Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
Mayoritas dari lesi yang terjadi pada mammae adalah benigna. Hampir 40% dari pasien yang
mengunjungi poliklinik dengan keluhan pada mammae mempunyai lesi jinak. Perhatian yang lebih sering
diberikan pada lesi maligna karena kanker payudara merupakan lesi maligna walaupun sebenarnya insidens
lesi benigna payudara juga lebih tinggi diabanding lesi maligna.
Mayoritas dari lesi benigna tidak terkait dengan pertambahan risiko untuk menjadi kanker, maka
prosedur bedah yang tidak diperlukan harus dihindari. Pada masa lalu, kebanyakan dari lesi benigna ini
dieksisi dan hasilnya terdapat peningkatan dari jumlah pembedahan yang tidak diperlukan. Oleh karena itu,
penting bagi ahli patologi, ahli radiologi dan ahli onkologi untuk mendeteksi lesi benigna dan
membedakannya dengan kanker payudara in situ dan invasif serta mencari faktor risiko terjadinya kanker
supaya penatalaksanaan yang sesuai dapat diberikan kepada pasien (Sjamsuhidajat, 2012).
Penggunaan mammografi, Ultrasound , Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan juga biopsi
payudara dapat membantu dalam menegakkan diagnosis lesi benigna pada mayoritas dari pasien. Selain
tingginya insiden dari lesi mamae yang bersifat benigna, keganasan pada kelenjar mamae juga menjadi
penyebab utama kematian pada wanita. Kanker adalah salah satu penyakit yang banyak menimbulkan
kesengsaraan dan kematian pada manusia. Di negara-negara barat, kanker merupakan penyebab kematian
nomor 2 setelah penyakit-penyakit kardiovaskular. Diperkirakan, kematian akibat kanker di dunia mencapai
4,3 juta per tahun dan 2,3 juta diantaranya ditemukan di negara berkembang. Jumlah penderita baru per tahun
5,9 juta di seluruh dunia dan 3 juta di antaranya ditemukan di negara sedang berkembang (Profil Kesehatan
Indonesia, 1997). Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000
penduduk per tahunnya. Prevalensi penderita kanker meningkat dari tahun ke tahun akibat peningkatan angka
harapan hidup, sosial ekonomi, serta perubahan pola penyakit (SKRT, 1995).
Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992, kanker menduduki urutan ke-9 dari
10 penyakit terbesar penyebab utama kematian di Indonesia. Angka proporsi penyakit kanker di Indonesia
cenderung meningkat dari 3,4 (SKRT 1980) menjadi 4,3 (SKRT 1986), 4,4 (SKRT 1992), dan 5,0 (SKRT
1995). Data Profil Kesehatan RI 1995 menunjukkan bahwa proporsi kanker yang dirawat inap di rumah sakit
di Indonesia mengalami peningkatan dari 4,0% menjadi 4,1%. Selain itu, peningkatan proporsi penderita yang
dirawat inap juga terjadi peningkatan di rumah sakit DKI Jakarta pada 1993 dan 1994, dari 4,5% menjadi

4,6%. Kanker payudara sering ditemukan di seluruh dunia dengan insidens relatif tinggi, yaitu 20% dari
seluruh keganasan (SKRT, 1995). Dari 600.000 kasus kanker payudara baru yang didiagnosis setiap
tahunnya. Sebanyak 350.000 di antaranya ditemukan di negara maju, sedangkan 250.000 di negara yang
sedang berkembang. Di Amerika Serikat, keganasan ini paling sering terjadi pada wanita dewasa.
Diperkirakan di AS 175.000 wanita didiagnosis menderita kanker payudara yang mewakili 32% dari semua
kanker yang menyerang wanita. Bahkan, disebutkan dari 150.000 penderita kanker payudara yang berobat
ke rumah sakit, 44.000 orang di antaranya meninggal setiap tahunnya.
American Cancer Society memperkirakan kanker payudara di Amerika akan mencapai 2 juta
dan 460.000 di antaranya meninggal antara 1990-2000 (Moningkey, 2000). Kanker payudara merupakan
kanker terbanyak kedua sesudah kanker leher rahim di Indonesia. Sejak 1988 sampai 1992, keganasan
tersering di Indonesia tidak banyak berubah. Kanker leher rahim dan kanker payudara tetap menduduki
tempat teratas. Selain jumlah kasus yang banyak, lebih dari 70% penderita kanker payudara ditemukan pada
stadium lanjut.
Data dari Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa
Case Fatality Rate (CFR) akibat kanker payudara menurut golongan penyebab sakit menunjukkan
peningkatan dari tahun 1992-1993, yaitu dari 3,9 menjadi 7,8 Gejala permulaan kanker payudara sering tidak
disadari atau dirasakan dengan jelas oleh penderita sehingga banyak penderita yang berobat dalam keadaan
lanjut. Hal inilah yang menyebabkan tingginya angka kematian kanker tersebut. Padahal, pada stadium dini
kematian akibat kanker masih dapat dicegah. Bila penyakit kanker payudara ditemukan dalam stadium dini,
angka harapan hidupnya (life expectancy) masih tinggi, berkisar antara 85 s.d. 95%. Namun, dikatakannya
pula bahwa 70--90% penderita datang kerumah sakit setelah penyakit parah, yaitu setelah masuk
dalam stadium lanjut. Pengobatan kanker pada stadium lanjut sangat sukar dan hasilnya sangat tidak
memuaskan. Pengobatan kuratif untuk kanker umumnya operasi dan atau radiasi. Pengobatan pada stadium
dini untuk kanker payudara menghasilkan kesembuhan 75%. Pengobatan pada penderita kanker memerlukan
teknologi canggih , ketrampilan, dan pengalaman yang luas. Perlu peningkatan upaya pelayanan kesehatan,
khususnya di RS karena jumlah pasien yang sakit terus-menerus meningkat, terlebih menyangkut golongan
umur produktif. Informasi tentang faktor-faktor ketahanan hidup memberikan manfaat yang besar. Bukan
hanya untuk peningkatan penanganan penderita kanker payudara,tapi juga untuk memberikan informasi yang
cukup kepada masyarakat tentang kanker payudara dan perkembangan serta prognosis penyakit tersebut di
masa mendatang (Moningkey, 2000).

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Embriologi
Payudara (mammae) sebagai kelenjar subkutan mulai tumbuh sejak minggu keenam masa
embrio, yaitu berupa penebalan ektodermal sepanjang garis yang disebut sebagai garis susu, terbentang
dari aksila sampai ke regio inguinal. Payudara merupakan suatu kelompok kelenjar-kelanjar besar yang
berasal dari epidermis, yang terbungkus dalam fascia yang berasal daridermis, dan fascia superficial dari
permukaan ventral dada. Puting susu sendiri merupakan suatu proliferasi lokal dari stratum spinosum
epidermis. Selama bulan kedua kehamilan, dua berkas lapisan tebal ectoderm muncul pada dinding
depan tubuh terbentang dari aksila ke lipat paha. Dua berkas ini adalah milk line dan melambangkan
jaringan kelenjar mamma yang potensial (Gambar 2.1). Pada manusia, hanya bagian pectoral dari
berkasi ini yang akan menetap dan akhirnya berkembang menjadi kelenjar mamma dewasa. Kadangkadang, jaringan payudara yang tersisa atau bahkan fungsional dapat muncul dari bagian lain dari milk
line (Henry dkk, 2007).

Gambar 2.1.
A.Milk line dari embrio mamalia secara umum, kelanjar mamma terbentuk sepanjang
garis ini.
B. Tempat umum terbentuknya kelenjar mamma atau supernumerary nipples pada manusia

Gambar 2.2. Pembentukkan payudara. A-D : stadium pembentukkan kelenjar dan sistem
duktusberasal dari epidermis. Septa jaringan ikat berasal dari mesenkim dermis. E :
eversi puttingmenjelang kelahiran.

2.2. Anatomi
Kelenjar mammae wanita dewasa belum pernah melahirkan berupa benjolan
berbentuk kerucut, sedangkan wanita yang telah menyusui bentuknya cenderung
menurun dan mendatar; kelenjar mammae wanita lanjut usia mengalami atrofi bertahap.
Kelenjar mammae wanita dewasa berlokasi dalam fascia superficial dari dinding depan dada. Dasar dari
payudara terbentang dari iga kedua di sebelah atas sampai iga keenam atau ketujuh disebelah bawah, dan
dari sternum batas medialnya sampai ke garis midaksilrasis sebagai batas lateralnya.
Kelenjar mammae wanita sebagian besar terletak di anterior M.pectoralis major dan sebagian kecil dari
bagian latero-inferiornya terletak di depan M.serratus anterior. Sebagian kecil terletak di atas M.obliquus
externus. Pada 95% wanita terdapat perpanjangan dari kuadran latero-superior yang berekstensi hingga
fosa aksila (Desen, 2008).

Gambar 2.3. Potongan sagital mammae dan dinding dada sebelah depan

Gambar 2.4. Topografi aksila (Anterior view)

Setiap payudara terdiri dari 15 sampai 20 lobus yang terletak adalam fascia superficial,. Lobuslobus ini beserta duktusnya merupakan satu sistem tubuli laktiferi. Pada prosedur biopsy payudara
sebagian dari 1 atau lebih lobus diangkat. Antara fascia superficial sebelah dalam terdapat ruang
retromammary (submammary) yang mana kaya akan limfatik.
Lobus-lobus parenkim beserta duktusnya tersusun berjalan sentral menuju papilla. Oleh karena itu,
sekresi atau pergantian sel-sel cenderung untuk terkumpul pada bagian duktus yang berada dalam
papilla. Pada area bebas lemak di bawah areola, bagian yang dilatasi dari duktus laktiferus yang disebut
sinus laktiferus (lactiferous sinuses) merupakan satu-satunya tempat untuk menyimpan susu.
Ligamentum suspensori Cooper membentuk jalinan yang kuat, pita jaringan ikat berbentuk
ireguler menghubungkan dermis dengan lapisan dalam dari fascia superfisial,melewati lobus-lobus
parenkim dan menempel ke elemen parenkim dan duktus. Kadang-kadang,fascia superfisial terfiksasi ke
kulit, sehingga tidak mungkin dilakukan total mastectomy subkutan yang ideal. Dengan adanya
invasi keganasan, sebagian dari ligamentum Cooper akan mengalami kontraksi, menghasilkan retraksi
dan fiksasi atau lesung dari kulit yang khas. Ini berbeda dengan penampilan kulit yang kasar dan ireguler
yang disebut peau d'orange, dimana pada peau d'orange perlekatan subdermal dari folikel-folikel
rambut dan kulit yang bengkak menghasilkan gambaran cekungan dari kulit.
6

Gambar 2.5. Dumpling of the breast, akibat dari terlibatnya ligamentum Cooper
padapenyakit yang invasive. Dapat diperjelas dengan penekanan oleh tangan
pemeriksa.

2.2.1 Suplai darah


Vaskularisasi mammae terdiri dari arteri dan vena yaitu:
1. Arteria.

a. A.. mammaria interna (A. thoracica interna)

b. Cabang lateral dari A. intercostalis posterior

c. Cabang-cabang dari A. Axillaris (A. Torakalis Superior, A.Torakalis Akrominal, A. Torakalis


Lateralis)

d. A. Subscapularis
7

2. Vena.

a. Cabang-cabang perforantes V. thoracica interna

b. Cabang-cabang V. axillaris yang terdiri dari V. thoraco-acromialis, V. thoracica lateralis dan


V. thoraco dorsalis

c. Vena-vena kecil yang bermuara pada V. Intercostalis

Gambar 2.6. Ilustrasi Pasokan Darah Glandula Mammae

Vena aksilaris, vena thoracica interna, dan vena intercostals 3-5 mengalirkan darah dari kelenjar
mamma. Vena-vena ini mengikuti arterinya.Vena aksilaris terbentuk dari gabungan vena brachialis dan vena
basilica, terletak di medial atau superficial terhadap arteri aksilaris, menerima juga 1 atau 2 cabang pectoral
dari mammae. Setelah vena ini melewati tepi lateral dari iga pertama, vena ini menjadi vena subclavia.
Dibelakang, vena intercostalis berhubungan dengan sistem vena vertebra dimana masuk vena azygos,
hemiazygos, dan accessory hemiazygos, kemudian mengalirkan ke dalam vena cava superior. Ke depan,
berhubungan dengan brachiocephalica. Melaui jalur kedua jalur pertama, metastasis ca mammae dapat
mencapai paru-paru. Melalui jalur ketiga, metastasis dapat ke tulang dan sistem saraf pusat.

Gambar 2.7. Diagram potongan frontal mammae kanan menunjukkan jalur drainase
vena.A. Drainase medial melalui internal thoracic vein ke jantung kanan. the right heart.
B.Drainage posterior kevertebral veins. C. Drainase lateral ke intercostal, superior
epigastricveins, dan hati. D. Darinase superior lateral superior melalui vena aksilaris ke
jantungkanan.

2.2.2 Aliran limfatik


Kelenjar getah bening dari regio mammae terdapat dalam kelompok inkonstan yang
bervariasi.Seringnya pembagian menurut Haagensen.

10

Gambar 2.8. Kelenjar getah bening aksila dan payudara menurut klasifikasi
dari Haagensen (kiri).Aliran limfatik mammae (kanan).

Klasifikasi utama Haagensen adalah axillary dan internal thoracic (mammary).


1. Drainase Aksilaris
Group 1. External mammary nodes
Group ini juga dikenal sebagai anterior pectoral nodes. Ini terletak sepanjang batas lateral dari
M. pectoralis minor, di bawah M. pectoralis major, sepanjang sisi medial dari aksila mengikutialiran
lateral thoracic artery pada dinding dada, mulai dari iga 2-6. Di bawah areola terdapat perluasan
jaringan pembuluh-pembuluh limfatik, dinamakan subareolar plexus of Sappey.

Gambar 2.9. Aliran limfatik mammae. Aliran limfe langsung dari kulit ditunjukkan
olehtanda panah pada mammae kanan dan sisi medial mammae kiri. 1. Areolar
11

plexus of vessels, draining areola, nipple and some parenchyma. 2. Anterior pectoral
nodes. 3.Central axillary nodes. 4. Interpectoral nodes (a path which can bypass
central axillarynodes). 5. Apical, infraclavicular nodes. 6. Retrosternal nodes.

Group 2. Scapular nodes


Terletak di atas pembuluh-pembuluh darah subsakapular. Limfatik dari KGB ini salng berhubungan
dengan pembuluh limfe intercistal.

Group 3. Central nodes


Merupakan kelompok kelenjar getah bening yang terbesar; merupakan KGB yang paling mudahdipalpasi
di aksila karena ukurannya yang besar. Ketika KGB ini membesar, dapat menekan intercostobrachial
nerve, cabang kutaneus lateral dari second atau third thoracic nerve, dapat timbul nyeri.

Group 4. Interpectoral nodes (Rotter's nodes)


Terletak antara otot pektoralis mayor dan minor, sering terdapat tunggal. Merupakan kelompok KGB
terkecil dari KGB aksila dan tidak dapat ditemukan walaupun M. pectoralis major diangkat.

Group 5. Axillary vein nodes


Merupakan kelompok KGB terbesar kedua di aksila. Terletak di permukaan ventral dan kaudal dari bagian
lateral vena aksilaris.

Group 6. Subclavicular nodes


Terletak pada permukaan ventral dan kaudal dari bagian medial vena aksilaris.
12

2. Drainase Internal Thoracic (Mammary)


Pembuluh-pembuluh limfatik timbul dari tepi medial mammae pada fascia pectoralis. KGB ini
juga menerima trunkus limfatikus dari kulit mammae kontralateral, hati, diafragma, rectus sheath,
bagian atas rectus abdominis. KGB sekitar 4-5 setiap sisinya, kecil, dan biasanya dalam lemak dan
jaringan ikat dari ruang interkosta. Saluran ini bermuara ke ductus thoracicus atau ductus limfatikus dextra.
Rute ke vena aksilaris lebih pendek daripada rute aksila.
Dalam staging, bila ditemukan metastasis ke KGB supraclavicular, cervical, atau contralateral
internal mammary dianggap telah mengadakan metastasis jauh (M1). Yang termasuk KGB regional :
1. KGB aksila (ipsilateral) : interpectoral (Rotter's) nodes dan KGB sepanjang vena aksilaris dan
bagian-bagiannya yang dapat dibagi ke dalam beberapa tingkat :
a. Level I (low axilla): KGB lateral dari tepi lateral M. pectoralis minor
b. Level II (midaxilla): KGB antara tepi medial dan lateral M.pectoralis minor dan KGB interpectoral
(Rotter's)
c. Level III (apical axillary): KGB medial dari tepi medial M.pectoralis
minor termasuk subclavicular,

infraclavicular, atau apikal

Catatan : KGB intramammary disandikan sebagai KGB aksila

13

Gambar 2.10. Kelompok kelenjar getah bening aksila. Level I meliputi beberapa
kelenjargetah bening yang terletak lateral dari M. Pectoralis minor, Level II meliputi
beberapakelenjar getah bening yang terletak di bawah M. Pectoralis minor, Level III
meliputibeberapa kelenjar getah bening yang terletak medial dari M. Pectoralis minor.

2. Internal mammary (ipsilateral): KGB di ruang intercosta sepanjang tepi sternum dalam
fasciaendothoracica.
2.2.3

Persarafan
Kelenjar Mammae dipersarafi oleh nervi interkostal ke 2-6 dari pleksus
servikalis yaitu:
1. Nervus torakalis lateralis yang berada di tepi medial M. pektoralis minor.
2. Nervus torakalis medialis berada kira-kira 1 cm lateral dari nervus torakalis
lateralis.
3. Nervus torakalis longus yang menempel rapat pada M. seratus anterior.
4. Nervus torakalis dorsalis yang berada di depan M.subskapularis dan M.teres
mayor.

2.2.4

Fisiologi
Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi hormon.
Perubahan pertama dimulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, lalu masa
fertilitas sampai klimakterium, hingga menopause. Sejak pubertas, pengaruh estrogen
dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofisis menyebabkan
berkembangnya duktus dan timbulnya asinus.
Perubahan selanjutnya terjadi sesuai dengan daur haid. Sekitar hari ke-8,
payudara membesar, dan pada beberapa hari sebelum haid berikutnya terjadi pembesaran
maksimal. Kadang, timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari
menjelang haid, payudara menegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama
palpasi, sulit dilakukan. Pada waktu itu, mammografi menjadi rancu karena kontras
kelenjar terlalu besar. Begitu haid mulai, semua hal diatas berkurang.

14

Perubahan terakhir terjadi pada masa hamil dan menyusui. Pada kehamilan,
payudara membesar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berploriferasi dan
tumbuh duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu
diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke
puting susu yang dipicu oleh oksitosin (Sjamsuhidajat, 2012).

2.3 Fibrokistik
Tumor jinak mammae ialah lesi jinak yang berasal dari parenkim, stroma, areola
dan papilla mamma. Salah satu jenis tumor jinak yang biasanya mengenai wanita usia
produktif adalah penyakit fibrokistik(Fibrocystic Disease). Penyakit fibrokistik atau dikenal
juga sebagai mammary displasia adalah benjolan payudara yang dialami oleh sebagian
besar wanita. Benjolan ini harus dibedakan dengan keganasan. Penyakit fibrokistik pada
umumnya terjadi pada wanita berusia 25-50 tahun (> 50%) .
Kelainan fibrokistik pada payudara adalah kondisi yang ditandai penambahan
jaringan fibrous (Jaringan parut) dan kista yang terbentuk dari cairan yang berasal dari
kelenjar payudara (glandular). Manifestasi dari kelainan ini terdapat benjolan fibrokistik
biasanya multiple, padat-keras, adanya kista (berkapsul), fibrosis, benjolan konsistensi
lunak, tidak melekat pada kulit, terdapat penebalan dan rasa nyeri. Kista dapat
membesar dan terasa sangat nyeri selama periode menstruasi karena hubungannya
dengan perubahan hormonal tiap bulannya. Wanita dengan kelainan fibrokistik
mengalami nyeri payudara siklik berkaitan dengan adanya perubahan hormon estrogen
dan progesteron. Selain karena adanya siklus hormonal yang tidak stabil, fibrokistik juga
dapat disebabkan karena kebiasaan mengkonsumsi makanan berlemak dan berminyak
serta kafein yang berlebih. Biasanya payudara teraba lebih keras dan benjolan pada
payudara membesar sesaat sebelum menstruasi. Gejala tersebut menghilang seminggu
setelah menstruasi selesai. Benjolan biasanya menghilang setelah wanita memasuki fase
menopause.
Pembengkakan payudara biasanya berkurang setelah menstruasi berhenti.
Kelainan fibrokistik dapat diketahui dari pemeriksaan fisik, mammogram atau biopsi.
Biopsi dilakukan terutama untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis kanker.
15

Perubahan fibrokistik biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di kuadara atas
maupun bawah.
Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus dilakukan secara seksama
untuk membedakannya dengan keganasan. Apabila melalui pemeriksaan didapatkan
benjolan difus (tidak memiliki batas jelas), terutama berada di bagian atas-luar payudara
tanpa ada benjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan mammogram dan
pemeriksaan ulangan setelah periode menstruasi berikutnya. Apabila keluar cairan dari
puting, baik bening, cair atau kehijauan, sebaiknya dilakukan tes hemocult untuk
pemeriksaan sel keganasan. Apabila cairan yang keluar dari puting bukanlah darah dan
berasal dari beberapa kelenjar, maka kemungkinan benjolan tersebut jinak
(Sjamsuhidyat, 2012).

2.3.1 Etiologi dan Faktor Risiko


Menurut Rosjidi (2010) Sampai saat ini, penyebab pasti tumor payudara belum
diketahui. Namun, ada beberapa faktor resiko yang telah teridentifikasi, yaitu :
a. Jenis kelamin
Wanita lebih beresiko menderita tumor payudara dibandingkan dengan pria.
Prevalensi tumor payudara pada pria hanya 1% dari seluruh tumor payudara.

b. Ras
Tumor payudara lebih sering terdiagnosis pada wanita kulit putih, dibandingkan
wanita Latin Amerika, Asia atau Afrika.Insidensi lebih tinggi pada wanita yang
tinggal di daerah industrialisasi.
c. Riwayat keluarga

16

Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor payudara beresiko tiga
kali lebih besar untuk menderita tumor payudara.
d. Faktor genetik
Mutasi gen BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 13 dapat
meningkatkan resiko tumor payudara sampai 85%. Selain itu, gen p53, BARD1,
BRCA3, dan noey2 juga diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
e. Faktor usia
Resiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.
f. Faktor hormonal
Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak diselingi
oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko terjadinya
tumor payudara.
g. Faktor Diet
Makanan yang berlemak tinggi dalam jangka waktu panjang dapat meningkatkan
risiko tumor payudara dua kali lipat karena akan meningkatkan kadar estrogen
serum, sehingga meningkatkan risiko tumor. Beberapa penelitian juga menunjukkan
bahwa wanita yang sering minum alkohol mempunyai risiko tumor payudara yang
lebih besar. Karena alkohol akan meningkatkan kadar estriol serum.
h. Usia saat kehamilan pertama
Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan
hamil pada usia kurang dari 20 tahun.
i. Terpapar radiasi
j. Pemakaian kontrasepsi oral

17

Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor payudara.Penggunaan


pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan
penggunaan pada usia lebih tua.

2.3.2 Patofisiologi
Mekanisme yang tepat dari kondisi Fibrokistik payudara ini belum sepenuhnya
dipahami, meskipun beberapa literatur menyebutkan bahwa kondisi ini erat kaitannya
dengan kadar hormon, seperti adanya tanda dan gejala yang meningkat saat wanita
memasuki siklus menstruasi dan mereda setelah wanita memasuki fase menopause.
Kelainan payudara fibrokistik adalah proses yang sebagian disebabkan oleh
variasi hormon selama siklus menstruasi bulanan wanita. Hormon yang sering dikaitkan
dengan kondisi ini adalah hormon estrogen, progesteron dan prolaktin. Hormonhormon tersebut secara langsung mempengaruhi jaringan payudara dengan
menyebabkan sel-sel untuk tumbuh dan berkembang biak. Banyak hormon lain seperti
TSH, insulin, GH dan GF seperti TGF-beta yang dapat memberikan efek langsung
maupaun tidak langsung pada pertumbuhan sel payudara. Akibat berbagai mekanisme
tersebut akhirnya akan membentuk suatu kista kecil dan / atau daerah jaringan padat
yang disebut fibrosis. Nyeri pada payudara umumnya meningkat ketika wanita
memasuki usia 30-an. Kista biasanya tidak akan mengalami pembesaran setelah wanita
memasuki usia 35 tahun. Kemudian juga terdapat beberapa bukti awal bahwa
kekurangan yodium berhubungan dengan perubahan payudara fibrokistik dengan cara
meningkatkan sensitivitas jaringan payudara untuk estrogen (Cann dkk, 2000).

2.3.3 Diagnosis
Diagnosis tumor payudara dapat ditegakkan dengan berdasarkan anamnesis
yang baik, pemeriksaan fisik dasar dan pemeriksaan penunjang. Sedangkan diagnosis
pasti adalah pemeriksaan histopatologi anatomi (Siregar, 2003).

18

1. Anamnesa meliputi: riwayat timbulnya tumor, adanya faktor resiko untuk


terjadinya tumor payudara dan adanya tanda-tanda penyebaran tumor.
2. Pemeriksaan fisik Payudara
SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri adalah mendeteksi dini apabila
terdapat benjolan pada payudara, terutama yang dicurigai ganas, sehingga dapat
menurunkan angka kematian. Meskipun angka kejadian kanker payudara rendah
pada wanita muda, namun sangat penting untuk diajarkan SADARI semasa muda
yaitu mulai umur 20 tahun agar terbiasa melakukannya di kala tua. Wanita
premenopause (belum memasuki masa menopause) sebaiknya melakukan SADARI
setiap bulan atau 1 minggu setelah siklus menstruasi selesai.
a. Inspeksi
Inspeksi bentuk, ukuran, dan simetris dari kedua payudara, apakah terdapat
edema, peau dorange, retraksi kulit atau puting susu dan eritema. Status
kelenjar getah bening aksila, infraklavikular, dan supraklavikular : jumlah,
ukuran, konsistensi, terfiksir satu sama lain atau jaringan sekitar.

.
Gambar 2.11 Pemeriksaan Mamae dengan Inspeksi

b. Palpasi
Dilakukan palpasi pada payudara apakah terdapat massa, termasuk palpasi
kelenjar limfe di aksila, supraklavikula dan parasternal. Setiap massa yang
teraba atau suatu limfadenopati harus dinilai lokasinya, ukurannya,
konsistensinya, bentuk, mobilitas atau fiksasinya.

19

Gambar 2.12 Pemeriksaan Mamae dengan Palpasi

3. Pemeriksaan Penunjang
Dua jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi dini benjolan pada payudara
adalah mammografi dan ultrasonografi (USG). Teknik baru adalah menggunakan
Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan nuklear skintigrafi. Sedangkan diagnosis
pasti dari jenis tumor jinak mammae dapat dilakukan melalui teknik biopsi
(Evans, 2002).

a. Mammografi
Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak
teraba, sehingga sangat baik untuk diagnosis dini dan screening. Ketepatan
83-95 % tergantung dari teknisi dan ahli radiologinya. Mammografi adalah metode
terbaik untuk mendeteksi benjolan yang tidak teraba namun terkadang justru tidak
dapat mendeteksi benjolan yang teraba atau kanker payudara yang dapat dideteksi
oleh USG. Mammografi digunakan untuk skrining rutin pada wanita di usia awal
40 tahun untuk mendeteksi dini kanker payudara. Gambaran mammografi penyakit
fibrokistik yaitu adanya suatu massa ireguler, berkelompok, kalsifikasi dan terdapat
adanya dilatasi duktus.

20

Gambar 2.13 Gambaran Mammografi pada penyakit fibrokista

b. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat dibedakan lesi solid dan kistik. Pada
penyakit fibrokistik terdapat lesi yang kistik.

21

Gambar 2.14 Gambaran USG pada penyakit fibrokistik

c. Magnetic Resonance Imaging (MRI)


MRI sangat sensitif tetapi tidak spesifik dalam memdeteksi tumor.
Pemeriksaan MRI biasanya hanya digunakan untuk menunjang hasil
pemeriksaan mammografi. Selain itu pemeriksaan MRI juga digunakan untuk
membedakan tumor mammae dan jaringan parut serta untuk menentukan
penyebaran dan respon kemoterapi.
American Cancer Society merekomendasikan pemeriksaan screening
ssebagai deteksi kanker seperti berikut:

Wanita berumur 40 tahun harus melakukan screening mammogram


secara terus-menerus selama mereka dalam keadaan sehat, dianjurkan

setiap tahun.
Wanita berumur 20-30 tahun harus melakukan pemeriksaan klinis
payudara (termasuk mammogram) sebgaai bagian dari pemeriksaan

kesehatan yang periodik oleh dokter, dianjurkan setiap 3 bulan.


Setiap wanita dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri
mulai umur 20 tahun, untuk kemudian melakukan konsultasi ke dokter bila

menemukan kelainan.
Wanita yang berisiko tinggi (>20%) harus melakukan pemeriksaan MRI

dan mammogram setiap tahun.


Wanita yang risiko sedang (15-20%) harus melakukan mammogram setiap
tahun, dan konsultasi ke dokter apakah perlu disertai pemeriksaan MRI

atau tidak.
Wanita risiko rendah (<15%) tidak perlu pemeriksaan MRI periodik tiap
tahun.
Wanita termasuk risiko tinggi bila:
- Mempunyai gen mutasi dari BRCA1 atau BRCA2.
- Mempunyai kerabat dekat tingkat pertama (orang tua, kakak-adik)
yang memiliki gemutasi dari BRCA1 atau BRCA2 tetapi belum pernah
-

melakukan pemeriksaan genetik.


Mempunyai risiko kanker 20-25% menurut penilaian faktor risiko
terutama berdasarkan riwayat keluarga.
22

- Pernah mendapat radioterapi pada dinding dada saat umur 10-30 tahun.
Wanita dengan risiko sedang bila:
- Mempunyai risiko kanker 15-20% menurut penilaian faktor risiko
-

terutama berdasarkan riwayat keluarga.


Mempunyai riwayat kanker pada satu payudara, ductal carcinoma in

situ (DCIS),
Lobular carcinoma in situ (LCIS), atypical ductal hyperplasia (ADH),

atau atypical lobular hyperplasia (ALH).


Mempunyai kepadatan yang tidak merata atau berlebihan terlihat pada
pemeriksaan mammogram.

Gambar 2.15 Gambaran MRI FIbrokistik

d. Scintimammografi
Adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan
radioisotop Tc 99 sestamibi. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas tinggi
untuk menilai aktivitas sel kanker pada payudara. Selain itu dapat pula
mendeteksi lesi multiple dan keterlibatan KGB regional.

e. Diagnosa Histopatologi
Diagnosa pasti hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
histopatologis. Bahan pemeriksaan dapat diambil dengan beberapa cara, yaitu:
-

Biopsi aspirasi (fine needle biopsy)


Needle core biopsi dengan jarum silverman

23

Excisional biopsy dan pemeriksaan frozen section (potong beku) waktu


operasi

Gambar 2.16 Teknik Biopsi

Pemeriksaan histopatologis biopsi pada fibrokistik dapat ditemukan dengan


cairan berwarna kuning pudar sampai hitam. Pemeriksaan ini sering digunakan karena
mempunyai dampak yang lebih menguntungkan jika dilihat dari faktor manajemen
tumor dimana pemeriksaan biopsi ini memiliki ketepatan cukup tinggi 97,65 %
dengan tidak ada false positif dan hanya 0,6 % false negatif. Kemudian dari faktor
pelayanan rumah sakit dimana teknik dan peralatan biopsi aspirasi yang sederhana,
murah dan cepat memberi dampak yang menguntungkan bagi pengelolaan rumah sakit.
Kemudian hal terakhir adalah faktor terhadap pasien dimana teknik biopsi ini lebih
sederhana, murah, cepat dan tidak menimbulkan efek samping yang berarti dan memberi
dampak yang menguntungkan.

24

Gambar 2.17. Gambaran PA Fibrokistik

2.3.4 Terapi untuk Kelainan dan Penyakit Mammae Jinak Fibrokistik


Pada sebagian besar kasus perubahan payudara fibrokistik ini, tidak diperlukan
berbagai pengobatan yang spesifik. Terapi untuk penyakit fibrokistik ini lebih
ditujukkan pada terapi simptomatik dan pencegahan. Terapi simptomatik yang
diberikan adalah untuk mengurangi rasa nyeri di sekitar payudara yang dapat dilakukan
dengan mengonsumsi obat penghilang rasa nyeri seperti obat NSAID misalnya
ibuprofen dan juga dapat dilakukan melalui fine-needle aspiration pada cairan kista
yang ada pada payudara (Todd, 2014).
Selanjutnya untuk terpi pencegahannya dapat dilakukan dengan pemeriksaan
rutin payudara berkala satu bulan sekali untuk mengetahui adanya perubahan yang
terjadi pada payudara dan penggunaan bra yang longgar. Kemudian terapi pencegahan
dari faktor diet dapat dilakukan dengan mengurangi asupan kafein yang ditemukan
dalam kopi, teh, cokelat, dan minuman ringan, mengurangi makanan berminyak dan
berlemak serta menambah asupan dengan suplemen yodium. Menurut penelitian A U.S.
National Institutes of Health fact sheet, 2012 menambah asupan dengan suplemen
yodium harian secara tepat dapat mengurangi nyeri payudara dan perkembangan nodul
25

melalui mekanisme hambatan pada kadar hormon estrogen. Selain itu terapi hormonal
anti-estrogen seperti pemberian Tamoksifen juga dapat memberikan perbaikan keadaan
yang berarti (Graduaci dkk, 2012).

2.3.5

Prognosis
Dalam hampir semua kasus penyakit fibrokistik ini akan mereda setelah fase
menopause. Komplikasi yang mengarah pada timbulnya kanker mungkin jarang
terdeteksi pada sebagian besar wanita dengan perubahan fibrokistik ini
(Sloane, 2002).

26

DAFTAR PUSTAKA
Cann, Stephen A.; van Netten, Johannes P.; van Netten, Christiaan (2000). "Hypothesis:
iodine, selenium and the development of breast cancer". Cancer Causes and
Control (review). 11 (2): 121127

Desen, W., Buku Ajar Onkologi Klinis Edisi 2.2008. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Evans , A., Ellis I. 2002. Breast Benign Calcification. In: Evans A, Pinder S, Wilson R,Ellis I, ed. 2002.
Breast Calcification a Diagnostic Manual. London: Greenwich MedicalMedia.

Henry M..M, Thompson J.N. 2007. Breast Disease. Clinical Surgery. Second edition.Elsevier

27

Moningkey, Shirley Ivonne, 2000. Epidemiologi Kanker Payudara. Jakarta : Medika

Profil Kesehatan Indonesia. Pusat Data Kesehatan. Jakarta, 1997

Rosjidi, Imam, 2010. Epidemiologi kanker pada wanita. Jakarta: Sagung Seto.

Siregar, Budi H., 2003. Perbedaan Komplikasi Tindakan Biopsi Aspirasi Jarum Halus
(BAJH) Dan Biopsi Aspirasi Jarum Besar (BAJB) di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang.
Universitas Diponegoro, Semarang.

Sjamsuhidajat, R. dkk., 2012. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGC

Sloane E., 2002. Biology of Women, Cengage Learning

Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan. Jakarta.

Todd, N., Fibrocystic Breast Changes, 2014


http://www.webmd.com/women/guide/fibrocystic-breast-changes-symptoms-treatmentscauses?page=2

REFERAT STASE BEDAH


28

FIBROKISTIK MAMMAE

Disusun Oleh :
Singgih Priyambodo

12711013

Dokter Pembimbing : dr. Daroji Sp.B

29

FAKULTAS KEDOKTERAN JURUSAN PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2016

30