Anda di halaman 1dari 14

HISTOLOGI II

Oleh :
Nama
: Dini Darmawati
NIM
: B1J014058
Rombongan
: VII
Kelompok
:2
Asisten
: Tarkinih

LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Histologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang
jaringan. Baik itu jaringan pada hewan maupun jaringan pada tumbuhan. Jaringan
merupakan sekelompok sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Jaringanjaringan yang berbeda dapat bekerja sama untuk suatu fungsi fisiologi yang sama
membentuk organ. Secara garis besar jaringan tumbuhan dapat dibedakan menjadi
jaringan muda (jaringan meristematik) dan jaringan dewasa (Nugroho, 2006).
Jaringan penguat merupakan jaringan yang memberikan kekuatan bagi tubuh
tumbuhan agar dapat melakukan perimbangan bagi pertumbuhannya. Berdasarkan
bentuk dan sifatnya, jaringan penguat dibedakan menjadi jaringan kolenkim dan
skelerenkim. Jaringan kolenkim tersusun atas sel yang hidup, bentuk sel memanjang,
mempunyai dinding dengan penebalan yang tidak teratur, lentur dan tidak berlignin.
Berdasarkan tipe penebalan dinding selnya kolenkim terbagi atas tiga tipe yaitu,
angular, lamelar dan tubular (Hidayat, 1995).
Jaringan pengangkut merupakan jaringan yang berperan untuk mengankut air dan
unsur hara dari akar sampai ke daun, serta mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke
seluruh bagian tumbuhan. Berdasarkan fungsinya, jaringan pengangkut terdiri atas
xilem dan floem. Xilem adalah jaringan pengangkut yang berfungsi mengangkut air
dan unsur-unsur hara dari akar sampai ke daun. Sedangkan, floem berfungsi
mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan (Karmana,
2008).
Secara umum, jaringan pada tumbuhan dibedakan menjadi jaringan pelindung
(epidermis), jaringan dasar, jaringan penguat, jaringan pengangkut dan jaringan
sekretori. Praktikum histologi II akan mengamati jaringan penguat dan jaringan
pengangkut. Preparat yang digunakan antara lain irisan melintang batang Apium
graveolens (Seledri) dan irisan melintang batang Hibiscus rosa-sinensis (Kembang
Sepatu), kedua preparat tersebut digunakan untuk melihat tipe kolenkimnya.
Sedangkan, tipe berkas pengangkut dapat dilihat dari preparat irisan melintang
batang Zea mays (Jagung) dan irisan melintang batang Cordyline sp. (Hanjuang).

B. Tujuan
Tujuan praktikum acara histologi, antara lain mampu menjelaskan tentang:

1. Struktur dan macam-macam bentuk jaringan pengangkut pada tumbuhan.


2. Struktur dan macam-macam bentuk jaringan penguat pada tumbuhan.
3.

II.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara sitologi diantaranya


mikroskop cahaya, object glass, cover glass, pipet tetes, silet, laporan sementara dan
alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan diantaranya melintang batang Apium
graveolens (Seledri), melintang batang Hibiscus rosa-sinensis (Kembang Sepatu),
melintang batang Zea mays (Jagung) dan melintang batang Cordyline sp.
(Hanjuang).
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum acara histologi I antara lain

1. Masing-masing preparat dibuat irisan atau perlakuan yang sesuai untuk


masing-masing preparat yang disediakan.
2. Untuk preparat awetan, langsung diamati di bawah mikroskop cahaya.
3. Preparat diamati di bawah mikroskop cahaya, digambar bentuk sel yang
terlihat dan diberi keterangan.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Keterangan :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

5
4

Epidermis
Klorenkim
Kolenkim
Korteks
Berkas pengangkut
Empulur

Tipe

Kolenkim

Lakuner

3
2

Gambar 1. Melintang Batang Apium graveolens Perbesaran 100x


Keterangan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

6
5

Epidermis
Klorenkim
Kolenkim
Korteks
Sklerenkim
Empulur

Tipe Kolenkim : Anguler

4
3
2
1
Gambar 2. Melintang Batang Hibiscus rosa-sinensis Perbesaran 100x

Keterangan :
5
1. Floem
4
2. Xilem
3
3. Buluh cincin
2

4. Ruang reksigen

5. Sarung
6

sklerenkim
6. Parenkim
korteks
Tipe

berkas

pengangkut
Kolateral tertutup
Gambar 3. Melintang Batang Zea mays L. Perbesaran 400x
Keterangan :
1
2

1. Floem
2. Xilem
3. Korteks
Tipe berkas
pengangkut :

Konsentris
amfivasal

Gambar 4. Melintang Batang Cordyline sp. Perbesaran 400x

B. Pembahasan
Berdasarkan fungsinya, jaringan pada tumbuhan dibedakan menjadi jaringan
pelindung (epidermis), jaringan dasar, jaringan penguat, jaringan pengangkut dan
jaringan sekretori. Jaringan penguat merupakan jaringan yang berfungsi untuk
mendukung kokohnya struktur berbagai bagian tumbuhan. Jaringan ini merupakan
jaringan sederhana, karena sel-sel penyusunnya hanya terdiri atas satu tipe sel
dan merupakan jaringan yang berperan untuk menunjang bentuk tumbuhan agar
dapat berdiri dengan kokoh. Jaringan penguat memiliki dinding sel yang tebal dan
kuat serta sel-selnya yang telah mengalami spesialisasi. Jaringan penyokong terdiri
dari jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim (Mulyani, 2006).
Kolenkim tersusun atas sel-sel hidup yang bentuknya memanjang dengan
penebalan dinding sel yang tidak merata dan bersifat plastis, artinya mampu
membentang, tetapi tidak dapat kembali seperti semula bila organnya tumbuh.
Kolenkim terdapat pada batang, daun, bagian-bagian bunga, buah, dan akar. Sel
kolenkim dapat mengandung kloroplas yang menyerupai sel-sel parenkim. Sel sel
kolenkim dindingnya mengalami penebalan dari kolenkim bervariasi, ada yang
pendek membulat dan ada yang memanjang seperti serabut dengan ujung tumpul
(Agustina, 2010).
Menurut Woelaningsih (1987), dinding sel kolenkim terdiri atas lapisan yang
berselang seling, kaya akan selulosa dengan sedikit pektin. Air dalam seluruh dinding
sel kurang lebih 67%, dinding sel kolenkim berisi 45% pektin, 35% hemiselulosa,
dan 20% selulosa. Dinding sel kolenkim petasites ini terdiri atas 7-20 lamela yang
bergantian/berseling antara lamela yang mengandung banyak seluosa dan lamela
yang mengandung sedikit selulosa. Semakin mendekati lumen sel, selulosanya
semakin banyak.
Menurut Nugroho (2006), berdasarkan tipe penebalan dindingnya, kolenkim
dibedakan menjadi beberapa macam, sebagai berikut:
1) Kolenkim sudut (angular kolenkim)
Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada sudut-sudut sel. Pada
penampang melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada tempat
bertemunya tiga sel atau lebih, seperti yang terdapat pada tangkai
Begonia sp. dan pada batang Solanum tuberosum, Hibiscus rosa-sinensis
dan Atropa belladonna.
2) Kolenkim lamela (lamelar kolenkim) atau kolenkim papan

Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada dinding tangensial


sel. Kolenkim lamela terdapat pada korteks batang Sumbucus nigra dan
tangkai Cochlearia armoracia.
3) Kolenkim lakuna (lakunar kolenkim)
Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada dinding-dinding yang
berbatasan dengan ruang antarsel. Kolenkim lakuna terdapat pada tangkai
beberapa spesies Compositae dan familia Apiaceae, misalnya Salvia,
Athaea, dan Asclepias dan pada batang Ambrosia.
4) Kolenkim cincin
Istilah ini hanya digunakan untuk tipe kolenkim yang lumen selnya
pada penampang melintang tampak melingkar. Sel tersebut disebut
knorpel-collenchyma. Pengamatan terhadap kolenkim cincin dewasa
tampak adanya penebalan dinding sel secara terus menerus sehingga
lumen sel akan kehilangan bentuk sudutnya.
Sklerenkim merupakan jaringan penyokong yang terdapat pada organ tubuh
tumbuhan yang telah dewasa. Jaringan sklerenkim tersusun oleh sel-sel mati yang
seluruh bagian dindingnya mengalami penebalan sehingga kuat. sel-sel sklerenkim
lebih

kaku

daripada

sel

kolenkim.

Selain

itu,

sel

sklerenkim

tidak

dapat memanjang. Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penguat dengan dinding


sekunder yang tebal. Umumnya, jaringan sklerenkim terdiri atas zat lignin dan tidak
mengandung protoplas. Sel-sel sklerenkim hanya dijumpai pada organ tumbuhan
yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Jaringan sklerenkim
terdiri atas serabut sklerenkim (fiber) dan sel-sel batu (sklereid) (Dartius, 1991).
Menurut Dwijoseputro (1983), serat-serat sklerenkim terdapat dalam bentuk
untaian atau dalam bentuk lingkaran. Di dalam berkas pengangkut, serat-serat
sklerenkim biasanya merupakan suatu seludang yang berhubungan dengan berkas
pengangkut atau dalam kelompok yang tersebar di dalam xilem dan floem. Seratserat sklerenkim mempunyai ukuran antara 2 mm25 cm. Beberapa spesies
tumbuhan mempunyai serat-serat sklerenkim yang bernilai ekonomis tinggi,
misalnya serat manila yang digunakan sebagai bahan dasar tali. Ada dua macam jenis
serat sklerenkim, yaitu serat ekstraxilari dan serat xilari. Serat ekstraxilari ada yang
berlignin dan ada pula yang tidak, serat ini dapat digunakan untuk membuat tali,
karung goni, dan bahan dasar tekstil untuk pakaian. Sedangkan serat xilari
merupakan komponen utama kayu karena dindingnya mengandung lignin yang
menyebabkan dindingnya keras dan kaku.

Menurut Heddy (1990) skelereid (sel-sel batu) terdapat di semua bagian


tumbuhan, terutama di dalam kulit kayu, pembuluh tapis, dalam buah atau dalam biji.
Pada tempurung kelapa (Cocos nucifera) hampir seluruhnya terdiri atas sel-sel batu.
Sel-sel batu pada buah dapat memberikan ciri khas, misalnya tekstur berpasir pada
kulit buah dan daging buah pir atau butiran seperti pasir pada daging buah jambu biji
(Psidium guajava). Dinding sklereid tersusun atas selulosa yang mengandung zat
lignin yang tebal dan keras. Pada beberapa tumbuhan, kadang-kadang ditemukan
pula zat suberin dan kutin. Sel-selnya mempunyai noktah yang sempit dan celahnya
bundar, membentuk saluran yang disebut saluran noktah. Lumen sel sangat sempit
karena adanya penebalan-penebalan dinding sel.
Menurut Tjitrosoepomo (1998) sklereid dapat dibagi empat macam :
1) Brakisklereid atau sel batu yang bentuknya hampir isodiametrik,
misalnya floem kulit kayu pohon.
2) Makrosklereid yang berbentuk batang sering ditemukan dalam kulit
biji, misalnya pada leguminosae.
3) Osteosklereid yang berbentuk tulang dengan ujung-ujungnya yang
membesar kadang-kadang sedikit bercabang.
4) Asterosklereid yang bercabang-cabang dan berbentuk bintang sering
terdapat pada daun.
5) Trikoskelereid yang berbentuk seperti astrosklerein, namun memiliki
ujung yang runcing. Jenis ini biasa ditemui di tumbuhan air.
Jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri atas sel-sel xilem dan floem,
yang membentuk berkas pengangkut (berkas vaskuler). Xilem berperan mengangkut
air dan mineral dari dalam tanah ke daun. Xilem merupakan jaringan kompleks
karena tersusun dari beberapa tipe sel yang berbeda. Penyusun utamanya adalah
trakeid dan trakea sebagai saluran pengangkut air dengan penebalan dinding sel yang
cukup tebal, sehingga xylem juga berfungsi sebagai penyokong. Xilem juga tersusun
atas serabut, sklerenkim, serta sel-sel parenkim yang hidup dan berperan dalam
berbagai kegiatan metabolisme sel. Xilem disebut juga sebagai pembuluh kayu yang
membentuk kayu pada batang. Trakeid dan trakea merupakan dua kelompok sel yang
membangun pembuluh xilem. Kedua tipe sel berbentuk bulat panjang, berdinding
sekunder dari lignin dan tidak mengandung kloroplas sehingga berupa sel mati.
Perbedaan pokok antara keduanya, adalah pada trakeid tidak terdapat perforasi
(lubang-lubang),

hanya

ada

celah

(noktah),

berupa

plasmodesmata

yang

menghubungkan satu sel dengan sel lainnya. Sedangkan pada trakea terdapat

perforasi pada bagian ujung-ujung selnya. Transport air dan mineral pada trakea
berlangsung melalui perforasi ini, sedangkan pada trakeid berlangsung lewat noktah
(celah) antar sel selnya (Sitompul & Guritno, 1995).
Floem juga merupakan jaringan kompleks, terdiri dari beberapa unsur
dengan tipe yang berbeda, yaitu buluh tapisan, sel pengiring, parenkim, serabut dan
sklereid. Penyusun floem adalah unsur tapisan yang membantu pengangkutan hasil
fotosintesis. Selain itu terdapat sel parenkim khusus, yaiu sel pengiring dan sel
beralbumin, yang berkaitan fungsinya dengan unsur tapis. Ciri khas unsur tapis
adalah adanya daerah lapisan pada dinding dan tidak adanya inti dalam protoplasma.
Daerah lapisan ditafsirkan sebagai modifikasi halaman noktah primer (Sitompul &
Guritno, 1995).
Floem primer sama dengan xylem primer yang berasal dari prokambium.
Floem primer membentuk protofloem dan metafloem yang berkembang dari
prokambium. Floem dalam batang terletak disebelah luar xylem. Namun, pada
beberapa tumbuhan paku dan beberap familia Dikotil dari spesies yang berbeda,
misalnya Asclepiadaceae, Cucurbiaceae, Myrtaceae, Apocynaceae, Convolvulaceae,
Compositae, dan Solanaceae, floem terdapat di sebelah dalam xylem (Dartius, 1991).
Menurut Woelaningsih (1987) Jaringan Floem terdiri atas unsur-unsur
sebagai berikut :
1. Pembuluh
Pembuluh terdiri dari dua bentuk yaitu sel tapisan yang merupakan sel
tunggal dan bentuknya memanjang dengan bidang tapisan terletak di
samping atau ujung sel, terdapat pada tumbuhan Pteridophyta dan
Gymnospermae. Bentuk kedua adalah buluh tapisan, terdapat pada
Angiospermae, berupa berkas sel-sel memanjang yang masing-masing
merupakan bagian dari buluh itu dan dihubungkan oleh satu atau lebih
bidang tapisan biasanya terletak di ujung sel.
2. Sel Pengiring
Sel-sel pembuluh pada Dicotyledoneae dan Monocotyledoneae
biasanya diikuti oleh sel parenkim khusus yang disebut sel pengiring. Sel
itu terbentuk dari sel induk yang sama dengan sel pembuluh. Sel intuk
itu membelah satu atau dua kali secara memanjang serta tidak sama
besar, menghasilkan sel pembuluh yang besar dan sel pengiring yang
kecil. Dinding bersama antara sel pengiring dan sel pembuluh biasanya
tipis, penuh dengan plasmodesmata. Berbeda dengan sel pembuluh, sel

pengiring ini tetap mempunyai nukleus pada waktu dewasa. Sel


pengiring

tidak

dijumpai

pada

tumbuhan

Gymnospermae

dan

Pteridophyta dan juga tidak ada pata protofloem Dicotyledoneae.


3. Parenkim Floem
Floem juga mengandung sejumlah sel parenkim yang fungsinya
serupa sel parenkim lainnya, misalnya sebagai penimbun lemak dan
tepung. Sel parenkim ini secara fungsional berintegrasi dengan sel
pengiring. Bentuk sel parenkim ini memanjang dan sumbu panjangnya
sejajar dengan sumbu berkas pengangkut. Seperti halnya pada parenkim
xilem, floem sekunder juga mempunyai dua macam bentuk parenkim
sesuai dengan bentuk sel kambium yang membentuknya (fusiform atau
jari-jari). Pada saat floem masih aktif, sel parenkim ini tidak mengalami
penebalan dinding. Kemudian bila floem itu tidak berfungsi lagi,
parenkim ini akan berubah menjadi sklerenkim atau menjadi felogen.
4. Serabut Floem
Serabut floem terdapat di floem primer maupun sekunder. Serabut ini
segera membentuk dinding sekunder setelah selesai pertumbuhan
memanjangnya. Umumnya penebalan itu berupa lignin, ada yang
selulose. Noktah yang terjadi sederhana. Serabut ini berfungsi sebagai
penguat sejak awal atau terjadi dari parenkim floem setelah sel
pembuluh tidak berfungsi lagi.
Menurut Hidayat (1995), berdasarkan letak xylem dan floem terdapat
beberapa jenis susunan berkas pembuluh, diantaranya :
1. Tipe radial yaitu pada akar, letak berkas xylem dan berkas floem
bergantian, berdampingan, dan berada pada jari-jari tubuh yang berbeda.
Berkas pengangkut tipe radial merupakan berkas pengangkut dengan
letak xylem dan floem bergantian menurut jari-jari lingkaran.
2. Tipe kolateral yaitu letak xylem dan floem berdampingan, umumnya
floem di sebelah luar xylem. Sedangkan bila antara xylem dan floem
berdampingan langsung tanpa adanya kambium disebut koleteral
terbuka. Pada tipe ini, floem dan xylem berdampingan. Ada dua tipe,
yaitu kolateral tertutup yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang
monokotil dan kolateral terbuka yang biasa terdapat pada ikatan
pembuluh batang dikotil.
3. Tipe bikolateral yaitu susunan dari luar bisa menjadi floem luar,
kambium, xylem, dan floem dalam.

4. Tipe konsentris yaitu xylem dikelilingi floem atau sebaliknya. Bila floem
mengelilingi xilem disebut konsentris amfikibral, misalnya pada batang
tumbuhan Pterydophyta, sedangkan bila xylem mengelilingi floem
disebut konsentris amfivasal, misalnya ditemukan pada beberapa dikotil.
Menurut Morrawicc (2015) selama pembentukan berkas pengangkut
konsentris amfivasal. Floem merupakan berkas pengangkut pertama
yang menyelesaikan differensiasinya.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan tipe kolenkim pada irisan
melintang batang Apium graveolens (Seledri) adalah lakuner. Hasil ini sesuai dengan
pernyataan Nugroho (2006), menurutnya penebalan dinding sel kolenkim lakuner
terjadi pada dinding-dinding yang berbatasan dengan ruang antarsel. Kolenkim
lakuner terdapat pada tangkai beberapa spesies Compositae dan familia Apiaceae,
misalnya Salvia, Athaea, dan Asclepias dan pada batang Ambrosia. Sedangkan tipe
kolenkim pada irisan melintang batang Hibiscus rosa-sinensis adalah anguler. Hasil
ini sesuai dengan pernyataan Nugroho (2006) juga, tipe kolenkim angular terdapat
pada tangkai Begonia sp. dan pada batang Solanum tuberosum, Hibiscus rosasinensis dan Atropa belladonna.
Hasil praktikum pengamatan tipe berkas pengangkut pada irisan melintang
batang Zea mays ditemukan bentuk yang sangat khas, yakni menyerupai topeng dan
tipe berkas pengangkutnya adalah kolateral tertutup. Sedangkan tipe berkas
pengangkut pada irisan melintang batang Cordyline sp. hasil ini sesuai dengan
Hidayat (1995), menurutnya tipe kolateral tertutup merupakan tipe berkas
pengangkut dimana xilem dan floem berdampingan dan tidak terdapat kambium
diantaranya. Tipe kolateral tertutup biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang
monokotil. Sedangkan konsentris amfivasal merupakan tipe dimana xilem
mengelilingi floem. Tipe konsentris amfivasal biasa terdapat di beberapa dikotil.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :


1. Jaringan penguat terdiri atas satu tipe sel dan merupakan jaringan yang
berperan untuk menunjang bentuk tumbuhan. Jaringan penguat memiliki

dinding sel yang tebal dan kuat serta sel-selnya yang telah mengalami
spesialisasi. Jaringan penguat terdiri dari jaringan kolenkim, jaringan
kolenkim dibedakan menjadi lakuner, angular dan lamelar. Sedangkan
jaringan sklerenkim dibedakan menjadi serabut sklerenkim dan sklereida.
Tipe kolenkim pada irisan melintang batang Apium graveolens yaitu tipe
kolenkim lakuner. Sedangkan tipe kolenkim pada irisan melintang batang
Hibiscus rosa-sinensis adalah anguler.
2. Jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri atas sel-sel xilem dan floem, yang
membentuk berkas pengangkut (berkas vaskuler). Berdasarkan letak xilem
dan floem terdapat beberapa tipe berkas pengangkut pada batang yaitu
kolateral, bikolateral dan konsentris. Tipe berkas pengangkut pada irisan
melintang batang Zea mays adalah kolateral tertutup, sedangkan pada irisan
melintang batang Cordyline sp. adalah konsentris amfivasal.
B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini adalah seharusnya disediakan gambar


preparat dengan referensi lain. Sehingga dalam menjelaskan kepada praktikan
akan lebih jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Tri Wahyu. 2010. Materi Pokok Ajar Anatomi Tumbuhan. Bandung:
Pendidikan Biologi
Dartius. 1991. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Medan : USU-Press.
Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia.
Heddy, S. 1990. Biologi Pertanian. Jakarta: Rajawali Press.
Hidayat Estiti . 1995. Anatomi tumbuhan berbiji. Bandung: ITB
Karmana, Oman. 2008. Biologi. Bandung: Grafindo Media Pratama.
Morawicc, Joanna Jura. 2015. Formation of Amphivasal Vascular Bundles in
Dracaena draco Stem in Relation to Rate of Cambial Activity. Journal
Trees (29) : 1493-1499
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius Yogyakarta
Nugroho, Hartanto. 2006. Struktur & perkembangan tumbuhan. Yogyakarta: Penebar
Swadaya
Sitompul, S. M. dan Guritno. B. 1995. Pertumbuhan Tanaman. Yogyakarta : UGM
Press.
Tjitrosoepomo, H.S. 1998. Botani Umum. Yogyakarta : UGM Press.
Woelaningsih, Santoso. 1987. Anatomi Tumbuhan. Jakarta: penerbit karnunika
Jakarta Universitas Terbuka.