Anda di halaman 1dari 11

Bidang Kajian

Jenis Artikel

: Pendidikan Matematika
: Hasil kajian

Model Eliciting Activities (MEA) Berbasis Etnomatematika untuk


Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah
Kharisma Ilyyana1), Rochmad2), Zaenuri Mastur3)
1)2)3)

Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang,


Pendidikan Matematika,
Jala Bendan Ngisor, Semarang
1)

creezz.reezzy@gmail.com
rachmad_manden@yahoo.com
3)
zaenuri_mastur@yahoo.co.id

2)

Abstrak
Matematika merupakan salah satu dari bidang studi yang menduduki peranan penting dalam dunia
pendidikan, karena dalam pelaksanaannya pelajaran matematika diberikan di semua jenjang pendidikan
dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Salah satu tujuan dari pembelajaran matematika adalah
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah salah satunya adalah Model Eliciting Activities (MEA). Pembelajaran MEA merupakan
pembelajaran yang didasarkan pada situasi kehidupan nyata peserta didik, bekerja dalam kelompok kecil
dan menyajikan sebuah model matematika sebagai solusi. Pembelajaran MEA membiasakan peserta didik
dengan proses siklis dari pemodelan: menyatakan, menguji, dan meninjau kembali. Etnomatematika
merupakan salah satu ide memadukan pembelajaran matematika dengan budaya lokal, sehingga akan
tercipta pembelajaran yang bermakna dan pemahaman peserta didik dapat maksimal karena dikaitkan
dengan dunia nyata.
Kata Kunci Model Eliciting Activities, Etnomatematika, Pemecahan Masalah

A. Pendahuluan
Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa memiliki keanekaragaman
budaya (adat istiadat, bahasa, kesenian, kerajinan, makanan khas, dan lain-lain). Ciri khas
tersebut memperkaya nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu,
keanekaragaman tersebut harus dilestarikan dan dikembangkan dengan tetap
mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia melalui upaya pendidikan sehingga
budaya-budaya tersebut tidak luntur.
Pengenalan keadaan lingkungan, sosial dan budaya kepada peserta didik, khususnya
budaya lokal dapat mengakrabkan mereka dengan lingkungannya. Pengenalan dan
pengembangan lingkungan melalui pendidikan diarahkan untuk menunjang peningkatan
kualitas sumber daya manusia, dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam
pembelajaran pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan akademik peserta didik
khususnya pada pembelajaran matematika.
Matematika merupakan salah satu dari bidang studi yang menduduki peranan penting
dalam dunia pendidikan, karena dalam pelaksanaannya pelajaran matematika diberikan di
semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Salah satu tujuan dari
pembelajaran matematika adalah mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.
Menurut Gagne, sebagaimana yang dikutip oleh Suherman (2003) mengemukakan bahwa

keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat dikembangkan melalui pemecahan masalah.


Krulik dan Rudnik, sebagaimana yang dikutip oleh Carson (2007), mendefinisikan
pemecahan masalah sebagai individu yang menggunakan pengetahuan, keterampilan dan
pemahaman yang mereka miliki untuk memenuhi sebuah tuntutan dari situasi yang tidak
biasa.
Guru mempunyai peranan penting dalam mewujudkan tercapainya tujuan
pembelajaran matematika. Menurut Adams & Hamm, sebagaimana yang telah dikutip oleh
Wijaya (2012), cara dan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh pandangan guru
terhadap matematika dan peserta didik dalam pembelajaran. Seorang guru bukan hanya
memberikan pengetahuan kepada peserta didik, namun guru harus mampu menciptakan
kondisi dan situasi yang memungkinkan pembelajaran berlangsung secara aktif. Oleh karena
itu, guru harus mampu mengembangkan serta menerapkan suatu model pembelajaran yang
tepat dalam pembelajaran matematika. Yang akan dikembangkan adalah pengembangan
perangkat pembelajaran matematika dengan pembelajaran Model Eliciting Activities (MEA)
berbasis etnomatematika.
Salah satu pembelajaran yang menuntut adanya interaksi peserta didik dalam
kelompok adalah MEA. Pembelajaran MEA merupakan pembelajaran yang didasarkan pada
situasi kehidupan nyata peserta didik, bekerja dalam kelompok kecil dan menyajikan sebuah
model matematika sebagai solusi. MEA yaitu model pembelajaran matematika untuk
memahami, menjelaskan, dan mengkomunikasikan konsep-konsep matematika yang
terkandung dalam suatu sajian permasalahan melalui pemodelan matematika. Hasil
penelitian Yu & Chang (2009), menyatakan bahwa MEA ini berguna untuk meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah peserta didik.
Chamberlin & Moon (2008), menyatakan bahwa penciptaan model matematika
membutuhkan suatu konsep yang kuat tentang pemahaman masalah sehingga dapat
membantu peserta didik mengungkapkan gagasan mereka. Pembelajaran MEA
membiasakan peserta didik dengan proses siklis dari pemodelan: menyatakan, menguji, dan
meninjau kembali.
Menurut Orey (2006), konsep pembelajaran berbasis etnomatematika merupakan
pembelajaran kontekstual dengan mengembangkan aspek yang dipilih dari pengalaman
peserta didik atau dari lingkungan mereka sendiri karena sebagai paradigma dari budaya,
sedangkan menurut Knijnik (1994), matematika merupakan pengetahuan kebudayaan yang
tumbuh dan berkembang untuk menghubungkan kebutuhan-kebutuhan manusia, yang
dikenal sebagai etnomatematika. Dari penjelasan tersebut, etnomatematika merupakan salah
satu ide memadukan pembelajaran matematika dengan budaya lokal, sehingga akan tercipta
pembelajaran yang bermakna dan pemahaman peserta didik dapat maksimal karena
dikaitkan dengan dunia nyata.
Dari penjelasan di atas, muncul permasalahan: (1) bagaimana pengembangan
perangkat pembelajaran MEA berbasis etnomatematika untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah dan karakter cinta tanah air pada materi segiempat kelas VII?, (2)
apakah hasil pengembangan perangkat pembelajaran MEA berbasis etnomatematika untuk
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan karakter cinta tanah air pada materi
segiempat kelas VII valid?, (3) apakah perangkat pembelajaran MEA berbasis
etnomatematika untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan karakter cinta
tanah air pada materi segiempat kelas VII praktis?, (4) apakah pembelajaran matematika

MEA berbasis etnomatematika untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan


karakter cinta tanah air pada materi segiempat kelas VII efektif?
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengembangkan perangkat pembelajaran MEA berbasis etnomatematika untuk
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan karakter cinta tanah air pada materi
segiempat kelas VII, menghasilkan perangkat pembelajaran MEA berbasis etnomatematika
untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan karakter cinta tanah air pada
materi segiempat kelas VII yang valid, menganalisis kepraktisan penggunaan perangkat
pembelajaran MEA berbasis etnomatematika untuk meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah dan karakter cinta tanah air pada materi segiempat kelas VII, dan Menganalisis
keefektian pembelajaran MEA berbasis etnomatematika untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah dan karakter cinta tanah air pada materi segiempat kelas VII.
B. Pembahasan
Artikel ini membahas tulisan-tulisan yang mendukung permasalahan yang
dirumuskan di atas. Diawali dengan beberapa kajian tentang teori belajar yang mendukung
penelitian.
Perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatankegiatan sosial budaya. Vygotsky (Zevenbergen, et al, 2004) mengatakan bahwa peran guru
adalah mengidentifikasi keadaan peserta didik pada saat sekarang dan nanti menggunakan
pertanyaan-pertanyaan, diskusi atau dalam situasi pembelajaran. Keadaan peserta didik saat
berpikir akan terlihat Zone of Proximal Development (ZPD) dan guru akan membantu
peserta didik yang disebut dengan scaffolding.
ZPD adalah daerah dimana seorang peserta didik dapat megerjakan tugasnya tanpa
bantuan (perkembangan aktual) dan dimana peserta didik dapat mengerjakan tugas dengan
arahan dari guru, teman atau orang orang lain (perkembangan potensial). Pada tahap ini
terlihat pada peserta didik yang meiliki kemandirian dalam belajar. Bantuan atau arahan
yang diberikan (scaffolding) berupa pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan
peserta didik untuk berdiskusi dengan temantemannya, guru hanya memberikan arahan dan
fasilitator.
Teori aliran ini adalah David P. Ausubel. Menurut David P. Ausubel sebagaimana
dikutip oleh Suherman (2003) dikenal dengan teori belajar bermakna. Ia menekankan
pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai. Pada belajar menghafal, peserta didik
menghafalkan materi yang diperolehnya. Namun belajar bermakna merupakan
pengembangan dari materi yang telah diperoleh sehingga belajarnya lebih dimengerti.
Model Eliciting Activities (MEA)
Model Eliciting Activities (MEA) secara estimologi dapat dikaji dalam tiga kata, yaitu
model, eliciting, dan activities. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia model diartikan
sebagai langkah-langkah atau cara, eliciting diartikan membangun atau membentuk,
activities diartikan aktivitas. Maka, dapat diartikan kegiatan yang membangun atau
membentuk langkah-langkah, dalam hal ini langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah
matematika.
Model Eliciting Activities (MEA) dikembangkan oleh guru matematika, professor,
dan mahapeserta didik pasca sarjana di Amerika dan Australia, untuk digunakan oleh para
guru matematika. Mereka mengharapkan peserta didik dapat membuat dan mengembangkan

model matematika berupa sistem koseptual yang membuat peserta didik merasakan beragam
pengalaman matematis. Jadi, peserta didik diharapkan tidak hanya sekedar menghasilkan
model matematika tetapi juga mengerti konsep-konsep yang digunakan dalam pembuatan
model matematika dari permasalahan yang diberikan. Lesh et al, sebagaimana dikutip oleh
Chamberlin and Moon (2008) menyatakan bahwa penciptaaan dan pengembangan model
pembelajaran Model Eliciting Activities (MEA) muncul pada pertengahan tahun 1970 untuk
memenuhi kebutuhan kurikuler yang belum terpenuhi oleh kurikulum yang telah ada.
Model pembelajaran Model Eliciting Activities (MEA) adalah model pembelajaran
matematika untuk memahami, menjelaskan, dan mengkomunikasikan konsep-konsep
matematika yang terkandung dalam suatu sajian permasalahan melalui pemodelan
matematika. Dalam Model Eliciting Activities (MEA), kegiatan pembelajaran diawali dengan
penyajian suatu masalah untuk menghasilkan model matematika yang digunakan untuk
menyelesaikan masalah matematika, dimana peserta didik bekerja dalam kelompokkelompok kecil selama proses pembelajaran. Hasil penelitian Yu & Chang (2009),
menyatakan bahwa Model Eliciting Activities (MEA) berguna untuk meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah peserta didik.
Lesh (2007), menyebutkan bahwa terdapat enam prinsip dalam model pembelajaran
Model Eliciting Activities (MEA), prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. The Construction principle
Disebut juga prinsip konstruksi model. Prinsip ini menyatkan bahwa kegiatan yang
dikembangkan menghendaki peserta didik (problem solver) untuk membuat suatu sistem
atau model matematika untuk mencapai tujuan pemecahan masalah. Sebuah model adalah
sebuah sistem yang terdiri atas elemen-elemen, hubungan antar elemen, operasi yang
menggambarkan interaksi antar elemen, dan pola atau aturan yang diterapkan pada
hubungan-hubungan dan operasi-operasi. Sebuah model menjadi penting ketika sebuah
sistem menggambarkan sistem lainnya. Chamberlain & Moon (2008), menyatakan bahwa
penciptaan model matematika membutuhkan suatu konsep yang kuat tentang pemahaman
masalah sehingga dapat membantu peserta didik mengungkapkan pemikiran mereka.
Keuntungan menciptakan model matematika adalah dapat memberikan pemahaman
mendalam dan memungkinkan peserta didik untuk mentranfer respon mereka kepada situasi
serupa untuk melihat apakah model dapat digeneralisasikan. Pembelajaran Model Eliciting
Activities (MEA) membiasakan peserta didik dengan proses siklis dari pemodelan:
menyatakan, menguji, dan meninjau kembali.
2. The reality priciple
Prinsip ini menyatakan bahwa permasalahan yang disajikan sebaiknya realistis dan
dapat terjadi dalam kehidupan peserta didik yang membutuhkan model matematika untuk
memecahkannya. Permasalahan yang realistis lebih memungkinkan kreativitas dan kualitas
solusi dari peserta didik.
3. The generalizability
Prinsip ini menyatakan bahwa model harus dapat digeneralisasikan dan dapat
digunakan dalam situasi serupa.
4. The self-Assessment Principle
Prinsip ini menyatakan bahwa peserta didik harus mampu mengukur kelayakan dan
kegunaan solusi tanpa bantuan pendidik. peserta didik dapat mengunakan informasi untuk
menghasilkan respon dalam iterasi berikutnya. Chamberlain & Moon (2008), menyatakan
bahwa self-assessment saat kelompok-kelompok mencari jawaban yang tepat. Biasanya

peserta didik jarang menemukan jawaban terbaik pada usaha pertama dan mereka
melakukan usaha berikutnya untuk memperoleh jawaban yang tepat. Kegiatan presentasi
membuat peserta didik menilai pemikiran dan pekerjaan mereka. Jika peserta didik tidak
mampu mendeteksi kekurangan dalam cara berpikir mereka, peserta didik tidak mungkin
membuat usaha-usaha penting untuk mengembangkan cara berpikir mereka.
5. The construct documentasion principle
Prinsip ini menyatakan bahwa selain menghasilkan model peserta didik juga harus
menyatakan pemikiran mereka sendiri selama bekerja dalam Model Eliciting Activity (MEA)
dan bahwa proses berpikir mereka harus ditanyakan sebagai sebuah solusi. Prinsip ini
berhubungan dengan prinsip self-assessment, yang menghendaki peserta didik mengevaluasi
kemajuan diri dan model matematika yang mereka hasilkan dan melihat model sebagai alat
untuk merefleksi diri.
6. The effective prototype principle
Prinsip ini menyatakan bahwa model yang dihasilkan harus dapat ditafsirkan dengan
mudah oleh orang lain. peserta didik dapat menggunakan model pada situasi yang sama.
Prinsip ini membantu peserta didik belajar bahwa solusi kreatif yang diterapkan pada
permasalahan matematis adalah berguna dan dapat digeneralisasikan. Solusi terbaik dari
masalah matematis non-rutin harus cukup kuat untuk diterapkan pada situasi berbeda dan
mudah dipahami.
Yu & Chang (2009), menyatakan bahwa setiap kegiatan Model Eliciting Activity
(MEA) terdiri atas empat bagian utama, yaitu: lembar permasalahan, pertanyaan kesiapan,
permasalahan, dan proses berbagai solusi melalui kegiatan presentasi. Tujuan dari lembar
permasalahan dan pertanyaan kesiapan adalah adalah untuk memperkenalkan konteks
permasalahan kepada peserta didik dan peserta didik bisa mendapatkan gambaran
permasalahan melalui membaca lembar permasalahan dan pertanyaan kesiapan hanya
seperti periode pemanasan untuk memastikan bahwa peserta didik telah memiliki
pengetahuan dasar yang mereka perlukan untuk menyelesaikan permasalahan. Permasalahan
harus menjadi bagian sentral dari pembelajaran yang disajikan guru kepada peserta didik
sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Yang terakhir adalah proses berbagi solusi
atau presentasi solusi dimana guru berusaha mendorong peserta didik untuk tidak hanya
mendengarkan kelompok lain presentasi tetapi juga mencoba untuk memahami solusi
kelompok lain dan menilai seberapa baik solusi tersebut. Salah satu karakteristik unik dari
Model Eliciting Activity adalah bahwa peserta didik menyelesaikan masalah yang diberikan
kepada mereka dan mengeneralisasi model yang mereka buat untuk situasi serupa.
Secara lebih khusus, Chamberlain, sebagaimana dikutip oleh Camberlain & Moon
(2008), menyatakan bahwa Model Eliciting Activity (MEA) diterapkan dalam beberapa
langkah, yaitu:
(1) Guru membaca sebuah lembar permasalahan yang mengembangkan konteks peserta
didik;
(2) Peserta didik siap siaga terhadap pertanyaan berdasarkan lembar permasalahan tersebut
(3) Pendidik membacakan permasalahan bersama peserta didik dan memastikan bahwa
setiap kelompok mengerti apa yang sedang ditanyakan;
(4) peserta didik berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut; dan
(5) peserta didik memprsentasikan model matematika mereka setelah membahas dan
meninjau ulang solusi.

Etnomatematika
Menurut Orey (2006), konsep pembelajaran berbasis etnomatematika merupakan
pembelajaran kontekstual dengan mengembangkan aspek yang dipilih dari pengalaman
peserta didik atau dari lingkungan mereka sendiri karena sebagai paradigma dari budaya.
Sedangkan menurut Knijnik (1994), matematika merupakan pengetahuan kebudayaan yang
tumbuh dan berkembang untuk menghubungkan kebutuhan-kebutuhan manusia, yang
dikenal sebagai etnomatematika. Masingila dan King (1997), etnomatematika merupakan
suatu bentuk pengetahuan budaya atau karakteristik aktivitas sosial pada kelompok budaya,
sebagai pengetahuan matematika atau aktivitas matematika. Dari penjelasan tersebut,
etnomatematika merupakan salah satu ide memadukan pembelajaran matematika dengan
budaya lokal, sehingga akan tercipta pembelajaran yang bermakna dan pemahaman peserta
didik dapat maksimal karena dikaitkan dengan dunia nyata. Etnomatematika dapat diartikan
sebagai matematika yang dipraktikkan oleh suatu kelompok budaya, misalnya masyarakat
pedesaan dan perkotaan, anak-anak, masyarakat adat, dan lain sebagainya.
Etnomatematika diperkenalkan oleh pendidik asal Brazil, Ubiratan DAmbroso tahun
1997. Orey (2006), sebagai sesuatu yang sangat luas yang mengacu pada konteks sosial
budaya, termasuk bahasa, jargon, kode perilaku, mitos, dan symbol. Kecenderungan ini
merupakan teknik untuk menjelaskan, mengetahui, memahami, dan melakukan kegiatan
pengkodean, mengukur, mengklarifikasi, dan menyimpulkan. Pembelajaran matematika
berbasis etnomatematika adalah pembelajaran matematika yang dipadukan dengan budaya
di sekeliling kita. Semua aktivitas matematika mulai dari menghitung, menemukan,
menggambar, mengukur, merancang, dan bermain dikembangkan dengan unsur-unsur
budaya sekitar. Secara tidak langsung kebudayaan daerah bisa diperkenalkan dan
dilestarikan serta materi mudah dipahami oleh peserta didik dan pembelajaran lebih
bermakna bagi peserta didik.
Model Eliciting Activities (MEA) Berbasis Etnomatematika
Dalam penelitian ini, langkah pembelajaran Model Eliciting Activities (MEA)
berbasis etnomatematika yang digunakan adalah sebagai berikut.
1. Guru memberikan pengantar materi
Guru menjelaskan materi yang akan dipelajari pada pembelajaran. Guru juga memberikan
contoh suatu permasalahan yang dikaitkan dengan budaya lokal beserta cara
penyelesaiannya yang sistematis.
2. Guru memberikan permasalahan
Peserta didik dikelompokkan heterogen dengan anggota 3-4 orang tiap kelompok.
Kemudian guru memberikan suatu permasalahan yang dikaitkan dengan budaya yang di
Pati, lalu peserta didik menyelesaikan permasalahan tersebut.
3. Peserta didik siap siaga terhadap pertanyaan berdasarkan permasalah tersebut
Semua peserta didik bersiap menjawab persoalan yang diberikan oleh guru.
4. Guru membacakan permasalahan bersama peserta didik dan memastikan bahwa setiap
kelompok mengerti apa yang sedang ditanyakan
Guru membacakan permasalahan dan memastikan bahwa peserta didik mengerti
bagaimana cara menjawab permasalahan tersebut, kemudian semua kelompok diminta
menyelesaikan permasalahan tersebut.
5. Peserta didik berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut

Semua peserta didik dalam kelompok menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh
guru dan mendiskusikannya dalam kelompoknya sehingga mendapatkan penyelesaian
yang paling tepat.
6. Peserta didik mempresentasikan model matematis mereka setelah membahas dan
meninjau ulang solusi.
Semua kelompok mempresentasikan jawaban dari hasil diskusi kelompoknya dan
kelompok lain memberikan komentar. Kemudian setelah semua kelompok selesai
mempersentasikan masalah tersebut semua peserta didik berdiskusi dan meninjau ulang
jawaban dan dicari solusi yang paling tepat.
Pemecahan Masalah
Sebagian besar kehidupan kita pasti berhadapan dengan masalah-masalah. Berbagai
macam permasalahan dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak semua
persoalan yang dihadapi dapat dikatakan masalah.
Menurut Burns (2000), pengertian masalah dalam kurikulum matematika adalah
sesuatu yang membutuhkan skil matematika, konsep, atau pun proses dalam mencapai
tujuan atau penyelesaian. Sesuatu bisa disebut masalah (dalam matematika), jika: 1) ada
situasi yang rumit yang masih dapat dipahami oleh peserta didik; (2) peserta didik tertarik
untuk menyelesaikannya; (3) peserta didik tidak dapat langsung menemukan solusinya; (4)
solusinya membutuhkan penggunaan ide atau gagasan matematis. Untuk menyelesaikan
suatu masalah matematika, seseorang harus memiliki kemampuan pemecahan masalah.
Krulik dan Rudnik, sebagaimana yang dikutip oleh Carson (2007), mendefinisikan
pemecahan masalah sebagai individu yang menggunakan pengetahuan, ketrampilan dan
pemahaman yang mereka miliki untuk memenuhi sebuah tuntutan dari situasi yang tidak
biasa. Peserta didik harus menggunakan apa yang telah mereka pelajari dan
mengaplikasikannya pada situasi yang baru dan berbeda. Menurut Gagne, sebagaimana yang
dikutip oleh Suherman (2003) mengemukakan bahwa ketrampilan intelektual tingkat tinggi
dapat dikembangkan melalui pemecahan masalah. Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh
Krulik dan Rudnik serta Gagne tersebut, maka dapat diartikan bahwa pemecahan masalah
merupakan salah satu bentuk kemampuan berpikir tingkat tinggi, karena seorang individu
harus menggunakan pengetahuan, ketrampilan dan pemahaman yang dimilikinya untuk
memecahkan suatu masalah baru.
Pemecahan masalah merupakan tipe belajar paling tinggi dari delapan tipe yang
dikemukakan oleh Gagne, yaitu (1) belajar tanda (signal learning); (2) belajar stimulusrespon (stimulus-response learning); (3) jalinan (chaining); (4) jalinan verbal (verbal
chaining); (5) belajar membedakan (descrimination learning); (6) belajar konsep (concept
learning); (7) belajar kaidah (rule learning); (8) pemecahan masalah (problem solving).
Sebagaimana dikemukakan oleh Anni (2007), proses pemecahan masalah dilakukan dengan
cara menghubungkan beberapa kaidah sehingga membentuk kaidah yang lebih tinggi
(higher order rule) yang seringkali dilahirkan sebagai hasil berpikir pada waktu pembelajar
menghadapi masalah baru.
Menurut Patton, sebagaimana yang telah dikutip oleh Zakaria (2009), belajar untuk
memecahkan masalah adalah hal dasar dalam mempelajari matematika, seperti halnya
masalah-masalah yang tidak dapat terelakkan dalam kehidupan nyata. Laterell (2001), ketika
peserta didik melakukan pemecahan masalah berarti peserta didik juga terlibat dalam tugas
yang cara penyelesaiannya tidak diketahui sepenuhnya. Peserta didik dalam menemukan

solusi, harus menggambarkan pengetahuan mereka dan melalui proses ini mereka akan
mengembangkan pemahaman matematis baru. Pemecahan masalah tidak hanya suatu tujuan
dalam belajar matematika tetapi juga merupakan alat utama dalam berbuat. Peserta didik
harus sering mendapat peran untuk memaparkan persamaan, terlibat di dalamnya dan
menyelesaikan permasalahan yang menuntut sejumlah usaha dan didorong untuk
mencerminkan pemikiran mereka.
Woods, et al (2007), menyatakan bahwa peserta didik yang memiliki kemampuan
memcahkan masalah menunjukkan sifat-sifat sebagai berikut.
a. Menggunakan waktu untuk membaca, mengumpulkan informasi dan mendefinisikan
suatu masalah (afektif-level 2)
b. Menggunakan proses sebagai suatu siasat untuk menyelesaikan suatu masalah (kognitiflevel 4)
c. Memantau proses pemecahan masalah mereka dan memastikan keefektifannya (kognitiflevel 4)
d. Lebih menekankan keakuratan daripada kecepatan (afektif-level 3)
e. Menuliskan ide dan membuat gambar atau diagram saat memecahkan masalah (kognitiflevel 3)
f. Urut dan sistematis (afektif-level 4)
g. Fleksibel, menerima semua mungkinan dan dapat melihat situasi melalui berbagai sudut
pandang (afektif-level 4)
h. Pengetahuan yang berhubungan, objektif dan kritis dalam menaksir kualitas, akurasi dan
keterkaitan antar data (kognitif-level 3)
i. Siap menerima resiko dan mengatasi ambiguitas, menerima perubahan dan mengatur
stress (afektif-level 4)
j. Menggunakan semua pendekatan yang fundamental daripada mencoba menggabungkan
ingatan dari berbagai contoh penyelesaian (kognitif-level 4)
Sifat-sifat tersebut di atas menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah
memuat kemampuan afektif dan kognitif masing-masing sampai dengan level 4 menurut
taksonomi Bloom.
Menurut Polya (1973), solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah fase
penyelesaian, yaitu memahami masalah (understand the problem), merencanakan
penyelesaian (device a plan), menyelesaikan masalah sesuai rencana (carry out the plan),
dan mengevaluai penyelesaian yang telah didapatkan (look back).
Peserta didik dikatakan telah mampu memecahkan masalah apabila mencapai
indikator-indikator pemecahan masalah. Indikator-indikator pemecahan masalah pada
peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No 506/C/PP/2004, sebagaimana dikutip oleh
Shadiq (2009) adalah sebagai berikut.
(1) Menunjukkan pemahaman masalah.
(2) Mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan
masalah.
(3) Menyajikan masalah secara sistematik dalam berbagai bentuk.
(4) Memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat.
(5) Mengembangkan strategi pemecahan masalah.
(6) Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah.
(7) Menyelesaikan masalah yang tak rutin.

Cinta Tanah Air


Nilai pendidikan karakter bangsa yang akan diteliti adalah karakter cinta tanah air
yaitu cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan
penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan
politik bangsa. Namun, peneliti membatasi karkter cinta tanah air dalam kaitannya dengan
cinta budaya lokal.
Menurut Kemendikbud (2010), indikator cinta tanah air yaitu (1) menggunakan
produk buatan dalam negeri, (2) menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, (3)
menyediakan informasi (dari sumber cetak, elektronik) tentang kekayaan alam dan budaya
Indonesia, (4) menyenangi keunggulan geografis dan kesuburan tanah wilayah Indonesia,
(5) mengemukakan sikap mengenai kondisi geografis Indonesia, (6) menyenangi keragaman
budaya dan seni di Indonesia, (7) mengemukakan sikap dan kepedulian terhadap
keberagaman budaya dan seni di Indonesia, (8) menyenangi keberagaman suku bangsa dan
bahasa daerah yang dimiliki Indonesia, (9) mengagumi keberagaman hasil-hasil pertanian,
perikanan, flora, dan fauna Indonesia, (10) rasa bangga dan peduli terhadap berbagai
unggulan produk indonesia dalam pertanian, perikanan, flora, dan fauna, (11) mengagumi
dan menyenangi produk, industri, dan teknologi yang dihasilkan bangsa Indonesia. Indikator
ini dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi kelas atau tingkatan peserta didik.
Cinta tanah air terbagi menjadi 6 aspek, yaitu bahasa, lingkungan fisik, sosial,
budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Budaya merupakan bagian didalam cinta tanah air,
sehingga dapat di tentukan indikator cinta budaya lokal. Dari indikator cinta tanah air yang
ada, maka indikator cinta budaya lokal yaitu ketertarikan, kesetiaan, kepedulian,
penghargaan terhadap budaya lokal.
Menurut Ajawaila sebagaimana yang dikutip oleh Siany & Catur (2009), budaya
lokal adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah
untuk merumuskan atau mendefinisikan konsep budaya lokal. Dapat disimpulkan bahwa
cinta budaya lokal adalah cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan
ketertarikan, kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap budaya lokal.
Kajian yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian
Rachmawati (2012) menunjukkan bahwa tanpa mempelajari konsep matematika, masyarakat
sidoarjo telah menerapkan konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari
menggunakan etnomatematika. Terbukti adanya konsep-konsep matematika yang
terkandung dalam bangunan candi dan prasasti, suatu lokal masyarakat sidoarjo, bentuk
geometri gerabah tradisional, motif kain batik dan border, serta permainan tradisional
masyarakat sidoarjo.
Penelitian Knijnik (1994), menunjukkan bahwa etnomatematika merupakan studi
tentang konsepsi-konsepsi, tradisi-tradisi, kebiasaan-kebiasaan matematika dan termasuk
pekerjaan mendidik dan membuat anggota kelompok menyadari bahwa (1) mereka
mempunyai pengetahuan, (2) mereka dapat menyusun dan menginterpretasikan
pengetahuannya, (3) mereka mampu memperoleh pengetahuan akademik, dan (4) mereka
mampu membandingkan dua tipe pengetahuan yang berbeda dan memilih salah satu yang
cocok untuk menyelesaikan masalah nyata yang dihadapinya.
Penelitian tentang MEA banyak dilakukan pada bidang teknik. Salah satunya adalah
penelitian yang dilakukan oleh Diefes-Dux dan Salim (2009). Diefes-Dux dan Salim

menerapkan tiga buah MEA pada matakuliah tahun pertama fakultas teknik. Mereka
menyarankan untuk lebih memperhatikan pemilihan kata dan informasi yang akan
diikutsertakan dalam permasalahan. Peserta didik juga memerlukan bimbingan dalam
menentukan definisi permasalahan.
C. Simpulan dan Saran
Sebagian besar kehidupan kita pasti berhadapan dengan masalah-masalah. Berbagai
macam permasalahan dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak semua
persoalan yang dihadapi dapat dikatakan masalah. Pemecahan masalah tidak hanya suatu
tujuan dalam belajar matematika tetapi juga merupakan alat utama dalam berbuat. Peserta
didik harus sering mendapat peran untuk memaparkan persamaan, terlibat di dalamnya dan
menyelesaikan permasalahan yang menuntut sejumlah usaha dan didorong untuk
mencerminkan pemikiran mereka.
Upaya untuk meningkatkan pemecahan masalah peserta didik salah satunya dengan
memberikan pembelajaran MEA. Dalam penelitian ini, mengembangkan perangkat
pembelajaran MEA dikaitkan dengan budaya lokal sehingga secara tidak langasung peserta
didik akan mempelajari dan melestarikan budaya yang ada di daerahnya melalui
pembelajaran matematika. Soal-soal yang diberikan berupa soal pemecahan masalah dan
berkaitan dengan budaya lokal.
Dalam pembelajaran matematika di kelas, guru akan mengupayakan pembelajaran
matematika yang memperhatikan cinta budaya lokal peserta didik dan meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Penelitian ini merupakan salah satu bentuk
contoh dalam mengembangkan perangkat pembelajaran MEA berbasis etnomatematika
untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Harapan bagi guru matematika
adalah mampu mencari informasi model pembelajaran yang dapat meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
dan mendalam guna meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
D. Daftar Pustaka
[1] Anni, C.T. 2007. Psikologi Belajar. Semarang: Unnnes Press
[2] Burns, Marlyn. (2000). About Teaching Mathematics. CA: Math Solution Publications.
[3] Carson, Jamin. 2007. A Problem With Problem Solving: Teaching Thinking Without
Teaching Knowledge. The Mathematics Educator, 17(2): 714. Tersedia di
http://math.coe.uga.edu/tme/issues/v17n2/v17n2_Carson.pdf. [diakses 18-01-2012].
[4] Chamberlin, S. A, and Moon, S.M. 2008. How Does The Problem Based Learning
Approach Compare to The Model-Eliciting Activity Approach in Mathematics?.
International
Journal
for
Mathematics
Teaching
and
learning.
http://www.cimt.plymouth.ac.uk/journal/chamberlin.pdf. [diakses 15-10-2014].
[6] Diefes-Dux, H.A., dan Salin, A. 2009. Problem Formulation during Model-Eliciting
Activities: Characterization of First-Year Students Responses. Proceeding of the
Research in Engineering Symposium 2009, Palm Cove, QLD.
[7] Kemendikbud. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Jakarta: Kemendikbud.
[8] Knijnik, G. 1994. Ethno-Mathematical Approach in Mathematical Education: a
Matter of Political Power. For The Learning Mathematics. Vol 14, No. 1.

[9]
[10]
[13]
[14]
[15]
[16]
[17]
[18]
[19]
[20]
[21]
[21]

[22]
[23]

Laterell, C. M. 2001. What is Problem Solving Ability?. University of Minnesota


Duluth. http://www.lamath .org/journal/Vol1/What_IS_P_S_Ability.pdf (diunduh
22 November 2012)
Lesh, R. and Caylor, B. 2007. Introduction to the Special Issue: Modeling as
Application versus Modeling as a Way to Create Mathematics. International
Journal of Computers for Mathematics Learning Vol 12: 173-194.
Masingila, J. O. dan King, J. 1997. Multicultural and Gender Equity in the
Mathematics Classroom. Using Mathematics as a Classroom Tool. San Diego:
General Year Book Editor.
Orey, D and Rosa, M. 2006. Ethnomathematics: Cultural Assertions and Challenges
Towards Pedagogical Action. Journal of Mathematics and Culture Vol VI (1)
ISSN 1558-5336.
Rachmawati, I. 2012. Eksplorasi Etnomatemtika Masyarakat Sidoarjo. Surabaya:
Program FMIPA UNESA
Shadiq,
F.
2009.
Kemahiran
Matematika.
Online.
Tersedia
di
http://p4tkmatematika.org/file/SMA_Lanjut/smalanjut-kemahiran-fadjar.pdf
Siany, L & Catur, A. 2009. Khasanah Antropologi. Jakarta: Wangsa Jatra Lestari.
Polya, G. 1973. How To Solve It: A New Aspect of Mathematical Method. Second
Edition. Princeton, New Jersey: Princeton University Press
Suherman, Erman, at al. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Wijaya, Ariyadi. 2012. Pendidikan Matematika Realistik Suatu Alternatif Pendekatan
Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Woods, D. R., et al. 1997. Developing Problem Solving Skills: The McMaster
Problem Solving Program. ASEE Jouornal of Engineering Education, Vol. 86, No.
2, Hal. 75-91.
Yu, S. & Chang, C. 2009. What Did Taiwan Mathematics Teachers Think of ModelEliciting Activities and Modeling?. International Conference on the Teaching of
Mathematical Modeling and Applications, ICTMA Vol 14, University of Hamburg,
Hamburg.
Zakaria, E. dan Yusoff, N. 2009. Attitudes and Problem-Solving Skills in Algebra
among Malaysian Matriculation College Students. European Journal of Sciences,
Vol. 8, No. 2, Hal. 232-245.
Zevenbergen, R.., Dole, S. dan Wright, J. R. 2004. Teaching Mathematics In Primary
Schools. Sydney: Allen&Unwin.

Anda mungkin juga menyukai