Anda di halaman 1dari 3

Masalah kesehatan jiwa demikian pentingnya, terlihat dari dampak yang

ditimbulkannya ternyata jauh lebih besar dari masalah atau penyakit fisik.

Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan, menyatakan bahwa


kerugian ekonomi Indonesia yang ditimbulkan akibat masalah kesehatan
jiwa hingga 20 triliun. Kerugian berasal dari hilangnya produktivitas
seseorang, serta beban ekonomi dan biaya kesehatan yang harus
ditanggung keluarga dan negara (Kompas, 2012). Studi Bank Dunia (World
Bank) pada tahun 1995 di beberapa negara menunjukkan bahwa hari-hari
produktif 'yang hilang atau Dissabiliiy Adjusted Life Years (DALY's) sebesar 8,1%
dari Global Burden of Disease, disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa. Angka
ini lebih tinggi dari pada dampak yang disebabkan penyakit Tuberculosis(7,2%),
Kanker(5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) maupun Malaria (2,6%).

Dampak

ekonomi yang terjadi juga tidak kecil, dan bisa berakibat terhadap sistem
pelayanan kesehatan itu sendiri maupun juga terhadap komunitas
(Agiananda , 2010). Tingginya masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah
kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
besar dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya yang ada dimasyarakat.
Berbagai upaya kesehatan jiwa selama ini telah banyak dilakukan. Namun
fakta menunjukkan, waktu demi waktu kejadian gangguan jiwa terus bertambah.

Berdasarkan data dari dinas kesehatan kabupaten sleman tahun 2014,


dinyatakan bahwa gangguan jiwa di kabupaten sleman tahun 2012
sejumlah 7.505 orang dan tahun 2013 sebanyak 11.997 orang. Sementara
itu, menurut laporan yang dituangkan dalam Profil Kesehatan Daerah
Istimewa Yogyakarta tahun 2008, angka cakupan layanan kesehatan jiwa
puskesmas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2007 sebesar
1,57% dari jumlah kunjungan puskesmas. Di Kabupaten Sleman sendiri,
diperoleh data angka cakupan layanan kesehatan jiwa puskesmas tahun
2011 rata-rata 1,9% dan tahun 2012 sebanyak 1,86%. (Profil Kesehatan
Kabupaten Sleman, 2013).

Dan angka tersebut masih berada dibawah

angka pencapaian umum sebesar 3%.


Mencermati realitas gangguan jiwa di atas, tetap dan terus
dibutuhkan upaya kesehatan jiwa yang menyentuh dan partisipasi
masyarakat secara umum. Mereka yang sehat jiwanya tetap sehat,

mereka yang ada masalah kesehatan jiwa (gangguan jiwa ringan) bisa
dicegah sedini mungkin agar tidak berlanjut menjadi gangguan jiwa berat.
Dan hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Kesehatan Jiwa tahun
2014, yang menyatakan pentingnya upaya promotif dan preventif. Untuk
itulah upaya penilaian kondisi kesehatan jiwa masyarakat yang dilakukan
secara

langsung

dan

melibatkan

peran

aktif

masyarakat

(kader)

diharapkan menjadi salah satu solusi permasalahan di atas.


Upaya penilaian kondisi kesehatan jiwa ini didasarkan pada teori
Health Belief Model (HBM), yang menyatakan bahwa partisipasi
masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor esensial yaitu kesiapan
individu untuk merubah perilaku dalam rangka menghindari suatu
penyakit atau memperkecil resiko kesehatan dan adanya dorongan dalam
lingkungan individu yang membuatnya merubah perilaku.
Kesiapan individu dipengaruhi

oleh faktor-faktor seperti persepsi tentang

kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk memperkecil kerentanan


terhadap penyakit, potensi ancaman, dan adanya kepercayaan bahwa perubahan perilaku
akan memberikan keuntungan. Faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku adalah
perilaku itu sendiri yang dipengaruhi oleh karakteristik individu, penilaian individu
terhadap perubahan yang di tawarkan, interaksi dengan petugas kesehatan yang
merekomen-dasikan perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba merubah perilaku yang
serupa.

menyebutkan bahwa upaya kesehatan jiwa terdiri dari upaya promotif,


preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang harus dilaksanakan sepanjang
siklus kehidupan manusia. Pelaksanaannya dilakukan di lingkungan
keluarga, lembaga, dan masyarakat. Penilaian kesehatan jiwa merupakan
dasar bagi upaya preventif sekaligus promotif. Mereka yang sehat jiwanya
tetap sehat, mereka yang ada masalah kesehatan jiwa (gangguan jiwa
ringan) bisa dicegah sedini mungkin agar tidak berlanjut menjadi
gangguan jiwa berat.
Arti pentingnya penilaian kesehatan jiwa yaitu bahwa penilaian kesehatan jiwa
tidak sekedar menilai yaitu mencari tahu keadaan individu tentang yang kurang
atau masalah yang berkaitan dengan pikiran atau perasaannya, tetapi lebih luas
lagi yaitu membantu individu mengetahui kondisi kesehatan jiwanya dan
terdorong untuk mencapai dan memelihara kondisi kesehatan jiwa. Untuk itu

kegiatan edukasi kesehatan jiwa merupakan bagian integral dengan penilaian


kesehatan jiwa itu sendiri.
Faktor penilaian obyektif memfokuskan pada fakta yang bersifat nyata dan
hasilnya dapat diukur,misalnya kuantitas, kualitas, kehadiran dan sebagainya.
Sedangkan faktorfaktor subyektif cenderung berupa opini seperti menyerupai
sikap, kepribadian, penyesuaian diri dan sebagainya. Faktor-faktor subyektif
seperti pendapat dinilai dengan meyakinkan bila didukung oleh kejadian-kejadian
yang terdokumentasi. Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut diatas maka
dalam penilaian kinerja harus benar-benar obyektif yaitu dengan mengukur
kinerja karyawan yang sesungguhnya atau mengevaluasi perilaku yang
mencerminkan keberhasilan pelaksanaan pekerjaan. Dengan Penilaian kinerja
yang obyektif akan memberikan feed back yang tepat, dan melalui feedback
yang tepat diharapkan terjadi perubahan perilaku kearah peningkatan
produktivitas kerja yang diharapkan (Hariandja :2002:198).