Anda di halaman 1dari 4

TAKDIR DALAM PANDANGAN FAKHR AL-DIN AL-RAZI

Pengklasifikasian al-Razi terhadap pandangan para ulama


sebelumnya yang memegang pendapat mengenai keterbatasan
manusia dalam perbuatannya. Pertama, mereka yang meyakini
bahwa terjadinya suatu perbuatan tergantung pada faktor penyebab
(al-di) yang ada bersamaan dengan kekuatan manusia pada saat
melakukan perbuatan. Al-Razi memasukkan Abu al-Husain al-Basri
dalam kategori ini meskipun sebagai seorang Muktazilah Abu alHusain mempertahankan pandangan yang menyatakan bahwa
perbuatan manusia tergantung pada diri manusia tersebut. Posisi ini
dipegang oleh mayoritas filosof.
Kedua, mereka yang meyakini bahwa perbuatan merupakan
hasil dari perpaduan antara kekuatan Tuhan dan manusia. Ini
merupakan posisi Abu Ishaq al-Isfaraini.
Ketiga, mereka yang berpendapat bahwa segala perbuatan,
apakah baik atau buruk, merupakan perbuatan Tuhan. Namun
demikian apa yang menjadikan perbuatan baik atau buruk ialah
inisiatif manusia. Posisi ini disokong oleh Abu Bakr al-Baqillani.
Keeempat, mereka yang memegang pendapat bahwa manusia
tidak memiliki pengaruh apakah dalam melakukan atau merubah
perbuatan. Tuhanlah yang menciptakan perbuatan dan kemampuan
manusia

yang

berkaitan

dengan

perbuatan

tersebut.

Al-Razi

menyandarkan pandangan ini pada al-Asyari.


Di samping klasifikasi di atas al-Razi juga mengklasifikasi
pandangan

Muktazilah

mempertahankan

kepada

bahwa

dua

bagian:

pengetahuan

pertama,

mengenai

yang

kebebasan

manusia ialah bersifat darr (tidak membutuhkan pemikiran).


Kedua, mereka yang mempercayai bahwa pengetahuan tersebut
bersifat demonstratif (membutuhkan pemikiran lebih lanjut).1
Al-Razi mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari
manusia banyak hal yang berada di luar pengetahuan manusia atau
sesuatu yang diabaikannya seperti pergerakan dalam tubuh yang
1 Djaya Cahyadi, Takdir dalam Pandangan Fakhr Al-Din Al-Razi, (Jakarta: Fakultas
Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2011), Hlm. 62-63

tidak disadarinya. Hal ini menguatkan bahwa manusia bukanlah


penulis sejati dari kebiasaannya. Ide bahwa manusia sebenarbenarnya independen dalam perbuatannya membawa pada asumsi
bahwa ketika suatu perbuatan diinginkan oleh manusia tetapi tidak
dikehendaki Tuhan, maka tidak akan ada pilihan. Bagaimanapun
juga kehendak Tuhan akan mengalahkan kehendak manusia dan hal
ini akan menyangkal kebebasan dari kehendak manusia.2
Al-Razi juga mengemukakan faktor-faktor lingkungan dan
kepercayaan turun-temurun dalam menentukan pendirian manusia.
Diantara faktor-faktor tersebut ialah adat dan tradisi, kepercayaan
di mana ia terdidik, pendidikan, struktur psikologi, kekuatan mental,
karakteristik biologis, dan sebagainya. Menghadapi pertanyaan
meskipun seluruh faktor lingkungan ini mempengaruhi kebiasaan
manusia, bisa saja dikatakan bahwa manusia dapat merasa memiliki
kebebasan dan mampu melakukan keputusan dengan cara tertentu,
al-Razi menjawab bahwa kondisi yang juga termasuk kondisi yang
determinan tersebut adalah bahwa faktor penyebab (al-di) tidak
dapat dipertentangkan dengan hal demikian. Jika ada kesempatan
merubah keadaaan bukan berarti situasi ini berasal dari kebebasan
manusia. Hal ini dalam faktanya merupakan hasil dari beberapa
faktor determinan lainnya yang tak bisa dihindari. Menurutnya ide
yang mengatakan bahwa manusia adalah bebas sebenar-benarnya
dalam melakukan perbuatannya
manusia

merasa

mampu

ialah ilusi

melakukan

belaka.

sesuatu

Walaupun

menurut

yang

diinginkan, tetapi dalam faktanya manusia tidak berkehendak untuk


berkehendak (will to will).3
Al-Razi menolak teori penerimaan (kasab) dari al-Asyari
yang disebutnya sebagai suatu kata untuk konsep yang tanpa
makna.

Al-Razi

juga

menolak

pendapat

al-Baqillani

yang

mengatakan bahwa kemauan manusia menggolongkan perbuatan


manusia sebagai dasar bagi ketaatan ataupun kedurhakaan kepada
2 Djaya Cahyadi, Takdir ....., Hlm. 64
3 Djaya Cahyadi, Takdir ....., Hlm. 66-67

Tuhan. Dasar sanggahan al-Razi ialah bahwa manusia tidak memiliki


kemampuan untuk menciptakan atau mencegah faktor kausal (aldi) yang mendorong kepada perbuatan. Menurut al-Razi kasab
ialah objek qadar yang diciptakan dengan qadar baru atau objek
qadar yang mengganti qudrah dan penciptaan adalah objek qadar
dengan

qadar

yang

qadim,

atau

objek

qadar

yang

tidak

menggantikan qudrah.4

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka,

kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka


tidak juga akan beriman. (Q.S Al Baqarah: 6)
Al-Razi mengatakan bahwa ayat ini

menjadi

dalil

bagi

Ahlussunnah mengenai konsep bahwa manusia dapat dibebani


dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya (taklf ma la
yutq). Ini merupakan salah satu dari teori Asyariah. Ayat ini
merupakan

pemberitaan

dari

Allah

bahwa

seseorang

telah

ditentukan untuk tidak beriman. Jika seandainya orang yang telah


ditentukan tidak beriman menjadi beriman, maka akan terjadi
perubahan dalam ilmu Allah dan kesalahan dalam pemberitaan
tersebut. Perubahan dan kesalahan tersebut merupakan hal yang
mustahil bagi Allah. Maka orang yang telah ditentukan tidak
beriman tidak mungkin akan menjadi beriman. Pembebanan dalam
hal ini merupakan pembebanan (taklf) dengan sesuatu yang
mustahil. Dengan kata lain orang kafir dituntut melakukan sesuatu
yang mustahil untuk dilakukannya dikarenakan mereka telah
ditentukan tidak beriman. Hal ini berkaitan dengan ilmu Allah yang
mustahil mengalami perubahan. Al-Razi mengatakan jika ilmu Allah
mengalami perubahan maka sama saja pengetahuan itu akan
berubah menjadi ketidaktahuan atau kebodohan. Keimanan pada
seseorang mustahil terjadi jika pengetahuan Allah menetapkannya
4 Djaya Cahyadi, Takdir ....., Hlm. 68

sebagai kafir. Ilmu Allah merupakan hal yang pokok. Segala kejadian
mesti sesuai dengan pengetahuan Allah yang azali. Begitu pula
dengan

keimanan

atau

kekufuran

seseorang.

Semua

terjadi

berdasarkan ilmu Allah, sebagaimana yang terjadi pada Abu Lahab.5

5 Djaya Cahyadi, Takdir ....., Hlm. 70-71