Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

FAILURE TO THRIVE (GAGAL TUMBUH)

Pembimbing :
dr. Muh.Mukhson, Sp.A

Disusun Oleh:
Teofilus Kristianto
G4A014124

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016
HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan serta disetujui referat dengan judul :


FAILURE TO THRIVE (GAGAL TUMBUH)
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat ujian
kepanitraan klinik dokter muda SMF Ilmu Kesehatan Anak
RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun Oleh:
Teofilus Kristianto
G4A014124

Purwokerto,

Juni 2016

Mengetahui,
Dokter Pembimbing,

dr. Muh.Mukhson, Sp. A


NIP. 19631128 199102 1 001
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan
karuniaNya, sehingga dapat menyelesaikan tugas referat ini. Referat yang berjudul
Fail to Thrive ini merupakan salah satu syarat ujian kepanitraan klinik dokter
muda SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Muh.Mukhson, Sp. A
sebagai pembimbing atas bimbingan, saran, dan kritik yang membangun dalam
penyusunan tugas referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan referat ini masih belum
sempurna serta banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis tetap
mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembimbing serta seluruh pihak.

Purwokerto,

Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN
5
BAB II. FAIL TO THRIVE (GAGAL TUMBUH)
7
A.
Definisi
7
B.
Epidemiologi
13
C.
Etiologi
13
D.
Faktor Risko
15
E.
Patofisiologis
16
F.
Penegakan Diagnosis
18
G.
Diagnosis Banding
25
H.
Penatalaksanaan
26

I.
Komplikasi
28
J.
Prognosis
28
BAB III. KESIMPULAN
29
DAFTAR PUSTAKA
30

BAB I
PENDAHULUAN
Kualitas seorang anak dapat dinilai dari proses tumbuh kembang.
Pertumbuhan dan perkembangan mengalami peningkatan pesat pada usia dini, yaitu
dari 0 sampai 5 tahun yang sering disebut sebagai fase Golden Age. Fase ini

sangat penting sehingga pengamatan terhadap anak secara cermat sangat disarankan
agar dapat mendeteksi kelainan atau penyimpangan yang mungkin terjadi, seperti
masalah pertumbuhan (Chundrayetti, 2005).
Pertumbuhan adalah suatu proses bertambah besarnya ukuran fisik dan
struktur tubuh. Terdapat beberapa indikator pertumbuhan seperti berat badan,
panjang badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas. Pertumbuhan
merupakan suatu indikator sensitif kesehatan, status nutrisi dan latar belakang
genetik anak. Penyimpangan rata-rata tinggi badan dan berat badan dapat
menunjukkan adanya masalah kesehatan. Proses tumbuh kembang, termasuk
pertumbuhan, merupakan proses utama dan terpenting pada anak. Gangguan,
hambatan, maupun penyimpangan yang terjadi pada pertumbuhan anak akan
berdampak buruk terhadap masa depan anak (Hakimi et al., 2005).
Salah satu gangguan pertumbuhan yang terjadi pada anak adalah gagal tumbuh
(Failure to thrive). Gagal tumbuh merupakan kondisi yang banyak terjadi dalam

kehidupan sehari-hari, namun seakan sebagian besar anak gagal tumbuh tidak
teridentifikasi, sehingga diperlukan pemeriksaan yang teliti dengan menggunakan
parameter pertumbuhan secara rutin (Krugman, 2003). Gagal tumbuh bukanlah
suatu diagnosis atau penyakit namun merupakan suatu muara dari berbagai masalah
medis, psikososial, dan lingkungan yang menyebabkan buruknya pertumbuhan
pada anak (Gahagan, 2006). Namun sampai saat ini belum terdapat konsensus
tentang definisi gagal tumbuh ini (Spencer, 2007).
Kejadian gagal tumbuh lebih banyak terjadi di negara berkembang
dibandingkan dengan negara maju. Gagal tumbuh dapat terjadi pada semua kelas
sosialekonomi, namun sering terjadi pada keluarga dengan kelas sosialekonomi
rendah. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa insiden gagal tumbuh meningkat
pada anak yang sedang dalam pengobatan, tinggal di daerah rural, dan yang tidak
mempunyai rumah (Rabinowitz and Katturupalli, 2010).
Anak dengan gagal tumbuh dapat timbul risiko di kemudian hari seperti
masalah tingkah laku, short stature dan keterlambatan perkembangan. Menemukan
anak dengan gagal tumbuh dan intervensi dini menjadi penting untuk mencegah

timbulnya malnutrisi dan gangguan perkembangan nantinya (Krugman, 2003), oleh


karena itu penulis tertarik untuk menulis referat terkait gagal tumbuh

BAB II
FAILURE TO THRIVE
A.

DEFINISI

Failure to Thrive atau yang sering disebut gagal tumbuh merupakan


kondisi

pertumbuhan

fisik

anak

yang

kurang

atau

dampak

dari

ketidakmampuan mengelola pertumbuhan (Gahagen, 2006). Definisi lain


tentang gagal tumbuh yang juga sering disebut sebagai Growth Deficiency
yaitu interaksi antara lingkungan dengan kesehatan anak, perkembangan dan
prilaku (Irwanto et al., 2006).
Pengukuran pertumbuhan menggunakan grafik pertumbuhan yang sudah
terstandar, seperti salah satunya yang diterbitkan oleh National Center for
Health Statistics (NCHS). Banyak dari praktisi melakukan pengukuran
pertumbuhan menggunakan pengukuran berat badan berdasarkan umur, dan
dikatakan gagal tumbuh jika didapatkan hasil dibawah persentil lima dari
standar grafik pertumbuhan NCHS atau menyilang pada dua garis persentil
utama. Parameter pertumbuhan lain yang dapat membantu dalam menegakkan
diagnosis gagal tumbuh yaitu dengan pengukuran berat badan berdasarkan
tinggi badan dan tinggi badan berdasar umur (Krugman et al, 2003).
Gagal

tumbuh

dapat

diklasifikasikan

berdasarkan

sistem

serta

patofisiologi. Sementara itu terdapat klasifikasi lain yaitu


a. Non organic (psychosocial) failure to thrive
Pada gagal tumbuh non organik, tidak diketahui kondisi medis yang
menyebabkan gagal tumbuh, namun penyebabnya diantaranya karena
kemiskinan, masalah psikososial di dalam keluarga, kurangnya pengetahuan
tentang nutrisi dan cara pemberian makan anak, penelantaran anak, dan
single parent.
b. Organic failure to thrive
Gagal tumbuh organik diketahui kondisi medis yang menyebabkan
gagal tumbuhnya. Biasanya disebabkan oleh infeksi (HIV, tuberkulosis),
gangguan pada saluran cerna (diare kronik, stenosis pilorus, gastroesofageal
refluks), gangguan saraf (serebral palsy, retardasi mental), gangguan pada
traktus urinarius (infeksi saluran kemih, gagal ginjal kronik), penyakit
jantung bawaan dan kelainan kromosom.
c. Mixed failure to thrive
Gagal tumbuh disebabkan oleh kombinasi antara penyebab organik
dan non organik.
d. Failure to thrive with no spesific etiology
Dilihat dari literatur tentang gagal tumbuh terdapat 12-34% anak

gagal tumbuh tidak memiliki etiologi yang spesifik.

Tabel 1. Etiologi berdasarkan system (Bauchner, 2007)


Psikososial

Diet yang tidak adekuat karena kemiskinan/kekurangan makanan, salah dalam


mempersiapkan makanan

Rendahnya pendidikan orangtua

Masalah hubungan orangtua dan anak

Food refusal

Ruminasi

Masalah kesehatan mental dan kognitif orangtua

Child abuse/neglet, penyimpangan emosional


Neurologi

Serebral palsi

Tumor hipotalamus

Kelainan neuromuscular

Kelainan neurodegenerative
Ginjal

Infeksi saluran kemih

Renal tubular acidosis

Gagal ginjal
Endokrin

Diabetes mellitus

Diabetes incipidus

Hipotiroid/hipertiroid

Defisiensi hormone pertumbuhan


Genetic/metabolic/congenital

Penyakit sel sabit

Penyakit metabolic bawaan

Dysplasia skeletal

Kelainan kromosom

Sindrom multiple congenital anomaly


Gastrointestinal

Stenosis pylorus

GERD

Tracheoesofageal fistula

Malrotasi

Sindrom malabsorpsi

Celiac disease

Intoleran lactose dan protein

Sistik fibrosis

Kolestasis kronik

Inflammatory bowel disease

Short bowel syndrome

Hirschprung disease

Alergi makanan

Jantung

Kelainan jantung bawaan

Gagal jantung
Pulmonary/respiratori

Asma berat

Bronkoekstasi

Gagal nafas

Bronkopulmanari dysplasia
Infeksi

Infeksi kronis

Infeksi parasit

Tuberculosis

HIV

Tabel 2. Etiologi gagal tumbuh berdasarkan organik dan nonorganik (Alphonsus,


2011)
Nonorganic

Gangguan hubungan ibu dan anak

Pembuatan susu formula yang salah

Gagal menyusui

Intake kurang

Terlambat mengenalkan makanan padat

Intoleransi terhadap makanan baru

Tekanan Psikososial
Organic

IUGR

Kelainan congenital

Alergi susu sapi

Penyakit seliak

HIV

Sistik fibrosis

Penyakit jantung bawaan

GERD

Kelainan metabolic kromosom

Tabel 3. Etiologi gagal tumbuh berdasarkan patofisiologi (Bauchner, 2007)


Asupan kalori yang kurang

Pembuatan formula yang tidak tepat

Kebiasaan makanan yang salah

Gangguan tingkah laku yang mempengaruhi makan

Anak terlantar

Kemiskinan

Terganggunya hubungan orang tua dan anak

Kesulitan makan secara mekanik ( disfungsi oromotor, anomaly congenital, GERD,

kerusakan susunan saraf pusat)


Gangguan penyerapan

Celiac disease, cystic fibrosis

Alergi susu sapi

Defisiensi vitamin atau mineral

Atresia bilier atau penyakit hati

Necrotizing enterocolitis , short gut syndrome


Meningkatnya metabolism

Hipertiroid

Infeksi kronis (HIV,keganasan, penyakit ginjal)

Hipoksemia (penyakit jantung bawaan,

penyakit paru kronik)


Gangguan penggunaan zat gizi

Abnormalitas genetic

Infeksi congenital

Kelainan metabolic

B.EPIDEMIOLOGI
Sembilan puluh lima persen dari kasus gagal tumbuh disebabkan oleh tidak
adekuatnya makanan yang tersedia atau yang dimakan dan hal ini disebabkan oleh
faktor kemiskinan. Sekitar 80% angka kejadian gagal tumbuh biasanya tampak

pada usia kurang dari 18 bulan. Tercatat pada tahun 2008 di Amerika, gagal
tumbuh terjadi pada 5% sampai 10 % anak yang melakukan pengobatan pada
pelayanan kesehatan primer serta 3% sampai 5% pada anak yang melakukan
pengobatan di rumah sakit (Daniel et al., 2008).
Berdasarkan data riskesdas 2007 prevalensi gagal tumbuh di Indonesia berkisar
antara sekitar 20 sampai lebih dari 50 persen per propinsi dan mayoritas propinsi lebih
dari sepertiga dari anak usia 6

sampai 15 tahun terganggu pertumbuhannya. Di

Sumatera Barat, sekitar 40 persen anak usia 6 sampai 15 tahun mengalami gagal
tumbuh (Rosso and Arlianti, 2010)

C.

ETIOLOGI

Penyebab dasar dari gagal tumbuh adalah defisiensi nutrisi. Sementara


kemiskinan merupakan faktor risiko tunggal terbesar di dunia penyebab gagal
tumbuh (Robert et al., 2005 fail to thrive 2). Etiologi pada anak dapat
dikelompokkan menjadi dua penyebab, yaitu prenatal dan postnatal
(Alphonsus, 2011)

1. Penyebab prenatal
Penyebab prenatal gagal tumbuh diantaranya sebagai berikut.
a. Prematuritas dan komplikasinya
b. Paparan uterus terhadap toxic agents seperti alkohol, rokok, obat-obatan
c. Infeksi (Rubella, CMV, HIV, dll)
d. Intra uterine growth retardation (IUGR) karena berbagai penyebab
e. Abnormalitas kromosom (Down syndrome, turner syndrom).
2. Penyebab postnatal
a. Intake kalori yang tidak adekuat
Intake kalori yang tidak adekuat merupakan penyebab gagal
tumbuh pada anak yang paling banyak. Pada anak usia di bawah 8
minggu, gangguan intake (cara hisapan atau cara menelan yang salah)
dan gangguan menyusui merupakan penyebab terbanyak. Pada anak yang
lebih besar, perubahan pola makan ke makanan padat, ASI yang tidak
lagi mencukupi, konsumsi susu formula, dan orang tua yang menghindari
pemberian makanan tinggi kalori sering menyebabkan anak menderita
gagal tumbuh.
Faktor keluarga dapat berkontribusi terhadap intake kalori yang
tidak adekuat pada anak, hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
akan nutrisi dan masalah keuangan keluarga, yang tidak kalah
pentingnya, child abuse dan penelantaran anak harus dipertimbangkan,
karena anak yang menderita gagal tumbuh berkemungkinan menjadi
korban child abuse 4 kali lipat lebih besar dibandingkan anak normal.
b. Absorpsi yang tidak adekuat
Absorpsi kalori yang tidak adekuat mencakup penyakit yang
menyebabkan sering muntah seperti intoleransi makanan, alergi susu sapi
atau malabsorpsi (diare kronis, necrotizing enterocolitis).
c. Peningkatan kebutuhan kalori
Pengeluaran kalori yang berlebihan biasanya muncul pada kondisi
kronis seperti penyakit jantung kongenital, penyakit paru kronis dan
hipertiroidisme.
d. Gangguan penggunaan kalori.
Gangguan penggunaan kalori misalnya seperti pada penyakit
diabetes melitus tipe 1 atau renal tubular asidosis.

D.
FAKTOR RISIKO
Faktor predisposisi gagal tumbuh dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4. Faktor predisposisi gagal tumbuh pada anak

Kongenital

Displasia Skletal
Metabolik
Sistem Imun

Gastrointestinal

Renal
Kardiopulmonal

Neurologi
Sensoris
Endokrin

Lain lain

Kelainan Kromosom (Sindrom Down,


Sindrom Prader-Willi)
Disgenesis Gonad (Sindrom Turner)
Akondroplasia
In born error of metabolism
Imunodefisiensi kronik
HIV
TB
Infeksi berulang
ISK kronik (pyelonephritis)
Stenosis pylorus
Kelainan anatomi oral atau esophagus
Trauma oral atau esophagus
GERD
Inflamatory Bowel Disease (IBD)
Alergi
Penyakit saluran empedu
Penyakit hepar kronik
Insufisiensi pancreas
Parasite atau infeksi usus kronik
Karies dentis
Renal Tubular Asidosis
Gagal ginjal kronik
Gagal jantung
Asma
Displasia bronkopulmoner
Fibrosis kistik
Tonsilitis dan adenoid kronik
Cerebral Palsy
Gangguan perkembangan
Anosmia
Buta
Diabetes Mellitus
Hipotiroid
Insufisiensi Adrenal
Kelainan Hipofisis
Defisiensi GH
Kanker
Sindrom Diensefalik
Penyakit Rematik

Keracunan timbal
Sumber : Buku ajar Endokrinologi Anak Edisi 1, 2010

E.PATOFISIOLOGI
Walaupun sudah dipertimbangkan sejak dulu bahwa gagal tumbuh
merupakan akibat dari faktor organik atau anorganik, sebuah pandangan baru
dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh faktor yang mungkin berperean dan
sering kali ditemukan faktor yang berasal dari keduanya pada seorang anak.
Faktor anorganik yang berperan biasanya berupa intake energi yang inadekuat,
selain masalah itu faktor kegagalan tumbuh bisa diakibatkan oleh kurangnya
kalori yang masuk (biasanya mutah atau malabsorbsi dan atau hilangnya
berlebihan misalkan protein losing enteropati) dan kebutuhan metabolik yang
terlalu tinggi.
Rata-rata berat bayi pada usia aterm adalah 3,3 kg dengan penurunan
berat badan sebanyak 10% pada beberapa hari pertama hidupnya akibat
skehilangan banyak cairan. Pada hari 10-14 hidupnya, berat badan bayi
seharusnya naik akibat dari pemberian ASI dan colostrum. Rata-rata bayi
mengalami berat badan 1 kg tiap bulannya selama 3 bulan pertama, setengah
kg per bulan pada usia 3-6 bulan, 0,33 kg per bulan pada usia 6-9 bulan dan
0,25 kg per bulan pada usia 9-12 bulan. Oleh karena itu seharusnya berat badan
bayi akan meningkat dua kali lipat pada usia 4-6 bulan dan tiga kali lipat pada
usia 12 bulan.
Sebuah skema alternatif digunakan pada bayi yang sudah memiliki
peningkatan berat badan 30 g per hari selama 3 bulan dan 15 g per hari selama
6 bulan selanjutnya. Usia 9 sampai anak-anak, rata-rata peningkatan berat
badan sebesar 0,25 kg/bulan, setelah itu berat badan anak akan meningkat
sebesar 2 kg/tahun selama usia sekolah. Intake kalori yang dibutuhkan oleh
bayi yang normal adalah 100-110 kkal/kgBB/hari untuk setengah tahun
pertama dan 100 kkal/kgBB/hari untuk setengah tahun kedua pada tahun
pertama. Jika berat bayi sudah lebih dari 10 kg, kebutuhan kalori sebesar
50kkal/kgBB/hari untuk mencapai BB 20 kg. Jika berat badan lebih dari 20 kg,
kebutuhan kalori sebesaro 20 kkal/kgBB/hari cukup untuk menjaga berat
badan. Bayi akan tumbuh dengan panjang badan 25 cm pada usia tahun

pertama, selanjutnya akan meningkat 12,5 cm pada tahun kedua dan akan
melambat menjadi sekitar 5-6 cm pada usia antara 4 tahun sampai usia pubertas
sehingga pertumbuhan dapat meningkat menjadi 12 cm setiap tahunnya.
Ukuran lingkar kepala rata-rata sekitar 35 cm pada bayi baru lahir
dan akan meningkat menjadi 47 cm pada usia 1 tahun. Rata-rata akan
melambat pertumbuhannya menjadi 55 cm pada usia 6 tahun. Selain itu, rasio
segmen tubuh bagian atas dan bagian bawah akan berubah seiring adanya
pertumbuhan. Normalnya rasio pada bayi baru lahir adalah 1,7, rasio pada
usia3 tahun adalah 1,3 dan rasio pada usia 7 tahun adalah 1 Segmen bagian
bawah tubuh diukur dari simfisis pubis hingga kaki.
Ketika membuat diagram pertumbuhan untuk bayi prematur, usia
terkoreksi harus digunakan yang dapat dihitung dengan mengurangi selisih usia
prematuritas dalam minggu dari usia post natal. Diagram pertumbuhan khusus
berdasarkan usia kehamilan, lebih digunakan dibandingkan usia setelah lahir
dimulai pada usia kehamilan 26 minggu, namun demikian, karna diagram ini
merepresentasikan bayi dengan ukuran relatif kecil, diagram tersebut mungkin
tidak sepenuhnya reliabel, dibutuhkan teknik lain untuk bayi prematur dengan
metodologi konsisten. Ketika metode plotting growth dipilih, teknik tersebut
harus dipantau setiap waktu. Pada bayi usia kehamilan 40 minggu, beberapa
bayi mungkin membutuhkan sekitar 120 kkal/kgBB/hari untuk mencapai berat
badan adekuat.
Diagram pertumbuhan dikembangkan oleh NCHS berdasarkan data
yang diperoleh dari Third National Half and Nutrition Examination Survey 3,
yang sudah digunakan sejak tahun 1977 dan dapat digunakan pada bayi lakilaki ataupun perempuan pada usia 0-36 bulan dan usia 2-18 tahun. Diagram
pertumbuhan untuk bayi usia 0-36 bulan membutuhkan data diantaranya Berat
badan dan tinggi badan berdasarkan umur dan lingkar kepala. Diagram ini telah
mengalami revisi oleh Centre for Disease Control and Prevention. Diagram
baru ini dapat digunakan untuk bayi, anak dan remaja dari usia baru lahir
hingga usia 20 tahun dan memiliki 7 kurva percentil yaitu percentil 5, 10,25,
50,75, 90, 95. Diagram ini dapat digunakan pada pasien dengan kondisi khusus
misalkan endokrin, gastroenterologi, dengan adanya tambahan kurva percentil
ke tiga dan 97. Diagram indeks masa tubuh yang dapat digunakan pada

individu pada usia 2-20 tahun dimana indeks massa tubuh dihitung dengan
membagi berat badan dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. Pengukuran
yang akurat sangat penting membantu inrepetasi dari diagram pertumbuhan.
Skala yang digunakan dikalibrasi secara teratur, panjang badan harus diukur
secara hati-hati, dan lingkar kepala harus diukur dengan teknik yang telah
terstandarisasi. Diagram pertumbuhan alternatif juga tersedia untuk anak anak
dengan kebutuhan khusus, misalkan down sindrome, turner sindorm,
akondroplasia, meningomyelo sel, BBLR, dan berat bayi lahir sangat rendah.
F. PENEGAKAN DIAGNOSIS
1.
Anamnesis
Anamnesis yang lengkap sangat dibutuhkan untuk menegakkan
diagnosis, seperti riwayat prenatal, kelahiran, riwayat diet, pola makan dan
kebiasaan makan, riwayat medis, sosial saat ini dan yang lalu, serta riwayat
keluarga. Riwayat prenatal meliputi semua informasi yang berkaitan dengan
kebiasaan ibu seperti mengkonsumsi alkohol, merokok, mengkonsumsi obat
tertentu dan penyakit selama kehamilan. Riwayat persalinan meliputi cara
lahir, perawatan setelah lahir, komplikasi yang timbul seperti sepsis,
meningitis atau penyakit lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak (Krugman, 2003).
Riwayat diet harus menjelaskan detail makanan dan minuman
bayi/anak selama 24 jam, bagaimana cara menyiapkan makanan, jenis
makanan, volume makanan, serta frekwensi makan untuk menilai apakah
anak mendapatkan asupan energi yang adekuat. Jika sulit mendapatkan
riwayat diet ini, maka dapat dilakukan three day food diary yang diperoleh
dari anamnesis selama 3 hari. Berdasarkan cara ini dapat dinilai jumlah dan
kualitas asupan nutrisi. Riwayat pemberian makan juga menjelaskan jadwal
makan, siapa yang memberi makan dan cara pemberian makan. Riwayat
medis sebelum dan saat ini meliputi riwayat kelahiran, penyakit akut dan
kronik yang diderita, riwayat perawatan di rumah sakit, pola defekasi, gejala
saluran cerna seperti muntah, refluks (Rabinowitz, 2010).
Riwayat sosial meliputi jumlah anggota keluarga, siapa yang
mengasuh anak, kondisi sosial ekonomi, kebiasaan orang tua seperti

konsumsi alkohol, serta hubungan antara anggota keluarga. Riwayat


keluarga meliputi apakah ada keluarga yang mengalami keadaan serupa
maupun penyakit gangguan mental (Rabinowitz, 2010).
2.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik menyeluruh sangat diperlukan dengan tujuan (Krugman,
2003) :
a. Menemukan gangguan/bentuk dismorfik dengan kemungkinan faktor
genetik sebagai penyebab gangguan pertumbuhan.
b. Menemukan penyakit dasar yang mempengaruhi pertumbuhan
c. Melihat tanda-tanda adanya kekerasan pada anak.
d. Menilai berat badan anak dan efek yang ditimbulkan akibat malnutrisi.
Pengukuran antropometri seperti berat badan, tinggi badan dan
lingkaran kepala harus dilakukan dengan memplotnya pada kurva
pertumbuhan karena kriteria diagnosis gagal tumbuh berdasarkan grafik
pertumbuhan, walaupun pengukuran berat badan saja masih merupakan alat
diagnostik untuk menilai gagal tumbuh pada anak (Raynor, 2000).
Tanda vital biasanya dalam batas normal, pencatatan tekanan darah,
pernafasan, tekanan nadi saturasi oksigen dalam beberapa kondisi klinis
tertentu. Kelainan structural atau anatomi yang dapat mengganggu
pemberian makan harus diperiksa, anak dengan celah pada bibir dan
palatumnya mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terjadi gagal tumbuh,
begitu juga kelainan anatomi ringan seperti adanya caries dentis, abses
rongga mulut, pembesaran tonsil dan adenoid dapat mempengaruhi intake
makanan (Schwartz, 2000). Beberapa keadaan dapat ditemukan pada anak
dengan gagal tumbuh antara lain edema, kurus, hepatomegali, perubahan
pada kulit, warna rambut, perubahan status mental dan tanda-tanda
defisiensi vitamin (Rabinowitz, 2010).
3.

Interaksi anak dengan orang tua

Gagal tumbuh dapat melibatkan faktor psikososial meliputi hubungan


antara orang tua dan anak. Dengan memperhatikan interaksi keduanya terutama
waktu makan, mungkin dapat memberikan informasi tentang etiologi gagal
tumbuh. Disini akan terlihat kemampuan orangtua menangkap isyarat dari anak,
respon anak, cara orangtua bersikap terhadap anaknya, sehingga akan didapat

gambaran hubungan orangtua dengan dan anak yang akan menjadi kunci untuk
memulai intervensi (Rabinowitz, 2010).

Interaksi orangtua dengan anaknya dapat juga diperoleh melalui


wawancara dan pengamatan langsung serta melalui tenaga kesehatan
masyarakat yang berhubungan dengan keluarga tersebut (Schwartz, 2000).
Adanya faktor psikososial dalam hal ini memerlukan pemeriksaan lebih
lanjut termasuk kondisi ekonomi keluarga, hubungan social kemasyarakatan
dan pemeriksaan kesehatan mental. Kadang beberapa kasus diperlukan
konsultasi dengan psikolog, pekerja social dan bahkan psikiater. Adanya
tanda kekerasan pada anak jelas akan memerlukan perhatian lebih, bahkan
dapat melibatkan pelayanan perlindungan anak (Rabinowitz, 2010). Cara
atau sikap ibu dalam memberikan makan yang tidak baik pada anak juga
merupakan faktor risiko untuk terjadinya gagal tumbuh (Wright et al.,
2006).
4.
Kurva pertumbuhan
Kurva pertumbuhan merupakan alat pemeriksaan yang sangat
penting dalam menilai anak gagal tumbuh. Memproyeksikan berat badan,
panjang/tinggi

badan

dan

lingkaran

kepala

secara

serial

akan

memperlihatkan perubahan yang dinamis terhadap ketiga ukuran tersebut.


Pertumbuhan yang normal akan mengikuti kurva persentil sesuai yang
diharapkan. Dengan memperhatikan kurva pertumbuhan akan dapat diamati
dengan tepat kapan terjadi gangguan pertumbuhan (Gahagan, 2006).
Kriteria diagnostik gagal tumbuh (Olsen, 2007):
a. Berat badan <75% dari median berat badan sesuai umur kronologik
(kriteria Gomez) atau;
b. Berat badan <80% dari berat badan menurut tinggi (kriteria Waterlow)
c.
d.
e.
f.

atau ;
BMI umur kronologi < persentil 5 atau;
Berat menurut umur kronologi < persentil 5 atau;
Tinggi menurut umur kronologi < persentil 5 atau;
Penurunan berat badan menyeberangi lebih dari 2 garis persentil mayor.
Dari semua kriteria diatas belum ada kesepakatan para ahli mana

yang ideal untuk menilai gagal tumbuh. Penelitian yang dilakukan oleh

Olsen dan kawan kawan menyimpulkan tidak ada satu kriteria yang ideal
untuk menilai gagal tumbuh (Olsen, 2007)

Gambar 1. Contoh grafik anak dengan gagal tumbuh karena pemberian makan yang
salah dan penyakit celiac (Gahagan, 2006)

Gambar 2. Contoh grafik anak gagal tumbuh anorganik (Gahagan, 2006)

5. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan ditentukan berdasarkan
hasil temuan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Tidak ada pemeriksaan
laboratorium khusus untuk semua anak dengan gagal tumbuh, karena
banyak

anak

dengan

gagal

tumbuh

tidak

mempunyai

kelainan

laboratorium (Krugan, 2003). Pemeriksaan labor yang dilakukan pada


anak dengan gagal tumbuh untuk skrining awal meliputi darah tepi

lengkap, urinalisis, kultur urin, elektrolit, ureum kreatinin, kalsium, faal


hepar, termasuk albumin dan globulin.6 Pemeriksaan lain dilakukan atas
indikasi seperti skrining untuk HIV, uji fungsi tiroid, imunoglobuln, uji
mantoux, rontgen foto, bone age dan lain-lain (Robimowitz, 2010)
6. Penilaian perkembangan
Penilaian perkembangan juga seharusnya dilakukan untuk deteksi
dini keterlambatan perkembangan pada anak gagal tumbuh. Penelitian dari
Case Western Reserve, terhadap anak dengan gagal tumbuh didapatkan ratarata

IQ

85,4

15,

11,5%

mempunyai

beberapa

keterlambatan

perkembangan dan 18% mempunyai nilai sekolah yang rendah (Schwatz,


2000).

Gambar 3. Algoritma penilaian gagal tumbuh


G.
DIAGNOSIS BANDING
1. Familial Short Stature
Anak dengan perawakan pendek, kurva pertumbuhannya sering kali sangat
dekat dengan presentil 3. Anak tersebut memiliki kecepatan pertumbuhan dan rasio
berat badan menurut tinggi badan yang normal. Kurva pertumbuhan anak dengan
perawakan pendek masih paralel dengan kurva pertumbuhan normal. Selain itu,
usia tulang anak dengan perawakan pendek sesuai dengan usia kronologisnya
(Allen, 2013).

2.

Constitutional Growth Delay

Constitutional growth delay adalah keadaan transien hipogonadisme


hipogonadotropik terkait dengan perpanjangan fase pertumbuhan, penundaan
maturasi tulang, penurunan kecepatan pertumbuhan pada masa pubertas (pubertal
growth spurt), dan penurunan sekresi insulin-like growth factor-1. Tinggi anak
dengan constitutional growth delay pada umumnya tidak akan mencapai tinggi

potensial genetik pada saat dewasa, namun beberapa kasus dapat mencapai tinggi
normal menurut potensi genetiknya (Soliman, 2012).

3. Anak Pada Populasi Tertentu


Bayi preterm dan bayi yang mengalami intra uterine growth restriction
(IUGR) biasanya akan menunjukkan tanda-tanda gagal tumbuh langsung pada
masa postnatal, tetapi catch-up pertumbuhan akan terjadi pada 2-3 tahun pertama
kehidupan.

Selama

pertumbuhan

mengikuti

atau

paralel

dengan

kurva

pertumbuhan normal, failure to thrive (gagal tumbuh) tidak boleh didiagnosa


(Alphonsus, 2011).

4. Sindrom Diensefalik
Sindrom diensefalik disebabkan oleh neoplasma pada daerah hipotalamus
dan ventrikel ketiga.Sindrom diensefalik biasanya muncul pada pada tahun pertama
kehidupan dengan tampilan klinis gagal tumbuh, kurus, peningkatan nafsu makan,
euforia, dan pergerakan mata nystagmoid. Secara klinis, sindrom diensefalik
berbeda dengan failure to thrive karena disamping kondisi fisiknya yang kurang
baik, anak dengan sindrom diensefalik aktif, dapat berinteraksi dengan mudah, dan
tidak depresi (Kuttesch and Ater, 2010).

5. Psychosocial Short Stature (Psychosocial


Dwarfism)
Psychososcial dwarfism adalah sindrom perlambatan pertumbuhan linier
yang dikombinasikan dengan karakteristik gangguan prilaku seperti gangguan tidur
dan kebiasaan makan yang tidak biasa. Kedua hal ini bertanggung jawab dalam
perubahan linkungan psikososial anak. Biasanya onset sindrom ini di antara usia 18
bulan dan 24 bulan. Anak yang mengalami psychosocial dwarfism biasanya
pemalu, pasif, dan sering menarik diri dari kehidupan sosial (Alphonsus, 2011).

H.
PENATALAAKSANAAN
Penatalaksana an gagal tumbuh memerlukan pemahaman terhadap semua
faktor yang berperan dalam proses pertumbuhan anak termasuk kondisi
kesehatan dan gizi anak, permasalahan dalam keluarga dan hubungan orang
tua-anak (Bauchner, 2010). Tatalaksana ini harus segera dimulai bahkan
sebelum pemeriksaan lengkap. Seiring dengan pengumpulan informasi,
pemeriksaan fisik lengkap, pemeriksaan laboratorium, radiologi, atau evaluasi

psikososial, edukasi tentang gizi yang adekuat harus diberikan, intervensi gizi
dan pemberian makan dimulai pada kunjungan pertama (Black et al., 2007).
Hal pertama yang menjadi patokan dalam penatalaksanaan gagal tumbuh
adalah mengidentifikasi penyakit dasar dan pengobatannya. Jika ditemukan
penyakit yang berat seperti gangguan elektrolit dan dehidrasi harus diatasi
segera, bahkan kalau diperlukan anak harus segera dirawat di rumah sakit
(Gahagan, 2006).
Tahapan yang dapat ditempuh dalam penatalaksanaan anak dengan gagal
tumbuh adalah sebagai berikut :
1. Penatalaksanaan pemberian makan
Sebagian besar kasus gagal tumbuh dapat diatasi hanya dengan
intervensi gizi dan modifikasi pola makan. Dua hal prinsip yang dipegang
dalam tata laksana gagal tumbuh tanpa memandang penyebabnya adalah
diet kalori tinggi untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan
pemantauan yang ketat. Anak dengan gagal tumbuh memerlukan asupan
kalori lebih besar 150% dari asupan kalori harian yang direkomendasikan
berdasarkan berat badan yang diharapkan, bukan berat badan saat ini
(Krugman, 2003). Corrales dan Hangen dalam buku Manual of Pediatric
Nutrition, menganjurkan estimasi kebutuan kalori untuk catch up
pertumbuhan pada gagal tumbuh dengan menggunakan rumus (Corrales and
Hangen, 2000) :
RDA x BB ideal menurut tinggi (kg)

sampai

Berat badan aktual (kg)

RDA x BB ideal menurut umur (kg)


Berat Badan aktual (kg)

atau
120 kcal/kg x BB ideal menurut tinggi
Berat badan aktual
Pada bayi hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan asupan kalori
dengan menambahkan konsentrasi susu formula. Penambahan kalori pada
anak prasekolah dapat dilakukan dengan cara penambahan bahan seperti
keju, roti atau kacang dalam menu sehari-hari. Pemberian multi vitamin
akan memberikan anak vitamin dalam jumlah minimal yang di butuhkan

oleh tubuh. Anak yang tidak respon dengan pendekatan ini memerlukan
penelusuran lebih lanjut (Gahagan, 2003).
2. Pendekatan multi disiplin
Konsultasi dengan ahli gizi diperlukan untuk mengatasi timbulnya
malnutrisi, memperkirakan asupan kalori yang diperlukan dan menentukan
ben
tuk diet yang tepat dan berkalori tinggi. Masalah emosional ibu, keluarga
dan anak dengan psikiater akan membantu mengatasi masalah tersebut.
Dukungan pekerja sosial, ahli spiritual dan masyarakat sekitar juga
diperlukan (Wright et al., 2006).
3. Perawatan di rumah sakit
Perawatan di rumah sakit pada anak gagal tumbuh jarang diperlukan,
kebanyakan rawat jalan. Perawatan rumah sakit diperlukan bila tata laksana
rawat jalan gagal dalam mengatasi keadaan ini.2 Anak dengan gagal tumbuh
harus dirawat di rumah sakit bila keadaan ini terus terjadi walaupun
optimalisasi dukungan masyarakat seperti perawatan kesehatan masyarakat,
ahli gizi masyarakat, pekerja sosial, tokoh agama, pemuka agama, dan
sebagainya telah diberikan. Pasien juga dianjurkan untuk dirawat bila
kondisi anak atau orang yang mengasuh atau keluarga tidak dapat
memberikan perawatan yang tepat atau mungkin malah membahayakan
keselamatan anak (Rabinowitz, 2010).
Tujuan perawatan anak gagal tumbuh dirumah sakit adalah:
a. Mengamati kebiasan makan anak dan hubungan orang tua dan anak
b. Melihat apakah berat badan anak dapat kembali normal bila
mendapatkan asupan yang cukup atau dijauhkan dari keluarga.
c. Memutuskan pemeriksaan penunjang yang diperlukan sesuai indikasi
I. KOMPLIKASI
Gangguan pertumbuhan dalam 6 bulan pertama berhubungan dengan
gangguan mental dan psikomotor pada tahun kedua. Dampak terhambatnya
pertumbuhan terhadap perkembangan intelektual dan tingkah laku tergantung
dari penyebabnya. Malnutrisi berat yang lama dan timbul dini berhubungan
dengan gangguan perkembangan sistem saraf (Batubara et al., 2010).
J. PROGNOSIS

Untuk mencapai pertumbuhan dewasa normal, maka prognosis gagal


tumbuh tergantung dari penyebab gagal tumbuh itu sendiri. Intervensi dini
sangat penting untuk mengurangi resiko gangguan pertumbuhan yang
berkelanjutan. Makin cepat timbulnya gangguan tumbuh dan makin berat
penyakit yang mendasarinya maka prognosisnya makin kurang baik. Gangguan
pertumbuhan selama bayi dan anak merupakan faktor resiko potensial untuk
pertumbuhan selanjutnya. Prognosisnya baik jika kebutuhan medis, nutrisi dan
psikososial anak serta keluarga tercukupi (Batubara et al., 2010).

BAB III
KESIMPULAN
Pertumbuhan adalah suatu proses bertambah besarnya ukuran fisik dan struktur
tubuh. Pertumbuhan merupakan suatu indikator sensitif kesehatan, status nutrisi dan latar
belakang genetik anak.Adapun indikatornya adalah berat badan, panjang badan, tinggi
badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas.Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga
dapat diukur dengan satuan berat (gram, kilogram) dan satuan panjang (cm, m).umur
tulang dan keseimbangan metabolik.
Gagal tumbuh (failure to Thrive) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan
kenaikan berat badan yang tidak sesuai dengan seharusnya, tidak naik (flat growth) atau
bahkan

turun

dibandingkan

pengukuran

sebelumnya

(diketahui

dari

grafik

pertumbuhan).Gagal tumbuh merupakan tanda yang paling sering terjadi pada anak yang
mengalami gizi kurang. Berat badan dan tinggi badan gagal untuk bertambah dengan
kecepatan yang diharapkan.

Deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita sebaiknya dilakukan dengan


anamnesis, pemeriksaan fisik dan skrining perkembangan yang sistematis agar lebih
obyektif. Tatalaksana utama pada gagal tumbuh adalah mengetahui penyebab yang
mendasarinya dan memperbaiki keadaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Alphonsus, NO. 2011. Evaluation and Management of the Child With Failure to
Thrive. Hospital Chronicles. 6(1): 923
Batubara, J RL., Tridjaja, B AAP, Pulungan, A B (ed). 2010. Buku Ajar
Endokrinologi Anak. Ed I . Jakarta : Penerbit Badan IDAI.
Bauchner H. 2007. Failure to Thrive. In: Behrman, Kliegman, Jenson, eds. Nelson
Textbook of Pediatrics. 18 ed. Philadelphia: WB Saunders. 184-7
Chundrayetti, E. 2005. Early Detection of Growth and Developmental Disorder:
Why, When, How. Bagian ilmu kesehatan anak fakultas kedokteran
Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Corrales, K M. Hangen, J P. 2000. Growth Failure. In: Hendricks, Duggan, Walker,
eds. Manual of Pediatric Nutrition Book. 3 ed. Philladelphia: B.C. Decker.
414-25.
Daniel, M., Kleis, L., Cemeroglu, A P. 2008. Etiology of failure to thrive in infants
and toddlers referred to a pediatric endocrinology outpatient clinic. Clinical
Pediatrics: 47(8): 762-5

Gahagan, S. 2006. Failure to Thrive : A Consequence of Undernutrition. Pediatrics


in Review. 27:e1-e11.
Hakimi,. Pulungan, Aman B. 2005. Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan Pada
Anak. Dalam : Simposium Peran Endokrinologi Anak Dalam Proses Tumbuh
Kembang Anak. Padang: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas. 2005:1-7.
Irwanto, Suryawan, A., Narendra, M B., 2006. Penyimpangan Tumbuh Kembang
Anak. Surabaya: Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo Surabaya.
Krugman, S D., Dubowitz, H. 2003. Failure to Thrive. American Family Physician.
68:879-83.
Kuttesch, J F Jnr., Ater,

JL. 2010. Brain tumours in childhood. Nelson Textbook of

Pediatrics, edisi ke-19. Philadelphia: WB Saunders Company. 2128-2137.

Olsen, E M., Petersen, J., Skovgaard, A M., Weilee, B., Jorgensen, T., Wright, C M.
2007. Failure to Thrive: the prevalence and concurrence of anthropometric
criteria in a general infant population. Arch Dis Child. 92:109-14
Rabinowitz, S S., Katturupalli, M. 2010 Failure to Thrive. eMedicine Pediatrics. 116.
Rosso, J M D., Arlianti, R. 2010. Investasi Untuk Kesehatan dan Gizi Sekolah di
Indonesia. Jakarta : Basic Education Capacity-Trust Fund. 16-8.
Schwartz, I D. 2000. Failure To Thrive: An Old Nemesis in the New Millennium.
Pediatrics in Review. 21:257
Spencer, NJ. 2007. Failure to Think about Failure to Thrive. Arch Dis Child. 92:956.
Wright, C M., Parkinson, K N., Drewett, R F. 2006. How Does Maternal and Child
Feeding Behavior Relate to Weight Gain and Failure to Thrive? Data From a
Prospective Birth Cohort. Pediatrics. 117 : 1262-9.