Anda di halaman 1dari 20

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

FOTOSINTESIS DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA


MENGUKUR KADAR KLOROFIL DAUN

Laila Alvi Nurin


14030244028
Biologi 2014

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2016

A. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan praktikum ini
adalah:
1. Berapa kadar klorofil berbagai daun dari suatu tanaman yang umurnya
berbeda-beda?
B. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mengukur kadar klorofil berbagai daun dari suatu tanaman yang
umurnya berbeda-beda.
C. HIPOTESIS
Ho

: Berbagai daun dari tanaman yang jenis dan umurnya berbeda-

beda tidak memiliki kadar klorofil yang berbeda.


Ha

: Berbagai daun dari tanaman yang jenis dan umurnya berbeda-

beda memiliki kadar klorofil yang berbeda.


D. KAJIAN PUSTAKA
Fotosintesis merupakan suatu proses perubahan karbon dioksida
dan air menjadi karbohidrat dengan bantuan sinar matahari. Untuk dapat
menangkap cahaya matahari diperlukan suatu pigmen fotosintesis dengan
panjang gelombang tertentu. Pigmen-pigmen fotosintesis akan tereksitasi
setelah menangkap energi foton matahari. Energi eksitasi akan digunakan
untuk reaksi terang yang menghidrolisis air dan melepaskan oksigen ke
udara. Selanjutnya pada reaksi gelap, energi hidrolisis digunakan untuk
membentuk karbohidrat. Pada proses fotosintesis, terjadi penangkapan
energi cahaya oleh zat hijau daun untuk pembentukan bahan organik.
Fotosintesis hanya terjadi pada tanaman yang memiliki sel-sel hijau
termasuk pada beberapa jenis bakteri (Darmawan dan Baharsyah, 1983).
Reaksi fotosintesis yang terjadi adalah sebagai berikut:
12 H2O + 6 CO2 + cahaya C6H12O6 (glukosa) + 6 O2 + 6 H2O
(Dwijoseputro, 1990).
Faktor-faktor

yang

memengaruhi

fotosintesis diantaranya adalah sebagai berikut:

proses

berlangsungnya

1. Intensitas cahaya
Laju fotosintesis maksimum ketika banyak cahaya (Salisbury dan
Ross, 1998).
2. Konsentrasi karbon dioksida
Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah
bahan yang dapat digunakan tumbuhan untuk melangsungkan
fotosintesis (Salisbury dan Ross, 1998).
3. Suhu
Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat
bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat
seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim
(Salisbury dan Ross, 1998).
4. Kadar air
Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup,
menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju
fotosintesis (Salisbury dan Ross, 1998).
5. Kadar fotosintat (hasil fotosintesis)
Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis
akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh,
laju fotosintesis akan berkurang (Salisbury dan Ross, 1998).
6. Tahap pertumbuhan
Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi
pada tumbuhan yang sedang berkecambah ketimbang tumbuhan
dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah
memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh (Salisbury
dan Ross, 1998).
7. Kadar klorofil
Apabila kadar klorofil daun berkurang, maka laju fotosintesis akan
mengalami penurunan karena kurangnya kadar klorofil menyebabkan
kurang optimalnya penyerapan cahaya yang diperlukan untuk
melakukan proses fotosintesis (Salisbury dan Ross, 1998).

Klorofil memberi warna hijau pada tumbuhan dan terdapat dalam


organel yang disebut kloroplas. Fungsi klorofil adalah menyerap cahaya
yang akan digunakan dalam fotosintesis, memicu fiksasi CO 2 menjadi
karbohidrat dan menyediakan dasar energetik bagi ekosistem secara
keseluruhan (Gardiner, dkk., 1991). Meskipun seluruh bagian tubuh
tumbuhan yang berwarna hijau mengandung kloroplas, namun sebagian
besar energi dihasilkan di daun karena di dalam daun terdapat lapisan sel
yang disebut mesofil yang mengandung setengah juta kloroplas setiap
milimeter perseginya. Cahaya akan melewati lapisan epidermis yang
transparan menuju mesofil, tempat terjadinya sebagian besar proses
fotosintesis (Salisbury, 2000).
Kadar klorofil yang optimal diperlukan agar proses fotosintesis
tumbuhan berlangsung dengan baik. Kadar klorofil tergantung oleh proses
pembentukan dan aktivasi klorofil. Faktor yang mempengaruhi terhadap
pembentukan klorofil antara lain adalah sebagai berikut:
1. Faktor pembawaan (gen)
Faktor genetik turut menentukan pembentukan klorofil. Jika tidak
ada gen yang mendukung pembentukan klorofil pada daun, maka daun
akan albino (Pratama, 2009).
2. Cahaya
Energi cahaya yang diserap oleh tumbuhan tergantung pada
intensitas sumber cahaya, panjang gelombang cahaya, dan lama
penyinaran. Pada batas-batas tertentu, semakin tinggi intensitas cahaya
matahari maka semakin banyak energi cahaya yang diserap oleh
klorofil, sehingga laju fotosintesis meningkat. Cahaya matahari dengan
intensitas terlalu tinggi akan menimbulkan kerusakan pada klorofil
(Pratama, 2009).
3. Nitrogen, Magnesium, Besi
Mn, Cu, Zn diperlukan dalam jumlah kecil (mikro) dalam proses
pembentukan klorofil, apabila tumbuhan kekurangan unsur-unsur
tersebut maka tumbuhan akan mengalami klorosis (Pratama, 2009).
4. Air

Kekurangan air berakibat desintegrasi dari klorofil. Misalnya di


pohon di musim kering (Pratama, 2009).
5. Temperatur
Temperatur yang cocok untuk pembentukan klorofil adalah 3o-48o
C pada kebanyakan tanaman, tapi temperatur yang paling baik antara
26o-30o C (Pratama, 2009).
Klorofil terbagi menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
1. Klorofil-a (C55H72O5N4Mg): warna hijau tua (hijau biru), biasanya
terdapat pada semua tanaman.
2. Klorofil-b (C55H70O6N4Mg): warna hijau muda (hijau kekuningan),
biasanya terdapat pada kebanyakan tanaman.
3. Klorofil-c: warna hijau coklat. Klorofil c dibagi menjadi 2, yaitu
klorofil c1 (C35H30O5N4Mg) dan c2 (C35H28O5N4Mg). Biasanya
terdapat pada golongan alga.
4. Klorofil-d (C54H70O6N4Mg): warna hijau merah pada ganggang
merah, biasanya terdapat pada Cyanobacteria .
(Larkum dkk., 2005)
Klorofil-a dalam aseton menunjukkan maksimum serapan pada
663 nm dan 420 nm, sedangkan dalam sel utuh maksimum serapannya
660, 670, 678, dan 685 nm. Pergeseran spektrum ini disebabkan oleh
adanya keadaan yang berbeda-beda dari pengikatan molekul klorofil-a
dengan berbagai protein khas di dalam sel tumbuhan (Larkum, dkk.,
2005).
Klorofil-b adalah klorofil kedua yang terdapat dalam tumbuhan
hijau sedangkan klorofil-c terdapat dalam ganggang coklat, diatom, dan
dinoflagellata. Sel fotosintesis prokariot yang tidak menghasilkan O 2 tidak
mengandung klorofil-a akan tetapi mengandung bakterioklorofil-a atau
bakterioklorofil-b. Bakteri hijau mengandung klorofil klorobium (Larkum,
dkk., 2005).
Pigmen-pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya pada
warna biru (400-450 nanometer) dan warna merah (650-700 nanometer)

dibandingkan dengan warna hijau (500-600 nanometer). Cahaya hijau


akan dipantulkan dan ditangkap oleh mata kita sehingga menimbulkan
sensasi bahwa daun berwarna hijau (Larkum, dkk., 2005).
Pengukuran kadar klorofil dapat dilakukan dengan metode
spektrofotometri. Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat
yang terdiri dari spektrofotometer dan fotometer akan menghasilkan sinar
dari spektrum dengan panjang gelombang energi secara relatif. Jika energi
tersebut ditransmisikan maka akan ditangkap oleh klorofil yang terlarut
tersebut. Pada fotometer filter sinar dari panjang gelombang yang
diinginkan akan diperoleh dengan berbagai filter yang punya spesifikasi
melewati banyaknya panjang gelombang tertentu (Noggle dan Fritz,
1979). Absorbsi relatif pada berbagai panjang gelombang oleh suatu
pigmen dapat diukur dengan spektrofotometer. Adapun untuk menghitung
kadar klorofil a, klorofil b, dan kadar klorofil total dapat digunakan rumus
dari Witermans dan De Mots sebagai berikut:
- Klorofil a

: 13,7 x OD 665 5,76 OD 649 (mg/l)

- Klorofil b

: 25,8 x OD 649 7,7 OD 665 (mg/l)

- Klorofil total

: 20,0 x OD 649 + 6,1 OD 665 (mg/l)

Sebagian besar daun banyak mengandung klorofil, karena itulah


kebanyakan daun berwarna hijau. Namun ada jenis daun yang memiliki
jumlah klorofil sedikit, sehingga warnanya tidak hijau. Misalnya,
tumbuhan yang mengandung banyak karotenoid akan memiliki daun yang
berwarna kuning. Meskipun strukturnya berbeda dengan klorofil, namun
karotenoid dan lainnya juga memiliki fungsi yang sama dalam
melangsungkan proses fotosintesis (Puspitawati, 2015).
Terdapat 3 komponen yang memberikan penampilan pada warna
daun, yaitu klorofil, karotenoid, dan flavonoid. Klorofil menghasilkan
warna hijau untuk proses fotosintesis. Karotenoid adalah senyawa yang
selalu ada dalam jaringan tumbuhan yang memberi warna oranye atau
kuning, akan tetapi tidak tampak karena adanya klorofil, atau sebaliknya.
Senyawa karotenoid terdapat dalam dalam bentuk karoten, xanthofil dan
likopen. Komponen yang ketiga adalah kelompok flavonoid yaitu

tannin yang memberikan warna kuning keemasan dan antosianin yang


memberi warna merah atau ungu (Puspitawati, 2015).
Begitu cahaya bertemu atau mengenai materi, cahaya itu dapat
dipantulkan, diteruskan (ditransmisi), atau diserap (diabsorpsi). Bahanbahan yang menyerap cahaya-tampak disebut pigmen. Pigmen yang
berbeda akan menyerap cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda,
dan panjang gelombang yan diserap akan menghilang. Jika suatu pigmen
diterangi dengan cahaya putih, warna yang kita lihat ialah warna yang
paling dipantulkan atau diteruskan oleh pigmen yang bersangkutan. (Jika
suatu pigmen menyerap semua panjang gelombang, pigmen itu akan
tampak hitam.) Kita melihat warna hijau saat kita melihat daun karena
klorofil menyerap cahaya merah dan biru ketika meneruskan dan
memantulkan cahaya hijau. Kemampuan pigmen untuk untuk menyerap
berbagai panjang gelombang cahaya diukur dengan menempatkan larutan
pigmen itu dalam spektrofotometer. Grafik yang merupakan plot
penyerapan (absorpsi) cahaya oleh pigmen terhadap panjang gelombang
disebut spektrum absorpsi (jamak: spektra absorpsi) (Campbell, 2000).
Klorofil dan karotenoid berada di dalam daun selama musim panas
dengan jumlah yang lebih banyak dan menutupi warna karotenoid,
sehingga sebagian besar daun berwarna hijau. Karotenoid mempunyai
warna berbagai campuran kuning dan jingga. Karotenoid berfungsi
terutama dalam fotoproteksi, senyawa ini menyerap dan melepaskan
energi cahaya yang berlebihan, yang jika tidak dilepas akan merusak
klorofil (Campbell, 2000).
Antosianin diproduksi sebagai hasil dari glukosa yang terjebak
dalam daun ketika pembuluh darah daun tersebut tertutup. Gula ini
kemudian akan pecah karena terkena cahaya matahari dan menghasilkan
pigmen berwarna merah dan ungu yang sering menutupi karotenoid dan
klorofil (Puspitawati, 2015).
Warna daun juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang lain,
seperti pH. Daun yang semacam ini akan berubah mengikuti derajat
keasaman (pH) lingkungan. Semakin asam (pH rendah) lingkungan akan

muncul warna merah, sebaliknya semakin basa (pH tinggi) akan muncul
warna biru pada daun. Antoxantin juga berada di sitoplasma tetapi warna
yang dihasilkan adalah kuning muda hingga kuning tua. Kondisi dimana
kedua zat ini bercampur di sitoplasma dan menghasilkan warna yang tidak
sesuai dapat disebut ko-pigmentasi (Anonim, 2012).
E. VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel manipulasi
2. Variabel kontrol

3. Variabel respon

: jenis tumbuhan dan usia daun


: massa daun, volume alkohol 95%, panjang
gelombang spektrofotometer (649 dan 665
nm), dan volume akhir filtrat (100 ml)
: kadar klorofil a, klorofil b dan klorofil total
dari berbagai daun yang jenis dan usianya
berbeda

F. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL


1. Tumbuhan yang diukur kadar klorofilnya meliputi 12 jenis tumbuhan,
yaitu puring merah, Cordyline, Ludwigia repens rubin, Tradescantia
red, puring teri, puring kuning, puring hijau-kuning, puring anggur,
sawo, jambu biji, belimbing wuluh dan belimbing buah.
2. Usia daun yang diuji dari masing-masing jenis tumbuhan adalah daun
muda dan daun tua. Daun muda diambil pada bagian pucuk dan daun
tua diambil daun nomor 5 ke bawah dari pucuk.
3. Kadar klorofil dapat diketahui dengan menggunakan metode
spektrofotometri. Daun yang akan dihitung kadar klorofilnya harus
diekstrak terlebih dahulu, ekstrak daun kemudian diukur kadar
klorofilnya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang
gelombang 649 dan 665 nm. Adapun untuk menghitung kadar klorofil
a, klorofil b, dan kadar klorofil total dapat digunakan rumus dari
Witermans dan De Mots sebagai berikut:
- Klorofil a

: 13,7 x OD 665 5,76 OD 649 (mg/l)

- Klorofil b

: 25,8 x OD 649 7,7 OD 665 (mg/l)

- Klorofil total

: 20,0 x OD 649 + 6,1 OD 665 (mg/l)

G. ALAT DAN BAHAN


1. Berbagai jenis daun dengan umur yang berbeda, meliputi:

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

- Daun muda diambil yang pucuk


- Daun tua diambil dari nomor 5 ke bawah
Pipet tetes
Gelas ukur
Lumpang porselin
Alkohol 95%
Erlenmeyer
Gelas plastik
Spektrofotometer

H. RANCANGAN PERCOBAAN

Daun puring
anggur muda dan
tua

Digerus dengan
lumpang porselin
sampai halus

Ditimbang
sebanyak satu gram

Diekstraksi dengan
100 ml alcohol 95%

Disaring dengan
kertas saring

Filtrat

Klorofil a
: 13,7 x OD
665 5,76 OD 649 (mg/l)
Klorofil b
: 25,8 x OD
649 7,7 OD 665 (mg/l)
Klorofil total : 20,0 x OD
649 + 6,1 OD 665 (mg/l)

Diukur kadar klorofil dengan


spektrofotometer dengan
panjang gelombang 649 dan
665 nm

dihitung kadar klorofil a,


klorofil b dan klorofil
total dengan rumus
Wintermans dan de Mots

Gambar 1. Rancangan percobaan

I. LANGKAH KERJA
Daun

ofil b dan klorofil total dengan rumus Wintermans dan de Mots

ditimbang sebanyak satu gram


dipotong kecil-kecil

Po

digerus dalam lumpang porselin sampai halus


diekstraksi dengan 100 ml alcohol 95%
disaring dengan kertas saring sampai volume akhir filtrate mencapai 100 ml (jika ku

Spektrofotometer

dikalibrasi dengan alcohol 95%


diukur(Optical
kadar klorofil
dengan
spektorfotometer
dengan panjang gelom
dicatat nilai absorbansi
Density)
larutan
tersebut

Hasil
Gambar 2. Diagram alir prosedur praktikum

J. RANCANGAN TABEL PENGAMATAN


Dari praktikum yang telah dilakukan, diperoleh data konsentrasi
klorofil pada berbagai jenis daun, yaitu sebagai berikut:
Tabel 1. Konsentrasi klorofil pada berbagai jenis daun
No

Jenis Daun

.
1.

Puring merah

2.

Cordyline

3.

Ludwigia repens
Rubin

4.

Tradescantia red

5.

Puring teri

6.

Puring kuning

7.

Puring hijau-kuning

8.

Puring anggur

9.

Sawo

10.

Jambu biji

11.

Belimbing wuluh

12.

Belimbing buah

Usia daun
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua
Muda
Tua

Klorofil a

Klorofil b

Klorofil Total

(mg/l)
8,230
9,920
9,720
7,310
7,560
5,058
8,860
9,350
3,020
6,360
1,900
0,740
4,310
0,400
0,974
3,880
1,780
12,950
2,850
8,160
11,600
12,840
4,760
14,780

(mg/l)
6,450
7,580
7,480
5,440
6,064
4,277
5,570
6,230
1,780
3,870
2,200
0,440
3,600
0,400
0,468
2,420
10,150
10,630
2,010
5,180
7,670
8,460
3,260
9,240

(mg/l)
14,740
17,570
17,280
12,790
13,696
10,280
14,510
15,650
4,820
9,390
4,120
1,180
7,940
0,810
1,449
6,330
11,940
23,680
4,880
13,400
18,920
21,400
8,0530
23,850

Dari hasil tabel diatas, untuk lebih mengetahui perbedaan masingmasing konsentrasi klorofil pada daun puring anggur muda dan daun
puring anggur tua dapat dibuat grafik seperti dibawah ini:

6.33

6
5
3.88

4
3
konsentrasi klorofil (mg/l)

2.42
1.45

0.97
1
0.47

klorofil a
klorofil b
klorofil total

Gambar 3. Grafik kadar klorofil pada daun puring anggur


K. RENCANA ANALISIS DATA
Daun yang diuji dibagi menjadi tiga kelompok yaitu daun
berwarna merah, daun berwarna kuning dan daun berwarna hijau. Daun
berwarna merah diambil dari empat tanaman meliputi puring merah,
Cordyline, Ludwigia repens rubin dan Tradescantia red. Daun berwarna
kuning diambil dari empat jenis tanaman meliputi puring teri, puring hijau,
puring hijau-kuning dan puring anggur. Daun berwarna hijau diambil dari
empat jenis tanaman meliputi sawo, jambu biji, belimbing wuluh dan
belimbing buah.
Dari data konsentrasi klorofil pada berbagai jenis daun (Tabel 1)
dapat diketahui bahwa daun dari jenis tumbuhan dan usia yang berbeda
memiliki kadar klorofil yang berbeda pula. Daun muda puring merah
memiliki kadar klorofil total sebanyak 14,74 mg/l, sedangkan daun tuanya
memiliki kadar klorofil total sebanyak 17,57 mg/l. Daun muda Cordyline
memiliki kadar klorofil total sebanyak 17,28 mg/l, sedangkan daun tuanya
memiliki kadar klorofil total sebanyak 12,79 mg/l. Daun muda Ludwigia
repens rubin memiliki kadar klorofil total sebanyak 13,696 mg/l,
sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak 10,280

mg/l. Daun muda Tradescantia red memiliki kadar klorofil total sebanyak
14,51 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak
15,67 mg/l. Daun muda puring teri memiliki kadar klorofil total sebanyak
4,82 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak
9,39 mg/l. Daun muda puring kuning memiliki kadar klorofil total
sebanyak 4,12 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil total
sebanyak 1,18 mg/l. Daun muda puring hijau-kuning memiliki kadar
klorofil total sebanyak 7,94 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar
klorofil total sebanyak 0,81 mg/l. Daun muda puring anggur memiliki
kadar klorofil total sebanyak 1,449 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki
kadar klorofil total sebanyak 6,33 mg/l. Daun muda sawo memiliki kadar
klorofil total sebanyak 11,94 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar
klorofil total sebanyak 4,88 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar
klorofil total sebanyak 13,40 mg/l. Daun muda belimbing wuluh memiliki
kadar klorofil total sebanyak 18,92 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki
kadar klorofil total sebanyak 21,40 mg/l. Daun muda belimbing buah
memiliki kadar klorofil total sebanyak 8,053 mg/l, sedangkan daun tuanya
memiliki kadar klorofil total sebanyak 23,85 mg/l.
Pada daun puring merah, Tradescantia red, puring teri, puring
anggur, sawo, jambu biji, belimbing wuluh dan belimbing buah kadar
klorofil daun tua lebih besar daripada kadar klorofil daun muda,
sedangkan pada daun Cordyline, Ludwigia repens rubin, puring kuning
dan puring hijau-kuning kadar klorofil daun tua lebih kecil daripada kadar
klorofil daun muda.
Diskusi:
1. Jelaskan mengapa kadar klorofil daun pada berbagai umur berbeda!
Kemukakan pendapat saudara dengan memberikan teori-teori yang
mendukung!
Jawaban: Usia daun akan memengaruhi letak daun. Daun muda berada
di pucuk dan semakin tua usia daun maka letaknya akan semakin ke
bawah dan tertutupi oleh daun-daun yang muda. Pada daun yang masih
muda akan memperoleh cahaya yang lebih banyak sehingga diperlukan

sedikit klorofil untuk menangkap cahaya. Setelah ditangkap maka


cahaya tersebut akan dialirkan ke pusat reaksi dalam bentuk electron.
Electron ini didebut electron tereksitasi dan dari proses eksitasi electron
akan dihasilkan energi eksitasi. Energi ini berguna untuk proses
fotosintesis. Sedangkan pada daun yang sudah tua akan memperoleh
cahaya yang lebih sedikit sehingga diperlukan banyak klorofil untuk
menangkap cahaya yang akan dialirkan ke pusat reaksi. Karena itu
kadar klorofilnya lebih banyak. Pernyataan ini sesuai dengan teori
afinitas electron, bahwa makin jauh dari cahaya maka akan dibutuhkan
energi yang banyak untuk menagkap electron. Hal ini menjadikan kadar
klorofil menjadi lebih banyak.
2. Jelaskan fungsi klorofil di dalam proses fotosintesis!
Jawaban: Fungsi krolofil dalam proses fotosintesis adalah menyerap
energi dari sinar matahari untuk digunakan dalam proses fotosintetis,
memicu fiksasi CO2 menjadi karbohidrat dan menyediakan dasar
energetik bagi ekosistem secara keseluruhan (Gardiner, 1991).
3. Manakah di antara tumbuhan terdedah dan ternaung (pada spesies yang
sama) yang memiliki jumlah klorofil terbesar? Mengapa demikian?
Jawaban: Jumlah klorofil pada daun yang ternaung lebih besar dari
pada daun yang terdedah karena tiap kloroplas daun ternaung
mempunyai lebih banyak grana, sehingga daun ternaung memiliki lebih
banyak energi untuk menghasilkan pigmen permanen cahaya. Kloroplas
di

daun

yang

ternaungi

tersusun

secara

fototaksis

untuk

memaksimumkan penyerapan cahaya karena kondisi pencahayaan yang


relatif kurang, sehingga daun aktif membentuk pigmen, terutama
klorofil untuk dapat terus beraktivitas fotosintesis. Daun ternaung
umumnya memiliki lamina yang tebal, hal ini karena daun tersebut
mempunyai jaringan palisade yang panjang sehingga kadar klorofilnya
juga lebih banyak (Salisbury, 1995).
L. HASIL ANALISIS DATA

Terdapat 3 komponen yang memberikan penampilan pada warna


daun, yaitu klorofil, karotenoid, dan flavonoid. Klorofil menghasilkan
warna hijau untuk proses fotosintesis. Karotenoid adalah senyawa yang
selalu ada dalam jaringan tumbuhan yang memberi warna oranye atau
kuning, akan tetapi tidak tampak karena adanya klorofil, atau sebaliknya.
Senyawa karotenoid terdapat dalam dalam bentuk karoten, xanthofil dan
likopen. Komponen yang ketiga adalah kelompok flavonoid yaitu
tannin yang memberikan warna kuning keemasan dan antosianin yang
memberi warna merah atau ungu (Puspitawati, 2015).
Umumnya semakin tua usia daun maka kandungan klorofilnya
akan semakin tinggi pula. Hal tersebut dapat dilihat pada data kadar
klorofil pada daun puring merah, Tradescantia red, puring teri, puring
anggur, sawo, jambu biji, belimbing wuluh dan belimbing buah. Pada
daun-daun tersebut kadar klorofil meningkat seiring meningkatnya usia
daun. Daun muda terletak di pucuk sehingga akan memperoleh cahaya
yang lebih banyak sehingga diperlukan sedikit klorofil untuk menangkap
cahaya, sedangkan pada daun yang sudah tua akan memperoleh cahaya
yang lebih sedikit sehingga diperlukan banyak klorofil untuk menangkap
cahaya yang akan dialirkan ke pusat reaksi yang menyebabkan
meningkatnya kadar klorofil (Susanto, 2008). Itulah sebabnya semakin tua
usia daun maka warna daun akan semakin hijau.
Akan tetapi, lain halnya pada beberapa jenis tanaman yang
semakin tua usia daunnya kadar klorofilnya semakin menurun. Biasanya
hal semacam ini terjadi pada daun yang tidak berwarna hijau atau semakin
tua usia daun semakin pudar warna hijau daunnya dan digantikan oleh
warna lain seperti merah, kuning atau ungu. Hal tersebut dapat dilihat pada
data kadar klorofil pada daun Cordyline, Ludwigia repens rubin, puring
kuning dan puring hijau-kuning.
Cordyline dan Ludwigia repens rubin memiliki daun berwarna
merah, semakin tua usia daun warna merah semakin pekat. Warna merah
ini dipengaruhi oleh pigmen fotosintetik lain seperti karotenoid atau
pigmen vakuoler seperti antosianin (Puspitawati, 2015), atau dapat pula
terjadi akibat penurunan kandungan klorofil akibat pemecahan kloroplas

menjadi kromoplas yang menyebabkan klorofil rusak, sehingga kandungan


klorofil menurun selam proses pendewasaan tumbuhan (Puspitawati,
2015). Itulah yang menyebabkan kadar klorofil pada daun tersebut lebih
tinggi saat daun masih muda dan berkurang saat daun semakin tua.
Puring kuning dan puring hijau-kuning memiliki warna kuning
yang lebih dominan daripada warna hijau pada daunnya. Warna kuning
pada daun disebabkan kadar karotenoid yang lebih tinggi dibandingkan
kadar klorofil sehingga warna hijau daun tertutupi oleh warna kuning.
Meskipun strukturnya berbeda dengan klorofil, namun karotenoid dan
lainnya juga memiliki fungsi yang sama dalam melangsungkan proses
fotosintesis. Kadar karotenoid yang tinggi tersebut dapat disebabkan oleh
degradasi klorofil karena tumbuhan tersebut tumbuh pada lokasi yang
terbuka, sehingga dibutuhkan karotenoid yang lebih banyak untuk
melindungi klorofil dari kerusakan akibat cahaya yang berlebihan
(Puspitawati, 2015).
Sebagaimana Cordyline dan Ludwigia repens rubin, puring merah
dan Tradescantia red memiliki warna merah lebih dominan dari pada
warna hijau. Begitu juga daun puring teri dan puring anggur memiliki
warna kuning yang lebih dominan daripada warna hijau sebagaimana daun
puring kuning dan puring hijau-kuning. Akan tetapi, kadar klorofil daun
puring merah, Tradescantia red, puring teri dan puring anggur meningkat
seiring meningkatnya usia daun. Hal ini dapat diketahui dari data
konsentrasi klorofil pada keempat jenis daun tersebut (Tabel 1).
Meningkatnya kadar klorofil seiring meningkatnya usia daun tersebut
menyebabkan secara morfologis semakin tua usia daun maka warna daun
semakin terlihat hijau namun tetap dengan warna dominan merah atau
kuning.
Pada daun berwarna hijau, yaitu daun sawo, jambu biji, belimbing
wuluh dan belimbing buah kadar klorofil semakin meningkat seiring
meningkatnya usia daun dan tidak ditemukan data kadar klorofil yang
menurun pada daun tua.
M. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dan analisis data, didapatkan


kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari data konsentrasi klorofil pada berbagai jenis daun (Tabel 1) dapat
diketahui bahwa daun dari jenis tumbuhan dan usia yang berbeda
memiliki kadar klorofil yang berbeda pula. Daun muda puring merah
memiliki kadar klorofil total sebanyak 14,74 mg/l, sedangkan daun
tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak 17,57 mg/l. Daun muda
Cordyline memiliki kadar klorofil total sebanyak 17,28 mg/l, sedangkan
daun tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak 12,79 mg/l. Daun
muda Ludwigia repens rubin memiliki kadar klorofil total sebanyak
13,696 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil total
sebanyak 10,280 mg/l. Daun muda Tradescantia red memiliki kadar
klorofil total sebanyak 14,51 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki
kadar klorofil total sebanyak 15,67 mg/l. Daun muda puring teri
memiliki kadar klorofil total sebanyak 4,82 mg/l, sedangkan daun
tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak 9,39 mg/l. Daun muda
puring kuning memiliki kadar klorofil total sebanyak 4,12 mg/l,
sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak 1,18
mg/l. Daun muda puring hijau-kuning memiliki kadar klorofil total
sebanyak 7,94 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil
total sebanyak 0,81 mg/l. Daun muda puring anggur memiliki kadar
klorofil total sebanyak 1,449 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki
kadar klorofil total sebanyak 6,33 mg/l. Daun muda sawo memiliki
kadar klorofil total sebanyak 11,94 mg/l, sedangkan daun tuanya
memiliki kadar klorofil total sebanyak 4,88 mg/l, sedangkan daun
tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak 13,40 mg/l. Daun muda
belimbing wuluh memiliki kadar klorofil total sebanyak 18,92 mg/l,
sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil total sebanyak 21,40
mg/l. Daun muda belimbing buah memiliki kadar klorofil total
sebanyak 8,053 mg/l, sedangkan daun tuanya memiliki kadar klorofil
total sebanyak 23,85 mg/l.
2. Pada daun puring merah, Tradescantia red, puring teri, puring anggur,
sawo, jambu biji, belimbing wuluh dan belimbing buah kadar klorofil

daun tua lebih besar daripada kadar klorofil daun muda, sedangkan
pada daun Cordyline, Ludwigia repens rubin, puring kuning dan puring
hijau-kuning kadar klorofil daun tua lebih kecil daripada kadar klorofil
daun muda.
N. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Just IE. Mengapa Daun Tidak Berwarna Hijau. Diakses
tanggal

April

2016.

http://goresan-kecil-

chara.blogspot.co.id/2012/09/mengapa-daun-tidak-hanya-berwarnahijau.html
Campbell. 2000. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Darmawan, J. dan J. Baharsyah.1983. Dasar-dasar Ilmu Fisiologi
Tanaman. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Dwijoseputro . 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan . Jakarta: Gramedia.
Gardiner, Franklin P; dkk. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta:
Universitas Indonesia UI Press.
Larkum, Anthony W.D. dkk. 2005. Chlorophyll d:
Sydney: School of Biological

the puzzle resolved.

Sciences, Building A08, University

of Sydney.
Noggle, Ray, R dan Fritzs, J. George. 1979. Introductor Plant Physiology.
New Delhi : Mall of India Private Ilmited.
Pratama, Tomi anugrah dkk. 2009. Laporan Praktikum

Fisiologi

Tumbuhan Pigmen Fotosintetik. Padang: Jurusan biologi, Fakultas


Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.
Puspitawati, Rinie Pratiwi. 2000. Anatomi Tumbuhan. Surabaya: Unesa
Press.
Salisbury, B. Frank dan C. W. Ross. 1998. Fisiologi Tumbuhan. Bandung :
ITB Press.
Salisbury, B. Frank. 2000. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung : ITB
Press.
Susanto.
2008.

Fisiologi

Muhammadiyah Bengkulu.

Tumbuhan.

Bengkulu:

Universitas

Lampiran 1. Hasil perhitungan kadar klorofil daun puring anggur muda dan daun
puring anggur tua menggunakan rumus dari Wintermans dan de Mots
1. Daun puring anggur muda
Diketahui : DO 649 nm = 0,045
DO 665 nm = 0,090
Klorofil a

= 13,7 OD 665 5,76 OD 649 (mg/l)


= 13,7 0,090 5,76 0,045
= 0,974 mg/l

Klorofil b

= 25,8 OD 649 7,7 OD 665 (mg/l)


= 25,8 0,045 7,7 0,090
= 0,468 mg/l

Klorofil total

= 20,0 OD 649 + 6,1 OD 665 (mg/l)


= 20,0 0,045 + 6,1 0,090
= 1,499 mg/l

2. Daun puring anggur tua


Diketahui : DO 649 nm = 0,204
DO 665 nm = 0,369
Klorofil a

= 13,7 OD 665 5,76 OD 649 (mg/l)


= 13,7 0,369 5,76 0,204
= 3,88 mg/l

Klorofil b

= 25,8 OD 649 7,7 OD 665 (mg/l)


= 25,8 0,204 7,7 0,369
= 2,42 mg/l

Klorofil total

= 20,0 OD 649 + 6,1 OD 665 (mg/l)


= 20,0 0,204 + 6,1 0,369
= 6,33 mg/l