Anda di halaman 1dari 11

Etika Dalam Penelitian Sosial

Etika mendefinisikan berbagai perbuatan yang sah atau tidak sah atau moral yang
dilibatkan dalam prosedur penelitian. Ada beberapa prinsip etika yang bersifat mutlak, tetapi
ada banyak prinsip-prinsip yang telah disepakati bersama. Standar etika untuk melakukan
penelitian dapat lebih ketat daripada standar pada berbagai organisasi (misalnya lembaga
pengumpulan data, departemen kepolisian, biro iklan). Penelitian sosial profesional menuntut
kita mengetahui teknik penelitian yang tepat dan peka terhadap kepedulian dalam penelitian.
Etika dimulai dan diakhiri dalam diri sendiri (peneliti). Penelitian etis bergantung
pada integritas dan nilai-nilai individu peneliti. Apabila dipertimbangkan dengan serius, nilainilai tidak dapat diungkapkan dan disingkirkan melainkan harus menjadi panduan bertindak
bagi para sosiolog. Nilai-nilai ini menentukan siapa yang akan diteliti, dan untuk tujuan apa.

Alasan Berperilaku Etis


Penyebab perilaku yang paling tidak etis berasal dari kurangnya kesadaran dan
tekanan untuk mengambil jalan pintas yang etis. Banyak peneliti menghadapi tekanan kuat
untuk membina karier, mempublikasikan karyanya, meningkatkan pengetahuannya, meraih
gengsi/pamor, membuat keluarga dan teman-temannya terkesan, bergantung pada
pekerjaannya dan sebagainya. Penelitian etis memerlukan waku yang lebih lama untuk
menyelesaikannya, memerlukan lebih banyak biaya, lebih rumit, dan lebih mungkin berakhir
sebelum selesai. Selain itu, standar etika tertulis ada dalam bentuk prinsip-prinsip yang tidak
jelas. Dalam berbagai situasi ada kemungkinan untuk bertindak tidak etis, dan kemungkinan
tertangkapnya kecil.
Demikian pula, tidak ada penghargaan bagi peneliti yang bersikap etis dan melakukan
hal yang benar. Peneliti yang tidak etis, jika tertangkap basah, menghadapi penghinaan
publik, hancurnya karier, dan kemungkinan tindakan hukum, tetapi peneliti yang etis tidak
mendapatkan pujian. Kebanyakan peneliti menanamkan perilaku etis selama pelatihan
profesional, sementara itu memiliki peranan profesional, dan dari kontak pribadi dengan
peneliti lain. Selain itu norma-norma komunitas ilmiah yang jujur dan terbuka dapat
memperkuat perilaku etis. Seseorang yang benar-benar berorientasi pada peran peneliti
profesional, yang percaya pada etos ilmiah, dan berinteraksi secara berkala dengan para
peneliti yang serius kemungkinan besar akan bertindak secara etis.

Pelanggaran ilmiah
Komunitas riset menentang pelanggaran ilmiah, yang meliputi penipuan
penelitian dan plagiarisme. Jadi ketika seorang peneliti memalsukan atau
menyimpangkan data atau metode pengumpulan data atau menjiplak pekerjaan orang
lain maka terjadi pelanggaran ilmiah. Lembaga penelitian dan universitas memiliki
kebijakan dan prosedur untuk mendeteksi kesalahan, melaporkannya kepada
komunitas ilmiah dan lembaga pendanaan, dan menghukum para peneliti yang terlibat
didalamnya (misalnya pemotongan gaji atau kehilangan pekerjaan).

Penipuan Penelitian
Terjadi ketika peneliti memalsukan atau menciptakan data yang tidak benarbenar dikumpulkan atau memalsukan laporan mengenai cara pelaksanaan penelitian.
Kasus penipuan yang paling terkenal adalah kasus Sir Cyril Burt, bapak psikologi
pendidikan Inggris. Dalam penelitian anak-anak kembar yang menunjukkan dasar
kecerdasan genetik. Pada tahun 1976, diketahui bahwa ia memalsukan data dan namanama rekan penulis.

Plagiarisme
Penipuan yang melibatkan seseorang mencuri ide atau tulisan orang lain atau
menggunakannya tanpa megutip sumbernya. Jenis khusus plagiarisme adalah mencuri
karya peneliti lain, asisten, aatau mahasiswa, dan salah menafsirkannya sebagai
miliknya sendiri. Hal ini merupakan pelanggaran serius terhadap standar etika

Tidak etis namun sah


Perilaku yang mungkin tidak etis tetapi tidak melanggar hukum. Perbedaan
antara perilaku yang sah dan tidak etis telah digambarkan dalam kasus plagiarisme.
American sociological association mendokumentasikan bahwa buku tahun 1988 tanpa
catatan kaki oleh seorang dekan dari Eastern New Mexico University mengandung

sebagian disertasi yang ditulis oleh seorang profesor sosiologi di Tufts University
tahun 1978. Menyalin itu tidak ilegal, tidak melanggar hukum hak cipta karena
disertasi sosiolog tersebut tidak memiliki hak cipta yang diajukan kepada pemerintah.
Namun hal itu, jelas tidak etis menurut standar perilaku profesional.

Kekuasaan
Hubungan antara peneliti dan partisipan penelitian melibatkan kekuasaan dan
kepercayaan. Memiliki kekuasaan yang relatif terhadap para peserta dan asisten. Wewenang
peneliti untuk melakukan penelitian dilengkapi dengan tanggung jawab untuk membimbing,
melindungi dan mengawasi kepentingan orang-orang yang dipelajarinya.

Persoalan Etika Yang Melibatkan Peserta Penelitian


Bertindak etis mewajibkan kita menyeimbangkan nilai memajukan pengetahuan
dengan nilai tak mencampuri kehidupan orang lain. Pertanyaan moral adalah ketika peneliti
dibenarkan dalam mengambil resiko dengan orang-orang yang sedang dipelajarinya,
kemungkinan menimbulkan rasa malu, hilangnya privasi, atau beberapa jenis bahaya.
Hukum dan kode etik mengakui beberapa larangan yang jelas, jangan sekali-kali
menyebabkan kerugian yang tidak perlu atau tidak dapat diperbaiki kepada peserta, sebisa
mungkin menjamin persetujuan sukarela sebelumnya, dan jangan pernah merasa perlu
mempermalukan, merendahkan, atau memberikan informasi yang berbahaya mengenai
individu-individu tertentu yang dikumpulkan untuk tujan penelitian.

Asal Muasal Perlindungan Penelitian Peserta


Kepedulian terhadap perlakuan peserta penelitian muncul setelah terungkapnya
pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia atas nama ilmu pengetahuan. Pelanggaran yang
paling terkenal adalah Eksperimen medis yang dilakukan peneliti nazi terhadap orang
yahudi dan lain-lain. Para ilmuwan penelitian melakukan tindakan penyiksaan yang
mengerikan atas nama penelitian ilmiah. Manusia ditaruh didalam air dingin untuk melihat
seberapa lama waktu yang diperlukan hingga mereka menemui ajalnya, yang lainnya sengaja

dibiarkan mati kelaparan, dan anak-anak diamputasi kakinya dan ditranspalantasikan ke


orang lain.

Bahaya Fisik, Penganiayaan Psikologis dan Bahaya Hukum


Penelitian sosial dapat membahayakan peserta dan mempengaruhi karier dan
pendapatan seseorang. Dalam penelitian biomedis, terjadi intervensi yang jauh lebih besar.
Jenis-jenis bahaya tertentu lebih mungkin terjadi dalam berbagai jenis penelitian, peneliti
harus menyadari semua jenis bahaya dan meminimalkannya setiap saat.

Bahaya Fisik
Inti dalam prinsip etika adalah bahwa peneliti tidak boleh membahayakan fisik
peserta. Apabila peneliti melibatkan stres dan mengantisipasi bahaya cedera dan
bahkan serangan fisik terhadap peserta atau asisten penelitian. Kita menerima
tanggung jawab moral dan hukum untuk setiap cedera yang terjadi sebagai hasil dari
penelitan. Hal ini berarti bahwa kita harus segera menghentikan penelitian apabila kita
tidak dapat menjamin keselamatan fisik peserta.

Penganiayaan Psikologis, Stres, atau Hilangnya Harga Diri


Para peneliti sosial dapat menempatkan orang-orang dalam situasi stres,
memalukan, menghasilkan kegelisahan, atau tidak menyenangkan. Dan resiko bahaya
permanennya terlalu besar. Jika tingkat stres memiliki efek jangka panjang atau
permanen, peneliti harus menindaklanjuti dan menawarkan bimbingan gratis terhadap
peserta penelitian.

Bahaya Hukum
Fakta bahwa berpartisipasi dalam studi penelitian dapat meningkatkan resiko
ditangkap yang dihadapi oleh para peserta akan menghancurkan kepercayaan dalam
penelitian ilmiah sosial, menyebabkan peserta tidak akan bersedia untuk berpartisipasi
dalam studi dimasa mendatang, potensi bahaya hukum merupakan salah satu kritik
dari penelitian. Dengan kata lain, para peserta berada pada resiko hukum karena
mereka berpartisipasi dalam penelitian ini.

Bahaya lain bagi peserta

Peserta penelitan mungkin menghadapi bahaya jenis lain misalnya dalam


suatu wawancara survei dapat menciptakan kecemasan, dan ketidaknyaman diantara
orang-orang yang diminta untuk mengingat peristiwa yang tidak menyenangkan. Kita
harus peka terhadap para peserta, mempertimbangkan peluang tindakan pencegahan,
dan menimbang potensi bahaya dengan potensi manfaatnya.

Penipuan
Prinsip etika utama adalah prinsip persetujuan sukarela, jangan pernah memaksa
siapapun untuk berpartisipasi dalam penelitian. Aturan etika yang terikat adalah jangan
berbohong pada peserta penelitian, kecuali bila diperlukan untuk alasan penelitian yang sah.
Hak untuk tidak berpartisipasi menjadi masalah penting ketika kita menggunakan penipuan,
menyamarkan penelitian, atau menggunakan metode penelitian rahasia dalam standar etika
yang sangat serius. Penipuan hanya dapat diterima jika memiliki tujuan metodologis tertentu
dan hanya dapat digunakan seminimal mungkin.

Persetujuan Termaklum
Sebuah prinsip dasar etika adalah jangan pernah memaksa siapapun untuk berpartisipasi,
semua peserta penelitian harus bersifat sukarela. Hal ini tidak cukup hanya memperoleh izin,
orang perlu tahu dalam hal apa mereka diminta berpartisipasi agar dapat membuat keputusan.
Persetujuan termaklum mengandung makna antara lain :
1. Deskripsi singkat mengenai tujuan dan prosedur penelitian, termasuk perkiraan durasi
penelitian.
2. Pernyataan adanya resiko atau ketidaknyamanan yang berhubungan dengan partisipasi
3. Jaminan anominitas dan kerahasiaan catatan
4. Identifikasi peneliti dan lokasi informasi mengenai hak-hak peserta atau pertanyaan
mengenai studi tersebut.
5. Pernyataan bahwa partisipasi bersifat benar-benar sukarela dan dapat dihentikan
sewaktu-waktu tanpa dikenakan denda.
6. Pernyataan mengenai prosedur alternatif yang mungkin digunakan.
7. Pernyataan tunjangan atau kompensasi yang diberikan kepada peserta dan jumlah
subjek yang terlibat.
8. Tawaran untuk memberikan ringkasan temuan.

Observasi Terselubung
Persetujuan termaklum mungkin mudah diperoleh dalm survei dan penelitian
eksprimental, tetapi beberapa peneliti lapangan percaya bahwa hal tersebut tidak tepat ketika
mengamati kehidupan nyata. Penelitian lapangan mendukung observasi terselubung daripada
persetujuan termaklum. Salah satu alasannya bahwa persetujuan termaklum dianggap tidak
praktis dan mengganggu dalam penelitian lapangan. Alasan lain adalah bahwa komunikasi
manusia dan urusan sehari-hari diisi dengan kegiatan rahasia. Kegiatan sehari-hari
melibatkan beberapa jumlah aktifitas rahasia dengan banyak pengamat manusia atau
penyadap/penguping yang tidak berbahaya. Meningkatnya pengawasan rahasia dapat
meningkatkan sinisme publik, ketidakpercayaan, dan keengganan untuk bekerja sama. Tidak
adanya persetujuan termaklum menjadi wilayah abu-abu etika, dan banyak orang percaya
bahwa risiko moral-etis yang tidak mendapatkan persetujuan termaklum cenderung
menimbulkan bahaya yang lebih besar daripada mendapatkan persetujuan termaklum.
Penelitian teselubung masih kontroversial dan banyak peneliti percaya bahwa semua
penelitian rahasia tidak etis. Penipuan dan penelitian terselubung dapat meningkatkan
kecurigaan dan sinisme serta mengurangi rasa hormat publik terhadap penelitian sosial.

Populasi Khusus dan Ketimpangan Baru


Populasi Khusus adalah peserta penelitian yang karena usia, masa tahanan,
pemaksaan potensial, atau kurang memiliki kemampuan fisik, jiwa, emosional, atau lainnya,
mungkin kurang memiliki kebebasan atau kesadaran penuh untuk memberikan persetujuan
secara sukarela untuk berpartisipasi dalam penelitian. Tidak etis untuk memaksa orang agar
berpartisipasi, termasuk menawarkan manfaat khusus yang sebaliknya tidak dapat mereka
peroleh.

Privasi, Anonimitas, dan Kerahasiaan


Privasi
Dimana peneliti survei menyerang privasi seseorang ketika mereka menyelidiki
keyakinan, latar belakang, dan perilaku dengan cara mengungkapkan rincian pribadi. Peneliti
yang beretika melanggar privasi hanya untuk tingkat minimum yang diperlukan dan hanya

untuk tujuan yang sah. Selain itu, ia melindungi informasi tentang peserta penelitian dari
pembeberan di muka publik.

Anonimitas
Peneliti melindungi privasi dengan tidak mengungkapkan identitas peserta setelah
informasi dikumpulkan. Anonimitas berarti bahwa orang-orang tetap anonim atau tanpa
nama.

Kerahasiaan
Kerahasiaan merupakan perlindungan etis bagi mereka yang dipelajari dengan cara
menyimpan data penelitian secara rahasia atau merahasiakannya dari publik; tidak
mengeluarkan informasi dalam cara yang mungkin bisa menautkan individu tertentu dengan
respon tertentu. Peneliti melakukannya dengan cara menyajikan data hanya dalam bentuk
agregat (misalnya presentase, sarana).
Anonimitas tanpa kerahasiaan terjadi apabila kita membuat rincian tentang individu
tertentu kepada publik tetapi tidak memberikan nama dan rincian tertentu yang mungkin bisa
mengidentifikasi individu tersebut. Kerahasiaan tanpa anonimitas terjadi apabila kita tidak
mengeluarkan data individu kepada publik, tetapi secara pribadi mengaitkan nama individu
dengan data pada individu-individu tertentu.

Informasi Peserta Sebagai Milik Pribadi


Peserta penelitian membiarkan pengetahuan tentang diri mereka diambil dan
dianalisis oleh orang lain. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk beberapa
tujuan, termasuk tindakan terhadap kepentingan yang bersangkutan. Informasi adalah suatu
bentuk properti atau kemilikan pribadi, kebanyakan orang memberikan informasi lebih
sedikit karena khawatir tentang privasi dan membuatnya mempertimbangkan informasi
pribadi sebagai milik pribadi. Jika memang termasuk milik pribadi, seseorang jelas berhak
menyimpan, menjual, atau memberikannya. Persoalan etika menjadi masalah besar apabila
seseorang menggunakan informasi tersebut dengan cara yang tidak akan disetujui oleh para
peserta apabila mereka mendapatkan informasi yang lengkap. Peneliti etis dapat

meningkatkan perlindungan dengan cara memberikan salinan temuannya kepada peserta dan
menjelaskan semua penggunaan informasi tersebut.

Mandat Perlindungan Dari Peserta Penelitian


Dikeluarkan oleh U.S. Department Of Health and Human Services Offices For The
Protection From Research Risks. Meskipun ini hanya satu biro federal, kebanyakan peneliti
dan instansi pemerintah menganggapnya sebagai pedoman yang secara signifikan
mengembangkan peraturan dan menuntut persetujuan termaklum dalam kebanyakan
penelitian sosial. Tanggung jawab untuk menjaga standar etika ditugaskan kepada lembaga
penelitan dan universitas. Peraturan Federal mengikuti model biomedis dan melindungi
subjek dari bahaya fisik, aturan lainnya mensyaratkan adanya institutional.

Etika dan Komunitas Ilmiah


Kode etik
Kode etik adalah prinsip dan pedoman yang dikembangkan oleh organisasi profesional untuk
memandu praktik penelitian dan menjelaskan batasan antara perilaku etis dan tidak etis. Kode
etik penelitian dapat ditelusuri pada Kode Nuremberg. Aturan ini dikembangkan sebagai
respons terhadap kekejaman eksperimen, konsentrasi, menguraikan prinsip-prinsip etika dan
hak-hak peserta penelitian manusia. Prinsip dalam Kode Nuremberg difokuskan pada
eksperimen medis, serta aturan ini telah menjadi landasan bagi kode etik penelitian sosial dan
hak asasi manusia. Kode Nuremberg adalah perilaku etis dan bermoral yang diterapkan
setelah pengadilan kejahatan dalam perang dunia ke-2 sebagai tanggapan terhadap percobaan
medis Nazi yang tidak berprikemanusiaan, dan ini merupakan awal dari kode etik penelitian
manusia.

Prinsip dasar penelitian sosial etis


1.
2.
3.
4.
5.

Mengakui bahwa tanggung jawab etis terletak pada individu peneliti.


Tidak memanfaatkan peserta penelitian atau murid untuk keuntungan pribadi.
Bentuk persetujuan termaklum sangat direkomendasikan atau diperlukan.
Menghormati semua jaminan privasi, kerahasiaan, dan anonimitas.
Tidak memaksa atau mempermalukan peserta penelitian.

6. Menggunakan penipuan hanya jika diperlukan, dan selalu disertai pengarahan


kembali.
7. Mendeteksi dan menghilangkan konsekuensi yang tidak diinginkan terhadap subjek
penelitian.
8. Mengantisipasi gangguan penelitian atau publikasi hasil.
9. Mengidentifikasi sponsor yang mendanai penelitian.
10. Bekerja sama dengan tuan rumah negara ketika melakukan penelitian koparatif.
11. Mengeluarkan perincian rancangan penelitian dengan hasilnya.
12. Membuat interpretasi hasil yang konsisten dengan data.
13. Menggunakan standar metodologi yang tinggi dan meraih keakuratan.
14. Tidak melakukan penelitian rahasia.

Etika dan Sponsor Penelitian


Para peneliti sosial terapan dalam pengaturan penelitian yang disponsori harus berpikir serius
mengenai peran profesional mereka dan mempertahankan tingkat kemandirian dari majikan
mereka. Banyak diantaranya yang bertahan terhadap tekanan sponsor dengan berpartisipasi
dalam organisasi profesional. Yang paling kecil kemungkinannya untuk bisa menegakkan
standar etika dalam pengaturan sponsor adalah peneliti yang terisolasi dan tidak aman secara
profesional. Apapun situasinya, perilaku yang tidak etis tidak pernah dibenarkan
menggunakan argumen, jika saya tidak melakukannya, maka orang lain akan melakukannya.

Pengungkap Kesalahan
Merupakan seseorang yang menyadari praktik yang tidak etis atau tidak sah dalam suatu
organisasi menyuarakan perlawanan mereka dan menghentikan praktik tersebut melalui jalur
organisasi.

Arahan untuk temuan tertentu


Seorang peneliti yang beretika akan menolak berpartisipasi jika ia harus memberikan hasil
tertentu sebagai prasyarat dalam melakukan penelitian. Semua penelitian harus dilakukan
tanpa pembatasan temuan yang dihasilkan oleh penelitian.

Batasan mengenai cara melakukan studi

Persoalan mengenai batasan lazim dalam penelitian kontrak atau instansi pemerintah
meminta untuk bekerja pada sebuah proyek penelitian tertentu dengan kompromi, yang dapat
berkembang antara kualitas dan biaya dalam penelitian kontrak (jenis penelitian terapan yang
disponsori oleh instansi pemerintah, yayasan, perusahaan dan lain-lain maka peneliti setuju
untuk melakukan penelitian berdaasarkan pertanyaan penelitian dari sponsor dan
menyelesaikan penelitian tersebut pada tanggal yang telah ditetapkan untuk sejumlah biaya
tertentu). Apabila sponsor menginginkan sampel bias atau pertanyaan yang mengarahkan,
untuk menjadi etis, maka peneliti harus menolak untuk bekerjasama. Peneliti harus
memutuskan apakah peneliti akan menjadi perpanjangan tangan yang akan memberikan
apapun yang diinginkan para sponsor bahkan apabila hal itu salah dari segi etika atau seorang
profesional jawabannya adalah bahwa sponsor itu tidak menganggap penelitian sosial sebagai
sarana untuk pengetahuan atau kebenaran, mereka melihatnya hanya sebagai pelindung yang
dapat mereka gunakan.

Menahan Temuan
Informasi pemerintah dapat menahan informasi ilmiah yang bertentangan dengan kebijakan
resmi atau mempermalukan pejabat tinggi. Juga terjadi pembalasan terhadap para peneliti
sosial yang dipekerjakan oleh instansi pemerintah untuk membuat informasi publik. Apabila
nilai etis ditutup-tutupi dari sponsor yang telah membayar penelitian, maka peneliti harus
membayar biaya pribadi dan ekonomi yang tinggi agar menjadi etis, dalam situasi ini peneliti
ada dalam posisi yang sulit.
Dalam penelitian yang disponsori, kita bisa menegosiasikan persyaratan sebelum dimulainya
penelitian dengan menandatangani kontrak. Atau kita bisa menerima kritik dan permusuhan
dari pihak sponsor yang merasa keberatan.

Menyembunyikan Sponsor yang sesungguhnya


Jika responden percaya survei dilakukan oleh sebuah surat kabar yang telah mengambil posisi
yang kuat mengenai suatu persoalan maka responden kemungkinan tidak menentang. Hal ini
tidak menjadi masalah jika responden percaya sponsor surveinya adalah organisasi akademis
yang netral sangat etis untuk memberitahu subjek mengenai sponsor kecuali apabila
seseorang memiliki alasan metodologis yang baik untuk tidak melakukannya. Kita harus

menyeimbangkan nilai etis dan mengungkapkan identitas sponsor kepada subjek penelitian
dengan keinginan sponsor dan kemungkinan berkurangnya kerjasama dari subjek jika
hasilnya dipublikasikan.
Jenis Umum Penyalahgunaan Dalam Penelitian Evaluasi
1. Mengajukan pertanyaan penelitian yang salah ketika pertanyaan formulaif
merupakan jenis pertanyaan yang paling tepat. Untuk mengajukan pertanyaan yang
mengecualikan pihak yang berkepentingan utama.
2. Meminta studi evaluasi setelah keputusan program dibuat dengan menggunakan studi
sebagai cara untuk membenarkan keputusan yang telah dibuat.
3. Menuntut penggunaan rancangan penelitian/teknik pengumpulan data yang tidak
sesuai untuk tugas evaluasi program.
4. Campur tangan dalam desain penelitian atau proses pengumpulan data guna
memastikan bahwa cara tersebut memberikan hasil yang diinginkan.
5. Melanjutkan program ketika hasil evaluasi jelas-jelas tidak efektif atau mengakhiri
program ketika hasilnya sangat efektif.
6. Menahan atau menghapus hasil positif untuk menyingkirkan/mengurangi suatu
program, atau menahan/menghapus hasil negatif untuk melanjutkan/mengembangkan
program tersebut.
Etika Penelitian Komunitarian Feminis
Peserta penelitian harus memiliki suara dalam cara melaksanakan penelitian dan secara aktif
terlibat dalam pelaksanaannya. Etika seharusnya mencerminkan tujuan akhir dari penelitian,
untuk memberdayakan peserta penelitian sehubungan dengan pengalaman mereka sehari-hari
dan memajukan tujuan kebebasan manusia.
Model komunitarian feminis bergantung pada tiga prinsip moral. Pertama bersifat multivokal,
yaitu mengakui keragaman pengalaman manusia dan menggabungkan keberagaman tersebut.
Kedua, penelitian etis memerlukan keterlibatan dalam dialog mengenai moral yang
diutarakan dalam konteks pengalaman hidup. Ketiga, proses penelitian, yang melibatkan
peneliti dan peserta pada tingkatan yang setara yang bersifat terbuka akan mengungkapkan
hubungan kekuasaan dan kritik sosial yang dapat memfasilitasi refleksi dan kesadaran
bersama yang lebih besar.
Model komunitarian feminis masih dalam tahap awal dan belum diimplementasikan.
Meskipun demikian, model ini mengkritik pendekatan dominan terhadap etika penelitian
karena terlalu legalistik formal, berbasis prosedur, dan abstrak.

Anda mungkin juga menyukai