Anda di halaman 1dari 25

FORMAT PENILAIAN

JURNAL PENELITIAN/ARTIKEL ILMIAH


MATA KULIAH : SISTEM INTEGUMEN
NAMA INDIVIDU : MARIA MAGDALENA SUSANTI DIAN ARISTYA
NIM

: 1607031

PENILAI

No

ASPEK YANG DINILAI

NILAI
1

1. Tahun penelitian/artikel ilmiah (1-10


tahun kebelakang)
2. Obyek Penelitian ( manusia atau
hewan )
3. Kesesuaian tema
4. Kejelasan alamat dan penerbit jurnal
5. Sistematika penugasan
6. Kejujuran dan atau kerjasama
7. Ketepatan waktu pengumpulan tugas

NILAI AKHIR

: Jumlah nilai keseluruhan


----------------------------------7
Semarang , .
Dosen penanggung jawab

FORM PENYUSUNAN KESIMPULAN JURNAL


NO

KOMPONEN

ISI

Pengarang dan tahun penelitian

Ahmad Arif Wibowo, Ani Rahayu, Chintia


Afriana, Komang Purwati, Rizki Adi Pranata,
Tria Octiwi (Tahun 2014)

Judul

Gambaran Perawatan Luka Modern Pada Luka


Diabetik di RSUD Abdoel Moeloek Bandar
Lampung

Latar belakang / alasan diteliti

Manajemen perawatan luka diabetik dapat


dilakukan dengan teknik perawatan luka
konvensional dan perawatan luka modern. Untuk
itu perlu dikaji seberapa besar dampak teknik
perawatan luka modern akan mempengaruhi
proses regenerasi jaringan sampai penyembuhan
luka.

Tujuan khusus

Memberikan gambaran proses perawatan


luka secara modern terhadap proses
penyembuhan luka diabetik pasien
diabetes mellitus di Rumah Sakit Umum
Daerah Abdoel Moeloek Bandar
Lampung.

Memberikan gambaran faktor-faktor yang


mempengaruhi penyembuhan luka
diabetik pada pasien diabetes mellitus di
Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel
Moeloek Bandar Lampung

Manfaat

Penelitian ini dapat menjadi tambahan


pengalaman, memperluas wawasan pengetahuan
teori dan praktik keperawatan medical bedah
dalam bidang perawatan luka serta riset
keperawatan khususnya mengenai efektifitas
perawatan luka secara modern dengan lama hari
rawat pada luka diabetik sebagai referensi baru
yang menarik untuk dikembangkan pada
penelitian selanjutnya.

Teori utama yang mendasari

Kemajuan ilmu pengetahuan dalam perawatan


luka telah mengalami perkembangan yang sangat
pesat. Hal ini tidak terlepas dari dukungan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan ilmu tersebut dapat dilihat dari
banyaknya inovasi terbaru dalam perkembangan
produk bahan pembalut luka modern. Bahan
pembalut luka modern adalah produk pembalut
hasil teknologi tinggi yang mampu mengontrol
kelembapan disekitar luka.Bahan balutan luka
modern ini di disesuaikan dengan jenis luka dan
eksudat yang menyertainya.

Jenis penelitian

Analisis statistik deskriptif untuk menjelaskan


dan mendeskripsikan karakteristik variabel

penelitian.
8

Rancangan penelitian / desain

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif


observasional pada pasien dengan luka diabetik di
RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung

Populasi

Berdasarkan jumlah seluruh pasien diabetes


mellitus yang terdaftar di Rumah Sakit Umum
Daerah Abdoel Moeloek Bandar Lampung.

10

sampel

Sebagian dari seluruh pasien diabetes mellitus


yang mengalami luka diabetik dan terdaftar di
Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek
Bandar Lampung.

11

Teknik sampling

Pengamatan dan pengukuran status luka diabetik


sebelum dan sesudah dilakukan perawatan luka
modern.

12

Pengolahan Data

Meringkas kelompok data mentah menggunakan


rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi
yang diperlukan.

13

Hasil dan kesimpulan

Pada teknik perawatan luka modern, luka


dipertahankan dalam kondisi lembab. Sifat-sifat
balutan luka modern dalam teknik ini yaitu
memberikan kelembapan, mempertahankan
kelembapan, menyerap cairan (absorben), proses
debridement, dan anti mikroba.

14

Saran

Bahan pembalut luka modern adalah produk


pembalut hasil teknologi tinggi yang mampu
mengontrol kelembapan di sekitar luka namun
beberapa bahan dalam teknik perawatan luka
harus disesuaikan dengan jenis luka dan eksudat
yang menyertainya agar mengoptimalkan
pertumbuhan jaringan baru dan proses
penyembuhannya.

LEMBAR KONSULTASI ARTIKEL ILMIAH /JURNAL


NO

HARI/TANGGAL

MASUKAN

TTD DOSEN

Semarang , .
Dosen penanggung jawab

Kamis, 30 April 2015

proposal penelitian mata ajar riset keperawatan

GAMBARAN PERAWATAN LUKA MODERN PADA


LUKA DIABETIK DI RSUAM BANDAR LAMPUNG
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan untuk memenuhi tugas mata ajar riset keperawatan

Disusun oleh:
AHMAD ARIF WIBOWO

1219007

ANI RAHAYU

1219005

CHINTIA AFRIANA

1219027

KOMANG PURWATE

1219057

RIZKI ADI PRANATA

1219093

TRIA OCTIWI

1219109

AKADEMI KEPERAWATAN PANCA BHAKTI


BANDAR LAMPUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Penyakit diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit yang berkaitan dengan metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein.Penderita DM sering mengalami komplikasi pada pembuluh
darah berupa makroangiopati, mikroangiopati, neuropati, penurunan daya tahan tubuh sehingga
memudahkan terjadinya infeksi, inflamasi, iskemia dan kematian sel akibat
hiperglikemia.Mekanisme terjadinya kematian sel pada penderita DM melalui peningkatan
glukosa intraseluler maupun ekstraseluer (Sudoyo,cit Kristyaningrum, Indanah & Swarto, 2013).
Penderita diabetes mempunyai resiko 15% terjadi ulkus pada kaki diabetik pada masa hidupnya
dan risiko terjadinya kekambuhan dalam 5 tahun sebesar 70%.Penderita diabetes meningkat
setiap tahunnya. Di Indonesia dilaporkan sebanyak 8,4 juta jiwa pada tahun 2001, meningkat
menjadi 14 juta pada tahun 2006 dan diperkirakan menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun
2020. Indonesia menduduki peringkat ke-empat dengan jumlah diabetes terbanyak setelah India
(31,7 juta jiwa), China (20,8 juta jiwa) dan amerika serikat (17,7 juta jiwa). Hasil survey
Departemen Kesehatan angka kejadian dan komplikasi DM cukup tersebar sehingga dikatakan
sebagai masalah nasional yang harus mendapat perhatian karena komplikasinya sangat
mengganggu kualitas penderita. Angka kematian ulkus pada penyandang diabetes militus
berkisar antara 17-32%, sedangkan laju amputasi dapat dihindarkan dengan perawatan luka yang
baik, lebih dari satu juta amputasi dilakukan pada penyandang diabetes khususnya diakibatkan
oleh ulkus gangren di seluruh dunia (Depkes, 2010).
Luka adalah rusaknya struktur anatomis kulit normal akibat proses patologis yang berasal dari
internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu (Poter & Perry 2006). Luka akut dan
kronik berisiko terkena infeksi.Luka akut memiliki serangan yang cepat dan penyembuhannya
dapat di prediksi.Contoh luka akut adalah luka jahit karena pembedahan, luka trauma dan luka
lecet. Di Indonesia angka infeksi untuk luka bedah mencapai 2,30 sampai dengan 18,30%
(Depkes RI, 2001). Pada luka kronik waktu penyembuhannya tidak dapat di prediksi dan
dikatakan sembuh jika fungsi dan struktur kulit telah utuh.Jenis luka kronik yang paling banyak
adalah luka dekubitus, luka diabetik dan luka kanker.
Seseorang yang menderita luka akan merasa adanya ketidaksempurnaan yang pada akhirnya
akan menimbulkan gangguan fisik dan emosional. Ini berarti seseorang yang mempunyai luka
akan mengalami gangguan kesehatan yang berdampak pada kualitas kehidupanya. Ada beberapa
domain kualitas hidup yang akan terganggu apabila seseorang mengalami luka. Salah satunya
adalah gangguan aktivitas sehari-hari sehingga tidak mampu bekerja yang akhirnya dapat
berdampak pada masalah finansial.Respon emosionalpun terganggu karena adanya luka seperti
bau, nyeri dan harapan hidup.Selain itu, interaksi sosial dapat terganggu kareana adanya
kelemahan fisik, merasa luka kotor, dan bau.Semua hal tersebut dapat mempengaruhi rasa
nyaman, baik fisik, psikis, maupun sosial.
Upaya yang dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat diperlukan intervensi
keperawatan luka yang efektif dan efisien.Isu terkini yang terkait dengan manajemen perawatan
luka terkait dengan perubahan profil pasien, dimana pasien dengan kondisi penyakit degeneratif
dan kelainan metabolik semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai
kompleksitas suatu luka dimana perawatan yang tepat diperlukan agar proses penyembuhan bisa
tercapai dengan maksimal (Carol, cit Kristyaningrum, Indanah & Swarto, 2013).
Pada awalnya para ahli berpendapat bahwa penyembuhan luka sangat baik bila luka dibiarkan
tetap kering.Mereka berfikir bahwa infeksi bakteri apabila seluruh cairan keluar terserap oleh
pembalutnya.Akibatnya sebagian besar luka dibalut oleh kapas pada kondisi kering.Perawat
dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses
perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang komperhensif, perencanaan intervensi yang
tepat, implementasi, evaluasi hasil yang diperlukan selama perawatan serta dokumentasi hasil
yang sistematis. Isu lain yang harus dipahami oleh perawat adalah berkaitan dengan cost

effectiveness, yaitu pemilihan produk yang tepat harus berdasarkan pertimbangan


biaya (cost), kenyamanan (comfort), keamanan (safety).
Perawat
juga
dituntut
untuk
meningkatkan skill dan pengetahuan tentang manajemen luka yang paling baik dengan memilih
bahan perawatan yang efektif dan efesien (Saldi, cit Kristyaningrum, Indanah & Swarto, 2013).
Penggunaan dan pemilihan produk-produk perawatan luka kurang sesuai akan menyebabkan
proses inflamasi yang memanjang dan kurang suplai oksigen ditempat luka. Hal-hal tersebut
akan memperpanjang waktu penyembuhan luka. Luka yang lama sembuh disertai dengan
penurunan daya tahan tubuh pasien membuat luka semakin rentan untuk terpanjan
mikroorganisme yang menyebabkan infeksi (Morrison, 2004). Munculnya infeksi akan
memperpanjang lama hari rawat. Hari rawat yang lebih lama akan meningkatkan risiko pasien
terkena komplikasi penyakit lain.
Teknik perawatan luka DM telah berkembang pesat, yaitu teknik konvensional dan
modern.Teknik konvensional menggunakan kasa, antibiotik, dan antiseptik, sedangkan teknik
modern menggunakan balutan sintetik seperti balutan alginate, balutan foam, balutan
hidropolimer, balutan hidrofiber, balutan hidrokoloid, balutan transparan film, dan balutan
absorben. Dampak teknik perawatan luka akan mempengaruhi proses regenerasi jaringan sebagai
akibat dari prosedur membuka balutan, membersihkan luka, tindakan debridement dan jenis
balutan yang diberikan sehingga menimbulkan respon nyeri.
Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran
perawatan luka modern pada luka diabetik di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek
Bandar Lampung

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang yang telah dibahas diatas, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut: Bagaimana perawatan luka secara modern pada luka diabetik di
Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Bandar Lampung?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1

Tujuan Umum

Mengetahui gambaran perawatan luka modern pada luka diabetik di Rumah Sakit Umum Daerah
Abdoel Moeloek Bandar Lampung
1.3.2

Tujuan Khusus

a.
Memberikan gambaran proses perawatan luka secara modern terhadap proses
penyembuhan luka diabetik pasien diabetes mellitus di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel
Moeloek Bandar Lampung
b. Memberikan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka diabetik pada
pasien diabetes mellitus di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Bandar Lampung

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1

Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat menjadi tambahan pengalaman, memperluas wawasan pengetahuan teori dan
praktik keperawatan medical bedah dalam bidang perawatan luka serta riset keperawatan

khususnya mengenai efektifitas perawatan luka secara modern dengan lama hari rawat pada luka
diabetik.
1.4.2

Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi instansi pendidikan keperawatan dalam
prosedur perawatan luka dan sebagai referensi baru yang menarik untuk dikembangkan pada
penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori


2.1.1 Diabetes Mellitus
2.1.1.1 Definisi
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar
glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah
tertentu dalam darah.Glukosa dibentuk di hati dan makanan yang dikonsumsi. Insulin, yaitu
suatu hormon yang diproduksi pancreas, mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan
mengatur produksi dan penyimpanannya (Smelter & Bare, 2002).
Diabetes militus (DM) adalah suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Berkembangnya komplikasi
makrovaskuler,mikrovaskuler dan neurologis. Diabetes militus digolongkan sebagai penyakit
endrokrin atau hormonal karena gambaran produksi atau penggunaan insulin (C. Long, 1996).

2.1.1.2 Klasifikasi dan Etiologi


a. Diabetes tipe I
Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena ses-sel beta
pancreas telah dihancurkan oleh pancreas autoimun.Hiperglikemia-puasa terjadi akibat produksi
glukosa yang tidak terukur oleh hati.Disamping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak
dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan
hiperglikemia postpandrial (sesudah puasa).(Smeltzer & Suddart, 2002).
Faktor-faktor penyebab yang terjadi pada diabetes tipe I adalah inveksi virus atau reaksi
autoimun (rusaknya system kekebalan tubuh), yang merusak sel-sel penghasil insulin yaitu sel-
pada pankreas, secara menyeluruh.Oleh karena itu pada tipe ini, pankreas tidak dapat
menghasilkan insulin. Untuk bertahan hidup, insulin harus diberikan dari luar dengan cara
disuntikkan (Kariadi. KS, 2009).

b.

Diabetes tipe II

Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu:
resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor
khusus pada reseptor tersebut pada permukaan sel. Sebagian akibat terikatnya insulin dengan
reseptor tersebut. Terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolism glukosa di dalam sel. Reaksi
insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini.Dengan demikian
insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.

c.

Diabetes dan kehamilan

Wanita yang sudah diketahui menderita diabetes sebelum terjadinya pembuahan harus
mendapatkan penyuluhan atau konseling tentang penatalaksanaan diabetes selama
kehamilan.Pengendalian diabetes yang buruk (hiperglikemia) pada saat pembuahan dapat disertai
timbulnya marformasi kongenital.Karena alasan inilah, wanita yang menderita diabetes harus
mengendalikan penyakitnya dengan baik sebelum konsepsi terjadi dan sepanjang kehamilannya.
Diabetes yang tidak terkontrol pada saat melahirkan akan disertai dengan peningkatan insidens
makrosomia janin (bayi yang sangat besar), persalinan dan kelahiran yang sulit, bedah sesar serta
kelahiran mati (still birth). Disamping itu bayi yang dilahirkan ibu yang menderita hiperglikemia
dapat mengalami hipoglikemia pada saat lahir.Keadaan ini terjadi karena pancreas bayi yang

normal telah mensekresikan insulin untuk mengimbangi keadaan hiperglikemia ibu (Smeltzer &
Suddart, 2002).

d.

Diabetes gestasional

Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya.Hiperglikemia terjadi
akibat sekresi hormon-hormon plasenta. Semua wanita hamil harus menjalani sekrining pada
usia kehamilan 24 hingga 27 minggu untuk mendeteksi kemungkinan diabetes. Walaupun begitu,
banyak wanita yang mengalami diabetes gestasional ternyata dikemudian hari akan menderita
diabetes tipe II (Smeltzer & Suddart, 2002).
e.

Diabetes tipe lain

Yang dimaksud diabetes tipe lain adalah diabetes yang tidak termasuk tipe I atau tipe II yang
disebabkan oleh kelainan tertentu. Misalnya, diabetes yang timbul karena kenaikan hormonehormon yang kerjanya berlawanan dengan insulin atau hormon-hormon kontra insulin.Misalnya
diabetes yang muncul karena kelebihan hormone tiroid (Kariadi, 2009).

Menurut C. Long (1989) menyebutkan bahwa klasifikasi diabetes mellitus yaitu:


a. Insulin defendant (IDDM)
Defisiensi insulin karena tidak terdapatnya sel-sel langhans biasanya berhubungan dengan tipe
HLA spesifik, predisposisi pada insulitis fenomena otoimun, cenderung ketosis,terjadi pada
semua usia, umumnya usia muda. Karakteristik IDDM yaitu adanya kebutuhan akan terapi
insulin untuk mempertahankan hidup. Karena ketergantungan yang sepenuhnya pada insulin
eksogen, penderita IDDM cenderung memiliki keadaan intoleransi glukosa yang lebih berat dan
tidak stabil.Selain itu, mereka cenderung mengalami komplikasi metabolic akut yang berupa
ketosis dan ketoasidosis.
Pada diabetes mellitus tipe I ini terjadi kerusakan sel-sel beta pangkreas yang diperkirakan
terjadi akibat kombinasi faktor genetik, imunologi dan mungkin juga karena infeksi (WHO,
2000; Smeltzer dan Bare, 2002). Sebagian besar diabetes mellitus tipe I terjadi sebelum usia 30
tahun, tetapi bisa pula terjadi pada semua usia. Faktor lingkungan seperti infeksi virus atau faktor
gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan
sel penghasil insulin.
b.

Non insulin defendant (NIDDM)

Ketosis resisten, lebih sering pada dewasa,tapi dapat terjadi pada semua umur, kebanyakan
penderita kelebihan berat badan, ada kecenderungan familial. Mungkin perlu insulin pada saat
hiperglikemik selama stress. NIDDM dapat berhubungan dengan tingginya kadar insulin yang
beredar namun memiliki reseptor insulin dan postreseptor yang tidak efektif.

2.1.2 Luka
2.1.2.1 Definisi
Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis pada organ tertentu akibat proses patologis
baik internal maupun eksternal (Lazarus et al, dalam Potter dan Perry, 2005). Berdasarkan uraian

tersebut, maka kesimpulan dari definisi lukayaitu rusak atau terputusnya kontinuitas suatu
jaringan akibat trauma, infeksimaupun akibat proses keganasan yang dapat menyebabkan fungsi
tubuh terganggusehingga aktivitas sehari-hari dapat terganggu.

2.1.2.2 Klasifikasi Luka


Luka dapat digambarkan sebagai gangguan dalam kontinuitas sel-sel kemudian diikuti dengan
penyembuhan luka yang merupakan pemulihan kontinuitas tersebut, luka dapat diklasifikasikan
kedalam dua cara : sesuai dengan mekanisme cedera dan tingkat kontaminasi .
1.

Mekanisme Cedera

luka dapat digambarkan sebagai :


a.

Luka Insisi

dibuat dengan dengan potongan bersih dengan menggunakan instrument tajam,sebagai contoh
luka yang dibuat oleh para ahli bedah dalam setiap prosedur oprasi.luka bersih biasanya ditutup
dengan jahitan setelah semua pembuluh yang berdarah diligasi dengan cermat.
b.

Luka Kontusi

Dibuat dengan dorongan tumpul dan ditandai dengan cedera berat bagian yang lunak,hemoragi
dan pembemkakan.
c.

Luka Laserasi

Adalah luka dengan tepi yang bergerigi ,tidak teratur,seperti luka yang dibuat oleh kaca atau
goresan kawat.
d.

Luka Tusuk

Diakibatkan oleh bukaan kecil pada kulit sebagai contoh,luka yang dibuat oleh peluru atau
tusukan pisau.

2.

Tingkat Kontaminasi

Luka dapat digambarkan dengan :


a.

Luka Bersih

Adalah luka bersih tidak terinfeksi dimana tidak terdapat inflamasi dan saluran
pernapasan,pencernaan atau saluran kemih yang tidak terinfeksi.luka bersih biasanya dijahit
tertutup.
b.

Luka Kontaminasi Bersih

Adalah luka bedah di mana saluranpernafasan,pencernaan atau perkemihan dimasuki dibawah


kondisi yang terkontrol,tidak terdapat kontaminasi yang tidak lazim.
c.

Luka Terkontaminasi

Mencakup luka terbuka,baru,luka akibat kecelakaan dan prosedur bedah dengan pelanggaran
dalam tekhnik aseptic atau semburan banyak dari saluran gastrointestinal.
d.

Luka Kotor atau Terinfeksi

Adalah luka dimana organisme yang menyebabkan infeksi pasca operatif terdapat dalam
Lapang operatif sebelum pembedahan.

2.1.2.3 Fisiologi Penyembuhan Luka


a.

Fase Inflamasi

Respon veskular dan selular terjadi ketika jaringan terpotong atau mengalami
cidera.vasokonstrksi pembuluh terjadi dan bekuan fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk
mengontrol perdarahan .reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti oleh
vasodilatasi venula.
b.

Fase Proliferatif

Fibroblast memperbnyak diri dan membentuk jaringan jaringan untuk sel-sel yang bermigrasi.
Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggirin luka kuncup ini berkembang menjadi
kapiler,yang merupakan sumber nutrisibagi jaringan granulasi yang baru.
c.

Fase Maturasi

Sekitar 3 minggu setelah cidera,fibroblast mulai meninggalkan luk.jaringan parut tampak


besar,sampai fibril kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat.hal ini,sejalan dengan
dehidrasi mengurangi jaringan parut tetapi meninggalkan kekuatan nya.

2.1.2.4 Bentuk bentuk Penyembuhan Luka


Dalam penatalaksanaan penyembuhan luka,luka digambarkan sebagai :
a.

Penyembuhan Melalui Intense Pertama (penyatuan primer)

Luka dibuat secara aseptik,dengan pengerusakan jaringan minimum,dan penutupan dengan baik
seperti dengan suture,sembuh dengan sedikit reaksi jaringan melalui intense pertama.
b.

Penyembuhan Melalui Intense Kedua (Granulasi)

Pada luka dimana terjadi pembentukan pus (supurasi) atau dimana tepi luka tidak saling
merapat,proses perbaikan nya kurang sederhana dan membutuhkan waktu yang lama.
c.

Penyembuhan Melalui Intense Ketiga (suture sekunder)

Jika luka dalam baik yang belum disuture atau terlepas dan kemudian disuture kembali
nantinya,dua permukaan granulasi yang berlawanan disambungkan.

2.1.2.5 Penatalaksanaan Penyembuhan Luka


Sejalan dengan luka melalui fase-fase penyembuhan,banyak elemen seperti nutrisi yang
adekuat,kebersihan,dan posisi menentukan seberapa cepat proses penyembuhan terjadi.Faktorfaktor ini dipengaruhi oleh intervensi keperawatan.

a.

Nutrisi

Kadar serum albumin rendah akan menurunkan defusi (penyebaran) dan membatasi kemampuan
netrofil untuk membunuh bakteri. Oksigen rendah pada tingkat kapiler membatasi profilerasi
jaringan granulasi yang sehat. Defisiensi zat besi dapat melambatkan kecepatan epitelisasi dan
menurunkan kekuatan luka dan kalogen. Jumlah vitamin A dan C zat besi dan tembaga yang
memadai diperlukan untuk pembentukan kalogen yang efektif. Sintesis kalogen juga tergantung
pada asupan protein, karbohidrat, dan lemak yang tepat. Penyembuhan luka membutuhkan dua

kali lipat kebutuhan protein dan karbohidrat dari biasanya dari segala usia. Malnutrisi
menyebabkan terhambatnya proses penyembuhan luka dan meningkatkan terjadinya infeksi. Hal
ini dapat timbul karena kurangnya intake nutrisi (misalnya sindrom malabsorpsi).
b.

Kebersihan diri/personal hygiene

Kebersihan diri seseorang akan mempengaruhi kebersihan luka, karena kuman setiap saat dapat
masuk melalui luka jika kebersihan diri kurang.Adanya benda asing, kotoran atau jaringan
nekrotik (jaringan mati) pada luka dapat menghambat penyembuhan luka, sehingga luka harus
dibersihkan atau dicuci dengan air bersih/Nacl 0,9% dan jaringan nekrotik pada luka dihilangkan
dengan tindakan yang disebut debrideman (debridement).
c.

Posisi

Yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka, vaskularisasi yang baik dapat mempercepat
proses penyembuhan luka, sementara daerah yang memiliki vaskularisasi kurang baik proses
penyembuhan luka akan membutuhkan waktu yang lama. Luka yang terdapat didaerah yang
relative sering bergerak proses penyembuhan lukanya akan terjadi lebih lama. Pada daerah yang
tight (tegang) penyembuhan luka akan lebih lama disbanding daerah yang loose.
d.

Usia

Meningkatnya usia secara biologi akan mempengaruhi fungsi tubuh seseorang. Proses
penyembuhan pada usia tua terhambat karena terjadinya penyakit misalnya artritis atau
keganasan dan pemakaian terapi obat-obatan. Menurunnya aktifitas dan sumber keuangan akan
menyebabkan menurunnya status nutrisi.
e.

Gangguan sensasi dan gerakan

Gangguan aliran darah yang disebabkan oleh tekanan dan gesekan benda asing pada pembuluh
darah kapiler dapat menyebkan jaringan mati pada tingkat lokal. Gerakan atau mobilisasi
diperlukan untuk membantu sirkulasi khususnya pembuluh darah balik (vena) pada ekstermitas
bawah.

2.1.2.6 Komplikasi luka


a.

Hematoma (hemarogi)

Balutan diinspeksikan terhadap hemarogi pada interval yang sering selama 24 jam setelah
pembedahan. Hemoragi ini biasanya berhenti secara spontan tetapi mengakibatkan pembekuan
didalam luka.
b.

Infeksi (sepsis luka)

Infeksi luka bedah adalah infeksi nosokomial kedua terbanyak dirumah sakit selainitu,kebersihan
dan disenfeksikan lingkungan juga penting.
c.

Dehisens dan Eviserasi

Komplikasi ini terjadi akibat jahitan terlepas,infeksi dan yang lebih sering lagi setelah batuk
yang kuat atau mengejang.

2.1.3Perawatan Luka Modern


2.1.3.1 Konsep Modern Dressing atau Metode Moisture Balance
Menurut Putra. E (2013) beberapa macam modern dreassing yaitu :

a.

Dressing berdasarkan evidence based :

Lingkungan lembab /moist berhubungan dengan beberapa pendapat dari Rove et al (1972):tanpa
proses perpanjangan fase implasi, Modden et al (1989): lebih cepat karatinocite proliferasi,
Winter (1962): lebih cepat proses migrasi, Kats et al (1991):meningkatkan proses fibrolast
proliferasi, Leipziger et al (1985):meningkatkan proses sintesis collagen gats dan Holloway:
mengurangi nyeri.
Menurut seaman (2002) dressing yang ideal adalah: mempertahankan lingkungan lembab pada
luka, menyerap eksudat, mengangkat jaringan mati. Keajaiban moist dressing: absorbent,
moisture balance, debridement, pain control, cost effective.
Ada 5 konsep kerja moist dressing: pembalut luka memberikan kelembaban (wound hydration
dressing) contoh : hydrogel, pembalut luka menjaga kelembaban (moist retentive dressing)
contoh : hydrocolloid (pasta sheat dan powder), pembalut luka penyerap cairan (exudate
management dressing ). Contoh : hydrofiber (aquacel ,caltostat,aginate dan foam), Pembalut luka
sebagai proses debridement (debridement wound). Contoh : hydrogel ,trans-parans film,ekstrak
nanas, Pembalut luka sebagai anti mikroba/bakteri. Contoh: supratulle,siver dressing,cutisorb
sorbact, curasalt, anticoat, indosorb

b.

macam produk moist dressing

1.

Memberikan kelembaban

a.

Hydrogel

Berbahan dasar gliserin atau air yang di produksi untuk memberikan kelembaban pada luka. Saat
tersedia dalam bentuk amorphous gel,sheet (lembaran ) dan impregnated dressing. Contoh
:duoderm gel,intraset gel,suprasorb G
Kelebihan yang dimiliki dressing ini: memberikan kelembaban, membantu proses autolitik
debridement, mengurangi nyeri, bisa mengisi rongga dan mudah di bersihkan, bisa mnyerap
sedikit eksudat
Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan sekunder, bisa menyebabkan maserasi di kulit
sekitar luka, dalam bentuk amorphous gel tidak bisa digunakan untuk mengatsi sinus.

2.

mempertahankan kelembaban

a.

Semi fermiabel film dressing (film)

Terbuat dari polyurethane film yang tipis, melekat pada kulit dan bisa digunakan sebagai balutan
sekunder ataupun primer.contoh : opsite,tegaderm,derma film,suprasob f,leukomed T.
Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini : permiabel untuk gas, memungkinkan terjadi nya
penguapan, impermiabel terhadap cairan dan bakteri, memudhkan melihat kondisi di balik film.
Kekurangan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak menyerap eksudat, tidak sesuai untuk luka
dengan eksudat sedang atau banyak, bila tidak hati-hati dalam melepas dapat terjadi trauma
jaringan
b.

Hydrocoloid

Bahan utama hydrocoloid adalah carboxymethylcelulose yang bersifat lentur lengket danbisa
berubah kenjadi gel.indikasi penggunaan nya adalah untuk m,empertahankan kelembaban
luka.hydrocoloid tersedia dalam bentuk sheet,pasta,dan [powder (contoh :
suprasorb,duaderm,CGH duederm extra thin,duederem pasta dll)

Kelebihan yang dimili dressing jenis ini : mempertahankan kelembaban luka, menyerap exudat
dari tingkat minimal sampai sedang,tidak tembus air, mudah mengikuti kontur tubuh atau luka,
mengurangi nyeri, bisa berfungsi efektif selama 5-7 hari tergantung pada jumlah eksudat, bisa
mengisi rongga luka.
Kekurangan yang dimiliki decreeing ini : tidak bisa digunakan pada luka infeksi terutama pada
jenis bakteri anaerob, bila menempel pada kulit yang rapuh bia menumbulkan kerusakan, tepi
dressing mudah menggulung (untuk jenis sheet), pada saat pelepasan bisa tercium bau yang
sedikit menyengat

3.

menyerap cairan (absorben)

a.

Foam

Berbahan polyurethane foam yaitu sel-sel foam yang terbuka hingga mampu menyerap eksudat
dan menahannya dengan baik tersedia dalam betuk sheet dan pengisi rongga (filter). Indikasi
pengguanaannya adalah luka dengan eksudat yang berlebihan contoh: allevyn non
adhesive,allevyn plus,suprasorb PU dll.
Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak lengket, menyerap eksudat dengan kapasitas
banyak, tahan air, membantu membentuk lingkungan luka yang lembab, tidak tembus bakteri.
Kekurangan yang di miliki dressing jenis ini : lingkungan lembab yang dibentuk oleh foam yang
tidak cukup membantu proses autolysis, sering memerlukam balutan sekunder,terutama jenis
filler
b.

Calsiun alginate

Terbuat dari polisakarida alami yang bersal dari rumput laut.memiliki efek hemostasis sehingga
mampu menghentikan perdarahan minor,tidak lengket pada permukaan luka,menyerap eksudat
dan perubahan menjadi gel kontak dengan jaringan tubuh.tersedia dalam bentuk sheet dan robe.
Contoh : kaltostat,sorbsan,curasorb,comfeel plus,dll. Inidkasinya untuk luka yang mudah
berdarah dan bereksudat
Kelebihan dreesing ini : membentuk lingkungan lebab pada luka, menyerap eksudat, mengurangi
nyeri,melembabkan syaraf syaraf tepi, jarang sekali menyebabkan alergi, digunkan untuk
mengisi rongga sinus, berefek hemostatis mudah dibersihkan.
Kekurangan dressing ini : memerlukan balutan sekunder, gel yang terbentuk sering di anggap
sebagai pus atau slough.
c.

Hidrofiber

Terbuat dari serat carboxymethylcellulose yang mampu menyerap banyak eksudat dan berubah
menjadi gel sehingga tidak menimbulkan trauma jaringan saat penggantian balutan contoh :
aquacel
Kelebihan dressing ini : mempertahankan lingkungan lembab pada luka, menahan cairan di
dalam dressing sehingga tidak menimbulkan maserasi, bisa digunakan pada luka infeksi, lebih
menyerap di banding alginate, tidak terjadi trauma jaringan pada saat pelepasan, bisa bertahan
diluka sampai 7 hari (tergantung banyaknya eksudat).
Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan sekunder, sering menimbulkan keracunan dengan
pus/slogh bisa sudah bercampur dengan eksudat.

4.

proses debridement

a.

Hydrogel

Berbahan dasar gliserin atau air yang di produksi untuk memberikan kelembaban pada luka.saat
tersedia dalam bentuk amorphous gel, sheet (lembaran) dan impregnated dressing.contoh
:duoderm gel,intraset gel,suprasorb G
Kelebihan yang dimiliki dressig ini: memberikan kelembaban, membantu proses autolitik
debridement, mengurangi nyeri, bisa mengisi rongga dan mudah di bersihkan, bisa mnyerap
sedikit eksudat.
Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan sekunder, bisa meneyebabkan maserasi di kulit
sekitar luka, dalam bentuk amorphous gel tidak bisa digunakan untuk mengatsi sinus
b.

Semi fermiabel film dressing (film)

Terbuat dari polyurethane film yang tipis, melekat pada kulit dan bisa digunakan sebagai balutan
sekunder ataupun primer.contoh : opsite,tegaderm,derma film,suprasob f,leukomed T.
Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini : permiabel untuk gas, memungkinkan terjadi nya
penguapan, impermiabel terhadap cairan dan bakteri, memudahkan melihat kondisi di balik film.
Kekurangan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak menyerap eksudat, tidak sesuai untuk luka
dengan eksudat sedang atau banyak, bila tidak hati-hati dalam melepas dapat terjadi trauma
jaringan.

5.

anti mikroba/kuman/ bakteri

a.

Tulle gras

Berbahan katun atau rayon yang diisi dengan paraffin lembut.beberapa tipe tulle gras,slain di isi
paraffin juga di isi dengan anti septic dan anti biotic.digunakan secara luas untuk luka-luka
superficial akut . contoh : bactigrass, supratule,daryatule.
Kelebihan dressing ini : memberikan kelembaban pad luka, paraffin yang ada mengurangi
pelengketan pada luka
Kekurangan dressing ini: tidak menyerap eksudat, memerlukan balutan sekunder, jaringan
granulasi bisa masuk ke jaringan jaringan, dressing dengan isi antiseptic atau antibiotic tidak
lagi di rekomendasikan karena masalah sensivitas dan resistensi pada bakteri.
b.

Antimikroba dressing

Penggunaan antibiotic yang berlebihan menjadi pisau bermata dua bagi pengguanaan
nya.kecenderungan resistensi bakteri terhadap antibiotic sangat meresahkan para professional
dibandingkan kesehatan yang berkembang pesat telah mengemukakan dressing anti mikroba
dengan system slow release
c.

Silver

Silver sudah digunakan sejak lama dalam perawatan luka karena kemampuannya untuk
membunuh kuman.silver yang di lepas ke area yang lembab bisa meningkatkan kecepatan
reepithelisasi sekitar 40 % di banding dengan antibiotic .penggunaan silver dressing di batasi 2-4
minggu contoh : aquasel silver,anticoat.

d.

Cadexomer iodine

Mengandung 0,9 % iodine dan beraksi slow release (lepas pelan pelan) di dalam luka
kandungan cadexomer di dalamnya membuat cadexoder iodine bisa menyerap ekudat dan di saat
bersamaan melepas iodine sedikit demi sedikit secara perlajhan lahan .aplikasi maksimum di
suatu waktu adalah 50 mg dan tidak lebih dari 150 mg dalam 1 minggu contoh : iodosorb.
e.

Hypertonic saline impregnated

Kasa yang diisi dengan saline hypertonis dalam bentuk kering (Kristal) atau basah (cairan).cairan
hipertonis ini membuat dressing bisa di bersihkan luka melalui aksi osmotic dengan cara
membuang jaringan nekrotik dan eksudat purulen. Indikasi penggunaaan nya untuk luka-luka
nekrotik yang lembab,bereksudat banyak serta luka terinfeksi . contoh : curasalt.
Kelebihan : agresif debridement (support autolysis), mengurangi bau, mempertahankan
kelembaban luka, menyerap eksudat, dilaporkan efektif untuk mengurangi jaringan hiper
granulasi
Kekurangan : bisa menyebabkan rasa tidak nyaman(perih), memerlukan pergantian yang lebih
sering, memerlukan dressing sekunder, tidak direkomendasikan untuk luka yang mudah berdarah
f.

Hydrofobik

Terbuat dari katun yang dilapisi bahan aktif dialkycar-bamoilcloride yang bersifat hydrophobic
kuat.sifat ini sama dengan karakteristik bakteri sehingga mereka saling berikatan secara fisika
dan dengan pergantian dressing bakteri yang ada di permukaan luka jhuga akan terangkat
.dressing ini di gunakan pada luka bersih terkontainasi atau luka terinfeksi dengan eksudat
contoh : cutisorb sorbact

Sri Haryati dkk (2009) dalam jurnal Modern Dressing Improve the Healing Process in Diabetik
Wound mengemukakan :
Perawatan luka yang diberikan pada pasien harus dapat meningkatkan proses perkembangan
luka.Perawatan yang diberikan bersifat memberikan kehangatan dan lingkungan yang lembab
pada luka Kondisi yang lembab pada permukaan luka dapat meningkatkan proses perkembangan
perbaikan luka, mencegah dehidrasi jaringan dan kematian sel. Kondisi ini juga dapat
meningkatkan interaksi antara sel dan faktor pertumbuhan. Olehkarena itu balutan harus bersifat
menjaga kelembaban dan mempertahankan kehangatan ada luka.menjaga kelembaban dan
kehangatan area luka.Jenis balutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Alginet,Hidrofiber, Hidrogel. Pada luka dengan exudasi sedang sampai tinggi dan luka basah
dengan terowongan yang dalam digunakan Alginet.Sedangkan pada luka yang basah dan luka
yang cenderung kering digunakan Hidrogel. Gel yang terbentuk pada luka mudah dibersihkan
dan dapat memberikan lingkungan yang lembab pada luka. Kondisi ini dapat meningkatkan
proses angiogenesis, proliferasi sel, granulasi dan epitelisasi.
(Rachma Nurullya & Megah Andriany.2013,dalam jurnal Penggunaan Pembalut Herbal
Sebagai Absorbedpada Modern Dressing) mengemukakan :
Pada teknik perawatan luka modern,luka dipertahankan dalam kondisi lembab(Miguel et. al,
2007). Kondisi ini didasarkan teori antara lain : terbentuk pada luka kronis yang dapat
dihilangkan lebih cepat oleh netrofil dan selendotel dalam suasana lembab, mempercepat
angiogenesis, karena keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan merangsang
pembentukan pembuluh darah lebih cepat, menurunkan resiko infeksi,kejadian infeksi relatif
lebih rendah daripada perawatan tipe kering, mempercepat pembentukan growth factor yang
berperan untuk membentuk stratumcorneum dan angiogenesis, yang produksinya akan lebih
cepat pada suasanalembab, mempercepat pembentukan sel aktif, karena invasi netrofil yang
diikuti, oleh makrofag, monosit dan limfosit ke daerah luka berfungsi awal dalam suasana
lembab.

Pemilihan balutan pada teknik perawatan luka modern harus memenuhisyarat. Syarat-syarat
tersebut antara lain dapat menyerap cairan yang dikeluarkanmluka (absorbing), mampu
mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi resikoterjadinya kontaminasi mikroorganisme
(non viable tissue removal), meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (woundrehydration),
melindungi dari kehilangan panas tubuh akibat penguapan, dan kemampuan sebagai sarana
pengangkat atau pendistribusian antibiotik ke seluruhbagian luka (Hartman, 1999;
Ovington,1999 dalam Agustina, 2010).Perawat harus dapat menentukan jenis balutan yang
sesuai dengan kondisi lukaklien.Kondisi luka dengan eksudat yang banyak, tentunya
membutuhkan balutandengan daya serap yang tinggi sekaligus berfungsi sebagai antibiotik.
Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan pembalut herbal sebagai
absorbed pada modern dressing untuk luka akibat diabetes mellitus.

2.1.3.2 Balutan Modern


Kemajuan ilmu pengetahuan dalam perawatan luka telah mengalami perkembangan yang sangat
pesat.Hal ini tidak terlepas dari dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.Perkembangan ilmu tersebut dapat dilihat dari banyaknya inovasi terbaru dalam
perkembangan produk bahan pembalut luka modern.Bahan pembalut luka modern adalah produk
pembalut hasil teknologi tinggi yang mampu mengontrol kelembapan disekitar luka.Bahan
balutan luka modern ini di disesuaikan dengan jenis luka dan eksudat yang menyertainya.
Menurut Briant (2007), Jenis-jenis balutan luka yang mampu mempertahankan kelembaban
antara lain:
a. Alginat
Alginat banyak terkandung dalam rumput laut cokelat dan kualitasnya bervariasi.Polisakarida ini
digunakan untuk bahan regenerasi pembuluh darah, kulit, tulang rawan, ikatan sendi dan
sebagainya. Apabila pembalut luka dari alginat kontak dengan luka, maka akan terjadi infeksi
dengan eksudat, menghasilkan suatu jel natrium alginat. Jel ini bersifat hidrofilik, dapat ditembus
oleh oksigen tapi tidak oleh bakteri dan dapat mempercepat pertumbuhan jaringan baru.Selain itu
bahan yang berasal dari alginat memiliki daya absorpsitinggi, dapat menutup luka, menjaga
keseimbangan lembab disekitar luka, mudah digunakan bersifat elastis.antibakteri, dan
nontoksik.
Alginat adalah balutan primer dan membutuhkan balutan sekunder seperti film
semipermiabel,foam sebagai penutup. Hal ini disebabkan karena balutan ini menyerap eksudat,
memberi kelembaban, dan melindungi kulit di sekitarnya agar tidak mudah rusak.Untuk
memperoleh hasil yang optimal balutan ini harus diganti sekali sehari.Balutan ini dindikasi untuk
luka superfisial dengan eksudat sedang sampai banyak dan untuk luka dalam dengan eksudat
sedang sampai banyak sedangkan kontraindikasinya adalah tidak dinjurkan untuk membalut luka
pada luka bakar derajat III.
b. Hidrogel
Hidrogel tersedia dalam bentuk lembaran (seperti serat kasa, atau jel) yang tidak berperekat yang
mengandung polimer hidrofil berikatan silang yang dapat menyerap air dalam volume yang
cukup besar tanpa merusak kekompakkan atau struktur bahan. Jel akan memberi rasa sejuk dan
dingin pada luka, yang akan meningkatkan rasa nyaman pasien. Jel diletakkan langsung diatas
permukaan luka, dan biasanya dibalut dengan balutan sekunder (foam atau kasa) untuk menyerap
eksudat, memberi kelembaban, dan melindungi kulit di sekitarnya agar tidak mudah rusak.Untuk
memperoleh hasil yang optimal balutan ini harus diganti sekali sehari.Balutan ini dindikasiuntuk
luka superfisial dengan eksudat sedang sampai banyak dan untuk luka dalam dengan eksudat
sedang sampaibanyak sedangkan kontraindikasinya adalah tidak dinjurkan untuk membalut luka
pada luka bakar derajat III.

c. Foam Silikon Lunak


Balutan jenis ini menggunakan bahan silikon yang direkatkan, pada permukaan yang kontak
dengan luka.Silikon membantu mencegah balutan foam melekat pada permukaan luka atau
sekitar kulit pada pinggir luka.Hasilnya menghindarkan luka dari trauma akibat balutan saat
mengganti balutan,dan membantu proses penyembuhan. Balutan luka silikon lunak ini dirancang
untuk luka dengan drainase dan luas.
d. Hidrokoloid
Balutan hidrokoloid bersifatwater-lovingdirancang elastis dan merekat yang mengandung jell
seperti pektin atau gelatindan bahan-bahan absorben atau penyerap lainnya. Balutan hidrokoloid
bersifat semipermiabel, semipoliuretan padat mengandung partikel hidroaktif yang akan
mengembang atau membentuk jel karena menyerap cairan luka. Bila dikenakan pada luka,
drainase dari luka berinteraksi dengan komponen-komponen dari balutan untuk membentuk
seperti
jel yang menciptakan lingkungan yang lembab yang dapat merangsang pertumbuhan jaringan sel
untuk penyembuhan luka. Balutan hidrokoloid ad Hasilnya menghindarkan luka dari trauma
akibat balutan saat mengganti balutan, dan membantu proses penyembuhan. Balutan luka silikon
lunak ini dirancang untuk luka dengan drainase dan luas.Balutan jenis ini biasanya diganti satu
kali selama 5-7 hari, tergantung pada metode aplikasinya, lokasi luka, derajat paparan kerutankerutan dan potongan-potongan, dan inkontinensia. Balutan ini diindikasi kan pada luka pada
kaki, luka bernanah, sedangkan kontraindikasi balutan ini adalah tidak digunakan pada luka yang
terinfeksi.
e. Hidrofiber
Hidrofiber merupakan balutan yang sangat lunak dan bukan tenunan atau balutanpita yang
terbuat dari serat sodium carboxymethylcellusole, beberapabahan penyerap sama dengan yang
digunakan pada balutan hidrokoloid. Komponen-komponen balutan akan berinteraksi dengan
drainase dari luka untuk membentuk jel yang lunak yang sangat mudah dieliminasi dari
permukaan luka. Hidrofiber digunakan pada luka dengan drainase yang sedang atau banyak, dan
luka yang dalam dan membutuhkan balutan sekunder.Hidrofiber dapat juga digunakan pada luka
yang kering sepanjang kelembaban balutan tetap dipertahankan (dengan menambahkan larutan
normal salin). Balutan hidrofiber dapat dipakai selama 7 hari, tergantung pada jumlah drainase
pada luka
(Briant, 2007)

2.2

Landasan Teori

Diabetes militus (DM) adalah suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Berkembangnya komplikasi
makrovaskuler,mikrovaskuler dan neurologis.Diabetes militus digolongkan sebagai penyakit
endrokrin atau hormonal karena gambaran produksi atau penggunaan insulin (C. Long, 1996).
Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis pada organ tertentu akibat proses patologis
baik internal maupun eksternal (Lazarus et al, dalam Potter dan Perry, 2005).
Bahan pembalut luka modern adalah produk pembalut hasil teknologi tinggi yang mampu
mengontrol kelembapan disekitar luka.Bahan balutan luka modern ini di disesuaikan dengan
jenis luka dan eksudat yang menyertainya.
Sifat-sifat balutan luka modern yaitu memberikan kelembapan, mempertahankan kelembapan,
menyerap cairan (absorben), proses debridement, dan anti mikroba.

2.3. Kerangka konsep


Faktor-faktor :

Nutrisi

Kebersihan

Posisi

Usia

Gangguan sensasi dan gerakan

Luka DM

2.5. Pertanyaan penelitian


Bagaimana gambaran perawatan luka modern terhadap luka diabetik?

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian merupakan strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan
dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh penelitian. Penelitian ini
menggunakan desain deskriptif observasional. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode

penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat suatu gambaran tentang suatu
keadaan secara objektif (Setiadi, 2013).Sedangkan menurut Notoadmojo (2010) penelitian survei
deskriptif dilakukan untuk melihat gambaran atau mendeskrifkan suatu fenomena yang terjadi
didalam masyarakat berupa sekelompok penduduk ataupun yang tinggal didalam komunitas.
Desain ini dipilih karena peneliti bertujuan melihat gambaran perawatan luka modern pada luka
diabetik di RSUAM Bandar Lampung secara apa adanya tanpa manipulasi data.

3.2 Populasi dan Sempel


3.2.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini berdasarkan jumlah seluruh pasien diabetes mellitus yang terdaftar
di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Bandar Lampung.
3.2.2 Sempel Penelitian
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Setiadi,2013). Sampel pada penelitian ini adalah sebagian dari
seluruh pasien diabetes mellitus yang mengalami luka diabetik dan terdaftar di Rumah Sakit
Umum Daerah Abdoel Moeloek Bandar Lampung.
Dalam menentukan sempel peneliti menggunakan rumus :

n=

n
1+N (d2)

Keterangan :
N = Besar populasi
n = Besar sampel
d = tingkat kebergayaan yang diinginkan

3.3 Tempat Penelitian


Lokasi penelitian dilaksanakan di ruang Kenanga Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek
Bandar Lampung.Peneliti memilih RSAM sebagai objek dalam penelitian dikarenakan RSAM
merupakan rumah sakit umum di provinsi lampung yang mempunyai jumlah pasien diabetes
mellitus dengan luka kronik terbanyak.

3.4 Pengumpulan Data


4.6.1 Sumber Data
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh sendiri oleh peneliti dari hasil pengukuran,
pengamatan, survey dan lain-lain (Setiadi, 2013).Data primer penelitian ini diperoleh dari

pengamatan dan pengukuran status luka diabetik sebelum dan sesudah dilakukan perawatan luka
modern.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, badan/instansi yang secara rutin
mengumpulkan data (Setiadi, 2013). Data sekunder penelitian ini berupa data pasien diabetes
mellitus yang terdaftar di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Bandar Lampung.

3.5 Definisi Operasional


Desain operasional merupakan penjelasan semua variabel dan istilah yang digunakan dalam
penelitian secara operasional sehingga akhirnya mempermudah pembaca dalam mengartikan
makna penelitian (Setiadi, 2013).
a.

Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa
dalam darah (hiperglikemi) akibat ketidak mampuan pankreas untuk mengendalikan hormon
insulin.
b.

Luka

Luka adalah rusaknya jaringan tubuh akibat trauma, infeksi maupun keganasan suatu penyakit
yang dapat menyebabkan fungsi tubuh terganggu.
c.

Perawatan Luka Modern

Perawatan luka modern adalah teknik perawatan luka dengan menciptakan kondisi lembab pada
luka

3.5.1 Variabel Penelitian


Variabel adalah karakteristik yang diamati yang mempunyai variasi nilai dan merupakan
operasionalisasi dari suatu konsep agar dapat diteliti secara empiris atau ditentukan tingkatannya
(Setiadi, 2013).Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel
terikat.
a.

Variabel Bebas

Adalah variabel yang bila ia berubah akan mengakibatkan perubahan variabel yang lain. Dalam
penelitian ini variabel bebasnya adalah peraawatan luka modern.
b.

Variabel Terikat

Adalah variabel yang berubah akibat perubahan variabel bebas.Dalam penelitian ini variabel
terikatnya adalah luka diabetik.

3.6 Pengelolaan Data


Pengelolaan data dilakukan melalui beberapa tahapan
1.

Pengeditan data (Editing)

Tahap ini dilakukan untuk memastikan kelengkapan, kejelasan pengisian, relevansi, dan
konsistensi jawaban atau instrumen (kuesioner) sehingga dapat meminimalkan kesalahan agar
data yang diterima dapat diolah dan dianalisis dengan baik.

Peneliti mulai melakukan pengeditan data sejak pengumpulan kuesioner dari responden.Setiap
pertanyaan dipastikan telah terisi dengan benar tanpa ada yang tertinggal.Uji validitas dan
realibilitas juga dilakukan sebelumnya agar relvansi antara pertanyaaan yang satu dengan yang
lainnya dapat dipastikan berkaitan.
2.

Pemberian Kode (Codding)

Kegiatan memberikan kode pada semua data.Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam
memasukkan, pengolahan dan analisis data. Peneliti memberikan kode pada setiap
pertanyaaan dengan menggunakansoftware komputer. Pemberian kode tersebut diikuti oleh
pemberian recode pada beberapa point pertanyaan agar data yang terkumpul dapat disimpulkan
hasilnya sesuai dengan tujuan penelitian.
3.

Membersihkan Data (Cleaning)

Kegiatan memeriksa data kembali dan dipastikan telah bersih dari kesalahan sehingga siap untuk
diolah dan dianalisis. Penelitian memastikan data yang akan diolah bersih dari kesalahan. Saat
memeriksa kembali data yang telah dimasukkan kedalah software komputer peneliti tidak
menemukan adanya kesalahan data yang telah dimasukkan.
4.

Penetapan Skor (Scoring)

Kegiatan ini dilakukan untuk menetapkan nilai atau skor untuk setiap pertanyaan dalam
kuesioner sesuai dengan kategori yang telah ditetapkan.Penetapan skor dilakukan dengan
menggunakan software komputer.
5.

Pengolahan Data (Processing )

Kegiatan memasukkan data ke komputer untuk dilakukan pengelolaan


melaui softwaere komputer. Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses untuk
memperoleh suatu data atau data ringkasan berdasarkan suatu kelompok data mentah
menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan.

3.7 Metode Analisa Data


Peneliti menggunakan analisis statistik deskriptif untuk menjelaskan dan mendeskripsikan
karakteristik variabel penelitian. Hasil dari analisis statistik deskriptif ini akan mengetahui
gambaran perawatan luka modern pada luka diabetik di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel
Moeloek Bandar Lampung. Data-data yagn disajikan meliputi frekwensi, proporsi dan ratio,
ukuran pemusatan (mean, median, dan modus) atau ukuran-ukuran variasi (simpangan, varians,
rentang, dan kuartil).

3.8 Jadwal Kegiatan


KEGIATAN

1.

Pengajuan judul

2. Konsultasi dan
perbaikan BAB I
3. Konsultasi dan
perbaikan BAB II

OKTOBER

NOVEMBER DESEMBER

Minggu ke-

Minggu ke-

1 2

X
X X
X X

Minggu ke4

4. Konsultasi dan
perbaikan BAB III

3.9 Dana Penelitian


NO URAIAN

JUMLAH
(Rp)

Cetak proposal

Rp.1.000.000,-

Transportasi

Rp.5.000.000,-

Perbaikan dan refisi proposal

RP. 500.000,-

Pengurusan izin penelitian

Rp.10.000.000,-

Pengolahan data

Rp. 2.000.000,-

Laporan hasil penelitian

Rp. 8.000.000,-

TOTAL

Rp.17.500.000,-

DAFTAR PUSTAKA

C. Smeltzer Suanne & G. Bare Brenda.(2002).Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EGC

Kariadi Sri Hartini KS.(2009).Diabetes? Siapa Takut.Bandung:Qanita


C. Long Barbara.(1996).Keperawatan Medikal Bedah.Bandung:Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Padjajaran

Sinaga,Mediana& Tarigan,Rosiana.2012.Penggunaan Bahan Perawatan Luka: 2-3.

Witanto,Daniel.,Handoko,Yudhi.,Sandy.dkk.2007.Gambaran Umum Perawatan Ulkus


Diabetikum pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Imanuel Bndung: 1-2.

Abidin,Khourul Risa.,Suriadi &Ardiningsih,Utami.2013.Faktor Penghambat Proses Poliferasi


Luka Diabetik Foot Ulcer pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Klinik Kitamura Pontianak:
3-5.

Diposkan oleh rizky pranata di 20.19