Bandung


Purwanto, N. 1998.Psikologi Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung
Semiawan C, 1977. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Grasindo Jakarta.